APAL TEU LUR? : " Gua Jepang Pananjung dibuat selama periode perang Dunia Kedua ( 1941 – 1945 ) dengan menggunakan kerja paksa selama kurang lebih 1 tahun. "

Rumah Adat di Jawa Barat

Rumah_Adat_Citalang

A. Rumah Adat Citalang

1. Lokasi dan Lingkungan

Desa Citalang merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta dengan batas-batas wilayah sebagai berikut

  • sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Munjuljaya
  • sebelah timur berbatasan dengan Desa Selaawi
  • sebelah selatan berbatasan dengan Desa Warungkadu, dan – sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Tegalmunjul.

Secara administratif, pemerintahan Desa Citalang terdiri atas 23 RT (rukun tetangga), 5 RW (rukun warga), dan 5 dusun. Ke-5 dusun berdasarkan RW-nya adalah RW 01 Citalang, RW 02 Karangsari, RW 03 Wangunjaya, RW 04 Mekarsari, dan RW 05 Citalang Indah.

Letak astronomisnya adalah antara 107° 30′ – 107° 40′ Bujur Barat dan 6° 25′- 6° 45′ Lintang Selatan. Adapun jarak orbitrasi Desa Citalang terhadap pusat pemerintahan dan lokasi fasilitas umum relatif dekat, yakni .: – Jarak dengan kecamatan Purwakarta hanya ± 3 km, – Jarak dengan ibu kota Kabupaten Purwakarta sekitar 3,5 kilometer, – Jarak dengan ibu kota propinsi sekitar 78 kilometer; serta – Jarak dengan ibu kota negara sekitar 114 kilometer.

Secara geografis, Desa Citalang berada pada ketinggian 100 – 150 meter di atas permukaan air laut. Ketinggian lokasi ini menyebabkan Desa Citalang dikiasifikasikan sebagai wilayah dataran rendah dengan kandungan tanah sangat cocok untuk persawahan. Tidak mengherankan jika Desa Citalang termasuk salah satu desa penghasil beras di Kabupaten Purwakarta.

Kurang lebih 80 % daerah ini berjenis tanah latosol, sisanya terdiri atas aluvial, regosol, andosol, dan grumosol. Rata-rata curah hujan di Desa Citalang berkisar antara 2000 – 2500 mm per tahun dengan jumlah curah hujan terbanyak 116 hari. Suhu udara rata-rata setiap harinya berkisar antara 22° – 25° Celcius.

Desa Citalang memiliki luas wilayah 347,639 hektar. Sebagian besar dari luas wilayah digunakan untuk sawah dan ladang yaitu seluas 247,384 hektar Selebihnya dimanfaatkan untuk pemukiman/perumahan, empang, jalan, industri, dan pekuburan.

B. Rumah Adat Lengkong

1. Lokasi dan Lingkungan

Rumah tradisional yang terletak di Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan ini merupakan rumah tinggal Hasan Maolani. Rumah tradisional ini letaknya di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat dan rapat. Rumah ini merupakan satu-satunya rumah yang dibangun dengan kontruksi rumah panggung dan bahan kayu, bambu dan atap dan genteng.

Kecamatan Garawangi luas wilayahnya 4.073 kilometer persegi yang dihuni oleh 11.960 kepala keluarga. Jumlah penduduk 52.504 jiwa atau ratarata 1.289 jiwa/kilometer persegi.’ Komposisi penduduk menurut jenis kelamin terdiri dan 25.971 pria dan 26.633 wanita. Penduduk Desa Lengkong berjumlah 4.076 jiwa yang terdiri dari 992 kepala keluarga. Jumlah penduduk pria 2.084 jiwa dan penduduk wanita sebanyak 1.992 jiwa.

Desa Lengkong terletak tiga kilometer dari Ibu Kota Kecamatan Garawangi, serta empat setengah kilometer ke arah timur Kota Kuningan. Luas wilayah desa Lengkong 257.595 hektar dan terletak 380 meter di atas permuka laut. Wilayah tersebut terbagi menjadi 70 % berupa dataran dan 30 % perbukitan dengan kesuburan tanah sedang.

