APAL TEU LUR? : " Masjid Agung Ciamis mulai dibangun pada tahun 1882, saat Ciamis dipimpin oleh Bupati Galuh Rd. A. A. Koesoemahdiningrat. Namun, baru dapat diselesaikan pada tahun 1902 kala tongkat estafet kepemimpinan Ciamis dipegang oleh Bupati Galuh Rd. A. A. Koesoemah Soebrata yang tak lain adalah putra bupati sebelumnya. "

Sejarah Galuh (bagian VI)

Selamat Datang di Ciamis

Galuh Setelah Pakuan Pajajaran Runtuh

Selama Sri Baduga memerintah di Pakuan, di Galuh pun tetap ada penguasa yang statusnya raja-bawahan Pajajaran. Dan hingga Pakuan Pajajaran runtuh tahun 1579, di Galuh masih terdapat beberapa raja yang memerintah. Mereka di antaranya: Prabu Haur Kuning, Prabu Cipta Sanghiang, Prabu Galuh Cipta Permana atau Ujang Ngekel (yang pertama masuk Islam).

Eksistensi politik Galuh goyah ketika tahun 1595, Mataram menyerang Galuh. Dan selanjutnya, pada masa Sultan Agung invasi militer Mataram terhadap Galuh makin gencar. Oleh penguasa Mataram, penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dengan jumlah pendududk (cacah) sebanyak 960 orang. Ketika Mataram hendak melancarkan serangan terhadap benteng VOC di Batavia tahun 1628, pengikut Mataram di Tanah Sunda berbeda pendapat. Misalnya, Rangga Gempol I dari Sumedang Larang menginginkan pertahanan militer diperkuat dahulu, sementara Dipati Ukur dari Tatar Ukur menginginkan serangan segera saja dilakukan. Pertentangan pun terjadi di Galuh, yakni antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya, Dipati Kertabhumi, Bupati Bojonglopang, putra Prabu Dimuntur, keturunan Prabu Geusan Ulun. Perselisihan ini memuncak dan akhirnya pecahlah perkelahian. Adipati Panaekan terbunuh pada tahun 1625. Ia lalu diganti puteranya, Mas Dipati Imbanagara, yang berkedudukan di Garatengah (sekarang Cineam).

Daftar Raja-raja di Galuh (dan Kawali, Saunggalah, dan Pakuan)

  • 1.    Wretikandayun atau Wertikandayun (612-702).
  • 2.    Mandiminyak (702-709).
  • 3.    Sena atau Sang Prabu Bratasena Rajaputra Linggabhumi (709-716 M).
  • 4.    Purbasora (716-723).
  • 5.    Sanjaya Sang Harisdarma atau Rakeyan Jambri (723-732 M), Pakuan-Galuh.
  • 6.    Premana Dikusuma atau Bagawat Sajalajaya (732)
  • 7.    Rahyang Tamperan atau Rakeyan Panaraban (732-739 M), Pakuan-Galuh.
  • 8.    Surotama alias Manarah alias Ciung Wanara atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Sakalabhuwana (739-783).
  • 9.    Sang Mansiri atau Prabu  Dharmasakti Wijaleswara (783-799).
  • 10.  Sang Tariwulan atau Prabu  Kertayasa Dewakusaleswara (799-806).
  • 11.  Sang Welengan atau Prabu  Brajanagara Jayabhuwana (806-813).
  • 12.  Prabu  Linggabhumi (813-842).
  • 13.  Rakeyan Wuwus atau Prabu Gajah Kulon (842-891 M), Pakuan-Galuh.
  • 14.  Arya Kedaton atau Prabu Darmaraksa Bhuwana (891-895 M). Catatan: sejak tahun 895 hingga 1311 M, pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur (Galuh atau Saunggalah) ke barat (Pakuan) dan sebaliknya.
  • 15.   Rakeyan Windusakti atau Prabu Dewagong Jayengbhuwana (895-913 M).
  • 16.   Rakeyan Kemuning Gading atau Prabu Pucukwesi atau Sang Mokteng Hujungcariang(913-916 M).
  • 17.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wanayasa, adik Pucukwesi (916-942 M).
  • 18.   Rakeyan Watwagong atau Prabu Resi Atmajadarma Hariwangsa (942-954 M), menantu Jayagiri.
  • 19.   Limburkancana atau Sang Mokteng Galuh Pakwan, putra Pucukwesi (954-964 M).
  • 20.   Rakeyan Sunda Sembawa atau Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru(964-973 M).
  • 21.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wulung Gadung atau Sang Mokteng Jayagiri (973-989 M).
  • 22.   Rakeyan Gendang atau Prabu  Jayawisesa (989-1012 M).
  • 23.   Sanghyang Ageung atau Prabu Dewa Sanghyang atau Sang Mokteng Patapan (1012-1019M), Galuh.
  • 24.   Sri Jayabhupati atau Prabu Satya Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Bhuwanamanadala Leswaranindita Harogowardhana Wikramattunggadewa (1019-1042), Pakuan.
  • 25.    Prabu Dharmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabhuwana (1042-1064), Galuh.
  • 26.    Prabu Langlangbhumi atau Sang Mokteng Kreta (1064-1154), Pakuan.
  • 27.    Rakeyan Jayagiri atau Prabu Menakluhur Langlangbhumisutah (1154-1156), Pakuan.
  • 28.    Prabu Dharmakusumah atau Sang Mokteng Winduraja (1156-1175), Galuh.
  • 29.   Prabu Guru Dharmasiksa Paramartha Mahapurusa atau Guru Dharmakusumah atau Prabu Sanghyang Wisnu (1175-1297); di Saunggalah tahun 1175-1187, di Pakuan tahun 1187-1297.
  • 30.   Prabu Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah (1297-1303), Saunggalah
  • 31.   Prabu Citragandha (1303-1311), Pakuan.
  • 32.   Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kawali.
  • 33.   Prabu Ajiguna Wisesa (1333-1340), Kawali.
  • 34.   Prabu Ragamulya Luhurprabhawa atau Sang Aki Kolot (1340-1350), Kawali.
  • 35.   Prabu Lingga Bhuwana Wisesa atau Prabu Maharaja atau Sang Mokteng Bubat (1350-1357 M), Kawali.
  • 36.   Prabu Bunisora (1357-1371), Kawali.
  • 37.   Niskala Wastukancana atau Prabu Raja Wastu atau Sang Mokteng Nusalarang (1371-1475), Kawali.
  • 38.   Ningratkancana atau Prabu Dewa Niskala atau Sang Mokteng Gunatiga (1475-1482), Kawali.
  • 39.   Sri Baduga Maharaja (1482-1521), Galuh dan Pakuan.

