PSSI Dibekukan, PSGC Ciamis Dibubarkan

PSSI Dibekukan, PSGC Ciamis Dibubarkan

Kisruh dunia sepakbola tanah air berdampak pada kelanjutan klub sepakbola. Klub kesayangan dan kebanggan PSGC Ciamis pun terkena imbasnya semenjak pembekuan PSSI oleh menpora.

Dengan Berat Hati, PSGC Ciamis Dibubarkan

Kebijakan PSSI dan Menpora membekukan semua liga Indonesia mulai memakan korban. Salah satunya adalah tim kesayangan masyarakat Kabupaten Ciamis, PSGC. Dengan berat hati Laskar Galuhakandibubarkan.  Hal ini disampaikan langsung oleh Manajer PSGC, Drs. H. Herdiat usai pertandingan PSGC melawan Selangor FA, di Stadion Galuh, Minggu (24/05).

“Hari ini kita main, besok bubar,” tegas Herdiat pada reporter Warta Priangan, Rizal Nurdiana.

Pembubaran PSGC dilakukan terutama karena manejemen mengalami kerugian yang besar, terutama pasca Divisi Utama dibekukan.

“Kalau untuk ukuran Ciamis, kita habis uang dengan jumlah besar. Daripada menghabiskan uang tahun ini, lebih baik kita berhenti. Tahun depan kita pertimbangkan lagi,” jelas H. Herdiat.

Rencana pembubaran PSGC juga disesalkan oleh pihak manejemen Selangor FA. “Sebenarnya PSGC memiliki potensi yang sangat baik. Asumsinya, lawan Selangor FA saja PSGC bisa tahan dengan skor 2-1. Apalagi kalau dengan kesebelasan Malaysia yang lain. Hal ini mengingat Selangor FA adalah kesebelasan terbaik di persepakbolaan Malaysia,” terang Asisten Manajer Selangor FA, Hisyam G. (Senny Apriani/WP)

sumber: wartapriangan

Pembangunan Tol Cileunyi – Tasik – Banjar Dimulai Tahun 2015

Pembangunan Tol Cileunyi – Tasik – Banjar Dimulai Tahun 2015

Kabar gembira bagi masyarakat priangan timur, karena yang dinanti-nanti akan segera terealisasi. Semoga implementasinya lancar dan sukses. Amiin..

Berikut informasi yang diperoleh dari wartapriangan.com :

Mantap! Pembangunan Tol Cileunyi – Tasik – Banjar Tahun Ini Dimulai

Selasa (19/05), sebaris kabar gembira untuk masyarakat Priangan Timur tersiar. Pembangunan Tol Cileunyi – Tasik – Banjar tahun ini akan segera dimulai! Bagi warga Garut, Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Banjar serta Pangandaran tentunya pembangunan jalur bebas hambatan yang menghubungkan Priangan Timur dengan Bandung ini sangat dinanti-nanti.

“Ya, tahun ini dimulai,” jawab Kepala Bappeda Kabupaten Ciamis, Drs. H. Kusdiana, M.M., saat dikonfirmasi Warta Priangan perihal kebenaran kabar pembangunan tol tersebut.

Tahun ini tahapan awal berupa pembuatan AMDAL dan DED akan segera dimulai. DED (Detail Engineering Design), sebuah produk dari konsultan perencana yang akan dijadikan pedoman oleh pelaksana pembangunan. Rencana pembangunan ruas jalan tol Cileunyi – Tasikmalaya – Banjar ini juga sudah tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2012, tentang Pengelolaan Pembangunan dan Pengembangan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan di Jawa Barat.

Kepastian tentang pembangunan Tol Cileunyi – Tasik – Banjar tersebut menyusul hasil rapat di provinsi pada hari Senin (18/05), yang dihadiri oleh semua perwakilan pemerintahan daerah se-Priangan Timur. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, H. M. Guntoro, memaparkan hasil Feasibility Study (FS) terkait rencana pembangunan Tol Cileunyi – Tasik – Banjar.

Berdasarkan hasil Feasibility Study (FS)Rute jalan bebas hambatan memiliki panjang 107 KM dengan titik awal dari Majalaya – Nagreg – Limbangan – Malangbong – Rajapolah – Ciamis – Banjar. Jalan bebas hambatan tersebut akan terhubung dengan rencana jalan tol Gedebage – Majalaya. (Senny Apriani/WP)

Pabrik Minyak Kelapa Gwuan Hien

Pabrik Minyak Kelapa Gwuan Hien

olie-fabrik-gwan-hien

Machines in de “Olie-fabriek Gwan Hien”, Tjiamis. Tahun : 1925-1933. G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley (Fotograaf/photographer). Courtesy : Tropenmuseum.
mesin-gwan-hien

“Olie-fabriek Gwan Hien”, kokosoliefabriek in Tjiamis, Tahun : 1925-1933. G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley (Fotograaf/photographer). Courtesy : Tropenmuseum.

Dari zaman Kangjeng prabu, perkebunan kelapa di Galuh Ciamis menjadi sangat subur, dengan produksinya yang menumpuk (ngahunyud) di setiap pelosok kampung. Dalam waktu tak terlalu lama, Ciamis tersohor menjadi gudang kelapa paling makmur di Priangan timur. Banyak pabrik minyak kelapa didirikan oleh para pengusaha, terutama Cina. Yang paling tersohor adalah Gwan Hien, yang oleh lidah orang Galuh menjadi Guanhin. Lalu pabrik Haoe Yen dan pabrik di Pawarang yang terkenal disebut Olpado (Olvado). Olpado ini musnah tertimpa bom saat Galuh dibombadir oleh Belanda. Guanhin juga tinggal nama, demikian juga yang lainnya. Saat ini, minyak kelapa terdesak oleh minyak kelapa sawit dan minyak goreng jenis lainnya.

referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh

Divisi Utama 2014, PSGC Dipastikan Bertemu PBFC Di Babak Semifinal

Divisi Utama 2014, PSGC Dipastikan Bertemu PBFC Di Babak Semifinal

BARAYAGALUH.COM – Laga Semi Final Divisi Utama 2014 dipastikan PSGC Ciamis yang akan bertemu dengan Pusamania Borneo FC atau PBFC. Di partai semifinal nanti yang rencananya akan di gelar pada tanggal 24 November 2014 di Stadion Delta Sidoarjo setelah berhasil menumbangkan PERSIS Solo dalam laga lanjutan babak 8 besar Divisi Utama 2014 Di Stadion Segiri Samarinda Kalimantan.

