Jalur Sepeda di Kota Ciamis

Jalur Sepeda di Kota Ciamis

Kabupaten Ciamis sejak tahun 2015 kemarin memfokuskan diri pada pembangunan tata ruang dan lingkungan. Setelah sebelumnya merenovasi empat taman yakni Alun-alun Ciamis, Taman Surawisesa Kawali, Taman ‘Anggur’, dan Taman Banjarsari. Tahun ini Pemda Ciamis membuat jalur khusus sepeda.

Jalur Sepeda di Kota Ciamis

Jalur sepanjang kurang lebih 4km ini dimulai dari pertigaan Tugu Adipura (Jl. Jend. Sudirman), kemudian masuk ke depan Billboard Alun-alun Ciamis, lantas memasuki Jl. Ir. H. Juanda hingga kembali lagi ke pertigaan tugu Adipura.

Jalur khusus sepeda ini ditujukan untuk menciptakan budaya bersepeda di tengah-tengah masyarakat Ciamis.

Sumber: Kang Shena Agustian‎/TATAR GALUH CIAMIS

Taman Surawisesa Kawali

Taman Surawisesa Kawali

Taman Surawisesa Kawali

Nama Surawisesa erat kaitannya dengan sejarah situs Astana Gede Kawali yang menjadi kebanggaan masyarakat Kecamatan Kawali. Jadi, nama Surawisesa mengambil dari sejarah Astana Gede yang menjadi icon daerah Kawali.

Pada catatan sejarah Astana Gede Kawali, diketahui bahwa Surawisesa merupakan nama istana Kerajaan Sunda pada masa pemerintahan Rahyang Niskala Wastu Kancana yang berpusat di Astana Gede Kawali.

Sumber: Kang Shena Agustian‎/TATAR GALUH CIAMIS

Alun-alun Ciamis

Alun-alun Ciamis

“Taman Raflesia” resmi tidak lagi digunakan sebagai nama Ruang Terbuka Hijau (RTH) di pusat kota Ciamis ini.

Alun-alun Ciamis

Alun-alun Ciamis 2

Alun-alun Ciamis 3

Nama yang kini digunakan adalah “Alun-alun Ciamis”. Meski demikian ikon bunga Raflesia Arnoldi masih digunakan.

Nama “Taman Raflesia” pun tidak lagi dipasang pada gerbang-gerbang masuk di tiap sisi menuju taman. Kini yang dipasang hanya promosi produk rokok.

Sumber : Kang Shena Agustian‎/TATAR GALUH CIAMIS

Taman Graha Perjuangan

Taman Graha Perjuangan

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Graha Perjuangan merupakan hasil alih fungsi lahan yang semula berupa Gedung Olah Raga (GOR) Graha Perjuangan kini disulap menjadi RTH mini di sudut kota Ciamis.

Taman Graha Perjuangan

Taman Graha Perjuangan berada di dekat lampu merah perempatan Graha, yaitu perempatan yang mempertemukan Jl. Yos Sudarso, Jl. Jend. A. Yani, dan Jl. Rumah Sakit. Tidak sulit menemukan RTH ini, cukup menyusuri Jl. Yos Sudarso nantinya Anda akan menemukan lampu merah dengan RTH di sampingnya.

Taman Graha Perjuangan ini memiliki fasilitas olah raga bola basket dengan satu ring, beberapa tempat duduk dengan dilengkapi penerangan (lampu) dan pohon di beberapa sudut taman.

Ingin nongkrong yang bebas parkir? Silakan ke Taman Graha Perjuangan.

Sumber : Kang Shena Agustian‎/TATAR GALUH CIAMIS

Taman Lokasana Ciamis

Taman Lokasana Ciamis

Mengapa Lokasana?

Siapa yang tidak mengenal Taman Lokasana? Seluruh masyarakat pasti tahu Taman Lokasana. Namun mengapa dinamai Lokasana?

