Ritual Misalin

Ritual Misalin

Jelang Ramadan, beberapa ritual adat digelar di sejumlah situs di Ciamis. Salah satunya ritual Misalin di situs keramat makam Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh, di Dusun Tinggarahayu, Desa dan Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis.

Misalin secara harfiah berarti melakukan pergantian menuju kesejahteraan hidup lahir batin.

Tradisi tahunan ini telah dilakukan masyarakat di wilayah tersebut secara turun temurun. Pada tradisi ini, masyarakat bergotong royong membersihkan makam leluhur sekaligus berdoa di tempat tersebut untuk menyucikan diri menyambut Ramadan.

“Misalin juga bermakna membersihkan diri dari segala macam perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma agama,” ujar juru kunci makam keramat Galuh Salawe, Latif Adiwijaya.

Lebih lanjut Latif menuturkan ritual itu tidak hanya sebatas membersihkan makam karuhun yang rutin dilaksanakan.

Namun, menurut dia, Misalin juga merupakan momentum untuk “ngikis diri” demi mendapat keberkahan hidup.

Pada tradisi itu warga secara sukarela bergotong-royong membuat pontrang, yakni makanan yang disajikan di atas anyaman daun kelapa yang dibentuk segi empat menyerupai bentuk kapal.

Pontrang itu kemudian dibagikan kepada warga yang hadir dalam ritual untuk selanjutnya dimakan bersama-sama.

Pontrang itu wadah makan jaman dulu ketika acara atau hajat masyarakat digelar seperti di acara khitanan ataupun pernikahan. Pontrang dibuat dari daun kelapa dan mengingatkan kita pada sumber-sumber alam yang bis dimanfaatkan,” ucap Ayip salah seorang penyelenggara.

Uniknya, tidak seperti ritual di daerah lain, tak ada aksi saling rebut saat pontrang dibagikan.

Ratusan warga dengan sabar duduk menunggu jatah pembagian dari panitia penyelenggara.

Pontrang dibagikan setelah prosesi tawasulan usai dilaksanakan. Singkatnya seluruh acara dalam ritual tersebut berlangsung dengan khidmat dan tertib.

[alert style=”white”] Sumber: Yulistyne Kasumaningrum/”Pikiran Rakyat” [/alert]

NYANGKU di Panjalu

NYANGKU di Panjalu

Kegiatan “NYANGKU” merupakan kegiatan tahunan masyarakat Panjalu Kabupaten Ciamis yang biasa dilaksanakan di minggu terakhir bulan Maulid pada hari Senin atau Kamis. Kegiatan “NYANGKU” mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, Kepolisian, TNI dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Ciamis sebagai aset kebudayaan peninggalan leluhur Panjalu yang sangat berharga yang wajib dilestarikan. “NYANGKU” diawali dengan arak-arakan benda pusaka menuju Alun-alun Kecamatan Panjalu. Di Alun-alun Panjalu barulah prosesi pembersihan pusaka-pusaka dilaksanakan satu-persatu dengan penuh khidmat. Sedangkan air yang digunakan untuk membersihkan pusaka-pusaka tersebut berasal dari berbagai sumber mata air di seputar provinsi Jawa Barat.

Kegiatan “NYANGKU” kali ini dilaksanakan pada hari Senin (4/2) bertempat di alun-alun Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis. Seperti dituturkan oleh Ketua Panitia Penyelenggara Bapak Ucup dalam sambutannya, ”Arti kata “NYANGKU” berarti “membersihkan”. Jadi pada hakikatnya, menurut Ucup, NYANGKU adalah ritual untuk membersihkan pusaka-pusaka peninggalan para leluhur Panjalu yang salah satu peninggalan tersebut berbentuk pedang yang diberikan Sayidina Ali Rodhialloh huanhu kepada Prabu Boros Ngora (Raja Panjalu saat itu).

Ucup juga menuturkan, bahwa Upacara nyangku ini merupakan acara melestarikan dan memelihara pusaka para leluhur, bukan berarti ‘menyembah pusaka’ karena hal tersebut termasuk musyrik. Karena masyarakat Panjalu yang religius sebagai Umat Muslim tetap menyembah dan meminta pertolongan kepada Allah SWT. Demikian paparan Bapak Ucup sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Upacara “NYANGKU” dalam laporannya di awal upacara “NYANGKU”.

