Gua Jepang Di Pananjung

Gua Jepang Di Pananjung

Gua Jepang terletak di kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,336’S 108°39,379’E, Perang Pasifik atau Perang Asia Timur raya terjadi pada tanggal 8 Desember 1941, diawali serangan mendadak Angkatan Udara Dai Nippon ( Jepang ) ke pelabuhan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour ( Hawai ).

Pada tanggal 18 Maret 1941 balatentara Dai Nippon menduduki seluruh pulau Jawa dan Madura dan pemerintah Hindia Belanda ( sekutu ) menyerah tanpa syarat kepada balatentara Dai Nippon.

Penyerahan daerah jajahan dilakukan di kalijati – Subang oleh Letnan Jenderal H. Ter poorten atas nama seluruh angkatan perang sekutu di Indonesia kepada Letnan Jenderal Imamora Hitoshi atas nama Kemaharajaan Jepang.

Gua Jepang di kawasan ini dibuat selama periode perang Dunia Kedua ( 1941 – 1945 ) dengan menggunakan kerja paksa selama kurang lebih 1 tahun.

Gua Jepang ini terbuat dari tembok beton yang tertimbun tanah sebagai benteng pertahanan dengan lubang – lubang pengintai ke arah laut untuk mengawasi pendaratan oleh pihak sekutu.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

Kerajaan Galuh

Kerajaan Galuh

Kerajaan Galuh adalah suatu kerajaan Sunda di pulau Jawa, yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cipamali di sebelah timur. Kerajaan ini adalah penerus dari kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara.

Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ada pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada awal abad ke-16. Dalam naskah tersebut, ceritera mengenai Kerajaan Galuh dimulai waktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi raja resi selama lima belas tahun. Selanjutnya, kekuasaan ini diwariskan kepada putranya di Galuh yaitu Sang Wretikandayun.

Saat Linggawarman, raja Tarumanagara yang berkuasa dari tahun 666 meninggal dunia pada tahun 669, kekuasaan Tarumanagara jatuh ke Tarusbawa, menantunya dari Sundapura, salah satu wilayah di bawah Tarumanagara. Karena Tarubawa memindahkan kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura, pihak Galuh, dipimpin oleh Wretikandayun (berkuasa dari tahun 612), memilih untuk berdiri sebagai kerajaan mandiri. Adapun untuk berbagi wilayah, Galuh dan Sunda sepakat menjadikan Sungai Citarum sebagai batasnya.

[alert style=”white”]http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh[/alert]

Museum Tambaksari Ciamis

Museum Tambaksari Ciamis

Selintas Museum

Pendirian Site Museum Tambaksari berawal dari sejumlah temuan fosil yang berasal dari wilayah ini. Tambaksari adalah desa kecil di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kisah temuan fosil-fosil yang tak terhitung jumlahnya di daerah itu sebelumnya adalah secara kebetulan. Bukan oleh arkeolog atau peneliti lainnya, melainkan ditemukan oleh sekelompok murid Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tambaksari yang dipimpin Darwa Hardiya Ruhyana, seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Fosil pertama ditemukan oleh siswa bernama Yayat Suryati, berupa potongan gigi besar binatang purba yang diperkirakan hidup antara satu-dua juta tahun lalu.  Sekolah tersebut menyimpan ratusan atau mungkin ribuan fosil vertebrata, mamalia, dan moluska. Ada fosil Proximal tibia (pangkal tulang kering gajah purba), Astragalus (tulang tumir I), Molat (M) atau geraham, Distal humerus (ujung tulang lengan), Stegodon Sp (gajah purba), dan banyak lagi. Bahkan karena begitu banyaknya, fosil-fosil tersebut pernah berserakan di lantai, meja laboratorium, dan sebagian lagi disimpan dalam karung.

Untuk penyelamatan  fosil tersebut, berbagai fihak berusaha membantu menyediakan tempat penyimpanan koleksi , diantaranya pihak Museum Geologi pada tahun 1996, menyusul Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTN) Yogyakarta, Balai Arkeologi Bandung, Pusat Pengembangan Geologi, yang saat itu bekerja sama dengan Universitas Tennessee dan Universitas Alabama, Amerika Serikat.

