Padepokan Seni Milik Kampung Adat Kuta Ciamis

Padepokan Seni Milik Kampung Adat Kuta Ciamis

Sabtu (22/08) malam, Kampung Adat Kuta Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meresmikan padepokan seni yang diberi nama Kuta Rungu. Padepokan seni Kuta Rungu ini menaungi lima kesenian asli Kuta seperti, Gondang Buhun, Rengkong, Gembyung, Beluk dan Ronggeng.

“Alhamdulilah, kini Kampung Adat Kuta sudah mempunyai padepokan seni. Kami berharap ini merupakan wadah untuk melestarikan budaya khas Ciamis,” ungkap Camat Tambaksari, Adang Hadidjaman, M.Pd, saat memberikan sambutanya.

Menurutnya, padepokan ini jangan sekedar dibentuk saja, melainkan eksis dalam menelurkan generasi penerus seni “buhun” ini.

“Apabila tidak ada regenerasi, saya khawatir seni “buhun” ini akan punah,” ujarnya.

Adang pun mengucapkan terima kasih kepada Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang sedang melaksanakan KKN di Kampung Adat Kuta yang telah membantu mendorong terbentuknya padepokan seni Kuta Rungu ini.

Ketua Kelompok KKN UPI Bandung, Willy Prasetiyo, pada Warta Priangan menjelaskan, dibentuknya padepokan ini berawal dari keprihatinan mereka akan seni tradisi yang ada di Kampung Adat Kuta, Ciamis, Jawa Barat.

“Berangkat dari keprihatinan kami akan kelestarian seni buhun asli Kampung adat Kuta ini, kami pun berinisiatif untuk membentuk sebuah wadah yang berbadan hukum dengan tujuan kesenian tersebut tetap terjaga dan utuh,” katanya.

Ia pun mengatakan, sesuai dengan tema KKN Tematik UPI Bandung yang mengangkat kearifan budaya lokal, mereka pun melakukan berbagai komunikasi sampai ke tingkat Provinsi.

“Alhamdulilah, malam ini padepokan seni Kuta Rungu sudah dikukuhkan. Berharap kedepan, seni “buhun” ini tidak menjadi punah serta hanya menjadi catatan dalam sejarah saja, melainkan harus mampu mencetak generasi penerus seni khas Jawa Barat ini,” pungkasnya. (Syarif Hidayat/WP).

Sumber: WartaPriangan

Bi Raspi dan NYANGKREB, Tradisi Panen yang Mulai Dilupakan

Bi Raspi dan NYANGKREB, Tradisi Panen yang Mulai Dilupakan

Hamparan sawah menguning,  burung pipit ramai bercicit. Mengincar butir–butir padi yang penuh berisi memberati malai yang sesekali berayun dihembus angin. Saat ini musim panen telah tiba, wajah petani sumringah.  3 bulan lebih sedikit, kerja keras memeras keringat akan memanen hasil.  Sejak dari ngadurukan (membakar jerami atau rumput), Nampingan (membersihkan pematang), Mopok (menambal pematang sawah dengan lumpur), Ngawuluku (mengolah tanah), Ngalepa (meratakan tanah yang telah diwuluku), Tebar (menyemai Benih padi), Neplak (pola garis untuk menanam benih), Babut (mencabut benih padi untuk ditanam), tandur (menanam padi), Ngarambet (menyiangi rumput dan gulma),  ngagemuk (pemberian pupuk), nyemprot (membasmi hama dengan semprotan), tunggu (menjaga tanaman padi), dan panen (memetik padi) semuanya dilakukan dengan penuh kesabaran dan harapan.

Tidak semua sawah berbuah mulus memang, hama padi seperti tikus dan wereng tetap menjadi musuh abadi para petani. Seperti yang telah diisyaratkan leluhur sunda dalam legenda tentang asal muasal padi yang tercipta dari airmata kesedihan Naga Antaboga yang terancam hukuman mati oleh Raja Pajajaran, akibat tidak bisa membantu membangun Bale Mariuk Pada Gedong Sasaka Domas karena tidak punya tangan.  Tiga air mata Naga Anta berubah menjadi telur. Dari ketiga telur itu lahir Nyi Pohaci Sanghyang Sri, Budug Basu, dan telur terakhir menetas menjadi berbagai hama padi. Isi pantun Sri Sadana itu menyiratkan bahwa sawah dan padi tidak semata untuk memenuhi kebutuhan pangan primer saja tetapi juga  bagian sakral dari kehidupan lama masyarakat agraris.

