Ritual Misalin

Ritual Misalin

Jelang Ramadan, beberapa ritual adat digelar di sejumlah situs di Ciamis. Salah satunya ritual Misalin di situs keramat makam Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh, di Dusun Tinggarahayu, Desa dan Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis.

Misalin secara harfiah berarti melakukan pergantian menuju kesejahteraan hidup lahir batin.

Tradisi tahunan ini telah dilakukan masyarakat di wilayah tersebut secara turun temurun. Pada tradisi ini, masyarakat bergotong royong membersihkan makam leluhur sekaligus berdoa di tempat tersebut untuk menyucikan diri menyambut Ramadan.

“Misalin juga bermakna membersihkan diri dari segala macam perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma agama,” ujar juru kunci makam keramat Galuh Salawe, Latif Adiwijaya.

Lebih lanjut Latif menuturkan ritual itu tidak hanya sebatas membersihkan makam karuhun yang rutin dilaksanakan.

Namun, menurut dia, Misalin juga merupakan momentum untuk “ngikis diri” demi mendapat keberkahan hidup.

Pada tradisi itu warga secara sukarela bergotong-royong membuat pontrang, yakni makanan yang disajikan di atas anyaman daun kelapa yang dibentuk segi empat menyerupai bentuk kapal.

Pontrang itu kemudian dibagikan kepada warga yang hadir dalam ritual untuk selanjutnya dimakan bersama-sama.

Pontrang itu wadah makan jaman dulu ketika acara atau hajat masyarakat digelar seperti di acara khitanan ataupun pernikahan. Pontrang dibuat dari daun kelapa dan mengingatkan kita pada sumber-sumber alam yang bis dimanfaatkan,” ucap Ayip salah seorang penyelenggara.

Uniknya, tidak seperti ritual di daerah lain, tak ada aksi saling rebut saat pontrang dibagikan.

Ratusan warga dengan sabar duduk menunggu jatah pembagian dari panitia penyelenggara.

Pontrang dibagikan setelah prosesi tawasulan usai dilaksanakan. Singkatnya seluruh acara dalam ritual tersebut berlangsung dengan khidmat dan tertib.

[alert style=”white”] Sumber: Yulistyne Kasumaningrum/”Pikiran Rakyat” [/alert]

Maung Panjalu, Bongbang Larang Bongbang Kancana

Maung Panjalu, Bongbang Larang Bongbang Kancana

Mitos Maung Panjalu

Mempelajari sejarah dan kebudayaan Panjalu tidak akan lepas dari berbagai tradisi, legenda, dan mitos yang menjadi dasar nilai-nilai kearifan budaya lokal, salah satunya adalah mitos Maung Panjalu (Harimau Panjalu). Sekelumit kisah mengenai Maung Panjalu adalah berlatar belakang hubungan dua kerajaan besar di tanah Jawa yaitu Pajajaran (Sunda) dan Majapahit.

Menurut Babad Panjalu kisah Maung Panjalu berawal dari Dewi Sucilarang puteri Prabu Siliwangi yang dinikahi Pangeran Gajah Wulung putera mahkota Raja Majaphit Prabu Brawijaya yang diboyong ke Keraton Majapahit. Dalam kisah-kisah tradisional Sunda nama Raja-raja Pajajaran (Sunda) disebut secara umum sebagai Prabu Siliwangi sedangkan nama Raja-raja Majapahit disebut sebagai Prabu Brawijaya.

maung-panjalu-bongbang-larang-bongbang-kancana

Ketika Dewi Sucilarang telah mengandung dan usia kandungannya semakin mendekati persalinan, ia meminta agar dapat melahirkan di tanah kelahirannya di Pajajaran, sang pangeran mau tidak mau harus menyetujui permintaan isterinya itu dan diantarkanlah rombongan puteri kerajaan Pajajaran itu ke kampung halamannya disertai pengawalan tentara kerajaan.