Situs Tambaksari dianggap sangat potensial, sebagai tempat temuan  fosil-fosil binatang purba, terutama di daerah yang terletak di Urug Kasang. Untuk upaya penyelamatan dan penyimpanan temuan fosil-fosil tersebut, maka Pemerintah Kabupaten Ciamis pada awal tahun 2001 berinisiatif membangun site museum yang dinamakan Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Tambaksari. Untuk pentaan koleksinya,  dibantu oleh Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Koleksi Museum

Koleksi yang tersimpan di Site Museum Tambaksari  terdiri atas (1) Fosil Hewan Kuda Nil (fosil rusuk, fosil sendi, fosil rahang, fosil gigi, fosil taring), (2) Fosil Hewan Gajag Purba (fosil tulang belakang, fosil tengkorak belakang, fosil kaki belakang, fosil rahang belakang, fosil gigi belakang, dan fosil engsel belakang), (3) Fosil Hewan Rusa Purba (fosil sendi, fosil kaki, fosil tulang belakang, fosil rusuk, fosil rahang, fosil tanduk, fosil gigi), (4) Fosil Hewan Sapi (fosil rahang bawah kiri, fosil rahang bawah kanan), (5)  Fosil Tanah (fosil abu kehitaman, abu kecoklatan, dan hitam), (6) Fosil Kayu , (7) Fosil Daun, (8) Fosil Gigi Ikan, (9) Fosil Sisik Ikan, (10) Deposit Kerang, (11) Kerang, (12) Fosil Kura-kura Purba.

Alamat

Ds. Tambaksari, Kec. Tambaksari Kab. Ciamis

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]
Makanan Khas Panjalu

Makanan Khas Panjalu

Menjelang lebaran dan menjelang hari-hari raya lainnya adalah saatnya makanan khas diproduksi secara besar-besaran karena tingginya permintaan pasar. Bagi mereka yang bekerja di kota, ajang mudik ke kampung halaman merupakan saat yang tepat untuk membawa dan memperkenalkan makanan khas daerah masing-masing untuk di bawa kembali ke kota. Barter makanan dan saling mencicipi oleh-oleh khas daerah atau makanan yang dianggap unik pun terjadi. Hal ini secara tidak langsung akan saling memperkenalkan makanan khas dari daerah lain. Begitu juga di daerah Panjalu atau sekitar Kecamatan Panjalu, dari tempat inilah makanan khas diproduksi oleh masyarakat setempat. Alhasil, Panjalu tidak hanya terkenal dengan sejarah atau wisata ziarahnya saja, namun menawarkan ragam makanan khas yang tidak kalah menarik dengan daerah lain.

Panjalu dalam Konteks Sejarah
Secara terminologi, Panjalu berasal dari kata jalu (Bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata Panjalu berkonotasi dengan kata-kata: jagoan, jawara, pendekar, warrior (Bhs. Inggris: pejuang, ahli olah perang), dan knight (Bhs. Inggris: ksatria, perwira).

Ada pula orang Panjalu yang mengatakan bahwa kata Panjalu berarti “perempuan” karena berasal dari kata pan+jalu atau jalu yang diberi awalan pan artinya menjadi bukan laki-laki yaitu perempuan sama seperti kata male (Bhs. Inggris : laki-laki) yang apabila diberi prefiks fe + male menjadi female (Bhs.Inggris : perempuan). Konon nama ini disandang karena Panjalu pernah diperintah oleh seorang Ratu bernama Ratu Permanadewi.

Panjalu sebagai Desa Wisata
Pada tanggal 7 Maret 2004, Gubernur Jawa Barat meresmikan kawasan Panjalu sebagai tujuan wisata ziarah tingkat nasional. Tentunya, dengan adanya deklarasi ini telah memberikan keuntungan tersendiri untuk perkembangan pariwisata setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Memet Hamdan, mengakui sejarah mengenai Panjalu sangat menarik sehingga minat wisatawan untuk melakukan wisata ziarah ke daerah tersebut sangat tinggi.