Kegiatan  berupa budaya pembersihan benda-benda pusaka peninggalan para leluhur Panjalu ini sama seperti budaya “Sekatenan” di Yogyakarta dan “Upacara Panjang Jimat” di Cirebon,” tambah Ucup. Budaya ini adalah merupakan kekayaan warisan masyarakat Panjalu. Oleh karena itu panitia mengajak warga masyarakat Panjalu pada khususnya dan warga masyarakat Tatar Galuh Ciamis pada umumnya yang peduli terhadap kebudayaan warisan leluhur Panjalu  untuk melestarikan “NYANGKU” sebagai kebudayaan Panjalu yang tidak boleh punah sampai kapanpun.

Ucup juga menjelasakan, bahwa Upacara “NYANGKU” ini telah dikenal sampai ke mancanegara seperti, Timur Tengah, Asia bahkan Amerika Serikat. Untuk penyempurnaan pada pelaksanaannya, panitia fokus pada sistem penyelenggaraan dan SDM pelaksananya. Perhatian terhadap Upacara “NYANGKU” datang dari berbagai pihak dan berbagai daerah di Nusantara khususnya pihak-pihak yang ‘concern’ terhadap budaya tanah air, misalnya perhatian dari Universitas Padjadjaran-Bandung melalui dukungan Profesor Nina Lubis untuk menyusun sejarah Panjalu secara lengkap dan terintegrasi.

Dalam kesempatan tersebut Ketua Panitia Penyelenggara menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian penuh dari Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, khususnya dalam pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana pendukung pelestarian kebudayaan di Panjalu. Seperti penataan Alun-alun Kecamatan Panjalu dengan pembuatan panggung permanen, sehingga sangat menunjang  acara seperti “NYANGKU”. Tinggal pembinaan sumber daya manusia (SDM) pengelolanya agar lebih baik lagi. Selanjutnya sampai saat ini koordinasi antara para kepala desa, camat sampai tingkat kabupaten telah berjalan dengan baik terutama konsentrasi terhadap bidang kesehatan, pendidikan dan kepariwisataan,” demikian penuturan Bapak Ucup.

Pesan terakhir Bapak Ucup, ”Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk upaya pelestarian budaya leluhur, jangan dijadikan kegiatan penyembahan kepada pusaka, karena sebagai Umat Muslim masyarakat Panjalu tetap menyembah, berdo’a dan memohon kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa  seperti halnya kegiatan “NYANGKU” ini dirangkaikan dengan kegiatan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Bazar dan pentas kreasi seni kebudayaan setempat.

Bupati Ciamis H. Engkon Komara yang berkesempatan hadir dalam acara “NYANGKU” sangat mengapresiasi kegiatan yang digelar. Sedangkan kegiatan “NYANGKU” ini pula memiliki arti khusus bagi Bupati Engkon karena secara keturunan, Bupati Engkon Komara juga lahir dari keturunan keluarga besar Panjalu  tepatnya yaitu di daerah Sandingtaman Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis.

Dalam sambutannya, Bupati Ciamis menceritakan sekelumit sejarah Panjalu khususnya di masa kepemimpinan Prabu Boros Ngora di Panjalu. Bupati Ciamis mengajak warga masyarakat Kabupaten Ciamis untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Tatar Galuh Ciamis, termasuk kebudayaan “NYANGKU” sebagai salah satu warisan berharga dari nenek moyang Ciamis.

Masih dalam sambutannya, Bupati Engkon menyampaikan dampak positif dari penyelenggaran acara ini yaitu bahwa Generasi Muda menjadi tahu dan mengerti tentang asal-usul leluhurnya. Apalagi dengan dapat menyaksikan langsung secara khidmat upacara yang digelar pada hari ini. Bupati Ciamis juga mengamanatkan, ”Jangan sampai kegiatan ini disalahpersepsikan sebagai upacara menyembah pusaka (keris) karena hal tersebut hukumnya ‘musyrik’. “Tetapi mari kita kaitkan arti upacara “NYANGKU” ini dengan kehidupan kita sehari-hari yang harus senantiasa introspeksi apakah kita sudah bersih atau belum. Seperti halnya upacara “NYANGKU” ini, maka marilah kita selalu berupaya untuk membersikan diri dalam kehidupan kita,” demikian pesan dalam sambutan Bupati Ciamis.

