Daftar Kecamatan di Kabupaten Ciamis

Daftar Kecamatan di Kabupaten Ciamis

Sejak otonomi daerah diberlakukan pada tahun 2001, Kabupaten Ciamis mengalami pemekaran wilayah menjadi Kabupaten Ciamis dengan 30 kecamatan dan Kota Banjar 4 kecamatan.

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di Kabupaten Ciamis dan untuk mengurangi rentang kendali pemerintahan pada tahun 2006 di Kabupaten Ciamis mengalami pemekaran sebanyak 6 kecamatan, sehingga dari 30 kecamatan menjadi 36 kecamatan.

Begitu juga untuk jumlah desa, selama periode 2007 – 2009, jumlah desa bertambah sebanyak 3 desa. Demikian juga untuk periode yang sama jumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) mengalami penambahan sebanyak 27 Rukun Warga (RW) dan 92 Rukun Tetangga (RT).

No Nama Kecamatan
1 Kecamatan Ciamis
2 Kecamatan Cikoneng
3 Kecamatan Cijeungjing
4 Kecamatan Sadananya
5 Kecamatan Cimaragas
6 Kecamatan Panumbangan
7 Kecamatan Cihaurbeuti
8 Kecamatan Panjalu
9 Kecamatan Kawali
10 Kecamatan Cipaku
11 Kecamatan Panawangan
12 Kecamatan Jatinagara
13 Kecamatan Rancah
14 Kecamatan Cisaga
15 Kecamatan Tambaksari
16 Kecamatan Rajadesa
17 Kecamatan Sukadana
18 Kecamatan Banjarsari
19 Kecamatan Lakbok
20 Kecamatan Pamarican
21 Kecamatan Langkaplancar
22 Kecamatan Pangandaran
23 Kecamatan Kalipucang
24 Kecamatan Padaherang
25 Kecamatan Cijulang
26 Kecamatan Parigi
27 Kecamatan Cigugur
28 Kecamatan Cimerak
29 Kecamatan Sidamulih
30 Kecamatan Cidolog
31 Kecamatan Sindangkasih
32 Kecamatan Baregbeg
33 Kecamatan Sukamantri
34 Kecamatan Lumbung
35 Kecamatan Purwadadi
36 Kecamatan Mangunjaya

[alert style=”white”]referensi: ciamiskab[/alert]

40 Jenis Kesenian Tradisional di Jabar Nyaris Punah

40 Jenis Kesenian Tradisional di Jabar Nyaris Punah

Kesenian tradisional teater dan sandiwara rakyat dari rumpun seni tutur tradisional menjadi bagian dari 10 persen kesenian tradisional yang punah. Tidak kurang dari 40 kesenian tradisional Jawa Barat dari 243 jenis kesenian terancam punah.

“Ada banyak penyebab punahnya kesenian tradisional di Jawa Barat. Selain karena tokohnya meninggal dunia, kesenian sudah tidak mendapat tempat ataupun tidak ditanggap masyarakatnya serta kalah dengan kesenian yang berkembang saat ini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Drs. Nunung Sobari, M.M., dalam paparanya pada acara Forum Diskusi Wartawan Bandung, bertempat di Toko Yu, Jalan Hasanudin Bandung, Rabu (22/2).

Sedangkan kesenian yang terancam punah, ungkap Nunung, kebanyakan berupa seni teater dan sandiwara rakyat, reog, masres dan sebagainya. Dikatakannya, jika tidak ada upaya dari masyarakat maupun pemerintah daerah, seni yang terancam punah ini justru akan punah. Oleh karena itu, lanjut dia, Disparbud Jabar melalui Balai Taman Budaya Jabar melakukan program pewarisan seni dan revitalisasi seni.

Untuk menangani kepunahan sejumlah kesenian tradisional, menurut Nunung, Disparbud Jabar melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) melakukan program revitalisasi dan pewarisan. Program pewarisan yang diselenggarakan sejak tahun 2005 hingga 2011 telah merevitalisasi 11 kesenian tradisional dan tahun 2012 ada tiga kesenian yang masuk program revitalisasi dan 13 kesenian masuk program pewarisan.

Kesenian tradisional yang berhasil direvitalisasi, meliputi kesenian Topeng Lakon (Kab. Cirebon), Gondang Buhun (Kab. Ciamis), Angklung Badud (Kota Tasikmalaya), Parebut Seeng (Kab. Bogor), Goong Kaman (Kab. Bekasi), Cokek (Kab. Bekasi), Gamelan Ajeng (Kab. Karawang), Topeng Menor (Kab. Subang), Randu Kentir (Kab. Indramayu), Seni Uyeg (Kota Sukabumi) dan Ketuk Tilu Buhun (Kota Bandung). “Dari kesebelas kesenian yang punah dan nyaris punah, kesenian Uyeg pada masa kerajaan Padjajaran abad ke 15 yang paling tua, dan tahun ini ada empat yang masuk program revitalisasi,” terang Nunung.

Selain kendala tokoh maupun pelaku seni, menurut Nunung, kendala anggaran menjadi penyebab tersendatnya upaya-upaya pelestarian kesenian tradisional. “Setiap tahunnya Disparbud melalui BPTB Jabar baru hanya mampu menjalankan program revitalisasi antara tiga hingga lima kesenian tradisional, sementara program pewarisan yang baru dilaksanakan tahun 2011 hingga tahun ini direncanakan 23 kesenian,” ujar Nunung.

Namun demikian, menurut Nunung program pewarisan dan revitalisasi yang dilaksanakan Disparbud Jabar melalui BPTB Jabar selain berhasil menyelamatkan kesenian tradisional, juga mengangkat tokohnya serta menghidupkan kembali perekonomian para pelakunya.

Dicontohkannya kesenian tradisional Parebut Seeng yang kini sudah difestivalkan untuk menumbuhkan rasa cinta berkesenian di masyarakat, juga mampu menghidupkan pengrajin alat kesenian yang dipergunakan serta lainnya.

[alert style=”white”]referensi: pikiran-rakyat.com[/alert]

Siswa SMKN 1 Padaherang Memproduksi Semen

Siswa SMKN 1 Padaherang Memproduksi Semen

Gubernur Jabar H. Ahmad Heryawan menyambut baik produksi semen SMKN 1 Padaherang sebagai sebuah kemajuan pendidikan SMK di Jawa Barat. Apalagi kecamatan Padaherang berada di kawasan Jawa Barat selatan yang kaya bahan tambang.

“Produksi semen SMKN 1 Padaherang bisa menjadi lahan wirausaha yang bagus bagi generasi muda kedepan. Kalau yang lain mobil, kita semennya,” ujar Ahamad Heryawan saat mengglar acara ìCurhatî dengan Jajaran SMKN 1 Padaherang, Komite Tenaga Sukwan Indoensia (KTSI), Asosiasi Pembantu Penghulu (APPP) dan Presidium Pemekaran Kab. Pangandaran, di RM Torojol, Minggu (1/7).

Menurutnya, jiwa wirausaha di SMK sangat luas, makanya menjadi tugas wajib bagi guru-guru SMK untuk menanamkan jiwa wira usaha pada semua SMK apapun jurusannya. Termasuk mampu mengolah bahan tambang di lingkungan sendiri, dari pada dijual dalam bentuk mentah ke luar negeri seperti di SMKN 1 Padaherang.

“Pemerintah propinsi Jabar akan membantu pengembangan produksi semen di SMKN 1 Padaherang. Bahan tambang yang ada di Jabar Selatan jangan sampai dijual mentah tapi harus bisa diolah sendiri. Jika dijual mentah banyak ruginya,” kata Ahmad Heryawan yang biasa disapa Kang Aher.

