Kelompok pengolah ikan di daerah Ciamis, membuat abon ikan patin. melalui proses yang masih sangat sederhana tapi masa edarnya bisa sampai tahunan tanpa pengawet. Yang dilakukan Teni Nawalusi karyawan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Sub Unit Laboratorium Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPMHP) Kabupaten Ciamis membina Kelompok Pengolah Ikan di daerah tersebut, cukup mulia. Diantara produk yang dihasilkan kelompok tersebut adalah abon ikan patin. Menariknya abon ikan yang dihasilkan bukan rasa ikan tapi rasa daging.

Kelompok yang diberi nama Kelompok Pengolah Ikan ini didirikan pada 2004, dengan ketua Ros Rosita dan beranggotakan 10 orang. Proses produksinya memang masih sangat sederhana. Dan kapasitas produksinyapun masih bergantung pada pesanan dari konsumen. Mengingat semuanya masih sangat terbatas. Jadi kalau produksi berlebihan bingung memasarkannya. Karena belum memiliki tenaga pemasaran yang handal. “Dalam satu hari rata-rata produksi baru sekitar 5 kg,” papar Teni.

Sebetulnya abon ikan ini, lanjut Teni bisa menjadi industri yang potensial bagi daerah, khususnya Ciamis. Karena akan memberikan mulplier effect yang cukup luas kepada masyarakat. Selain memberikan pasar baru bagi para petani ikan patin, juga membuka peluang kerja. “Untuk bahan baku ikan patin didapatkan di daerah setempat, Ciamis, Tasikmalaya. Biasanya satu ekor ikan patin bisa jadi 1 kg abon ikan,” kata Teni.

Perlu diketahui abon ikan ini sangat baik untuk dikonsumsi karena mengandung protein, lemak dan kalsium yang dibutuhkan oleh tubuh. Setelah diuji coba kadar protein abon ikan pating sebesar 19%, lemak 6%,dan air sekitar 5%. Sementara ambang minimal kadar protein ikan olahan yang ditetapkan oleh Balai Besar Pengolahan Ikan adalah sebesar 13%. Disisi lain keunggulan dari ikan selain mengandung protein adalah rendah kolesterol, sehingga baik dan aman dikonsumsi anak maupun orang dewasa.

Boga Rasa dan Lezzat

Proses pembuatan abon ikan patin, pertama dipilih ikan patin yang masih kondisi segar lalu dipotong kepala dan ekor lantas dicuci bersih. Untuk kepalanya bisa dijual tersendiri, atau dibuat sop kapala ikan patin. Semua isi ikan dibuang termasuk duri dan hitam-hitam yang menempel pada diding dalam. Jadi yang diambil hanya dagingnya saja.

Untuk bumbunya terdiri dari rempah-rempah, jahe, gula pasir, bawang merah, bawang putih, dihaluskan bersama. Kemudian bumbu tersebut diaduk/dicampur dengan daging ikan patin yang telah dihancurkan (disuwir-suwir). Lantas bumbu dan ikan diaduk sampai merata baru digoreng selama 1-2 jam hingga kering berwarna kuning kecoklatan. “Setelah digoreng abon ikan dipres dengan mesin pres agar minyaknya keluar, dan didinginkan,” Teni memberi tahu proses pembuatannya.

Untuk membuat 1 kg abon ikan patin dibutuhkan sekitar 3 sampai 3,5 kg ikan patin. Harga ikan patin 1 kg sekitar Rp 14.000. setelah jadi abon ikan dijual Rp 20.000/ons atau sebesar Rp 150.000/kg. Abon ikan patin yang dijual dengan nama “Boga Rasa” untuk pasar disekitar Ciamis dan dengan nama “Lezzat” untuk pasar diluar Ciamis ini bisa bertahan hingga 5 bulan bahkan bisa sampai 3 tahun kalau disimpan dengan benar (ditempat pendingin).

Mampu mandiri

Tahun ini (2010) anggota kelompok pengolah ikan bertambah menjadi 15 orang. Dan produksinyapun juga mulai meningkat rata-rata 10 kg /hari. Hanya saja yang menjadi kendala harga ikan patin sering fluktuatif, sehingga sangat berpengaruh pada produksi. “Harapan kami perlu segera ditingkatkan budidaya ikan patin khususnya di Ciamis,” keluh Teni.

Sementara untuk meningkatkan volume produksi dan kualitas produk, kelompok ini butuh bantuan peralatan untuk memasak seperti wajan besar dan alat pengepres abon.

Kedepan Teni berharap kelompok ini bisa mandiri, berkembang dan punya out let (toko) sendiri. Untuk itu kini yang sedang diupayakan kelompok adalah meningkatkan kualitas, dan pengembangan pasar, serta pelatihan untuk meningkatkan kemampuan kelompok dalam memproduksi abon. A. Kadri

[alert style=”white”] sumber: ikm.kemenperin.go.id [/alert]