Kabupaten Pangandaran Masuk Daerah Otonom Baru

Kabupaten Pangandaran Masuk Daerah Otonom Baru

Jakarta Komisi II DPR RI bersama pemerintah (Kemendagri) menyepakati usulan lima Daerah Otonom Baru (DOB). Keputusan pemekaran wilayah itu diambil berdasarkan usulan dari daerah kepada pemerintah.

“Ini usulan DPR, tapi moratorium sebagai sebuah permintaan. Kami didesak oleh publik, (pemekaran) ini yang kami bahas. Kami tetap merujuk perundang-undangan yang ada. Dari 19 (daerah yang diusulkan dimekarkan), 5 yang memenuhi syarat. Walaupun ada pemekaran, jumlahnya terbatas,” kata Mendagri Gamawan Fauzi usai rapat dengan Komisi II di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin, (22/2012).

Lima Daerah Otonom Baru itu adalah Provinsi Kalimantan Utara, Kabupaten Pangandaran di Jawa Barat, Kabupaten Manokwari Selatan dan Kabupaten Pengunungan Arfak di Papua Barat, serta Kabupaten Pesisir Barat di Lampung.

Menurutnya, keputusan pemekaran yang ditetapkan pemerintah dan komisi II DPR ini setelah juga mempertimbangkan dengan pelaksanaan pemilu yang akan digelar di daerah bersangkutan. Daerah otonomi yang baru itu baru bisa memiliki DPRD setelah 3 tahun.

“(Pembentukan) DPRD setelah Pemilu (2014), jadi mereka akan memilih kepala daerah setelah 3 tahun. Setelah anggota DPRD terpilih, baru tahun 2015 boleh pemilukada,” terang mantan Gubernur Sumatera Barat itu.

Selama proses pembentukan pemerintahan itu, menurut Gamawan, ia akan tetap mengawal dalam masa transisi, seperti pemindahan aset daerah dan persiapan pembentukan pemerintahan.

“Evaluasi tetap dilakukan, kami berikan panduan kepada daerah agar segera menyerahkan aset, kalau tidak pemerintah pusat bisa menghukum. Ada persiapan selama 3 tahun. Tahun pertama, perda belum ada, pendapatan belum adan DPRD belum ada. Kami akan tetap ketat, idealnya tolong diselesaikan UU Pemerintahan Daerah,” kata Gamawan.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPR Agun Gunandjar Sudarsa usai rapat, menyatakan bahwa keputusan itu diambil setelah lobi antara komisi II DPR, Mendagri dan DPD RI.

“Dari usulan sembilan DOB, lobi antara Komisi II, Mendagri dan DPD RI menyepakati lima DOB,” kata Agun.

“Kelima DOB baru itu akan dibawa ke Rapat Paripurna 25 Oktober,” imbuhnya.

Ketua DPRD Papua Barat Yosep J Auri, yang hadir dalam rapat dengan komisi II dan Mendagri, menyatakan ucapan terima kasih kepada pemerintah dan Pansus DOB Baru yang telah memasukan dua kabupaten di propinsinya, Papua Barat.

“Dengan kesepakatan ini, provinsi dan kabupaten harus mendukung penuh, kami DPR Papua Barat harus mendukung Undang-undang yang berlaku,” kata Yosep. Ia datang karena dua kabupaten yang disepakati berada dalam wilayah Papua Barat, yaitu Kabupaten Manokwari Selatan dan Kabupaten Pengunungan Arfak.

[alert style=”white”]referensi: detik[/alert]

Bulaksetra Bakal Jadi Tempat Wisata

Bulaksetra Bakal Jadi Tempat Wisata

Wakil Bupati Iing Syam Arifin menyalami salah satu warga desa babakan dalam acara Sosialisai Pembangunan Bulaksetra menjadi Kawasan Objek Wisata Pendidikan yang berbasis Ekosistem, Esensial, dan Konservasi di PPI Pelabuham Cikidang Dusun Kalapatiga Desa Babakan siang tadi (04/10/12).

Dalam pidatonya Wakil Bupati menyampaikan harapan kepada seluruh masyarakat desa babakan kecamatan pangandaran agar dapat bekerja sama dan berpartisipasi dalam mengembangkan kawasan pantai bulak setra sebagai kawasan lindung hijau dan mengembangkan pariwisata berbasis pendidikan,

Selain dihadiri wakil bupati kegiatan ini juga dihadiri oleh Camat Pangandaran Dedi Mudyana ,Ketua Komite DMO H. Supratman, Kepala Desa Babakan Endang suherdi, dan dihadiri oleh perwakilan komponen masyarakat desa babakan.