Beberapa hari yang lalu, PSGC Ciamis dinyatakan masuk babak semifinal setelah mendapatkan keputusan dari PSSI terkait 2 tim yang menggantikan PSS Sleman Dan PSIS Semarang yang terkena sanksi Diskualifikasi terkait kasus Sepakbola Gajah beberapa minggu yang lalu, sehingga PSSI menunjuk PSGC Ciamis dan PERSIWA Wamena sebagai pengganti nya.

PBFC dan PERSIS sendiri bukan tanpa masalah, sebelumnya persis menolak bertanding dikarenakan keamanan yang tidak berpihak kepada PERSIS, sehingga laga ulang atau remacth pun dilakukan untuk menentukan 1 tiket lagi di babak 4 besar, yang akhirnya laga ulang tersebut di gelar sore ini (20/11/14) di stadion Segiri Samarinda.

Alhasil dengan laga ulang yang dilaksanakan di Samarinda dengan status Pusamania FC sebagai tuan rumah berhasil menumbangkan PERSIS Solo dengan skor telak 6 – 0 Untuk kemenangan PBFC, dengan hasil tersebut maka PBFC berhak masuk ke fase berikutnya di semifinal yang sudah di tunggu oleh PSGC ciamis dari grup N. Meskipun sebenarnya PSGC kalah head to head dengan PERSIWA, tapi PSSI menyatakan PSGC sebagai Juara Grup sehingga bertemu dengan pemenang antara PERSIS dan PBFC yang akhirnya di menangkan oleh Pusamania Borneo FC.

Jadwal Semifinal DIVISI UTAMA 2014

Senin, 24 November 2014
PSGC ciamis vs PBFC
Kick off : 15.30 WIB
Venue : Gelora Deltra Sidoarjo

sumber: www.barayagaluh.com

Ritual Adat Mapag Cai Karomah Kahuripan

Ritual Adat Mapag Cai Karomah Kahuripan

Ritual adat mapag cai karomah kahuripan

“Ritual Adat Mapag Cai Karomah Kahuripan, nu di bantun ti sarhaha gunung sbaraha tampian. nu di anggo jamas pusaka dina nyangku.”

Upacara Adat Nyangku adalah salah satu upacara adat tradisional warisan leluhur keturunan Panjalu, yang diamanatkan oleh Prabu Sanghyang  Borosngora, raja Panjalu Islam pertama yang menyebarkan agama Islam. 

“Nyangku” berasal dari bahasa Arab “Yanko”, yang artinya  membersihkan benda-benda pusaka keturunan Panjalu, dan lambang hubungan emosional antar sesama keturunan Panjalu, hubungan antar manusia serta kesadaran sesama keturunan Nabi Adam.

Upacara diselenggarakan sebagai pernyataan rasa syukur atas perjuangan untuk melaksanakan amanat Panjalu dalam menjaga kelestarian nilai sejarahnya yang menarik adalah pakaian para peserta upacara yang membawa benda pusaka dengan cara khas yaitu seperti membawa mayat anak kecil (diais). Mereka beriringan dari Bumi Alit menyebrangi Situ Lengkong menuju Nusa Gede.

Setelah berdoa di makam leluhur Panjalu kembali menyebrangi situ dan berakhir di halaman kantor Kecamatan Panjalu, benda-benda pusaka tersebut dicuci, upacara ini disertai dengan kkesenian gemyung dilanjutkan dengan kesenian debus, kesenian pencak silat.

Foto: Ilham Purwadipraja

Persib akan adakan laga ujicoba internasional di Stadion Galuh Ciamis

Persib akan adakan laga ujicoba internasional di Stadion Galuh Ciamis

Kabar gembira bagi warga Ciamis karena akan kembali kedatangan Tim kebanggaan Jawa Barat Persib Bandung yang akan melakoni laga ujicoba di masa rehat kompetisi di Stadion Galuh Ciamis.

Yang menarik laga uji coba nanti bukan hanya menghadapi tuan rumah PSGC Ciamis, melainkan ada laga ujicoba internasional mengahadapi klub asal Malaysia, Sarawak FA.

Berikut informasi lengkapnya yang diperoleh dari simamaung:

Persib Sudah Temukan 3 Lawan Untuk Ujicoba

Guna menjaga sentuhan para pemainnya yang sedang menikmati masa rehat kompetisi, Persib Bandung hampir dipastikan akan melakoni 3 laga ujicoba selama bulan suci Ramadhan. Sebelumnya pelatih Jajang Nurjaman sudah mengagendakan 3 laga tersebut pada 10, 19 dan 23 Juli. Dan lawan terdekat yang akan dihadapi Persib adalah tim Bara Siliwangi.

Sedangkan untuk lawan berikutnya, Persib akan bertandang ke Ciamis untuk berujicoba menghadapi PSGC di Stadion Galuh pada 19 Juli. Persib pun diagendakan akan berada di Ciamis selama 4 hari dan ditutup dengan sebuah laga ujicoba internasional mengahadapi klub asal Malaysia, Sarawak FA. Disampaikan oleh sang arsitek, bila tidak ada hambatan, 2 laga ujicoba Persib akan dilangsungkan di Ciamis.

“Besok lawan Bara Siliwangi sore. Jadi sudah bisa dipastikan ujicoba nanti tanggal 10, 19 dan 22. Kalau tidak ada kendala serius, kayanya seperti itu. Pertandingannya di Ciamis dua-duanya,” ujar pelatih berusia 56 tahun tersebut saat diwawancara di Mess Persib, Senin (7/7).

Pelatih asal Majalengka tersebut menilai 2 laga tandang dalam ujicoba ini adalah sebagai simulasi untuk lanjutan kompetisi Indonesia Super League karena Persib akan bertandang ke Jakarta dan Padang. Ini juga sengaja dipersiapkan Janur karena di bulan Ramadhan, latihan praktis digelar sore atau malam hari. Dan fasilitas Stadion Galuh dirasa olehnya mampu mengakomodir kebutuhan para pasukan Maung Bandung.