Kelestarian terhadap Budaya Panjalu dengan situs dan kebudayaan religinya sempat menarik perhatian mantan Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkunjung ke Panjalu beberapa tahun silam. Hal ini menunjukkan bahwa Panjalu memiliki objek wisata yang sangat potensial yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat Panjalu dan sekitarnya dalam segi perekonomian,” demikian disampaikan Bupati Ciamis menutup sambutannya.

[alert style=”white”] Sumber : Press Release Humas Setda Kabupaten Ciamis/ciamiskab[/alert]

NGADAGE, Ngawangkong di Astana Gedé Kawali

NGADAGE, Ngawangkong di Astana Gedé Kawali

‘NGADAGE’ Ngawangkong di Astana Gedé mangrupakeun hiji kagiatan nu diayakeun di payuneun Astana Gedé/ Kabuyutan Lingga Hyang – Kawali – Kab. Ciamis, anu biasa diayakeun rutin satiap malem Saptu ku réngréngan Paseban Jagat Palaka (Paguyuban Seniman Budayawan Kawali).

Acara Ngadagé ieu mangrupakeun acara silaturahmi ku cara kumpul ngariung pikeun ngaraketkeun duduluran ogé pikeun tuker pamikiran ngeunaan sajarah katut seni budaya Sunda tur tapak lacak Karuhun baheula.

Acara Ngadagé ieu sipatna ‘terbuka’ keur umum, teu ka wates ku umur jeung golongan. Temana nyalsé henteu formal, saukur ngawangkong anu biasana temana saputar sajarah/ seni budaya/ tradisi tur rupi-rupi tema obrolan liana.

Sumangga kanu kagungan waktos, diantos kasumpinganana kanggo ngiring aub dina waktosna.

[alert style=”white”] referensi: http://www.facebook.com/events/519753811383056/[/alert]

Aksara Sunda Kawali

Aksara Sunda Kawali

Latar Belakang 
Aksara Sunda Kuno adalah aksara yang digunakan pada prasasti-prasasti dan piagam (serta naskah) jaman kerajaan Sunda (yang tertua ditemukan pada prasasti Kawali abad XIV) (Darsa. dkk, 2007: 12). Selanjutnya Holle (1882: 15-18, dalam Darsa, 2007: 15) menyatakan aksara tersebut sebagai modern schrift uit de Soenda-landen, en niet meer dan + jaar oud ‘aksara modern dari Tatar Sunda, dan berusia tidak lebih dari sekitar 1500 tahun’.

Pada tahun 2008, dilakukan upaya untuk menghidupkan kembali aksara Sunda kuno dengan beberapa perubahan dan pembakuan bentuk. Bentuk aksara Sunda baku tersebut berdasarkan aksara Sunda kuno yang terdapat pada naskah-naskah Lontar. Upaya sosialisasi aksara Sunda mutakhir tidak hanya sebatas pembakuan, tetapi juga dengan pembuatan file fonta aksara Sunda Baku yang dapat digunakan pada komputer. Pembakuan fonta aksara Sunda Baku didukung oleh Unicode, yang memasukkan aksara Sunda Baku ke dalam slot karakter khusus dalam tabel komputerisasi aksara-aksara dunia.

Beberapa karakter aksara Sunda pada prasasti Kawali memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan tipe aksara pada naskah-naskah Sunda kuno. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa aksara Sunda pada prasasti Kawali merupakan jenis aksara Sunda tertua yang pernah ditemukan. Namun hingga saat ini belum ada upaya pendokumentasian aksara Kawali ke dalam bentuk fonta.