Panjalu memang memiliki daya tarik tersendiri, bukan hanya sebagai kampung adat yang memiliki potensi wisata alam, wisata ziarah, dan wisata budaya (upacara Adat Nyangku) tetapi juga memiliki wisata kuliner yang sangat mendukung. Panjalu banyak memiliki makanan khas yang unik, menarik dan enak rasanya.

Berikut ini beberapa makanan khas Panjalu yang sudah terkenal ke beberapa daerah:

Makanan Khas Panjalu

Makanan khas Panjalu tersebar di beberapa daerah, seperti Kalua Jeruk pusatnya di Desa Kertamandala dan Mandalare, Jawadah Takir (sejenis Wajit) di Garahang, Goreng Mujaer dan Udang di Cimendong, Opak, Kolontong, Saroja dan Raginang di Desa Maparah, Mie Golosor di Desa Sandingtaman dan lain-lain. Makanan khas Panjalu ini memiliki rasa yang gurih, unik dan tahan lama. Berikut ini sekilas tentang makanan khas dari daerah Panjalu.

Kalua Jeruk
Yang paling unik dari makanan khas Panjalu adalah Kalua Jeruk dan Jawadah Takir. Pusat pembuatan Kalua Jeruk ada di daerah Kertamandala dan Mandalare. Menurut pengrajin Kalua, proses produksi sudah berlangsung cukup lama yaitu sekitar 40 tahunan. Kalua yang terkenal dari daerah ini pada awalnya diproduksi oleh keluarga Bu Ecin disusul oleh keluarga Bu Lilis.

Kalua Jeruk terbuat dari kulit Jeruk Bali setengah matang yang diberi gula aren (gula merah) yang diolah dengan beberapa tahapan. Dipilihnya kulit Jeruk Bali setengah matang karena memiliki kulit yang tebal dan Kalua yang dihasilkan akan enak rasanya.

Berikut ini tahapan dari pembuatan Kalua Jeruk. Pertama, Jeruk Bali setengah matang dikupas, diambil kulitnya saja yang berwarna putih. Lapisan terluar yang berwarna hijau dibuang untuk meghindari rasa pahit. Setelah itu diiris berbentuk kotak atau jajarangenjang ataupun bentuk sembarang seukuran kurang lebih 3 x 4 cm dengan tebal 1-2 cm. Kedua, kulit jeruk yang sudah dipotong direndam dengan air apu selama 2 jam, lalu diangkat didiamkan beberapa menit, lalu direbus setengah matang supaya kulit jeruknya tidak pecah-pecah, lalu dicuci dengan air dingin yang mengalir sampai bersih kemudian diperas-peras sampai agak kering. Tahapan terakhir tinggal memasukkan potongan kulit jeruk ke larutan gula aren yang mendidih. Setelah kering angkat dan siap dihidangkan. Emm… harum, enak dan gurih.

Kalua ini aman dikonsumsi karena diproses secara alami melalui tahapan yang panjang dalam mengolahnya. Pemanis yang digunakan merupakan pemanis alami dari nira aren, diproduksi tanpa memakai zat kimia. Gula aren memiliki Index Glycemic (IG) yang rendah. Rendahnya IG ini bermanfaat bagi pengidap diabetes, atau yang ingin menurukan berat badan. Bahkan gula are memiliki IG lebih rendah dari pada gula putih dan madu sehingga tidak menyebabkan kegemukan. Kalua Jeruk dari Kertamandala dan Mandalare Kecamatan Panjalu ini memiliki rasa yang unik, tidak terlalu manis, kenyal, dan empuk ketika dikunyah. Kalua ini diproses secara apik, manis gula arennya meresap ke seluruh kulit jeruk sehingga rasanya enak dan tidak ada lagi bau kulit jeruknya.

Bagi para pecinta kuliner, khususnya makanan khas, hati-hati ketika membeli kalua jeruk karena ada juga kalua jeruk yang rasanya kurang enak dan warnanya juga kurang cerah. Para penikmat kalua biasanya memesan kalua Panjalu yang berasal dari daerah Kertamadala dan Mandalare karena rasanya lebih enak dan gurih.