Dalam acara ini juga dilakukan dialog interaktif antara warga desa babakan dengan wakil bupati dalam upaya menjadikan kawasan pantai bulak setra Desa Babakan Kecamatan Pangandaran sebagai kawasan lindung hijau dan mengembangkan pariwisata pendidikan berbasis  Ekosistem, Esensial, dan Konservasi

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com[/alert]

Menunggu Geliat Sepakbola Ciamis

Menunggu Geliat Sepakbola Ciamis

Panasnya hari kamis siang menjelang sore itu tidak menyurutkan langkah orang-orang untuk berkumpul dan membuat kegaduhan di sekitar stadion Galuh. Atribut berwarna biru terlihat mendominasi. Kabar akan datangnya tamu yang cukup diistimewakan ini telah menyebar lewat media dan menjadi objek bahasan penduduk lokal beberapa minggu terakhir. Dengan kemajuan teknologi di era seperti ini, kedatangan Tim Persib Bandung ke stadion kebanggaan masyarakat Ciamis ini seperti wabah yang dengan mudah tersebar, dari ujung utara sampai ujung kidul kabupaten.

 

Ciamis memang daerah yang sebenarnya sangat giat bersepakbola. Jika kita rajin mengikuti dan berinteraksi dengan masyarakat sepakbola di sini, maka kita akan menemukan kultur yang justru berbeda dengan kota lain, termasuk Bandung misalnya.

Ciamis selalu saja menggelar sebuah turnamen antar kecamatan se kabupaten. Ini berarti, semua kecamatan yang terbentang dari panjalu di utara sampai Pangandaran dan Cimerak di selatan berkompetisi menjadi yang terbaik di sini, dan fanatisme fans menjadi bagian yang tak terpisahkan. Turnamen yang di Bandung sendiri belum pernah kembali diwacanakan untuk digelar kembali.

Rentang alam yang luas dan belum banyak memiliki bangunan di dalamnya menciptakan banyak sekali lahan terbuka di Ciamis. Kecuali di kota Bandung, seperti kondisi ini juga dimiliki oleh kabupaten lain. Satu lapangan sepakbola di setiap kelurahan, sebenarnya menjadi potensi Ciamis dan seharusnya menjadi potensi di seluruh kabupaten di Jawa Barat.

PSGC adalah sebuah tim sepakbola perwakilan kabupaten ini tanpa pernah menyentuh level tertinggi sepakbola di negeri ini. Perjuangan PSGC di musim lalu misalnya hanya sampai di Divisi 1 PSSI. Dan ini menambah panjang catatan perjuangan sepakbola mereka. Namun, perjuangan ini patut diapresiasi karena mereka berani terus menjaga asa untuk bersaing, menunjukan eksistensi, dan memperlihatkan bahwa mereka senantiasa concern terhadap perkembangan pemain binaan sendiri.

Kedatangan tim Persib Bandung memang diakui beberapa masyarakat yang ditemui adalah sebagai hiburan bagi kota yang perkembangannya memang terlihat lambat ini. Tiket seharga tiket stadion Siliwangi atau Si Jalak Harupat saat Persib bertanding pun tidak menjadi masalah untuk melepas dahaga mereka untuk mendapatkan hiburan, sekaligus menatap para pemain idolanya berlaga di lapangan.

Jauh hari, setelah tiket dijual resmi, bobotoh dari berbagai kalangan telah mendapat tiket pertandingan. Seorang anak SMP pun terlihat bangga telah memiliki tiket untuk pertandingan ini. Budaya yang harus dilestarikan dan dijaga, yaitu budaya bangga menonton tim kesayangan dengan cara membeli tiket. Budaya yang sebenarnya sudah sedikit meluntur di tempat lain.

Bagi seorang Heri Rafni Kotari, ikon sepakbola Kabupaten Ciamis, pengangkat piala Liga Indonesia kedua bersama Bandung Raya, pemain yang juga sempat berbaju Persib, kedatangan tim Maung Bandung ke Ciamis bukan hanya dipandang sebagai hiburan semata. Heri yang juga menjabat Ketua Pengcab PSSI Ciamis ini mengakui, Persib mempunyai semacam ruh yang bisa dihembuskan kepada anak-anak dan remaja. Kedatangan Persib bagi Heri diharapkan mampu membuat semangat anak-anak kota Ciamis untuk bermain bola lebih terangkat.

