Pangandaran memiliki banyak potensi pariwisata yang belum digali secara maksimal. Dorongan untuk menjadikan Pangandaran sebagai kabupaten “pariwisata” pun muncul.

Secara geografis, Pangandaran terletak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang terkenal dengan keindahan alamnya. Beberapa yang menjadi kebanggaan, seperti Green Canyon, Batu Karas, Goa Jepang, Taman Wisata Alam Panjanjung, dan lainnya.

Pelaku industri pariwisata Pangandaran ternyata memandang bahwa potensi wilayah yang berada di bagian selatan Jawa Barat dan tepi Samudera Hindia ini belum dieksplorasi dengan baik. Lantas muncul keinginan untuk memekarkan Pangandaran sebagai kabupaten “pariwisata”.

“Saking tidak sabarnya karena kami karena selalu mentok dengan kebijakan Ciamis. Kami ingin berdiri sendiri jadi kabupaten sendiri,” kata Supratman, Ketua Destination Management Organization (DMO) Pangandaran pada diskusi bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Pangandaran, Jawa Barat, baru-baru ini.

Supratman menambahkan, masyarakat Pangandaran sudah siap untuk semakin membesarkan potensi daerahnya. Mereka bahkan mendambakan sekali, katanya. Proses pengesahan dengan undang-undang dan keputusan presiden rencananya akan dilakukan pertengahan Juli 2012. Bila tidak terjadi perubahan, Januari 2013 akan menjadi babak baru bagi warga Pangandaran.

Selain potensi alam, nilai jual yang menjadi sumber pendapatan Pangandaran lainnya, adalah sektor pertambangan, pertanian-perkebunan, dan kehutanan. Di sektor perkebunan, seperti dicontohkan Supratman, Pangandaran menjadi pemasok 50 persen kebutuhan gula merah di Jawa Barat. Produksi gula merah bisa mencapai 500 ton atau sepadan dengan sejuta butir sehari.

“Kami unggulkan wisata alam dan budaya. Wisata budaya ada dari budaya nelayan, seperti hajat laut, ronggeng gunung, wayang golek, wayang kulit, kuda lumping, alat musik jidur, kerajinan masyakarat, banyak lagi,” jelasnya.

Supratman mengakui, potensi alam tidak cukup untuk menjadikan Pangandaran sebagai destinasi pariwisata turis mancanegara.  Infrastruktur jalan, pengaturan pedagang kaki lima, kemampuan sumber daya manusia, dan kebersihan lingkungan menjadi tantangan lainnya.

“Pangandaran ibarat gula, semut banyak datang dari mana-mana. Tantangannya adalah kami harus lebih maju, perlu keahlian,” imbuhnya.

“Kami telah melakukan studi banding; kelebihan Kabupaten Ciamis akan kami pakai dan kelemahannya kami buang. Kami juga belajar dari daerah yang mampu mengelola potensi alam dan dananya. Dengan banyak orang datang, kami punya hotel, restoran, pasar tradisional, yang pasti akan memberi hasil,” harapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis Sobar Sugema menandaskan tantangan perlunya semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat Pangandaran akan potensi pariwisata yang bisa digalinya. Apalagi, katanya, bencana tsunami pada 2006 lalu masih menyisakan traumatik bagi para investor.

“Seiring pertumbuhan masyarakat, perlu untuk menumbuhkan kepada mereka, ini (aktivitas keseharian-red) bisa dijual. Masalahnya, mereka tidak berpikir panjang, hanya menjawab kebutuhan hari ini,” sahutnya pada kesempatan yang sama.

“Dengan ada tsunami, investor sulit masuk, kita harus promosikan, masyarakat Pangandaran harus bisa meyakinkan dengan pariwisatanya,” tutupnya.

[alert style=”white”]referensi: okezone, ilustrasi: mypangandaran.com[/alert]

Posting Lainnya