Taman-Lokasana

 

Lokasana merupakan nama seorang penguasa di Kabupaten Galuh dahulu yaitu Dalem Lokasana (generasi keempat dari Prabu Haur Kuning). Dalem Lokasana merupakan anak dari Sang Adipati Panaekan, Bupati Gara Tengah 1636-1642). Dalem Lokasana berjasa menumbuh kembangkan olahraga kepada menak dan somahan, maka ketika R Gahara Wijaya Surya, bupati Ciamis ke 11 (1958-1960) ketika membangun lapang sepakbola di Jalan KH Dahlan diberi nama Lokasana.

Taman yang terletak di Jl. K.H. Ahmad Dahlan ini sempat terbengkalai beberapa tahun, namun kini telah direnovasi dan dialih fungsikan menjadi tempat olah raga terbuka (outdoor) yaitu atletik, bola basket, voli, dan panjat tebing.

sumber: Kang Shena Agustian‎/TATAR GALUH CIAMIS

Nama Kabupaten Ciamis Berubah Menjadi Kabupaten Galuh?

Nama Kabupaten Ciamis Berubah Menjadi Kabupaten Galuh?

Keinginan masyarakat Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, supaya nama Galuh digunakan menjadi nama kabupaten menggantikan nama Ciamis kini mencuat. Budayawan dan akademisi angkat bicara soal penamaan Ciamis yang tidak mengandung arti bahkan disebut-sebut sebagai olok-olokan dari bangsa kolonial yang berarti bau amis.

Guru Besar Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Sobana Hardjasaputra MA mengatakan, nama Galuh sudah terpatri di setiap masyarakat. Setiap penamaan di Kabupaten Ciamis lebih banyak memakai nama Galuh dibanding Ciamis. Misal, Stadion Galuh, Universitas Galuh, bahkan tim sepak bola PSGC (Persatuan Sepak Bola Galuh Ciamis).

Secara arti, Galuh berarti permata. Secara filosofi, Galuh identik dengan galeuh yang merupakan bagian kayu yang paling keras, juga galih yang berarti kalbu atau hati.

“Nama Galuh itu sudah ada di dalam hati setiap masyarakat, nancep dari dulu sampai sekarang,” ujarnya dalam acara Sarasehan Sejarah dan Budaya Eks Kadipaten Ciancang Utama di Balai Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Minggu (10/1/2016).

Menurutnya, sejarah penamaan Ciamis itu berasal dari cemoohan atau olok-olok dari kolonial Belanda. Zaman itu Ciancang yang merupakan daerah Ciamis merupakan tempat berperang. Dimulai saat prajurit Mataram bertempur dengan Galuh di Ciancang hingga saat melawan kompeni.

“Emang Ciancang itu banjir getih (darah, red), karena bau amis dari darah, sampai mendirikan kota baru dinamakan Ciamis. Ciamis itu nama pamoyokan, tapi diangge wae (dipakai terus),” katanya.

Sobana berharap, hal ini mejadi perhatian bersama dan nama Kabupaten Ciamis kembali diganti dengan nama Kabupaten Galuh. Menurutnya, pergantian nama daerah sesuai dengan aspirasi dari masyarakat setempat dan ditindaklanjuti oleh pemerintah.

“Seperti Makassar dulu jadi Ujung Pandang sekarang jadi Makassar lagi, seluruh masyarakat di sini juga mayoritas menginginkan kembali ke nama Galuh,” ucap pria yang merupakan warga asli Ciamis, tepatnya di Winduraja.

Menurutnya, perubahan nama Galuh menjadi Ciamis itu dilakukan pada tahun 1915, namun diresmikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1916. Saat itu, Pemerintah Hindia Belanda hanya meresmikan, sementara gagasannya dari Bupati Sastrawinata.

“Motivasinya itu karena tidak ingin disangkutpautkan dengan keluarga Bupati Galuh, karena Bupati Kerawang (Karawang). Padahal, Bupati Kerawang yang dimaksud adalah kakeknya, itu tidak ada tekanan dari pihak Belanda, karena penamaan daerah bagi mereka masa bodoh, yang penting meresmikan. Kalau ada ikut campur maka akan terjadi antipati terhadap kolonial. Padahal itu yang dijaga. Jadi, perubahan Galuh menjadi Ciamis tanpa dasar,” jelasnya.