“Away dua-duanya karena kita juga kan nanti akan away 2 kali. Semacam TC jarak pendek lah di Ciamis. Semuanya juga main malam, jadi latihan malamnya disitu aja lah cukup. Disini (Bandung) mah hararese. Jadi itu libur tanggal 24. Pulang dari Ciamis latihan dulu tanggal 23 sore nya,” tukasnya.

Nurul Asri Mulyani, dari Ciamis ke Amerika

Nurul Asri Mulyani, dari Ciamis ke Amerika

Menjadi mahasiswa Exchange memang menjadi impian banyak mahasiswa di Indonesia, bahkan di Dunia. Hal inilah yang dirasakan oleh mahasiswi Fikom Unpad, Nurul Asri Mulyani. Nurul berkesempatan mencicipi dunia pendidikan di Amerika tahun 2013 lalu. Study of US Institute for Student Leader merupakan program yang dijalankan oleh kedutaan Amerika Serikat. Program ini mengajak mahasiswa di seluruh dunia untuk merasakan atmosfer pendidikan di Amerika. Dengan tema New Media and Journalism selama lima minggu.

Nurul mengaku, pengalamannya menjadi mahasiswa exchange yang berasal dari Indonesia, adalah pengalaman yang luar biasa. Dalam program tersebut ia belajar banyak hal. Mulai dari belajar jurnalistik, mendapat teman baru, sampai pada belajar kebiasaan orang Amerika. Pendidikan di Amerika memang berbeda dengan di Indonesia. Kita harus belajar dari Amerika, di sana guru atau dosen memperhatikan mahasiswanya secara personal. “Kalau kita gak ngerti, dosen di sana langsung mendatangi kita, dan menjelaskan sampai kita bisa,” ungkap Nurul.

Nurul dalam sebuah acara di Bale Santika Unpad (Foto koleksi pribadi)Sebetulnya banyak peluang untuk mengikuti student exchange ini. Menurutnya, sebelum kita mengajukan diri untuk mengikuti exchange, kita harus mempersiapkan diri dahulu. Modal organisasi dan concern di bidang tertentu dapat menjadi modal untuk mengikuti program pertukaran pelajar ini. Dari pengalamannya di Amerika, Nurul berharap pendidikan di Indonesia khususnya di Unpad lebih baik lagi. Terlebih kepada para dosen, agar selalu memberikan feedback terhadap tugas yang diberikan kepada mahasiswa.

Nurul adalah mahasiswi Prodi Humas angkatan 2011. Ia adalah sorang putra daerah Ciamis Jawa Barat yang beruntung dapat menembus SNMPTN dan diterima di salah satu fakultas dengan peminat tertinggi di Unpad. Kendati berasal dari kabupaten kecil di wilayah timur Jabar ia amat yakin dengan potensi dirinya kendati pada awalnya sempet miris juga ketika pertama kali menjejakan kaki di kampus yang awalnya didominir oleh mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar di Indonesia. Namun dengan prestasinya, ia pun bertambah pede dengan kemampuannya.

Selain menonjol di bidang akademik, Nurul juga terampil di bidang kesenian tradisional. Kemampuan seninya kian terasah setelah bergabung dan menjadi pengurus di Lingkung Seni Sunda (LISES) Unpad. Dengan kemampuannya membawakan beberapa tarian tradisional, Nurul pun pernah bertandang ke Malaysia untuk unjuk kebolehannya bersama aktivis LISES UNPAD lainnya. Bahkan ketika di Amerika pun dia memukau warga Amerika karena keahliannya dalam menari.(Nanu Yanuar)

sumber: http://fikom.unpad.ac.id/nurul-asri-mulyani-dari-ciamis-ke-amerika/

Bi Raspi dan NYANGKREB, Tradisi Panen yang Mulai Dilupakan

Bi Raspi dan NYANGKREB, Tradisi Panen yang Mulai Dilupakan

Hamparan sawah menguning,  burung pipit ramai bercicit. Mengincar butir–butir padi yang penuh berisi memberati malai yang sesekali berayun dihembus angin. Saat ini musim panen telah tiba, wajah petani sumringah.  3 bulan lebih sedikit, kerja keras memeras keringat akan memanen hasil.  Sejak dari ngadurukan (membakar jerami atau rumput), Nampingan (membersihkan pematang), Mopok (menambal pematang sawah dengan lumpur), Ngawuluku (mengolah tanah), Ngalepa (meratakan tanah yang telah diwuluku), Tebar (menyemai Benih padi), Neplak (pola garis untuk menanam benih), Babut (mencabut benih padi untuk ditanam), tandur (menanam padi), Ngarambet (menyiangi rumput dan gulma),  ngagemuk (pemberian pupuk), nyemprot (membasmi hama dengan semprotan), tunggu (menjaga tanaman padi), dan panen (memetik padi) semuanya dilakukan dengan penuh kesabaran dan harapan.

Tidak semua sawah berbuah mulus memang, hama padi seperti tikus dan wereng tetap menjadi musuh abadi para petani. Seperti yang telah diisyaratkan leluhur sunda dalam legenda tentang asal muasal padi yang tercipta dari airmata kesedihan Naga Antaboga yang terancam hukuman mati oleh Raja Pajajaran, akibat tidak bisa membantu membangun Bale Mariuk Pada Gedong Sasaka Domas karena tidak punya tangan.  Tiga air mata Naga Anta berubah menjadi telur. Dari ketiga telur itu lahir Nyi Pohaci Sanghyang Sri, Budug Basu, dan telur terakhir menetas menjadi berbagai hama padi. Isi pantun Sri Sadana itu menyiratkan bahwa sawah dan padi tidak semata untuk memenuhi kebutuhan pangan primer saja tetapi juga  bagian sakral dari kehidupan lama masyarakat agraris.

Sejak meletek srangenge, keluarga Bi Raspi (maestro Ronggeng Gunung dari Cikukang Banjarsari) sudah tatahar untuk melaksanakan  tradisi Nyangkreb karena  seminggu lagi sawah yang disewa dari tetangganya  akan dipanen. Sebagai keluarga petani yang lekat dengan ketradisian, maka  Nyangkreb menjadi bagian penting bagi keluarga Raspi sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur dan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Nyangkreb dapat diartikan sebagai pinangan.  Terkait dengan padi yang siap di panen, maka nyangkreb bermakna meminang Nyi Pohaci Sanghyang Sri untuk disunting, dipetik secara resmi.