Sejak meletek srangenge, keluarga Bi Raspi (maestro Ronggeng Gunung dari Cikukang Banjarsari) sudah tatahar untuk melaksanakan  tradisi Nyangkreb karena  seminggu lagi sawah yang disewa dari tetangganya  akan dipanen. Sebagai keluarga petani yang lekat dengan ketradisian, maka  Nyangkreb menjadi bagian penting bagi keluarga Raspi sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur dan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Nyangkreb dapat diartikan sebagai pinangan.  Terkait dengan padi yang siap di panen, maka nyangkreb bermakna meminang Nyi Pohaci Sanghyang Sri untuk disunting, dipetik secara resmi.

Untuk itulah sejak seminggu sebelumnya Bi Raspi bersama Bah Wasco suaminya, dibantu oleh Nani Nurhayati putrinya, serta kedua cucunya, sudah mempersiapkan berbagai sarana Nyangkreb.  Kegiatan ini sudah sangat langka dilakukan oleh petani jaman sekarang. Terlupakan akibat hingar bingar modernisasi yangmerasuk sampai pelosok desa.

Nyangkeb, Labuhan,  Nyalin, atau di  Bali disebut Ngarya Dewi Sri, memerlukan beberapa  media sebagai simbol.  Sarana untuk sesajen disebut Sanggar dan Gagawar. “Sanggar mah kangge saung sasajen. Didamelna tina rangka awi dihateupan ku anyaman daun kalapa. Di sangga ku tihang, diraweuyan ku janur” ujar Wasco. Sedangkan Gagawar merupakan umbul-umbul dengan hiasan janur yang ujung-ujungnya digantelan kupat, daun wowo, daun pacing, daun kayutua dan jambe.

“Tah ari sasajenna mah aya poncot sangu, endog, lauk,sambel bade, kopi, cai herang, cai teh, rupa-rupa rujak, bubur bodas beureum,surutu, roko, leupeut, tangtang angin, rupa-rupa cau, jeung tangkueh gula batu. Teu hilap acuk sareng samping kangge salin pohaci sanghyang sri” ujar Bi Raspi, sambil menunjuk setiap sesajen satu demi satu. dulu, perhiasan emas pun turut disertakan. namun karena mulai tidak aman, maka sekarang hanya disimpan selama ngarekes. selanjutnya dibawa lagi.

Kegiatan Nyangkreb yang dilakukan keluarga Bi Raspi itu tak luput dari perhatian beberapa warga petani Ciulu Banjarsari, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ciamis yang diwakili Dedi Unay (Kasi Kesenian dan Film) dan Badar Production yang mendokumentasikan kegiatan langka tersebut untuk pembuatan film Biopicture Raspi Sang Mastro. Menjelang wanci tungganggunung, semua sesajen diarak menuju sawah blok Ciulu, yang akan di panen.  Bah Wasco memimpin ritual dengan mengucapkan do’a sambil membakar kemenyan.  Bebera pagagang padi dipotong  lembut dengan etem untuk disimpan dirumah. Selesai itu, Bi Raspi pun ngahaleuang sebait tembang ronggeng gunung, lengkingannya  jernih ngalaeu dihamparan sawah luas menguning, seolah ngabageakeun Pohaci Sanghyang Sri, yang seminggu lagi akan disunting. (HU.Kabar Priangan)

Oleh Pandu Radea
(komunitas Tapak Karuhun Galuh)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 3-tamat)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 3-tamat)

Ketinggian Gunung Susuru mencapai sekitar 200 meter. Dari atas puncaknya pandangan mata pun akan dimanjakan dengan keindahan alam yang menggetarkan. Hamparan sawah nampak serasi ber-adu manis dengan rangkaian perbukitan. Dipasieup lagi dengan dua sungai besar di sisi kiri kanannya,melingkar-lingkar  lir tubuh Nagaraja Taksaka yang membelit Gunung Susuru.  Dua sungai tersebut yaitu Cimuntur dan Cileueur yang bertemu di ujung gunung sebelah selatan. Dan tempat pertemuan kedua sunga itersebut dinamakanPatimuan. Memang,sebagai sebuah situs, kewingitan sejarah yang menyelimutinya terasa sangat kental.

Betapa tidakternyata tempat ini menyimpan bukti adanya peradaban dari beberapa jaman. yaitumegalitik, hindu, dan masa Islam. H. Djaja Sukardja yang mendokumentasikan proses awal penemuan situs mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Patilasan Kerajaan Galuh Kertabumi, bahwa Situs Gunung Susuru usiannya diperkirakan lebih tua dari situs Karang Kamulyan, atau minimalnya sejaman, yaitu dari abad ke 7.

