Oktober, Persib Gelar TC di Stadion Galuh Ciamis

Oktober, Persib Gelar TC di Stadion Galuh Ciamis

Tim Persib Bandung mengundur agenda pemusatan latihan atau training center (TC) di Ciamis. Semula, headcoach Persib Jajang Nurjaman sudah mengumumkan akan memulai TC pada 7 Oktober, namun diundur menjadi 11-18 Oktober. -simamaung 02/10/2012

Rencana Persib menggelar pemusatan latihan atau training center (TC) di awal bulan Oktober, nampaknya akan segera terealisasi. Hal itu didapat setelah pelatih kepala Maung Bandung Djadjang Nurdjaman menjatuhkan pilihan lokasi di Ciamis.

“Ya kita akan melakukan TC di Ciamis nanti,” kata Djadjang di Mes Persib Jalan Ahmad Yani Kota Bandung, Rabu (26/9/2012).

Djanur mengatakan dipilihnya Kabupaten Ciamis karena dapat memenuhi kriteria seperti yang diharapkan. Seperti faktor lapangan dan cuaca panas yang memang dibidik mantan asisten Pelita Jaya Karawang itu.

“TC nanti akan kita laksanakan di Stadion Galuh. Selain pertimbangan lapangan, kondisi cuaca panas menjadi pilihan untuk melakukan TC di Ciamis,” ucapnya.

Sebelumnya, Kota Cirebon sempat menjadi pertimbangan Maung Bandung menggelar TC. Namun karena berbagai pertimbangan, akhirnya Djanur lebih memilih Ciamis.

[alert style=”white”]referensi: inilahjabar[/alert]

Seminar IT Bareng Onno W Purbo di Gelar di Cijulang

Seminar IT Bareng Onno W Purbo di Gelar di Cijulang

Ratusan Murid sekolah tingkat SLTP dan SLTA se-Pangandaran mengikuti seminar yang bertajuk “GALOW IT” dengan tema OPEN BTS dan TECHNOPRENEUR bersama Onno W. Purbo dan Adi Sumaryadi selaku pakar dibidang IT di Gedung Dakwah Nusa Gede Kecamatan Cijulang (22/10/12).

Dari judul kegiatan “GALOW IT” yang sedikit berlebihan dan membuat penasaran, sekilas berkesan negatif dan membuat penasaran bagi sebagaian orang yang belum memahami maksud dan tujuannya, namun  “GALOW IT” adalah singkatan dari “Gaul Ama Onno W Purbo seputar dunia IT”.

Dari Kegiatan ini menggunakan judul bahasa gaul, memang ditargetkan untuk anak-anak SMA dan mahasiswa serta komunitas-komunitas anak muda di Pangandaran untuk lebih memahami apa itu dunia IT dan kegunaanya ungkap Dadang Panitia Pelakasana Seminar.

Onno W Purbo, atau yang akrab disebut Kang Onno adalah pakar IT yang namanya sudah tidak asing di Indonesia dan mancanegara, dalam kesempatan ini datang ke Pangandaran untuk berbagi ilmu kepada para siswa di Pangandaran, dengan guyonan khas kang Onno pun langsung akrab dengan para peserta seminar yang kebanyakan para siswa sekolah di kecamatan pangandaran dan cijulang.

Antusias para siswa yang kebanyakan dari jurusan TIK dan Mutlimedia dari berbagai sekolah Negeri dan Kejuruan di pangandaran dalam mengikuti seminar IT ini patut diacungi jempol, mereka rela berbondong-bondong mendatangi Gedung Dakwah Nusa Gede Kecamatan Cijulang demi belajar sambil mendengarkan seminar akbar dengan pembicara IT yang sudah punya nama di Indonesia.

 [alert style=”white”]referensi: mypangandaran [/alert]
SMKN 1 Ciamis Ciptakan Roti Esemka

SMKN 1 Ciamis Ciptakan Roti Esemka

Mengenalkan kewirausahaan kepada siswa, SMKN 1 Ciamis memproduksi makanan berbahan tepung, akhir pekan lalu. Kuliner hasil racikan sendiri oleh siswa diberi nama roti esemka. Roti beraroma khas itu dari sisi kualitas tak jauh beda dengan penganan sejenis yang terpajang di toko kue dan supermarket.

Kepala Sekolah SMKN 1 Ciamis Hadi Sumantoro mengatakan, dalam beberapa kurun waktu terakhir, siswa telah berhasil memproduksi roti dan menarik pelanggan. Roti dengan berbagai rasa, seperti coklat, buah beri, keju, pisang, baso, dan lain-lain, laris manis dipesan konsumen.