Untuk itulah sejak seminggu sebelumnya Bi Raspi bersama Bah Wasco suaminya, dibantu oleh Nani Nurhayati putrinya, serta kedua cucunya, sudah mempersiapkan berbagai sarana Nyangkreb.  Kegiatan ini sudah sangat langka dilakukan oleh petani jaman sekarang. Terlupakan akibat hingar bingar modernisasi yangmerasuk sampai pelosok desa.

Nyangkeb, Labuhan,  Nyalin, atau di  Bali disebut Ngarya Dewi Sri, memerlukan beberapa  media sebagai simbol.  Sarana untuk sesajen disebut Sanggar dan Gagawar. “Sanggar mah kangge saung sasajen. Didamelna tina rangka awi dihateupan ku anyaman daun kalapa. Di sangga ku tihang, diraweuyan ku janur” ujar Wasco. Sedangkan Gagawar merupakan umbul-umbul dengan hiasan janur yang ujung-ujungnya digantelan kupat, daun wowo, daun pacing, daun kayutua dan jambe.

“Tah ari sasajenna mah aya poncot sangu, endog, lauk,sambel bade, kopi, cai herang, cai teh, rupa-rupa rujak, bubur bodas beureum,surutu, roko, leupeut, tangtang angin, rupa-rupa cau, jeung tangkueh gula batu. Teu hilap acuk sareng samping kangge salin pohaci sanghyang sri” ujar Bi Raspi, sambil menunjuk setiap sesajen satu demi satu. dulu, perhiasan emas pun turut disertakan. namun karena mulai tidak aman, maka sekarang hanya disimpan selama ngarekes. selanjutnya dibawa lagi.

Kegiatan Nyangkreb yang dilakukan keluarga Bi Raspi itu tak luput dari perhatian beberapa warga petani Ciulu Banjarsari, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ciamis yang diwakili Dedi Unay (Kasi Kesenian dan Film) dan Badar Production yang mendokumentasikan kegiatan langka tersebut untuk pembuatan film Biopicture Raspi Sang Mastro. Menjelang wanci tungganggunung, semua sesajen diarak menuju sawah blok Ciulu, yang akan di panen.  Bah Wasco memimpin ritual dengan mengucapkan do’a sambil membakar kemenyan.  Bebera pagagang padi dipotong  lembut dengan etem untuk disimpan dirumah. Selesai itu, Bi Raspi pun ngahaleuang sebait tembang ronggeng gunung, lengkingannya  jernih ngalaeu dihamparan sawah luas menguning, seolah ngabageakeun Pohaci Sanghyang Sri, yang seminggu lagi akan disunting. (HU.Kabar Priangan)

Oleh Pandu Radea
(komunitas Tapak Karuhun Galuh)

Situ Lengkong Panjalu Kiwari

Situ Lengkong Panjalu Kiwari

Situ Lengkong Panjalu Kiwari

Situ Lengkong Panjalu merupakan perpaduan antara objek wisata alam dan objek wisata budaya. Situ Lengkong Panjalu terletak di Desa Panjalu Kecamatan Panjalu dengan jarak 42 Km dari kota Ciamis ke arah utara. Di   objek   wisata ini kita bisa menyaksikan indahnya Danau ( Situ) yang  berudara sejuk dengan sebuah pulau (nusa) ter dapat ditengahnya yang disebut Nusa Larang, di Nusa itu terdapat makam Hariang Kencana, putra dari Hariang Borosngora, Raja Panjalu yang membuat Situ Lengkong pada masa beliau menjadi Raja Kerajaan Panjalu.

Untuk menghormati  jasa para leluhur Panjalu, maka sampai saat ini warga keturunan Panjalu biasa melaksanakan semacam upacara adat yang disebut Nyangku,  acara ini dilaksanakan pada tiap-tiap Bulan Maulud dengan jalan membersihkan benda – benda pusaka yang disimpan disebuah tempat khusus  ( semacam museum ) yang disebut Bumi Alit.

Kegiatan yang bisa dilaksanakan disini antara lain berperahu mengelilingi nusa, camping dan sebagainya.

Sumber Foto: Pandu Radea

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 3-tamat)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 3-tamat)

Ketinggian Gunung Susuru mencapai sekitar 200 meter. Dari atas puncaknya pandangan mata pun akan dimanjakan dengan keindahan alam yang menggetarkan. Hamparan sawah nampak serasi ber-adu manis dengan rangkaian perbukitan. Dipasieup lagi dengan dua sungai besar di sisi kiri kanannya,melingkar-lingkar  lir tubuh Nagaraja Taksaka yang membelit Gunung Susuru.  Dua sungai tersebut yaitu Cimuntur dan Cileueur yang bertemu di ujung gunung sebelah selatan. Dan tempat pertemuan kedua sunga itersebut dinamakanPatimuan. Memang,sebagai sebuah situs, kewingitan sejarah yang menyelimutinya terasa sangat kental.

Betapa tidakternyata tempat ini menyimpan bukti adanya peradaban dari beberapa jaman. yaitumegalitik, hindu, dan masa Islam. H. Djaja Sukardja yang mendokumentasikan proses awal penemuan situs mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Patilasan Kerajaan Galuh Kertabumi, bahwa Situs Gunung Susuru usiannya diperkirakan lebih tua dari situs Karang Kamulyan, atau minimalnya sejaman, yaitu dari abad ke 7.

Hal tersebut didasari setelah adanya penelitian oleh Tony Djibiantoro, Ir. Agus dari Balai Arkeologi Bandung dan Dr.Fachroel Aziz dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung. Tim tersebut  menemukan tulang belulang binatang, gigi manusia yang mendekati fosil (Sub Fosil), dan pecahan gerabah di dalam gua. Gua-gua yang ditemukan pada saat itu baru di tigatempat, yaitu Gua Kamuning, Gua Macan 1 dan Gua Macan 2. Dan ketiga gua tersebut sudah dinyatakan sebagai BCB Tak Bergerak.