Sementara itu Kepsek SMKN 1 Padherang Asep Agus didampingi Ketua Program Geologi Pertambangan Dadi Hidayat mengatakan, produksi semen Pozolan sudah berjalan selama 3 tahun. Semen Pozolan terbuat dari bahan tambang trast, zeolit dan kapur merupakan jenis semen yang bisa digunakan untuk bahan bangunan selain semen portlan yang biasa beredar di pasaran.

“Siswa SMKN 1 Padaherang Program Geologi Pertambangan baru mampu memproduksi semen jenis Pozolan, karena untuk Portlan masih kekurangan alat yang mampu mengeluarkan panas lebih dari 1400 derajat celcius. Untuk bahan baku semen baik Pozolan maupun portlan tidak masalah karena banyak tersebar di wilayah selatan Ciamis î ujarnya.

Sejak berhasil memproduksi semen dan pupuk phospat, kata Agus, SMKN 1 Padaherang kini terus dibanjiri siswa dan perusahaan tambang yang membutuhkan pekerja.

“Sejak didirikan tiga tahun lalu, jumlah siswa sudah mencapai 1.400 orang, dengan lima keahlian yaitu, geologi pertambangan, Teknik Kemputer Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Elektronika Industri serta Teknik pengolahan migas dan petrokimia,î ujarnya. E-35***

[alert style=”white”]http://www.kabar-priangan.com/news/detail/5225[/alert]

Nyepuh Sebagai Penjemput Ramadan

Nyepuh Sebagai Penjemput Ramadan

Upacara Nyepuh diselenggarakan pada pertengahan bulan Sya’ban atau Rewah. Salah satu makna Nyepuh antara lain sebagai ritual penjemput Ramadan. Yakni bulan yang disucikan umat Islam, dimana saat itu kaum muslimin melaksanakan ibadah puasa, dan menahan segala godaan.

Tradisi Nyepuh merupakan upacara lanjutan dari upacara Ngawit yang dilaksanakan sebelumnya di Ciomas pada bulan Shafar. Upacara Nyepuh merupakan upacara tradisional yang memiliki arti mempertua, pendalaman atau penyempurnaan dan berarti juga nyipuh. Artinya adalah menjaga agar nilai-nilai yang baik yang telah ditanamkan para pendahulu tetap konsisten, sejalan dengan awitna (awalnya) sebagaimana maksud upacara Ngawit.

Seperti diungkap sesepuh Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede, upacara Nyepuh dapat dimaknai ke dalam tiga hal. Pertama, nyipuhkeun nu to ngawitan. Ini bermakna bahwa upacara Nyipuh merupakan pengawal jalan kebaikan yang telah dimulai atau diawali (ngawit) oleh para leluhur dan penyebar Islam di masa lalu. Tradisi yang sudah puluhan tahun digelar di Ciomas ini, lebih jauh adalah sebagai penghormatan terhadap amanah Kiai Haji Penghulu Gusti, karuhun masyarakat Ciomas.Di upacara inilah, anak muda belajar kepada orang yang lebih tua atau sepuh. Terutama agar lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

Kedua, nyepuhkeun panyipuhan urang. Ini berarti mengukur perjalanan kehidupan timbale balik selama ini, yang dikhususkan kepada diri kondisi diri anak terhadap orang tua, kondisi generasi penerus terhadap generasi tua, kondisi kepemimpinan ditingkat bawah dan atas (kepenghuluan). Sehingga diharapkan terjadi dialog timbale balik tentang masalah-masalah yang dihadapi dan mudah-mudahan memperoleh jalan keluarnya. “Ritual ini tercermin dalam prosesi sambung rasa yang dilakukan di makam Eyang Penghulu Gusti,” ujar Ki H Dede.

Ketiga, nyepuhkeun mapag Ramadan. Upacara Nyepuh juga digelar sebagai persiapan diri menghadapi bulan Ramadan. Sebab di bulan yang penuh barokah ini, umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa. Sehingga sebelum menjalankan ibadah tersebut, seseorang harus bersih lahir dan batin. Selain itu, bila puasanya berhasil, maka ia akan memperoleh kemenangan pada hari raya Idul Fitri sebagai ganjaran dan kebaikan pada bulan-bulan selanjutnya, serta pengampunan dosa yang dilakukan sebelumnya.

Hakekat Nyipuh

Upacara Nyepuh adalah upacara yang diharap menyadarkan bahwa umat setelah menyatakan diri sebagai muslim, harus terus menerus meningkatkan, memperbaiki, menyempurnakan perilaku hidupnya sejalan dengan tuntutan agama Islam. Oleh karena itu, pengertian Nyepuh juga berarti Nyipuh, yang dalam pelaksanaannya harus senantiasa disertai dengan peningkatan komunikasi dengan Allah SWT, diantaranya melalui zikir, doa, shalawat, minta pengampunan dan beramal sholeh.

Dalam kesehariannya adalah tertib dan taat melaksanakan sholat, zakat dan puasa. Semua itu dalam rangka peningkatan, penghayatan, pemahaman dan pengamalan Islam di manapun. Meski yang dilaksanakan adalah sesuatu yang kecil dan sederhana, namun upacara Nyepuh tetap mengikuti hakekatnya bahwa tidak akan ada yang besar apabila tidak dimulai dari yang kecil.

Tahapan upacara Nyepuh antara lain bebersih (thaharoh), pupujian, tawasulan, sambung rasa (silaturahmi), ngaregepkeun kyai (mendekatkan kiai dengan umat) dan lain-lain. Dalam kegiatan kebersamaan, diwujudkan dengan makan bersama atau ruing mungpulung menyantap tumpeng yang telah diolah secara cermat, baik bahan-bahannya yang halal, cara pengolahannya dengan ikhlas, pengolahannya dipimpin tetua yang sudah menopause (tamat haid), serta senantiasa dalam doa dimulai bismillah dan diakhiri alhamdulillah.

Tiga buah tumpeng yang disajikan, merupakan perlambang apa yang sudah dingawitan (dimulai) yakni Iman, Islam dan Ihsan, harus terpelihara dengan baik. Dalam pada itu, ranginang yang merupakan sajian bersama tumpeng mengandung arti bahwa mudah-mudahan melalui upacara Nyepuh bisa menjadi ragi bagi diri manusia, kehidupan dan penghidupan manusia dan terhadap siar agama Islam.

“Upacara Nyepuh secara keseluruhan adalah untuk mengajak agar umat Islam menjadi umat yang baik, yang senantiasa meningkatkan iman dan taqwanya, serta amal ibadahnya sesuai dengan Alquran dan Alhadist,” tutur Ki H Dede.

Sambung Rasa

Puncak Upacara Nyepuh berlangsung di dalam hutan Keramat. Untuk mencapai hutan ini, warga yang seluruhnya berpakaian putih-putih sebagai tanda menyucikan diri, harus berjalan sejauh tiga kilometer. Lantunan shalawat dan salam terhadap Kanjeng Muhammad SAW mengalun sepanjang jalan masuk ke hutan. Sebelum memulai upacara, seorang warga diutus untuk mengambil air wudlu. Ini sebagai tata cara masuk ke areal pemakaman sekaligus sebagai simbol membersihkan diri dari segala kotoran yang melekat di tubuh.

