Data Fosil & Benda Cagar Budaya Kabupaten Ciamis

Data Fosil & Benda Cagar Budaya Kabupaten Ciamis

Fosil & Benda Cagar Budaya Kabupaten Ciamis tersebar dibeberapa situs seperti di Situs Karangkamulyan, Situs Gunung Susuru dan Situs Tambak Sari.

Berikut adalah beberapa informasi  Fosil & Benda Cagar Budaya tersebut:

SITUS KARANGKAMULYAN

NO

NAMA

JUMLAH

1

2

3

4

5

6

7

ARCA NANDI

BATU BERUKIR

BATU PIPISAN

BATU LUMPANG

BOKOR POSLEN

CAWAN

PHOTO MUSEUM

1

1

1

2

1

1

1

JUMLAH

8

SITUS GUNUNG SUSURU

NO

NAMA

JUMLAH

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

BATU TAPAK

BATU PELURU

MATA TOMBAK

GIGI MANUSIA PURBA

TEMPAT NUMBUK RAMUAN

BATU PEKAKAS

GUCI

BAJU KEURE

BATU PIPISAN

BATU MOTIF

1

1

3

2

1

1

1

1

1

1

JUMLAH

13

SITUS TAMBAKSARI

NO

NAMA

JUMLAH

1

2

3

4

5

6

.

.

7

8

9

10

11

12

13

14

SISIT IKAN

GIGI IKAN

RUSUK KUDA NIL

RAHANG RUSA

GIGI RUSA

TANDUK RUSA

1. BESAR

2. KECIL

TENGKORAK GAJAH STAGODON

GIGI GAJAH

SENDI KUDA NIL

TARING KUDA NIL

KAKI GAJAH

ENGSEL GAJAH

RAHANG KUDA NIL

PHOTO MUSEUM

4

1

3

1

2

.

1

11

1

1

1

1

2

1

1

1

JUMLAH

33

[alert style=”white”]referensi: budayagaluh.blogspot.com[/alert]
Prosesi Seni Penta Kahuripan (Seni Kupat) dari Panawangan

Prosesi Seni Penta Kahuripan (Seni Kupat) dari Panawangan

Penta Kahuripan merupakan salah satu gambaran kegiatan, kebiasaan / aktivitas sehari-hari Masyarakat Panawangan, yang diapresiasikan melalui pentas seni. Masyarakat Panawangan  biasa membuat sesuatu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, yang dilakukan sejak dahulu (Bihari) hingga sekarang (Kiwari).

Kegiatan tersebut masih terus berlangsung bahkan hingga kini sangatlah terkenal  yaitu Kupat Panawangan  yang menjadi  ciri khas makanan ringan produk lokal,  pada awalnya kupat tersebut di buat untuk kebutuhan / syarat  dalam kegiatan yang bersifat sakral  misalnya acara selamatan atau syukuran.

Kupat panawangan bisa terkenal kemana-mana terutama pada saat menyongsong hari besar islam, juga tidaklah surut  para tamu yang lewat atau sengaja membutuhkannya untuk berbagai keperluan misalnya bekal disaat bepergian mengingat disamping  praktis, Kupat  bisa  tahan tanpa pengawet hingga beberapa hari.

Tentunya hal ini membuat mereka kagum dan aneh, dengan cara yang sangat tradisi, Kupat yang terbuat dari bahan beras dibungkus dengan daun kelapa kemudian direbus bisa tahan dan mempunyai rasa yang khas sebagai ciri yang khas kupat Panawangan.

Tidak sedikit daerah yang lain ingin membuatnya, membuat kupat seperti di Panawangan, namun sampai sekarang belum ada yang mampu menyerupai baik rasa, rupa maupun keawetannya.