“Numutkeun para ahli, lamun di jero guha kapendak pecahan gerabah atanapi fosil, tiasa janten guha eta teh mangrupikeun  kuburan” Papar KiAndang yang memandu saya menelusuri setiap lekuk Gunung Susuru. Bahkan menurutnya masih terdapat dua gua lagi yang belum diteliti oleh tim arkeolog,sehingga belum ditetapkan sebagai BCB. Memang potensi BendaCagar Budaya yang belum ditemukan sangatlah besar. Di areal situs yang luasnya7 ha ternyata masih terdapat beberapa batu yang diprediksi kuat sebagai sisa kebudayaan jaman baheula. Seperti contohnya batu tingkat yang ukurannya sangat besar, dan batu bergaris yang guratnya lebih dari seratus baris.

Sebagai pembanding lainnya,  batu bergaris juga terdapat di situs Astana Gede Kawali dan Situs Batu Tulis Bogor dengan jumlah garis dan ukura batunya jauh lebih sedikit dan kecil di banding batu bergaris di Gunung Susuru.Jika batu bergaris di Gunug Susuru itu merupakan buatan manusia maka tidakmustahil suatu saat akan ditemukan juga batu prasasti, sebagai sebuah bukti otentik yang dapat mengungkap fakta sejarah di jamannya.

Yang mengejutkan, ternyata secara keseluruhan Gunung Susuru merupakan sebuah punden berundak yang tersusun dari 17 tingkatan teras. hal itu sudah dibuktikan oleh tim peneliti yang menghitung tingkat atau teras berbalai batu dari kaki Gunung Susuru, baik dari sisi Sungai Cileueur maupun Sungai Cimuntur. Kenyataan  tersebut semakin menjelaskan bahwa GunungSusuru merupakan bekas sebuah pusat ritual pemujaan yang berkaitan dengan keyakinan adanya ruh leluhur (hiyang)

Sebagai Punden Berundak maka di Gununug Susuru pun banyak di temukan menhir dan dolmen. Menhir melambangkan adanya hubungan vertical dengan ruh seorang pemimpin yang telah meninggal dunia. Ada 4 punden berundak yang susunannya masih utuh yang di sebut Batu Patapaan.  Bahkan dolmen yang terdapat di Patapaan 4 diduga adalah sarkofagus (peti kubur batu) karenaketika ada penggalian di bawahnya terdapat batu penyangga. Dengan  bukti-bukti tersebut, semakin jelas bahwa Gunung Susuru merupakan peninggalan dari kebudayaan megalit  (kebudayaan besar). Sedangkan temuan berupa kampak batu, manik-manik, pecahan tembikar, merupakan ciri zaman Batu Muda(Neolitikum) yang diperkirakan berkembang 1.500 tahun sebelum Masehi.

Penelitian arkeologi dan sejarah yang mindeng dilakukan di tahun 2000, baik itu dari Arkenas Jakarta, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang,  maupun dari Balai Arkeologi Bandung serta berhasil mendapatkan berbagai temuan yang dikatagorikan sebagai Benda Cagar Budaya membuat tempat ini menjadi pembicaraan di berbagai kalangan. Gunung Susuru akhirnya menjadi sebuah bukti penting adanya tingkat peradaban manusia yang sudah sangat tua usianya.Dan hal tersebut semakin mengukuhkan Kabupaten Ciamis sebagai wilayah yang sarat akan sumber sejarah peradaban sunda dari berbagai jaman disamping wilayah priangan lainnya.

Adanya temuan dan kegiatan penelitian tersebut memunculkan berbagai rumor dikalangan warga sekitarnya. Apalagi setelah tempat itu semakin diyakini sebagai  pusat pemerintahan Galuh Kertabumi. Yang paling santer terdengar adalah berita ditemukannya sebuah bokor yang terbuat dari emas di dalam sebuah gua. Hal itu tentu saja memancing penduduk yang lainnya untuk datang berburu harta karun yang diduga masih banyak terpendam.Tak ketinggalan, cerita-cerita misteri pun meruak menjadi bahan obrolan dilingkungan warga. Seperti cerita tentang auman harimau di sekitar Gua Macan 1dan 2 yang kerap terdengar oleh warga.  Ataupun kabar aheng  lainnya .

“ Maklum namina oge beja. Tina sajeungkalj anten sadeupa. Seueur implik-implikna anu teu saluyu jeung kanyataan.”Ujar Ki Adang. Lebih jauh, lelaki yang terlihat masih jagjag belejag  ini menceritakan bahwa memang warga banyak menemukan berbagai benda. Sejenis perhiasanpun pernah ditemukan oleh warga. Namun tidak ada yang terbuat dari emas melainkan dari bahan bebatuan indah. Sedangkan temuan lainnya kebanyakan terbuat dari tanah liat, batu dan besi. Piring dan poci yang berbahan porselin banyak ditemukan. Ketika saya melihat contoh piring tersebut ternyata ada cap Hong Botan-England dibelakangnya. Piring tersebut oleh Ki Andang sudah dibuktikan sebagai piringanti basi dengan menyimpan makanan basah selama seminggu ternyata  teu haseum-haseum. 🙂

“ Ti saprak di bewarakeun yen timuanbenda-benda sejarah ditangtayungan ku undang-undang kalebet aya ancamanana.Seueur oge warga nu nyetorkeun timuanana ka abdi. Nanging aya oge anu keukeuh dipimilik ku aranjeuna. Malih aya nu di jantenkeun jimat sagala.” Ujar Ki Adang saat memasuki gerbang makam Prabu Dimuntur.

Rupanya untuk dapat mengunjungi semua objek sejarah Gunung Susuru tidak cukup memakan waktu satu hari. Makam Prabu Dimuntur saja lokasinya berjarak sekitar 2 km dari Gunung Susuru. Demikian pula jika ingin melihat Sumur Batu yang aheng, harus meuntaswalungan Cimuntur karena letaknya disebrang Gunung Susuru. Sedangkan Sumur Taman yang khasiat airnya dipercaya untuk perjodohan terdapat di perkebunan pendudukyang berbatasan dengan gawir Cimuntur. Belum lagi Curug Kamuning yang letaknya di tebing Cileueur dan bersebrangan dengan ujung Gunung Susuru.