Suatu ketika iring-iringan tiba di kawasan hutan belantara Panumbangan yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Panjalu dan berhenti untuk beristirahat mendirikan tenda-tenda. Di tengah gelapnya malam tanpa diduga sang puteri melahirkan dua orang putera-puteri kembar, yang lelaki kemudian diberi nama Bongbang Larang sedangkan yang perempuan diberi nama Bongbang Kancana. Ari-ari kedua bayi itu disimpan dalam sebuah pendil (wadah terbuat dari tanah liat) dan diletakkan di atas sebuah batu besar.

Kedua bocah kembar itu tumbuh menuju remaja di lingkungan Keraton Pakwan Pajajaran. Satu hal yang menjadi keinginan mereka adalah mengenal dan menemui sang ayah di Majapahit, begitu kuatnya keinginan itu sehingga Bongbang Larang dan Bongbang Kancana sepakat untuk minggat, pergi secara diam-diam menemui ayah mereka di Majapahit.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh mereka tiba dan beristirahat di belantara kaki Gunung Sawal, Bongbang Larang dan Bongbang Kancana yang kehausan mencari sumber air di sekitar tempat itu dan menemukan sebuah pendil berisi air di atas sebuah batu besar yang sebenarnya adalah bekas wadah ari-ari mereka sendiri.

Bongbang Larang yang tak sabar langsung menenggak isi pendil itu dengan lahap sehingga kepalanya masuk dan tersangkut di dalam pendil seukuran kepalanya itu. Sang adik yang kebingungan kemudian menuntun Bongbang Larang mencari seseorang yang bisa melepaskan pendil itu dari kepala kakaknya. Berjalan terus kearah timur akhirnya mereka bertemu seorang kakek bernama Aki Ganjar, sayang sekali kakek itu tidak kuasa menolong Bongbang Larang, ia kemudian menyarankan agar kedua remaja ini menemui Aki Garahang di pondoknya arah ke utara.

Aki Garahang yang ternyata adalah seorang pendeta bergelar Pendita Gunawisesa Wiku Trenggana itu lalu memecahkan pendil dengan sebuah kujang sehingga terbelah menjadi dua (kujang milik sang pendeta ini sampai sekarang masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit). Karena karomah atau kesaktian sang pendeta, maka pendil yang terbelah dua itu yang sebelah membentuk menjadi selokan Cipangbuangan, sedangkan sebelah lainnya menjadi kulah (kolam mata air) bernama Pangbuangan.

Sebagai tanda terima kasih, kedua remaja itu kemudian mengabdi kepada Aki Garahang di padepokannya, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Suatu ketika sang pendeta bepergian untuk suatu keperluan dan menitipkan padepokannya kepada Bongbang Larang dan Bongbang Kancana dan berpesan agar tidak mendekati kulah yang berada tidak jauh dari padepokan.
Kedua remaja yang penuh rasa ingin tahu itu tak bisa menahan diri untuk mendatangi kulah terlarang yang ternyata berair jernih, penuh dengan ikan berwarna-warni. Bongbang Larang segera saja menceburkan diri kedalam kulah itu sementara sang adik hanya membasuh kedua tangan dan wajah sambil merendamkan kedua kakinya.

Betapa terkejutnya sang adik ketika Bongbang Larang naik ke darat ternyata wajah dan seluruh tubuhnya telah ditumbuhi bulu seperti seekor harimau loreng. Tak kalah kagetnya ketika Bongbang Kancana bercermin ke permukaan air dan ternyata wajahnya pun telah berubah seperti harimau sehingga tak sadar menceburkan diri kedalam kulah. Keduanyapun kini berubah menjadi dua ekor harimau kembar jantan dan betina.

Hampir saja kedua harimau itu akan dibunuh oleh Aki Garahang karena dikira telah memangsa Bongbang Larang dan Bongbang Kancana. Namun ketika mengetahui kedua harimau itu adalah jelmaan dua putera-puteri kerajaan Pajajaran yang menjaga padepokannya sang Pendeta tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berpendapat bahwa kejadian itu sudah menjadi kehendak Yang Mahakuasa, ia berpesan agar kedua harimau itu tidak mengganggu hewan peliharaan orang Panjalu, apalagi kalau mengganggu orang Panjalu maka mereka akan mendapat kutukan darinya.