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan turun-temurun hingga puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Dan ternyata tidak mudah bagi mereka yang sama sekali tidak mempunyai keturunan dalam arti  ( kasepuhan ). Mengapa demikan, ternyata dalam proses pembuatannya tidak sembarangan, artinya  pembuatan kupat selalu menggunakan proses yang sangat sukar tanpa mengetahui tata cara yang sangat khas dan ketradisiannya.

Kupat yang berbentuk segi lima ini mempunyai  symbol yang mempunyai arti tertentu seperti pada bentuknya lima sudut ( Juru ) yang artinya ( penta ) yaitu lima kekuatan untuk dapat mempertahankan hidup ( Kahuripan ) yaitu kahayang, kabisa, kauletan, kanyaah dan kaboga. Yang akhirnya dengan memegang falsapah tersebut  terbukti idak  sedikit mereka kini kehidupannya menjadi berubah lebih dari cukup.

Begitulah sedikit informasi yang dapat di tulis dalam sinopsis ini tentang keberadaan Kupat Panawangan atau Kupat Penta Kahuripan.  Dengan harapan hal ini bisa dijadikan Kegiatan Budaya Daerah Panawangan, sehingga masyarakat tidak lupa akan jati dirinya.

Dalam hal ini tidak akan banyak dikupas lebih dalam tentang bagaimana asal mula Kupat Penta Kahuripan tersebut lahir dan berkembang.  Kami disini hanya akan memberikan gambaran melalui pentas seni tentang proses pembuatan Kupat Penta Kahuripan yang ternyata pada mulanya dibuat sangat suci dan sakral.

KARAKTERISTIK

Karateristik dari prosesi seni adat Kupat Penta Kahuripan ini yang kesemuanya mempunyai makna sesuai dengan tujuan awal masyarakat Panawangan ingin merubah hidup dalam kehidupan, diantaranya adalah:

  • Menumbuk padi pada lesung di gambarkan dengan pertunjukkan seni gondang.
  • Makna betuk kupat  yang terdiri dari 5 siku ( juru ) yang merupakan simbol pegangan hidup.
  • Makna warna yang khas ( tekad, keberanian) sebagai rakyat jelata yang ingin tetap bertahan hidup.
  • Proses pengambilan air dari lima sumber mata air keramat yang ada di daerah panawangan dengan tujuan meminta doa dari sesepuh.
  • Tatakrama membersihkan beras yang merupakan bahan pembuatan kupat pada bakul dengan gerakan yang sudah ditentukan tidak boleh kurang atau lebih dari jumlah yang sudah ditentukan. Tatakrama pengambilan daun kelapa / janur dari pohon  kelapa pilihan di daerah Panawangan.

Suasana memasak kupat dimana selama memasak tidak boleh ditinggalkan.
Suasana disaat hari raya besar islam dimana kupat merupakan makanan yang sangat didambakan masyarakat.

Prosesi seni penta kahuripan (seni kupat)merupakan jenis seni kreasi baru yang diambil dari kebiasaan masyarakat yakni masyarakat daerah panawangan dan jenis kesenian ini bisa disebutkan jenis senimonumental.

Diciptakan pada th.2008 oleh Endi Ependi S.Sn
Dipublikasikan ditingkat jabar Pada acara Kemilau Nusantara Propinsi Jawa Barat Tahun 2009

 

[alert style=”white”]referensi: smpn2sukamantri.blogspot.com[/alert]

Menengok Tradisi Nyepuh Warga Ciomas

Menengok Tradisi Nyepuh Warga Ciomas

Tradisi Nyepuh sesungguhnya merupakan puncak dari rangkaian kegiatan ngamumule (melestarikan) adat karuhun (leluhur). Dan upacara Nyepuh sendiri merupakan manifestasi kearifan lokal yang tidak saja harus dilestarikan, tapi juga diangkat dalam lingkup berbangsa dan bernegara. Sebab di dalamnya terdapat banyak nilai dan layak dipahami sebagai keteladanan.

