Sasakala Curug Panganten Cisaga

Sasakala Curug Panganten Cisaga

Perjalanan melongok salah satu asset wisata alam di wilayah Kabupaten Ciamis yang terletak di Kecamatan Cisaga, yaitu Curug Panganten nyaris tak menemui hambatan. Disamping kondisi jalan yang lumayan baik juga dilengkapi dengan beberapa papan penunjuk arah dibeberapa persimpangan jalan. Jikapun hal itu masih dianggap membingungkan, maka masyarakat setempat, terutama tukang ojeg yang biasa mangkal di persimpangan jalan Raya Banjar-Ciamis akan dengan sukarela menunjukannya bahkan mengantarkannya.  Diperkirakan jarak Curug Panganten  dari jalan raya sekitar 400 m, jalan masuknya tepat berada di sisi Jembatan Sungai Citanduy yang terletak di kawasan Wisata Sejarah Karangkamulyan.

Namun akses jalan kendaraan menuju Curug Panganten harus terhenti pada jarak 50 meter. Selanjutnya, disambung dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Saat Priangan menyambangi tempat ini, keadaan debit airnya tengah turun. Namun walau musim kemarau entak-entakan, ternyata limpahan airnya masih cukup banyak, sehingga tidak mengurangi keindahan alam yang melingkupinya. Suara gemuruhnya masih keras terdengar berpadu dengan jatuhan air yang berederai dari tebing setinggi 50 meter.  bahkan akibat musim kemarau ini, kondisi airnya menjadi jernih serta memantulkan warna hijau kebiru-biruan, berbalik saat musim penghujan, airnya menjadi keruh kecoklat-coklatan. Disamping itu akibat surutnya air mengakibatkan beberapa tempat yang biasanya tergenangi berubah menjadi daratan yang dapat dijelajahi.

Sungguh luar biasa panorama alam perawan yang terpampang di depan mata. Kendati tempat ini kerap dikunjungi para pelancong, ternyata belum tersentuh pembangunan  sebagaimana layaknya sebuah tempat wisata. Mungkin kondisinya yang masih asli ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang berkunjung.

Curug Panganten dapat dikatakan merupakan sambungan dari dua sungai yang mengalirinya. Di bagian atasnya adalah batas akhir sungai Cirende dan bagian bawahnya adalah hulu dari sungai Ciliung.  Bahkan batang akhir sungai Cirende sendiri ternyata tersusun dari tiga tangga curug, yaitu Curug Cirende, Curug Sewu dan terakhir Curug Panganten. Curug Cirende dan Curug Sewu tidak dapat dilihat langsung dari bawah, karena disamping ketinggiannya rendah, juga terhalang oleh tebing tinggi yang menjadi limpahan air terjun Curug Panganten.

Menurut Ujang Solikhin, salah seorang warga setempat curug tersebut dulunya disebut Curug Sewu. Namun setelah terjadi peristiwa mengenaskan yang menimpa sepasang pengantin, air terjun tersebut lebih dikenal dengan nama Curug Panganten. “ Sasakala ceuk kolot mah kieu, , ceunah baheula aya sapasang panganten nuju pelesir paparahuan dina lengkob cucurugan cai, ari si Panganten lalaki ngadon ngaheureuyan pamajiikanana ku hileud. Bakat ku sieun jeung reuwas antukna tigejebur,  lantaran harita keur badag cai, panganten awewe teh kasedot puseran cai. Ningali kitu salakina langsung ngunclungkeun maneh rek nulungan tiditu n amah. Ngan orokaya manehna kalah milu kasedot, tiwas sapasang panganten teh, malah layonna oge teu kapendak. Tah tidinya curug Sewu teh katelahna we ngaranna jadi Curug Panganten” Kata Ujang sambil menerawang.

Keberadaan Curug Panganten memang tidak lepas dari cerita legenda yang masih dipegang oleh sebagian masyarakat disekitaranya. Pun demikian dengan kewingitannya. Soal kaahengan Curug Panganten, dialami sendiri oleh Ujang Solikhin. Dua peristiwa gaib yang pernah dirasakaanya cukup membuatnya percaya bahwa Curug Panganten memiliki aura mistis yang cukup besar. Bahkan peristiwa terakhir, tidak saja menjadi pembuktian bagi dirinya sendiri, namun juga bagi masyarakat dikampungnya.  Saat itu Ujang Solikhin pernah hilang tanpa jejak selama 8 jam di Curug Panganten. Sampai-sampai masyarakat yang mencarinya hampir putus asa.