Air suci dari sumur emas pun diambil oleh kuncen dan keluarganya. Air dari sumur ini dipercaya penduduk mempunyai khasiat yang sama dengan air zamzam di Mekah, Arab Saudi. Bila minum atau mandi dengan air ini, dipercaya dapat membawa keberkahan.

Diiringi lantunan salawat dan doa-doa, barisan masyarakat itu kemudian memasuki lokasi makam Eyang Penghulu Gusti dan keluarganya.

Di depan makam-makam yang dianggap suci ini, mereka pun menyampaikan keluh-kesahnya. Bagi masyarakat Ciomas, pertemuan yang disebut sambugn rasa di depan makam karuhun ini amat penting. Di sinilah saatnya perwakilan warga bertemu dengan pejabat pemerintah dan pemimpin desa. Tak jarang, dialog antara anak dan orang tuanya juga terjadi di depan makam Eyang Penghulu Gusti ini. ER

(pernah dimuat di Tabloid POSMO)

[alert style=”white”]http://ekoabimanyu.blogspot.com/2008/10/tradisi-nyepuh-2.html[/alert]

Kujang akan Diajukan sebagai Kekayaan Budaya Dunia ke UNESCO

Kujang akan Diajukan sebagai Kekayaan Budaya Dunia ke UNESCO

Pemerintah provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat (Disparbud Jabar) diharapkan segera melakukan upaya untuk mendaftarkan kekayaan seni budaya tradisi Jawa Barat ke UNESCO. Senjata kujang menjadi salah satu dari 10 kekayaan seni budaya yang rencananya dalam waktu dekat akan diajukan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

“Pemerintah sangat merespon setiap upaya yang dilakukan elemen masyarakat untuk menyelamatkan dan melestarikan seni budaya tradisi. Apalagi ada upaya bersama untuk mendaftarkan kekayaan seni budaya tersebut ke badan dunia (UNESCO),” ujar Staf Ahli Gubernur, Dede Maryana, dalam dialog Usulan Tim Gugus HAKI dan Bahan Usulan World Heritage Warisan Budaya Jawa Barat, Jumat (20/7) bertempat di Operation Room, kantor Disparbud Jabar.

Bahkan menurut Dede Maryana, Tim Gugus HAKI yang dibentuk Disparbud Jabar terdisi dari Prof. Yesmil Anwar, DR. Miranda Risang Ayu dan DR. Boeki Wikagoe, tidak hanya mendaftarkan kekayaan budaya tradisi ataupun masa lalu saja, tetapi juga temuan budaya pada jaman modern. “Selain Kujang, Topeng, Kendang dan juga jargon silih asah silih asih silih asuh, perlu untuk didaftarkan,” ujar Dede Maryana.

Dosen Seni Rupa ITB, Aris Kurniawan yang juga pernah meneliti kujang selama tujuh tahun, mengatakan bahwa kujang layang diajukan sebagai warisan budaya dunia. “Kujang bukan hanya dikenal sebagai perkakas ataupun senjata tapi juga simbol sebagaimana keris yang dibuat oleh empu,” ujar Aris.

Kujang dikatakan Aris, merupakan budaya luhur yang diciptakan masyarakat jaman dulu dengan proses sangat rumit dan waktu sangat lama. “Karenanya kujang sangat layang diajukan ke UNESCO sebagai kekayaan budaya dunia dari Jawa Barat,” ujar Aris.

Sementara DR. Miranda Risang Ayu, dati Tim Gugus HAKI Jabar, mengatakan bahwa pihaknya telah menyusun dan memilih 10 budaya yang akan diajukan sebagai kekayaan budaya dunia ke UNESCO. “Tapi karena setiap daerah hanya mendapat kesempatan mengajukan satu untuk diajukan maka kita akan mengajukan kujang diantara benda budaya yang sudah di inventarisir,” ujar Miranda.

Untuk mendapatkan pengakuan UNESCOpun, menurut Miranda bukan perkara mudah. Karena senjata kujang yang akan diajukan harus bersaing dengan daerah atau provinsi lain di Indonesia dan setelah itu bersaing dengan negara lainnya. (A-87/A-108)***

[alert style=”white”]referensi : http://www.pikiran-rakyat.com/node/196731 [/alert]

Peninggalan Arkeologi Klasik di Ciamis

Peninggalan Arkeologi Klasik di Ciamis

PENELITIAN ARCA-ARCA DI CIAMIS KAITANNYA DENGAN RAGAM PENGARCAAN

Endang Widyastuti

Sari

Penelitian tentang ikonografi yang dilaksanakan di Kabupaten Ciamis telah mendata sejumlah arca. Berdasarkan ciri-cirinya arca-arca tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Ketiga kelompok tersebut yaitu arca tipe Polinesia, arca bercorak Hindu-Buddha, dan arca tipe Pajajaran.

Abstract

Iconography research in the Ciamis area had been collected data from a number of statues. Based on its characteristics, the statues can be divided into three groups. Which are Polynesians, Hindu-Buddha pattern, and Pajajaran types.

Kata Kunci: arca, tipe Polinesia, tipe Pajajaran

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kawasan Ciamis banyak mengandung potensi arkeologis. Tinggalan-tinggalan tersebut meliputi kurun waktu yang cukup panjang, yaitu dari masa prasejarah sampai masa pengaruh Islam. Berdasarkan beberapa penelitian tercatat bahwa situs prasejarah di kawasan Ciamis berada di beberapa aliran sungai yang terdapat di daerah tersebut, di antaranya yaitu Sungai Cipasang dan Sungai Cisanca (Agus, 1994: 4; 1998/1999; Yondri, 1999: 4). Situs yang berasal dari masa Klasik di antaranya tercatat situs Karangkamulyan (Saptono, 2002), dan situs Kertabumi (Widyastuti, 2002a). Sementara itu dari masa Islam tercatat tinggalan berupa makam-makam Islam, di antaranya makam para bupati Ciamis dan Kompleks Makam Singaperbangsa (Widyastuti, 2000: 96). Tulisan ini akan membahas masa klasik di Kawasan Ciamis, khususnya mengenai arca-arca yang ditemukan tersebar di beberapa situs di Ciamis.

Di kawasan Sunda banyak ditemukan arca-arca yang berbeda bentuknya dengan arca di daerah lain, misalnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Arca-arca ini sering disebut dengan arca tipe Pajajaran. Penggambaran arca demikian berkaitan erat dengan perkembangan religi masa klasik Jawa Barat. Berdasarkan beberapa naskah seperti misalnya Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian dan Carita Parahyangan, menunjukkan bahwa pada awalnya, keagamaan yang melatari masyarakat Sunda adalah Hindu. Dalam perkembangannya agama Hindu bercampur dengan agama Buddha, dan pada akhirnya unsur kepercayaan asli muncul (Sumadio, 1990). Kemunculan kepercayaan asli dari para leluhur terlihat dari keterangan dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karêsian yang menurunkan derajat Dewata berada di bawah Hyang (Danasasmita, 1987: 96; Ayatrohaedi, 1982: 338). Fenomena yang terdapat di dalam naskah dan pada tinggalan arkeologis terlihat terdapat korelasi. Berdasarkan fenomena ini dilakukan penelitian ikonografi.

