Sejarah Banjarsari Ciamis

Sejarah Banjarsari Ciamis

Pernahkan Anda singgah berkunjung ke Banjarsari Ciamis atau sekedar melewatinya? Daerah ini ternyata menyimpan banyak cerita masa lalu yang mungkin sudah dilupakan oleh sebagian besar warga Ciamis khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Selain jarang diungkap, penyebarluasan informasinya pun memang terasa masih minim dan nyaris tidak terdengar, sehingga masyarakat umumnya tidak mengetahui sejarah Banjarsari. Sebuah tulisan dari Kang Mustafid Sawunggalih yang terdapat di halaman ini akan menambah wawasan kita tentang riwayat daerah tersebut. Selamat membaca dan kembali ke masa lalu.

Tahun 1628 Sultan Agung menugaskan Dipati Ukur membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa. Namun Bahureksa tidak mengadakan hubungan dengan Dipati Ukur. Oleh karena itu Dipati Ukur tidak dapat melakukan perundingan dengan Bahureksa.

Pada waktu yang telah ditentukan, Dipati Ukur memimpin pasukannya bergerak menuju Batavia untuk menyerang Kompeni. Ketika pasukan dipeti Ukur tiba di Batavia, ternyata pasukan Mataram belum datang. Oleh karena itu, Dipati Ukur gagal mengusir Kompeni dari Batavia. Kegagalan itu terjadi karena ketidakseimbangan persenjataan dan tidak mendapat dukungan dari pasukan Mataram. Padahal seharusnya pasukan Mataram yang menjadi kekuatan ini penyerangan, dibantu oleh pasukan Dipati Ukur.

Atas kegagalan menjalankan tugas dari raja Mataram, rupanya Dipati Ukur berpikir, daripada ia menerima hukuman berat dari Sultan Agung, lebih baik ia tidak setia lagi terhadap Mataram. Dipati Ukur beserta sejumlah pengikutnya mengabaikan kekuasaan Mataram dan melakukan gerakan memberontak terhadap Mataram.

Sikap Dipati Ukur tersebut segera diketahui oleh penguasa Mataram. Pihak Mataram berusaha keras menumpas pemberontakan Dipati Ukur. Bila pemberontakan itu tidak segera ditumpas, akan merugikan pihak Mataram.

Akhirnya pemberontakan Dipati Ukur dapat dipadamkan. Menurut versi Mataram, Dipati Ukur tertangkap dan dihukum mati di Mataram. Menurut Sajarah Sumedang (babad), pemberontakan Dipati Ukur terhadap Mataram berakhir pada tahun awal tahun 1632.

Penangkapan Dipati Ukur Oleh Adipati Kawasen

Naskah Leiden Oriental adalah naskah yang memuat tentang pemberontakan Dipati Ukur & Penangkapan Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura (Adipati Kawasen). Naskah ini ditulis oleh Sukamandara yang pernah menjadi Jaksa di Ghaluh. Peristiwa penangakapan Dipati Ukur Oleh Bupati Kawasen ini menurut Prof. DR. Emuch Herman Somantri terjadi pada hari Senin tanggal 1 bulan Jumadil Awal 1034 H sekitar pertengahan tahun 1632.

Berikut adalah cuplikan naskah Leiden Oriental yang menceritakan tentang penangakapan Dipati Ukur oleh Adipati Kawasen (Bagus Sutapura):

“Nunten pada guneman lan para bupati kabeh. Daweg pada angulati srana kang bhade bisa nyekel Dipati Mogol punika. Nunten kyai Dhipati Galuh Bendanagara angsal sanunggal santana Kawasen westa bagus Sutapura, gawena lagi ambhating raga, sanggem anyekel Dipati Ukur. Sarta lajeng kumanabang sareng sareng samenek ing Gunung lumbung punika. Nunten dipun tibani watu Westa Munding Jalu dipun capakeun dening Bagus Sutapura, dipun balangakeun sumangsang wonten sainggiling lajeng leles. Mangke nyataning Batulayang sareng sampun sumangsang watu puniku. Nunten Bagus Sutapura angamuk pribadi, katah kiang pejah balanipun Dipati Ukur punika sarta dipun besta dibakta dateng Ghaluh.”

Artinya:
“Hasil musyawarah para Bupati yang akan diberi tugas menangkap Dipati Ukur yang memberontak, kemudian Kyai Ghaluh Bandanagara mendapatkan Senopati dari Kawasen (Bagus Sutapura) yang orang sedang bertapa untuk menangkap Dipati Ukur. Bagus Sutapura lalu maju untuk berperang. Ia naik gunung lumbung. Begitu Bagus Sutapura naik ke Gunung Lumbung, Bagus Sutapura dijatuhi batu yang bernama Munding Jalu oleh Dipati Ukur. Batu itu kemudian ditangkap oleh Bagus Sutapura, kemudian dilemparkan dan nyangkut di phon leles. Berhubung dengan ditangkapnya Batu itu (Munding Jalu), maka tempat itu dinamakan batu layang. Kemudian Bagus Sutapura menyerng sendirian sampai pengikut Dipati Ukur banyak yang tewas. Akhirnya Dipati Ukur dapat ditangkap oleh bagus Sutapura dan diikat kemudian dibawa ke galuh”

Sejarah Galuh yang disusun oleh raden Padma Kusumah merupakan salah satu naskah yang memuat tentang penangkapan Dipati Ukur oleh Bagus Sutapura. Naskah ini disusun berdasarkan naskah yang dimiliki oleh Bupati galuh R.A.A Kusumah Diningrat 1836-1886 M, bupati Galuh R.T Wiradikusumah 1815 M dan R.A Sukamandara 1819 M. Diantara naskah tersebut yang menceritakan Penangkapan Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura (Adipati Kawasen) adalah:

255. Heunteu kocap dijalanna
Di dayeuh Ukur geus Neupi
Ki Tumenggung narapaksa
Geus natakeun baris
Gunung Lembung geus dikepung
Durder pada ngabedilan
Jalan ka gunung ngan hiji
Geus diangseug eta ku gagaman perang

256. Dipati Ukur sadia
Batuna digulang galing
Mayak Gagaman di lebak
Rea anu bijil peujit
Sawareh nutingkulisik
Pirang-pirang anu deungkeut
kitu bae petana
Batuna sok pulang panting
Ki Tumenggung Narapaksa rerembugan

257. Urang mundur ka Sumedang
Didinya Urang Badami
Nareangan anu bisa
Nyekel raheden Dipati
Bupati pada mikir
Emut ku Dhipati galuh
Ka Ki bagus Sutapura
Waktu eta jalma bangkit
Seg disaur ana datang diperiksa

258. Kyai bagus Sutapura
Ayeuna kawula meureudih
Dipati Ukur sing beunang
Ditimbalan dijeng gusti
Nanging kudu ati-ati
Perkakasna eta batu
Gedena kabina-bina
Dikira sagede leuit
Dingaranan Batu Simunding lalampah

259. Kyai bagus Sutapura
Perkakasna ngan pedang jeung keris
Datang kana pipir gunung
Tuluy gancangan nanjak
Geus datang kana tengah-tengah gunung
Batu Ngadurungdung datang
Dibunuh geus burak-barik

260. Nu sabeulah seug dicandak
Dibalangkeun nyangsang dina luhur kai
Nu matak ayeuna masyhur
Ngarana batu layang
Kocap deui Kyai bagus Sutapura ngamuk
Balad Ukur ennggeus ruksak
Ukur ditangkap sakali.