Kedua harimau jejadian itu berjalan tak tentu arah hingga tiba di Cipanjalu, tempat itu adalah kebun milik Kaprabon Panjalu yang ditanami aneka sayuran dan buah-buahan. Di bagian hilirnya terdapat pancuran tempat pemandian keluarga Kerajaan Panjalu. Kedua harimau itu tak sengaja terjerat oleh sulur-sulur tanaman paria oyong (sayuran sejenis terong-terongan) lalu jatuh terjerembab kedalam gawul (saluran air tertutup terbuat dari batang pohon nira yang dilubangi) sehingga aliran air ke pemandian itu tersumbat oleh tubuh mereka.

Prabu Sanghyang Cakradewa terheran-heran ketika melihat air pancuran di pemandiannya tidak mengeluarkan air, ia sangat terkejut manakala diperiksa ternyata pancurannya tersumbat oleh dua ekor harimau. Hampir saja kedua harimau itu dibunuhnya karena khawatir membahayakan masyarakat, tapi ketika mengetahui bahwa kedua harimau itu adalah jelmaan putera-puteri Kerajaan Pajajaran, sang Prabu menjadi jatuh iba dan menyelamatkan mereka dari himpitan saluran air itu.

Sebagai tanda terima kasih kedua harimau itu bersumpah dihadapan Prabu Sanghyang Cakradewa bahwa mereka tidak akan mengganggu orang Panjalu dan keturunannya, bahkan bila diperlukan mereka bersedia datang membantu orang Panjalu yang berada dalam kesulitan. Kecuali orang Panjalu yang meminum air dengan cara menenggak langsung dari tempat air minum (teko, ceret, dsb), orang Panjalu yang menanam atau memakan paria oyong, orang Panjalu yang membuat gawul (saluran air tertutup), maka orang-orang itu berhak menjadi mangsa harimau jejadian tersebut.

Selanjutnya kedua harimau kembar itu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Keraton Majapahit dan ternyata setibanya di Majapahit sang ayah telah bertahta sebagai Raja Majapahit. Sang Prabu sangat terharu dengan kisah perjalanan kedua putera-puteri kembarnya, ia kemudian memerintahkan Bongbang Larang untuk menetap dan menjadi penjaga di Keraton Pajajaran, sedangkan Bongbang Kancana diberi tugas untuk menjaga Keraton Majapahit.

Pada waktu-waktu tertentu kedua saudara kembar ini diperkenankan untuk saling menjenguk. Maka menurut kepercayaan leluhur Panjalu, kedua harimau itu selalu berkeliaran untuk saling menjenguk pada setiap bulan Maulud.

[alert style=”white”] referensi: id.wikipedia, panjalu.desa.id [/alert]

Abon Ikan Patin Ciamis

Abon Ikan Patin Ciamis

Kelompok pengolah ikan di daerah Ciamis, membuat abon ikan patin. melalui proses yang masih sangat sederhana tapi masa edarnya bisa sampai tahunan tanpa pengawet. Yang dilakukan Teni Nawalusi karyawan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Sub Unit Laboratorium Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPMHP) Kabupaten Ciamis membina Kelompok Pengolah Ikan di daerah tersebut, cukup mulia. Diantara produk yang dihasilkan kelompok tersebut adalah abon ikan patin. Menariknya abon ikan yang dihasilkan bukan rasa ikan tapi rasa daging.

Kelompok yang diberi nama Kelompok Pengolah Ikan ini didirikan pada 2004, dengan ketua Ros Rosita dan beranggotakan 10 orang. Proses produksinya memang masih sangat sederhana. Dan kapasitas produksinyapun masih bergantung pada pesanan dari konsumen. Mengingat semuanya masih sangat terbatas. Jadi kalau produksi berlebihan bingung memasarkannya. Karena belum memiliki tenaga pemasaran yang handal. “Dalam satu hari rata-rata produksi baru sekitar 5 kg,” papar Teni.

