Karangkamulyan Saksi Sejarah Kerajaan Galuh Ciamis

Karangkamulyan Saksi Sejarah Kerajaan Galuh Ciamis

Nama Karangkamulyan tentu tidak asing lagi bagi warga Ciamis. Tetapi apakah semua dari kita sudah mengetahui seluk beluk mengenai situs destinasi wisata lokal ini? Kutipan artikel berikut ini mudah-mudahan bermanfaat sebagai tambahan pengetahuan bagi kita.

Situs Karangkamulyan

Kisah tentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang kerajaan Galuh (sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran). Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Mendekati ajal tiba Sang Prabu mengasingkan diri dan kekuasaan diserahkan kepada patih Bondan Sarati karena Sang Prabu belum mempunyai anak dari permaisuri pertama (Dewi Naganingrum). Singkat cerita, dalam memerintah raja Bondan hanya mementingkan diri sendiri, sehingga atas kuasa Tuhan Dewi Naganingrum dianugerahi seorang putera, yaitu Ciung Wanara yang kelak akan menjadi penerus kerajaan Galuh dengan adil dan bijaksana.

Bila kita telusuri lebih jauh kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda, berada dalam sebuah tempat berupa struktur bangunan terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar.

Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan kisah, begitu pula beberapa lokasi lain yang terdapat di dalamnya yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau cerita tentang kerajaan Galuh seperti; pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan.

Situs Karangkamulyan merupakan peninggalan Kerajaan Galuh Pertama menurut penyelidikan Tim dari Balar yang dipimpin oleh Dr. Tony Jubiantoro pada tahun 1997. Bahwasannya di tempat ini pernah ada kehidupan mulai abad ke IX, karena dalam penggalian telah ditemukan keramik dari Dinasti Ming. Situs ini terletak antara Ciamis dan Banjar, jaraknya sekitar 17 km ke arah timur dari kota Ciamis atau dapat ditempuh dengan kendaraan sekitar 30 menit.

Situs ini juga dapat dikatakan sebagai situs yang sangat strategis karena berbatasan dengan pertemuan dua sungai yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur, dengan batas sebelah utara adalah jalan raya Ciamis-Banjar, sebelah selatan sungai Citanduy, sebelah barat merupakan sebuah pari yang lebarnya sekitar 7 meter membentuk tanggul kuno, dan batas sebelah timur adalah sungai Cimuntur. Karena merupakan peninggalan sejarah yang sangat berharga, akhirnya kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah.

Udara yang cukup sejuk terasa ketika kita memasuki gerbang utama situs ini. Tempat parkir yang luas dengan pohon-pohon besar disekitar semakin menambah sejuk Setelah gerbang utama, situs pertama yang akan kita lewati adalah Pelinggih (Pangcalikan). Pelinggih merupakan sebuah batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, termasuk ke dalam golongan/jenis yoni (tempat pemujaan) yang letaknya terbalik, digunakan untuk altar. Di bawah Yoni terdapat beberapa buah batu kecil yang seolah-olah sebagai penyangga, sehingga memberi kesan seperti sebuah dolmen (kubur batu). Letaknya berada dalam sebuah struktur tembok yang lebarnya 17,5 x 5 meter.

Sahyang Bedil
Tempat yang disebut Sanghyang Bedil merupakan suatu ruangan yang dikelilingi tembok berukuran 6.20 x 6 meter. Tinggi tembok kurang lebih 80 cm. Pintu menghadap ke arah utara, di depan pintu masuk terdapat struktur batu yang berfungsi sebagai sekat (schutsel). Di dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir yang terletak di atas tanah, masing-masing berukuran 60 x 40 cm dan 20 x 8 cm. Bentuknya memperlihatkan tradisi megalitik. Menurut masyarakat sekitar, Sanghyang Bedil dapat dijadikan pertanda datangnya suatu kejadian, terutama apabila di tempat itu berbunyi suatu letusan, namun sekarang pertanda itu sudah tidak ada lagi.

Penyabungan Ayam
Tempat ini terletak di sebelah selatan dari lokasi yang disebut Sanghyang Bedil, kira-kira 5 meter jaraknya, dari pintu masuk yakni berupa ruang terbuka yang letaknya lebih rendah. Masyarakat menganggap tempat ini merupakan tempat penyabungan ayam Ciung Wanara dan ayam raja. Di samping itu merupakan tempat khusus untuk memlih raja yang dilakukan dengan cara demokrasi.

Lambang Peribadatan
Batu yang disebut sebagai lambang peribadatan merupakan sebagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai fragmen candi, masyarakat menyebutnya sebagai stupa. Bentuknya indah karena dihiasi oleh pahatan-pahatan sederhana yang merupakan peninggalan Hindu. Letak batu ini berada di dalam struktur tembok yang berukuran 3 x 3 m, tinggi 60 cm. Batu kemuncak ini ditemukan 50 m ke arah timur dari lokasi sekarang. Di tempat ini terdapat dua unsur budaya yang berlainan yaitu adanya kemuncak dan struktur tembok. Struktur tembok yang tersusun rapi menunjukkan lapisan budaya megalitik, sedangkan kemuncak merupakan peninggalan agama Hindu.

