Wayang Landung

Wayang Landung

Atraksi Seni Wayang Landung yang baru seumur jagung, langsung menuai prestasi. Sejak diciptakan awal Agustus 2007 oleh seniman Ciamis Pandu Radea (yang juga wartawan budaya SK Priangan) seni helaran kreasi baru ini mampu menjuarai 2 event besar. Prestasi pertama yang diraih Wayang Landung yaitu tampil sebagai 10 terbaik dalam kegiatan Parade Budaya Nusantara di Bali pada September 2007. Kegiatan prestisius tersebut diikuti oleh 50 peserta dari dalam dan luar negeri. Saat itu Wayang Landung menjadi utusan dari Kabupaten Ciamis sekaligus mewakili Jawa Barat bersama Kabupaten Sumedang.

Kemudian pada even Parade Kemilau Nusantara yang usai diselenggarakan pada 25 November 2007, untuk tingkat Jawa Barat yang diikuti 24 kabupaten, Wayang Landung sebagai andalan Kabupaten Ciamis mampu meraih juara ke 2 setelah kontingen Cirebon yang menjadi juara pertama dengan kesenian Buroq-nya. Sementara juara ke 3 diraih Kabupaten Subang. Sedangkan untuk tingkat Nasional yang diikuti oleh 12 Provinsi, Jawa Barat yang diwakili oleh kesenian Bebegig (Juara 1 tingkat Jawa Barat tahun 2006) yang juga masih berasal dari Kabupaten Ciamis harus mengalah kepada kontingen yang datang dari jauh yaitu Sumatra Barat sebagai juara pertama, disusul oleh Kalimantan Tengah dan Banten.

Hampir seluruh kabupaten menampilkan jenis kesenian tradisi yang ada didaerahnya masing-masing. Untuk wilayah Priangan, Kabupaten Garut menampilkan “Angklung Buncis”, Sumedang menampilkan seni rengkong dalam prosesi “Ampih Pare” , Kotif Banjar “Jampana”, Kota Tasikmalaya menampilkan “Angklung Badud” dan Kabupaten Tasikmalaya menampilkan “Tari Batok” yang dipadukan dengan seni tradisinya.

Menurut Pandu, Prestasi bagi Wayang Landung bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah mengembangkannya di masyarakat. “Wayang Landung mudah dibuat oleh siapa saja, murah pula biayanya karena terbuat dari unsur dedaunan yang ada disekitar rumah, bentuknya pun menarik karena memiliki tinggi 4 meter dengan bentuk Wayang Golek.” Ujar pria yang juga menciptakan dan tengah mengembangkan seni pertunjukan Loyang (longser wayang) dan Wayang Sekar (wayang anak-anak) dalam wadah Komunitas Sangkala Disbudpar Ciamis.

Wayang Landung memang diadaftasi dari beberepa idiom tradisi. bentuknya diambil dari orang-orangan sawah namun wanda dan rupanya dari wayang golek. Terbuat dari jerami, eurih, kararas, dan janur. Memainkan Wayang Landung sama halnya dengan memainkan Wayang Golek, karena tangannya diberi tuding bambu yang dipegang oleh seorang penari yang memanggulnya. Kendati beratnya mencapai 25 kg, namun pemanggulnya dapat bergerak lincah untuk melakukan konfigurasi tari maupun berjalan jauh.

Adanya kreasi-kreasi baru yang diangkat dari nilai ketradisian menurut Pandu merupakan hal penting. Selain memperkaya khazanah seni budaya daerah, hal itu juga wujud dari kreatifitas seniman. “Mungkin puluhan tahun ke depan seni kreasi baru ini akan menjadi tradisi pula seandainya berkembang dimasyarakat” ujar Pandu. Lebih jauh Pandu juga mengatakan bahwa saat ini seni tradisi Indonesia yang merupakan kekayaan intelektual terancam diakui juga oleh negara lain sebagai kesenian aslinya, seperti kasus Angklung, Lagu Rasa Sayange dan terakhir Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malaysia.