Sebetulnya abon ikan ini, lanjut Teni bisa menjadi industri yang potensial bagi daerah, khususnya Ciamis. Karena akan memberikan mulplier effect yang cukup luas kepada masyarakat. Selain memberikan pasar baru bagi para petani ikan patin, juga membuka peluang kerja. “Untuk bahan baku ikan patin didapatkan di daerah setempat, Ciamis, Tasikmalaya. Biasanya satu ekor ikan patin bisa jadi 1 kg abon ikan,” kata Teni.

Perlu diketahui abon ikan ini sangat baik untuk dikonsumsi karena mengandung protein, lemak dan kalsium yang dibutuhkan oleh tubuh. Setelah diuji coba kadar protein abon ikan pating sebesar 19%, lemak 6%,dan air sekitar 5%. Sementara ambang minimal kadar protein ikan olahan yang ditetapkan oleh Balai Besar Pengolahan Ikan adalah sebesar 13%. Disisi lain keunggulan dari ikan selain mengandung protein adalah rendah kolesterol, sehingga baik dan aman dikonsumsi anak maupun orang dewasa.

Boga Rasa dan Lezzat

Proses pembuatan abon ikan patin, pertama dipilih ikan patin yang masih kondisi segar lalu dipotong kepala dan ekor lantas dicuci bersih. Untuk kepalanya bisa dijual tersendiri, atau dibuat sop kapala ikan patin. Semua isi ikan dibuang termasuk duri dan hitam-hitam yang menempel pada diding dalam. Jadi yang diambil hanya dagingnya saja.

Untuk bumbunya terdiri dari rempah-rempah, jahe, gula pasir, bawang merah, bawang putih, dihaluskan bersama. Kemudian bumbu tersebut diaduk/dicampur dengan daging ikan patin yang telah dihancurkan (disuwir-suwir). Lantas bumbu dan ikan diaduk sampai merata baru digoreng selama 1-2 jam hingga kering berwarna kuning kecoklatan. “Setelah digoreng abon ikan dipres dengan mesin pres agar minyaknya keluar, dan didinginkan,” Teni memberi tahu proses pembuatannya.

Untuk membuat 1 kg abon ikan patin dibutuhkan sekitar 3 sampai 3,5 kg ikan patin. Harga ikan patin 1 kg sekitar Rp 14.000. setelah jadi abon ikan dijual Rp 20.000/ons atau sebesar Rp 150.000/kg. Abon ikan patin yang dijual dengan nama “Boga Rasa” untuk pasar disekitar Ciamis dan dengan nama “Lezzat” untuk pasar diluar Ciamis ini bisa bertahan hingga 5 bulan bahkan bisa sampai 3 tahun kalau disimpan dengan benar (ditempat pendingin).

Mampu mandiri

Tahun ini (2010) anggota kelompok pengolah ikan bertambah menjadi 15 orang. Dan produksinyapun juga mulai meningkat rata-rata 10 kg /hari. Hanya saja yang menjadi kendala harga ikan patin sering fluktuatif, sehingga sangat berpengaruh pada produksi. “Harapan kami perlu segera ditingkatkan budidaya ikan patin khususnya di Ciamis,” keluh Teni.

Sementara untuk meningkatkan volume produksi dan kualitas produk, kelompok ini butuh bantuan peralatan untuk memasak seperti wajan besar dan alat pengepres abon.

Kedepan Teni berharap kelompok ini bisa mandiri, berkembang dan punya out let (toko) sendiri. Untuk itu kini yang sedang diupayakan kelompok adalah meningkatkan kualitas, dan pengembangan pasar, serta pelatihan untuk meningkatkan kemampuan kelompok dalam memproduksi abon. A. Kadri

[alert style=”white”] sumber: ikm.kemenperin.go.id [/alert]

Aksara Sunda Kawali

Aksara Sunda Kawali

Latar Belakang 
Aksara Sunda Kuno adalah aksara yang digunakan pada prasasti-prasasti dan piagam (serta naskah) jaman kerajaan Sunda (yang tertua ditemukan pada prasasti Kawali abad XIV) (Darsa. dkk, 2007: 12). Selanjutnya Holle (1882: 15-18, dalam Darsa, 2007: 15) menyatakan aksara tersebut sebagai modern schrift uit de Soenda-landen, en niet meer dan + jaar oud ‘aksara modern dari Tatar Sunda, dan berusia tidak lebih dari sekitar 1500 tahun’.