Penelitian tentang ikonografi di daerah Jawa Barat pernah dilakukan oleh J.F.G. Brumund dan N.J. Krom. Brumund dalam penelitiannya di daerah Bogor dan Priangan menemukan arca-arca yang kemudian disebut arca tipe Pajajaran (Mulia, 1980). Oleh Brumund istilah arca tipe Pajajaran hanya digunakan untuk menyebut arca Polinesia yang menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha, sedangkan arca yang tidak menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha tidak diberikan istilah tersendiri (Mulia, 1980: 600). Sementara itu, Krom menyatakan bahwa setiap arca yang tidak mempunyai ciri-ciri sebagai arca Hindu-Buddha yang menonjol adalah arca Polinesia dan berfungsi sebagai arca pemujaan leluhur. Menurut Krom arca Polinesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu

  1. arca yang berasal dari masa sebelum zaman klasik
  2. yang dilanjutkan sesudah mulai pengaruh Hindu-Buddha dan tetap berfungsi; terdapat di daerah terpencil
  3. yang sudah terpengaruh oleh kebudayaan Hindu-Buddha tetapi disesuaikan dengan konsepsi baru (Mulia, 1980: 602).

Berdasarkan pendapat Brumund dan Krom dapat ditarik kesimpulan bahwa di daerah Jawa Barat terdapat beberapa tipe arca, yaitu arca yang berasal dari masa sebelum klasik dan awal masa klasik yang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Arca semacam ini biasa disebut dengan arca tipe Polinesia atau arca megalitik. Tipe arca yang kedua adalah yang telah mendapat pengaruh Hindu-Buddha tetapi telah mengalami percampuran dengan kepercayaan asli. Arca sejenis ini biasa disebut dengan arca tipe Pajajaran. Di samping kedua tipe arca tersebut terdapat pula arca yang mengandung ciri-ciri sebagai pantheon Hindu atau Buddha.

Balai Arkeologi Bandung pada penelitian tahun 2000 di daerah Cirebon telah mendata beberapa arca tipe Pajajaran ini (Widyastuti, 2002b). Arca-arca tersebut digambarkan dengan sangat sederhana. Bentuk tangan dan kaki semuanya digambarkan melekat ke badan yang ditampilkan dengan memberikan batas goresan saja. Selain itu bentuk wajah sangat sederhana hanya berupa goresan-goresan yang membentuk mata, hidung, dan bibir. Berdasarkan pengamatan terhadap atribut yang ada dapat diketahui bahwa sekumpulan arca tersebut di antaranya menggambarkan Ganeça, Siwa, Lingga, dan arca-arca tipe Polinesia. Sementara itu, penelitian tahun 2003 yang dilaksanakan di daerah Kuningan juga mencatat adanya arca-arca sejenis. Arca-arca dari daerah Kuningan tersebut di antaranya menggambarkan Ganeça, Nandi, Lingga, Yoni, dan arca-arca Polinesia (Widyastuti, 2003).

Objek yang akan dibahas dalam makalah ini adalah arca-arca yang ditemukan di Kabupaten Ciamis. Ciamis pada masa klasik sering dihubungkan dengan keberadaan Kerajaan Galuh. Menurut Van der Meulen terdapat tiga Kerajaan Galuh, yaitu Galuh Purba yang berpusat di daerah Ciamis, Galuh Utara (Galuh Lor, Galuh Luar) yang berpusat di daerah Dieng, dan Galuh yang berpusat di Denuh (Tasikmalaya) (Iskandar, 1997: 97). Menurut Carita Parahyangan, Kerajaan Galuh mula-mula diperintah oleh Raja Séna. Pada suatu ketika Galuh diserang oleh Rahyang Purbasora. Ketika Sanjaya dewasa dapat merebut kembali dan berkuasa di Galuh (Danasasmita, 1983/1984: 61; Iskandar, 1997: 126 – 134). Nama Galuh (Galoeh) pada zaman Hindia-Belanda dijadikan nama kabupaten (afdeeling) yang termasuk dalam wilayah Residentie Cheribon. Wilayah afdeeling Galoeh di antaranya district Ciamis, Ranca, Kawali, dan Panjalu.

Masalah
Berdasarkan pendapat Brumund dan Krom diketahui bahwa terdapat 3 jenis arca yang terdapat di Jawa Barat yaitu arca tipe Polinesia, arca tipe Pajajaran, dan arca bercorak Hindu-Buddha. Arca tipe Polinesia yaitu arca sederhana yang tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai arca Hindu-Buddha. Arca demikian ini biasanya berhubungan dengan pemujaan terhadap nenek moyang. Arca tipe Pajajaran yaitu arca sederhana tetapi menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha, misalnya terdapat mahkota, senjata, sikap tangan, sikap duduk, dan atribut lain yang menunjukkan kedewaan. Sedang arca bercorak Hindu-Buddha yaitu arca yang penggambarannya sesuai dengan aturan ikonografi Hindu-Buddha. Berdasarkan hal tersebut timbul pertanyaan yaitu bagaimanakah penggambaran arca di daerah Ciamis.
Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai atribut-atribut pada arca-arca yang terdapat di Kabupaten Ciamis. Berdasarkan atribut yang ada diharapkan dapat diungkapkan mengenai unsur spesifik dan penyimpangannya. Dengan demikian dapat dikelompokkan arca-arca tersebut berdasarkan tipenya.
Metode Penelitian

Penelitian tentang ikonografi masa Kerajaan Sunda, menerapkan penelitian deskriptif. Strategi penelitian melalui observasi lapangan yaitu pendeskripsian dan pengukuran terhadap tinggalan arkeologis di daerah penelitian. Berdasarkan hasil pendeskripsian dapat diketahui atribut yang terdapat pada masing-masing arca. Selanjutnya dari atribut yang ada dapat diperoleh suatu kesimpulan mengenai tokoh yang diarcakan.

Pelaksanaan observasi tidak hanya berupa pendeskripsian dan pengukuran, tetapi juga dilaksanakan wawancara dengan masyarakat setempat. Wawancara ini dimaksudkan untuk melacak latar belakang keberadaan arca.

Ruang lingkup penelitian meliputi keseluruhan arca, baik berupa arca berbentuk manusia, dewa, binatang, ataupun arca-arca yang menggambarkan simbol-simbol tertentu seperti lingga dan yoni.
DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

Penelitian di Kabupaten Ciamis dilaksanakan di 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ciamis, Kecamatan Lakbok, Kecamatan Mangunjaya, Kecamatan Pamarican, Kecamatan Pangandaran, dan Kecamatan Cijeungjing.

Kecamatan Ciamis 

Gambaran Lokasi
Penelitian di Kecamatan Ciamis dilaksanakan di situs Jambansari. Situs Jambansari secara administratif termasuk lingkungan Rancapetir, Kelurahan Linggasari. Situs Jambansari berada pada ketinggian 233 m di atas permukaan laut dan pada koordinat 0719’48,7” LS dan 10820’54,2” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin). Situs ini merupakan kompleks makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, Bupati Ciamis ke-16, yang berkuasa dari tahun 1839-1886. Situs berada di sebuah lahan seluas 4 hektar. Pada lahan tersebut selain terdapat kompleks makam juga terdapat tanah persawahan. Kompleks makam R.A.A Kusumadiningrat berada pada lokasi tersebut dengan dibatasi pagar tembok. Di lokasi ini terdapat 13 buah arca. Menurut keterangan juru kunci makam, arca-arca yang terdapat di lokasi ini dikumpulkan oleh R.A.A Kusumadiningrat. Pengumpulan ini dilakukan dalam rangka dakwah agama Islam sehingga bagi yang mempunyai arca atau berhala diharuskan untuk dikumpulkan di lokasi tersebut. Untuk mempermudah pendeskripsian maka masing-masing arca tersebut diberi kode dengan huruf JBSR 1 sampai dengan JBSR 13. Berikut ini pemerian masing-masing arca tersebut:

Kode : JBSR 1
Uraian bentuk : Bahan arca berupa batuan sedimen. Arca digambarkan berupa manusia tanpa kaki. Tangan digoreskan bersilangan di dada. Muka arca berbentuk oval. Bagian-bagian muka digambarkan secara lengkap dengan mata, hidung dan mulut. Sebagian rambut disanggul di bagian atas kepala, dan sisa rambut terurai di bagian belakang. Jenis kelamin arca tidak jelas.