Panyandaran
Terdiri atas sebuah menhir dan dolmen, letaknya dikelilingi oleh batu bersusun yang merupakan struktur tembok. Menhir berukuran tinggi 120 cm, lebar 70 cm, sedangkan dolmen berukuran 120 x 32 cm. Menurut cerita, tempat ini merupakan tempat melahirkan Ciung Wanara. Di tempat itulah Ciung Wanara dilahirkan oleh Dewi Naganingrum yang kemudian bayi itu dibuang dan dihanyutkan ke sungai Citanduy. Setelah melahirkan Dewi Naganingrum bersandar di tempat itu selama empat puluh hari dengan maksud untuk memulihkan kesehatannya setelah melahirkan.

Cikahuripan
Di lokasi ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi hanya merupakan sebuah sumur yang letaknya dekat dengan pertemuan antara dua sungai, yaitu sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini disebut Cikahuripan yang berisi air kehidupan, air merupakan lambang kehidupan, itu sebabnya disebut sebagai Cikahuripan. Sumur ini merupakan sumur abadi karena airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.

Dipati Panaekan
Di lokasi makam Dipati Panaekan ini tidak terdapat tanda-tanda adanya peninggalan arkeologis. Tetapi merupakan batu yang berbentuk lingkaran bersusun tiga, yakni merupakan susunan batu kali. Dipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah yang berpusat di Cineam dan mendapat gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram.

Setelah puas mengelilingi Situs ini, puluhan warung makan dengan menu khasnya pepes ayam dan pepes ikan mas merupakan pelengkap ketika kita berkunjung ke tempat ini. Apalagi minumannya air kelapa alami langsung dari buahnya semakin menambah asyiknya suasana. Walaupun hanya berupa situs-situs purbakala tampaknya tempat ini dikelola dengan cukup bagus, terbukti dengan kebersihan yang cukup terjaga di sekitar lokasi.(By AMGD)

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com, images: panoramio[/alert]

Sejarah Galuh (bagian VII, terakhir)

Sejarah Galuh (bagian VII, terakhir)

Kerajaan-kerajaan Lain di Sekitar Galuh

Berdasarkan naskah-naskah kuno, baik sekunder maupun primer, di wilayah Galuh terdapat beberapa kerajaan kecil. Sayang memang, bahwa kerajaan-kerajaan ini tak meninggalkan bukti otentik seperti prasasti atau bangunan fisik lainnya. Dalam laporan yang disusun Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat sejumlah nama kerajaan sebagai berikut:

  • Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?);
  • Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan;
  • Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan;
  • Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan;
  • Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman;
  • Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan;
  • Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo;
  • Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan;
  • Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka;
  • Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung;
  • Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara
  • Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis sejak tahun 1812.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com [/alert]

Daftar Raja-raja di Galuh

Daftar Raja-raja di Galuh

Daftar Raja-raja di Galuh (dan Kawali, Saunggalah, dan Pakuan)

  • 1.    Wretikandayun atau Wertikandayun (612-702).
  • 2.    Mandiminyak (702-709).
  • 3.    Sena atau Sang Prabu Bratasena Rajaputra Linggabhumi (709-716 M).
  • 4.    Purbasora (716-723).
  • 5.    Sanjaya Sang Harisdarma atau Rakeyan Jambri (723-732 M), Pakuan-Galuh.
  • 6.    Premana Dikusuma atau Bagawat Sajalajaya (732)
  • 7.    Rahyang Tamperan atau Rakeyan Panaraban (732-739 M), Pakuan-Galuh.
  • 8.    Surotama alias Manarah alias Ciung Wanara atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Sakalabhuwana (739-783).
  • 9.    Sang Mansiri atau Prabu  Dharmasakti Wijaleswara (783-799).
  • 10.  Sang Tariwulan atau Prabu  Kertayasa Dewakusaleswara (799-806).
  • 11.  Sang Welengan atau Prabu  Brajanagara Jayabhuwana (806-813).
  • 12.  Prabu  Linggabhumi (813-842).
  • 13.  Rakeyan Wuwus atau Prabu Gajah Kulon (842-891 M), Pakuan-Galuh.
  • 14.  Arya Kedaton atau Prabu Darmaraksa Bhuwana (891-895 M). Catatan: sejak tahun 895 hingga 1311 M, pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur (Galuh atau Saunggalah) ke barat (Pakuan) dan sebaliknya.
  • 15.   Rakeyan Windusakti atau Prabu Dewagong Jayengbhuwana (895-913 M).
  • 16.   Rakeyan Kemuning Gading atau Prabu Pucukwesi atau Sang Mokteng Hujungcariang(913-916 M).
  • 17.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wanayasa, adik Pucukwesi (916-942 M).
  • 18.   Rakeyan Watwagong atau Prabu Resi Atmajadarma Hariwangsa (942-954 M), menantu Jayagiri.
  • 19.   Limburkancana atau Sang Mokteng Galuh Pakwan, putra Pucukwesi (954-964 M).
  • 20.   Rakeyan Sunda Sembawa atau Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru(964-973 M).
  • 21.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wulung Gadung atau Sang Mokteng Jayagiri (973-989 M).
  • 22.   Rakeyan Gendang atau Prabu  Jayawisesa (989-1012 M).
  • 23.   Sanghyang Ageung atau Prabu Dewa Sanghyang atau Sang Mokteng Patapan (1012-1019M), Galuh.
  • 24.   Sri Jayabhupati atau Prabu Satya Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Bhuwanamanadala Leswaranindita Harogowardhana Wikramattunggadewa (1019-1042), Pakuan.
  • 25.    Prabu Dharmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabhuwana (1042-1064), Galuh.
  • 26.    Prabu Langlangbhumi atau Sang Mokteng Kreta (1064-1154), Pakuan.
  • 27.    Rakeyan Jayagiri atau Prabu Menakluhur Langlangbhumisutah (1154-1156), Pakuan.
  • 28.    Prabu Dharmakusumah atau Sang Mokteng Winduraja (1156-1175), Galuh.
  • 29.   Prabu Guru Dharmasiksa Paramartha Mahapurusa atau Guru Dharmakusumah atau Prabu Sanghyang Wisnu (1175-1297); di Saunggalah tahun 1175-1187, di Pakuan tahun 1187-1297.
  • 30.   Prabu Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah (1297-1303), Saunggalah
  • 31.   Prabu Citragandha (1303-1311), Pakuan.
  • 32.   Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kawali.
  • 33.   Prabu Ajiguna Wisesa (1333-1340), Kawali.
  • 34.   Prabu Ragamulya Luhurprabhawa atau Sang Aki Kolot (1340-1350), Kawali.
  • 35.   Prabu Lingga Bhuwana Wisesa atau Prabu Maharaja atau Sang Mokteng Bubat (1350-1357 M), Kawali.
  • 36.   Prabu Bunisora (1357-1371), Kawali.
  • 37.   Niskala Wastukancana atau Prabu Raja Wastu atau Sang Mokteng Nusalarang (1371-1475), Kawali.
  • 38.   Ningratkancana atau Prabu Dewa Niskala atau Sang Mokteng Gunatiga (1475-1482), Kawali.
  • 39.   Sri Baduga Maharaja (1482-1521), Galuh dan Pakuan.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]