Ciomas adalah nama desa di kaki Gunung Syawal, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Di desa ini tergambar kehidupan khas masyarakat Tatar Sunda yang sesungguhnya. Dan seperti desa agraris lainnya, penduduk Desa Ciomas juga menggantungkan hidupnya kepada alam. Ketaatan dan kearifan terhadap alam inilah yang kemudian membuat Ciomas menjadi daerah harmonis dan damai.

Kearifan warga Ciomas terhadap alam tak lepas dari keberadaan hutan yang berada persis di tengah-tengah desa. Hutan seluas 35 hektare ini disebut hutan Sukarame dan dianggap keramat oleh warga. Aturan-aturan tidak tertulis dalam adat masyarakat, membuat hutan ini tetap lestari. Kepatuhan terhadap aturan inilah yang membuat hutan keramat ini masih lestari. Bahkan pemerintah sendiri pernah menganugerahi penghargaan Kalpataru bagi masyarakat Ciomas karena kepeduliannya dalam melestarikan hutan.

Kepercayaan warga terhadap hutan keramat terkait dengan keberadaan makam Kiai Haji Eyang Penghulu Gusti, yang terletak di tengah hutan Sukarame. Di sekitar makam ini pulalah upacara Nyepuh setiap tahun digelar. Menurut sesepuh Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede Sadeli Suryabinangun, Eyang Penghulu Gusti merupakan penyebar agama Islam di Ciomas. Penghulu Gusti pulalah yang meminta warga setempat untuk selalu memperhatikan hutan dan melestarikannya.

Masyarakat di sana dilarang menebang pohon, apalagi merusaknya. Siapa yang melanggar pantangan itu, dipercaya bakal mendapatkan musibah dalam hidupnya. Karena pantangan itulah tak ada seorang pun warga di sana yang berani berbuat macam-macam di hutan ini.

Mulung Pangpung

Tradisi Nyepuh sendiri merupakan upacara puncak dari rangkaian tradisi lain yang berlangsung sehari sebelumnya. Antara lain tradisi mulung pangpung atau pengambilan kayu bakar dan nalekan (menanyai). Dua acara ini merupakan kegiatan dalam rangka memasak tiga nasi tumpeng untuk melengkapi upacara Nyepuh keesokan harinya. Ritual memasak nasi tumpeng ini dilakukan menggunakan kebersamaan atau gotong royong.

Ritual mulung pangpung dan nalekan ini pun sangat sarat makna. Misalnya pada prosesi mulung pangpung, pengambilan kayunya harus dari hutan. Itupun tidak boleh sembarangan. Pangpung (kayu lempung) yang diambil harus kayu yang sudah jatuh dari pohonnya. “Jadi tidak boleh kayu yang masih nempel, apalagi yang masih tumbuh. Di situlah nilai pelestarian lingkungan yang diajarkan leluhur tetap dijalankan,” tutur Ki H Dede Sadeli kepada posmo.

Selain itu, proses mulung pangpung harus didampingi kuncen hutan Sukarame, yakni Ibu Siti Mariyam. Nah, juru kuncilah yang kemudian membuka hutan agar terbuka bagi para pencari kayu yang dilakoni para pemuda desa. Pengambilan kayu ini pun harus setelah mendapatkan izin lebih dahulu dari penguasa hutan. Maka Diiringi lantunan ayat suci Alquran dan sholawat nabi, mereka berdoa di sekitar makam. Tujuannya agar kayu-kayu yang nantinya digunakan untuk memasak dapat membawa keberkahan.

Bila menengok kenyataan saat ini, kita bisa menyaksikan hutan-hutan di seantero nusantara rusak berat karena tebang dan dijarah. Hal itu, menurut Ki H Dede, karena simbolisasi mulung pangpung ini tidak diamalkan dalam kehidupan. Di Ciomas, 35 ha hutan Sukarena hingga kini masih lestari karena kearifan masyarakatnya. Sehingga jangan heran pemerintah pernah memberi penghargaan Kalpataru kepada masyarakat Ciomas.