276. Hariring katu nimbalang
Eta maneh bener Kyai Dipati
Eh ayeuna Tumenggung
Tumenggung Narapaksa
Karep kamenta Ngabehi anu tilu
Ayeuna angkat Bupati

279. Kyai bagus Sutapura
ayeuna ngarana kudu diganti
Bari diangkat Tumenggung
Tumenggung Sutanangga
Jeung bere cacah 7000
Ayeuna Geus tetep linggih

Pemberontakan Dipati Ukur yang berlangsung lebih-kurang empat tahun (1628-1632) merupakan faktor penting yang mendorong Sultan Agung tahun 1630-an memecah wilayah Priangan di luar Sumedang menjadi beberapa kabupaten, termasuk Galuh. Wilayah Galuh dipecah menjadi beberapa pusat kekuasaan kecil, yaitu Utama diperintah oleh Sutamanggala, Imbanagara diperintah oleh Adipati Jayanagara, Bojong-lopang diperintah oleh Dipati Kertabumi, dan Kawasen diperintah oleh Bagus Sutapura.

Khusus kepala-kepala daerah yang berjasa membantu menumpas pemberontakan Dipati Ukur diangkat oleh Sultan Agung menjadi bupati di daerah masing-masing. Tahun 1634 Bagus Sutapura dikukuhkan menjadi Bupati Kawasen (wilayah Kawasen pada saat itu antara Pamotan (Kalipucang) sampai Bojong Malang (Cimaragas sebelah Barat) berpusat di Kawasen-Banjarsari).

Kepala daerah lain yang diangkat menjadi bupati antara lain Ki Astamanggala (Umbul Cihaurbeuti) menjadi bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Ki Wirawangsa (Umbul Sukakerta) menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha, dan Ki Somahita (Umbul Sindangkasih) menjadi bupati Parakanmuncang dengan gelar Tumenggung Tanubaya). Bagus Sutapura memerintah Kawasen sampai dengan 1653 M.

Sementara itu, Dipati Imbanagara yang dicurigai oleh pihak Mataram berpihak kepada Dipati Ukur, dijatuhi hukuman mati (1636). Namun puteranya, yaitu Adipati Jayanagara (Mas Bongsar) diangkat menjadi Bupati Garatengah. Imbanagara dijadikan nama kabupaten dan Kawasen digabungkan dengan Imbanagara.

Demikianlah untaian cerita nyata yang pernah terjadi tentang Pemberontakan Dipati Ukur & Penangkapan Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura Adipati Kawasen. Dari berbagai sumber yang ada tentang Jasa Bagus Sutapura yang telah berjasa mengagalkan pemberontakan yang dilakukan oleh Dipati Ukur.

Selanjutnya Tahun 1963 Bagus Sutapura diangkat sebagai Dalem Kawasen dengan gelar Tumenggung Sutanangga. Kadaleman Kawasen sekarang bernama Banjarsari.

Kadaleman Kawasen resmi dibubarkan pada tahun 1810 M berdasarkan Besluit yang ditetapkan oleh Gubernur Jendral Herman Deandels.

Peninggalan-peninggalan dari kebesaran Kadaleman Kawasen yang tersisa sampai saat ini hanya berupa makam-makam dari para Dalem Kawasen yang berkuasa di Kawasen beserta para pejabat kawasen. Di Banjarsari sendiri orang kebanyakan hanya tahu Kawasen itu adalah salah satu Desa di Kecamatan Banjarsari yang tidak ada sejarahnya. Selain itu sekarang tidak tampak Bahwa di Banjarsari dulu adalah sebuah kabupaten yang besar dan masyhur di Tatar Parahiyangan dengan nama Kawasen. Hal ini terjadi karena Kurangnya kesadaran masyarakat untuk kembali menelusuri sejarah “Nyakcruk Galur Mapay Patilasan”.

Sepertinya pemerintah setempat khususnya Ciamis kurang memperhatikan sisa-sisa peninggalan dari Kadaleman kawasen. Seandainya Pemerintah ciamis sadar bahwasanya di Banjarsari masih ada sisa-sisa kebudayaan dalam hal ini Kadaleman kawasen, maka Kawasen ini layak dijadikan sebagai Situs Wisata Budaya yang ada di Bumi tatar galuh Tercinta.

Semoga tulisan singkat mengenai kebesaran kadaleman kawasen ini dapat memberikan hikmah suri taulada kepada kita semua tentang jiwa Patriotisme Bagus Sutapura yang tercermin dalam jiwa dirinya.

Banjarsari adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Indonesia. Sebutan yang pernah populer untuk kecamatan ini adalah “Kota Nyari” – nyaman, asri, rindang, dan indah. Kini istilah itu tidak lagi terlalu menggema. Sebagai bukti keberadaannya, didirikanlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kotanyari, sebuah sekolah dasar yang cukup baik, menyusul SDN IX Banjarsari.

Referensi lain: Dipati Ukur, an Honourable Hero or a Legendary Loser

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com, wikipedia[/alert]

Nyukcruk Galur Batu Susun

Nyukcruk Galur Batu Susun

Girimis mimiti miripis  sabada lengkah nyukcruk jalan satapak di lamping pasir Cingacung nu aya di tapel wates Desa Cikupa jeung Desa Talagasari Kecamatan Lumbung Ciamis. Najan wanci can manjing ka burit tapi panonpoe bangun teu walakaya nyingraykeun halimun nu ngubeng sabudeureun lengkob jeung lamping Gunung Sawal.  Ngapruyna hujan nambahan leueur jalan taneuh nu keur disorang, mangkaning lalampahan teh kaitung jauh kenehbarikudu ngaliwatan dua pupudunan anu kacida nutugna. Can deui kudu meuntas Walungan Rompe nu caina keur meumeujeuhna caah. Aya eta ge rawayan tina awi, ngan tempatna jauh kacida. Kudu muter heula,  jarakna dua kalieun rute nu keur di papay. Wegah ari kudu muter mah. Babaku na mah geus teu sabar hayang geura nepi kana tujuan, nempo Batu Susun tea.

Ngeunaan ayana Batu Susun dibejaan ku ki Sobat. Cenah di lemburna aya lamping batu anu susunan batuna jiga nu meunang ngatur. Boh tumpukanana atawa bentukna. Da mun disidik-sidik mah siga rupa wangunan. Malahan mah jiga aya lawang panto sagala.  Tina beja Ki Sobat eta, teu talangke deui gancang disusud lebah-lebahna. Rada singkil teh pedah we Desa Cikupa teh masih di wewengkon Kacamatan Lumbung, teu jauh ti lembur kuring. Desa Cikupa aya di tutugan Gunung Sawal. Kaasup desa pangluhurna jeung pangjauhna di Kacamatan Lumbung mah. Samemehna, Cikupa asup ka Kacamatan Kawali ngan saprak aya pamekaran, kaereh ka Kacamatan Lumbung Najan kitu, teu hese mun rek ulin ka Cikupa . Salian jalanna geus diaspal, kendaraan nu ngajugjug wewengkon eta kaitung mindeng. Nu pang cepetna mah iwal ti kana ojeg. Da ari angkot mah nyampakna teu saban wayah .