“ Jaman teu acan lebet PLN, abdi ngamangfaatkeun Curug Panganten teh janten PLTA Cirende taun 1987,  listrikna kangge masok kaperyogian masyarakat lembur. Harita teh ba’da Isya, ngadadak listrik pareum. Nya ku abdi dipilari ka Curug Panganten. Pas marios lebah kincirna, kadangu aya nu naros. Tisaprak diwaler, anjeuna langsung we ngajak pelesir. Raraosasan mah abdi di candak kaMalaysia. Dumeh sateuacanna abdi memang gaduh cita-cita hoyong ka luar negeri.  Di Malaysia teh kitu we kukurilingan. Dugi ka anjeuna ngandeg sangkan abdi ulah mulang deui. Ngan abdi keukeuh maksa hoyong mulang kalembur. Tungtungna abdi dibelewerkeun, ari emut-emut tos aya di buruan bumi Pa Jatma, kalayan lilir bada subuh, parantos diriung ku masyarakat.” Paparnya menceritakan pengalamannya.

Pengalaman Ujang tersebut dibenarkan oleh beberapa penduduk setempat diantaranya, Mang Otoy dan Ki Amar. Menurut keduanya, saat itu masyarakat menjadi gempar karena Ujang tidak ditemukan di Curug Panganten. Bahkan timbul dugaan bahwa Ujang telah meninggal akibat tercebur dan terseret arus Curug Panganten. Akhirnya malam itu juga pengajian diselenggarakan di rumah Ujang. Masyarakat berharap mayat Ujang segera ditemukan. Namun menjelang subuh terdengar suara berdebam di halaman Rumah Pa Jatma, setelah di periksa ternyata berasal dari tubuh Ujang Solkihin yang terlempar dalam keadaan tidak sadar. Sampai kini peristiwa gaib itu akhirnya menjadi kenangan tersendiri bagi Ujang Solikhin dan masyarakat yang mengetahui peristiwa itu.

Kewingitan lainnya adalah misteri suara gamelan. Hal ini pun diakui oleh masyarakat setempat. Konon, di salah satu batu besar yang ada di Curug Panganten selalu terdengar nyaring suara gamelan setiap malam jumat kliwon. Bahkan anehnya lagi, bukan suaranya saja yang terdengar tapi gamelannyapun dapat dilihat. Hal ini dikisahkan oleh Ki Amar yang dipercaya sebagai kuncen Curug Panganten.

“ Kapungkur, jalmi nu peryogi gamelan kangge manggung tiasa nambut ti karuhun Curug Panganten. Buktos eta mah, ngajenggelek barangna, kantun nyandak. Ngan kedah diuihkeun deui. Hanjakal, pernah aya nu nambut, deleka teu diuihkeun deui. Antukna sora gamelan teh sababaraha puluh taun mah teu kakuping deui. Tah, basa malam jumaah kaliwon sasih mulud taun ayeuna, nembe tiasa kakuping deui. Sorana kadangu kamana-mana, utamina masyarakat nu bumina sabudeureun Curug Panganten. Mangga we teu percanten mah taroskeun kanu sanes” Ujar Ki Amar menjelaskan tentang gamelan gaib Curug Panganten.

Betul tidaknya kisah-kisah tersebut diatas, pada dasarnya menjadi salah satu daya tarik Curug Panganten. Namun sayangnya, perhatian sebagian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Curug Panganten masih kurang. Saat Priangan berkunjung, ternyata banyak bangkai ikan yang  mengambang dalam berbagai ukuran dan jenis. Tatkala ditanyakan, ternyata masih ada kebiasaan masyarakat yang menangkap ikan dengan cara di portas. Sayang sekali.***

Dimuat di koran Priangan

[alert style=”white”]referensi: galuh-purba.com, foto: myopera.com[/alert]

Radio Actari FM Ciamis

Radio Actari FM Ciamis

Adalah stasiun Radio yang akan kita temui di Jl. Raya Cikoneng. Berada disebelah dari arah ciamis setelah Kantor Pos Cikoneng, dan sebelah kanan setelah Garasi Merdeka atau Pasar Sabtu dari arah Tasikmalaya atau Kecamatan Sindangkasih.