Tujuan
Komputerisasi Aksara Kawali bertujuan untuk mendokumentasikan aksara Sunda kuna tipe prasasti Kawali ke dalam bentuk digital. Aksara tersebut dibuat ke dalam bentuk file fonta sehingga dapat digunakan untuk mengetik dalam perangkat lunak pengolah aksara, maupun perangkat lunak lainnya. Fonta ini dibuat bukan untuk ‘membingungkan’ para pengguna komputer dan pembelajar aksara Sunda Baku, tetapi untuk menambah khasanah kekayaan aksara Sunda dalam dunia Informasi dan Teknologi.

Aksara Sunda yang resmi digunakan secara luas saat ini adalah aksara Sunda Baku , dengan pengkodean khusus dari Unicode . Sedangkan fonta aksara Sunda Kawali dimaksudkan untuk pembelajaran aksara Sunda kuna tipe prasasti Kawali, terutama di lingkungan akademis. Dengan dibuatnya fonta ini, diharapkan dapat memudahkan para peminat dan penggiat aksara Sunda dalam pengenalan salah satu ragam aksara Sunda kuna.

Sumber Data
Sumber data utama dalam pembuatan fonta Aksara Sunda Kawali ini adalah Prasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali, yang ditemukan di kawasan Kabuyutan Kawali, kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terutama pada prasasti “utama” yang bertulisan paling banyak (Prasasti Kawali I). Adapun secara keseluruhan, terdapat enam prasasti. Kesemua prasasti ini menggunakan bahasa dan aksara Sunda (Kaganga). Meskipun tidak berisi candrasangkala, prasasti ini diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-14 berdasarkan nama raja.

Berdasarkan perbandingan dengan peninggalan sejarah lainnya seperti naskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, dapat disimpulkan bahwa Prasasti Kawali I ini merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat.

Metode 
Metode yang digunakan adalah penjejakan aksara (tracing) pada prasasti dengan beberapa penyesuaian (normalisasi) bentuk. Karena pertimbangan materi, jarak, dan waktu, karakter aksara dibuat berdasarkan gambar foto yang tersedia di internet. Sebagai pembanding untuk memferivikasi bentuk aksara, digunakan daftar tabel aksara yang disusun K.F Holle tahun 1882.

Bentuk aksara yang telah didapatkan dari foto prasasti Kawali dijejaki dengan perangkat lunak pembuat fonta, yaitu FontForge . Hasil penjejakan tersebut kemudian dirapikan dan dilakukan beberapa penyesuaian berdasarkan bentuk sewajarnya, karena terdapat bentuk yang tidak konsisten antara karakter huruf yang sama. Penyesuaian yang dilakukan adalah proporsi tinggi, lebar dan kemiringan huruf, tanpa mengubah bentuk dasarnya.

Kumpulan gambar karakter (glyph) tersebut kemudian dimasukkan ke dalam slot papan tombol. Jangkauan (range) pengkodean karakter Font Kawali berada pada Latin-1

Video Demonstrasi Penggunaan Font Kawali.otf

bila ada yang memerlukan font Kawali.otf silahkan kirim email ke ilhamnurwansah@gmail.com

[alert style=”white”] referensi: http://ilhamnurwansah.wordpress.com [/alert]

Situs Pangcalikan Gunung Padang

Situs Pangcalikan Gunung Padang

Di Desa Sukaresik, Kecamatan Cikoneng terdapat semacam hutan lindung yang di dalamnya terdapat objek peninggalan purbakala yang oleh masyarakat setempat dinamakan pangcalikan. Lahan seluas sekitar 7 hektar ini kondisi geografisnya berupa perbukitan. Untuk mencapai lokasi ini setelah memasuki kawasan hutan lindung harus melalui jalan setapak berbatu yang menanjak.

Pada kompleks situs Pangcalikan Gunung Padang terdapat objek berupa bangunan berundak, makam, dan kolam. Bangunan berundak di Gunung Padang terpusat pada batu datar yang disebut pangcalikan. Batu ini berada di dalam bangunan semacam cungkup yang dibangun pada 1999 oleh kerabat juru pelihara. Bangunan cungkup menghadap ke arah selatan berukuran 4,42 x 4,62 m berdiri pada lahan yang lebih tinggi dari sekitarnya. Lahan tersebut dibatasi dengan benteng talud batu dengan ukuran panjang 11,76 m dan lebar 12,80 m. Batu pangcalikan terdiri dua bongkah. Batu yang besar berukuran panjang 114 cm, lebar 69 cm, dan tebal 14 m. Sedang batu yang lebih kecil berukuran panjang 45 cm, lebar 28 cm, dan tebal 10 cm. Di sebelah selatan pangcalikan terdapat enam batu tegak dan di sebelah utara terdapat satu batu tegak. Di sebelah utara (belakang) bangunan cungkup terdapat hamparan batu yang bentuk dan ukurannya bervariasi. Jarak dari batas benteng talud ke hamparan batu adalah 3,53 m .