Sejarah Galuh (bagian VI)

Sejarah Galuh (bagian VI)

Galuh Setelah Pakuan Pajajaran Runtuh

Selama Sri Baduga memerintah di Pakuan, di Galuh pun tetap ada penguasa yang statusnya raja-bawahan Pajajaran. Dan hingga Pakuan Pajajaran runtuh tahun 1579, di Galuh masih terdapat beberapa raja yang memerintah. Mereka di antaranya: Prabu Haur Kuning, Prabu Cipta Sanghiang, Prabu Galuh Cipta Permana atau Ujang Ngekel (yang pertama masuk Islam).

Eksistensi politik Galuh goyah ketika tahun 1595, Mataram menyerang Galuh. Dan selanjutnya, pada masa Sultan Agung invasi militer Mataram terhadap Galuh makin gencar. Oleh penguasa Mataram, penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dengan jumlah pendududk (cacah) sebanyak 960 orang. Ketika Mataram hendak melancarkan serangan terhadap benteng VOC di Batavia tahun 1628, pengikut Mataram di Tanah Sunda berbeda pendapat. Misalnya, Rangga Gempol I dari Sumedang Larang menginginkan pertahanan militer diperkuat dahulu, sementara Dipati Ukur dari Tatar Ukur menginginkan serangan segera saja dilakukan. Pertentangan pun terjadi di Galuh, yakni antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya, Dipati Kertabhumi, Bupati Bojonglopang, putra Prabu Dimuntur, keturunan Prabu Geusan Ulun. Perselisihan ini memuncak dan akhirnya pecahlah perkelahian. Adipati Panaekan terbunuh pada tahun 1625. Ia lalu diganti puteranya, Mas Dipati Imbanagara, yang berkedudukan di Garatengah (sekarang Cineam).

Daftar Raja-raja di Galuh (dan Kawali, Saunggalah, dan Pakuan)

  • 1.    Wretikandayun atau Wertikandayun (612-702).
  • 2.    Mandiminyak (702-709).
  • 3.    Sena atau Sang Prabu Bratasena Rajaputra Linggabhumi (709-716 M).
  • 4.    Purbasora (716-723).
  • 5.    Sanjaya Sang Harisdarma atau Rakeyan Jambri (723-732 M), Pakuan-Galuh.
  • 6.    Premana Dikusuma atau Bagawat Sajalajaya (732)
  • 7.    Rahyang Tamperan atau Rakeyan Panaraban (732-739 M), Pakuan-Galuh.
  • 8.    Surotama alias Manarah alias Ciung Wanara atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Sakalabhuwana (739-783).
  • 9.    Sang Mansiri atau Prabu  Dharmasakti Wijaleswara (783-799).
  • 10.  Sang Tariwulan atau Prabu  Kertayasa Dewakusaleswara (799-806).
  • 11.  Sang Welengan atau Prabu  Brajanagara Jayabhuwana (806-813).
  • 12.  Prabu  Linggabhumi (813-842).
  • 13.  Rakeyan Wuwus atau Prabu Gajah Kulon (842-891 M), Pakuan-Galuh.
  • 14.  Arya Kedaton atau Prabu Darmaraksa Bhuwana (891-895 M). Catatan: sejak tahun 895 hingga 1311 M, pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur (Galuh atau Saunggalah) ke barat (Pakuan) dan sebaliknya.
  • 15.   Rakeyan Windusakti atau Prabu Dewagong Jayengbhuwana (895-913 M).
  • 16.   Rakeyan Kemuning Gading atau Prabu Pucukwesi atau Sang Mokteng Hujungcariang(913-916 M).
  • 17.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wanayasa, adik Pucukwesi (916-942 M).
  • 18.   Rakeyan Watwagong atau Prabu Resi Atmajadarma Hariwangsa (942-954 M), menantu Jayagiri.
  • 19.   Limburkancana atau Sang Mokteng Galuh Pakwan, putra Pucukwesi (954-964 M).
  • 20.   Rakeyan Sunda Sembawa atau Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru(964-973 M).
  • 21.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wulung Gadung atau Sang Mokteng Jayagiri (973-989 M).
  • 22.   Rakeyan Gendang atau Prabu  Jayawisesa (989-1012 M).
  • 23.   Sanghyang Ageung atau Prabu Dewa Sanghyang atau Sang Mokteng Patapan (1012-1019M), Galuh.
  • 24.   Sri Jayabhupati atau Prabu Satya Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Bhuwanamanadala Leswaranindita Harogowardhana Wikramattunggadewa (1019-1042), Pakuan.
  • 25.    Prabu Dharmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabhuwana (1042-1064), Galuh.
  • 26.    Prabu Langlangbhumi atau Sang Mokteng Kreta (1064-1154), Pakuan.
  • 27.    Rakeyan Jayagiri atau Prabu Menakluhur Langlangbhumisutah (1154-1156), Pakuan.
  • 28.    Prabu Dharmakusumah atau Sang Mokteng Winduraja (1156-1175), Galuh.
  • 29.   Prabu Guru Dharmasiksa Paramartha Mahapurusa atau Guru Dharmakusumah atau Prabu Sanghyang Wisnu (1175-1297); di Saunggalah tahun 1175-1187, di Pakuan tahun 1187-1297.
  • 30.   Prabu Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah (1297-1303), Saunggalah
  • 31.   Prabu Citragandha (1303-1311), Pakuan.
  • 32.   Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kawali.
  • 33.   Prabu Ajiguna Wisesa (1333-1340), Kawali.
  • 34.   Prabu Ragamulya Luhurprabhawa atau Sang Aki Kolot (1340-1350), Kawali.
  • 35.   Prabu Lingga Bhuwana Wisesa atau Prabu Maharaja atau Sang Mokteng Bubat (1350-1357 M), Kawali.
  • 36.   Prabu Bunisora (1357-1371), Kawali.
  • 37.   Niskala Wastukancana atau Prabu Raja Wastu atau Sang Mokteng Nusalarang (1371-1475), Kawali.
  • 38.   Ningratkancana atau Prabu Dewa Niskala atau Sang Mokteng Gunatiga (1475-1482), Kawali.
  • 39.   Sri Baduga Maharaja (1482-1521), Galuh dan Pakuan.