Nah, bila keperluan kayu bakar dirasa telah mencukupi, para pemuda desa yang mendapat mengambil kayu harus menunjukkan kayu-kayu tersebut pada tetua desa. Sebelum dibawa ke kampung, tetua diwajibkan memeriksa kayu-kayu itu. Bila ada rayap atau sudah rapuh, kayu itu tak boleh dibawa pulang dan harus dikembalikan lagi ke dalam hutan.

Ritual Nalekan

Setelah bahan-bahan untuk memasak tersedia. Tibalah saatnya ritual nalekan dilakukan. Nalekan adalah ritual menanyai tentang segala hal berkait pembuatan nasi tumpeng, mulai dari bahan-bahan untuk memasak, hingga prosesnya. Sesuai aturan adat, bahan-bahan membuat tumpeng harus berasal dari kebaikan dan harus halal. Bila ada yang diperoleh dari jalan tidak halal, maka harus disingkirkan. Selain itu, yang memasak tiga tumpeng ini pun harus dilakukan oleh 17 wanita yang sudah menopause.

Dapur yang akan digunakan untuk memasak makanan pun tak lepas dari pengawasan para tetua. Maklum, sejumlah persyaratan harus dipatuhi. Terutama penggunaan kayu bakar dan air. Dan perlu diperhatikan, air untuk memasak haruslah diambil dari mata air di gunung.

Makna pemeriksaan bahan-bahan makanan sebenarnya sesuai dengan pesan bulan suci Ramadan yang akan segera datang. Di Bulan Suci inilah, umat yang menjalankan ibadah puasa diharapkan dapat menjaga segala tingkah lakunya dari perbuatan kotor. Itu pulalah yang diharapkan dari Upacara Nyepuh. Melalui ritual ini, warga Ciomas disadarkan tentang arti menyucikan diri untuk menjadi manusia sempurna yang fitri.

Di luar dapur, suasana menjelang upacara Nyepuh begitu kentara. Sejak siang hari hingga malam hari, suasana desa begitu meriah. Para orang tua dan pemuda desa berbaur menjadi satu mempersiapkan atribut berupa bendera dan janur kuning dan mengolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi hiasan yang cantik dan semarak. Saat membuat hiasan upacara, warga pun disarankan untuk menggunakan lampu tempel. Pelita berbahan minyak tanah ini bermakna sebagai penerang kehidupan warga Ciomas. Maka menjelang tengah malam, barisan obor menerangi sepanjang jalan desa. ER

(pernah dimuat di tabloid POSMO)

[alert style=”white”]http://ekoabimanyu.blogspot.com/2008/10/menengok-tradisi-nyepuh-warga-ciomas.html[/alert]

Nyepuh Sebagai Penjemput Ramadan

Nyepuh Sebagai Penjemput Ramadan

Upacara Nyepuh diselenggarakan pada pertengahan bulan Sya’ban atau Rewah. Salah satu makna Nyepuh antara lain sebagai ritual penjemput Ramadan. Yakni bulan yang disucikan umat Islam, dimana saat itu kaum muslimin melaksanakan ibadah puasa, dan menahan segala godaan.

Tradisi Nyepuh merupakan upacara lanjutan dari upacara Ngawit yang dilaksanakan sebelumnya di Ciomas pada bulan Shafar. Upacara Nyepuh merupakan upacara tradisional yang memiliki arti mempertua, pendalaman atau penyempurnaan dan berarti juga nyipuh. Artinya adalah menjaga agar nilai-nilai yang baik yang telah ditanamkan para pendahulu tetap konsisten, sejalan dengan awitna (awalnya) sebagaimana maksud upacara Ngawit.

