Cukang Taneuh Ciamis

Cukang Taneuh Ciamis

The local people call Cukang Taneuh (Land Bridge) because right in the upstream river Cijulang flow, there is a land bridge about three meters width, with a length about 40 meters.

At first Green Canyon is only a place that has the potential various panorama of nature, the flow of water of Cijulang River, right in the headwaters, there is a cave made by a land bridge which is very stunning, crystal clear water reflect the greenness colour due to the depth, and the placee is located between two hills with rocks and trees.

[alert style=”white”] foto: http://www.flickr.com/photos/tjetjep/4255187676/[/alert]

Desa Ciparanti Cimerak Ciamis

Desa Ciparanti Cimerak Ciamis

Ciparanti adalah desa di Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Desa Ciparanti merupakan desa yang terletak di sebelah Barat Kabupaten Pangandaran dan selatan kecamatan Cimerak yang dikepalai oleh Bapak Dadang Suherman.

Dan Sebuah desa yang menjadi tempat pertama di Indonesia yang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Udara (PLTU). Desa ini berada di pinggir pantai, berada kurang lebih 45 menit (naik kendaraan) ke arah barat dari pantai pangandaran. desa ini memiliki pantai yang sangat cantik, yaitu pantai ciparanti, dengan keaneka ragaman hewan lautnya, masyarakat di desa ini banyak yang menggantungkan hidupnya pada kekayaan lautnya, karena di pantai ini dikenal dengan udang lobsternya, kerang-kerangan, dan rumput laut yang beraneka ragam. masyarakatnya ramah dan dikenal sangat baik terhadap tamu, penduduknya 100% muslim, mereka sangat terbuka bagi siapa saja yang berkunjung ke desa ini. desa ini sangat cocok untuk jadi tujuan wisata ekologi dan juga rekreasi di hari libur.

Struktur kepemimpinan dan pemerintahan desa berdasarkan pemerintahan yang tertinggi dan memiliki tujuh lembaga kemasyarakatan diantaranya LPMD/LPKK, PKK, RW, RT, karang taruna, kelompok tani, dan Badan Usaha Milik Desa. Struktur administrasi desa terdiri dari Kepala Desa yang membawahi dan berkoordinasi dengan Sekertaris Desa yang membawahi urusan Umum dan Urusan keuangan; Urusan Pemerintahan; Urusan Agama dan Kesejahteraan; Urusan Ekonomi; Kepala Dusun Citotok; Kepala Dusun Cisempu; dan Kepala Dusun Ciwalini.

Desa Ciparanti terdiri dari tiga dusun, yaitu dusun Citotok, dusun Cisempu dan dusun Ciwalini. Dusun Citotok dikepalai oleh Bapak Edi, dusun Cisempu dikepalai oleh Bapak Dadang dan dusun Ciwalini dikepalai oleh Bapak Didi. Dari dusun satu ke dusun lainnya memiliki jarak tempuh yang cukup jauh dan juga terjal, masalah ini memengaruhi pula pada akses transportasi masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi seperti sepeda motor ataupun mobil bak terbuka, walaupun pada kenyataannya sebagian penduduk di setiap dusun rata-rata telah memiliki kendaraan yang kebanyakan merupakan sepeda motor, tetapi bagi penduduk yang tidak memiliki kendaraan mau tidak mau harus menempuh perjalanan antar dusun dengan berjalan kaki.

[alert style=”white”] foto: rekompakjrf.org, referensi: wikipedia [/alert]

Karinding AWI Sakti

Karinding AWI Sakti

Karinding AWI Sakti perform 4 November @cimaragas city

AWI GALUH LEUWEUNG SILIWANGI, Teu Paduli Batur Rek Ngomong Kampungan Atawa Naon , Nu Penting Generasi SUNDA Kudu Bisa Ngalestarikeun Kabudayaan Lokal.
[alert style=”white”] foto: Facebook Page Karinding AWI Sakti [/alert]
Ritual Bentang Boeh Larang

Ritual Bentang Boeh Larang

Ritual Bentang Boeh Larang adalah ritual pada masyarakat adat Geger Sunten Ciamis. Ritual ini dilakukan dengan membentangkan kain putih (kain kafan) ukuran 2 x 3 dan setiap sudutnya dipegang oleh wanita yang sudah menopause. Ritual itu mengandung makna borojol suci, mulihna ge suci. Artinya manusia itu lahir dan matinya harus suci.