Kode : JBSR 2
Uraian bentuk : Arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk dengan bahan batuan sedimen. Kaki depan dilipat ke belakang dan kaki belakang dilipat ke depan. Kedua kaki bertemu di bagian perut. Bagian muka arca sudah sangat aus, tapi masih terlihat adanya mata berjumlah 2 buah. Mulut digambarkan berupa cekungan tipis. Lubang hidung berupa 2 cekungan berbentuk bulat berada di atas mulut. Pada bagian kepala terdapat 2 buah tanduk yang sudah patah sebagian. Pada bagian punggung terdapat tonjolan (punuk). Ekor digambarkan melengkung ke kiri dengan ujungnya berada di punggung.

Kode : JBSR 3
Uraian bentuk : Arca berbahan tufa dengan warna putih. Arca berupa manusia yang digambarkan setengah badan. Posisi sedang duduk dengan sandaran di belakangnya. Sandaran ini pada ujung atasnya meruncing. Kedua tangan di samping badan. Kedua tangan dilipat mengarah ke depan dan memegang sebuah benda berbentuk persegi. Muka arca digambarkan secara lengkap dengan mata terbuka lebar, hidung besar, mulut menyeringai sehingga terlihat giginya, dan telinga. Pada sisi kanan belakang terdapat goresan seperti jubah.

Kode : JBSR 4
Uraian bentuk : Merupakan arca manusia yang digambarkan sedang duduk dengan kaki terlipat (jongkok). Tangan ditekuk berada di depan dada. Bagian-bagian muka hanya berupa goresan-goresan yang membentuk mata, mulut, dan telinga. Sedang hidung tidak ada. Bahan arca ini berupa batuan sedimen.

Kode : JBSR 5
Uraian bentuk : Bahan yang digunakan berupa batuan sedimen. Kondisi arca sudah sangat aus. Arca digambarkan sebagai manusia berkepala gajah. Mata dan gading tidak ada. Belalai menjuntai menyentuh tangan kiri. Tangan kanan terpotong sebatas siku. Arca digambarkan memakai upawita di bahu kiri. Di bagian belakang kepala terdapat bulatan yang kemungkinan sebagai prabha. Bagian bawah arca hilang.

Kode : JBSR 6
Uraian bentuk : Arca digambarkan sebagai manusia berperut buncit, berbahan batuan sedimen. Bagian muka tidak ada lagi karena telah dipangkas. Tangan bersedakap di dada. Pada bagian bawah perut terdapat tonjolan.

Kode : JBSR 7
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu yang memanjang dengan bahan batuan sedimen. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat.

Kode : JBSR 8
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu yang memanjang dengan bahan batuan sedimen. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat.

Kode : JBSR 9
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu setinggi 48 cm, dari bahan batuan sedimen. Bagian dasar berdenah persegi dengan ukuran 36 x 30 cm. Pada bagian tengah melekuk ke dalam. Sebagian batu ini telah hilang.

Kode : JBSR 10
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu bulat dengan bagian atas rata. Batu ini merupakan batuan sedimen

Kode : JBSR 11
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu dengan bagian tengah berlubang. Bahan yang digunakan adalah batuan sedimen.

Kode : JBSR 12
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu yang memanjang, yang terbuat dari batuan sedimen. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat.

Kode : JBSR 13
Uraian bentuk : Arca ini menggunakan bahan tufa. Merupakan arca manusia yang digambarkan setengah badan. Posisi sedang duduk dengan sandaran di belakangnya. Tangan kiri memegang perut, sedangkan tangan kanan di samping badan. Arca ini bagian kepala dan sebagian sandaran hilang.

Kecamatan Lakbok

Gambaran lokasi
Penelitian di Kecamatan Lakbok dilaksanakan di Dusun Kelapa Kuning, Desa Sukanegara. Secara geografis wilayah ini berada di daerah dataran rendah dengan ketinggian 26 m di atas permukaan laut. Situs Kelapa Kuning berada pada koordinat 0724’076” LS dan 10809’22,1” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin). Situs berada di kebun milik penduduk. Sekarang ini arca-arca yang terdapat di lokasi ini telah dikumpulkan di sebuah bangunan. Menurut keterangan Bapak Marjono (juru pelihara) arca-arca tersebut sebagian besar telah dirusak oleh masyarakat pada tahun 1965.

Di lokasi ini terdapat 6 arca. Untuk mempermudah pendeskripsian maka masing-masing arca tersebut diberi kode dengan huruf LKB 1 sampai dengan LKB 6. Berikut ini pemerian masing-masing arca tersebut:

Kode : LKB 1
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu berdenah bujur sangkar. Bahan yang digunakan merupakan batuan sedimen. Pada salah satu sisi terdapat tonjolan. Di bagian tengah terdapat lubang. Di permukaan bagian atas batu terdapat pelipit, sedangkan sisi batu berbentuk sisi genta. Keadaan sekarang salah satu sudutnya telah hilang.

Kode : LKB 2
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu yang memanjang. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat. Bahan yang digunakan adalah batuan sedimen. Keadaan sekarang telah patah menjadi 3 bagian.

Kode : LKB 3
Uraian bentuk : Arca terbuat dari batuan sedimen. Arca digambarkan sebagai manusia dengan badan ramping. Bagian kepala dan tangan sudah hilang. Kaki hanya tersisa sebelah kiri sebatas lutut, sedangkan kaki kanan sudah hilang. Arca digambarkan duduk di atas lapik berbentuk balok. Di bagian belakang arca terdapat sandaran. Kondisi arca sudah sangat aus sehingga tidak terlihat lagi adanya hiasan atau atribut lain.

Kode : LKB 4
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu berdenah bujur sangkar. Sisi bagian bawah bertingkat-tingkat makin ke atas makin menyempit. Bagian atas batu ini telah hilang. Bahan yang digunakan berupa batuan sedimen.

Kode : LKB 5
Uraian bentuk : Bahan yang digunakan berupa batuan sedimen. Kondisi arca sudah sangat aus, sehingga goresan yang ada sudah sangat tipis. arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk. Penggambaran sapi disini hanya separuh bagian depan saja. Sedangkan bagian perut belakang dan kaki belakang tidak ada. Pada bagian samping kiri terdapat goresan yang menggambarkan kaki depan yang dilipat ke belakang. Sedang pada bagian samping kanan polos. Muka arca sudah tidak jelas lagi, tapi masih terlihat bagian menonjol yang merupakan moncongnya.

Kode : LKB 6
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu berdenah bujur sangkar, dengan bahan batuan sedimen. Pada bagian permukaan atas batu ini terdapat bagian yang menonjol. Bagian yang menonjol ini sebagian telah hilang. Di samping bagian tengah batu terdapat lekukan mengelilingi badan batu.

Kecamatan Mangunjaya

Gambaran Lokasi
Situs Mangunjaya secara administratif berada di Dusun Pasirlaya desa Mangunjaya. Lokasi temuan tepat berada di depan kantor kecamatan Mangunjaya. Situs Mangunjaya berada pada koordinat 0729’13,6” LS dan 10841 ‘47,1” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) dengan ketinggian 29 m di atas permukaan laut.