Mitos Buaya dan Harimau

Proses kepindahan ibukota pada masa Sunda-Galuh memiliki pengaruh secara sosial-budaya. Dalam hal tradisi, antara Galuh dengan Sunda memang terdapat perbedaan. Disebutkan, bahwa orang Galuh itu adalah “orang air”, sedangkan orang Sunda itu adalah “orang gunung”. Yang satu (Galuh) memiliki “mitos buaya”, yang lainnya (Sunda) memiliki “mitos harimau”.

Di sekitar Ciamis dan Tasikmalaya masih ada sejumlah tempat yang bernama Panereban. Pada masa silam, tempat tersebut konon merupakan tempat melabuhkan (nerebkeun) mayat karena menurut tradisi Galuh, mayat harus dihanyutkan (dilarung) di sungai. Sebaliknya, orang Kanekes (Banten) yang masih menyimpan banyak sekali peninggalan tradisi Sunda, mengubur mayat dalam tanah (ngurebkeun). Tradisi nerebkeun di sebelah timur dan tradisi ngurebkeun di sebelah barat, membekas dalam istilah panereban dan pasarean.

Perjalanan sejarah lambat-laun telah meleburkan kedua kelompok sub-etnik ini, Galuh dan Sunda (Orang Air dengan Orang Gunung) menjadi akrab. Perbauran ini, contohnya, dilambangkan oleh dongeng Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet (Seekor Kura-kura dan Seekor Monyet). Dongeng fabel khas Sunda ini sangat dikenal oleh segala lapisan masyarakat. Padahal dalam kenyataannya, monyet (wakil dari budaya gunung) dan kuya (wakil dari budaya air) itu bertemu saja mungkin tidak pernah.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]

Sejarah Galuh (bagian V)

Sejarah Galuh (bagian V)

Niskala Wastukancana, Pembuat Parit di Kawali

Dikarenakan putra mahkota, anak lelaki Lingga Bhuwana Wisesa, masih kecil, Kerajaan diperintah sementara oleh adik Lingga Bhuwana Wisesa, yakni Patih Mangkubhumi Suradipati. Setelah dinobatkan menjadi raja, Suradipati bergelar Sang Prabu Bunisora (disebut juga Prabu Kuda Lalean atau Prabu Borosngora). Raja ini memerintah selama 14 tahun (1357-1371) dan berkedudukan di Kawali. Bunisora pun dijuluki Batara Guru di Jampang karena ia menjadi pertapa dan resi yang ulung. Setelah wafat, ia dikenal dengan nama Sang Mokteng Geger Omas (Yang Dikebumikan di Geger Omas).

Bunisora memiliki dua anak lelaki bernama Giridewata (lahir tahun 1347) dan Bratalegawa (lahir 1350), dan beberapa anak gadis di antaranya Banawati dan Mayangsari. Giridewata, yang memang kurang berhak meneruskan Kerajaan Sunda, kemudian menjadi penguasa Cirebon Girang. Sementara itu, Bratalegawa memilih hidup menjadi saudagar; dan ia berhasil dalam menjalankan bisnisnya dan memiliki banyak kapal dagang serta sejumlah peristirahatan baik di lereng gunung maupun di pantai. Sebagai pedagang, Bratalegawa banyak bepergian ke manca negara, seperti Sumatera, Semenanjung Melayu, Campa, Cina, Srilangka, India, Persia, bahkan hingga ke Arab. Di negara-negara yang dikunjunginya, Bratalegawa banyak berkenalan dan bersahabat dengan para pedagang di negera bersangkutan. Bahkan ketika berada di Gujarat, India, ia memiliki rekan bisnis bernama Muhammad. Muhammad ini kemudian menikahkan Bratalegawa dengan anak gadisnya, Farhana. Bratalegawa pun masuk Islam dengan nama baru Haji Badaruddin al-Jawi. Dapat dikatakan, dialah orang Sunda yang pertama menjadi Muslim; sekitar satu abad sebelum Wali Sanga menyebarkan Islam di Tanah Jawa.