“Pemerintah harus singkil memberikan perlindungan terhadap Seni Tradisi Indonesia. Baik itu dengan undang-undang hak cipta, maupun dengan semakin memperbanyak event-event budaya di berbagai wilayah agar seni tradisi semakin terpublikasikan lebih luas lagi. Disamping itu banyaknya kegiatan tersebut memberi gairah kepada seniman penggarapnya untuk menampilkan yang terbaik sekaligus meningkatkan daya tarik wisata daerah”.

Beberapa video Wayang Landung bisa diperoleh di link ini

[alert style=”white”] referensi: wisataciamis.com, foto: wayanglandung.blogspot.com [/alert]

Makanan Khas Panjalu

Makanan Khas Panjalu

Menjelang lebaran dan menjelang hari-hari raya lainnya adalah saatnya makanan khas diproduksi secara besar-besaran karena tingginya permintaan pasar. Bagi mereka yang bekerja di kota, ajang mudik ke kampung halaman merupakan saat yang tepat untuk membawa dan memperkenalkan makanan khas daerah masing-masing untuk di bawa kembali ke kota. Barter makanan dan saling mencicipi oleh-oleh khas daerah atau makanan yang dianggap unik pun terjadi. Hal ini secara tidak langsung akan saling memperkenalkan makanan khas dari daerah lain. Begitu juga di daerah Panjalu atau sekitar Kecamatan Panjalu, dari tempat inilah makanan khas diproduksi oleh masyarakat setempat. Alhasil, Panjalu tidak hanya terkenal dengan sejarah atau wisata ziarahnya saja, namun menawarkan ragam makanan khas yang tidak kalah menarik dengan daerah lain.

Panjalu dalam Konteks Sejarah
Secara terminologi, Panjalu berasal dari kata jalu (Bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata Panjalu berkonotasi dengan kata-kata: jagoan, jawara, pendekar, warrior (Bhs. Inggris: pejuang, ahli olah perang), dan knight (Bhs. Inggris: ksatria, perwira).

Ada pula orang Panjalu yang mengatakan bahwa kata Panjalu berarti “perempuan” karena berasal dari kata pan+jalu atau jalu yang diberi awalan pan artinya menjadi bukan laki-laki yaitu perempuan sama seperti kata male (Bhs. Inggris : laki-laki) yang apabila diberi prefiks fe + male menjadi female (Bhs.Inggris : perempuan). Konon nama ini disandang karena Panjalu pernah diperintah oleh seorang Ratu bernama Ratu Permanadewi.

Panjalu sebagai Desa Wisata
Pada tanggal 7 Maret 2004, Gubernur Jawa Barat meresmikan kawasan Panjalu sebagai tujuan wisata ziarah tingkat nasional. Tentunya, dengan adanya deklarasi ini telah memberikan keuntungan tersendiri untuk perkembangan pariwisata setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Memet Hamdan, mengakui sejarah mengenai Panjalu sangat menarik sehingga minat wisatawan untuk melakukan wisata ziarah ke daerah tersebut sangat tinggi.

Panjalu memang memiliki daya tarik tersendiri, bukan hanya sebagai kampung adat yang memiliki potensi wisata alam, wisata ziarah, dan wisata budaya (upacara Adat Nyangku) tetapi juga memiliki wisata kuliner yang sangat mendukung. Panjalu banyak memiliki makanan khas yang unik, menarik dan enak rasanya.

Berikut ini beberapa makanan khas Panjalu yang sudah terkenal ke beberapa daerah:

Makanan Khas Panjalu

Makanan khas Panjalu tersebar di beberapa daerah, seperti Kalua Jeruk pusatnya di Desa Kertamandala dan Mandalare, Jawadah Takir (sejenis Wajit) di Garahang, Goreng Mujaer dan Udang di Cimendong, Opak, Kolontong, Saroja dan Raginang di Desa Maparah, Mie Golosor di Desa Sandingtaman dan lain-lain. Makanan khas Panjalu ini memiliki rasa yang gurih, unik dan tahan lama. Berikut ini sekilas tentang makanan khas dari daerah Panjalu.