Lokasi temuan berada di puncak sebuah bukit. Sisi timur bukit tersebut sekarang sudah dipangkas untuk dibangun masjid. Pada sisi barat masih tampak adanya teras berundak yang dibentuk dengan batu pasir tufaan. Di sebelah utara situs terdapat Sungai Ciputrahaji, sedangkan di sebelah selatan terdapat Sungai Ciseel. Di lokasi tersebut terdapat dua buah batu bulat dan sebuah yoni. Pemerian yoni tersebut adalah sebagai berikut.

Kode : MGJ
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu berbentuk balok dengan bahan batuan sedimen. Pada waktu ditemukan tinggalan tersebut dalam posisi terbalik dan terbelah menjadi dua. Pada bagian permukaan atas batu terdapat lubang berbentuk bulat. Pada salah satu sisi bagian atas terdapat tonjolan yang berfungsi sebagai cerat. Bagian tonjolan ini sebagian telah patah. Pada bagian yang menonjol tersebut terdapat saluran yang menghubungkan lubang dengan sisi luar. Bagian badan batu tersebut terdapat pelipit. Pelipit tersebut dibuat secara simetris antara bagian atas dan bagian bawah, yaitu pelipit lebar dan pelipit tipis yang diseling dengan sisi genta.

Kecamatan Pamarican

Gambaran Lokasi
Penelitian di Kecamatan Pamarican dilaksanakan di situs Candi Ronggeng. Situs tersebut secara administratif berada di Kampung Kedung Bangkong, Dusun Sukamaju, Desa Sukajaya. Situs Candi Ronggeng berada pada koordinat 0725’46,9” LS dan 10829’36,7” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) dengan ketinggian 34 m di atas permukaan laut.

Situs berada pada lahan datar yang digunakan sebagai kebun oleh penduduk. Tanaman yang terdapat di lahan tersebut di antaranya adalah kelapa, bungur, sengon, mahoni, dan pisang. Di sebelah utara situs berjarak sekitar 50 m terdapat aliran Sungai Ciseel. Di antara situs dengan sungai terdapat tanggul tanah dengan lebar sekitar 4 m.

Sekarang pada lahan situs tidak terdapat adanya tinggalan. Menurut informasi di lahan tersebut pada kedalaman sekitar 1,5 m terdapat susunan batu-batu candi. Di lokasi ini juga pernah ditemukan sebuah arca yang sekarang disimpan di Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Pamarican. Berikut pemerian arca tersebut.

Kode : CRG
Uraian bentuk : Kondisi arca terbelah dua pada bagian perut. Arca berupa seekor sapi dengan posisi duduk di atas naga sehingga badan naga seolah menjadi alas badan sapi. Keempat kaki sapi terlipat. Kaki depan terlipat ke belakang, sedangkan kaki belakang terlipat ke depan. Sisi samping kanan arca, pada bagian perut terdapat bidang datar berbentuk segi lima. Ekor sapi melingkar ke samping kiri badan lalu ke atas dan ujungnya berada di punggung. Di punggung arca terdapat tonjolan seperti punuk. Pada bagian belakang terdapat goresan yang menggambarkan buah zakar sapi dengan ukuran yang besar. Pada bagian kepala arca tidak terdapat goresan yang membentuk mata, hidung, mulut, dan telinga. Di bawah kepala arca terdapat pahatan yang membentuk kepala naga. Kepala naga digambarkan menyeringai sehingga terlihat giginya. Pada masing-masing sisi terlihat 4 gigi atas dan 4 gigi bawah. Pada bagian depan mulut naga tersebut terdapat hiasan seperti kalung.

Kecamatan Pangandaran

Gambaran Lokasi
Di Kecamatan Pangandaran penelitian dilaksanakan di situs Batu Kalde. Situs Batu Kalde terletak di kawasan Taman Nasional Pangandaran yang dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat. Secara administratif wilayah ini termasuk Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Situs ini berada pada koordinat 0742’21,5” LS dan 10839’27,1” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) dengan ketinggian 54 m di atas permukaan laut. Wilayah ini di sebelah utara berbatasan dengan Desa Pananjung, sebelah timur berbatasan dengan Teluk Pananjung, sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Parigi. Situs Batu Kalde menempati lahan datar seluas 75 x 15 m.

Di lokasi ini terdapat 8 batu bulat, sebaran batu-batu bekas candi dan 2 buah arca. Untuk mempermudah pendeskripsian maka kedua arca tersebut masing-masing diberi kode dengan huruf BKL 1 dan BKL 2. Berikut ini pemerian masing-masing arca tersebut.

Kode : BKL 1
Uraian bentuk : Berupa batu berdenah bujur sangkar, berbahan batuan sedimen. Batu tersebut terdiri dari dua bagian. Bagian atas terbelah menjadi tiga. Pada permukaan atas terdapat pelipit. Pada bagian tengah permukaan atas terdapat lubang berbentuk bujur sangkar yang menembus sampai batu bagian bawah. Pada salah satu sisi terdapat bagian tonjolan, tetapi sekarang sudah terpangkas. Pada tonjolan tersebut terdapat cekungan sebagai saluran yang menghubungkan lubang dengan sisi luar. Bagian badan batu tersebut terdapat pelipit-pelipit. Bagian bawah batu sebagian sudah terpendam dalam tanah. Bagian luar dari batu bagian bawah ini bertingkat-tingkat makin ke atas makin sempit.

Kode : BKL 2
Uraian bentuk : Arca terbuat dari batuan sedimen. Arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk. Kaki kanan depan dilipat kebelakang, sedangkan kaki kiri depan dilipat ke depan. Kedua kaki belakang dilipat ke depan. Bagian muka arca sudah terpangkas sehingga tidak tampak lagi mata dan mulutnya. Pada bagian kepala masih terlihat adanya sepasang telinga. Di bawah bagian mulut yang hilang terdapat gelambir yang memanjang sampai dada. Di sepanjang badan sapi terdapat alur-alur sejajar yang merupakan proses pelapukan. Pada bagian punggung sapi terdapat tonjolan berbentuk persegi yang merupakan (punuk). Bagian punuk ini sebagian telah hilang. Ekor digambarkan melengkung ke kanan dengan ujungnya berada di punggung. Di antara kedua kaki belakang terlihat adanya buah zakar yang besar.

Kecamatan Cijeungjing

Gambaran Lokasi
Penelitian di Kecamatan Cijeungjing dilaksanakan di Kompleks Karangkamulyan. Kompleks Karangkamulyan secara administratif berada di Kampung Karangkamulyan, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing. Situs tersebut berada pada koordinat 0720’54,05” LS dan 10829’26,3” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) dengan ketinggian 70 m di atas permukaan laut.

Keadaan situs berupa hutan seluas sekitar 25,5 hektar pada pertemuan antara Sungai Cimuntur dan Citanduy. Pada saat ini komplek situs di sebelah utara dibatasi jalan raya, sebelah timur Sungai Cimuntur, sebelah selatan Sungai Citanduy, dan sebelah barat komplek rest area. Sungai Cimuntur di sebelah timur situs merupakan kelanjutan yang sebelumnya mengalir di sebelah utara kemudian berbelok ke arah selatan dan bersatu dengan Sungai Citanduy.