Nu disebut angkot teh sabenerna mah mobil kolbak malah sok dilandi “parahu dayung”. Eta meureun pedah posisi diuk penumpangna jiga nu keur ngadarayung. Ngetemna di jalan Ciempu wetaneun alun-alun Kawali. Tapi mun nanyakeun Batu Susun di Kawali atawa di Lumbung, jigana teu pati arapaleun. Da urang Cikupa na oge teu kabeh nyaho ngunaan Batu Susun. Kahiji memang teu populer da dianggapna sakadar batu biasa lain tempat pangulinan samodel objek wisata. Kadua tempatna hara-haraeun nenggang ti pilemburan, Katilu folklor anu pakait jeung Batu Susun geus kapopohokeun, kaopatna pikakeueungeun, da cek nu arapal mah didinya teh tempat uka-uka, malah aya nu nyebutkeun puseur karaton jin Gunung Sawal wilayah kaler.

Untungna lebah pupudunan, jalan teh disengked ku semplekan batu. Teu hariwang tisorodot.Barimudun, sakapeungbarinyawang ka lamping Cingacung, mun euweuh halimun tangtu pamandangan teh kacida endahna. Najan teu pati jelas, samar-samar katempo runggunuk tatangkalan dina lamping batu. Anjog di sisi Walungan Rompe bingung neangan cara pimeuntaseun. Untungna walungan teh teu pati rubak jeung loba batu badagna tingjalugrug. Najan keur gede cai  cek ijiran mah bisa keneh dipeuntasan.Barimapay sisi walungan neangan tempat nu rada kerep batuna  katingal aya hiji batu nu bentukna mahiwal ti nu sejen. Jangkungna aya setengah meter, bentukna selinder mintul,  ayana di peuntaseun walungan

Teu kacaturkeun kumaha elekesekengna meuntas walungan, luncat ti batu ka batu,  sababarah kali tisoledat rek tigejebur. Untung we, jurus kunyuk ladang diajar keur budak ti  Bah Ano napel keneh, najan teu hatam guguruna, ari sakadar ujlang-ajleng mah teu weleh nepi ka peuntas . Ditengetan deui batu teh, tetela kaciri pisan bedana. Boa-boa nu disebut menhir tea meureun. Ngan biasana ari menhir mahtarajauh ti dolmen, ngan hanjakal batu nu ngaharib-harib dolmen mah teu kapanggih bakat ku loba teuing, antukna hese nangtukeunana. Bisa wae dolmen nu tadina deuket jeung menhir teh geus robah posisina, palid atawa kaisedkeun mangsa usum caah cai.

Ti sisi walungan Rompe lamping anu disebut Batu Susun mimiti kaciri najan bentukna mah can pati eces. Babaku na mah kahalangan ku Tangkal Dahu badag nu dahana ngroyom. Antara Batu Susun jeung Walungan Rompe di pisah ku pasawahan. Harita kabeneran keur usum tandur.  Tegalan sawah ge kaciri anyar meunang neplok ku leutak. Antukna  nyampeurkeun Batu Susun ge nyeker bebelekesekan. Baringatur lengkah sangkan teu nincakan binih suuk jeung jagong,  karasa yen tempat ieu  boga kaistimewaan. Lahan pasawahan teh digendeng ku lamping pasir nu lumayan luhurna, di tengahna Walungan Rompe, lebah hulu walungan diwates ku jajaran pasir Gunung Sawal. Mun di ibaratkeun mah lokasi Batu Susun teh jiga bentuk  sapatu kuda. Lian ti kitu ampir kabeh galengan sawah nu aya di sabudereun Batu Susun di balay tina tumpukan batu. Sawah nu rada anggang jeung deukuet ka Walungan Rompe, dibalay ku batu walungan. Sedengakeun nu deukeut kana Batu Susun balayna make sesesemplekan batu sirap meunang mulungan ti Batu Susun.

Can Ka Susud Sajarahna

Batu Susun bisa disebutkeun fenomena alam anu masih kalimpudan ku misteri.  Kaayaanana salila ieu can ka guar ku media informasi, komo deui ku penelitian sajarah mah. Padahal nilik tina bentuk atawa lingkunganana boga sangkaan kuat ngandung ajen sejarah. Batu susun diwangun tina jenis batuan sirap. Kontruksi batu nu mangrupakaeun lawang nepi ka tihang tungtung, panjangna 100 m. sedengkeun jangkungna kira-kira 70 m. di tengah gawir, ngajungkiring tangkal Dahu nu umurna geus ratusan tahun. Kaluhurna mah  katutupan ku taneuh, ngan dina bagean nu longsor kaciri entepan batu nu nyambung jeung bagean handapna.

“ Ti  Kapungkur abdi tos ngaraos hemeng ku ayana Batu Susun ieu. Malih abdi gaduh dugaan yen tempat ieu sanes didamel ku proses alam, nanging aya campur tangan manusa. Mung iraha sareng carana abdi teu terang. Boa-boa di dieu teh kantos ngadeg hiji karajaan “ cek Mamat, salah saurang warga Cikupa nu bubuara ka Ciamis.

Mamat oge nyaritakeun yen kaayaan di ponclot lamping oge masih mangrupa babatuan anu posisina jiga meunang nyusun. Ayana tangkal Dahu oge jadi totonde  sejen, sabab tangkal Dahu ieu ngan hiji-hijina di lelewek dinya. “Panginten ari batu biasa mah bentukna oge teu pararuguh. Ari disebat batu walungan, bentukna oge lalonjong atawa baruleud barina oge saha atuh anu pirajeuneun ngangkutanana? Da ari nu katingal ku abdi,  batu Susun mah bentukna oge  kotak-kotak jiga kenging ngeureutan.”

Cek katerangan sejen ti salah saurang warga Anjung, Desa Selamaya, lembur tatangga desa Cikupa. Netelakeun yen Batu Susun teh disebut oge Batu Meja atawa batu lomari. Taun 1960 tempat eta kaitung sohor pikeun nu jaroh neangan harta banda ku jalan singket, nyaeta muja. Hal eta tumali ayana kapercayaan yen  Batu Susun teh mangrupa tempat neundeun banda kaya  Putri Anjungsari dina legenda Panji Boma nu hirup dikalangan masyarakat Dayeuhluhur Kecamatan Jatinagara, Winduraja Kawali, jeung Panjalu.