Kalua Jeruk
Yang paling unik dari makanan khas Panjalu adalah Kalua Jeruk dan Jawadah Takir. Pusat pembuatan Kalua Jeruk ada di daerah Kertamandala dan Mandalare. Menurut pengrajin Kalua, proses produksi sudah berlangsung cukup lama yaitu sekitar 40 tahunan. Kalua yang terkenal dari daerah ini pada awalnya diproduksi oleh keluarga Bu Ecin disusul oleh keluarga Bu Lilis.

Kalua Jeruk terbuat dari kulit Jeruk Bali setengah matang yang diberi gula aren (gula merah) yang diolah dengan beberapa tahapan. Dipilihnya kulit Jeruk Bali setengah matang karena memiliki kulit yang tebal dan Kalua yang dihasilkan akan enak rasanya.

Berikut ini tahapan dari pembuatan Kalua Jeruk. Pertama, Jeruk Bali setengah matang dikupas, diambil kulitnya saja yang berwarna putih. Lapisan terluar yang berwarna hijau dibuang untuk meghindari rasa pahit. Setelah itu diiris berbentuk kotak atau jajarangenjang ataupun bentuk sembarang seukuran kurang lebih 3 x 4 cm dengan tebal 1-2 cm. Kedua, kulit jeruk yang sudah dipotong direndam dengan air apu selama 2 jam, lalu diangkat didiamkan beberapa menit, lalu direbus setengah matang supaya kulit jeruknya tidak pecah-pecah, lalu dicuci dengan air dingin yang mengalir sampai bersih kemudian diperas-peras sampai agak kering. Tahapan terakhir tinggal memasukkan potongan kulit jeruk ke larutan gula aren yang mendidih. Setelah kering angkat dan siap dihidangkan. Emm… harum, enak dan gurih.

Kalua ini aman dikonsumsi karena diproses secara alami melalui tahapan yang panjang dalam mengolahnya. Pemanis yang digunakan merupakan pemanis alami dari nira aren, diproduksi tanpa memakai zat kimia. Gula aren memiliki Index Glycemic (IG) yang rendah. Rendahnya IG ini bermanfaat bagi pengidap diabetes, atau yang ingin menurukan berat badan. Bahkan gula are memiliki IG lebih rendah dari pada gula putih dan madu sehingga tidak menyebabkan kegemukan. Kalua Jeruk dari Kertamandala dan Mandalare Kecamatan Panjalu ini memiliki rasa yang unik, tidak terlalu manis, kenyal, dan empuk ketika dikunyah. Kalua ini diproses secara apik, manis gula arennya meresap ke seluruh kulit jeruk sehingga rasanya enak dan tidak ada lagi bau kulit jeruknya.

Bagi para pecinta kuliner, khususnya makanan khas, hati-hati ketika membeli kalua jeruk karena ada juga kalua jeruk yang rasanya kurang enak dan warnanya juga kurang cerah. Para penikmat kalua biasanya memesan kalua Panjalu yang berasal dari daerah Kertamadala dan Mandalare karena rasanya lebih enak dan gurih.

Jawadah Takir
Jawadah Takir adalah sejenis wajit namun pembungkusnya terbuat dari daun pisang yang kering (kararas dalam Bhs.Sunda). Yang unik dari Jawadah Takir ini adalah tidak dibungkus secara utuh, hanya ditempel diatas daun pisang kering kecil. Dalam kondisi apapun Jawadah Takir tetap kering sehingga rasanya tetap enak. Makanan ini tahan lama dan aman kerena tanpa bahan pengawet.

Goreng Udang dan Goreng Mujaer

Udang dan Mujaer ini berasal dari daerah Cimendong. Udang yang dipilih adalah udang yang yang berukuran sedang. Udang yang berasal dari Situ Lengkong Panjalu ini gurih rasanya, karena hidup bebas tanpa makanan yang dibuat oleh pabrik.

Goreng Mujaer pun enak dan renyah, karena ikan mujaer yang dipilih adalah ukuran sedang atau masih remaja. Goreng Mujaer dan Goreng Udang dikemas tanpa bahan pengawet sehingga aman untuk dikonsumsi oleh siapapun.