Dia mengatakan, sampai saat ini pemerintah belum merespons usulan perubahan nama Kabupaten Ciamis menjadi Kabupaten Galuh. Pemerintah beralasan harus mengganti kop surat dan kelengkapan lainnya.

“Katanya, kalau diubah akan ada kerugian biaya, kop surat dan sebagainya diubah. Itu picik amat, selama kop belum ada, gunakan terus (kop lama) karena selama dalam transisi. Menurut saya itu hanya alasan akal-akalan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis Dudung menanggapi keinginan masyarakat untuk mengembalikan nama Ciamis menjadi Galuh.

Menurutnya, hal itu butuh proses panjang. “Kalau dari kajian itu political will, dari pimpinan daerah dengan masyarakat melalui DPRD, itu kaitannya ingin kembali ke nama Kabupaten Galuh,” singkatnya.

Sedangkan Ketua Komisi IV DPRD Ciamis Hendra S Marcusi mengatakan, pihaknya setuju dengan usulan nama Ciamis kembali ke Galuh.

“Kita sepakat, karena spirit Ciamis itu spirit Galuh dan kita tidak sedang mengada-ngada tapi mengembalikan kepada jati diri,” ucapnya.

Hendra mengaku akan mengusulkan draf peraturan daerah (Perda) tentang sejarah Ciamis. Maka, pergantian nama Kabupaten Galuh tersebut bisa dimasukkan di perda.

sumber: sindonews

Dua Rumah Sakit Baru Segera Hadir di Ciamis

Dua Rumah Sakit Baru Segera Hadir di Ciamis

Guna meningkatkan pelayanan kesehatan di Kabupaten Ciamis, Dinas Kesehatan segera merehab Puskesmas yang tersebar di wilayah Ciamis. Tak hanya itu, rumah sakit baru pun akan segera dibangun.

“Ada sekitar 26 puskesmas yang kami rehab pada tahun 2016 nanti. Bangunanya sudah tidak refresentatif lagi,” ungkap Kepala Kepegawaian dan Umum, Dinas Kesehatan Ciamis, Dadang Nurdin, SKM. MKES, Sabtu (22/8).

Anggaran yang digelontorkan untuk perbaikan sarana prasarana puskesmas tersebut, beber Dadang, berjumlah puluhan miliar.

“Untuk anggaran DAK, ada tiga puskesmas yaitu, Cikoneng, Kertahayu, dan Tambaksari. Dengan jumlah Rp 2. 585.579.00. Sedangkan, Banprov terdiri dari 7 lelang dan 16 penunjukan dengan anggaran Rp 6. 954, 616.000,” jelas dia.

Lebih lanjut Dadang mengatakan, anggaran tersebut belum untuk alat-alat dan tenaga kesehatan. Namun, secara bertahap Pemkab Ciamis akan terus berupaya untuk lebih meningkatkan kembali ketersediaan alat-alat dan tenaga kesehatan.

“Bahkan ada rencana akan membangun dua rumah sakit lagi berkelas D di daerah perbatasan Ciamis selatan juga utara. Ini menandakan keseriusan Bupati Ciamis untuk lebih meningkatkan lagi kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Hal ini dikarenakan jika seluruh sarana dan prasarana sudah menunjang, akan tetapi alat dan tenaga medisnya kurang, maka tentu saja pelayanan kesehatan tidak akan selaras.