Seperti diungkap sesepuh Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede, upacara Nyepuh dapat dimaknai ke dalam tiga hal. Pertama, nyipuhkeun nu to ngawitan. Ini bermakna bahwa upacara Nyipuh merupakan pengawal jalan kebaikan yang telah dimulai atau diawali (ngawit) oleh para leluhur dan penyebar Islam di masa lalu. Tradisi yang sudah puluhan tahun digelar di Ciomas ini, lebih jauh adalah sebagai penghormatan terhadap amanah Kiai Haji Penghulu Gusti, karuhun masyarakat Ciomas.Di upacara inilah, anak muda belajar kepada orang yang lebih tua atau sepuh. Terutama agar lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

Kedua, nyepuhkeun panyipuhan urang. Ini berarti mengukur perjalanan kehidupan timbale balik selama ini, yang dikhususkan kepada diri kondisi diri anak terhadap orang tua, kondisi generasi penerus terhadap generasi tua, kondisi kepemimpinan ditingkat bawah dan atas (kepenghuluan). Sehingga diharapkan terjadi dialog timbale balik tentang masalah-masalah yang dihadapi dan mudah-mudahan memperoleh jalan keluarnya. “Ritual ini tercermin dalam prosesi sambung rasa yang dilakukan di makam Eyang Penghulu Gusti,” ujar Ki H Dede.

Ketiga, nyepuhkeun mapag Ramadan. Upacara Nyepuh juga digelar sebagai persiapan diri menghadapi bulan Ramadan. Sebab di bulan yang penuh barokah ini, umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa. Sehingga sebelum menjalankan ibadah tersebut, seseorang harus bersih lahir dan batin. Selain itu, bila puasanya berhasil, maka ia akan memperoleh kemenangan pada hari raya Idul Fitri sebagai ganjaran dan kebaikan pada bulan-bulan selanjutnya, serta pengampunan dosa yang dilakukan sebelumnya.

Hakekat Nyipuh

Upacara Nyepuh adalah upacara yang diharap menyadarkan bahwa umat setelah menyatakan diri sebagai muslim, harus terus menerus meningkatkan, memperbaiki, menyempurnakan perilaku hidupnya sejalan dengan tuntutan agama Islam. Oleh karena itu, pengertian Nyepuh juga berarti Nyipuh, yang dalam pelaksanaannya harus senantiasa disertai dengan peningkatan komunikasi dengan Allah SWT, diantaranya melalui zikir, doa, shalawat, minta pengampunan dan beramal sholeh.

Dalam kesehariannya adalah tertib dan taat melaksanakan sholat, zakat dan puasa. Semua itu dalam rangka peningkatan, penghayatan, pemahaman dan pengamalan Islam di manapun. Meski yang dilaksanakan adalah sesuatu yang kecil dan sederhana, namun upacara Nyepuh tetap mengikuti hakekatnya bahwa tidak akan ada yang besar apabila tidak dimulai dari yang kecil.

Tahapan upacara Nyepuh antara lain bebersih (thaharoh), pupujian, tawasulan, sambung rasa (silaturahmi), ngaregepkeun kyai (mendekatkan kiai dengan umat) dan lain-lain. Dalam kegiatan kebersamaan, diwujudkan dengan makan bersama atau ruing mungpulung menyantap tumpeng yang telah diolah secara cermat, baik bahan-bahannya yang halal, cara pengolahannya dengan ikhlas, pengolahannya dipimpin tetua yang sudah menopause (tamat haid), serta senantiasa dalam doa dimulai bismillah dan diakhiri alhamdulillah.

Tiga buah tumpeng yang disajikan, merupakan perlambang apa yang sudah dingawitan (dimulai) yakni Iman, Islam dan Ihsan, harus terpelihara dengan baik. Dalam pada itu, ranginang yang merupakan sajian bersama tumpeng mengandung arti bahwa mudah-mudahan melalui upacara Nyepuh bisa menjadi ragi bagi diri manusia, kehidupan dan penghidupan manusia dan terhadap siar agama Islam.