C. Rumah Adat Panjalin

1. Lokasi dan Lingkungan

Rumah adat Panjalin terletak di wilayah Desa Panjalin. Desa Panjalin adalah sebuah desa yang berada di lingkungan Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka. Sejak tahun 1982, Desa Panjalin telah dimekarkan menjadi dua desa, yaitu Desa Panjalin Kidul dan Desa Panjalin Lor. Desa Panjalin Kidul terletak di sebelah utara wilayah Kecamatan Sumberjaya dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Cirebon. Adapun batas-batas daerah Desa Panjalin Kidul antara lain

  • Sebelah utara berbatasan dengan Desa Panjalin Lor Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka dan Desa Budur Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon,
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Panyingkiran Kecamatan Sumberjaya,
  • Sebelah barat berbatasan dengan Desa Rancaputat Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka,
  • Sebelah timur berbatasan dengan Babakan Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.

Secara administratif, pemerintahan Desa Panjalin Kidul terdiri atas lima buah dusun dan 9 Rukun Warga (RW). Setiap dusun dipimpin oleh seorang kepala dusun (Kadus) dengan membawahi sejumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT). Rukun Tetangga (RT) di Desa Panjalin Kidul seluruhnya berjumlah 24 RT. Jabatan kepala dusun dipilih dan ditetapkan oleh kepala desa yang disebut kuwu dan disyahkan oieh Bupati Majalengka dengan Surat Keputusan. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala dusun bertanggung jawab kepada kepala desa.

Jarak orbitrasi Desa Panjalin Kidul terhadap pusat-pusat pemerintahan relatif tidak terlalu jauh, antara lain

  • dengan ibukota Kecamatan Sumberjaya berjarak kurang lebih 5 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 15 menit,
  • dengan ibukota Kabupaten Majalengka berjarak kurang lebih 37 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 60 menit,
  • dengan ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung, berjarak kurang lebih 165 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 3 jam.

Secara geografis, Desa Panjalin Kidul berada pada garis antara 108° – 1090 Bujur Barat dan antara 6° – 7° Lintang Selatan. Adapun keadaan suhu di Desa Panjalin Kidul relatif cukup panas sekitar 28° Celcius dengan kelembaban rata-rata antara 78 % – 84 %. Jumlah curah hujan rata-rata 2.500 mm/tahun dengan jumlah bulan basah sekitar 10 bulan pertahun.

Desa Panjalin Kidul berada pada ketinggian tanah bervariasi antara 150 sampai 200 meter di atas permukaan air taut (dpa), dengan bentuk relief permukaan tanah pedataran. Keadaan tanah umumnya berupa dataran rendah dengan direlief oleh sungai-sungai kecil serta Sungai Ciwaringin di sebelah timur. Sungai Ciwaringin ini, selain merupakan batas desa juga merupakan batas Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Cirebon.
Was wilayah Desa Panjalin Kidul adalah 250 ha. Penggunaan lahan lebih banyak dimanfaatkan sebagai lahan produksi sebesar 151 ha yang berupa lahan sawah teknis sebesar 31 ha, semi teknis sebesar 36 ha, sederhana sebesar 17 ha, dan tadah hujan sebesar 67 ha. Penggunaan lahan untuk pemukiman atau perumahan penduduk sebesar 50 ha, dan sisanya terdiri atas tanah desa, pangangonan dan kuburan.

Persoalan yang cukup dirasakan warga adalah air bersih dan tempat pembuangan limbah dapur. Pada saat musim kemarau panjang melanda daerah ini maka air tanah yang menjadi sumber utama untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat kadang-kadang sulit didapatkan karena sebagian besar sumur-sumur yang ada surut airnya dan kering. Sementara itu, untuk memusnahkan limbah dapur biasa dilakukan dengan cara dibakar atau dibuang ke aliran sungai.