Pada tahun 2008, dilakukan upaya untuk menghidupkan kembali aksara Sunda kuno dengan beberapa perubahan dan pembakuan bentuk. Bentuk aksara Sunda baku tersebut berdasarkan aksara Sunda kuno yang terdapat pada naskah-naskah Lontar. Upaya sosialisasi aksara Sunda mutakhir tidak hanya sebatas pembakuan, tetapi juga dengan pembuatan file fonta aksara Sunda Baku yang dapat digunakan pada komputer. Pembakuan fonta aksara Sunda Baku didukung oleh Unicode, yang memasukkan aksara Sunda Baku ke dalam slot karakter khusus dalam tabel komputerisasi aksara-aksara dunia.

Beberapa karakter aksara Sunda pada prasasti Kawali memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan tipe aksara pada naskah-naskah Sunda kuno. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa aksara Sunda pada prasasti Kawali merupakan jenis aksara Sunda tertua yang pernah ditemukan. Namun hingga saat ini belum ada upaya pendokumentasian aksara Kawali ke dalam bentuk fonta.

Tujuan
Komputerisasi Aksara Kawali bertujuan untuk mendokumentasikan aksara Sunda kuna tipe prasasti Kawali ke dalam bentuk digital. Aksara tersebut dibuat ke dalam bentuk file fonta sehingga dapat digunakan untuk mengetik dalam perangkat lunak pengolah aksara, maupun perangkat lunak lainnya. Fonta ini dibuat bukan untuk ‘membingungkan’ para pengguna komputer dan pembelajar aksara Sunda Baku, tetapi untuk menambah khasanah kekayaan aksara Sunda dalam dunia Informasi dan Teknologi.

Aksara Sunda yang resmi digunakan secara luas saat ini adalah aksara Sunda Baku , dengan pengkodean khusus dari Unicode . Sedangkan fonta aksara Sunda Kawali dimaksudkan untuk pembelajaran aksara Sunda kuna tipe prasasti Kawali, terutama di lingkungan akademis. Dengan dibuatnya fonta ini, diharapkan dapat memudahkan para peminat dan penggiat aksara Sunda dalam pengenalan salah satu ragam aksara Sunda kuna.

Sumber Data
Sumber data utama dalam pembuatan fonta Aksara Sunda Kawali ini adalah Prasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali, yang ditemukan di kawasan Kabuyutan Kawali, kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terutama pada prasasti “utama” yang bertulisan paling banyak (Prasasti Kawali I). Adapun secara keseluruhan, terdapat enam prasasti. Kesemua prasasti ini menggunakan bahasa dan aksara Sunda (Kaganga). Meskipun tidak berisi candrasangkala, prasasti ini diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-14 berdasarkan nama raja.

Berdasarkan perbandingan dengan peninggalan sejarah lainnya seperti naskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, dapat disimpulkan bahwa Prasasti Kawali I ini merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat.

Metode 
Metode yang digunakan adalah penjejakan aksara (tracing) pada prasasti dengan beberapa penyesuaian (normalisasi) bentuk. Karena pertimbangan materi, jarak, dan waktu, karakter aksara dibuat berdasarkan gambar foto yang tersedia di internet. Sebagai pembanding untuk memferivikasi bentuk aksara, digunakan daftar tabel aksara yang disusun K.F Holle tahun 1882.

Bentuk aksara yang telah didapatkan dari foto prasasti Kawali dijejaki dengan perangkat lunak pembuat fonta, yaitu FontForge . Hasil penjejakan tersebut kemudian dirapikan dan dilakukan beberapa penyesuaian berdasarkan bentuk sewajarnya, karena terdapat bentuk yang tidak konsisten antara karakter huruf yang sama. Penyesuaian yang dilakukan adalah proporsi tinggi, lebar dan kemiringan huruf, tanpa mengubah bentuk dasarnya.