“SDM kesehatan puskesmas di Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis tahun 2015 baru ada 1.075. Sedangkan idealnya 1.461 orang. Sehingga, kita masih kekurangan sekitar 386 tenaga medis,” papar Dadang. (Syarif Hidayat/WP)

Sumber: WartaPriangan

Daerah di Ciamis yang akan Dilalui Jalan Tol Cileunyi–Tasikmalaya–Banjar

Daerah di Ciamis yang akan Dilalui Jalan Tol Cileunyi–Tasikmalaya–Banjar

Kabar gembira bagi masyarakat Ciamis dan sekitarnya, pasalnyan rencanan pembangunan Tol Cileunyi–Tasikmalaya–Banjar akan segera terrealisasi. Dengan dibangunnya jalan tol tersebut, lalu lintas dari Bandung ke daerah Ciamis, Tasik dan Banjar akan semakin mudah.

Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan Daerah Kabupaten Ciamis, Drs. H. Kusdiana, MM, mengatakan rencana pembangunan jalan tersebut telah memiliki payung hukum. “Ya pembangunan jalan tol Cileunyi–Tasikmalaya–Banjar sudah tercantum dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pembangunan dan Pengembangan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan di Jawa Barat,” terangnya pada Warta Priangan, Rabu (26/08).

Kusdiana juga menambakan, pada anggaran tahun 2014, Dinas Binamarga Provinsi Jawa Barat telah menyusun Feasibility Study (FS) atau Studi Kelayakan Pembangunan jalan tol Cileunyi–Banjar dan jalan Lingkar Utara Ciamis. Tahap awal pembangunan jalan tol ini direncanakan untuk rute/trase Cileunyi–Rajapolah.

Masih menurut Kusdiana, sesuai peta dalam dokumen Studi Kelayakan Pembangunan jalan tol Cileunyi–Banjar, lokasi yang akan dilalui jalan tol di wilayah Kabupaten Ciamis adalah sebelah utara jalan nasional sebagai berikut:

  • Kecamatan Cihaurbeuti: Desa Cihaurbeuti, Desa Sukamaju
  • Kecamatan Cikoneng: Desa Darmacaang, Desa Nasol, Desa Sindangsari.
  • Kecamatan Sadananya: Desa Mangkubumi, Desa Werasari
  • Kecamatan Baregbeg: Desa Saguling, Desa Baregbeg, Desa Petirhililr.
  • Kecamatan Cijeungjing: Desa Kertaharja.
  • Kecamatan Sukadana: Desa Ciparigi
  • Kecamatan Cisaga: Desa Danasari, Desa Kepel, Desa Sidamulya, Desa Tanjungjaya, Desa Wangunjaya.

Sejauh ini, rencana pembangunan jalan tol yang akan menghubungkan Bandung-Banjar tersebut dalam tahap menyusun Detail Engineering Desain (DED) serta analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) oleh Dinas Binamarga Provinsi Jawa Barat.

Namun dalam rencana yang telah disusun itu, tidak terlihat adanya lokasi pintu keluar/masuk tol di wilayah Kabupaten Ciamis. Sehingga Bappeda Ciamis telah mengajukan lokasi pintu jalan keluar/masuk tol di wilayah Ciamis, yaitu di daerah Desa Mangkubumi Kecamatan Sadananya. (Senny Apriani/WP)

sumber: wartapriangan

Padepokan Seni Milik Kampung Adat Kuta Ciamis

Padepokan Seni Milik Kampung Adat Kuta Ciamis

Sabtu (22/08) malam, Kampung Adat Kuta Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meresmikan padepokan seni yang diberi nama Kuta Rungu. Padepokan seni Kuta Rungu ini menaungi lima kesenian asli Kuta seperti, Gondang Buhun, Rengkong, Gembyung, Beluk dan Ronggeng.

“Alhamdulilah, kini Kampung Adat Kuta sudah mempunyai padepokan seni. Kami berharap ini merupakan wadah untuk melestarikan budaya khas Ciamis,” ungkap Camat Tambaksari, Adang Hadidjaman, M.Pd, saat memberikan sambutanya.

Menurutnya, padepokan ini jangan sekedar dibentuk saja, melainkan eksis dalam menelurkan generasi penerus seni “buhun” ini.

“Apabila tidak ada regenerasi, saya khawatir seni “buhun” ini akan punah,” ujarnya.