D. Rumah Adat Cikondang

Menurut kuncen Kampung Cikondang, konon mulanya di daerah ini ada seke (mata air) yang ditumbuhi pohon besar yang dinamakan Kondang. Oleh karena itu selanjutnya tempat ini dinamakan Cikondang atau kampung Cikondang. Nama itu perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang; “ci’ berasal dari kependekan kata “cai’ artinya air (sumber air), sedangkan “kondang’ adalah nama pohon tadi. Masih menurut penuturan kuncen, untuk menyatakan kapan dan siapa yang mendirikan kampung Cikondang sangat sulit untuk dipastikan. Namun, masyarakat meyakini bahwa karuhun (Leluhur) mereka adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget dan Uyut Istri yang diyakini membawa berkah dan dapat ngauban (melindungi) anak cucunya.

Kapan Uyut Pameget dan Uyut Istri mulai membuka kawasan Cikondang menjadi suatu pemukiman atau kapan ia datang ke daerah tersebut? Tidak ada bukti konkrit yang menerangkan kejadian itu baik tertulis maupun lisan. Menurut perkiraan seorang tokoh masyarakat, Bumi Adat diperkirakan telah berusia 200 tahun. Jadi, diperkirakan Uyut Pameget dan Uyut Istri mendirikan pemukiman di kampung Okondang kurang lebih pada awal abad ke-XIX atau sekitar tahun 1800.

Pada awalnya bangunan di Cikondang ini merupakan pemukiman dengan pola arsitektur tradisional seperti yang digunakan pada bangunan Bumi Adat. Konon tahun 1940-an terdapat kurang lebih enam puluh rumah. Sekitar tahun 1942 terjadi kebakaran besar yang menghanguskan semua rumah kecuali Bumi Adat. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebab kebakaran itu. Namun ada dugaan bahwa kampung Cikondang dulunya dijadikan persembunyian atau markas para pejuang yang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Belanda. Kemungkinan tempat itu diketahui Belanda dan dibumi hanguskan.

Jarak dari Kota Bandung ke Kampung adat Cikondang ini sekitar 38 kilometer, sedangkan dari pusat Kecamatan Pengalengan sekitar 11 kilometer. Dari Kota Bandung ke arah selatan melewati Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Cimaung.

E. Rumah Tradisional Saung Ranggon

Saung Ranggon terletak di Kampung Cikedokan, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, dengan keletakan pada 107º 0′.204″ BT  dan  06º 20′ 298″ LS , serta ketinggian 61 di  atas permukaan air laut. Desa Cikedokan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum (angkot) jurusan Cikedokan Setu. Lokasi Kampung Cikedokan memang agak terpencil dari kampung-kampung lainnya. Cikedokan, dikatakan berasal dari kata “Ci” yang artinya bening, dan “Kedok” berarti nyamar. Jadi Cikedokan mempunyai arti penyamaran, hal ini disebabkan karena karuhun-karuhun yang datang ke Cikedokan adalah mereka-mereka yang sedang menyamar, karena dikejar-kejar Belanda.

Saung Ranggon menurut kuncen Bapak Tholib, dibangun kira-kira pada abad-16, oleh Pangeran Rangga, putra Pangeran Jayakarta, yang datang dan kemudian menetap di daerah ini. Saung ini kemudian terkenal dengan sebutan Saung Ranggon, ditemukan oleh Raden Abbas tahun 1821. Dalam bahasa Sunda saung berarti saung/rumah yang berada di tengah ladang atau huma berfungsi sebagai tempat menunggu padi atau tanaman palawija lainnya yang sebentar lagi akan dipanen. Biasanya saung dibuat dengan ketinggian di atas ketinggian 3 atau 4 meter di atas permukaan tanah. Hal ini diperlukan untuk menjaga keselamatan bagi si penunggu dari gangguan hewan buas, seperti babi hutan, harimau dan binatang buas lainnya.