Pemuliaan Nilai Kearifan Lokal

Oleh: Pandu Radea
Ketua Litbang Seni dan Sejarah Komunitas Sangkala Ciamis

Matahari belumlah tinggi. Tapi panasnya mulai menyengat. Padahal di musim hujan ini, langit di atas Geger Sunten, Desa Sodong, Kecamatan Tambaksari, Kab. Ciamis, biasanya selalu digayuti awan tebal. Tentu saja, ini pertanda baik bagi Masyarakat Adat Geger Sunten yang akan melaksanakan Adat Seren Taun, Sabtu, 25 September 2011 lalu. Prosesi ritual seren taun yang diselenggarakan oleh masyarakat adat Geger Sunten dipusatkan di halaman rumah Abah Tasim selaku sesepuh adat. Di halaman rumahnya yang sudah diberi peneduh untuk tetamu, lengkap dengan panggung yang berisi gamelan degung. tampak empat sasajen yang berisi berbagai hasil bumi dihiasi dengan hiasan janur. Sasajen ini merupakan adeg-adeg dari pucuk, kembang, buah, dan beuti. Hal tersebut merupakan simbol dari kesuburan.

Sementara di sisi lainnya, sebuah kotak besar yang merupakan leuit berukuran kecil tampak ditutupi oleh kain hitam. Leuit ini menurut literatur di masyarakat adat, disebut juga Leuit Ratna Inten, Si Jimat atau Leuit Indung. Menurut Iing Wargi, ketua adat Geger Sunten, leuit itu merupakan tempat untuk ngaruwat Pohaci. Di dalamnya tersimpan dua jenis padi yang disebut pare indung yang ditutup dengan kain putih dan pare abah yang ditutup dengan kain hitam. Kedua padi itu merupakan benih unggulan hasil panen masyarkat yang diserahkan kepada ketua adat. Benih yang sudah diberkati ini disimpan di dalam leuit untuk dijadikan bibit padi untuk ditanam di musim tani berikutnya. Rangkaian sakral di atas secara umum disebut Ngajayak.

Pukul 08.00 WIB, ritual adat yang dihadiri oleh masyarakat Geger Sunten dan tamu undangan baik dari beberapa kecamatan di Ciamis maupun dari kabupaten lain seperti Garut dan Bandung dibuka dengan biantara sesepuh adat. Hadir pula Barisan Olot Tatar Galuh bersama Drs. H. Eka Santosa yang menjadi sekjen Masyarakat Adat Tatar Sunda. Termasuk beberapa juru kunci situs sejarah yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Geger Sunten dan Galuh, seperti Ki Oyon (kuncen karamat Aki Balangantrang Cisaga) , Aip Sarifudin (Jupel Situs Apun Pagergunung) dan utusan dari Komunitas Sangkala Kawali yang diwakili oleh R. Ega Anggara Kautsar, Iip Smok, Andri dan Kiki juga tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi.

Iing Wargi medar bahwa ada beberapa proses adat yang dianggap sakral sebagai bentuk penghormatan terhadap padi seperti mitembeyan, beukah pare, nyalin, ngajayak, ngelep, dan nganyaran. Semuanya merupakan rangkaian ketika padi mulai ditanam, berbuah, dipanen, dikeringkan, disimpan, dan diolah menjadi beras.