Adang pun mengucapkan terima kasih kepada Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang sedang melaksanakan KKN di Kampung Adat Kuta yang telah membantu mendorong terbentuknya padepokan seni Kuta Rungu ini.

Ketua Kelompok KKN UPI Bandung, Willy Prasetiyo, pada Warta Priangan menjelaskan, dibentuknya padepokan ini berawal dari keprihatinan mereka akan seni tradisi yang ada di Kampung Adat Kuta, Ciamis, Jawa Barat.

“Berangkat dari keprihatinan kami akan kelestarian seni buhun asli Kampung adat Kuta ini, kami pun berinisiatif untuk membentuk sebuah wadah yang berbadan hukum dengan tujuan kesenian tersebut tetap terjaga dan utuh,” katanya.

Ia pun mengatakan, sesuai dengan tema KKN Tematik UPI Bandung yang mengangkat kearifan budaya lokal, mereka pun melakukan berbagai komunikasi sampai ke tingkat Provinsi.

“Alhamdulilah, malam ini padepokan seni Kuta Rungu sudah dikukuhkan. Berharap kedepan, seni “buhun” ini tidak menjadi punah serta hanya menjadi catatan dalam sejarah saja, melainkan harus mampu mencetak generasi penerus seni khas Jawa Barat ini,” pungkasnya. (Syarif Hidayat/WP).

Sumber: WartaPriangan

PSGC Ciamis Resmi Ikut Piala Presiden 2015

PSGC Ciamis Resmi Ikut Piala Presiden 2015

Persatuan Sepakbola Galuh Ciamis (PSGC) akhirnya mendapatkan surat resmi dari penyelengara turnamen sepak bola, MAHAKA Sport, untuk ikut serta dalam turnamen Piala Indonesia Satu (PIS) yang kini lebih dikenal dengan Piala Presiden. Surat dengan Nomor 181-CH/MS-Event/VIII/2015 itu dikirimkan langsung oleh MAHAKA Sport ke email milik PSGC Ciamis, tanggal 4 Agustus 2015, dan diterima sekitar pukul 14.00 WIB.

Manajer PSGC Ciamis, H. Herdiat, saat menunjukan surat undangan dari promotor Turnamen Piala Indonesia Satu atau Piala Presiden, di Stadion Galuh Ciamis, Selasa (04/08/2015). Foto: Eli Suherli/HR

Turnamen Piala Presiden ini akan digelar di empat lokasi, yaitu Bali, Makasar, Malang dan Bandung. Sementara undian grup akan dilakukan pada tanggal 15 Agustus 2015. Sedangkan Kick Off tanggal 30 agustus 2015. Turnamen ini rencananya akan diikuti 16 klub, diantaranya 14 klub dari ISL dan 2 klub dari DU LI, yaitu PSGC Ciamis dan Martapura FC.

Manajer Tim PSGC Ciamis, H. Herdiat, dalam jumpa pers, di Stadion Galuh Ciamis, Selasa (04/08/2015), mengaku gembira mendapatkan surat resmi dari penyelenggara turnamen Piala Presiden RI.

“Ini jelas merupakan kebanggan tersendiri bagi kami tim PSGC Ciamis karena bisa berlaga di turnamen piala presiden. PSGC merupakan salah satu wakil dari Divisi Utama LI yang akan mengikuti turnamen piala presiden RI,” ungkapnya.

Herdiat mengaku sudah memanggil dan memerintahkan kepada Kepala Pelatih untuk segera memanggil dan mengumpulkan pemain. Dan Hari Rabu besok, kata dia, pemain sudah harus menggelar latihan seperti biasa. (es/DSW/Koran-HR)

Sumber: HarapanRakyat

Heni Jaladra, TKI Ciamis yang Menginspirasi Dunia

Heni Jaladra, TKI Ciamis yang Menginspirasi Dunia

Satu lagi yang harus menjadi inspirasi kita khususnya warga Ciamis. Ayo Ciamis pasti bisa !! Heni Jaladra salah satu SMK di Kota Banjar seorang TKI Ciamis dengan Dua Ijazah dari Universitas di Hong Kong yang bukan lagi menginspirasi warga Ciamis bahkan Dunia.