Radio Actari FM Ciamis memiliki motto ”BELI CIAMIS GRATIS TASIKMALAYA”, mungkin hal ini dikarenakan lokasi dari radio ini yang jangkauannya bisa 2 daerah sekaligus yakni Ciamis dan Tasikmalaya.

Berikut Profil Lengkap dari Radio Actari FM Ciamis:

PROFIL PERUSAHAAN

Nama Perusahaan : PT RADIO SWARA TUGAS ACTARI
Nama Stasiun : ACTARI FM
Call Sign : PM3 BNA
Frekuensi : FM 96.6 Mhz
Motto : ”BELI CIAMIS GRATIS TASIKMALAYA”
Alamat : Jl. Raya Cikoneng No 171 Ciamis 46261
Telepon : 0265.775136 – 774646
Fax: 0265.775136
SMS : 085 223 424 966
Pemegang Saham : Perorangan
Format Stasiun : Education, Information, and entertainment
Waktu Siaran : Pkl 05.00 – 01.00 WIB

BENTUK DAN BIDANG USAHA

Bentuk Usaha :

Akta pendirian PT Radio Tugas Perkasa Siliwangi, tertuang dalam Akta Notaris Ayu Maimunah, SH. Nomor 48 tanggal 27 september 1986.
Keputusan rapat yang tertuang dalam Akta Notaris Ayu Maimunah, SH tertanggal 15 Oktober 1988  No. 21.

dan terjadi perubahan  yaitu :  Akta Pendirian PT Radio Swara Tugas Actari, tertuang dalam akta Notaris Suryana, SH. Nomor 195 tanggal 31 Mei 2006. Keputusan rapat yang tertuang dalam Akta Notaris Suryana, SH tertanggal 9 September 2006

Bidang Usaha :

Perseroan Terbatas yang berusaha dalam bidang Radio Penyiaran
SEGMENTASI PENDENGAR & PROSENTASINYA

Segmentasi Pendengar : Umum

Usia

S/D – 19 th : 13%
20th – 29th : 22%
30th – 39th : 50%
40th – 49th : 10%
50th – keatas : 5%
PNS/ABRI : 5%
Peg. swasta : 12%
Wiraswata : 15%
Pensiunan : 7%
Pelajar/Mahasiswa : 15%
Ibu rumah tangga : 30%
Tidak kerja : 10%
Lainnya : 6%

SES & Demographi

A : 11%
B : 11%
C1 : 23%
C2 : 27%
D : 23%
E : 8%

JANGKAUAN

Wilayah Kabupaten Ciamis Wilayah Kabupaten Tasikmalaya
Meliputi : Meliputi:
  • Madura
  • Wanareja
  • Lakbok
  • Kawari
  • Banjar Sari
  • Banjar
  • Ciamis Kota
  • Sebagian Wilayah Jateng
  • Ciawi
  • Singaparna
  • Cikatomas
  • Karang nunggal
  • Cineam
  • Tasik kota
  • Sebagian Kab.Garut

FORMAT MUSIC & PORSENTASINYA

Indonesia : 35%
Dangdut : 15%
Sunda : 15%
Barat : 35%

TARIF IKLAN STANDARD (PRIME TIME)

Spot 60 dtk : Rp.125.000,-
Spot 30 dtk : Rp.100.000,-
Adlips : Rp.150.000,-
Time Signal 60 dtk : Rp.160.000,-

SPONSOR PROGRAM

Program 30 menit : Rp. 250.000,-
Program 45 menit : Rp. 275.000,-
Program 60 menit : Rp. 300.000,-

PT. RADIO SWARA TUGAS ACTARI

Jl. Raya Cikoneng No. 171 Ciamis 46261
Tlpn. 0265 775136-774646, Fax. 0265 775136
email : actari_fm@yahoo.co.id

[alert style=”white”]referensi: actarifm.com, actarifm.blogspot.com[/alert]

Jembatan Cirahong Ciamis

Jembatan Cirahong Ciamis

Jembatan sepanjang 200 meter ini melintang di atas Sungai Citanduy, menghubungkan Kecamatan Ciamis dan Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Jembatan ini berfungsi ganda, di bagian atas merupakan jembatan kereta api, sementara di bagian bawah sebagai jalan raya.