Di sebelah utara bangunan terdapat makam. Makam ditandai dengan nisan berukuran tinggi 44 cm, lebar 25 cm dan tebal 16 cm. Jarak antara makam dengan benteng talud batu 4,85 m.

Di Situs Gunung Padang  terdapat 1 kolam yang disebut cikahuripan dan 3 sumur kecil sebagai sumber mata air. Kolam dan sumur kecil terletak di sebelah utara halaman inti. Kolam Cikahurupan berukuran panjang 4.80 m dan lebar 3.70 cm. Di sebelah utara kolam cikahuripan berjarak ± 4.90 m terdapat tiga sumur kecil sebagai sumber mata yang mengalir ke kolam kahuripan melalui bawah tanah.

Situs Pangcalikan Gunung Padang dikaitkan dengan Kerajaan Galuh. Diceritakan bahwa Sri Maharaja Adi Mulya adalah seorang raja dari kerjaan Galuh. Pada waktu ia memerintah sangat disegani rakyatnya. Beliau mempunyai dua orang istri yang pertama bernama Naga Ningrum berputra Ciung Wanara dan yang kedua Dewi Pangrengep yang berputra Hariang Banga. Sementara beliau memerintah dibantu oleh seorang patih bernama Aria Kebonan dan seorang longser. Aria Kebonan adalah seorang patih yang cukup cakap sehingga segala perintah raja dapat dilaksanakan dengan baik. Pada suatu hari dalam hati kecil Patih  berkeinginan menjadi raja. Keinginan ini kian menjadi sehingga dengan sekuat tenaga Kerajaan Galuh dapat direbutnya. Raja Sri Maharaja Adi Mulya merasa tersingkir dan akhirnya beliau pergi ke sebelah barat bermaksud mengasingkan diri dan bertapa di sebuah tempat dan menyamar dengan mengganti nama menjadi  Ki Hajar Sukaresi. Ada yang mengatakan untuk menghilangkan jejaknya sampai dua badan kasarnya juga dirubah menjadi ular yang sangat besar yang bernama Naga Wiru. Setelah bertapa, dengan dibantu oleh Giri Dawang, beliau berniat untuk merebut kembali tahta Kerjaan Galuh. Setelah kerajaan dapat direbut kembali kerajan itu diserahkan kepada putranya yaitu Ciung Wanara di sebelah barat dan Hariang Banga di sebelah timur. Tempat ketika bertapa dan menyusun kekuatan  inilah bernama Gunung Padang yang sampai sekarang masih bisa dilihat menjadi tempat berjiarah yang banyak dikunjungi.

Situs Pangcalikan Gunung Padang merupakan peninggalan purbakala yang berhubungan dengan bentuk sistem religi masyarakat masa lampau. Pengembangan untuk sektor pariwisata sebaiknya memperhatikan faktor lingkungan dan makna simbolis yang berkaitan dengan religi masa lampau. Jalan setapak berbatu menuju kompleks situs perlu dipertahankan agar tidak menghilangkan makna simbolis nilai-nilai budaya luhur.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id [/alert]

Situs Kertabumi

Situs Kertabumi

Situs Kertabumi berada di Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing tepatnya berada pada koordinat 7º20’43,4” LS dan 108º27’49,9” BT dengan luas sekitar 320 m2. Lokasi situs berada pada kawasan yang diapit Sungai Cileueur dan Sungai Cimuntur. Kedua sungai tersebut bertemu di sebelah timur laut Gunung Susuru. Gunung Susuru merupakan suatu tonjolan bukit yang terbentuk oleh batuan breksi vulkanik. Ketinggian daerah di Gunung Susuru dan sekitarnya kurang lebih 100 m di atas permukaan laut. Batas situs ini di sebelah utara adalah S. Cimuntur, timur pertemuan antara S. Cimuntur dengan Cileueur, selatan Sungai Cileueur, dan barat Kampung Bunder.