Jawadah Takir
Jawadah Takir adalah sejenis wajit namun pembungkusnya terbuat dari daun pisang yang kering (kararas dalam Bhs.Sunda). Yang unik dari Jawadah Takir ini adalah tidak dibungkus secara utuh, hanya ditempel diatas daun pisang kering kecil. Dalam kondisi apapun Jawadah Takir tetap kering sehingga rasanya tetap enak. Makanan ini tahan lama dan aman kerena tanpa bahan pengawet.

Goreng Udang dan Goreng Mujaer

Udang dan Mujaer ini berasal dari daerah Cimendong. Udang yang dipilih adalah udang yang yang berukuran sedang. Udang yang berasal dari Situ Lengkong Panjalu ini gurih rasanya, karena hidup bebas tanpa makanan yang dibuat oleh pabrik.

Goreng Mujaer pun enak dan renyah, karena ikan mujaer yang dipilih adalah ukuran sedang atau masih remaja. Goreng Mujaer dan Goreng Udang dikemas tanpa bahan pengawet sehingga aman untuk dikonsumsi oleh siapapun.

Opak
Opak yang terkenal adalah opak dari Desa Maparah. Opak ini rasanya renyah dan wangi. Opak terbuat dari beras ketan putih yang dihaluskan secara tradisional yaitu dengan perangkat halu dan jubleg. Kemudian dibentuk bulat tipis-tipis lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah kering lalu dipanggang di atas bara satu-satu untuk menghasilkan opak yang matang dan renyah. Ada juga yang dipanggang tiga sampai lima buah sekaligus dengan bantuan ram kawat yang disimpan di atas bara. Dari segi kuantitas memang lebih cepat namun rasanya menjadi kurang wangi dan agak keras sedikit. Jadi kepada para penikmat opak kalau menginginkan opak yang renyah, wangi dan gurih silahkan pilih opak yang dibakar satu-satu dengan menggunakan cacapit.

Mie Golosor
Dari namanya juga sudah unik yaitu golosor (Bhs. Sunda), mie ini akan meluncur licin di lidah dan enak rasanya. Mie ini terbuat dari bahan terigu berkualitas tinggi sehingga aman untuk perut dan tanpa bahan pengawet. Warna mie ini kuning segar karena pewarna yang digunakan adalah pewarna alami. Mie Golosor diproduksi oleh masyarakat Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu.

Dari beberapa makanan khas Panjalu yang disebutkan di atas, mungkin selera penikmat bermacam-macam dalam memilih oleh-olehnya. Ada yang sukanya Kalua Jeruk dan Jawadah Takir atau Opak saja, atau bahkan mungkin ada yang suka semuanya. Selamat menikmati hari raya dengan makanan-makanan yang sehat, halal, bergizi dan unik termasuk makanan khas sebagai menu tambahan.

[alert style=”white”] Penulis: YOPPY Y. S.Pd. Guru Seni Budaya di SMPN 1 dan 2 Panjalu-Ciamis, Sumber : Wawancara langsung dengan pemilik home industry di Panjalu, ilustrasi: flickriver.com[/alert]

Sejarah Pangandaran

Sejarah Pangandaran

Pada awalnya Desa Pananjung Pangandaran ini dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari suku sunda. Penyebab pendatang lebih memilih daerah Pangandaran untuk menjadi tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil yang membuat mudah untuk mencari ikan. Karena di Pantai Pangandaran inilah terdapat sebuah daratan yang menjorok ke laut yang sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung, tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai. Di sinilah para nelayan menjadikan tempat tersebut untuk menyimpan perahu yang dalam bahasa sundanya disebut andar setelah beberapa lama banyak berdatangan ke tempat ini dan menetap sehingga menjadi sebuah perkampungan yang disebut Pangandaran. Pangandaran berasal dari dua buah kata pangan dan daran . yang artinya pangan adalah makanan dan daran adalah pendatang. Jadi Pangandaran artinya sumber makanan para pendatang.