Legenda Panji Boma

Dina Babad Panjalu atawa carita ti Dayeuhluhhur nyebutkeun yen Anjungsari teh salah saurang putri ti Karaton Pakuan Pajajaran nu ngungsi ka wilayah Karajaan Panjalu dina mangsa Pajajaran meh runtag di gempur ku pasukan ti Cirebonjeung Banten. Bukti ayana arus pengungsi ti Pakuan Pajajaran ka Kawali jeung Panjalu di catet ku pagawe pamarentah Belanda nu ngarana J.Olivier. Ti Desember 1821 nepi ka taun 1827 manehna ngalanglang kaayaan wilayah-wilayah Priangan jang laporkeuneun ka pusat. Hasil investigasi dicatet dina bukuna anu judulna Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indie (Kajadian-kajadian jeung hal-hal penting ti Hindia Timur)

Harita manehna kungsi nyakseni rupa-rupa parabot jeung barang sejenna anu dibarawa ku nu ngungsi, kaasup diantarana naskah-naskah kuno.  Kawali jeung Panjalu kaasup daerah nu dijugjug sabab aya hubungan historis nu raket antara Pajajaran jeung Karajaan Kawali. Baheulana Kawali mangrupakeun Karajaan luluhur Pajajaran.  Sang Pamanah Rasa atawa Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran anu katelah Prabu Siliwangi, keur leutikna cicing di Kawali kalayan di asuh ku akina, Prabu Niskala Wastu Kancana anu ngahyang di Nusalarang, Situ Lengkong Panjalu. (Sang Lumahing Nusalarang). Jadi kaharti mun arus pengungsi ti Pajajaran sabagean lumpat ka Wilayah Kawali jeung Panjalu.

Harita kakawasaan di Kawali dicepeng ku raja wilayah anu katelah Maharaja Sakti atawa Maharaja Kawali. Ngeunaan tokoh ieu identitas anu sabenerna can kaungkap sagemblengna. Ngan cek kuncen Karamat Panaekan Dayeuhluhur Jatinagara, Maharaja Sakti teh raina Panji Boma anu jadi raja wilayah di Dayeuhluhur. Maharaja Sakti jeung Panji Boma teh pada-pada mikabogoh Putri Anjungsari anu nganjrek di Karajaan Panjalu. Kusabab kitu, nya Raja Panjalu nyieun saembara anu eusina yen dua raja eta kudu paheula-heula nepi ka Panjalu dina waktu nu geus ditangtukeun.

Panji Boma jeung Maharaja Sakti dua raja nu kawentar sakti jeung gagah. Ngan Maharaja sakti mah leuwih pinter. Pas dina waktuna saembara. Panji Boma mah ngapung naek kana sintung kalapa sedengkeun Maharaja Sakti ku kapinteranana nyumput dina pesak baju kere Panji Bomabariteu kanyahoan kunu bogana. Memeh nepi ka Panjalu, Panji Boma ngarasa hanaang, nya anjeuna lungsur heula neangan cai nginum. Ku sabab suwung, baju kere na di kepretkeun kana gawir. Ti dinya kaluar cinyusu anu mingkin lila mingkin ngabadagan. Tempat eta kiwari jadi Situ Ciater, jarakna 500 meter ti Situ Lengkong Panjalu.

Samemeh Baju Kere Panji Boma di kepretkeun, Maharaja Sakti nu nyumput na pesakna, gancang kaluarbarituluy mesat muru Karaton Panjalu,  jadi nu pangheulana nepi sakaligus jadi pinunjul dina saembara eta. Kalayan jembar Panji Boma narima eleh. Singket carita, sanggeus rengse babadamian nangtukeun waktu jatukrami, duanana mulang babarengan. Palebah lembur anu ayeuna katelah Selamaya, Maharaja Sakti nyaritakeun  lalakon manehna nyumput dina Baju Kere. Kusabab ngadongengna semu moyok, lila-lia Panji Boma ngarasa ambek. Keur mah teu hasil meunangkeun mojang kameumeutna,  katambah-tambah hayoh wae di gonjakan ku Maharaja sakti, antukna jadi amarah badag.

Tina heureuy, jadi parea-rea omong, manjang kana pasea, tungtungna der garelut. Sarwa pada sakti jeung gagah. Ngan lila-lia Maharaja Sakti kadeseh sabada Panji Boma mesat pedang pusakana. Lebah dinya titis tulis nasib Maharaja Sakti nepi na waktuna, sirahna ditugel ku pedang Panji Boma dugi ka papisah jeung awakna. Ahengna, awak Maharaja sakti langsung ngaleungit. Sedengkeun sirahna mah ngagoler. Hanjakal mah memangtaratiheula, ningali adina binasa ku polahna sorangan, Panji Boma ngarasa sedih liwat saking. Sirah maharaja Sakti gancang di pulasara di bawa ka Dayeuh Luhur. Sapanjang jalan, getih ngareclakan kana taneuh nu diliwatan. Tempat eta kiwari katelah Taneuh Beureum. Lokasina sisieun walungan Cimuntur nu jadi tapel wates Kacamatan Kawali jeung Kacamatan Jatinagara.

Sedengkeun sirah Maharaja Sakti robih janten Arca atawa disebutna batu Sirah Maharaja Sakti. Nepi ka taun 1980-an, sirah arca ieu masih aya keneh di Karamat Panaekan ngan kabehdieunakeun leungit aya nu maling. Ngeunaan hal eta dijentrekeun ku Muhidin (70 th) kuncen Karamat Panaekan “Malihan mah sanes batu sirah Maharaja Sakti waenu ical teh  nanging sareng, punten- Batu Kokontolan, Batu Lawang gada, Batu Papatih jeung  hiji batu mionir. Ical na teh enjing-enjing tabuh dalapan. Saur nu ningal mah  ditaekeun kana mobil carry bodas.  Kiwari  di karamat teh kantun 3 siki batu mionir sareng 3 gundukan batu.” Kitu oge pedang panjang jeung baju kere Panji Boma leungit sabada diinjeum ku salah saurang warga masyarakat Dayeuhluhur.

Maotna Maharaja Sakti di bewarakaeun ka karajaan Panjalu anu aya di wewengkon Gunung Sawal. Padahal poe isukna ninggang dina wanci hajat pangantenan. Teu kacatur kumaha riweuhna kaayaan harita. Mangkaning ondangan geus nyebar kamana-mana. Kacida wirangna mun nepi ka bolay teh. Antukna Raja Panjalu menta pertanggungjawaban Panji Boma sangkan daek ngaganti Maharaja Sakti jadi panganten. Nya disanggupan ku Panji Boma. Ngan raja Panjalu menta sarat sangkan rombongan Panji Boma ulah telat datang ka Panjalu. Sarat eta oge disanggupan ku Panji Boma malah make jangji sagala anu eusina “ mun kuring telat datang ka Panjalu, kajeun teuing bolay teu jadi kawin”

Kulawarga Karajaan Dayeuh luhur gancang tatahar. Nyiapkeun Bebekelan jeung harta banda seserahan. Hal eta tibalik jeung kaayaan di Karajaan Kawali anu masih keneh kalimpudan kasedih saprak pupusna Maharaja Sakti. Untung we, lantaran kawijaksanaan para sesepuh ti dua karajaan, tragedi nu tumiba ka Maharaja Sakti henteu manjang jadi peperangan. Sabab salian ti masih keneh padudulur, kajadian eta murni insiden nu teu kahaja, jeung sifatna pribadi teu mamawa ngaran karajaan.