Hal tersebut didasari setelah adanya penelitian oleh Tony Djibiantoro, Ir. Agus dari Balai Arkeologi Bandung dan Dr.Fachroel Aziz dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung. Tim tersebut  menemukan tulang belulang binatang, gigi manusia yang mendekati fosil (Sub Fosil), dan pecahan gerabah di dalam gua. Gua-gua yang ditemukan pada saat itu baru di tigatempat, yaitu Gua Kamuning, Gua Macan 1 dan Gua Macan 2. Dan ketiga gua tersebut sudah dinyatakan sebagai BCB Tak Bergerak.

“Numutkeun para ahli, lamun di jero guha kapendak pecahan gerabah atanapi fosil, tiasa janten guha eta teh mangrupikeun  kuburan” Papar KiAndang yang memandu saya menelusuri setiap lekuk Gunung Susuru. Bahkan menurutnya masih terdapat dua gua lagi yang belum diteliti oleh tim arkeolog,sehingga belum ditetapkan sebagai BCB. Memang potensi BendaCagar Budaya yang belum ditemukan sangatlah besar. Di areal situs yang luasnya7 ha ternyata masih terdapat beberapa batu yang diprediksi kuat sebagai sisa kebudayaan jaman baheula. Seperti contohnya batu tingkat yang ukurannya sangat besar, dan batu bergaris yang guratnya lebih dari seratus baris.

Sebagai pembanding lainnya,  batu bergaris juga terdapat di situs Astana Gede Kawali dan Situs Batu Tulis Bogor dengan jumlah garis dan ukura batunya jauh lebih sedikit dan kecil di banding batu bergaris di Gunung Susuru.Jika batu bergaris di Gunug Susuru itu merupakan buatan manusia maka tidakmustahil suatu saat akan ditemukan juga batu prasasti, sebagai sebuah bukti otentik yang dapat mengungkap fakta sejarah di jamannya.

Yang mengejutkan, ternyata secara keseluruhan Gunung Susuru merupakan sebuah punden berundak yang tersusun dari 17 tingkatan teras. hal itu sudah dibuktikan oleh tim peneliti yang menghitung tingkat atau teras berbalai batu dari kaki Gunung Susuru, baik dari sisi Sungai Cileueur maupun Sungai Cimuntur. Kenyataan  tersebut semakin menjelaskan bahwa GunungSusuru merupakan bekas sebuah pusat ritual pemujaan yang berkaitan dengan keyakinan adanya ruh leluhur (hiyang)

Sebagai Punden Berundak maka di Gununug Susuru pun banyak di temukan menhir dan dolmen. Menhir melambangkan adanya hubungan vertical dengan ruh seorang pemimpin yang telah meninggal dunia. Ada 4 punden berundak yang susunannya masih utuh yang di sebut Batu Patapaan.  Bahkan dolmen yang terdapat di Patapaan 4 diduga adalah sarkofagus (peti kubur batu) karenaketika ada penggalian di bawahnya terdapat batu penyangga. Dengan  bukti-bukti tersebut, semakin jelas bahwa Gunung Susuru merupakan peninggalan dari kebudayaan megalit  (kebudayaan besar). Sedangkan temuan berupa kampak batu, manik-manik, pecahan tembikar, merupakan ciri zaman Batu Muda(Neolitikum) yang diperkirakan berkembang 1.500 tahun sebelum Masehi.

Penelitian arkeologi dan sejarah yang mindeng dilakukan di tahun 2000, baik itu dari Arkenas Jakarta, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang,  maupun dari Balai Arkeologi Bandung serta berhasil mendapatkan berbagai temuan yang dikatagorikan sebagai Benda Cagar Budaya membuat tempat ini menjadi pembicaraan di berbagai kalangan. Gunung Susuru akhirnya menjadi sebuah bukti penting adanya tingkat peradaban manusia yang sudah sangat tua usianya.Dan hal tersebut semakin mengukuhkan Kabupaten Ciamis sebagai wilayah yang sarat akan sumber sejarah peradaban sunda dari berbagai jaman disamping wilayah priangan lainnya.

Adanya temuan dan kegiatan penelitian tersebut memunculkan berbagai rumor dikalangan warga sekitarnya. Apalagi setelah tempat itu semakin diyakini sebagai  pusat pemerintahan Galuh Kertabumi. Yang paling santer terdengar adalah berita ditemukannya sebuah bokor yang terbuat dari emas di dalam sebuah gua. Hal itu tentu saja memancing penduduk yang lainnya untuk datang berburu harta karun yang diduga masih banyak terpendam.Tak ketinggalan, cerita-cerita misteri pun meruak menjadi bahan obrolan dilingkungan warga. Seperti cerita tentang auman harimau di sekitar Gua Macan 1dan 2 yang kerap terdengar oleh warga.  Ataupun kabar aheng  lainnya .

