Ritual Bentang Boeh Larang adalah ritual pada masyarakat adat Geger Sunten Ciamis. Ritual ini dilakukan dengan membentangkan kain putih (kain kafan) ukuran 2 x 3 dan setiap sudutnya dipegang oleh wanita yang sudah menopause. Ritual itu mengandung makna borojol suci, mulihna ge suci. Artinya manusia itu lahir dan matinya harus suci.

Pemuliaan Nilai Kearifan Lokal

Oleh: Pandu Radea
Ketua Litbang Seni dan Sejarah Komunitas Sangkala Ciamis

Matahari belumlah tinggi. Tapi panasnya mulai menyengat. Padahal di musim hujan ini, langit di atas Geger Sunten, Desa Sodong, Kecamatan Tambaksari, Kab. Ciamis, biasanya selalu digayuti awan tebal. Tentu saja, ini pertanda baik bagi Masyarakat Adat Geger Sunten yang akan melaksanakan Adat Seren Taun, Sabtu, 25 September 2011 lalu. Prosesi ritual seren taun yang diselenggarakan oleh masyarakat adat Geger Sunten dipusatkan di halaman rumah Abah Tasim selaku sesepuh adat. Di halaman rumahnya yang sudah diberi peneduh untuk tetamu, lengkap dengan panggung yang berisi gamelan degung. tampak empat sasajen yang berisi berbagai hasil bumi dihiasi dengan hiasan janur. Sasajen ini merupakan adeg-adeg dari pucuk, kembang, buah, dan beuti. Hal tersebut merupakan simbol dari kesuburan.

Sementara di sisi lainnya, sebuah kotak besar yang merupakan leuit berukuran kecil tampak ditutupi oleh kain hitam. Leuit ini menurut literatur di masyarakat adat, disebut juga Leuit Ratna Inten, Si Jimat atau Leuit Indung. Menurut Iing Wargi, ketua adat Geger Sunten, leuit itu merupakan tempat untuk ngaruwat Pohaci. Di dalamnya tersimpan dua jenis padi yang disebut pare indung yang ditutup dengan kain putih dan pare abah yang ditutup dengan kain hitam. Kedua padi itu merupakan benih unggulan hasil panen masyarkat yang diserahkan kepada ketua adat. Benih yang sudah diberkati ini disimpan di dalam leuit untuk dijadikan bibit padi untuk ditanam di musim tani berikutnya. Rangkaian sakral di atas secara umum disebut Ngajayak.

Pukul 08.00 WIB, ritual adat yang dihadiri oleh masyarakat Geger Sunten dan tamu undangan baik dari beberapa kecamatan di Ciamis maupun dari kabupaten lain seperti Garut dan Bandung dibuka dengan biantara sesepuh adat. Hadir pula Barisan Olot Tatar Galuh bersama Drs. H. Eka Santosa yang menjadi sekjen Masyarakat Adat Tatar Sunda. Termasuk beberapa juru kunci situs sejarah yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Geger Sunten dan Galuh, seperti Ki Oyon (kuncen karamat Aki Balangantrang Cisaga) , Aip Sarifudin (Jupel Situs Apun Pagergunung) dan utusan dari Komunitas Sangkala Kawali yang diwakili oleh R. Ega Anggara Kautsar, Iip Smok, Andri dan Kiki juga tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi.

Iing Wargi medar bahwa ada beberapa proses adat yang dianggap sakral sebagai bentuk penghormatan terhadap padi seperti mitembeyan, beukah pare, nyalin, ngajayak, ngelep, dan nganyaran. Semuanya merupakan rangkaian ketika padi mulai ditanam, berbuah, dipanen, dikeringkan, disimpan, dan diolah menjadi beras.

Proses tersebut secara alami adalah bentuk pemuliaan ketaatan terhadap padi. Karena dalam paradigm spiritual masyarakat agraris Sunda klasik, padi tidak sekadar bahan pangan utama, tetapi juga diyakini memiliki nilai sakral yang dikaitkan dengan pemahaman religi yang diwariskan oleh para leluhur. Kesucian padi dikaitkan dengan asal-usulnya yang memiliki hubungan dengan para dewa dan dewi, terutama Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

Ada satu bentuk ritual lain yang membuat seren taun di Geger Sunten menjadi berbeda dengan di tempat lain. Yaitu ritual Bentang Boeh Larang, yakni membentangkan kain putih dengan ukuran 2 x 3 dan setiap sudutnya dipegang oleh wanita yang sudah menopause. Ritual ini dipimpin oleh Abah Ali yang bertindak sebagai pemangku adat seren taun. Setelah selesai medar piwuruk dan memanjatkan doa, bentangan kain itu dibawa menuju pasir keramat Geger Sunten yang letaknya 400 meter dari lokasi upacara seren taun untuk berziarah dan napak tilas. Ritual itu menurut Abah Ali, mengandung makna borojol suci, mulihna ge suci. Artinya manusia itu lahir dan matinya harus suci.

Istilah Seren Taun berasal dari kata seren yang artinya menyerahkan, dan taun (tahun). Jadi Seren Taun mengandung arti serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dan pelaksanaan tahun ini berkaitan juga untuk menyambut tahun baru hijriah 1 Muharram 1433 H. Arti yang lebih spesifik lagi, upacara seren taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung, atau dalam bahasa Sunda disebut leuit.

Sebetulnya kegiatan Seren Taun yang diselenggarakan di Geger Sunten ini baru terbuka untuk umum dalam tiga tahun terakhir ini. Awalnya cenderung dilaksanakan secara tertutup hanya di kalangan adat saja. Namun semenjak Geger Sunten ditetapkan sebagai situ sejarah, kegiatan ini mulai terbuka untuk disaksikan oleh umum.

Sementara itu Eka Santosa menyatakan bahwa kekayaan sejarah dan budaya Kabupaten Ciamis ini harus lebih ditanggapi serius. “Kepariwisataan Ciamis itu jangan hanya dijadikan komoditas saja tanpa memperkuat kearifan lokalnya. Dan yang dibangun itu tata nilainya dulu, bukan visualnya,” ujar Eka yang saat ini tengah mensosialisasikan program Duta Sawala yang berkaitan dengan penjagaan/pemeliharaan, pemberdayaan potensi SDA/SDM, dan advokasi terhadap kearifan lokal.

Sedangkan R. Ega Anggara dari Komunitas Sangkala Kawali, menyatakan bahwa kegiatan seren tahun ini penting untuk dikenalkan kepada generasi muda saat ini. “Banyak yang dapat dipelajari dari kegiatan ini, antaranya adalah belajar menghargai alam dan sejarah. Adanya adat seren taun di Geger Sunten ini, semakin memperkaya dan menegaskan Kabupaten Ciamis yang sarat dengan nilai lokal. ” ujar Ega.

IIp Smok, salah satu pengelola even organizer asal Kawali juga mengatakan bahwa mungkin saja suatu saat kegiatan seren taun di Geger Sunten ini akan menjadi potensi wisata seperti halnya seren taun di Cigugur Kuningan, jika dikelola dengan benar dan tepat. Kegiatan seren taun itu merupakan pembelajaran penting bagi Komunitas Sangkala yang akan menyelenggarakan Kegiatan Gelar Budaya Purna Kala pada akhir Desember 2011 nanti. ***

[alert style=”white”]foto: Edwin Syahrizal,┬áreferensi: ┬ákabar-priangan[/alert]

Posting Lainnya