Jembatan yang dibangun awal tahun 1900-an ini diprakarsai Bupati Ciamis RAA Kusumadiningrat (1839-1886). Bupati pertama di Tatar Sunda yang menguasai aksara Latin ini berhasil meyakinkan pemerintah Kolonial Belanda untuk membelokkan jalur kereta api melewati Ciamis. Dalam rencana awal, pembangunan jalur kereta api Bandung-Tasikmalaya-Yogyakarta pada tahun 1891 ini tidak mencantumkan Ciamis sebagai kota persinggahan.

Jalur kereta api itu berperan strategis sebagai jalur pemasaran hasil perkebunan Ciamis ke Bandung dan Batavia. Pada masa itu, Ciamis merupakan sentra perkebunan kelapa di Priangan. Selain itu, perkebunan kopi dan nila juga berkembang baik dengan beroperasinya pengusaha swasta, antara lain di daerah Lemah Neundeut, Bangkelung, Gunung Bitung, dan Sindangrasa.

Meski lebih dari seabad, kokohnya konstruksi jembatan yang melintang 80 meter di atas Sungai Citanduy ini masih terlihat. Lantainya terbuat dari kayu, sementara pilarnya terbuat dari baja.

[alert style=”white”]referensi : Kompas Jawa Barat[/alert]

Mengenal Iket Sunda

Mengenal Iket Sunda

Dalam setiap kebudayaan, banyak sekali hal yang bisa kita lihat dan perhatikan, serta kita nikmati,diantaranya adalah, suara, gerak, keindahan, adat, pakaian dan keragaman lainya tergantung dari orang yang menikmati, serta melakukannya.

Namun dari keseluruhan ragam kebudayaan tersebut, ada satu hal yang tidak pernah lepas dalam pelaksanaanya;yaitu pakaian atau busana. Setiap ritual acara yang bersangkutan dengan kebudayaan, tentu para pelaku tidak akan lepas dari pakaian pendukung untuk kelangsungan acara tersebut, seperti halnya dalam pagelaran seni suara, seni ketangkasan, upacara adat, bahkan sampai pernikahan pun tidak lepas dari pakaian adat.

Yang tidak lepas dari kelengkapan busana tersebut adalah IKET. Namun untuk kampung adat, iket merupakan hal yang tidak asing lagi dan dalam masa sekarang ini diperkotaan,para pemuda sudah menggunakan iket dalam kesehariannya.

Iket sendiri pada waktu jaman dahulu, merupakan sebagai penutup kepala dan fungsi lainnya adalah sebagai alat untuk membawa sesuatu, bahkan juga menjadi salahsatu senjata untuk bela diri ( menurut beberapa sumber dari artikel lain, dan diperkuat dengan hasil pernyataan beberapa sesepuh di kampung kampung  ).

Namun lain motif lain harga dan lain derajat bagi yang memakai iket, salah satu hal yang mempengaruhi hal ini adalah dari teknik dan jenis kain, sehingga semakin bagus tentu semakin mahal, dan hanya bisa dibeli oleh orang yang mempunyai kemampuan lebih,namun yang paling utama adalah makna dari iket itu sendiri.

Selembar kain yang berbentuk Segi empat, dengan kotak dibagian dalamnya dengan posisi miring, walau mrip taplak meja namun mengandung falsafah yang luas baik dari makna dasar, atau pun dari cara mengikatnya, serta dimana dan kapan iket dipergunakan.

Lantas apa itu yang dimaksud dengan IKET? dari hasil yang saya telusuri dari beberapa sesepuh di Bandung dan kampung adat, bentuk dasar iket idealnya harus berbentuk bujur sangkar, bagian tengahnya ada bagian bujur sangkar dengan posisi diagonal ( tidak se arah dengan bentuk dasar kain )

Iket Sunda bisa dilihat dari:

  1. Tempat pembuatan (Daerah): Sumedang,Garut,Ciamis,Tasik.dsb.
  2. Motif/corak: Kopi pecah, Hanjuang, Kembang Boled,dsb
  3. Cara: Barangbang Semplak, Paros, Udeng, Bendo, dsb
  4. Makna yang terkandung dalam ka-Sunda-an.

Dalam aplikasi keseharian, terkadang kita suka melihat seseorang yang menggunakan iket, yang bermotif dari daerah timur, dengan mengatakan bahwa ini iket sunda, menurut pendapat saya itu bisa saja mungkin yang ia terapkan adalah pola ikatan dan makna kasundaanya, atau bahkan terbalik, dengan motif dari jawa barat namun iket nya dibuat seperti dari daerah timur….