Kacaturkrun rombongan geus siap. Harita wanci geus reup-reupan. Nu ngabringkeun teu kaitung lobana. Panghareupna prajurit Karajaan salian saged mawa pakarang jang jaga-jaga di jalan, oge mawa oncor jang nyaangan jalan. Barisan kadua kulawadet karajaan ngaping Panji Boma ditumbu ku barisan nu ngarangkut harta seserahan panganten bareng jeung rahayat rek milu nyakseni. Barisan pamungkas di kawal ku barisan Prajurit karajaan. Abringan teh ngaleut-ngaleut ngabandaleut, ngembat-ngembat nyatang pinang. Peuting baranang ku cahaya oncor, tingkaretipna jiga sisit naga. Kitu mun di wawas mah.

Sanggeus ngaliwatan Winduraja, rombongan mimiti mandeg mayong. Aya kaanehan nu karasa ku nu naranggung barang,  saprak anjog di lelewek urut galungan Panji Boma jeung Maharaja sakti. Barang-barang nu di bawana mingkin karasa beurat. Nepi ka tungtungna rombongan teh eureun da nu maranggul jeung nu naranggung ting jaloprak teu kuat mawa babawaanana. Najan barang sagede peureup oge karasa puluhan kati beuratna.  Sagala cara pikeun ngungkulan masalah eta di kerahkeunkeun, kokolot karajaan hantem mapatkeun jampe panyinglar jurig. Saban nu apal kana jangjawokan teu eleh deet milu tinggerendeng. Tetela kabeh ge teu hasil. Angger teu kaangkat. Kitu deui basa Panji Boma nyoba-nyoba ngangkat barang,baringetrukeun kasaktenna, kalah kah gogobrot kesang, barang-barang teh teu ongget-ongget bangun aya nu maseuk kuat kacida.   Anehna hiji ge diantara rombongan euweuh nu inget kana kajadian galungana Panji Boma jeung Mahara Sakti. Justru lebah dinya teh, tempat ngaleungitna raga Maharaja Sakti. Engkena tempat eta katelahna Selamaya (Sela = ngahalangan, maya=samar).

Lajuning carita. Kusabab muru waktu sangkan ulah kabeurangan, tungtungna harta seserahan teh ditinggalkeun, ku jalan dirungkupan ku taneuh. Bakat ku loba teuing, gundukan taneuh teh jadi mangrupa pasir leutik anu disebut Anjung.  Di tempat eta boga kaahengan nyaeta nepi ka kiwaritaraaya pepelakan atawa tatangkalan nu jadi,  iwal ti jukut. Ti baheula nepi ka ayeuna angger kitu. Panji Boma neundeun batu badag sabage tanda yen didinya aya harta pendeman manehna.  Ngan hanjakal lalampahan teh kaburu kapegat ku sarangenge  padahal karaton Panjalu jauh keneh. Antukna Panji Boma teu nuluykeun maksudna, ngan angger ari nepungan Raja Panjalu mah dipentingkeun pikeun sasadu. Ku Panji Boma di dongengkeun ngeunaan halangan harungan nu karandapan ku rombonganana.

Raja Panjalu nu weruh disemuna dijelaskeun yen nu nyababkeun    barang-barang jadi beurat teu bisa diangkat teh lantaran, kahalangan ku raga gaib Maharaja sakti nu teu rido Anjungsari rerendengan jeung Panji Boma. Sabab sabenerna Anjungsari teh samemehna  geus bobogohan jeung Maharaja Sakti ti jaman keur di Pajajaran keneh ngan hubunganana rerencepan.  Jadi teu aneh mun Anjungsari ngungsina ka wewengkon Panjalu, henteu milu jeung rombongan sejen nu ngungsi ka Pulasari Pandeglang. Tangtu tujuanana pikeun ngadeukeutan Maharaja Sakti anu dibenum jadi raja wilayah  Kawali.

Panji Boma teu apaleun kana love story na Maharaja Sakti, da mun apal mah moal maksakeun bogoh komo deui milu saembara mah. Sedengkeun pikeun Maharaja Sakti ayana saembara eta jadi jalan pikeun ngaresmikeun hubunganana, sabab harita Anjugsari keur kakandungan. Naha atuh henteu kawin ti baheula ? samemeh kajadian panji Boma tepung jeung Anjungsari,  jigana aya hiji rahasia anu nyimbutan Anjungsari basa nganjrek di Pajajaran nu nyababkeun hubunganana jeung Maharaja Sakti teu wani terang-terangan alias backstreet. Mungkin wae Anjungsari teh geus dijodokeun kanu sejen, atawa Anjungsari teh salah sahiji selir pangawasa Pajajaran harita.

Sakadar keur ngabanding-banding, aya katerangan meunang nyutat tina buku Sejarah Jawa Barat kenging  Drs. Yoseph Iskandar nyaeta dina mangsa Pajajaran Sirna Ing Bumi. Didinya dijelaskeun sabada Sang ratu Dewata pupus teras digentos ku putrana anu jenenganana Ratu Sakti dina taun 1551 M. Ratu Sakti nyaeta raja Pajajaran nu kaopat nu boga sifat kejem jeung telenges. Kalakuanana sakadaek sakahayang teu malire kana etika nagara. Rahayat nu teu dosa rea nu dipaehanbaridirampas harta bandana kalayan euweuh kaera. Ka kolot teu teu babakti, ka pandeta teu ngahormat. Ratu Sakti oge kungsi ngarebut “rara hulanjar” atawa mojang nu geus tunangan. Puncak ka teu etisanana nyaeta basa anjeuna ngawin indung terena nu geus jadi rangda.

Tah kusabab kalakuanana goreng kabina-bina antukna Ratu Sakti diturunkeun tahtana taun  1551 M. Ngan ti saprak turun tahta teu kacaturkeun lalampahan Ratu Sakti teh.Nahamanehna dipiceun ?  dipaehan ? atawa ngan ukur diturunkeun  pangkatna. Misalna jadi penguasa wilayah satingkat adipati ? taya nu nyaho. Ngan mun di jiga-jiga mah boa-boa Ratu Sakti teh Maharaja Sakti tea. Sedengkeun Anjungsari leuwih merenah disaruakeun jeung rara hulanjar tea. Meureun eta ge. Sabab tokoh-tokoh eta hirup dina dua alam. Lalakon Ratu Sakti hirup dina alam sajarah nu geus kasusud, sedengkeun Maharaja Sakti, Panji Boma jeung Anjungsari hirup na alam legenda anu can nepi disebut sajarah.

Balik deui kana lalakon Panji Boma. Sabada rengse nguping katerangan ti Raja Panjalu,  Panji Boma mulang deui ka Dayeuhluhur. Ngan tisaprak harita Panji Boma ngecagkeun  kalungguhanana salaku raja. Anjeuna ngisat diri, ngalalana pikeun ngasah jiwa jeung ragana sangkan leuwih asak. Panji Boma di kurebkeun di Dayeuhluhur nu aya di Jawa Tengah. Sabenerna lalakon Panji Boma aya buku babadna. Ngan hanjakal buku eta leungit taun 1980-an. “ Panjang sareng rame. Tilu dinten nembe tamat, harita abdi oge nuju budak keneh.” Cek Muhidin nu kungsi ngadangukeun eusi carita Babad Panji Boma  ti Mahmudin bapana. Hanjakal lalakon Panji Boma ti Muhidin teu lengkep sakumaha eusi bukuna. Muhidin semet nyaritakeun gurat badagna wungkulbari sapotong-sapotong.