Kumpulan gambar karakter (glyph) tersebut kemudian dimasukkan ke dalam slot papan tombol. Jangkauan (range) pengkodean karakter Font Kawali berada pada Latin-1

Video Demonstrasi Penggunaan Font Kawali.otf

bila ada yang memerlukan font Kawali.otf silahkan kirim email ke [email protected]

[alert style=”white”] referensi: http://ilhamnurwansah.wordpress.com [/alert]

Batik Ciamis, Batik Ciamisan

Batik Ciamis, Batik Ciamisan

Batik Ciamis berbeda dengan batik di daerah lain. Coraknya tidak terlalu ramai. Ada yang bermotif daun, ada pula yang bermotif parang rusak. Ciri yang paling dominan adalah pada penggunaan warna. Batik Ciamis hanya menggunakan dua warna, misalnya warna coklat dan hitam dengan dasar putih.

         

DI era 60-an, kain batik tradisional (motif maupun pengerjaannya) masihmenikmati masa kejayaannya. Di Jawa Barat, misalnya, beragam motif khas hadir dengan segala keunggulannya. Uniknya motif batik ini identik dengan nama asal kain itu dibuat. Sebut misalnya motif asal Kab Garut dikenal dengan nama garutan, cirebonan (Cirebon), tasikan (Tasikmalaya), dan ciamisan (Ciamis).

Akan tetapi motif ciamisan kini nampaknya terasa asing. Nyaris orang tak kenal lagi kain ini. Padahal di tahun 60-an boleh dibilang kain batik itu sempat pula menikmati masa kejayaan. Di daerah paling timur Jabar ini, saat itu tak kurang dari 1.200 perajin menekuni batik tulis motif ciamisan. Bahkan pada era itu, mereka yang akan membeli harus rela menunggu paling cepat seminggu, barulah mendapatkan pesanannya.

                 

Para pemesan batik khas daerah Ciamis ini, tidak datang dari daerah sekitar Jabar atau Jakarta, tapi dari Surabaya, Semarang, Samarinda, Ban­jarmasin, hingga Makassar. Daerah Ciamis ini memiliki khas atau motif tersendiri untuk batik yaitu dinamakan sarian.

Generasi penerus batik khas Ciamis, bahwa ciamisan memiliki dasar putih. Ini lain dengan garutan yang memiliki dasar kuning. Sedangkan warna dominan pada ciamisan perpaduan warna coklat soga dan hitam. Ciamisan juga memiliki dua motif rereng, yakni rereng eneng dan rereng seno. Motif rereng eneng kini diaplikasikan untuk baju, sedangkan rereng seno untuk kain bawahan.

Seperti halnya seniman atau perajin batik, dalam menuangkan objek gambar selalu mengambil dari lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Tanaman daun rente dan daun kelapa, adalah dua jenis tanaman yang dijadikan gambar ciri khas ciamisan. Tanaman rente yang biasa tumbuh di kolam-kolam penduduk Ciamis dan dijadikan pakan ikan, diangkat pada kain mori dan dituangkan jadi gambar untuk batiknya. Demikian pula keakraban perajin batik dengan pohon kelapa yang banyak tumbuh di daerah itu, jadi ilham untuk motif ciamisan. Motif ciamisan tampil sebagai kain yang kalem. Mungkin ini sesuai dengan jiwa masyarakat Ciamis yang tenang dan tidak bergejolak.

Sebagai bukti dari keberhasilan usaha batik di daerah itu sempat muncul Rukun Batik Ciamis (RBC). Oraganisasi ini merupakan koperasi yang menampung para perajin batik. RBC berdiri sebelum kemerdekaan dan mengalami puncak kejayaan di era 60-an.