“Memang saat ini masih dijual terbatas. Namun, seiring dengan meningkatnya permintaan, direncanakan akan diproduksi
massal,” ujar Hadi.

Hadi menuturkan, agar siswa lebih menguasai soal kewirausahaan, para pengajar telah membekali siswa dengan kemampuan manajemen.

SMKN 1 Ciamis juga telah menerima bantuan sejumlah peralatan tata boga dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bantuan tersebut diantaranya mesin pembuat es krim, mixer besar, alat pemanggang, dan oven. Total bantuan tersebut mencapai Rp 150 juta.

“Kami berharap dengan bantuan peralatan itu kualitas siswa akan kian meningkat. Selain itu, untuk pemasarannya akan semakin luas. Namun, tentunya dengan bantuan berbagai pihak,” kata Hadi.

Dikatakan Hadi, saat ini kemampuan para siswa dan peralatan sudah memadai untuk melakukan produksi massal, ditambah 3 orang guru untuk belajar ke perusahaan tepung Bogasari selama 2 minggu agar bisa menghasilkan roti dengan aroma dan rasa yang tidak kalah dengan roti ternama.

Agar produk siswa terserap, Hadi mengharapkan, bisa terjalin kerja
sama dengan jasa katering-
katering yang ada di Ciamis.
Ketika ada acara dapat memesan makanan kepada para siswa yang tengah belajar.

“Apabila ada kegiatan bisa memesan ke SMKN 1 Ciamis. Jadi, tidak hanya mendorong siswa dalam sisi produksi, tetapi juga bagaimana pemasaran. Serta perhitungan laba rugi. Intinya, kami mempersiapkan siswa untuk dapat terjun ke dunia kerja sekaligus untuk menciptakan lapangan usaha di masyarakat,” kata Hadi. E34***

[alert style=”white”]referensi: kabar-priangan[/alert]

Permintaan Abon, Dendeng dan Mustopa Naik 8 Kali

Permintaan Abon, Dendeng dan Mustopa Naik 8 Kali

Abon sapi khas Ciamis termasuk yang banyak dicari  para pemudik yang berburu oleh-oleh. Lihat saja outlet abon sapi dan mustopa Rajawali di Komplek Ruko Perumahan Puri Garden Asri di sisi Jalan Raya Ciamis-Banjar (km 2,5)  blok Zamzam, maupun di pabriknya Jalan Rancapetir. Selama seminggu liburan Lebaran ini nyaris tak pernah sepi dari pembeli.

“Alhamdulillah selama seminggu ini ramai terus, apalagi hari Rabu (22/8/2012) paling ramai. Hari Minggu ini masih banyak yang belanja,” ujar Novi Mustika Dewi, generasi ketiga pengelola abon asli Rajawali kepada Tribun, Minggu (26/8/2012).

Dibandingkan dengan hari libur biasa, kata Novi, permintaan abon, dendeng, maupun mustofa (irisan kentang goreng kering) selama liburan lebaran ini meningkat sampai delapan kali lipat. “Terutama abon. Yang paling banyak dicari memang abon. Tiap hari rata-rata habis sekitar 80 kg abon, dendeng sekitar 50 kg sementara permintaan mustofa banyak juga sampai 65 kg. Mustofa banyak yang beli sebelum lebaran,” katanya.

Menurut Novi, dari dua outlet tempat penjualan abon sapi Rajawali yang dikelolanya, outlet di komplek Ruko Perumahan Garden Asri di Jalan Raya Ciamis-Banjar, paling banyak dikunjungi pembeli. “Mungkin karena dekat dengan jalur mudik, persis disisi jalan raya, jadi mudah didatangi. Tapi yang ke rumah juga banyak yang datang, terutama para pelanggan,” ujarnya.

Dibandingkan dengan liburan Lebaran tahun lalu, kata Novi, omzet penjualan abon maupun dendeng Rajawali racikan bumbu warisan Hj Iloh (alm), tahun ini meningkat tajam.

Menghadapi lonjakan permintaan untuk liburan Lebaran tahun ini, kata Novi, ia telah menghabiskan sekitar 1,5 ton daging sapi untuk dibuat abon dan dendeng. Dengan dibantu lima pekerja, 1,5 ton daging sapi pilihan tersebut diolah jadi abon dan dendeng.

“Saat membuat abon itu daging sapinya pas lagi-lagi mahalnya. Seminggu menjelang lebaran, harga dagingnya sudah Rp 80.000 per kg. Setelah lebaran, sampai hari ini harga daging sapi masih mahal, belum normal kembali masih diatas Rp 80.000 per kg,” ujar Novi.