Lalu para sesepuh terdahulu memberi nama Desa Pananjung, karena menurut para sesepuh terdahulu di samping daerah itu terdapat tanjung di daerah inipun banyak sekali terdapat keramat-keramat di beberapa tempat. Pananjung artinya dalam bahasa sunda Pangnanjung-nanjungna ( paling subur atau paling makmur)

Pada mulanya Pananjung merupakan salah satu pusat kerajaan, sejaman dengan kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggan sekitar abad XIV M.  setelah munculnya kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor.  Nama rajanya adalah Prabu Anggalarang yang salah satu versi mengatakan bahwa beliau masih keturunan Prabu Haur Kuning, raja pertama kerajaan Galuh Pagauban, namun sayangnya kerajaan Pananjung ini hancur diserang oleh para Bajo (Bajak Laut) karena pihak kerajaan tidak bersedia menjual hail bumi kepada mereka, karena pada saat itu situasi rakyat sedang dalam keadaan paceklik (gagal panen).

Pada tahun 1922 pada jaman penjajahan Belanda oleh Y. Everen (Presiden Priangan) Pananjung dijadikan taman baru, pada saat melepaskan seekor banteng jantan, tiga ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa.

Karena memiliki keanekaragaman satwa dan jenis – jenis tanaman langka, agar kelangsungan habitatnya dapat terjaga maka pada tahun 1934 Pananjung dijadikan suaka alam dan marga satwa dengan luas 530 Ha.  Pada tahun 1961 setelah ditemukannya Bunga Raflesia padma status berubah menjadi cagar alam.

Dengan meningkatnya hubungan masyarakat akan tempat rekreasi maka pada tahun 1978 sebagian kawasan tersebut seluas 37, 70 Ha dijadikan Taman Wisata.  Pada tahun 1990 dikukuhkan pula kawasan perairan di sekitarnya sebagai cagar alam laut (470,0 Ha) sehingga luas kawasan pelestarian alam seluruhnya menjadi 1000,0 Ha.  Perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 104?KPTS-II?1993 pengusahaan wisata TWA Pananjung Pangandaran diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani dalam pengawasan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, Kesatuan Pemangkuan Hutan Ciamis, bagian Kemangkuan Hutan Pangandaran.

[alert style=”white”] referensi: mypangandaran.com [/alert]

Sejarah Kabupaten Ciamis

Sejarah Kabupaten Ciamis

Proses lahirnya hari jadi Kabupaten Ciamis, diawali dengan keluarnya Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ciamis tanggal 6 oktober 1970 Nomor: 36/X/Kpts/DPRD/1970 dan Nomor : 5/II/Kpts/DPRD/1971, tentang Pembentukan Panitia Penyusunan Sejarah Galuh, yang dalam pelaksaannya panitia tersebut didampingi oleh tim ahli sejarah IKIP Bandung, yang dipimpin oleh Drs. Rd. H. Said Raksanegara.

Dibentuknya panitia penyusunan sejarah Galuh, dimaksudkan untuk menelusuri dan mengkaji sejarah Galuh secara menyeluruh, mengingat terdapat beberapa alternatif didalam menetapkan hari jadi tersebut, apakah akan memakai Titimangsa Rahyangta di Medangjati yaitu mulai berdirinya Kerajaan Galuh oleh Wretikkandayun tanggal 23 maret 612 M atau zaman Rakean Jamri yang juga disebut Raiyang Sanjaya sebelum Sang Manarah berkuasa, atau akan mengambil tanggal dan tahun dari peristiwa peristiwa, sebagai berikut :

  1. Digantinya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis oleh Bupati Rd. Tumenggung Sastra Winata pada tahun 1916;
  2. Pindahnya pusat pemerintahan dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis) oleh Bupati Rd. Aa Wiradikusumah pada tanggal 15 januari 1815;
  3. Atau berpindahnya pusat Kabupaten Galuh dari Garatengah yang letaknya di sekitar Cineam (Tasikmalaya) ke Barunay (Imbanagara) pada tangal 12 juni 1642.

Hasil kerja keras panitia penyusun sejarah Galuh dan tim ahli sejarah IKIP Bandung, akhirnya menyimpulkan bahwa hari jadi Kabupaten Ciamis jatuh pada tanggal 12 juni 1642, yang kemudian dikukuhkan dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ciamis tanggal 17 Mei 1972 nomor: 22/V/Kpts/DPRD/ 1972.