Situs Karangkamulyan merupakan kompleks situs yang sekarang sudah dijadikan obyek wisata budaya. Kompleks dilengkapi dengan tempat parkir, warung, dan masjid. Untuk memasuki situs Karangkamulyan melalui pintu masuk yang terdapat di sisi timur halaman belakang tempat parkir. Situs-situs yang terdapat di kompleks ini adalah Pangcalikan, Sipatahunan, Sanghyang Bedil, Panyabungan Hayam, Lambang Peribadatan, Cikahuripan, Panyandaan, Makam Sri Bhagawat Pohaci, Pamangkonan, Makam Adipati Panaekan. Situs-situs tersebut dikelilingi fetur parit dan benteng

Dari sejumlah situs di kompleks Karangkamulyan tinggalan ikonografi ditemukan di situs Pangcalikan. Selain itu di lokasi yang sekarang digunakan sebagai lahan parkir, pernah ditemukan sebuah arca Ganesha. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum “Sri Baduga” Bandung. Berikut pemerian temuan yang terdapat di situs Pangcalikan dan arca ganesha yang disimpan di Museum Sri Baduga.

Kode : KRKM
Uraian bentuk : Berupa batu dengan datar berdenah bujur sangkar. Bagian samping batu tersebut terdapat pelipit. Salah satu sudut batu ini telah hilang.

Ganesha di Museum Sri Baduga
Arca digambarkan duduk di atas lapik berbentuk bulat. Sikap duduk yaitu dengan posisi satu kaki bersila dan kaki yang lain dilipat ke atas. Pada bagian atas kepala arca terdapat semacam tutup kepala. Belalai menjuntai ke kiri. Perut digambarkan buncit. Di bagian dada terdapat upavita berupa tali polos.Tangan berjumlah empat, dua tangan yang belakang patah, sedangkan dua tangan yang lain masing-masing memegang lutut. Tinggi arca 46 cm. Arca Ganesha yang berasal dari Karangkamulyan ini mempunyai bentuk sederhana.

Penutup
Penelitian tentang ikonografi masa Kerajaan Sunda di Kabupaten Ciamis. Di Kabupaten Ciamis dilaksanakan di 6 kecamatan yaitu Kecamatan Ciamis, Lakbok, Mangunjaya, Pamarican, Pangandaran, dan Cijeungjing. Penelitian kali ini berhasil mendata 25 batu yang menunjukkan ciri-ciri pengerjaan oleh manusia. Dari ke 25 batu tersebut terdapat 21 batu yang merupakan arca. Sedang 4 batu yang lain bukan merupakan arca. Ke 4 batu tersebut adalah JBSR 9 (tidak diketahui), JBSR 10 (lapik), JBSR 11 (lumpang batu), dan LKB 6 (umpak). Sedang 21 batu yang merupakan arca adalah sebagai berikut.

JBSR 1 menggambarkan arca manusia dengan sangat sederhana. Arca ini belum dapat diketahui tokoh yang diarcakan karena tidak terdapat atribut kuat lain yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi. Arca dengan bentuk demikian merupakan arca tipe Polinesia.

JBSR 2 menggambarkan seekor sapi dalam posisi duduk dengan kaki terlipat. Arca demikian disebut dengan Nandi. Dalam mitologi Hindu, dewa digambarkan mempunyai binatang kendaraan (wahana). Kendaraan Dewa Brahma adalah angsa, Dewa Wisnu mempunyai kendaraan berupa garuda, sedang Nandi merupakan kendaraan dewa Siwa. Nandi yang terdapat di situs Jambansari ini digambarkan dengan sangat sederhana sehingga termasuk arca Nandi tipe Pajajaran.

JBSR 3 menggambarkan arca manusia setengah badan dengan posisi sedang duduk dengan sandaran di belakangnya. Kedua tangan dilipat mengarah ke depan dan memegang sebuah benda berbentuk persegi. Tidak terdapat atribut lain pada arca ini sehingga tidak dapat diketahui tokoh yang diarcakan. Arca dengan bentuk demikian dapat digolongkan sebagai arca tipe Polinesia.

JBSR 4 merupakan arca manusia yang digambarkan sedang duduk dengan kaki terlipat (jongkok). Bagian-bagian muka dan badan arca ini hanya merupakan goresan-goresan saja. Tidak ada atribut yang dapat digunakan untuk mengenali tokoh yang diarcakan. Arca dengan bentuk demikian merupakan arca tipe Polinesia.

JBSR 5 Kondisi arca sudah sangat aus Arca digambarkan sebagai manusia berkepala gajah dengan belalai menjuntai menyentuh tangan kiri. Arca demikian ini merupakan penggambaran Ganesha. Ganesha adalah salah satu dewa dalam pantheon Hindu. Ganesha dikenal sebagai anak dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang disembah sebagai dewa kebijaksanaan dan penyingkir halangan. Di Indonesia, Ganesha merupakan salah satu dari tiga dewa pendamping utama dewa Siwa. Pada sebuah candi, biasanya Ganesha ditempatkan pada bilik yang menghadap ke barat atau timur. Meskipun demikian, di Indonesia arca Ganesha seringkali ditemukan berdiri sendiri (Sedyawati, 1994: 5-6). Arca Ganesha ini digambarkan dengan sederhana, dengan demikian termasuk arca dengan tipe Pajajaran.

JBSR 6 Arca digambarkan sebagai manusia berperut buncit. Tangan bersedakap di dada. Arca dengan bentuk yang serupa pernah ditemukan di daerah Cikapundung Kabupaten Bandung. Menurut Eriawati arca demikian ini termasuk sebagai arca tipe Polinesia ( Eriawati 1995/1996: 74 – 78).

JBSR 7, JBSR 8 dan JBSR 12 berupa sebongkah batu yang memanjang. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat. Bentuk demikian ini menggambarkan lingga. Bagian-bagian lingga mempunyai penyebutan tersendiri yaitu bagian dasar berupa segi empat disebut brahmabhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut wisnubhaga, dan bagian puncak berbentuk bulat panjang disebut siwabhaga (Atmodjo, 1999: 23). Lingga merupakan salah satu perwujudan Siwa. Dengan demikian ketiga arca tersebut merupakan arca bercorak Hindu.

JBSR 13 merupakan arca manusia yang digambarkan setengah badan. Posisi sedang duduk dengan sandaran di belakangnya. Tangan kiri memegang perut, sedangkan tangan kanan di samping badan. Tidak terdapat atribut lain pada arca ini sehingga tidak dapat diketahui tokoh yang diarcakan. Arca dengan bentuk demikian dapat digolongkan sebagai arca tipe Polinesia.

LKB 1 dan LKB 4 sebenarnya merupakan satu kesatuan yang disebut yoni. Ciri-ciri yoni yaitu berdenah bujur sangkar, terdapat tonjolan yang berfungsi sebagai cerat, dan terdapat lubang di permukaan bagian atas yang berfungsi untuk meletakkan lingga. Dalam mitologi Hindu, persatuan antara lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan (Atmojo, 1999: 23).

LKB 2 Berupa sebongkah batu yang memanjang. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat. Bentuk demikian ini menggambarkan lingga.

LKB 3 Arca digambarkan sebagai manusia dengan badan ramping. Adanya sandaran atau stela memunculkan dugaan bahwa arca tersebut merupakan arca bercorak Hindu-Buddha. Kondisi arca sudah sangat aus sehingga tidak dapat diketahui tokoh yang diarcakan.

LKB 5 arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk. Dalam mitologi Hindu arca demikian ini disebut dengan Nandi. Nandi di LKB 5 ini digambarkan dengan sangat sederhana sehingga termasuk arca tipe Pajajaran.