Lokasi lainnyayang dinilai penting adalah bekas pemukiman penduduk dan pasar kuno di dekat makam Nyi Tanduran Sari ( selir Prabu Dimuntur) ditempat ini paling banyak ditemukan arang, keramik dan gerabah. Dan sebelum tahun 1920-an beberapa kandang kuno yang ukurannya basar pernah disaksikan keberadaannya oleh sejumlah tetua kampung. Letaknya bersebelahan dengan lokasi pasar kuno. Demikian juga batu-batu bata heubeul bekas pondasi rumah sat itu masih banyak berserakan.

Sekian banyaknya temuan yang dititipkan di Ki Andang membuat dirinya sedikit khawatir kerena takut ada yang hilang. Selama ini benda-benda tersebut hanya disimpan seadanya. “ Abdi mah moal seueur pamundut, mun pamarentah paduli cing atuh pangadamelkeun lomari keur merenahkeun barang-barang eta. Salian moal bacacar tangtuna oge ngagampangkeun keur balarea anu hoyong ningal atanapi naliti.” Ujarnya.

Munculnya nama Gunung Susuru kepermukaan tidak lepas dari peranan H. Djaja Sukardja yang saat itu menjabat sebagai Kasi Kebudayaan Depdiknas Ciamis tahun 2000. Karena kepentingannya dalam menyusun buku sejarah Kota Banjar maka penelusurannya membawa dirinya ke Gunung Susuru yang merupakan patilasan Kerajaan Galuh Kertabumi. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa Singaperbangsa I, cicitnya PrabuDimuntur, yang  memindahkan pusat pemerintahan dari Galuh Kertabumi ke Banjar Pataruman  dianggap sebagai peletak dasar berdirinya kota Banjar.

Untukmemenuhi kelengkapan data yang tengah dikumpulkan, maka H. Djaja Sukardja menugaskan Penilik Kebudayaan Cijeungjing yang bernama Deni SIP untuk terjun langsung kelokasi. Saat itu Gunung Susuru keadaanya terbengkalai dan gersang tanpa arti setelah ditinggalkan oleh para petani karena tanah di tempat tersebut sudah tidak subur lagi seusai dipelakan jagong selama 15 tahun (sejak tahun 1960).

Berbagai temuan Deni di lapangan hasilnya sangat mengejutkan, sehingga selanjutnya tempat tersebut menjadi objek penelitian para ahli yang berkaitan dibidangnya. Lain halnya dengan Ki Adang yang sudah menduga bahwa Gunug Susuru bukanlah tempat samanea. Sejak kecil lokasi tersebuta dalah tempat bermainnya. Kala itu keadaan lingkungannya masih utuh. Jauh dengan keadaanya jaman sekarang. Ki Adang memperkirakan 50 % keaslian Gunung Susuru telah berubah dan hilang.

Masyarakat Kertabumi pun akhirnya peduli untuk menyelamatkan situs tersebut, maka saat dilaksanakan penghijauan pada 11 Oktober 2000 sekitar seribu orang warga bergerak membantu pemerintah untuk memulihkan tempat tersebut mendekati asalnya. Hasilnya, Gunung Susuru menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Pohon-pohon Jati yang ditanam saat penghijauan kini sudah merindangi Gunung Susuru. Jika saja pemerintah Ciamis jeli dan peduli maka peluang untuk dijadikan sebagai tempat wisatapun sangat menjanjikan. Apalagi lokasi Gunung Susuru masih berdekatan dengan Situs Karangkamulyan yang sudah lebih dulu menjadi objek wisata.

Sayangnya tumbuhan Susuru yang membuat tempat ini bernilai, tidak dapat tumbuh subur seperti di jamannya. Konon waktu itu, Susuru merupakan tumbuhan yang menghiasi taman keraton Galuh Kertabumi atau dipergunakan juga tanaman pagar keraton.Saya yang mencoba mencari tanaman tersebut, susuganan menemukan ternyata lapur teu hiji-hiji acan.  Ki Andang pernah memelihara tanaman tersebut di rumahnya,  namun lambat laun habis karena banyak yang meminta untuk dikoleksi.

Masyarakat di wilayah Kertabumi ternyata memiliki tradisi budaya yang bernama Merlawu. Ritual acaranya terdiri dari ngarekes, medar sajarah, dan susuguh. Waktu  penyelenggaraannya dilaksanakan setiap bulan Rewah,  Hari Senin atau padaHari Kamis terakhir di bulan itu dengan dipimpin oleh Aki Kuncen.  Kegiatan  tersebut merupakan bentuk syukuran hasil panen warga Kertabumi dan sekitarnya. Menurut keterangan Ki Adang, tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1535, sekaligus sebagai warisan dari prilaku budaya masyarakat di Kerajaan Galuh Kertabumi yang masih tetap dpelihara sampai saat ini.

Kawali, 2007

Oleh Pandu Radea

(Catatan lama Tapak Karuhun Galuh)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 2)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 2)

Galuh Kertabumi merupakan kerajaan wilayah,bagian dari dinasti Kerajaan Galuh Pangauban yang didirikan oleh Prabu Haur Kuning di Putrapinggan Kalipucang (diperkirakan sekitar 1530 M). Raja ini memiliki tiga orang putra yang bernama Maharaja Upama, Maharaja Sanghyang Cipta dan Sareuseupan Agung.  Sebagai anak tertua, Maharaja Upama mewarisi kerajaan Galuh Pangauban dari ayahnya. Maharaja Sanghyang Cipta diberi wilayah Salawe (Cimaragas) dan mendirikan Kerajaan Galuh Salawe. Sedangkan Sareuseupan Agung menjadi raja di wilayah Cijulang.

Menurut H. Djaja Sukardja, MaharajaSanghyang Cipta mempunyai 3 orang putra yang bernama Tanduran Ageung (Tanduran Gagang),Cipta Permana, dan Sanghyang Permana. Tanduran Ageung kemudian menikah dengan Rangga Permana, putra Prabu Geusan Ulun (Angkawijaya) pada tahun 1585 M. Wilayah Muntur pun diberikan oleh Maharaja Sanghyang Cipta sebagai hadiah perkawinan. Di wilayah tersebut kemudian berdiri Kerajaan Galuh Kertabumi  dan Rangga Permana diberi gelar Prabu Dimuntur. Raja ini memerintah dari tahun 1585 sampai 1602 M.