Dengan Keputusan DPRD tersebut, diharapkan teka-teki mengenai hari jadi Kabupaten Ciamis tidak dipertentangkan lagi dan juga diharapkan seluruh masyarakat mengetahui, sehingga akan lebih bersemangat untuk membangun tatar galuh ini, sejalan dengan moto juang kabupaten ciamis, yaitu: pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya dinabuana untuk mengejar / mewujudkan mahayunan ayuna kadatuan.

Kata Galuh berasal dari bahasa sansekerta, yang berarti batu permata, Kerajaan Galuh berarti kerajaan batu permata yang indah gemerlapan, subur makmur gemah ripah loh jinawi, aman tentram kertaraharja.

Dari sejarah terungkap bahwa pendiri Kerajaan Galuh adalah Wretikkandayun, ia adalah putra bungsu dari Kandiawan yang memerintah Kerajaan Kendan selama 15 tahun ( 597 s.d 612) yang kemudian menjadi pertapa di Layungwatang (daerah Kuningan) dan bergelar Rajawesi Dewaraja atau Sang Layungwatang.

Wretikkandayun berkedudukan di Medangjati, tetapi ia mendirikan pusat pemerintahan yang baru dan diberi nama Galuh (yang lokasinya kurang lebih di desa Karangkamulyan sekarang). Ia dinobatkan pada tanggal 14 Suklapaksa bulan Caitra tahun 134 Caka (kira – kira 23 Maret 612 Masehi). Tanggal tersebut dipilihnya benar-benar menurut tradisi Tarumanagara, karena tidak saja dilakukan pada hari
purnama melainkan juga pada tanggal itu matahari terbit tepat di titik timur.

Tujuan Wretikkandayun membangun pusat pemerintahan di daerah Karangkamulyan (sekarang) adalah untuk membebaskan diri dari Tarumanagara, yang selama itu menjadi negara adikuasa. Oleh karena itu demi mewujudkanobsesinya ia menjalin hubungan baik dengan kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, bahkan putra bungsunya Mandi Minyak di jodohkan dengan Parwati putri sulung Maharanissima.

Kesempatan untuk menjadi negara yang berdaulat penuh, terjadi pada tahun 669 ketika Linggawarman (666 s.d 669) Raja Tarumanagara yang ke 12 wafat. Ia digantikan oleh menantunya (suami Dwi Manasih) bernama Terus Bawa yang berasal dari kerajaan Sunda Sumbawa. Terus Bawa inilah yang pada saat penobatannya tanggal 9 Suklapaksa bulan Yosta tahun 951 Caka (kira-kira 17 Mei 669 Masehi), ia mengubah kerajaan Tarumanagara menjadi Negara Sunda.

Masa Kerajaan Galuh berakhir kira-kira tahun 1333 Masehi ketika Raja Ajiguna Lingga Wisesa atau Sang Dumahing Kending (1333 s.d 1340) mulai bertahta di Kawali, sedangkan kakaknya Prabu Citragada atau Sang Dumahing Tanjung bertahta di Pakuan Pajajaran.

Lingga Wisesa adalah kakek Maharaja Linggabuana yang gugur pada Perang Bubat tahun 1357, yang kemudian diberi gelar Prabu Wangi. Ia gugur bersama putri sulungnya Citra Resmi atau Diah Pitaloka. Diah Pitaloka mempunyai adik laki-laki yang bernama Wastu Kancana dan diberi umur panjang.

Ketika perang bubat berlangsung, Wastu Kancana baru berusia 9 tahun dibawah bimbingan pamannya yaitu Mangkubumi Suradipati alias Sang Bumi Sora atau Batara Guru di Jampang, Wastu Kancana berkembang menjadi seorang calon raja yang seimbang keluhuran budinya lahir bathin, sepeti tersebut pada wasiatnya yang tertulis pada Prasasti Kawali yaitu:

  1. Negara akan jaya dan unggul perang bila rakyat berada dalam kesejahteraan (kareta beber).
  2. Raja harus selalu berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu).

itulah syarat yang menurut wasiatnya untuk dapat pakeun heubeul jaya dina buana, pakeuna nanjeur najuritan untuk menuju mahayunan ayuna kadatuan.

Pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kancana, negara dan rakyatnya berada dalam keadaan aman tenteram kertaraharja, para abdi dalem patuh dan taat terhadap peraturan ratu yang dilandasi oleh Purbastiti dan Purbajati.

Wastu Kancana mempunyai dua orang isteri, yaitu Larasati (Puteri Resi Susuk Lampung) dan Mayangsari. Putra sulung dari Larasati yang bernama Sang Halimun diangkat menjadi penguasa Kerajaan Sunda berkedudukan di Pakuan Pajajaran pada Tahun 1382.

Dari Mayangsari, Wastu Kancana mempunyai empat orang putera yaitu Ningrat Kencana, Surawijaya, Gedeng Sindangkasih dan Gedeng Tapa. Ningrat Kencana diangkat menjadi Mangkubumi di Kawali dengan gelar Surawisesa. Wastu Kancana wafat pada Tahun 1475 dan digantian oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskala berkedudukan di Kawali, yang hanya menguasai Kerajaan Galuh, karena Kerajaan Sunda dikuasai oleh kakaknya yaitu Sang Halimun yang bergelar Prabu Susuk Tunggal. Dengan wafatnya Wastu Kancana, maka berakhirlah periode Kawali yang berlangsung selama 142 tahun (1333 s.d 1475).

Dalam periode tersebut, Kawali menjadi pusat pemerintahan dan keraton Surawisesa menjadi persemayaman raja-rajanya terlebih lagi Sribaduga Maharatu Haji sebagai pewaris terakhir tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya Dewa Niskala yang pusat kerajaanya di Keraton Surawisesa pindah ke Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang) untuk merangkap jabatan menjadi Raja Sunda yang dianugerahkan dari mertuanya, maka sejak itu Galuh Sunda bersatu kembali menjadi Pakuan Pajajaran dibawah kekuasaan Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata yang kini lazim disebut Prabu Siliwangi.

Penanggalan pada zaman Kerajaan Galuh bihari nampaknya kurang tepat bila dijadikan penanggalan hari jadi Kabupaten Ciamis, karena luas teritorialnya sangat jauh berbeda dengan keadaan Kabupaten Ciamis sekarang.

Nama Kerajaan Galuh baru muncul Tahun 1595, yang sejak itu mulai masuk kekuasan Mataram. Adapun batas-batas kekuasaannya sebagai berikut :

  • di sebelah timur, sungai citanduy;
  • di sebelah barat, galunggung sukapura;
  • di sebelah utara, sumedang dan cirebon;
  • di sebelah selatan, samudera hindia.

Daerah-daerah Majenang, Dayeuh Luhur dan Pagadingan termasuk juga daerah  Galuh masa itu (menurut DR. F. Dehaan) dan ternyata dari segi adat istiadat dan bahasa masih banyak kesamaan dengan tatar Pasundan terutama sekali di daerah pegunungan.

Kerajaan Galuh pada saat itu terbagi menjadi beberapa pusat kekuasaan yang dipimpin oleh raja-raja kecil (Kandaga Lante), yang kemudian dianggap sederajat dengan Bupati yang antara satu dengan yang lainnya masih mempunyai hubungan darah mempunyai perkawinan. Pusat-pusat kekuasaan tersebut berada di wilayah Cibatu, Garatengah, Imbanagara, Panjalu, Kawali, Utama (Ciancang), Kertabumi (Bojonglopang) dan Kawasen (Desa Banjarsari).

Pengaruh kekuasaan Mataram sedikit banyak mewarnai tata cara pemerintahan dan budaya Kerajaan Galuh dari tata cara buhun sebelumnya pada zaman itu mulai ada pergeseran antara Bupati yang satu dengan Bupati yang lainnya, seperti Adipati Panaekan putra Prabu Galuh Cipta pertamanya diangkat menjadi Bupati Wedana (semacam Gubernur) di Galuh oleh Sultan Agung.