Mitos Buaya dan Harimau

Proses kepindahan ibukota pada masa Sunda-Galuh memiliki pengaruh secara sosial-budaya. Dalam hal tradisi, antara Galuh dengan Sunda memang terdapat perbedaan. Disebutkan, bahwa orang Galuh itu adalah “orang air”, sedangkan orang Sunda itu adalah “orang gunung”. Yang satu (Galuh) memiliki “mitos buaya”, yang lainnya (Sunda) memiliki “mitos harimau”.

Di sekitar Ciamis dan Tasikmalaya masih ada sejumlah tempat yang bernama Panereban. Pada masa silam, tempat tersebut konon merupakan tempat melabuhkan (nerebkeun) mayat karena menurut tradisi Galuh, mayat harus dihanyutkan (dilarung) di sungai. Sebaliknya, orang Kanekes (Banten) yang masih menyimpan banyak sekali peninggalan tradisi Sunda, mengubur mayat dalam tanah (ngurebkeun). Tradisi nerebkeun di sebelah timur dan tradisi ngurebkeun di sebelah barat, membekas dalam istilah panereban dan pasarean.

Perjalanan sejarah lambat-laun telah meleburkan kedua kelompok sub-etnik ini, Galuh dan Sunda (Orang Air dengan Orang Gunung) menjadi akrab. Perbauran ini, contohnya, dilambangkan oleh dongeng Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet (Seekor Kura-kura dan Seekor Monyet). Dongeng fabel khas Sunda ini sangat dikenal oleh segala lapisan masyarakat. Padahal dalam kenyataannya, monyet (wakil dari budaya gunung) dan kuya (wakil dari budaya air) itu bertemu saja mungkin tidak pernah.

referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com

Posting Lainnya

Kisah Asal Muasal Curug Tujuh Cibolang Ciamis
Situs Candi Ronggeng Pamarican Ciamis
Sejarah Galuh (bagian III)
Daftar Raja-raja di Galuh
Situs Kertabumi

Berikan Komentar Lewat Account Facebook

No comments.

Leave a Reply

Connect with Facebook

Wednesday Oct 1 - 2:38am - Yaa Allah rabbKu, bila rejeki kami jauh dekatkan dia, bila rejeki kami sedikit perbanyaklah dia. Bila rejeki kami... http://t.co/9uhqmOlIs8 <> Thursday Sep 25 - 6:46am - Khas, Comro alias Comet Cimari http://t.co/J2wJgkxN61 <> Thursday Sep 25 - 5:30am - Jenis-jenis kepribadian seseorang bisa dinilai dari caranya makan tahu! KONSERVATIF: gigit tahu, baru gigit... http://t.co/QNkiwKlPOF <> Tuesday Sep 23 - 1:20am - Kaya bukan ukuran mulia, miskin bukan ukuran hina. Bila kita kaya bersyukurlah, bila kita miskin bersabarlah.. Selamat Pagiii <> Tuesday Sep 9 - 2:36am - Melupakan kebaikan yang pernah kita lakukan akan membersihkan hati, banyak mengingat-ingat bahkan menceritakan... http://t.co/fFanx9xWUi <>
Informasi Lainnyaclose