Lantaran harga daging sapi cukup mahal, harga abonnya pun kata Novi terpaksa disesuaikan yakni Rp 190.000 per kg, baik itu abon curah maupun yang sudah dikemas,  sedangkan dendeng Rp 180.000 per kg. Sementara mustofa (irisan kentang gore-ng kering balado) Rp 85.000 per kg.

“Ini sih untuk oleh-oleh buat rekan kerja di Bandung,” ujar Ahmad Soleh, pekerja swasta di Bandung, sembari menenteng  dua kantong besar berisi dendeng sapi abon Rajawali.

Salah seorang konsumen membeli abon sapi Rajawali di Komplek Ruko Perumahan Puri Garden Asri di sisi Jalan Raya Ciamis-Banjar, beberapa waktu lalu. Selama liburan Lebaran ini abon sapi khas Ciamis itu banyak diburu pemudik untuk oleh-oleh.

[alert style=”white”]referensi: tribunnews[/alert]

Ngabuburit di Jembatan Cirahong

Ngabuburit di Jembatan Cirahong

SAAT bulan Ramadan seperti sekarang, Jembatan Cirahong yang berada di perbatasan Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, dengan Kecamatan Manonjaya di Kabupaten Tasikmalaya, menjadi lokasi ngabuburit warga. Tak hanya dari dua kebupaten tersebut, warga datang juga dari daerah tetangga seperti Kota Banjar.

Seperti terlihat Selasa (7/8), sejak pukul 16.00 warga sudah berdatangan ke Cirahong untuk melihat kereta api melintas di atas jembatan. Biasanya kereta muncul pukul 16.30 jika tidak ada halangan. Ada juga yang muncul saat sekitar pukul 18.00, sehingga kereta yang lewat pada jam ini kerap dijadikan patokan telah tibanya waktu untuk berbuka.

Suara khas kereta di atas, serta alunan irama dari bilah-bilah kayu jembatan yang dilewati mobil dan motor di bagian bawah, menjadi irama khas Cirahong. Suara tersebut berpadu, menyusun nada unik yang mengundang banyak masyarakat untuk menyambanginya.

Tak terkecuali bagi Ade Juhayana dan rekan-rekannya dari Divisi Anak Muda Pecinta Alam (Dampal) SMA Pasundan Tasikmalaya. Mereka sengaja ngabuburit di Cirahong. Ramlay, panggilan akrab Ade, menjajal ekstrimnya jembatan dengan cara berlatih memanjat.

Menurutnya, bergelantungan pada seutas tali di bawah jembatan yang panjangnya mencapai 202 meter dan di atasnya ada kereta api lewat, punya sensasi yang sangat berkesan. Saat ada kereta api lewat jembatan terasa bergoyang. Alunan khas kayu yang terlintasi kendaraan menambah suasanya lebih berbeda. “Itu yang kami tunggu-tunggu, saat bergelantungan dan kebetulan ada kereta lewat ini anugerah luar biasa,” kata Ade.

Kipli, Raden, dan Tiwan, yang merupakan senior Ade, merasakan betul dengan bergelantungan di atas jembatan sangat tidak terasa. “Ujug-ujug poek we teu karasa nyerelekna,” ujar Tiwan.

Soal makanan untuk berbuka, jangan khawatir. Karena banyaknya warga yang ngabuburit, banyak pula pedagang makanan. Cirahong pun berkembang menjadi lokasi ngabuburit yang menyenangkan. Tak heran, pemandangannya yang khas banyak dijadikan obyek fotografi.
Petang kian menjelang, pengunjung berangsur pulang. Masih ada kereta yang akan lewat esok hari… (Abdul Latif/ ”KP”)***

[alert style=”white”]referensi: kabarpriangan[/alert]

Gorengan Komar, Kuliner Rakyat Legendaris

Gorengan Komar, Kuliner Rakyat Legendaris

Berangkat dari pemikiran ingin menjual makanan yang murah dan bisa terjangkau oleh masyarakat kecil, Komar (68), warga Lingkungan Bojonghuni Kelurahan Maleber Kecamatan Ciamis, membikin ide cemerlang. Dia mencoba menjual gorengan ‘unyil’ dengan harga murah. Ya, gorengan ‘unyil’ itu terdiri dari gorengan tempe, balabala, gehu dan combro dengan ukuran serba kecil.

Memang, jika sepintas dilihat dari ukurannya, sebenarnya tidak lazim dengan ukuran gorengan pada umumnya. Karena sangat kecil. Tapi, apabila sudah dimakan, pasti siapapun akan ketagihan.