[alert style=”white”]referensi: diditds.wordpress.com[/alert]

Gondang Buhun

Gondang Buhun

Gondang, atau di Ciamis disebut Gondang Buhun, adalah seni tetabuhan (tutunggulan) yang disertai dengan nyanyian. Alatnya adalah sebuah lisung (lesung, wadah untuk menumbuk padi) dan halu (alu), penumbuk padi terbuat dari sebatang kayu. Bunyi lesung dihasilkan dari tumbukan alu, yang bisa dilakukan ke berbagai bagian lesung, baik ke bagian dalam maupun bagian luar. Seluruh pemainnya perempuan, berjumlah kurang lebih lima orang. Kesenian ini tersebar di beberapa wilayah pedesaan di Ciamis Selatan. Salah satunya ada di Kampung Cikukang, Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Mereka yang kini masih bisa ngagondang di antaranya Enah, Karlah, Anah, dan Niti. Kesenian ini terkait dengan beberapa ritus, antara lain ritus Nyi Pohaci Sanghyang Sri (mapag sri), ritus minta hujan, dan sebagai undangan kenduri.

Gondang yang dimainkan dalam rangka upacara mapag sri atau ngampihkeun (menyimpan padi ke lumbung) biasanya dilakukan selepas panen. Tempatnya dilaksanakan di sekitar leuit (lumbung padi). Upacara itu dimulai oleh seorang punduh (sesepuh upacara) perempuan, yang berdoa sambil membakar kemenyan, memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan rasa syukurnya atas hasil panen yang didapat. Padi pun diarak, dimasukkan ke dalam lumbung sambil diiringi tutunggulan. Setelah itu, nyanyian gondang pun dilantunkan dengan penuh keceriaan.

Pada musim kemarau yang panjang, dan hujan tak kunjung turun, masyarakat melakukan upacara minta hujan yang disebut dengan iring-iring ucing. Dalam upacara ini, seekor kucing dan ayam jago diarak keliling kampung. Pelaksanaannya pada malam hari, dan tandanya dimulai dengan tutunggulan galuntang. Setelah itu, rombongan gondang bersiap untuk keliling kampung mengarak kedua binatang tersebut. Lesung digotong beramai-ramai, sementara alat musik Ronggeng Gunung ditabuh bersahut-sahutan. Setelah sampai di suatu tempat, kucing dan ayam jago dimandikan, kemudian dilepas. Gondang pun dimainkan.

Lain halnya dengan gondang yang dimainkan untuk kepentingan kenduri. Suara lesungnya yang terdengar sampai jauh, berfungsi sebagai pemberitahuan atau sebagai tanda adanya seseorang yang akan mengadakan kenduri. Suara tutunggulan dan nyanyian-nyanyian itu adalah undangan kepada khalayak ramai untuk datang kepada orang yang punya kenduri. Tutunggulan biasanya dilakukan jauh hari sebelum kenduri seseorang itu dilaksanakan. Biasanya selama tiga hari sampai dengan seminggu. Akan tetapi, ritus-ritus tersebut kini mulai hilang dan gondang pun jarang dimainkan lagi.

Pola permainannya dibagi menjadi dua bagian, yakni tutunggulan dan nyanyian. Dalam Gondang Buhun terdapat empat jenis tutunggulan yang paling dominan, setiap jenisnya mempunyai irama yang khas. Keempat tutunggulan itu adalah:

  1. Galuntang, dimainkan oleh 4 atau banyak orang, yang berfungsi sebagai pembuka dan penutup pertunjukan.
  2. Pingping Hideung, dimainkan oleh 4 orang
  3. Ciganjengan, dimainkan oleh 5 orang
  4. Angin-anginan, dimainkan oleh 7 orang

Setiap pemain gondang mempunyai motif irama dan tumbukannya sendiri. Motif tumbukan atau tabuhan yang berbeda-beda itu kemudian dipadukan sehingga membentuk sebuah komposisi irama. Motif tabuhan tersebut antara lain: turun-unggah atau midua, gejog, onjon, titir, kutek, ambruk, tilingting, dan dongdo.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id, ilustrasi: wikipedia[/alert]

Page 1 of 3123