Mungkin seperti halnya harapan semua pecinta bola di Ciamis, Hari mengharapkan bahwa suatu saat mereka akan bermain di level tertinggi sepakbola di tanah air. Semoga.

[alert style=”white”] referensi: cimamaung [/alert]

Ke Ciamis, Rombongan PERSIB Tinggalkan Bandung

Ke Ciamis, Rombongan PERSIB Tinggalkan Bandung

Tim PERSIB berangkat menuju Ciamis Kamis (11/10) dengan menggunakan bus. Tim bertolak dari Mes PERSIB Jl. Ahmad Yani Bandung pukul 8.00 WIB menuju Hotel Tyara tempat dimana PERSIB akan menginap.

Bila perjalanan tidak mengalami kendala, setibanya di Ciamis, tim akan menggelar latihan sore sekaligus uji coba lapangan sebelum melakukan pertandingan persahabatan di Stadion Galuh Jumat (12/10).

Berangkat ke Ciamis, pelatih Djadjang Nurdjaman membawa 25 pemain dari rencana hanya 23 orang. Djadjang mengatakan, dirinya sengaja membawa seluruh pemain yang saat ini sedang magang di PERSIB untuk bisa memantau perkembangan dari pemain muda tersebut.

“Ya untuk pemain muda sendiri sengaja saya bawa semua agar bisa kita lihat sejauh mana nanti peningkatannya,” ujar Djadjang yang ditemui di mes PERSIB sebelum berangkat.

[alert style=”white”]referensi: persib.co.id[/alert]

2013, Pangandaran Mekar Jadi Kabupaten “Pariwisata”

2013, Pangandaran Mekar Jadi Kabupaten “Pariwisata”

Pangandaran memiliki banyak potensi pariwisata yang belum digali secara maksimal. Dorongan untuk menjadikan Pangandaran sebagai kabupaten “pariwisata” pun muncul.

Secara geografis, Pangandaran terletak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang terkenal dengan keindahan alamnya. Beberapa yang menjadi kebanggaan, seperti Green Canyon, Batu Karas, Goa Jepang, Taman Wisata Alam Panjanjung, dan lainnya.

Pelaku industri pariwisata Pangandaran ternyata memandang bahwa potensi wilayah yang berada di bagian selatan Jawa Barat dan tepi Samudera Hindia ini belum dieksplorasi dengan baik. Lantas muncul keinginan untuk memekarkan Pangandaran sebagai kabupaten “pariwisata”.

“Saking tidak sabarnya karena kami karena selalu mentok dengan kebijakan Ciamis. Kami ingin berdiri sendiri jadi kabupaten sendiri,” kata Supratman, Ketua Destination Management Organization (DMO) Pangandaran pada diskusi bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Pangandaran, Jawa Barat, baru-baru ini.

Supratman menambahkan, masyarakat Pangandaran sudah siap untuk semakin membesarkan potensi daerahnya. Mereka bahkan mendambakan sekali, katanya. Proses pengesahan dengan undang-undang dan keputusan presiden rencananya akan dilakukan pertengahan Juli 2012. Bila tidak terjadi perubahan, Januari 2013 akan menjadi babak baru bagi warga Pangandaran.

Selain potensi alam, nilai jual yang menjadi sumber pendapatan Pangandaran lainnya, adalah sektor pertambangan, pertanian-perkebunan, dan kehutanan. Di sektor perkebunan, seperti dicontohkan Supratman, Pangandaran menjadi pemasok 50 persen kebutuhan gula merah di Jawa Barat. Produksi gula merah bisa mencapai 500 ton atau sepadan dengan sejuta butir sehari.

“Kami unggulkan wisata alam dan budaya. Wisata budaya ada dari budaya nelayan, seperti hajat laut, ronggeng gunung, wayang golek, wayang kulit, kuda lumping, alat musik jidur, kerajinan masyakarat, banyak lagi,” jelasnya.

Supratman mengakui, potensi alam tidak cukup untuk menjadikan Pangandaran sebagai destinasi pariwisata turis mancanegara.  Infrastruktur jalan, pengaturan pedagang kaki lima, kemampuan sumber daya manusia, dan kebersihan lingkungan menjadi tantangan lainnya.