“ Maklum namina oge beja. Tina sajeungkalj anten sadeupa. Seueur implik-implikna anu teu saluyu jeung kanyataan.”Ujar Ki Adang. Lebih jauh, lelaki yang terlihat masih jagjag belejag  ini menceritakan bahwa memang warga banyak menemukan berbagai benda. Sejenis perhiasanpun pernah ditemukan oleh warga. Namun tidak ada yang terbuat dari emas melainkan dari bahan bebatuan indah. Sedangkan temuan lainnya kebanyakan terbuat dari tanah liat, batu dan besi. Piring dan poci yang berbahan porselin banyak ditemukan. Ketika saya melihat contoh piring tersebut ternyata ada cap Hong Botan-England dibelakangnya. Piring tersebut oleh Ki Andang sudah dibuktikan sebagai piringanti basi dengan menyimpan makanan basah selama seminggu ternyata  teu haseum-haseum. 🙂

“ Ti saprak di bewarakeun yen timuanbenda-benda sejarah ditangtayungan ku undang-undang kalebet aya ancamanana.Seueur oge warga nu nyetorkeun timuanana ka abdi. Nanging aya oge anu keukeuh dipimilik ku aranjeuna. Malih aya nu di jantenkeun jimat sagala.” Ujar Ki Adang saat memasuki gerbang makam Prabu Dimuntur.

Rupanya untuk dapat mengunjungi semua objek sejarah Gunung Susuru tidak cukup memakan waktu satu hari. Makam Prabu Dimuntur saja lokasinya berjarak sekitar 2 km dari Gunung Susuru. Demikian pula jika ingin melihat Sumur Batu yang aheng, harus meuntaswalungan Cimuntur karena letaknya disebrang Gunung Susuru. Sedangkan Sumur Taman yang khasiat airnya dipercaya untuk perjodohan terdapat di perkebunan pendudukyang berbatasan dengan gawir Cimuntur. Belum lagi Curug Kamuning yang letaknya di tebing Cileueur dan bersebrangan dengan ujung Gunung Susuru.

Lokasi lainnyayang dinilai penting adalah bekas pemukiman penduduk dan pasar kuno di dekat makam Nyi Tanduran Sari ( selir Prabu Dimuntur) ditempat ini paling banyak ditemukan arang, keramik dan gerabah. Dan sebelum tahun 1920-an beberapa kandang kuno yang ukurannya basar pernah disaksikan keberadaannya oleh sejumlah tetua kampung. Letaknya bersebelahan dengan lokasi pasar kuno. Demikian juga batu-batu bata heubeul bekas pondasi rumah sat itu masih banyak berserakan.

Sekian banyaknya temuan yang dititipkan di Ki Andang membuat dirinya sedikit khawatir kerena takut ada yang hilang. Selama ini benda-benda tersebut hanya disimpan seadanya. “ Abdi mah moal seueur pamundut, mun pamarentah paduli cing atuh pangadamelkeun lomari keur merenahkeun barang-barang eta. Salian moal bacacar tangtuna oge ngagampangkeun keur balarea anu hoyong ningal atanapi naliti.” Ujarnya.

Munculnya nama Gunung Susuru kepermukaan tidak lepas dari peranan H. Djaja Sukardja yang saat itu menjabat sebagai Kasi Kebudayaan Depdiknas Ciamis tahun 2000. Karena kepentingannya dalam menyusun buku sejarah Kota Banjar maka penelusurannya membawa dirinya ke Gunung Susuru yang merupakan patilasan Kerajaan Galuh Kertabumi. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa Singaperbangsa I, cicitnya PrabuDimuntur, yang  memindahkan pusat pemerintahan dari Galuh Kertabumi ke Banjar Pataruman  dianggap sebagai peletak dasar berdirinya kota Banjar.

Untukmemenuhi kelengkapan data yang tengah dikumpulkan, maka H. Djaja Sukardja menugaskan Penilik Kebudayaan Cijeungjing yang bernama Deni SIP untuk terjun langsung kelokasi. Saat itu Gunung Susuru keadaanya terbengkalai dan gersang tanpa arti setelah ditinggalkan oleh para petani karena tanah di tempat tersebut sudah tidak subur lagi seusai dipelakan jagong selama 15 tahun (sejak tahun 1960).