Sedengkeun sumber sejenna aya dina carita Galur Panjalu, eta ge ngan saukur pancakaki dina silsilah Arya Sacanata. Disebutkeun yen Arya Sacanata teh putra  Dipati Natabaya anu nikah jeung Apun Emas. Ari Apun Emas teh nyaeta putra Maharaja Kawali jeung Anjungsari. Najan kateranganana ngan sakotret tapi geus mere gambaran  tina perkara raketna hubungan antara Maharaja Sakti jeung Apun Anjung. Sabab dina buku babad Panjalu teu kacaturkeun tokoh nu ngarana Panji Boma. Ti generasi Apun Emas nu dipigarwa ku Dipati Natabaya nepi ka turunan-turunanana ngabogaan silsilah jeung riwayat anu jelas sabab rata-rata nyepeng kalungguhan jadi bupati atawa pangagung penting di kabupaten-kabupeten nu sumebar sa tatar sunda.

Karaton nu Can Rengse

Di sabudeureun Batu Susun kurang leuwih aya opat karamat anu lokasina teu pati pajauh. Nyaeta Karamat Buyut Landung Sataun, Karamat Buyut Gangsa, Karamat Astana Ageung, jeung Karamat Pasarean. Diantara opat karamat eta nu dianggap boga pangaruh keur warga Cikupa nyaeta Karamat Astana Ageung. Tokoh Buyut Landung Sataun jeung Buyut Gangsa Margadipa mangrupakeun Tokoh ulama Islam nu gede jasana dina nyebarkeun Agama Islam di wewengkon Sikahurip, Cigintung jeung Cikupa. Sedengkeun Karamat Pasarean nyaeta sumber cai nu dipercaya ku sawareh warga ngandung kakuatan magis. Cek beja mah didinya teh sayangna oray sabab loba liang cai di sabudeureunana. Caina di kamalirkeun pikeun nyaian pasawahan jeung dipake kabutuhan sapopoe ku masyarakat.

Riwayat Karamat Astana Ageung mah masih keneh napel na ingetan kuncenna nyaeta Abah Sopandi (80 th). Anjeuna geus 18 tahun ngarawat Astana Ageung. “ Karamat Astana Ageung mangrupa komplek pamakaman kuno to abad 14. jumlah makamna aya kana 12 tetengger. Tokoh nu boga peran utama ayana dina jero wangunan anu katelahna Eyang Mandala Pandita Sakti jeung Putri Geulis Sapoe. Duaanana asalna ti Pajajaran masih keneh rerehai Prabu Siliwangi. Waktos sumping ka Cikupa diiring-iring ku 40 ponggawa. Sedengkeun Putri Geulis Sapoe di aping ku 2 emban anu jenenganana Nawangwulan sareng Nawangsari. Sumpingna ka daerah dieu teh ngungsi margi harita Cirebon nuju ngagempur Pajajaran.”  Cek Abah Sopandi. Malahan mah Abah Sopandi oge nyebutkeun ngaran raja anu ngawasa Karajaan Panjalu nyaeta Prabu Cakradewa anu puseur pamarentahanana aya di wewengkon Gunung Sawal.

Jigana ngaran Eyang Mandala Pandita Sakti jeung Putri Geulis Sapoe teh lain ngaran sabenerna, saukur gelaran atawa lalandian wungkul. Eyang Mandala Pandita sakti nepi ka danget ieu can kakoreh saha-sahana. Ngan ari Putri Geulis Sapoe mah bisa di jentrekeun ku katerangan ti salah saurang kokolot di lembur Cigintung (samemeh Cikupa). Cenah mah Putri Geulis Sapoe teh nyaeta calon panganten istri anu teu janten nikah. “ Disebut geulis sapoe teh pedah anjeuna dina poe eta didangdanan sageulis-geulisna pikeun ditikahkeun. Ngan hanjakal panganten pamegetna teu sumping alatan kamusibahan.” Cek eta kolot nu ngarana embung ditulis.

Nilik tina katerangan eta jigana Putri Geulis Sapoe teh taya lian ti Anjungsari nu gagal diistrenan alatan Maharaja Sakti kaburu tiwas ku Panji Boma. Sedengkeun batu-batu anu geus mangrupa kontruksi wangunan, atawa Batu Susun tea, bisa jadi eta teh tempat atawa kaputren anu geus disiapkeun ku Maharaja Kawali keur Apun Anjung. Ngan hanca gawena teu dituluykeun da kapegat manten ku ayana musibah. Kitu deui ngeunaan ngaran Walungan Rompe. Nepi ka ayeuna walungan etataradisebut Cirompe sakumaha ilaharna ngaran walungan sejenna (Cimuntur, Citanduy, Cisadane, Ciliwung jrrd), keukeuh  urang Cikupa mah nyebutna Walungan Rompe. Tah, cek kokolot diluhur dijentrekeun ngaran walungan eta dicokot tina kajadian basa Putri Geulis Sapoe malidkeun rampe kembang pangantena awahing ku sedih jeung kuciwa liwat saking. Nya ti harita walungan teh disebut Rompe.

Ti saprak Anjungsari ngalahirkeun Apun Emas, ceunah mah Anjungsari teh pindah ka Selamaya ka lebah wewengkon tempat nguburkeun harta banda Panji Boma nalika rek seserahan tea. Nya maksud na mah meureun rek ngadeukeutan raga gaib kakasihna nyaeta Maharaja Sakti.  Matak ngaran pasir leutik eta disebut Anjung sawatara taun katukang loba masyarakat nu kawenehan ningali putri geulis ngurilingan Pasir Anjung. Nepi ka tungtung taun 1980 mah aya keneh nu sok kawenehan. Ngan saprak tangkal Caringin jeung batu badagna ditugar jang nyieun jalan, geustaraaya nu kawenehan deui.

Cek nu ngawarung peuntaseun Pasir Anjung mah Nyi Putri teh ngalih ka beh wetan. “ Aya kajantenan aheng saprak batu sareng tangkal caringin di tugar, harita taun 80-an, nuju haneut moyan ngadadak aya angin ageung kacida anu asalna ti Anjung maju ka kalerkeun, malihan bumi anu kalangkunganana rata-rata rareksak, tiharita Apunianjung tara aya nu kawenehan ningal, rupina ngalih panginten jalaran batu sareng caringinna di tugar.”

Aya sababaraha mitos jeung kajadian nu raket hubunganana jeung Legenda Panji Boma. Diantarana,  nepi ka taun 80 an, ka Pasir Anjung jeung Batu Susun sok aya nu jaroh nyiar harta kakayaan. Dina mangsa eta keneh, hubungan masyarakat Winduraja Kawali jeung Dayeuhluhur Jatinagara kurang harmonis alatan kajadian gelutna Panji Boma jeung Maharaja Sakti, kaasup mitos nu nyebutkeun yen urang Dayeuh Luhur jeung urang Kawali teu meunang ngajodo kawin, samemeh rawayan awi atawa sasak gantung Cimuntur nu nepungkeun dua daerah eta can jadi sasak tina beton.