Ada pun setelah Bunisora mangkat, yang memegang tampuk pemerintahan selanjutnya adalah putra mahkota anak Lingga Bhuwana Wisesa, yaitu Niskala Wastukancana. Ketika tragedi Pasunda Bubat, usia Wastukancana baru 9 tahun dan merupakan satu-satunya ahli waris Kerajaan yang hidup karena ketiga kakaknya meninggal di Bubat. Setelah cukup usia, Wastukancana dinobatkan menjadi raja pada 1371 ketika berusia 23 tahun. Prabu Wastukancana-lah yang membuat Prasasti Kawali yang berjumlah 6 buah. Berikut adalah bunyi Prasasti Kawali I, II, III, IV, dan V.

“Inilah tanda bekas beliau yang mulia Prabu Raja Wastu (yang) berkuasa di kota Kawali, yang memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit (di) sekeliling ibukota, yang memakmurkan seluruh desa. Semoga ada penerus yang melaksanakan berbuat kebajikan agar lama jaya di dunia. Janganlah dirintangi, janganlah diganggu, yang memotong akan hancur, yang menginjak akan roboh. Semoga ada yang menghuni di Kawali ini yang melaksanakan kemakmuran dan keadilan agar unggul dalam perang. Sang Hyang Lingga Bingba. Demikianlah.”

Prasasti Kawali ini dengan jelas menegaskan bahwa pusat pemerintahan berada di Kota Kawali (mangadeg di Kuta Kawali) dan keratonnya disebut Surawisesa. Raja inilah yang memperindah keraton Surawisesa di Kawali dan membuat parit (buat pertahanan) di Kawali. Oleh naskah Carita Ratu Pakuan yang ditulis oleh Ki Raga dari Srimanganti-Cikuray, Surawisesa disebut sebagai keraton yang memberikan ketenangan hidup (dalem sipawindu hurip). Oleh naskah Pustaka Nusantara, keterangan tentang Kawali dan Surawisesa ini diperkuat, malah ada tambahan bahwa ayahnya pun (berarti Lingga Bhuwana yang gugur di Bubat) bertakhta di Kawali.

“Persemayaman Sang Prabu Wastu Kancana adalah keraton Surawisesa. Ibukota kerajaannya bernama Kawali. Pada masa sebelumnya, ayahnya pun bertahta sebagai maharaja di situ juga.”

Membuat parit di sekeliling kota (marigi sakuriling dayeuh) adalah ide Wastukancana guna membuat pertahanan kota, untuk kepentingan militer, karena raja-raja Sunda sebelumnya seperti Banga dan Dharmasiksa pernah membuat hal serupa di kota Pakuan. Wastukancana takut bila sewaktu-waktu negaranya diserang oleh bangsa atau kerajaan lain, mungkin oleh Majapahit yang pernah menghancurkan ayahandanya. Demikian pentingnya pembuatan parit itu, maka Raja Wastukancana merasa perlu mengabadikannya dalam prasasti. Karena penting “agar unggul dalam perang” dan juga mengerahkan rakyat-tentara yang jumlahnya pasti banyak, Wastukancana mengingatkan bahwa barang siapa yang mengganggu maka akan “hancur dan roboh”.

Perihal membuat parit ini, ternyata ditenggarai bahwa di sepanjang wilayah selatan dan timur-laut Kabupaten Bandung banyak terdapat bekas parit pertahanan. Bukan itu saja, naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630) banyak menyebutkan hal-hal yang menyangkut bidang kemiliteran atau peperangan. Simaklah sebagian bunyinya.

“Bila ingin tahu tentang perilaku perang, seperti: makarabihwa, katrabihwa, lisangbihwa, singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, suci
muka, braja panjara, asu maliput, merak simpir, gagak sangkur, luwak
maturut, kidang sumeka, babah buhaya, ngalingga manik, lemah mrewasa, adipati, prebu sakti, pake prajurit, tapak sawetrik, tanyailah panglima perang.”

Walau hingga kini belum diketahui sebagian arti dari kata-kata dalam naskah tersebut, akan tetapi naskah tersebut memberitaku kita bahwa masyarakat Sunda kuno telah mengenal taktik dan senjata militer yang cukup memadai. Sanghyang Siksakandang Karesian pun memperingatkan bahwa apabila rakyat diperintah untuk: bekerja ke ladang, ke sawah, ke serang besar, mengukuhkan tepian sungai, menggali saluran (marigi), mengandangkan ternak, memasang ranjau tajam, membendung sebagian alur sungai untuk menangkap ikan, menjala, menarik jaring, memasang jaring, menangguk ikan, merentang jaring; segala pekerjaan untuk kepentingan raja, hendaknya ia:

“jangan marah-marah, jangan munafik, jangan resah dan uring-uringan, kerjakanlah dengan senang hati semuanya.”

Juga, Kropak 632 atau Amanat Galunggung memuat hal-hal yang berkaitan dengan parit dan perang.