Berbagai temuan Deni di lapangan hasilnya sangat mengejutkan, sehingga selanjutnya tempat tersebut menjadi objek penelitian para ahli yang berkaitan dibidangnya. Lain halnya dengan Ki Adang yang sudah menduga bahwa Gunug Susuru bukanlah tempat samanea. Sejak kecil lokasi tersebuta dalah tempat bermainnya. Kala itu keadaan lingkungannya masih utuh. Jauh dengan keadaanya jaman sekarang. Ki Adang memperkirakan 50 % keaslian Gunung Susuru telah berubah dan hilang.

Masyarakat Kertabumi pun akhirnya peduli untuk menyelamatkan situs tersebut, maka saat dilaksanakan penghijauan pada 11 Oktober 2000 sekitar seribu orang warga bergerak membantu pemerintah untuk memulihkan tempat tersebut mendekati asalnya. Hasilnya, Gunung Susuru menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Pohon-pohon Jati yang ditanam saat penghijauan kini sudah merindangi Gunung Susuru. Jika saja pemerintah Ciamis jeli dan peduli maka peluang untuk dijadikan sebagai tempat wisatapun sangat menjanjikan. Apalagi lokasi Gunung Susuru masih berdekatan dengan Situs Karangkamulyan yang sudah lebih dulu menjadi objek wisata.

Sayangnya tumbuhan Susuru yang membuat tempat ini bernilai, tidak dapat tumbuh subur seperti di jamannya. Konon waktu itu, Susuru merupakan tumbuhan yang menghiasi taman keraton Galuh Kertabumi atau dipergunakan juga tanaman pagar keraton.Saya yang mencoba mencari tanaman tersebut, susuganan menemukan ternyata lapur teu hiji-hiji acan.  Ki Andang pernah memelihara tanaman tersebut di rumahnya,  namun lambat laun habis karena banyak yang meminta untuk dikoleksi.

Masyarakat di wilayah Kertabumi ternyata memiliki tradisi budaya yang bernama Merlawu. Ritual acaranya terdiri dari ngarekes, medar sajarah, dan susuguh. Waktu  penyelenggaraannya dilaksanakan setiap bulan Rewah,  Hari Senin atau padaHari Kamis terakhir di bulan itu dengan dipimpin oleh Aki Kuncen.  Kegiatan  tersebut merupakan bentuk syukuran hasil panen warga Kertabumi dan sekitarnya. Menurut keterangan Ki Adang, tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1535, sekaligus sebagai warisan dari prilaku budaya masyarakat di Kerajaan Galuh Kertabumi yang masih tetap dpelihara sampai saat ini.

Kawali, 2007

Oleh Pandu Radea

(Catatan lama Tapak Karuhun Galuh)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 2)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 2)

Galuh Kertabumi merupakan kerajaan wilayah,bagian dari dinasti Kerajaan Galuh Pangauban yang didirikan oleh Prabu Haur Kuning di Putrapinggan Kalipucang (diperkirakan sekitar 1530 M). Raja ini memiliki tiga orang putra yang bernama Maharaja Upama, Maharaja Sanghyang Cipta dan Sareuseupan Agung.  Sebagai anak tertua, Maharaja Upama mewarisi kerajaan Galuh Pangauban dari ayahnya. Maharaja Sanghyang Cipta diberi wilayah Salawe (Cimaragas) dan mendirikan Kerajaan Galuh Salawe. Sedangkan Sareuseupan Agung menjadi raja di wilayah Cijulang.

Menurut H. Djaja Sukardja, MaharajaSanghyang Cipta mempunyai 3 orang putra yang bernama Tanduran Ageung (Tanduran Gagang),Cipta Permana, dan Sanghyang Permana. Tanduran Ageung kemudian menikah dengan Rangga Permana, putra Prabu Geusan Ulun (Angkawijaya) pada tahun 1585 M. Wilayah Muntur pun diberikan oleh Maharaja Sanghyang Cipta sebagai hadiah perkawinan. Di wilayah tersebut kemudian berdiri Kerajaan Galuh Kertabumi  dan Rangga Permana diberi gelar Prabu Dimuntur. Raja ini memerintah dari tahun 1585 sampai 1602 M.

Adiknya Tanduran Ageung, yang bernama Cipta Permana diberi wilayah Kawasen (Banjarsari)  dan mendirikan kerajaan Galuh Kawasen. Sedangkan Sanghyang Permana mewarisi kerajaan ayahnya, memerintah di Galuh Salawe(Cimaragas) dengan gelar Prabu Digaluh. Masa berdirinya KerajaanGaluh Kertabumi merupakan masa pengembangan agama Islam dari Cirebon dan Sumedang ke wilayah-wilayah kerajaan Galuh. Salah satu penyebarannya adalah dengan melangsungkan pernikahan antara keluarga kerajaan yang masih menganut agama pra Islam dengan kerajaan yang sudah diislamkan oleh Cirebon.