“Upacara Nyepuh secara keseluruhan adalah untuk mengajak agar umat Islam menjadi umat yang baik, yang senantiasa meningkatkan iman dan taqwanya, serta amal ibadahnya sesuai dengan Alquran dan Alhadist,” tutur Ki H Dede.

Sambung Rasa

Puncak Upacara Nyepuh berlangsung di dalam hutan Keramat. Untuk mencapai hutan ini, warga yang seluruhnya berpakaian putih-putih sebagai tanda menyucikan diri, harus berjalan sejauh tiga kilometer. Lantunan shalawat dan salam terhadap Kanjeng Muhammad SAW mengalun sepanjang jalan masuk ke hutan. Sebelum memulai upacara, seorang warga diutus untuk mengambil air wudlu. Ini sebagai tata cara masuk ke areal pemakaman sekaligus sebagai simbol membersihkan diri dari segala kotoran yang melekat di tubuh.

Air suci dari sumur emas pun diambil oleh kuncen dan keluarganya. Air dari sumur ini dipercaya penduduk mempunyai khasiat yang sama dengan air zamzam di Mekah, Arab Saudi. Bila minum atau mandi dengan air ini, dipercaya dapat membawa keberkahan.

Diiringi lantunan salawat dan doa-doa, barisan masyarakat itu kemudian memasuki lokasi makam Eyang Penghulu Gusti dan keluarganya.

Di depan makam-makam yang dianggap suci ini, mereka pun menyampaikan keluh-kesahnya. Bagi masyarakat Ciomas, pertemuan yang disebut sambugn rasa di depan makam karuhun ini amat penting. Di sinilah saatnya perwakilan warga bertemu dengan pejabat pemerintah dan pemimpin desa. Tak jarang, dialog antara anak dan orang tuanya juga terjadi di depan makam Eyang Penghulu Gusti ini. ER

(pernah dimuat di Tabloid POSMO)

[alert style=”white”]http://ekoabimanyu.blogspot.com/2008/10/tradisi-nyepuh-2.html[/alert]

“Nyangku” di Panjalu

“Nyangku” di Panjalu

DAERAH Panjalu ialah sebuah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Ciamis. Panjalu terletak sekitar 100 km dari Kota Bandung. Topografi daerah ini merupakan perbukitan dengan daerah persawahan cukup mendominasi. Selain kaya akan hasil pertanian, di tempat ini terdapat beberapa lokasi wisata ziarah seperti Situ Lengkong. Di tengah Situ Lengkong ini terdapat sebuah pulau kecil bernama nusa gede. Di nusa gede inilah terdapat makam raja raja Panjalu.

Kerajaan Panjalu merupakan sebuah kerajaan termasyur. Syahdan menurut cerita yang diyakini oleh keturunan raja Panjalu, ketika kerajaan diperintah oleh Sanghyang Cakradewa mempunyai putra bernama Sanghyang Boros Ngora. Oleh Prabu Cakra Dewa, Boros Ngora diperintahkan untuk mencari ilmu yang berguna bila kelak ia memimpin kerajaan Panjalu.

Singkat cerita segala ilmu kejayaan telah didapat Boros Ngora, namun semua itu tidak menyenangkan ayah handanya, sampai kemudian pencarian ilmunya menuju ke Jazirah Arab. Di kota Makkah dia belajar dari Sahabat Nabi Sayidina Ali ra. Karean tertarik pada ajaran Islam ia berguru selama bertahun tahun. Ketika masa bergurunya selesai, ia dibekali tongkat, pedang serta pakaian haji dari Sayidina Ali, kemudian Boros Ngora berjanji menyebarkan agama Islam di tanah kelahirannya.