Opak
Opak yang terkenal adalah opak dari Desa Maparah. Opak ini rasanya renyah dan wangi. Opak terbuat dari beras ketan putih yang dihaluskan secara tradisional yaitu dengan perangkat halu dan jubleg. Kemudian dibentuk bulat tipis-tipis lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah kering lalu dipanggang di atas bara satu-satu untuk menghasilkan opak yang matang dan renyah. Ada juga yang dipanggang tiga sampai lima buah sekaligus dengan bantuan ram kawat yang disimpan di atas bara. Dari segi kuantitas memang lebih cepat namun rasanya menjadi kurang wangi dan agak keras sedikit. Jadi kepada para penikmat opak kalau menginginkan opak yang renyah, wangi dan gurih silahkan pilih opak yang dibakar satu-satu dengan menggunakan cacapit.

Mie Golosor
Dari namanya juga sudah unik yaitu golosor (Bhs. Sunda), mie ini akan meluncur licin di lidah dan enak rasanya. Mie ini terbuat dari bahan terigu berkualitas tinggi sehingga aman untuk perut dan tanpa bahan pengawet. Warna mie ini kuning segar karena pewarna yang digunakan adalah pewarna alami. Mie Golosor diproduksi oleh masyarakat Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu.

Dari beberapa makanan khas Panjalu yang disebutkan di atas, mungkin selera penikmat bermacam-macam dalam memilih oleh-olehnya. Ada yang sukanya Kalua Jeruk dan Jawadah Takir atau Opak saja, atau bahkan mungkin ada yang suka semuanya. Selamat menikmati hari raya dengan makanan-makanan yang sehat, halal, bergizi dan unik termasuk makanan khas sebagai menu tambahan.

[alert style=”white”] Penulis: YOPPY Y. S.Pd. Guru Seni Budaya di SMPN 1 dan 2 Panjalu-Ciamis, Sumber : Wawancara langsung dengan pemilik home industry di Panjalu, ilustrasi: flickriver.com[/alert]

Tari Ronggeng Gunung

Tari Ronggeng Gunung

Asal-usul

Ciamis adalah suatu daerah yang ada di Jawa Barat. Di sana ada tarian khas yang bernama “Ronggeng Gunung”. Ronggeng Gunung sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utamanya adalah seorang perempuan yang dilengkapi dengan sebuah selendang. Fungsi selendang, selain untuk kelengkapan dalam menari, juga dapat digunakan untuk “menggaet” lawan (biasanya laki-laki) untuk menari bersama dengan cara mengalungkan ke lehernya.

Ada beberapa versi tentang asal-usul tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Ciamis Selatan (masyarakat: Panyutran, Ciparakan, Burujul, Pangandaran dan Cijulang) ini.

Versi pertama mengatakan bahwa Ronggeng Gunung diciptakan oleh Raden Sawunggaling. Konon, ketika kerajaan Galuh dalam keadaan kacau-balau karena serangan musuh, Sang Raja terpaksa mengungsi ke tempat yang aman dari kejaran musuh. Dalam situasi yang demikian, datanglah seorang penyelamat yang bernama Raden Sawunggaling. Sebagai ungkapan terima kasih atas jasanya yang demikian besar itu, Sang Raja menikahkan Sang Penyelamat itu dengan putrinya (Putri Galuh). Kemudian, ketika Raden Sawunggaling memegang tampuk pemerintahan, beliau menciptakan tarian yang bernama Ronggeng Gunung sebagai sarana hiburan resmi di istana. Penarinya diseleksi ketat oleh raja dan harus betul-betul mempunyai kemampuan menari, menyanyi, dan berparas cantik, sehingga ketika itu penari ronggeng mempunyai status terpandang di lingkungan masyarakat.

Versi kedua berkisah tentang seorang puteri yang ditinggal mati oleh kekasihnya. Siang dan malam sang puteri meratapi terus kematian orang yang dicintainya. Selagi sang puteri menangisi jenasah kekasihnya yang sudah mulai membusuk, datanglah beberapa pemuda menghampirinya dengan maksud untuk menghiburnya. Para pemuda tersebut menari mengelilingi sang puteri sambil menutup hidung karena bau busuk mayat. Lama-kelamaan, sang puteri pun akhirnya ikut menari dan menyanyi dengan nada melankolis. Adegan-adegan tersebut banyak yang menjadi dasar dalam gerakan-gerakan pada pementasan Ronggeng Gunung saat ini.