Hal tersebut dilakukan oleh Rangga Permana dengan Tanduran Ageung. Dan jejak Tanduran Ageung diikuti oleh Cipta Permana yang menikahi Putri Maharaja Kawali yang sudah Islam. Tokoh yang mengislamkan Kawali saat itu adalah Adipati Singacala dari Cirebon(makamnya di Astana Gede Kawali). Sejak saat itulah pengaruh Islam semakin kuat di Kerajaan-kerajaan Galuh tug sampai jaman kiwari.

Menurut riwayat dari wilayahTalaga, Prabu Haur Kuning  ternyata merupakan generasi ke empat Prabu Siliwangi. Ayah dari Prabu Haur Kuning bernama Rangga Mantri atau Sunan Parung Gangsa (Pucuk UmumTalaga) yang menikah dengan Ratu Parung (RatuSunyalarang / Wulansari).  Sedangkan ayahRangga Mantri adalah salah seorang putra Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Munding Surya Ageung.  Rangga Mantri yang awalnya beragama Budha masuk Islam setelah ditaklukan Cirebon tahun 1530 M.

Dalam Riwayat lain, disebutkan pula tokoh Anggalarang sebagai salah satu putra Prabu Haur Kuning. Anggalarang adalah suami dari Dewi Siti Samboja yang kelak menciptakan Ronggeng Gunung.  Menurut H. Djaja Sukardja,tokoh Anggalarang diduga kuat adalah nama lain dari Maharaja Upama sebelum menjadi raja. Sebagai pembanding, keterangan lainya menyebutkan di wilayah pangandaran juga terdapat  kerajaan Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung dan beribukota Bagolo yang jauh sebelumnya pernah dikunjungi Bujangga Manik.

Menurut Babad Imbanagara yang disusun  Ir. R Gumiwa Partakusumah, Raja Bagolo adalah Sawung Galing yang menikahi Dewi Siti Samboja yang menjadi janda setelah suaminya yaitu Raden Anggalarang meninggal terbunuh bajo. Sawung Galing dalam sejarah Ronggeng Gunung adalah patih yang diutus oleh Prabu Haur Kuning untuk membantu Dewi Samboja dalam membalaskan kematian suaminya yaitu Anggalarang.

Di beberapa daerah (Talaga, Majalengka, Sumedang dan Ciamis) adanya kesamaan nama beberapa tokoh sejarah ternyata saling memperkuat keberadaannya. walau terkadang  sedikit berbeda, baik jujutan tahun keberadaanya, garis silsilah, riwayat hidup, maupun nama kerajaannya.Namun  semuanya rata-rata bersumber atau berasal dari keturunan yang sama, yaitu seuweu-siwi Prabu Siliwangi, penguasa agung Kerajaan Pajajaran.

Perbedaan Silsilah 

Mengenaisilsilah Rangga Permana atau Prabu Dimuntur ternyata ada perbedaan antara BukuPatilasan Kerajaan Galuh Kertabumi (PKGK) karya H. Djaja Sukardja dengan sumbersejarah dari Sumedanglarang.  Keterangandari Sumedanglarang menyebutkan bahwa Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orangistri. Yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru putrinya Sunan Pada, Kedua yaituRatu Harisbaya dari Cirebon,ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut Geusan Ulun dikaruniai15 orang putra. Di antara putrannya itu,ternyata tidak ada nama Rangga Permana,  sedangkan di  PKGK dinyatakan bahwa RanggaPermana adalah putra Geusan Ulun, mana yang betul ?

R. Gun GunGurnadi salah seorang trah keturunan dari Ciancang (eks Kabupaten tahun1658-1811 M, sebelah barat Kertabumi) yang juga mewarisi buku Sejarah Galoeh daribao nya, Dalem Wirabaya (Wiratmaka I) yang menjabat sebagai bupatiterakhir Ciancang, menjelaskan bahwa Raden Permana sebetulnya adalah putra dariKyai Rangga Haji, dan cucu dari Pangeran Santri hasil pernikahan dengan Ratu Pucuk Umun. Rangga Haji merupakanputra kedua dari 6 bersaudara sedangkan kakaknya yang tertua bernamaRaden Angkawijaya yang terkenal dengan nama GeusanUlun

“ Janten mun ditingal tina garis keluarga, Rangga Permana atanapi Prabu Dimuntur nyaeta alona  Geusan Ulun, sanes putrana.” ujarnya. Lebih jauh R Gun Gun menandaskan bahwa perbedaan keterangan tersebut adalah suatu hal yang wajar karena yang namanya sejarah akan terus dianalisa setiap waktu sampai ditemukan data-data atau sumber terbaru sampai pada kesimpulan yang mendekati kebenaran.