Dari makkah tidak lupa membawa air zamzam. Sesampainya di Panjalu air ini kemudian dicurahkan dan akhirnya menjadi situ Lengkong. Tidak lama kemudian ia diangkat menjadi raja di Panjalu. Keturunan dari Sanghyang Boros Ngora inilah yang kemudian dimakamkan di Nusa Gede. Dengan demikian dapat disimpulkan para peziarah mendatangi Panjalu, karena terdapat makam para penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Ada sebuah tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun yaitu tradisi “Nyangku.” Biasanya ritual ini dilakukan pada bulan Maulud. Malam sebelum puncak acara digelar berbagai jenis kesenian tradisi seperti pencak silat, gembyung serta berbagai jenis tari tarian. Ketika malam semakin larut, tampilah seorang sesepuh ke tengah pagelaran acara dengan gerak sigap memperagakan berbagai jenis jurus pencak silat.
Dan ketika penonton terkesima beberapa orang menghampiri sang tokoh yang tengah memperagakan beberapa jurus,sesaat kemudian muncul beberapa orang menghantamkan balok ke bagian kepalanya. Ajaibnya balok balok tersebut terbelah, selanjutnya bambu serta berbagai macam kayu lainnya hancur.

Kemudian murid muridnya melanjutkan atraksi, bahkan yang ini lebih seru, mereka memainkan sepak bola yang terbuat dari buah kelapa yang di bakar. Jadi mereka menendang dan menyundul kelapa yang dipenuhi bara api. Atraksi tersebut sangat memukau, namun semua ini harus dilakukan oleh orang yang ahli disertai latihan intensif bertahun tahun. Apabila orang awam melakukannya dikhawatirkan mengakibatkan kecelakaan fatal.

Sebagai tradisi turun temurun, kegiatan ini selalu mengundang pengunjung dari berbagai daerah. Dinas Pariwisata menetapkan tradisi ini sebagai salah satu kegiatan rutin pariwisata di Ciamis. Salah satu alasannya selain melihat tradisi unik, para pengunjung bisa juga menikmati eksotisme situ lengkong dengan pemandangan indah serta ratusan kelelawar bergelantungan di habitat aslinya.

[alert style=”white”]http://bandungtv.blogspot.com/2012/03/tradisi-nyangku-di-panjalu.html [/alert]

“Ngikis” di Karangkamulyan

“Ngikis” di Karangkamulyan

SIANG itu, pengunjung kawasan objek wisata Situs Karangkamulyan, Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, lebih banyak daripada hari biasanya. Rupanya, selain ramai dikunjungi warga yang hendak munggahan (makan bersama menjelang masuknya bulan puasa), situs Karangkamulyan juga didatangi warga yang tengah menggelar tradisi tahunan Ngikis.

Ngikis ini merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang yang sudah berlangsung sejak abad ke-17, yang dilaksanakan setiap Senin atau Kamis terakhir menjelang masuknya bulan puasa,” ujar Endan Sumarsana (60), kuncen Situs Karangkamulyan, Senin (16/7).

Secara harfiah, kata Endan, tradisi ngikis ini merupakan upacara ritual mengganti pagar yang mengelilingi pangcalikan, batu petilasan yang dipercaya sebagai singgasana raja-raja Kerajaan Galuh Purba.

“Dulu, warga dari setiap dusun yang ada di Desa Karangkamulyan membawa pagar bambu untuk mengganti pagar pangcalikan yang sudah lapuk atau sudah rusak. Bambu tersebut dipasang secara bergotong royong,” ujar Endan, yang sudah 34 tahun menjadi kuncen Situs Karangkamulyan.

Warga dari berbagai dusun di Desa Karangkamulyan tersebut tak hanya membawa bambu yang siap dipasang jadi pagar, tetapi juga disertai dengan ibu-ibu yang membawa nasi lengkap dengan lauk- pauknya. Jadi, setelah memasang pagar, digelar makan bersama di pelataran pangcalikan.

Meski sekarang pagar pangcalikan tidak lagi berupa bambu, tapi sudah diganti dengan pagar besi dan cor beton, tradisi Ngikis tetap berlangsung. Tradisi mengganti pagar itu diganti dengan mengganti cat pagar.