Kawasan Kertabumi pertama kali diketahui dari laporan Kantor Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Ciamis yang memberitakan bahwa telah ditemukan tinggalan arkeologi di Dusun Bunder, Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Sehubungan dengan adanya laporan tersebut, Balai Arkeologi Bandung pada tahun 2000 mengadakan penelitian awal. Selanjutnya pada tahun 2001, diadakan penelitian yang lebih mendalam di Kawasan Kertabumi.

Kawasan Kertabumi mencakup dua situs yaitu situs Gunung Susuru dan situs Bojong Gandu. Di situs Gunung Susuru terdapat tiga batu datar terbuat dari batuan beku andesitik. Batu datar I berada di bagian timur laut Gunung Susuru, batu datar II berada di sebelah barat daya batu datar I berjarak sekitar 350 m, sedangkan batu datar III berada di sebelah barat daya batu datar II berjarak sekitar 100 m. Di dekat batu datar I terdapat batu bersusun terbentuk dari tiga bongkah batuan beku andesit.

Di Gunung Susuru juga terdapat tiga punden berundak. Punden I berada di atas bukit kecil pada ujung timur laut Gunung Susuru. Punden II berada di antara punden I dan punden III. Punden III berada pada bagian barat daya Gunung Susuru. Ketiga punden terbentuk dari susunan bongkah batuan beku andesitik.

Pada tebing Gunung Susuru terdapat 5 gua terbentuk dari batuan breksi vulkanik. Berdasarkan keadaan fisiknya, terlihat gua-gua tersebut merupakan gua buatan (artificial caves) yang ditoreh pada tebing di tepi Sungai Cimuntur dan Cileueur dengan kemiringan lereng  75°. Di dalam gua, penduduk pernah menemukan pecahan tembikar, gigi Bovidae (kerbau purba), gigi  Sus (babi), fragmen tulang, dan geraham manusia. Fragmen tulang dan gigi yang ditemukan di lokasi tersebut sudah mengalami proses pemfosilan (sub-fosil).

Situs Bojong Gandu berada di sebelah barat laut situs Gunung Susuru. Keadaan lahan di situs Bojong Gandu relatif datar. Tinggalan arkeologi di situs Bojong Gandu berupa sisa benteng yang terbuat dari susunan batu. Di situs Bojong Gandu banyak ditemukan fragmen keramik, fragmen tembikar, dan kerak besi. Fragmen keramik berasal dari Cina, Thailand, Vietnam, dan Eropa terbanyak berasal dari Cina masa dinasti Ming dan Qing.

Di Dusun Bunder terdapat beberapa objek arkeologis yaitu sumur taman, sumur batu, dan beberapa makam kuna. Sumur taman adalah dua sumur yang berada di pinggiran tebing batuan breksi, tepatnya pada 7?20’23,9” LS dan 108?27’26,3” BT di sisi selatan Cimuntur. Di seberang sungai (sisi timur) terdapat sumur batu. Sumur tersebut berupa bongkah batuan beku yang dilubangi. Lubang berada di sisi selatan dengan diameter lubang 50 cm. Berdasarkan hasil identifikasi objek, yang disebut sumur oleh masyarakat ternyata adalah lumpang batu. Makam kuna yang ada di Dusun Bunder dikenal dengan sebutan Makam Tanduran Ageung atau Tanduran Sari dan Komplek Makam Prabu Dimuntur.

Untuk mencapai kawasan ini sudah dibangun jalan aspal hingga menjelang Gunung Susuru. Untuk mencapai seluruh objek telah dibangun jalan setapak berplester semen. Lanskap kawasan sangat mendukung pengembangan wisata di kawasan ini, khususnya wisata minat khusus. Sementara ini wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini baru sebatas pada wisata alam. Pengembangan paket wisata yang menyertakan aspek budaya perlu ditunjang dengan informasi mengenai peninggalan budaya masa lampau.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id [/alert]