Sang Raja Cita,salah seorang putra Prabu Dimuntur, menjadi penguasa Kertabumi berikutnya dengan pangkat Adipati, bergelar Kertabumi I (1602-1608). Sedangkan pada waktu itu kekuasaan Prabu Geusan Ulun di Sumedanglarang (1580-1608 M) meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik,Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis) dengan Kutamaya sebagai ibukota kerajaannya.

Putri Raja Cita bernama Natabumi diperistri oleh Dipati Panaekan,pada saat itu  pengaruh Mataram Islam dibawah pemerintahan Mas Jolang yang bergelar Sultan Hanyokrowati (1601-1613) mulai masuk ke wilayah Galuh. Sedangkan putra kedua Raja Cita yang bernama Wiraperbangsa kelak menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Adipati Singaperbangsa I (1608-1618). Raja Cita dimakamkan di Kampung Buner, Desa Bojongmengger.

Makam Adipati Panaekan Karang KamulyanH. Djaja Sukardja merasa yakin bahwa riwayat Kota Banjar yang dimulai dari Galuh Kertabumi semakin natrat ketika Singaperbangsa I memindahkan pusat Kerajaan Galuh Kertabumi dari Gunung Susuru ke Banjar Patroman(Desa Banjar Kolot). Penyebab perpindahan tersebut, akibat terjadinnya perselisihan faham antara Singaperbangsa I dengan Adipati Panaekan (kakak iparnya) dalam rencana penyerangan terhadap Belanda di Batavia.

Adipati Panaekan condong kepada rencana Dipati Ukur untuk menyerang secepatnya ke Batavia sebelum kekuatan Belanda makin besar. Sedangkan Singaperbangsa I lebih sependapat dengan Rangga Gempol yang merencanakan membangun kekuatan dengan mempersatukan wilayah Priangan. Rangga Gempol adalah penguasa Sumedanglarang(1620 M dan berada dibawah pengaruh Sultan Agung Mataram.

Akibatperselisihan tersebut membuat Adipati Panaekan terbunuh. Jasadnya dihanyutkan ke Sungai Cimuntur kemudian  dimakamkan di Karangkamulyan. Akibat peristiwa tragis itu membuat Singaperbangsa I tidak genah tinggal di Gunung Susuru, sehingga akhirnya pindah ke Banjar Patroman. (Bersambung/HU.Kabar Priangan)

Oleh Pandu Radea

(Catatan lama Tapak Karuhun Galuh)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 1)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 1)

Langit di atas tanah Kertabumi siang itu lumayan cerah, sedikitnya mengusir kecemasan akan hujan yang biasa turun pada waktu-waktu seperti ini. Memasuki Kampung Bunder, perumahan penduduk terlihat resik dan asri. Halamannya yang luas ditumbuhi dengan berbagai pohon buah-buahan, seperti dukuh dan rambutan. Namun Pohon Rambutan nampak lebih banyak terlihat, hampir di setiap buruan rumah maupun kebun penduduk. Dan  saat itu kebetulan sedang masa-masanya berbuah.

Kampung Bunder terletak di Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Ditempatini terdapat situs sejarah yang nilainya sangat penting bagi Kabupaten Ciamisdan Kotif Banjar. Oleh masyarakat setempat, situs itu disebut Gunung Susuru. Sebetulnya tempat tersebut lebih merupakan sebuah bukit ketimbang disebut gunung. Namun karenababasaan di masyarakat sudah napelsejak ratusan tahun maka sampai saat ini pun  nama Gunung Susuru pun tetap lestari.  Disebut Gunung Susuru karena  konon ditempat tersebut merupakan leuweungna tangkal Susuru, yaitu sejeniskaktus yang hanya tumbuh di tempat itu saja.