Adiknya Tanduran Ageung, yang bernama Cipta Permana diberi wilayah Kawasen (Banjarsari)  dan mendirikan kerajaan Galuh Kawasen. Sedangkan Sanghyang Permana mewarisi kerajaan ayahnya, memerintah di Galuh Salawe(Cimaragas) dengan gelar Prabu Digaluh. Masa berdirinya KerajaanGaluh Kertabumi merupakan masa pengembangan agama Islam dari Cirebon dan Sumedang ke wilayah-wilayah kerajaan Galuh. Salah satu penyebarannya adalah dengan melangsungkan pernikahan antara keluarga kerajaan yang masih menganut agama pra Islam dengan kerajaan yang sudah diislamkan oleh Cirebon.

Hal tersebut dilakukan oleh Rangga Permana dengan Tanduran Ageung. Dan jejak Tanduran Ageung diikuti oleh Cipta Permana yang menikahi Putri Maharaja Kawali yang sudah Islam. Tokoh yang mengislamkan Kawali saat itu adalah Adipati Singacala dari Cirebon(makamnya di Astana Gede Kawali). Sejak saat itulah pengaruh Islam semakin kuat di Kerajaan-kerajaan Galuh tug sampai jaman kiwari.

Menurut riwayat dari wilayahTalaga, Prabu Haur Kuning  ternyata merupakan generasi ke empat Prabu Siliwangi. Ayah dari Prabu Haur Kuning bernama Rangga Mantri atau Sunan Parung Gangsa (Pucuk UmumTalaga) yang menikah dengan Ratu Parung (RatuSunyalarang / Wulansari).  Sedangkan ayahRangga Mantri adalah salah seorang putra Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Munding Surya Ageung.  Rangga Mantri yang awalnya beragama Budha masuk Islam setelah ditaklukan Cirebon tahun 1530 M.

Dalam Riwayat lain, disebutkan pula tokoh Anggalarang sebagai salah satu putra Prabu Haur Kuning. Anggalarang adalah suami dari Dewi Siti Samboja yang kelak menciptakan Ronggeng Gunung.  Menurut H. Djaja Sukardja,tokoh Anggalarang diduga kuat adalah nama lain dari Maharaja Upama sebelum menjadi raja. Sebagai pembanding, keterangan lainya menyebutkan di wilayah pangandaran juga terdapat  kerajaan Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung dan beribukota Bagolo yang jauh sebelumnya pernah dikunjungi Bujangga Manik.

Menurut Babad Imbanagara yang disusun  Ir. R Gumiwa Partakusumah, Raja Bagolo adalah Sawung Galing yang menikahi Dewi Siti Samboja yang menjadi janda setelah suaminya yaitu Raden Anggalarang meninggal terbunuh bajo. Sawung Galing dalam sejarah Ronggeng Gunung adalah patih yang diutus oleh Prabu Haur Kuning untuk membantu Dewi Samboja dalam membalaskan kematian suaminya yaitu Anggalarang.

Di beberapa daerah (Talaga, Majalengka, Sumedang dan Ciamis) adanya kesamaan nama beberapa tokoh sejarah ternyata saling memperkuat keberadaannya. walau terkadang  sedikit berbeda, baik jujutan tahun keberadaanya, garis silsilah, riwayat hidup, maupun nama kerajaannya.Namun  semuanya rata-rata bersumber atau berasal dari keturunan yang sama, yaitu seuweu-siwi Prabu Siliwangi, penguasa agung Kerajaan Pajajaran.

Perbedaan Silsilah 

Mengenaisilsilah Rangga Permana atau Prabu Dimuntur ternyata ada perbedaan antara BukuPatilasan Kerajaan Galuh Kertabumi (PKGK) karya H. Djaja Sukardja dengan sumbersejarah dari Sumedanglarang.  Keterangandari Sumedanglarang menyebutkan bahwa Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orangistri. Yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru putrinya Sunan Pada, Kedua yaituRatu Harisbaya dari Cirebon,ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut Geusan Ulun dikaruniai15 orang putra. Di antara putrannya itu,ternyata tidak ada nama Rangga Permana,  sedangkan di  PKGK dinyatakan bahwa RanggaPermana adalah putra Geusan Ulun, mana yang betul ?

R. Gun GunGurnadi salah seorang trah keturunan dari Ciancang (eks Kabupaten tahun1658-1811 M, sebelah barat Kertabumi) yang juga mewarisi buku Sejarah Galoeh daribao nya, Dalem Wirabaya (Wiratmaka I) yang menjabat sebagai bupatiterakhir Ciancang, menjelaskan bahwa Raden Permana sebetulnya adalah putra dariKyai Rangga Haji, dan cucu dari Pangeran Santri hasil pernikahan dengan Ratu Pucuk Umun. Rangga Haji merupakanputra kedua dari 6 bersaudara sedangkan kakaknya yang tertua bernamaRaden Angkawijaya yang terkenal dengan nama GeusanUlun

“ Janten mun ditingal tina garis keluarga, Rangga Permana atanapi Prabu Dimuntur nyaeta alona  Geusan Ulun, sanes putrana.” ujarnya. Lebih jauh R Gun Gun menandaskan bahwa perbedaan keterangan tersebut adalah suatu hal yang wajar karena yang namanya sejarah akan terus dianalisa setiap waktu sampai ditemukan data-data atau sumber terbaru sampai pada kesimpulan yang mendekati kebenaran.

Sang Raja Cita,salah seorang putra Prabu Dimuntur, menjadi penguasa Kertabumi berikutnya dengan pangkat Adipati, bergelar Kertabumi I (1602-1608). Sedangkan pada waktu itu kekuasaan Prabu Geusan Ulun di Sumedanglarang (1580-1608 M) meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik,Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis) dengan Kutamaya sebagai ibukota kerajaannya.

Putri Raja Cita bernama Natabumi diperistri oleh Dipati Panaekan,pada saat itu  pengaruh Mataram Islam dibawah pemerintahan Mas Jolang yang bergelar Sultan Hanyokrowati (1601-1613) mulai masuk ke wilayah Galuh. Sedangkan putra kedua Raja Cita yang bernama Wiraperbangsa kelak menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Adipati Singaperbangsa I (1608-1618). Raja Cita dimakamkan di Kampung Buner, Desa Bojongmengger.