Namun jauh lebih baik lagi bagi warga Jawa Barat,mengandung 4 aspek tersebut diatas, tentu memajukan pengrajin kain di Jawa Barat.

RUPA IKET

Analisa saya, terbagi menjadi 3 rupa ( model ) yaitu;

1. Rupa Iket Réka-an baheula; adalah rupa iket yang sudah terdapat di kampung-kampung adat, dan sudah menjadi pola kebiasaan sehari-hari dalam penggunaanya, tanpa tercampur oleh budaya atau elemen dari luar.

Sebagai contoh biasanya kakek-kakek yang sering menggunakan iket, tentu beliau sudah menggunakan rupa iket tersebut tatkala masih remaja/anak-anak, dan sampai sekarang tetap menggunakannya, walau hanya mengetahui 1 jenis rupa iket yang dikenakannya.

Namun terkadang juga, karena pengaruh kunjungan wisata dari kota/tempat lain, terkadang ada ketertarikan melihat rupa iket tamu tersebut, yang pada akhirnya terjadi transformasi bentuk, bahkan meniru nya.

2. Rupa Iket Réka-an Kiwari; adalah rupa iket hasil karya dari pribadi, dengan kreasi yang disenanginya, namun pada prinsipnya adalah tetap menggunakan kain juru opat. Iket Reka-an ini, sebagai bentuk dari penemuan atau imajinasi atau bahkan surup-an dari hal hal tertentu.

Tidak menutup kemungkinan Rupa Iket Reka-an ini, adalah hasil dari rupa iket Buhun, yang terkuak kembali setelah bertahun-tahun tidak diketahui, dan hal ini bisa dibuktikan dengan metode saksi hidup/bukti dari ingatan seseorang dari generasi penerusnya.

3. Rupa Iket Praktis; adalah rupa iket yang sudah jadi, seperti halnya peci atau bendo, dan tinggal memakai saja.

Sedikit dipertegas, apakah yang kita kenakan adalah rupa Iket réka-an baheula / kiwari? namun setidaknya kita sudah “ngamumulé” bahkan “nanjeurkeun” serta “ngawanohkeun” iket ka balaréa…

”Caringcing pageuh kancing, saringset pageuh iket”

[alert style=”white”]referensi: http://pulasara-iket.com [/alert]

Nama Rupa Iket

Nama Rupa Iket

Beberapa Jenis Rupa IKET yang saya ketahui, berdasarkan hasil yang pernah saya lihat dari  kampung adat ( masih banyak kampung adat yang belum saya kunjungi, dan mohon bantuannya )  masih banyak lagi yang pernah saya dengar, atau lihat, dari beberapa sumber, tetapi saya masih saya cari informasinya, apakah iket tersebut masuk ke kategori rupa iket buhun atau rupa iket réka-an.

Diantaranya Adalah:

RUPA IKET BUHUN

  1. Parekos Jéngkol
  2. Parekos Nangka
  3. Barangbang Semplak
  4. Julang Ngapak
  5. Koncér
  6. Kuda Ngencar
  7. Lohen
  8. Kebo Modol
  9. Kolé Nyangsang
  10. Buaya Ngangsar
  11. Porténg
  12. Parekos Gedang ( Kampung Ciptagelar )
  13. Ki Parana ( Kampung Ciptagelar )
  14. Udeng ( Kampung Ciptagelar )
  15. Pa’tua ( Kampung Ciptagelar )
  16. Babarengkos ( Kampung Ciptagelar )
  17. Iket Adat Kampung Ciptagelar 1 ( Kampung Ciptagelar )
  18. Iket Adat Kampung Naga 1
  19. Iket Adat Kampung Naga 2
  20. Iket Adat Kampung Dukuh
  21. Iket Adat Kampung Cikondang 1
  22. Iket Adat Rancakalong

RUPA IKET RÈKA-AN

  1. Parékos Candra Sumirat
  2. Parékos Maung Leumpang
  3. Parékos Batu Amparan
  4. Parékos Dua Adegan
  5. Parékos KiPahare
  6. Kujang Dua Papasangan
  7. Parékos Jeulit Danas

Tentunya masih ada beberapa rupa iket buhun atau reka-an yang lainnya, namun karena masih rancu untuk kategori iket buhun atau reka-an,maka belum bisa untuk ditampilkan.