“Tetaplah mengikuti orangtua, melaksanakan ajaran yang membuat parit (nyusuk) di Galunggung, agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya. Sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para suwargi (almarhum).”

Niskala Wastukancana memerintah dalam waktu yang panjang sekali dan hampir tak mungkin, yaitu selama 104 tahun, dari tahun 1371 hingga 1475. Pada masanya, kehidupannya sosial pun menjadi perhatian. Ia memperingatkan kepada rakyatnya yang gemar berjudi agar meninggalkan kebiasaan buruknya. Ini sesuai dengan bunyi Prasasti Kawali VI, yaitu:

“Ini peninggalan dari (yang) kokoh (dari) rasa yang ada, yang menghuni kota ini jangan berjudi (karena) bisa sengsara.”

Wastukancana menikah dua kali, yaitu dengan Nay Ratna Lara Sarkati, anak dari Resi Susuklampung, sebagai permaisuri pertama. Setelah itu, ia pun menikah dengan sepupunya (putri sulung Bunisora), Nay Ratna Mayangsari. Dari Lara Sarkati lahirlah Sang Haliwungan (Susuktunggal). Dari Mayangsari lahir Ningratkancana (Dewa Niskala).
Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, Prabu Wastukancana disebut juga Prabu Wangisutah. Wastukancana setelah meninggal bergelar Sang Mokteng Nusalarang ring Giri Wanakusumah karena dikebumikan di Nusalarang di Gunung Wanakusumah.

Dewa Niskala, Ayah Sri Baduga

Setelah Niskala Wastukancana wafat, kerajaan dibagi dua. Susuktunggal diberi kuasaan atas wilayah sebelah barat, Kerajaan Sunda-Pakuan; sedangkan Ningratkancana diberi kekuasaan atas wilayah timur Citarum, yakni Galuh. Dengan demikian, “negara kembar” ini terbagi kembali. Sementara Susuktunggal memerintah di Pakuan, Dewa Niskala (Ningratkancana) memerintah Galuh selama 7 tahun (1475-1482). Hubungan kakak-adik ini kemudian diperkuat oleh perkawinan kedua anak mereka. Putri Susuktunggal bernama Kentring Manik Mayangsunda dinikahkan dengan Sri Baduga, anak Dewa Niskala.

Syahdan, ketika Majapahit pada masa Kertabhumi atau Bhre Wijaya (Brawijaya V) mengalami keruntuhan karena serangan Demak tahun 1478, banyak rombongan-pelarian dari Majapahit yang mengungsi ke Priangan. Salah satunya ada yang sampai di Kawali, yaitu Raden Baribin, saudara seayah Kertabhumi. Kehadiran Baribin diterima baik oleh Prabu Dewa Niskala (Ningratkancana). Baribin bahkan dijodohkan dengan puteri bungsu Dewa Niskala yang bernama Ratna Ayu Kirana (adik raden Banyak Catra atau Kamandaka, yang jadi raja-daerah di Pasir Luhur). Tak hanya itu, Dewa Niskala sendiri menikahi salah seorang wanita pengungsi dari Jawa Timur itu yang kebetulan telah bertunangan. (Carita Parahyangan menyebutnya “estri larangan ti kaluaran”). Memang, sejak peristiwa Pasunda Bubat, bagi kerabat keraton Galuh-Kawali (Sunda) merupakan hal tabu bila beristrikan kerabat keraton Majapahit. Pun, menurut aturan waktu itu, wanita yang telah bertunangan dilarang menikah dengan laki-laki lain dengan pengecualian bila tunangannya meninggal dunia atau membatalkan pertunangan. Maka dalam hal ini, Dewa Niskala melanggar dua “peraturan” sekaligus; dan sebagai raja hal tersebut dianggap dosa besar.

Melihat perbuatan saudaranya yang dinilai memalukan dinasti-keluarga, Susuktunggal di Pakuan mengancam hendak memisahkan kekerabatan dengan Galuh di Kawali. Namun, ketegangan tersebut cair melalui keputusan bahwa kedua raja yang berselisih itu bersama-sama mengundurkan diri sebagai raja. Dewa Niskala menyerahkan takhta Galuh kepada puteranya, Jayadewata (Sri Baduga), Susuktunggal menyerahkan takhta Sunda juga kepada Jayadewata, menantu sekaligus keponakan. Kerajaan warisan Wastukencana pun berada dalam satu tangan kembali, di tangan cucunya sendiri yang kelak menjadi raja besar di seluruh Tatar Sunda, Sri Baduga Maharaja. Dewa Niskala sendiri setelah wafat dikebumikan di daerah Gunatiga dan bergelar Sang Mokteng Gunatiga.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]

Sejarah Galuh (bagian IV)

Sejarah Galuh (bagian IV)

Kawali, Ibukota Galuh yang Baru

Setelah Citraganda tiada, takhta Galuh berpindah ke anaknya, Lingga Dewata. Sejak pemerintahan Prabu Lingga Dewata ini, pusat Kerajaan berpindah ke tempat yang baru, bernama Kawali. Belum ada keterangan pasti siapa sebenarnya yang pertama memerintah di Kawali. Yang jelas, menantunya, Prabu Ajiguna Wisesa (1333-1340), sudah berkedudukan di Kawali. Dengan begitu, sejak pertengahan abad ke-14 ini, pusat pemerintahan tak lagi berada Galuh atau Saunggalah atau pun Pakuan.