MGJ berupa sebongkah batu berbentuk balok dengan cerat pada salah satu sisinya. Pada bagian permukaan atas batu terdapat lubang berbentuk bulat. Bentuk demikian ini menggambarkan yoni. Di Indonesia, yoni seringkali ditemukan bersama dengan lingga. Persatuan antara lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan.

CRG Arca berupa seekor sapi dengan posisi duduk di atas naga, sehingga badan naga seolah menjadi alas badan sapi. Penggambaran sapi disini mungkin dimaksudkan sebagai nandi. Bentuk naga yang berada di bawah nandi terlihat seperti makara yang sering ditemui pada pipi tangga masuk suatu bangunan. Adanya bidang datar pada sisi kanan perut nandi menunjukkan bahwa kemungkinan arca ini dahulu merupakan bagian suatu bangunan candi Hindu. Arca nandi ini digambarkan dengan sederhana, sehingga termasuk dalam arca tipe Pajajaran.

BKL 1 berupa batu berdenah bujur sangkar dengan lubang di permukaan atasnya. Meskipun cerat sudah tidak ada lagi, tetapi masih terlihat adanya saluran untuk mengalirkan air. Dalam mitologi Hindu bentuk demikan ini dikenal sebagai yoni.

BKL 2 arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk. Arca demikian disebut dengan nandi. Meskipun arca nandi ini pada beberapa bagian telah hilang tetapi masih terlihat bahwa arca tersebut digambarkan dengan lengkap sehingga termasuk dalam arca masa klasik.

KRKM Berupa batu dengan datar berdenah bujur sangkar. Bagian samping batu tersebut terdapat pelipit. Batu dengan bentuk demikian kemungkinan merupakan bagian dasar yoni yang diletakkan secara terbalik.

Ganesha dari Karang Kamulyan digambarkan dengan sangat sederhana, sehingga termasuk arca tipe Pajajaran.

Berdasarkan ciri-cirinya ke 21 buah arca tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama yaitu arca tipe Polinesia yang terdiri dari 5 arca. Ke lima arca tersebut yaitu JBSR 1, JBSR 3, JBSR 4, JBSR 6, dan JBSR 13. Arca-arca ini merupakan tinggalan hasil budaya tradisi megalitik dari masa prasejarah. Kelompok kedua yaitu arca yang bercorak Hindu-Buddha. Arca-arca yang termasuk kelompok kedua ini terdiri dari 11 arca. Ke 11 arca bercorak Hindu-Buddha tersebut terdiri dari bentuk Lingga (JBSR 7, JBSR 8, JBSR 12, dan LKB 2), Yoni ( LKB 1, LKB 4, MGJ, BKL 1, dan KRKM), Nandi (BKL 2). Sedangkan arca LKB 3 meskipun tidak jelas tokoh yang diarcakan, tetapi adanya stella menunjukkan ciri-ciri sebagai arca klasik. Dilihat dari konteks temuan lain yang ada di tempat tersebut kemungkinan arca tersebut berlatarbelakang religi Hindu. Arca kelompok ketiga yaitu yang termasuk arca tipe Pajajaran terdiri dari 5 arca. Termasuk dalam kelompok ini yaitu Nandi (JBSR 2, LKB 5, dan CRG) dan Ganesha (JBSR 5 dan Ganesha Karang Kamulyan). Arca-arca tersebut menunjukkan ciri-ciri sebagai arca klasik, tetapi dengan penggambaran yang sederhana.

Berdasarkan uraian terdahulu terlihat bahwa lingga dan yoni dibuat sesuai dengan aturan ikonografi. Ganesha Jambansari dan Karang Kamulyan keduanya dibuat dengan sangat sederhana. Bagian-bagian tubuh Ganesha Jambansari hanya dibuat dengan pahatan yang dangkal. Sedang Ganesha Karang Kamulyan dibuat dengan sederhana, tetapi penggambarannya telah mendekati aturan ikonografi. Sementara itu, Nandi dari Jambansari, Lakbok dan Candi Ronggeng bagian-bagian tubuhnya hanya digoreskan dengan pahatan yang dangkal, sedangkan Nandi dari Batu Kalde tidak mengalami modifikasi. Laporan Bujangga Manik (abad ke-15 M) dalam perjalanannya sepulang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur menyebutkan tentang adanya runtuhan candi di Pananjung (Ferdinandus 1990: 297). Dengan demikian diperkirakan bahwa situs Batu Kalde tersebut berasal dari masa pra Sunda.

Daftar Pustaka

Agus. 1994. “Stratigrafi dan Paleontologi Daerah Urug Kasang, Ciamis, Jawa Barat”. Dalam Jurnal Balai Arkeologi Bandung Edisi Perdana. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

——-. 1998/1999. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi. Penelitian Arkeometri di Daerah Kaso Kabupaten Ciamis (Aspek Stratigrafi & Paleontologi). Balai Arkeologi Bandung. (tidak diterbitkan)

Atmodjo, Junus Satrio. 1999. Vademekum Benda Cagar Budaya. Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.

Ayatrohaedi. 1982. “Masyarakat Sunda Sebelum Islam”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi ke II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hlm.333–346.

Danasasmita, Saleh. 1983/1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Jilid Kedua. Bandung: Proyek Penerbitan Buku Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

——-, 1987. Sewaka Darma, Sanghyang Siksakanda ng Karêsian, Amanat Galunggung. Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi).

Eriawati, Yusmaini. 1995/1996. “Arca Megalitik Cikapundung”. Dalam Kebudayaan Nomor 10 Th V 1995/1996. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hlm. 74– 79.

Ferdinandus, P.E.J. 1990 “Situs Batu Kalde di Pangandaran, Jawa Barat”. Dalam Monumen: Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Hlm. 285–301.

Iskandar, Yoseph. 1997. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa). Bandung: Geger Sunten.

Mulia, Rumbi. 1980. “Beberapa Catatan Tentang Arca-arca Yang Disebut Arca Tipe Polinesia”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi, Cibulan 21-25 Februari 1977. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Hlm. 599–646.

Saptono, Nanang. 2002. Karang Kamulyan a Historical Event and an Archaeological Site. Jakarta: Culture Developing Policy Program Ministry of Culture and Tourism.

Sedyawati, Edi. 1994. Pengarcaan Ganeça Masa Kadiri dan Singasari, Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rijksuniversiteit Te Leiden, EFEO.

Sumadio, Bambang. 1990. “Jaman Kuno”, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakar¬ta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, PN Balai Pustaka.

Widyastuti, Endang. 2000. “Tinggalan Arkeologis di Ciamis Bagian Timur”. Dalam Kronik Arkeologi: Perspektif Hasil Penelitian Arkeologi di Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Lampung. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

——-, 2002a. “Tembikar dan Keramik dari Kawasan Kertabumi”. Dalam Tapak-Tapak Budaya. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Barat – Banten.

——-, 2002b. “Arca-Arca Tipe Pajajaran di Pejambon, Cirebon”. Dalam Jelajah Masa Lalu. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Barat – Banten.

——-, 2003. “Penelitian Arca-Arca Di Kuningan Dalam Rangka Pengungkapan Perkembangan Religi”. Dalam Mosaik Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Barat – Banten.

Yondri, Lutfi. 1999. “Mungkinkah Manusia Purba Pernah Hidup di Kawasan Jawa Barat?” Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 5/Maret/1999. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Catatan:
Tulisan ini dimuat di buku “Arkeologi dari Lapangan ke Permasalahan”, hlm. 55 – 72. Editor Prof. Dr. Edi Sedyawati. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2006.

[alert style=”white”]referensi: arkeologisunda.blogspot.com [/alert]