Usaha membuat gorengan ‘unyil’ ini dirintis dari tahun 1975. Berawal dari jualan keliling yang setiap malam menyisir sudut jalan Sudirman Kota Ciamis, hingga kini memiliki warung sendiri di Jalan Sudirman Olvado Ciamis, meski masih sangat sederhana. Saking sudah lama bertahan menjajakan gorengan ‘unyil’, warung gorengan ‘komar’ sudah akrab di telinga warga Ciamis kota.

Selama 36 tahun mampu mempertahankan ciri khasnya, membuat warung gorengan ‘komar’ kini tak lagi untuk masyarakat kecil saja, tetapi sudah berbagai kalangan yang singgah ke warung ini. Maka tak heran warung yang buka pada jam 8 malam ini, kerap dibanjiri pembeli, mulai dari penjalan kaki hingga yang turun dari mobil mewah. Warung gorengan komar kini sudah menjadi salah satu icon kuliner di kota Ciamis.

Usaha gorengan ‘unyil’ yang awalnya dirintis oleh Komar ini, kini sudah turun ke generasi keduanya. Ade Oman, (38), anak Komar, sekarang sebagai penurus usaha bapaknya. Menurut Ade, setelah umur Bapaknya sudah hampir menginjak 70 tahun, akhirnya usaha gorengan ‘unyil’ dia ambil alih.

“Bapak udah gak kuat lagi begadang. Karena udah tua. Jadi saya sekarang yang rutin nungguin warung,” kata Ade didampingi istrinya Iis, ketika ditemui HR, di warungnya, pekan lalu. Memang, warung ini buka dari jam 8 malam hingga tengah malam, bahkan tak jarang sampai pagi. Karenanya, si pedagang butuh kondisi tubuh dan energi ekstra, karena harus beradu dengan dinginnya angin malam.

Menurut Ade, selain menjual berbagai macam gorengan yang ukurannya serba ‘unyil’, di warung ini pun menjual aneka makanan lainnya, seperti nasi timbel, goreng ayam, piritan ayam dan pete goreng.

“Kita memadukan gorengan ‘unyil’ ini dengan menu makanan. Hal itu agar gorengan ini tidak hanya untuk cemilan saja, tetapi juga untuk makanan yang dipadukan dengan nasi timbel dan goreng ayam berikut sambalnya,” ujarnya.

Sambal di warung komar ini pun, memiliki ciri khas tersendiri. Ada dua jenis sambal yang dijajakan di warung ini, yakni sambal tomat dan sambal cabe rawit yang dikemas berbeda dengan sambal pada umumnya.

“Sambal yang kita punya, pastinya akan berbeda rasa dan resep dengan sambal lainnya. Sambal ini khusus cuma ada di sini. Kita sengaja membuat sambal dan makanan yang memiliki ciri khas, agar si pembeli selalu ingat dengan warung ini,“ katanya sembari berkelekar.

Menurut Ade, meski warungnya tampak terlihat sederhana, tetapi jika dihitung uang beromzet jutaan rupiah.

“Kalau seluruh dagangan ini terjual habis, kita bisa mendapat uang dikisaran Rp. 1,5 juta. Tetapi kalau dagangan lagi sepi, paling sedikit kita bisa mendapat sekitar Rp. 900 ribu,” katanya.

Saking sudah memiliki banyak langganan dan sudah dikenal masyarakat Ciamis, tak jarang gorengan komar ini kerap mendapat pesanan untuk acara resepsi pernikahan atau acara-acara lainnya.

“Kita sering mendapat pesanan untuk acara hajatan atau rapat. Alhamdulilah, semakin dikenal banyak orang, semakin laris pula dagangan yang kita jajakan,“ ujarnya sembari tersenyum.

Meski dagangannya selalu laris manis, tetapi bangunan warung yang saat ini ditempati masih berukuran gubuk kecil yang sangat sederhana. Pasalnya, tanah diatas bangunan warung tersebut masih berstatus milik orang lain.

“Sebenarnya kita ingin sekali membangun warung ini secara permanen dan dilakukan pelebaran biar pembeli lebih nyaman makan di sini. Tetapi bagaimana lagi, tanah ini milik orang lain. Jadinya kita gak enak kalau warung ini direhab atau diperlebar secara permanen,“ ujarnya.

Saking kecilnya ukuran bangunan warung komar, membuat pembeli harus pasesedek apabila lagi ramai-ramainya kebanjiran pembeli. Pembeli yang datangnya belakangan, terkadang harus rela berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]