Kawali sendiri berarti “kuali” atau “belanga”. Lokasi Kawali cukup strategis karena berada di tengah segitiga Galunggung-Saunggalah-Galuh. Sejak abad ke-14, Galuh selalu dikaitkan dengan Kawali karena ada dua orang raja Sunda-Galuh yang dipusarakan di Winduraja, dekat Kawali. Nama Kawali kini masih digunakan sebagai nama desa, yakni Desa Kawali di Kampung Indrayasa, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Nama Kawali terabadikan dalam Prasasti Kawali, berupa batu peninggalan Prabu Raja Wastu (Niskala Wastukancana) di Astana Gede, Kecamatan Kawali.

Ajiguna Linggawisesa adalah menantu Lingga Dewata karena menikah dengan Dewi Uma Lestari alias Ratu Santika, putri Linggadewata. Dari perkawinan ini lahir Ragamulya (yang kelak menggantikan ayahnya) dan Suryadewata yang kemudian menurunkan raja-raja Talaga. Adik perempuan Ajiguna Linggawisesa yang bernama Pujasari diperistri oleh Patih Srenggana dan menjadi leluhur raja-raja Tanjung Barat yang terletak di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Prabu Ajiguna Linggawisesa memerintah dari tahun 1333 hingga 1340 M. Ia sezaman dengan Tribuwonotunggadewi Jayawisnuwardani (1328-1350).   Setelah wafat, Ajiguna Linggawisesa dipusarakan di Kiding. Maka dari itu, gelar anumertanya Sang Mokteng Kiding. Yang menggantikannya adalah putra sulungnya, yaitu Ragamulya Luhur Prabawa atau Sang Aki Kolot (1340-1350 M). Ia berputera dua orang yaitu Lingga Bhuwana dan Bunisora yang kedua-duanya kemudian menjadi penguasa di Kawali.

Pasunda Bubat

Prabu Lingga Bhuwana Wisesa memerintah di Kawali hanya 7 tahun, 1350-1357. Raja inilah yang meninggal pada tragedi Pasunda Bubat; karena itu digelari Sang Mokteng Bubat. Peristiwa Pasunda Bubat atau Perang Bubat ini terjadi pada 1357 M, yakni peperangan antara Sunda-Galuh dengan Majapahit. Kisah ini diuraikan cukup komplit dalam Kidung Sundayana dan Pararaton.

Mengenai Pasunda Bubat ini, Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara mengungkapkan:
Di medan perang Bubat ia (Lingga Bhuwana) banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.

Perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda terjadi di Desa Bubat. Nagarakretagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca menyebutkan bahwa Bubat merupakan bandar tempat kapal atau perahu berlabuh karena terletak di tepi sebatang sungai besar. Di Bubat ini terdapat sebuah lapangan upacara yang luas tempat upacara kenegaraan dan keagamaan. Jika ingin menghadiri upacara tersebut, Raja Hayam Wuruk datang ke Bubat dengan mengendarai kereta yang ditarik empat ekor kuda. Meski demikian, Nagarakretagama tak menyinggung Perang Bubat sama sekali; dan ini mungkin Prapanca tak ingin menyinggung-nyinggung masalah yang dapat membuat hati rajanya bersedih.

Perang Bubat sendiri meletus karena dipicu oleh ambisi Mahapatih Gajah Mada yang ingin menguasai Kerajaan Sunda. Carita Parahyangan mengisahkan bahwa putri Prabu Maharaja bernama Dyah Pitaloka Citraresmi sangat banyak keinginannya (manja). Ia ingin dipinang oleh seorang raja Jawa yang begitu berkuasa dan enggan bersuamikan pria berdarah Sunda. Dan konon Hayam Wuruk tertarik hatinya kepada Pitaloka Citraresmi setelah melihat sendiri lukisan Sang Putri Citraresmi di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman Jawa bernama Sungging Prabangkara.

Pararaton (Pararatwan) mengisahkan tragedi ini dengan cukup detail, yakni:
Kemudian terjadi peristiwa orang Sunda di Bubat. Sri Prabu (Hayam Wuruk) ingin memperistri putri dari Sunda. Patih Madu diutus mengundang orang Sunda. Maksudnya, mengharap agar orang Sunda menikahkan putrinya. Lalu Raja Sunda datang di Majapahit. Sang Ratu Maharaja (Sunda) tidak bersedia mempersembahkan putrinya. Orang Sunda harus meniadakan selamatan (jangan mengharapkan adanya upacara pesta perkawinan) kata sang utusan. Sang Mahapatih Majapahit tidak menghendaki pernikahan (resmi), sebab ia menganggap rajaputri sebagai upeti.

Sebenarnya, pihak Sunda sendiri agak keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ia menilai, tidak lazim pihak perempuan datang kepada pihak pengantin pria; suatu hal yang dianggap tabu menurut adat yang berlaku di Sunda maupun Nusantara umumya. Akan tetapi, Sang Maharaja menilai bahwa pernikahan Pitaloka-Hayam Wuruk bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan, karena bukankah lelulur Hayam Wuruk adalah Raden Wijaya yang memiliki darah Sunda. Hayam Wuruk sendiri kemungkinan besar mengetahui bahwa dirinya masih keturunan raja Sunda. Di lain pihak pun, berdasarkan Kidung Sundayana, “Sumpah Palapa” Gajah Mada rupanya belum dikatakan berhasil karena Pajajaran belum juga mengakui kekuasaan Majapahit, walau sudah dua kali diserang.