“ Gunung Susuru mangrupikeun tanah desananging taun 1960 diolah ku masyarakat pikeun dipelakan jagong. Kumargidibukbak dijantenkeun huma, tangkal susuruna oge ngiring kababat. Nanging masalendona taneuh mung kiat 15 tahun lamina, tah ti taun 1975 dikantunkeun teu dipelakan deui” Papar Ki Adang( 60 th), saat  saya  berkunjungkerumahnya sebelum mengawali lalampahanke Gunung Susuru. Lelaki berusia 60 tahun ini sudah bertugas sebagai Juru Pelihara Situs sejak tahun 2000. SedangkanJuru Kunci dipegang oleh Ki Eman (80 th)

Lebih jauh Ki Adang menjelaskan, semenjak tidak diolah lagi Gunung Susuru keadaanya sangat boneas (gersang) dan terbengkalai hampir selama 25 tahun. Memang semenjak diolah oleh masyarakat, dilokasi tersebut banyak ditemukan berbagai benda baik yang berbahan tulang,batu, tanah liat, keramik, manik-manik maupun dari  besi.  Namun pada saat itu, pemahaman masyarakat tentang nilai sejarah belum tumbuh, sehingga benda-benda yang ditemukan tersebut banyak yang hilang, atau dijadikan jimat dan koleksi pribadi. Hanya sebagian kecil saja yang diserahkan kepada pemerintah. Temuan Benda CagarBudaya Bergerak (BCB) kini disimpan oleh Ki Adang dan benda-benda tersebut diantaranya,  Fosil tulang dan gigi manusia, Kapak batu, dua buah batu slinder, Lumpang Batu, Batu Korsi, menhir dan dolmen, Batu Peluru, Piring dan PociKeramik serta  3 buah keris dengan luk berbeda.

“ Situs Gunung Susuru diwates ku WalunganCileueur dipalih Kidul, Walungan Cimuntur palih Kaler, Patimuan palih Wetan,Benteng kuno dipalih Kulon.” Papar Ki Andang. Patimuan merupakan daerah pertemuan dua sungai Cimuntur dan Cileueur. Sedangkan Benteng kuno membentang melintasi desa dari sisi Cimuntur ke sisi Cileueur sepanjang kurang lebih 2km.   Benteng Kuno tersebut terbuat dari susunan batu dengan ketinggian 1 meter. Namun kini keadaanya tidak utuh lagi  dikarenakan alurnya melintasi daerah permukiman sehingga oleh masyarakat batunya dipergunakan untuk pembangunan rumah. Sebagian lagi digunakan pembuatan jalan aspal. Namun di beberapa tempat pondasi maupun strukturnya masih dapat dilihat  walau kurang jelas.

MenurutH. Djaja Sukardja, Gunung Susuru merupakan patilasan dari kerajaan GaluhKertabumi yang didirikan oleh Putri Tanduran Ageung (putri Raja Galuhyang bernama Sanghyang Cipta, berkedudukan di Salawe, Cimaragas). Putri inimenikah dengan Rangga Permana, putra prabu Geusan Ulun (Penguasa SumedangLarang). Dan sebagai hadiah pernikahannya adalah wilayah Muntur (ditepi sungaiCimuntur). Di tempat inilah kemudian berdiri KerajaanGaluh Kertabumi dengan rajanya yang bergelar Prabu Dimuntur pada tahun 1585 M. Dan kerajaan ini merupakan cikal bakal kota Banjar saat ini.

(bersambung / HU.Kabar Priangan)

Oleh Pandu Radea

Komunitas Tapak Karuhun Galuh

 

Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe

Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe

Salah satu situs unggulan di Kabupaten Ciamis yaitu situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe, di Dusun Tinggarahayu, Desa Cimaragas, Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis.

Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe merupakan tinggalan Situs yang di dalmnya adanya bcb batu entog , batu lambang peribadatan, patilasan Prabu Galuh Salawe, dan sebagainya.

Prabu Salawe sekitar tahun 30 an ternyata telah dikunjungi oleh Bapak Proklamator Presiden pertama RI Ir. Soekarno, beliau berkunjung ke situs Prabu Galuh di Salawe ketika masih menjadi mahasiswa ITB Bandung. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya data-data kliping koran yang masih tersimpan sampai sekarang di Jupel Salawe Abah latif Adiwijaya.

Kemudian pada tahun 2013 setelah melalui seleksi yang ketat dari The soekarno Center yang berpusat di Tampaksiring Bali, Situs Prabu Galuh di Salawe mendapatkan sertifikat The Soekarno Center yang akan diberikan penganugrahan pada tanggal 20 Nopember 2013 di Balai Kota Bandung oleh Ketua The Soekarno Center Ibu Sukmawati Soekarno Puteri.

[alert style=”white”] sumber: Eman Hermansyah Sastrapraja/PANGAUBAN GALUH PAKUAN

Gambar: WARGA mengikuti ritual misalin di situs keramat makam Galuh Salawe di Cimaragas Kabupaten Ciamis, Minggu (15/7). Misalin salah satu ritual yang digelar menjelah Ramadan.**(foto: Pikiran Rakyat)
[/alert]

Page 1 of 41234