Pangeran Jayakarta merupakan tokoh dalam sejarah Betawi, khususnya Jakarta dan Bekasi pada masa kedatangan Belanda yang mencoba menanamkan kekuasaan atas daerah Jakarta dan Bekasi dan sekitarnya. Saung ini merupakan bagian dari basis perlawanan masyarakat Bekasi terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bangunan ini diakui oleh masyarakat Bekasi, merupakan bangunan tertua di sekitar Cikarang Barat pada khususnya dan mungkin sekali di seluruh Bekasi.

Saung Rangon berdiri di atas tanah seluas 500 m², dengan ukuran bangunan seluas 7,6 m x 7, 2 m dan tinggi bangunan dari permukaan tanah 2,5 m. Bentuk Saung Ranggon adalah rumah panggung, menghadap ke arah selatan ditandai dengan penempatan tangga pintu utama dengan 7 buah anak tangga untuk masuk ke dalam rumah tersebut; bagian dalam Saung Ranggon hanya merupakan ruangan terbuka dan tanpa sekat pemisah antara ruangan, walaupun ada sebuah kamar; Bentuk atap Julang Ngapak (atap yang terdiri dari dua bidang miring) dengan penutupnya dari sirap kayu; dinding terbuat dari papan dan tidak mempunyai jendela, dan pada dinding terdapat bukaan selebar 30 cm yang ada di sebelah kiri dan kanan dengan cara dinding bawah agak masuk ke dalam, sedangkan dinding atas berada di luar menempel langsung pada langit-langit kemungkinan disengaja sebagai ventilasi, ada juga bagian dinding yang terbuat dari bilik(bambu); rangka dan tiang-tiang terbuat dari kayu; bagian bawah bangunan (kolong bangunan) terdapat tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang dibentuk menyerupai sumur (sekarang dibentuk lantai); Sedangkan sekeliling bangunan telah diberi pagar besi setinggi 1,20 m.

Saung Ranggon yang tampak sekarang, merupakan hasil renovasi-renovasi sebelumnya, namun menurut pengakuan kuncen (Juru Pelihara) tetap memperhatikan dalam penggantian bahan dan tetap memelihara pelestarian bangunan kuno ini. Masyarakat Cikedokan beranggapan bahwa yang membangun Saung Ranggon adalah cikal bakal mereka, sehingga keberadaanya Saung Ranggon sangat dihormati dan dipelihara dengan baik.

Tujuan dari pembuatan Saung Ranggon pertama-tama adalah tempat menyepi dan bersembunyi dari kejaran pihak Belanda. Tapi di kemudian hari fungsi Saung Ranggon itu menjadi tempat menyimpan berbagai benda pusaka, dan yang lebh unik lagi bahwa Saung Ranggon kini menjadi tempat ziarah orang-oarng yang memerlukan ”bantuan” dalam menghadapi kenyataan hidup. Tujuan orang berziarah tersebut bermacam-macam, mulai dari keinginan untuk keselamatan, naik pangkat atau untuk meminta berkah karena akan melakukan hajatan di rumahnya.

Orang-orang yang datang ke Saung Ranggon bukan saja masyarakat setempat tetapi ada yang dari luar Bekasi. Pantangan yang ada apabila memasuki Saung Ranggon ini adalah tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kasar atau ”sompral”. Saung Ranggon tidak ditempati secara khusus oleh kuncen tetapi dipergunakan sebagai tempat menyepi bagi orang yang datang (tamu) untuk minta berkah atau karomah. Ramainya Saung Ranggon oleh pengunjung pada waktu-waktu tertentu terutama malam Jumat Kliwon, Sabtu Suro, Maulid Nabi, Rajaban. Ritual yang dilakukan untuk karuhun dipimpin oleh kuncen Bapak Tholib dengan memakai sarana untuk sesajen yaitu bunga-bunga dan buah-buahan yang terdiri 7 macam yang dipersembahkan untuk para karuhun dengan memanjatkan doa.