Pengangkatan tersebut menyulut perselisihan faham antara Dipati Panaekan dengan Adipati Kertabumi yang berakhir dengan tewasnya Adipati Panaekan. jenazahnya dihanyutkan ke sungai Citanduy dan dimakamkan di Pasarean Karangkamulyan. Sebagai penggantinya ditunjuk Adipati Imbanagara yang pada waktu itu berkedudukan di Garatengah (Cineam – Tasikmalaya).

Usaha Sultan Agung untuk melenyapkan kekuasaan VOC di Batavia pada penyerangan pertama mendapat dukungan penuh dari Adipati Ukur, walaupun pada penyerangan itu gagal. Pada penyerangan kedua ke Batavia, Dipati Ukur mempergunakan kesempatan tersebut untuk membebaskan daerah Ukur dan sekitarnya dari pengaruh kekuasaan Mataram. Politik Dipati Ukur tersebut harus dibayar mahal, yaitu dengan terbunuhnya Adipati Imbanagara (yang dianggap tidak setia lagi kepada Mataram) oleh utusan Mataram yang dipenggal kepalanya dan dibawa ke Mataram sebagai barang bukti. Sedangkan badannya dimakamkan di Bolenglang (Kertasari). Tetapi kepala Adipati Imbanagara dapat direbut lagi oleh para pengikutnya walaupun terjatuh di sungai Citanduy, yang kemudian tempat jatuhnya disebut leuwi panten.

Kedudukan Adipati Imbanagara selanjutnya digantikan oleh puteranya yang bernama Mas Bongsar atau Raden Yogaswara dan atas jasa-jasanya dianugerahi gelar Raden Adipati Panji Jayanegara.

Pada masa pemerintahan Raden Adipati Panji Jayanegara, pusat kekuasaan pemerintahan dipindahkan dari Garatengah ke Calingging yang kemudian dipindahkan lagi ke Barunay (Imbanagara sekarang ), pada tanggal 14 Maulud atau pada tanggal 12 Juni 1642 M.

Perpindahan pusat Kabupaten Galuh dari Garatengah ke Imbanagara, mempunyai arti penting dan makna yang sangat dalam bagi perkembangan Kabupaten Galuh berikutnya dan merupakan era baru pemerintahan Galuh menuju terwujudnya Kabupaten Ciamis dikemudian hari, karena :

  1. Peristiwa tersebut membawa akibat yang positif terhadap perkembangan pemerintahan maupun kehidupan masyarakat kabupaten galuh yang mempunyai batas teritorial yang pasti dan terbentuknya sentralisasi pemerintahan
  2. Perubahan tersebut mempunyai unsur perjuangan dari pemegang pimpinan kekuasaan terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyatnya dan adanya usaha memerdekakan kebebasan rakyatnya dari kekuasaan penjajah.
  3. Kabupaten Galuh dibawah pemerintahan Bupati Rd. Adipati Arya Panji Jayanegara mampu menyatukan wilayah galuh yang merdeka dan berdaulat tanpa kekerasan.
  4. Adanya pengakuan terhadap kekuasaan Mataram dari Kabupaten Galuh semata-mata dalam upaya memerangi penjajah (VOC) dan hidup berdampingan secara damai.
  5. Sejarah perkembangan Kabupaten Galuh tidak dapat dipisahkan dari sejarah terbentuknya Kabupaten Ciamis itu sendiri. Dirubahnya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis pada tahun 1916 oleh Bupati Rd. Tumenggung Satrawinata (Bupati ke 18) sampai sekarang belum terungkap alasannya merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri dan dihindari.

Atas pertimbangan itulah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Ciamis dalam sidang Paripurna Khusus tanggal 17 Mei 1972 dengan Surat Keputusannya, sepakat untuk menetapkan tanggal 12 Juni 1642 sebagai hari jadi Kabupaten Ciamis.

Demikianlah sekilas pintas sejarah hari jadi Kabupaten Ciamis yang kita banggakan dan kita cintai mudah-mudahan Komara Galuh Ciamis terus cemerlang dan makin gemerlap oleh keluhuran budi masyarakat dan Aparatur Pemerintahnya.

[alert style=”white”] referensi: ciamiskab [/alert]