Kabehdieunakeun hubungan warga di dua daerah eta raket deui. Jigana, legenda Panji Boma geus meh kapopohokeun utamana ku generasi kiwari, katurug-turug sasak beton geus diwangun kalayan tohaga. Warga Dayeuhluhur (sakumaha dijelaskeun ku Kuncen Muhidin) rata-rata kahirupanana basajan, jarang aya nu nanjung dina masalah kakayaan. Mitos ieu disababkeun harta banda Karajaan Dayeuhluhur geus pindah bageanana ka wewengkon Winduraja nalika  Panji Boma rek  seserahan tea. Wallahu Alam.

Ku PANDU RADEA

[alert style=”white”]referensi: galuh-purba.com[/alert]

Museum Galuh Imbanagara, Ciamis

Museum Galuh Imbanagara, Ciamis

Museum Galuh Imbanagara terletak di Jln Mayor Ali Basyah No.311 Imbanagara Raya Ciamis.

Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan kabupaten Ciamis tak lepas dari sejarah Galuh Imbanagara yang menjadi menjadi pusat pemerintahan selama kurang lebih 2 abad.

Museum ini didirikan untuk mengamankan benda-benda pusaka dan dokumen sejarah Galuh Imbanagara Ciamis, Museum ini telah diresmikan oleh Bupati Ciamis pada tanggal 12 Mei 2004.

Benda-benda yang terdapat didalam museum ini antara lain :

  • Keris-keris peninggal Galuh Imbanagara
  • Dokumen-dokumen penting milik Galuh Imbanagara
  • Foto-foto tentang sejarah Galuh Imbanagara
  • dan benda-benda pusaka peninggalan Galuh Imbanagara lainnya

Dengan adanya museum ini, ketua yayasan Galuh Imbanagara yaitu bapak R. Enggun S Rachmat berharap warga masyarakat Tatar Galuh Kabupaten Ciamis dapat melihat langsung serta mengetahui tentang keberadaan sejarah kabupaten Galuh di masa lalu.

Namun, sayangnya letak Museum Galuh Imbanagara ini kurang strategis, kita harus memasuki sebuah gang untuk mencapainya. Museum ini juga relatif sepi dan kecil dibandingkan dengan museum-museum lain yang ada di Indonesia.

[alert style=”white”]referensi: sophiechan-sophie-chan.blogspot.com [/alert]

Kisah Asal Muasal Curug Tujuh Cibolang Ciamis

Kisah Asal Muasal Curug Tujuh Cibolang Ciamis

Kecintaan seorang pemimpin pada rakyatnya, dan kesedihan yang timbul melihat penderitaan mereka, dapat membawa jawaban dan kebahagiaan pada akhirnya. Itulah mungkin pesan moral dari kisah sasakala Curug Tujuh Cibolang Ciamis. Konon terbentuknya curug tujuh menurut keterangan berasal dari kisah jaman dahulu kala, manakala terdapat seorang penguasa atau raja di wilayah tersebut, yang pada suatu waktu merasa sangat prihatin melihat keadaan di wilayahnya yang sangat menderita akibat kemarau panjang. Air tidak ada dan tanah kering kerontang sehingga rakyatnya dirundung malang berkepanjangan.

Sang raja kemudian bertapa untuk memohon supaya diturunkan hujan agar keadaan negerinya pulih seperti sediakala. Namun usahanya itu tidak mendapatkan jawaban dari penguasa alam. Hal tersebut menyebabkan hatinya sangat sedih dan kesedihannya itu membuatnya menangis. Saat itu keajaiban terjadi, air mata raja perlahan berubah menjadi genangan air jernih dan semakin membesar sehingga membentuk aliran air yang akhirnya terpecah dan jatuh di tujuh buah tebing.

Panorama alam yang indah dan suasana hutan alam menjadi daya tarik wana wisata Curug Tujuh, dimana objek wisata ini berada di kiri kanan bukit gunung Ciparang dan Cibolang yang merupakan bagian dari Gunung Sawal.

Luas Wana Wisata Curug Tujuh 20 Ha terletak di kawasan hutan RPH Panjalu BKPH Ciamis KPH Ciamis yang menurut administrasi pemerintah termasuk Desa Sanding Taman Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis.

Objek wisata ini terletak pada ketinggian sekitar 800-900 di atas permukaan laut dengan konfigurasi lapangan bergunung, suhu udara secara umum sekitar 17-18 derajat Celcius.

Sesuai namanya Curug Tujuh terdiri dari tujuh buah air terjun yang lokasinya berjejer dengan Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Cibolang, Curug Simantaja, Curug Cileutik, dan Curug Cibuluh. Konon diantara curug tersebut mengalirkan air yang berkhasiat menyembuhkan penyakit seperti penyakit kulit, encok, rematik dan pegal linu. Dan airnya tidak pernah surut sekalipun musim kemarau, dimana air yang mengalir berasal dari gunung Sawal.

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]

Sasakala Curug Panganten Cisaga

Sasakala Curug Panganten Cisaga

Perjalanan melongok salah satu asset wisata alam di wilayah Kabupaten Ciamis yang terletak di Kecamatan Cisaga, yaitu Curug Panganten nyaris tak menemui hambatan. Disamping kondisi jalan yang lumayan baik juga dilengkapi dengan beberapa papan penunjuk arah dibeberapa persimpangan jalan. Jikapun hal itu masih dianggap membingungkan, maka masyarakat setempat, terutama tukang ojeg yang biasa mangkal di persimpangan jalan Raya Banjar-Ciamis akan dengan sukarela menunjukannya bahkan mengantarkannya.  Diperkirakan jarak Curug Panganten  dari jalan raya sekitar 400 m, jalan masuknya tepat berada di sisi Jembatan Sungai Citanduy yang terletak di kawasan Wisata Sejarah Karangkamulyan.

Namun akses jalan kendaraan menuju Curug Panganten harus terhenti pada jarak 50 meter. Selanjutnya, disambung dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Saat Priangan menyambangi tempat ini, keadaan debit airnya tengah turun. Namun walau musim kemarau entak-entakan, ternyata limpahan airnya masih cukup banyak, sehingga tidak mengurangi keindahan alam yang melingkupinya. Suara gemuruhnya masih keras terdengar berpadu dengan jatuhan air yang berederai dari tebing setinggi 50 meter.  bahkan akibat musim kemarau ini, kondisi airnya menjadi jernih serta memantulkan warna hijau kebiru-biruan, berbalik saat musim penghujan, airnya menjadi keruh kecoklat-coklatan. Disamping itu akibat surutnya air mengakibatkan beberapa tempat yang biasanya tergenangi berubah menjadi daratan yang dapat dijelajahi.

Sungguh luar biasa panorama alam perawan yang terpampang di depan mata. Kendati tempat ini kerap dikunjungi para pelancong, ternyata belum tersentuh pembangunan  sebagaimana layaknya sebuah tempat wisata. Mungkin kondisinya yang masih asli ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang berkunjung.