Versi ketiga yang ditulis oleh Yanti Heriyawati dalam tesisnya yang berjudul “Doger dan Ronggeng, Dua Wajah Tari Perempuan di Jawa Barat”. Versi ini menyatakan bahwa kesenian Ronggeng Gunung berkait erat dengan kisah Dewi Samboja (www.korantempo.com). Dewi Samboja adalah puteri ke-38 dari Prabu Siliwangi yang bersuamikan Angkalarang. Konon, suatu saat suami sang Dewi yaitu Angkalarang mati terbunuh oleh Kalasamudra (pemimpin bajak laut dari seberang lautan). Dewi Samboja sangat bersedih hatinya karena suami yang dicintainya telah meninggal dunia dan ia sangat marah kepada Kalasamudra yang telah membunuh suaminya. Untuk menghilangkan kesedihan dan sekaligus kemarahan puterinya atas kematian Angkalarang, maka ayahandanya, yaitu Prabu Siliwangi memberikan wangsit kepada Dewi Samboja. Isi wangsit tersebut adalah bahwa untuk dapat membalas kematian Angkalarang dan membunuh Kalasamudra, Dewi Samboja harus menyamar sebagai Nini Bogem, yaitu sebagai seorang penari ronggeng kembang. Dan, berdasar wangsit itulah, Dewi Samboja mulai belajar menari ronggeng dan seni bela diri. Singkat cerita, pergelaran ronggeng di tempat Kalasamudra pun terjadi. Dan, ini berarti kesempatan bagi Dewi Samboja untuk membalas kematian suaminya. Konon, ketika sempat menari bersamanya, Dewi Samboja mewujudkan niatnya, sehingga perkelahian pun tidak dapat dihindari. Perkelahian itu baru berakhir ketika Dewi Samboja dapat membunuhnya.

Versi keempat mirip dengan versi ketiga, hanya jalan ceritanya yang berbeda. Dalam versi ini perkawinan antara Dewi Siti Samboja dan Raden Anggalarang, putra Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, tidak. direstui oleh ayahnya. Untuk itu, pasangan suami-isteri tersebut mendirikan kerajaan di Pananjung, yaitu daerah yang kini merupakan Cagar Alam Pananjung di obyek wisata Pangandaran. Suatu saat kerajaan tersebut diserang oleh para perompak yang dipimpin oleh Kalasamudra, sehingga terjadi pertempuran. Namun, karena pertempuran tidak seimbang, akhirnya Raden Anggalarang gugur. Akan tetapi, istrinya, Dewi Siti Samboja, berhasil menyelamatkan diri.dan mengembara. Dalam pengembaraannya yang penuh dengan penderitaan, sang Dewi akhirnya menerima wangsit agar namanya diganti menjadi Dewi Rengganis dan menyamar sebagai ronggeng. Di tengah kepedihan hatinya yang tidak terperikan karena ditinggal suaminya, Dewi Rengganis berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa terasa, gunung-gunung telah didaki dan lembah-lembah dituruni. Namun, di matanya masih terbayang bagaimana orang yang dijadikan tumpuan hidupnya telah dibunuh para perompak dan kemudian mayatnya diarak lalu dibuang ke Samudera Hindia. Kepedihan itu diungkapkan dalam lagu yang berjudul “Manangis”. Berikut ini adalah syairnya.

Ka mana boboko suling
Teu kadeuleu-deuleu deui
Ka mana kabogoh kuring
Teu Kadeulu datang deui
Singkat cerita, pergelaran ronggeng akhirnya sampai di tempat Kalasamudra dan Dewi Samboja dapat membalas kematian suaminya dengan membunuh Kalasamudra ketika sedang menari bersama.