“Pangandaran ibarat gula, semut banyak datang dari mana-mana. Tantangannya adalah kami harus lebih maju, perlu keahlian,” imbuhnya.

“Kami telah melakukan studi banding; kelebihan Kabupaten Ciamis akan kami pakai dan kelemahannya kami buang. Kami juga belajar dari daerah yang mampu mengelola potensi alam dan dananya. Dengan banyak orang datang, kami punya hotel, restoran, pasar tradisional, yang pasti akan memberi hasil,” harapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis Sobar Sugema menandaskan tantangan perlunya semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat Pangandaran akan potensi pariwisata yang bisa digalinya. Apalagi, katanya, bencana tsunami pada 2006 lalu masih menyisakan traumatik bagi para investor.

“Seiring pertumbuhan masyarakat, perlu untuk menumbuhkan kepada mereka, ini (aktivitas keseharian-red) bisa dijual. Masalahnya, mereka tidak berpikir panjang, hanya menjawab kebutuhan hari ini,” sahutnya pada kesempatan yang sama.

“Dengan ada tsunami, investor sulit masuk, kita harus promosikan, masyarakat Pangandaran harus bisa meyakinkan dengan pariwisatanya,” tutupnya.

[alert style=”white”]referensi: okezone, ilustrasi: mypangandaran.com[/alert]

Batik Ciamisan, Bersahaja Tetapi Elegan

Batik Ciamisan, Bersahaja Tetapi Elegan

Kesahajaan merupakan ciri khas batik ciamis. Warna hitam, putih, dipadu coklat kekuningan, begitu menonjol pada motif batik daerah ini. Ragam hias batik ciamisan bernuansa naturalistik, banyak menggambarkan flora dan fauna serta lingkungan alam sekitar.

Kesederhanaan corak batik ciamis tak lepas dari sejarah keberadaannya yang banyak dipengaruhi daerah lain, seperti ragam hias pesisiran dari Indramayu dan Cirebon. Selain itu, pengaruh batik nonpesisiran, seperti dari Solo dan Yogyakarta, tak kalah dominan.

Pengaruh dari wilayah pesisir dan nonpesisir yang berpadu dengan nilai-nilai budaya Sunda dan kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Ciamis melahirkan ragam motif batik ciamisan yang sesuai dengan gaya dan selera masyarakat setempat, bersahaja tetapi elegan.

Alhasil, corak batik ciamisan tidak memiliki makna filosofi, perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat. Kesederhanaan itu tertuang dalam bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari.

Motif alam sekitar yang banyak dijumpai dalam batik ciamisan adalah rereng atau lereng. Motif yang menggambarkan tebing miring ini dipengaruhi motif parang pada batik Jawa Tengah. Motif lain adalah kumali, berupa empat bentuk yang mengelilingi pusat, dan cupat manggu, motif geometris bergambar buah manggis.

Masa keemasan batik ciamis berlangsung pada era 1960-an hingga awal 1980-an. Dari sekitar 1.200 perajin batik di Ciamis waktu itu, 421 perajin di antaranya menjadi anggota Koperasi Rukun Batik yang berdiri tahun 1939.

Koperasi itu dapat memenuhi segala kebutuhan perajin batik, mulai dari bahan baku sampai pemasaran produk. Rukun Batik berhasil membeli sejumlah aset, bahkan mendirikan pabrik kain bahan baku batik di Jalan Sudirman, Ciamis.

Namun, tahun 1980-an pamor batik ciamisan tenggelam, terlibas kemajuan industri tekstil yang menghasilkan batik cetak (“printing”). Kondisi itu diperparah dengan letusan Gunung Galunggung tahun 1982 yang menyebabkan matahari nyaris tidak tampak selama setahun akibat debu vulkanik yang tak henti menyembur. Para perajin tak bisa menjemur batik karena tidak ada cahaya matahari.

Dari ribuan perajin batik yang pernah jaya pada 1960-an, kini hanya tersisa satu unit usaha yang masih berproduksi. Pabrik sekaligus markas Koperasi Rukun Batik sudah lama berhenti beroperasi. Lahan di depan pabrik kini berubah fungsi menjadi rumah petak yang dikontrakkan.

[alert style=”white”]referensi: kompas[/alert]