Akhirnya, alih-alih Raja Hayam Wuruk yang lajang ingin menyunting putri Sunda yang kesohor cantik jelita, maka diutuslah Tuan Anepaken (Patih Sunda) untuk melamar Dyah Pitaloka Citraresmi. Maka ketika tiba saatnya, ratusan rakyat mengantar keberangkatannya yang disertai raja dan para bangsawan Sunda ke Majapahit dengan menggunakan perahu. Namun tiba-tiba, laut yang semula biru, secara mendadak dilihatnya berubah menjadi hamparan air yang bewarna merah. Tanda-tanda buruk iturupanya tidak dihiraukan, sehingga setelah sepuluh hari berlayar, rombongan tiba di Bubat.

Namun, Gajah Mada merasa keberatan menyambutnya karena menganggap putri Dyah Pitaloka Citraresmi merupakan “upeti yang akan dihadiahkan” kepada Raja Hayam Wuruk. Sebaliknya, Raja Sunda dan rombongan tetap bersikukuh bahwa putri Sunda yang cantik jelita itu akan “dipinang” oleh Hayam Wuruk. Perbedaan pendapat yang kemudian menimbulkan ketegangan itu, akhirnya mencapai puncaknya setelah utusan Sunda Patih Anakepan mencela keras sikap Gajah Mada. Anakepan mengingatkan, bahwa bantuan Sunda kepada Majapahit tidaklah sedikit ketika masa penaklukan Bali.

Sebelum ada keputusan sidang istana Majapahit, Gajah Mada telah mendahului menyerang rombongan Sunda yang tengah rehat di sebelah utara Majapahit. Peperangan pun tak terhindarkan. Para ksatria terkemuka dari pihak Sunda yang bersemangat berperang di antaranya: Larang Agung, Tuan Sohan, Tuan Gampong, Panji Melong, orang-orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuan Usus, Pangulu, Rangga Kaweni, orang Siring, Satrajali, Jagadsaya. Namun, karena tak seimbang dalam jumlah tentara dan peralatan, ditambah ketaksiapan pasukan Sunda yang memang semula tak berniat berperang, semua rombongan Sunda tewas. Dalam membela kehormatan martabatnya dan Kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Lingga Bhuwana gugur lebih dulu, tersungkur bersama Tuan Usus. Namun meski demikian, peperangan masih ters berkobar. Para ksatria Sunda lainnya akhirnya mengikuti jejak Prabu Maharaja, gugur sebagai satria yang membela kehormatan negaranya.

Putri Dyah Pitaloka pun diberitakan memilih bunuh diri, mengikuti jejak para kesatria Sunda. Namun, ada pula yang yakin bahwa sang Putri Sunda itu tak bunuh diri, melainkan ikut bertempur dan berhasil melukai Gajah Mada. Walau akhirnya gugur, Sang Putri berhasil melukai tubuh Gajah Mada dengan konon keris Singa Barong berlekuk 13, keris leluhur peninggalan pendiri Tarumanagara, Prabu Jayasinghawarman. Diceritakan, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang Sunda, tak ada yang ketinggalan. Hari naas tersebut terjadi pada Selasa-Wage sebelum tengah hari, tanggal 13 bagian terang, bulan Badra tahun 1279 Saka.

Begitu mengetahui tragedi Bubat, Hayam Wuruk begitu menyesalkan tindakan Gajah Mada. Ia lalu mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali (yang saat itu masuk ke dalam kekuasaan Majapahit) untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, pejabat sementara Raja Sunda. Pun, Hayam Wuruk berjajnji bahwa peristiwa tragis itu akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar bisa diambil hikmahnya.

Akibat tragedi Bubat ini, hubungan antara Gajah Mada dengan Hayam Wuruk kemudian merenggang. Hubungan antara Sunda-Majapahit pun tak bisa dikatakan harmonis kembali karena “nasihat dan pepatah” Sang Prabu Dharmasiksa kepada Raden Wijaya telah dikhianati oleh Gajah Mada yang memang bukan termasuk trah (keturunan) Wijaya. Dan hingga akhir hayatnya, Hayam Wuruk (yang bila ditelisik dari silsilah R. Wijaya, masih memiliki darah Sunda) tetap menepati janjinya: tak pernah melakukan penaklukan terhadap Sunda-Pajajaran. Hingga Majapahit runtuh, Pajajaran tetap negara merdeka.

Nasib Gajah Mada sendiri berakhir dengan tragis pula. Akibat luka yang digoreskan Dyah Pitaloka, ia menderita sakit yang tak bisa diobati, sehingga akhirnya meninggal. Tetapi, dalam versi lain disebutkan bahwa Gajah Mada tidak meninggal melainkan kecewa mendalam dan masgul atas kejadian tersebut. Ia akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sang Maha Patih dan memilih menyepi di suatu tempat hinnga akhirnya moksa karena merasa tugasnya di dunia telah selesai.

Dikisahkan, Sri Maharaja Lingga Bhuwana senantiasa memperhatikan kemakmuran hidup rakyatnya. Kemahsyurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara (Nusantara). Kehebatan Prabu Maharaja membangkitkan rasa bangga kepada keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang, dan rakyat Priangan.

Oleh karena itu, nama Prabu Maharaja jadi mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi, dan keturunannya lalu disebut Prabu Siliwangi. Merujuk kepada Carita Parahyangan, Amir Sutaarga dan juga Atja beranggapan bahwa Prabu Wangi ini identik dengan Niskala Wastukancana, anak Lingga Bhuwana. Dengan begitu, Niskala Wastukancana-lah yang disebut Siliwangi, meski ada pula yang menyebutkan bahwa Sri Baduga-lah (cucu Wastukancana) yang disebut Prabu Siliwangi.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]