Cerita mengenai asal usul tari yang digunakan untuk “balas dendam” ini membuat Ronggeng Gunung seakan berbau maut. Konon, dahulu orang-orang Galuh yang ikut menari menutup wajahnya dengan kain sarung sambil memancing musuhnya untuk ikut hanyut dalam tarian. Oleh karena wajah mereka tertutup sarung, maka ketika musuh mereka terpancing dan ikut ke tengah lingkaran, sebilah pisau mengintip menunggu saat yang tepat untuk ditikamkan. Selain itu, dahulu kesenian Ronggeng Gunung bagi masyarakat Ciamis selatan, bukan hanya merupakan sarana hiburan semata, tetapi juga digunakan sebagai pengantar upacara adat seperti: panen raya, perkawinan, khitanan, dan penerimaan tamu. Mengingat fungsinya yang demikian, maka sebelum pertunjukan dimulai, diadakan sesajen untuk persembahan kepada para leluhur dan roh-roh yang ada di sekitar tempat digelarnya tarian, agar pertunjukan berjalan dengan lancar. Bentuk sesajennya terdiri atas kue-kue kering tujuh macam dan tujuh warna, pisang emas, sebuah cermin, sisir, dan sering pula ditemukan rokok sebagai pelengkap sesaji.

Sebagai catatan, dalam mitologi orang Sunda, Dewi Samboja atau Dewi Rengganis hampir mirip dengan Dewi Sri Pohaci yang selalu dikaitkan dengan kegiatan bertani. Oleh karena itu, tarian Ronggeng Gunung juga melambangkan kegiatan Sang Dewi dalam bercocok tanam, mulai dari turun ke sawah, menanam padi, memanen, sampai akhirnya syukuran setelah panen.

Pemain, Peralatan, dan Pergelaran

Orang-orang yang tergabung dalam kelompok kesenian Ronggeng Gunung biasanya terdiri dari enam sampai sepuluh orang. Namun demikian, dapat pula terjadi tukar-menukar atau meminjam pemain dari kelompok lain. Biasanya peminjaman pemain terjadi untuk memperoleh pesinden lalugu, yaitu perempuan yang sudah berumur agak lanjut, tetapi mempunyai kemampuan yang sangat mengagumkan dalam hal tarik suara. Dia bertugas membawakan lagu-lagu tertentu yang tidak dapat dibawakan oleh pesinden biasa. Sedangkan, peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Ronggeng Gunung adalah tiga buah ketuk, gong dan kendang.
Sebagai catatan, untuk menjadi seorang ronggeng pada zaman dahulu memang tidak semudah sekarang. Beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain bentuk badan bagus, dapat melakukan puasa 40 hari yang setiap berbuka puasa hanya diperkenankan makan pisang raja dua buah, latihan nafas untuk memperbaiki suara, fisik dan juga rohani yang dibimbing oleh ahlinya. Dan, yang umum berlaku, seorang ronggeng harus tidak terikat perkawinan. Oleh karena itu, seorang penari ronggeng harus seorang gadis atau janda.
Tari Ronggeng Gunung bisa digelar di halaman rumah pada saat ada acara perkawinan, khitanan atau bahkan di huma (ladang), misalnya ketika dibutuhkan untuk upacara membajak atau menanam padi ladang. Durasi sebuah pementasan Ronggeng Gunung biasanya memakan waktu cukup lama, kadang-kadang baru selesai menjelang subuh.

Perkembangan

Perkembangan Ronggeng Gunung pada periode tahun 1904 sampai tahun 1945, banyak terjadi pergeseran nilai dalam penyajiannya, misalnya dalam cara menghormat yang semula dengan merapatkan tangan di dada berganti dengan cara bersalaman. Bahkan, akhirnya cara bersalaman ini banyak disalahgunakan, dimana penari laki-laki atau orang-orang tertentu bukan hanya bersalaman melainkan bertindak lebih jauh lagi seperti mencium, meraba dan sebagainya. Bahkan, kadang-kadang penari dapat dibawa ke tempat sepi. Karena tidak sesuai dengan adat-istiadat, maka pada tahun 1948 kesenian Ronggeng Gunung dilarang dipertunjukkan untuk umum. Baru pada tahun 1950 kesenian Ronggeng Gunung dihidupkan kembali dengan beberapa pembaruan, baik dalam tarian maupun dalam pengorganisasiannya sehingga kemungkinan timbulnya hal-hal negatif dapat dihindarkan.