Proses tersebut secara alami adalah bentuk pemuliaan ketaatan terhadap padi. Karena dalam paradigm spiritual masyarakat agraris Sunda klasik, padi tidak sekadar bahan pangan utama, tetapi juga diyakini memiliki nilai sakral yang dikaitkan dengan pemahaman religi yang diwariskan oleh para leluhur. Kesucian padi dikaitkan dengan asal-usulnya yang memiliki hubungan dengan para dewa dan dewi, terutama Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

Ada satu bentuk ritual lain yang membuat seren taun di Geger Sunten menjadi berbeda dengan di tempat lain. Yaitu ritual Bentang Boeh Larang, yakni membentangkan kain putih dengan ukuran 2 x 3 dan setiap sudutnya dipegang oleh wanita yang sudah menopause. Ritual ini dipimpin oleh Abah Ali yang bertindak sebagai pemangku adat seren taun. Setelah selesai medar piwuruk dan memanjatkan doa, bentangan kain itu dibawa menuju pasir keramat Geger Sunten yang letaknya 400 meter dari lokasi upacara seren taun untuk berziarah dan napak tilas. Ritual itu menurut Abah Ali, mengandung makna borojol suci, mulihna ge suci. Artinya manusia itu lahir dan matinya harus suci.

Istilah Seren Taun berasal dari kata seren yang artinya menyerahkan, dan taun (tahun). Jadi Seren Taun mengandung arti serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dan pelaksanaan tahun ini berkaitan juga untuk menyambut tahun baru hijriah 1 Muharram 1433 H. Arti yang lebih spesifik lagi, upacara seren taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung, atau dalam bahasa Sunda disebut leuit.

Sebetulnya kegiatan Seren Taun yang diselenggarakan di Geger Sunten ini baru terbuka untuk umum dalam tiga tahun terakhir ini. Awalnya cenderung dilaksanakan secara tertutup hanya di kalangan adat saja. Namun semenjak Geger Sunten ditetapkan sebagai situ sejarah, kegiatan ini mulai terbuka untuk disaksikan oleh umum.

Sementara itu Eka Santosa menyatakan bahwa kekayaan sejarah dan budaya Kabupaten Ciamis ini harus lebih ditanggapi serius. “Kepariwisataan Ciamis itu jangan hanya dijadikan komoditas saja tanpa memperkuat kearifan lokalnya. Dan yang dibangun itu tata nilainya dulu, bukan visualnya,” ujar Eka yang saat ini tengah mensosialisasikan program Duta Sawala yang berkaitan dengan penjagaan/pemeliharaan, pemberdayaan potensi SDA/SDM, dan advokasi terhadap kearifan lokal.

Sedangkan R. Ega Anggara dari Komunitas Sangkala Kawali, menyatakan bahwa kegiatan seren tahun ini penting untuk dikenalkan kepada generasi muda saat ini. “Banyak yang dapat dipelajari dari kegiatan ini, antaranya adalah belajar menghargai alam dan sejarah. Adanya adat seren taun di Geger Sunten ini, semakin memperkaya dan menegaskan Kabupaten Ciamis yang sarat dengan nilai lokal. ” ujar Ega.

IIp Smok, salah satu pengelola even organizer asal Kawali juga mengatakan bahwa mungkin saja suatu saat kegiatan seren taun di Geger Sunten ini akan menjadi potensi wisata seperti halnya seren taun di Cigugur Kuningan, jika dikelola dengan benar dan tepat. Kegiatan seren taun itu merupakan pembelajaran penting bagi Komunitas Sangkala yang akan menyelenggarakan Kegiatan Gelar Budaya Purna Kala pada akhir Desember 2011 nanti. ***

[alert style=”white”]foto: Edwin Syahrizal, referensi:  kabar-priangan[/alert]

Situs Singaperbangsa III

Situs Singaperbangsa III

Situs singaperbangsa III dari kerajaaan galuh kertabumi yang sudah masuk islam cisaga yang menurunkan bupati pertama karawang singaperbangsa IV.

[alert style=”white”]foto: Eman Hermansyah Sastrapraja, PANGAUBAN GALUH PAKUAN[/alert]