Makam Adipati Panaekan Karang KamulyanH. Djaja Sukardja merasa yakin bahwa riwayat Kota Banjar yang dimulai dari Galuh Kertabumi semakin natrat ketika Singaperbangsa I memindahkan pusat Kerajaan Galuh Kertabumi dari Gunung Susuru ke Banjar Patroman(Desa Banjar Kolot). Penyebab perpindahan tersebut, akibat terjadinnya perselisihan faham antara Singaperbangsa I dengan Adipati Panaekan (kakak iparnya) dalam rencana penyerangan terhadap Belanda di Batavia.

Adipati Panaekan condong kepada rencana Dipati Ukur untuk menyerang secepatnya ke Batavia sebelum kekuatan Belanda makin besar. Sedangkan Singaperbangsa I lebih sependapat dengan Rangga Gempol yang merencanakan membangun kekuatan dengan mempersatukan wilayah Priangan. Rangga Gempol adalah penguasa Sumedanglarang(1620 M dan berada dibawah pengaruh Sultan Agung Mataram.

Akibatperselisihan tersebut membuat Adipati Panaekan terbunuh. Jasadnya dihanyutkan ke Sungai Cimuntur kemudian  dimakamkan di Karangkamulyan. Akibat peristiwa tragis itu membuat Singaperbangsa I tidak genah tinggal di Gunung Susuru, sehingga akhirnya pindah ke Banjar Patroman. (Bersambung/HU.Kabar Priangan)

Oleh Pandu Radea

(Catatan lama Tapak Karuhun Galuh)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 1)

Tapak Karuhun GALUH KERTABUMI di Gunung SUSURU (bagian 1)

Langit di atas tanah Kertabumi siang itu lumayan cerah, sedikitnya mengusir kecemasan akan hujan yang biasa turun pada waktu-waktu seperti ini. Memasuki Kampung Bunder, perumahan penduduk terlihat resik dan asri. Halamannya yang luas ditumbuhi dengan berbagai pohon buah-buahan, seperti dukuh dan rambutan. Namun Pohon Rambutan nampak lebih banyak terlihat, hampir di setiap buruan rumah maupun kebun penduduk. Dan  saat itu kebetulan sedang masa-masanya berbuah.

Kampung Bunder terletak di Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Ditempatini terdapat situs sejarah yang nilainya sangat penting bagi Kabupaten Ciamisdan Kotif Banjar. Oleh masyarakat setempat, situs itu disebut Gunung Susuru. Sebetulnya tempat tersebut lebih merupakan sebuah bukit ketimbang disebut gunung. Namun karenababasaan di masyarakat sudah napelsejak ratusan tahun maka sampai saat ini pun  nama Gunung Susuru pun tetap lestari.  Disebut Gunung Susuru karena  konon ditempat tersebut merupakan leuweungna tangkal Susuru, yaitu sejeniskaktus yang hanya tumbuh di tempat itu saja.

“ Gunung Susuru mangrupikeun tanah desananging taun 1960 diolah ku masyarakat pikeun dipelakan jagong. Kumargidibukbak dijantenkeun huma, tangkal susuruna oge ngiring kababat. Nanging masalendona taneuh mung kiat 15 tahun lamina, tah ti taun 1975 dikantunkeun teu dipelakan deui” Papar Ki Adang( 60 th), saat  saya  berkunjungkerumahnya sebelum mengawali lalampahanke Gunung Susuru. Lelaki berusia 60 tahun ini sudah bertugas sebagai Juru Pelihara Situs sejak tahun 2000. SedangkanJuru Kunci dipegang oleh Ki Eman (80 th)

Lebih jauh Ki Adang menjelaskan, semenjak tidak diolah lagi Gunung Susuru keadaanya sangat boneas (gersang) dan terbengkalai hampir selama 25 tahun. Memang semenjak diolah oleh masyarakat, dilokasi tersebut banyak ditemukan berbagai benda baik yang berbahan tulang,batu, tanah liat, keramik, manik-manik maupun dari  besi.  Namun pada saat itu, pemahaman masyarakat tentang nilai sejarah belum tumbuh, sehingga benda-benda yang ditemukan tersebut banyak yang hilang, atau dijadikan jimat dan koleksi pribadi. Hanya sebagian kecil saja yang diserahkan kepada pemerintah. Temuan Benda CagarBudaya Bergerak (BCB) kini disimpan oleh Ki Adang dan benda-benda tersebut diantaranya,  Fosil tulang dan gigi manusia, Kapak batu, dua buah batu slinder, Lumpang Batu, Batu Korsi, menhir dan dolmen, Batu Peluru, Piring dan PociKeramik serta  3 buah keris dengan luk berbeda.

“ Situs Gunung Susuru diwates ku WalunganCileueur dipalih Kidul, Walungan Cimuntur palih Kaler, Patimuan palih Wetan,Benteng kuno dipalih Kulon.” Papar Ki Andang. Patimuan merupakan daerah pertemuan dua sungai Cimuntur dan Cileueur. Sedangkan Benteng kuno membentang melintasi desa dari sisi Cimuntur ke sisi Cileueur sepanjang kurang lebih 2km.   Benteng Kuno tersebut terbuat dari susunan batu dengan ketinggian 1 meter. Namun kini keadaanya tidak utuh lagi  dikarenakan alurnya melintasi daerah permukiman sehingga oleh masyarakat batunya dipergunakan untuk pembangunan rumah. Sebagian lagi digunakan pembuatan jalan aspal. Namun di beberapa tempat pondasi maupun strukturnya masih dapat dilihat  walau kurang jelas.

MenurutH. Djaja Sukardja, Gunung Susuru merupakan patilasan dari kerajaan GaluhKertabumi yang didirikan oleh Putri Tanduran Ageung (putri Raja Galuhyang bernama Sanghyang Cipta, berkedudukan di Salawe, Cimaragas). Putri inimenikah dengan Rangga Permana, putra prabu Geusan Ulun (Penguasa SumedangLarang). Dan sebagai hadiah pernikahannya adalah wilayah Muntur (ditepi sungaiCimuntur). Di tempat inilah kemudian berdiri KerajaanGaluh Kertabumi dengan rajanya yang bergelar Prabu Dimuntur pada tahun 1585 M. Dan kerajaan ini merupakan cikal bakal kota Banjar saat ini.

(bersambung / HU.Kabar Priangan)

Oleh Pandu Radea

Komunitas Tapak Karuhun Galuh

 

Page 2 of 2012345...1020...Last »