Heni Jaladra, TKI Ciamis yang Menginspirasi Dunia

Namanya Heni Jaladra. Selepas lulus SMK, tekad gadis cantik kelahiran Ciamis ini membulat. Ia siap menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Ayahnya hanya seorang buruh tani, dan ibunya bekerja sebagai buruh pabrik di Bekasi. Itupun, keduanya sudah berpisah sejak lama, dan memaksa Heni untuk memilih tinggal dengan neneknya di Cidolog, sebuah daerah berjarak sekitar 40 KM dari pusat Kabupaten Ciamis. Kondisi serba berbatas inilah yang membuat Heni tak berani bermimpi kuliah, setidaknya saat itu, ketika ia baru lulus dari salah satu SMK di Kota Banjar.

Sejak kecil, keinginan Heni untuk maju sudah kentara. Ia tidak pernah berhenti melangkah, meski jarak tempat tinggal ke SD tempat ia sekolah cukup jauh. Sekitar satu jam Heni Kecil harus menapaki jalan berbatu yang menembus hutan karet untuk bisa sampai ke bangku sekolah. Terlebih ketika ia masuk SMP, jarak yang ia tempuh untuk bisa mengenyam pendidikan menjadi lebih jauh. Tapi Heni tak pernah mengeluh. Semua cucuran peluh itu justru menguatkan gadis kecil dari tepian Ciamis ini untuk menjadi sosok yang tangguh.

Meski ia faham betul situasinya serba sulit, namun Heni yang saat itu beranjak remaja bersikukuh ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah atas. Agar bisa melanjutkan pendidikan, ia pun hijrah dari rumah neneknya ke kediaman kakaknya yang sudah berkeluarga dan tinggal di Kota Banjar. Di kota ini, Heni berkesempatan mengenyam pendidikan di sebuah SMK.

Heni mawas diri, ia menumpang di rumah keluarga kakaknya. Bangun selalu paling pagi, sebelum jam 4 subuh, lalu membabat hampir semua pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci, menyetrika, memasak, dan lain sebagainya. Ia tidak ingin menjadi beban untuk keluarga kakaknya. Namun, meski disibukkan dengan seabrek pekerjaan sehari-hari, tak berati Heni minim prestasi. Sejak SD hingga SMK, Heni dikenal siswi yang menonjol dalam urusan prestasi.

Semangat, kegigihan dan prestasi itulah yang kerap membuat para guru di SMK menyarankan Heni untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Saat itu, setiap ada saran kuliah, Heni hanya bisa membalas dengan senyuman. Bukan tak didengar atau tak diamini, tapi gadis remaja ini sudah punya rencana sendiri. Selepas mengenyam pendidikan SMK, tekadnya bulat memilih menjadi TKI.

Saking bulatnya tekad Heni, ia berangkat ke Tangerang utnuk mengikuti pelatihan TKI tanpa harus menunggu ijazah SMK. Dan pada bulan Oktober 2005, bersama 19 orang TKI lainnya, putri kelahiran Tatar Galuh Ciamis ini pun terbang ke negeri orang untuk mengadu nasib. Hari itu, ia memulai profesi baru sebagai TKI di Hongkong. Dan hari itu, tak banyak orang mengenal nama Heni Jaladra. Tidak seperti hari ini tentunya. Dan hari itu pula, boleh jadi tak ada yang mengira, Heni Jaladra akan menjadi  sosok yang menginspirasi dunia.

Siapakah Heni Jaladra? Dan apa yang membuat putri kelahiran Ciamis ini menjadi sosok yang istimewa? Tunggu tulisan di Warta Priangan selanjutnya.

(Sebagaimana dikisahkan oleh Sofyan Munawar Asgart)

sumber: wartapriangan

Page 1 of 2012345...1020...Last »