Hamparan sawah menguning,  burung pipit ramai bercicit. Mengincar butir–butir padi yang penuh berisi memberati malai yang sesekali berayun dihembus angin. Saat ini musim panen telah tiba, wajah petani sumringah.  3 bulan lebih sedikit, kerja keras memeras keringat akan memanen hasil.  Sejak dari ngadurukan (membakar jerami atau rumput), Nampingan (membersihkan pematang), Mopok (menambal pematang sawah dengan lumpur), Ngawuluku (mengolah tanah), Ngalepa (meratakan tanah yang telah diwuluku), Tebar (menyemai Benih padi), Neplak (pola garis untuk menanam benih), Babut (mencabut benih padi untuk ditanam), tandur (menanam padi), Ngarambet (menyiangi rumput dan gulma),  ngagemuk (pemberian pupuk), nyemprot (membasmi hama dengan semprotan), tunggu (menjaga tanaman padi), dan panen (memetik padi) semuanya dilakukan dengan penuh kesabaran dan harapan.

Tidak semua sawah berbuah mulus memang, hama padi seperti tikus dan wereng tetap menjadi musuh abadi para petani. Seperti yang telah diisyaratkan leluhur sunda dalam legenda tentang asal muasal padi yang tercipta dari airmata kesedihan Naga Antaboga yang terancam hukuman mati oleh Raja Pajajaran, akibat tidak bisa membantu membangun Bale Mariuk Pada Gedong Sasaka Domas karena tidak punya tangan.  Tiga air mata Naga Anta berubah menjadi telur. Dari ketiga telur itu lahir Nyi Pohaci Sanghyang Sri, Budug Basu, dan telur terakhir menetas menjadi berbagai hama padi. Isi pantun Sri Sadana itu menyiratkan bahwa sawah dan padi tidak semata untuk memenuhi kebutuhan pangan primer saja tetapi juga  bagian sakral dari kehidupan lama masyarakat agraris.

Sejak meletek srangenge, keluarga Bi Raspi (maestro Ronggeng Gunung dari Cikukang Banjarsari) sudah tatahar untuk melaksanakan  tradisi Nyangkreb karena  seminggu lagi sawah yang disewa dari tetangganya  akan dipanen. Sebagai keluarga petani yang lekat dengan ketradisian, maka  Nyangkreb menjadi bagian penting bagi keluarga Raspi sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur dan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Nyangkreb dapat diartikan sebagai pinangan.  Terkait dengan padi yang siap di panen, maka nyangkreb bermakna meminang Nyi Pohaci Sanghyang Sri untuk disunting, dipetik secara resmi.

Untuk itulah sejak seminggu sebelumnya Bi Raspi bersama Bah Wasco suaminya, dibantu oleh Nani Nurhayati putrinya, serta kedua cucunya, sudah mempersiapkan berbagai sarana Nyangkreb.  Kegiatan ini sudah sangat langka dilakukan oleh petani jaman sekarang. Terlupakan akibat hingar bingar modernisasi yangmerasuk sampai pelosok desa.

Nyangkeb, Labuhan,  Nyalin, atau di  Bali disebut Ngarya Dewi Sri, memerlukan beberapa  media sebagai simbol.  Sarana untuk sesajen disebut Sanggar dan Gagawar. “Sanggar mah kangge saung sasajen. Didamelna tina rangka awi dihateupan ku anyaman daun kalapa. Di sangga ku tihang, diraweuyan ku janur” ujar Wasco. Sedangkan Gagawar merupakan umbul-umbul dengan hiasan janur yang ujung-ujungnya digantelan kupat, daun wowo, daun pacing, daun kayutua dan jambe.

“Tah ari sasajenna mah aya poncot sangu, endog, lauk,sambel bade, kopi, cai herang, cai teh, rupa-rupa rujak, bubur bodas beureum,surutu, roko, leupeut, tangtang angin, rupa-rupa cau, jeung tangkueh gula batu. Teu hilap acuk sareng samping kangge salin pohaci sanghyang sri” ujar Bi Raspi, sambil menunjuk setiap sesajen satu demi satu. dulu, perhiasan emas pun turut disertakan. namun karena mulai tidak aman, maka sekarang hanya disimpan selama ngarekes. selanjutnya dibawa lagi.

Kegiatan Nyangkreb yang dilakukan keluarga Bi Raspi itu tak luput dari perhatian beberapa warga petani Ciulu Banjarsari, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ciamis yang diwakili Dedi Unay (Kasi Kesenian dan Film) dan Badar Production yang mendokumentasikan kegiatan langka tersebut untuk pembuatan film Biopicture Raspi Sang Mastro. Menjelang wanci tungganggunung, semua sesajen diarak menuju sawah blok Ciulu, yang akan di panen.  Bah Wasco memimpin ritual dengan mengucapkan do’a sambil membakar kemenyan.  Bebera pagagang padi dipotong  lembut dengan etem untuk disimpan dirumah. Selesai itu, Bi Raspi pun ngahaleuang sebait tembang ronggeng gunung, lengkingannya  jernih ngalaeu dihamparan sawah luas menguning, seolah ngabageakeun Pohaci Sanghyang Sri, yang seminggu lagi akan disunting. (HU.Kabar Priangan)

Oleh Pandu Radea
(komunitas Tapak Karuhun Galuh)