Curug Panganten dapat dikatakan merupakan sambungan dari dua sungai yang mengalirinya. Di bagian atasnya adalah batas akhir sungai Cirende dan bagian bawahnya adalah hulu dari sungai Ciliung.  Bahkan batang akhir sungai Cirende sendiri ternyata tersusun dari tiga tangga curug, yaitu Curug Cirende, Curug Sewu dan terakhir Curug Panganten. Curug Cirende dan Curug Sewu tidak dapat dilihat langsung dari bawah, karena disamping ketinggiannya rendah, juga terhalang oleh tebing tinggi yang menjadi limpahan air terjun Curug Panganten.

Menurut Ujang Solikhin, salah seorang warga setempat curug tersebut dulunya disebut Curug Sewu. Namun setelah terjadi peristiwa mengenaskan yang menimpa sepasang pengantin, air terjun tersebut lebih dikenal dengan nama Curug Panganten. “ Sasakala ceuk kolot mah kieu, , ceunah baheula aya sapasang panganten nuju pelesir paparahuan dina lengkob cucurugan cai, ari si Panganten lalaki ngadon ngaheureuyan pamajiikanana ku hileud. Bakat ku sieun jeung reuwas antukna tigejebur,  lantaran harita keur badag cai, panganten awewe teh kasedot puseran cai. Ningali kitu salakina langsung ngunclungkeun maneh rek nulungan tiditu n amah. Ngan orokaya manehna kalah milu kasedot, tiwas sapasang panganten teh, malah layonna oge teu kapendak. Tah tidinya curug Sewu teh katelahna we ngaranna jadi Curug Panganten” Kata Ujang sambil menerawang.

Keberadaan Curug Panganten memang tidak lepas dari cerita legenda yang masih dipegang oleh sebagian masyarakat disekitaranya. Pun demikian dengan kewingitannya. Soal kaahengan Curug Panganten, dialami sendiri oleh Ujang Solikhin. Dua peristiwa gaib yang pernah dirasakaanya cukup membuatnya percaya bahwa Curug Panganten memiliki aura mistis yang cukup besar. Bahkan peristiwa terakhir, tidak saja menjadi pembuktian bagi dirinya sendiri, namun juga bagi masyarakat dikampungnya.  Saat itu Ujang Solikhin pernah hilang tanpa jejak selama 8 jam di Curug Panganten. Sampai-sampai masyarakat yang mencarinya hampir putus asa.

“ Jaman teu acan lebet PLN, abdi ngamangfaatkeun Curug Panganten teh janten PLTA Cirende taun 1987,  listrikna kangge masok kaperyogian masyarakat lembur. Harita teh ba’da Isya, ngadadak listrik pareum. Nya ku abdi dipilari ka Curug Panganten. Pas marios lebah kincirna, kadangu aya nu naros. Tisaprak diwaler, anjeuna langsung we ngajak pelesir. Raraosasan mah abdi di candak kaMalaysia. Dumeh sateuacanna abdi memang gaduh cita-cita hoyong ka luar negeri.  Di Malaysia teh kitu we kukurilingan. Dugi ka anjeuna ngandeg sangkan abdi ulah mulang deui. Ngan abdi keukeuh maksa hoyong mulang kalembur. Tungtungna abdi dibelewerkeun, ari emut-emut tos aya di buruan bumi Pa Jatma, kalayan lilir bada subuh, parantos diriung ku masyarakat.” Paparnya menceritakan pengalamannya.

Pengalaman Ujang tersebut dibenarkan oleh beberapa penduduk setempat diantaranya, Mang Otoy dan Ki Amar. Menurut keduanya, saat itu masyarakat menjadi gempar karena Ujang tidak ditemukan di Curug Panganten. Bahkan timbul dugaan bahwa Ujang telah meninggal akibat tercebur dan terseret arus Curug Panganten. Akhirnya malam itu juga pengajian diselenggarakan di rumah Ujang. Masyarakat berharap mayat Ujang segera ditemukan. Namun menjelang subuh terdengar suara berdebam di halaman Rumah Pa Jatma, setelah di periksa ternyata berasal dari tubuh Ujang Solkihin yang terlempar dalam keadaan tidak sadar. Sampai kini peristiwa gaib itu akhirnya menjadi kenangan tersendiri bagi Ujang Solikhin dan masyarakat yang mengetahui peristiwa itu.

Kewingitan lainnya adalah misteri suara gamelan. Hal ini pun diakui oleh masyarakat setempat. Konon, di salah satu batu besar yang ada di Curug Panganten selalu terdengar nyaring suara gamelan setiap malam jumat kliwon. Bahkan anehnya lagi, bukan suaranya saja yang terdengar tapi gamelannyapun dapat dilihat. Hal ini dikisahkan oleh Ki Amar yang dipercaya sebagai kuncen Curug Panganten.

“ Kapungkur, jalmi nu peryogi gamelan kangge manggung tiasa nambut ti karuhun Curug Panganten. Buktos eta mah, ngajenggelek barangna, kantun nyandak. Ngan kedah diuihkeun deui. Hanjakal, pernah aya nu nambut, deleka teu diuihkeun deui. Antukna sora gamelan teh sababaraha puluh taun mah teu kakuping deui. Tah, basa malam jumaah kaliwon sasih mulud taun ayeuna, nembe tiasa kakuping deui. Sorana kadangu kamana-mana, utamina masyarakat nu bumina sabudeureun Curug Panganten. Mangga we teu percanten mah taroskeun kanu sanes” Ujar Ki Amar menjelaskan tentang gamelan gaib Curug Panganten.

Betul tidaknya kisah-kisah tersebut diatas, pada dasarnya menjadi salah satu daya tarik Curug Panganten. Namun sayangnya, perhatian sebagian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Curug Panganten masih kurang. Saat Priangan berkunjung, ternyata banyak bangkai ikan yang  mengambang dalam berbagai ukuran dan jenis. Tatkala ditanyakan, ternyata masih ada kebiasaan masyarakat yang menangkap ikan dengan cara di portas. Sayang sekali.***

Dimuat di koran Priangan

[alert style=”white”]referensi: galuh-purba.com, foto: myopera.com[/alert]

Gua Lanang Di Pananjung

Gua Lanang Di Pananjung

Gua Lanang terletak  didalam kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,442’S 108°39,508’E, dimana menurut legenda dulunya Gua Lanang merupakan keraton Kerajaan Pananjung dengan Rajanya bernama Prabu Anggalarang dan Permaesurinya Dewi Siti Samboja yang dikenal dengan nama Dewi Rengganis dengan dibantu oleh Patih Aria KIdang Pananjung.

Raden Anggalarang adalah putra Prabu Haur Kuning seorang raja kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggang kemudian mendirikan kerajaan Pananjung atas kemauannya sendiri, walaupun ayahnya telah memperingatkan dengan alasan tidak akan berjaya karena rawan gangguan dari para Bajo ( bajak laut ), Raden Anggalarang tetap pada pendiriannya karena daerah Pananjung merupakan tempat yang cocok bagi dirinya untuk mendirikan pusat pemerintahan.

Prabu Anggalarang adalah seorang laki – laki yang gagah dan sakti sehingga dijuluki ” Sang Lanang ” dan gua ini merupakan tempat tinggalnya maka disebut ” Gua Lanang “.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]