Panasnya hari kamis siang menjelang sore itu tidak menyurutkan langkah orang-orang untuk berkumpul dan membuat kegaduhan di sekitar stadion Galuh. Atribut berwarna biru terlihat mendominasi. Kabar akan datangnya tamu yang cukup diistimewakan ini telah menyebar lewat media dan menjadi objek bahasan penduduk lokal beberapa minggu terakhir. Dengan kemajuan teknologi di era seperti ini, kedatangan Tim Persib Bandung ke stadion kebanggaan masyarakat Ciamis ini seperti wabah yang dengan mudah tersebar, dari ujung utara sampai ujung kidul kabupaten.

 

Ciamis memang daerah yang sebenarnya sangat giat bersepakbola. Jika kita rajin mengikuti dan berinteraksi dengan masyarakat sepakbola di sini, maka kita akan menemukan kultur yang justru berbeda dengan kota lain, termasuk Bandung misalnya.

Ciamis selalu saja menggelar sebuah turnamen antar kecamatan se kabupaten. Ini berarti, semua kecamatan yang terbentang dari panjalu di utara sampai Pangandaran dan Cimerak di selatan berkompetisi menjadi yang terbaik di sini, dan fanatisme fans menjadi bagian yang tak terpisahkan. Turnamen yang di Bandung sendiri belum pernah kembali diwacanakan untuk digelar kembali.

Rentang alam yang luas dan belum banyak memiliki bangunan di dalamnya menciptakan banyak sekali lahan terbuka di Ciamis. Kecuali di kota Bandung, seperti kondisi ini juga dimiliki oleh kabupaten lain. Satu lapangan sepakbola di setiap kelurahan, sebenarnya menjadi potensi Ciamis dan seharusnya menjadi potensi di seluruh kabupaten di Jawa Barat.

PSGC adalah sebuah tim sepakbola perwakilan kabupaten ini tanpa pernah menyentuh level tertinggi sepakbola di negeri ini. Perjuangan PSGC di musim lalu misalnya hanya sampai di Divisi 1 PSSI. Dan ini menambah panjang catatan perjuangan sepakbola mereka. Namun, perjuangan ini patut diapresiasi karena mereka berani terus menjaga asa untuk bersaing, menunjukan eksistensi, dan memperlihatkan bahwa mereka senantiasa concern terhadap perkembangan pemain binaan sendiri.

Kedatangan tim Persib Bandung memang diakui beberapa masyarakat yang ditemui adalah sebagai hiburan bagi kota yang perkembangannya memang terlihat lambat ini. Tiket seharga tiket stadion Siliwangi atau Si Jalak Harupat saat Persib bertanding pun tidak menjadi masalah untuk melepas dahaga mereka untuk mendapatkan hiburan, sekaligus menatap para pemain idolanya berlaga di lapangan.

Jauh hari, setelah tiket dijual resmi, bobotoh dari berbagai kalangan telah mendapat tiket pertandingan. Seorang anak SMP pun terlihat bangga telah memiliki tiket untuk pertandingan ini. Budaya yang harus dilestarikan dan dijaga, yaitu budaya bangga menonton tim kesayangan dengan cara membeli tiket. Budaya yang sebenarnya sudah sedikit meluntur di tempat lain.

Bagi seorang Heri Rafni Kotari, ikon sepakbola Kabupaten Ciamis, pengangkat piala Liga Indonesia kedua bersama Bandung Raya, pemain yang juga sempat berbaju Persib, kedatangan tim Maung Bandung ke Ciamis bukan hanya dipandang sebagai hiburan semata. Heri yang juga menjabat Ketua Pengcab PSSI Ciamis ini mengakui, Persib mempunyai semacam ruh yang bisa dihembuskan kepada anak-anak dan remaja. Kedatangan Persib bagi Heri diharapkan mampu membuat semangat anak-anak kota Ciamis untuk bermain bola lebih terangkat.

Mungkin seperti halnya harapan semua pecinta bola di Ciamis, Hari mengharapkan bahwa suatu saat mereka akan bermain di level tertinggi sepakbola di tanah air. Semoga.

[alert style=”white”] referensi: cimamaung [/alert]

Posting Lainnya