Untuk Gambar dari masing masing rupa iket, akan ditampilkan menyusul.

Hapunten rebu hapunten, mugia janten kasaean, sae atanapi awon-na, urang silih lereskeun… cag.

pulasara iket, wilujeng calik na-ampar-an

[alert style=”white”]referensi: http://pulasara-iket.com [/alert]

Rumah Adat Panjalin

Rumah Adat Panjalin

Rumah adat Panjalin terletak di wilayah Desa Panjalin. Desa Panjalin adalah sebuah desa yang berada di lingkungan Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka. Sejak tahun 1982, Desa Panjalin telah dimekarkan menjadi dua desa, yaitu Desa Panjalin Kidul dan Desa Panjalin Lor. Desa Panjalin Kidul terletak di sebelah utara wilayah Kecamatan Sumberjaya dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Cirebon. Adapun batas-batas daerah Desa Panjalin Kidul antara lain

  • Sebelah utara berbatasan dengan Desa Panjalin Lor Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka dan Desa Budur Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon,
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Panyingkiran Kecamatan Sumberjaya,
  • Sebelah barat berbatasan dengan Desa Rancaputat Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka,
  • Sebelah timur berbatasan dengan Babakan Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.

Secara administratif, pemerintahan Desa Panjalin Kidul terdiri atas lima buah dusun dan 9 Rukun Warga (RW). Setiap dusun dipimpin oleh seorang kepala dusun (Kadus) dengan membawahi sejumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT). Rukun Tetangga (RT) di Desa Panjalin Kidul seluruhnya berjumlah 24 RT. Jabatan kepala dusun dipilih dan ditetapkan oleh kepala desa yang disebut kuwu dan disyahkan oieh Bupati Majalengka dengan Surat Keputusan. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala dusun bertanggung jawab kepada kepala desa.

Jarak orbitrasi Desa Panjalin Kidul terhadap pusat-pusat pemerintahan relatif tidak terlalu jauh, antara lain

  • dengan ibukota Kecamatan Sumberjaya berjarak kurang lebih 5 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 15 menit,
  • dengan ibukota Kabupaten Majalengka berjarak kurang lebih 37 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 60 menit,
  • dengan ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung, berjarak kurang lebih 165 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 3 jam.

Secara geografis, Desa Panjalin Kidul berada pada garis antara 108° – 1090 Bujur Barat dan antara 6° – 7° Lintang Selatan. Adapun keadaan suhu di Desa Panjalin Kidul relatif cukup panas sekitar 28° Celcius dengan kelembaban rata-rata antara 78 % – 84 %. Jumlah curah hujan rata-rata 2.500 mm/tahun dengan jumlah bulan basah sekitar 10 bulan pertahun.

Desa Panjalin Kidul berada pada ketinggian tanah bervariasi antara 150 sampai 200 meter di atas permukaan air taut (dpa), dengan bentuk relief permukaan tanah pedataran. Keadaan tanah umumnya berupa dataran rendah dengan direlief oleh sungai-sungai kecil serta Sungai Ciwaringin di sebelah timur. Sungai Ciwaringin ini, selain merupakan batas desa juga merupakan batas Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Cirebon.

Was wilayah Desa Panjalin Kidul adalah 250 ha. Penggunaan lahan lebih banyak dimanfaatkan sebagai lahan produksi sebesar 151 ha yang berupa lahan sawah teknis sebesar 31 ha, semi teknis sebesar 36 ha, sederhana sebesar 17 ha, dan tadah hujan sebesar 67 ha. Penggunaan lahan untuk pemukiman atau perumahan penduduk sebesar 50 ha, dan sisanya terdiri atas tanah desa, pangangonan dan kuburan.

Persoalan yang cukup dirasakan warga adalah air bersih dan tempat pembuangan limbah dapur. Pada saat musim kemarau panjang melanda daerah ini maka air tanah yang menjadi sumber utama untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat kadang-kadang sulit didapatkan karena sebagian besar sumur-sumur yang ada surut airnya dan kering. Sementara itu, untuk memusnahkan limbah dapur biasa dilakukan dengan cara dibakar atau dibuang ke aliran sungai.

 [alert style=”white”] Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 [/alert]