Setelah lantuan ayat suci Alquran dan doa bersama, pengecatan pertama sebagai tanda dimulainya ritual Ngikis tersebut dilakukan oleh Wabup Ciamis Drs H Iing Syam Arifin MM, Kepala Keraton Pajajaran Rd Roza R Mintareja, kemudian dilanjutkan oleh Camat dan Muspika Cijeungjing, Kades Karangkamulyan, dan tokoh masyarakat setempat.

Seusai pengecatan pagar pintu masuk secara simbolis tersebut, warga pun saling bersalam-salaman. Kemudian ratusan warga yang sejak semula mengikuti upacara tradisi Ngikis tersebut menutup ritual dengan makan bersama. Menyantap nasi tumpeng atau nasi serta lauk-pauk yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing.

“Setiap tahun saya ikut tradisi ini. Dulu waktu masih kecil ikut orang tua. Tetapi sekarang setelah punya anak, ya ke sininya dengan anak-anak. Ikut ngikis sekalian munggahan,” ujar Aisah (30) sembari merangkul kedua anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD sebelum menyantap nasi dan lauk- pauk yang dibawa dari rumah.

“Tradisi ini secara turun-temurun dari orang tua ke anak-anaknya begitu terus  berlangsung setiap menjelang masuknya bulan puasa. Ke mana pun warga Karangkamulyan merantau, takkan pernah lupa dengan Ngikis,” tutur Endan.

Nilai filosofi yang hendak diwariskan para leluhur Galuh Karangkamulyan lewat tradisi Ngikis ini, kata Endan, adalah mengingatkan anak-cucu agar selalu memagari hati, menjauhkan perbuatan-perbuatan yang bakal membatalkan puasa. Kemudian juga menjaga hati agar selalu jauh dari sifat iri dan dengki serta dari keserakahan. Ketika akan memasuki bulan suci Ramadan, sesama warga saling memaafkan, mengikis dosa-dosa yang pernah diperbuat.

Nama Kerajaan Galuh, kata Endan, berasal dari kata galeuh, yakni hati, sesuatu yang berada di tengah-tengah. Itulah nama kerajaan besar di Tatar Pasundan yang berkuasa pada abad ketujuh, yakni Kerajaan Galuh Purba, yang berpusat di Karangkamulyan, yang berarti tempat yang mulia.

Peninggalan sejarah Kerajaan Galuh tersebut sampai sekarang masih terjaga baik, berupa hutan cagar budaya seluas 25 hektare yang berada di sisi jalan raya Ciamis-Banjar diapit pertemuan Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy.

Tak hanya Pangcalikan, tetapi ada juga Panyandaan, Pamangkonan, Sang Hiyang Bedil, makam Adipati Panaekan, Cikahuripan, Patimuhan, dan sebagainya.

Wakil Bupati Ciamis Drs H Iing Syam Arifin pada sambutannya berharap, tradisi Ngikis yang sudah berlangsung berabad-abad ini selalu terjaga dan jangan sampai terkikis oleh kemajuan zaman.

“Ciamis boleh jadi merupakan daerah di Jabar yang paling banyak memiliki situs dengan tradisi-tradisinya. Maklum Ciamis merupakan daerah peninggalan Kerajaan Galuh mulai dari Galuh Purba, Galuh zaman Hindu-Buddha, sampai Kerajaan Galuh setelah masuknya agama Islam,” ujar Iing.

Beberapa tradisi warisan nenek moyang yang terperlihara sampai sekarang, kata Iing, antara lain Ngikis di Karangkamulyan, Nyangku di Panjalu, Nyipuh di Ciomas, Nyuguh di Kampung Adat Kuta, Misalin di situs Salawe Cikawung, Bojongmengger, Merlawu di Situs Susuru Kertabumi, hingga hajat laut di pesisir pakidulan Ciamis. Semua tradisi tersebut berkaitan dengan bulan Maulud atau menjelang puasa.

[alert style=”white”]jabar.tribunnews.com [/alert]