Untuk mencegah pandangan negatif terhadap jenis tari yang hampir punah ini diterapkan peraturan-peraturan yang melarang penari dan pengibing melakukan kontak (sentuhan) langsung. Beberapa adegan yang dapat menjurus kepada perbuatan negatif seperti mencium atau memegang penari, dilarang sama sekali. Peraturan ini merupakan suatu cara untuk menghilangkan pandangan dan anggapan masyarakat bahwa ronggeng identik dengan perempuan yang senang menggoda laki-laki.

Sumber:

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

[alert style=”white”] referensi: uun-halimah.blogspot.com, foto: disparbud.jabarprov[/alert]

Galendo Khas Ciamis

Galendo Khas Ciamis

JAWA Barat dikenal sebagai daerah yang kaya makanan tradisional. Salah satunya adalah galendo (gelendo) Ciamis. Meski sudah bermunculan di sejumlah daerah, galendo Ciamis tetap punya keistimewaan tersendiri di lidah konsumen. Dulu, untuk bisa mencicipi nikmatnya galendo Ciamis, orang harus membeli langsung ke rumah-rumah penduduk penghasil galendo. Belakangan, galendo sudah tersedia di sejumlah supermarket dengan kemasan yang menawan. Ya, mirip seperti kemasan dodol Garut.

Penganan yang terbuat dari ampas minyak kelapa itu memang identik dengan Ciamis dimana Ciamis merupakan salah satu penghasil kelapa terbesar di Jawa Barat.Meski sudah bermunculan di sejumlah daerah, galendo Ciamis tetap punya keistimewaan tersendiri di lidah konsumen. Galendo enak dinikmati bersama secangkir teh panas atau kopi pahit, apalagi jika di cocolkan dengan gula putih, wuih mantap. Saat ini Galendo sudah tersedia di mana-mana, dengan kemasan yang menarik. Harga Galendo bervariasi dari Rp5.000 hingga Rp20.000 per bungkus tergantung besar kecilnya dan jugatentunya kualitas dari Galendo itu sendiri.

Selain itu Galendo juga memiliki cita rasa yang berbeda-beda untuk menambah rasa nikmat, seperti rasa coklat, dan Strawberry. Tapi tetap saja untuk menikmati cita rasa yang beda lebih baik jika dibuat dan dimakan di kota asalnya, ayo jangan mau ketinggalan.

Perajin galendo di Ciamis mempunyai trik sendiri agar galendo bisa dijadikan makanan yang  menarik, bahannya tak hanya ampas pembuatan minyak kelapa, tapi juga dicampur cokelat, rasa stroberi, dan bahan lain. Ukuran kemasan juga dibuat berbeda-beda. Dengan upaya itulah, kelas galendo bisa naik dan nangkring di supermarket.

Tentunya untuk mengangkat galendo sebagai makanan khas Ciamis, masyarakat Ciamis juga harus ikut turut serta mengenalkannya, misalnya dalam bentuk oleh-oleh untuk teman, saudara, dll. Semoga Galendo bisa menjadi salah satu daya tarik tersendiri sebagai makanan khas Ciamis.

[alert style=”white”] referensi: wisata.kompasiana.com, foto : jabarprov [/alert]

Khas: Badodon

Khas: Badodon

Badodon mangrupakeun hiji alat paragi ngala lauk nu aya di Sunda, badodon oge masih keneh aya nu ngagunakeun salahsawiosna di daerah Kertabumi.

Biasana badodon, ditaheunkeun. Pasosoré diteundeun di tempat anu sakirana loba laukan, isukna ditéang terus diangkat. Badodon teh bubu, ngan nu gedena nepika ampir sagede beuteung munding. Hasil dina badodon mah loba pisan, rupa-rupa ning soro nu sagede bitis kolot ogé aya puluhna,  komo lauk laleutiknamah.

Dina carita sunda Ciung Wanara kungsi kacaritakeun eta Badodon. Ciung Wanara keur mangsa orokna dipalidkeun ka walungan, terus nyangsang dina badodon (alat paranti ngala lauk) Aki Balangantrang, tapi henteu kua-kieu, salamet.

[alert style=”white”]referensi: internet[/alert]