Pada setiap bulan Maulid (Hijriah) dilakukan hajat ”Maulidan”, dengan melakukan cuci pusaka dan dilanjutkan dengan hiburan jaipongan (Sunda Bekasi) dan wayang kulit khas dari Bekasi (dengan budaya Betawi). Kegiatan hajat budaya (cuci pusaka dan maulidan) dilakukan di halaman rumah Tradisional Saung Ranggon dapat dijadikan sebagai daya tarik bila dikembangkan sebagai objek wisata budaya.

F. Rumah Adat Hasan Maulani

Rumah Adat Hasan Maulani terletak di Kampung Wage, Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi. Secara astronomis terletak pada koordinat 6º59’22” LS dan 108º30’48” BT. Rumah adat ini terletak di tengah permukiman warga yang relatif mudah dihangkau. Kendaraan roda empat tidak bisa menjangkau lokasi ini, hanya sampai di jalan beraspal yang melalui kampung ini. Selanjutnya dilanjutkan kaki sekitar 150 m. Sedang kendaraan roda bisa sampai ke rumah adat ini. Beberapa bangunan di sekitar rumah adat adalah masjid yang berada di sebelah barat laut rumah adat dan pondok pesantren di sebelah timur laut rumah adat.

Rumah adat ini merupakan rumah yang pernah ditinggali oleh Hasan Maulani. Tokoh ini hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro sekitar abad ke-19. beliau berasal dari Cirebon. Beliau merupakan tokoh yang penting dalam peng-Islaman di daerah ini dan juga merupakan tokoh yang anti-kolonial. Beliau menetap di daerah ini dan menyebarkan agama Islam dengan membuka pesantren sebagai salah satu strateginya. Sikapnya yang antikolonial Belanda mengakibatkan beliau ditangkap dan selanjutnya menjalani pengasingan hingga meninggal dan dimakamkan di daerah Manado, Sulawesi Utara.

Rumah beliau sampai sekarang masih dipertahankan keberadaannya meskipun telah mengalami pemugaran. Pemugaran yang wajar dilaksanakan mengingat usia rumah yang mencapai dua abad tersebut dibuat dari bahan bambu dan kayu sehingga mudah lapuk.  Rumah Hasan Maulani merupakan rumah panggung dengan 16 tiang penyangga. Tiang-tiang penyangga tersebut semula terbuat dari kayu, dan sekarang telah diganti dengan konstruksi bata berspesi semen.  Rumah berukuran sekiatr 15 x 15 m, menghadap ke utara. Pintu terdapat di dinding bagian muka rumah. Pintu tidak dilengkapi dengan tangga. Untuk keluar masuk rumah tedapat batu tegak di depan pintu. Rumah dibagi menjadi dua ruang, yaitu ruang depan dan ruang dalam yang dipisahkan dengan dinding penyekat. Dinding penyekat dilengkapi dengan pintu. Lantai dan dinding rumah dibuat dari bambu, sedangkan atap bangunan rumah dibuat dari bata. Keaslian bentuk rumah ini agak terganggu dengan adanya penambahan ruang. Penambhan ruang yang diumaksud berupa bangunan berdinding permanen yang dilengjkapi dengan jendela kaca.

Selain bangunan rumah tinggal, di lokasi ini terdapat tinggalan Hasan Maulani berupa keris, tongkat, terompah, dan kitab berhuruf Arab Pegon tulisan tangan beliau. Kitab tulisan tangan, ditulis oleh Hasan Maulani di pengasingan.
Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 

Posting Lainnya

Ciamis, Kota Manis Manjing Dinamis
Rumah Makan Ikan Bakar Ibu H. Imi Cigembor
Wisata Pantai Pangandaran
Bulaksetra Bakal Jadi Tempat Wisata
Goa Donan, Wisata Leluhur Ciamis yang Terabaikan

Berikan Komentar Lewat Account Facebook

2 Responses to “Rumah Adat di Jawa Barat”

  1. Raden Mas Bambang

    Oct 21. 2012

    thank,,,,,,,,,,,,,,,, banget

    Reply to this comment
  2. Den An Nasr

    Jun 05. 2013

    sip lah

    Reply to this comment

Leave a Reply

Connect with Facebook

Informasi Lainnyaclose