Museum Galuh Imbanagara, Ciamis

Museum Galuh Imbanagara, Ciamis

Museum Galuh Imbanagara terletak di Jln Mayor Ali Basyah No.311 Imbanagara Raya Ciamis.

Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan kabupaten Ciamis tak lepas dari sejarah Galuh Imbanagara yang menjadi menjadi pusat pemerintahan selama kurang lebih 2 abad.

Museum ini didirikan untuk mengamankan benda-benda pusaka dan dokumen sejarah Galuh Imbanagara Ciamis, Museum ini telah diresmikan oleh Bupati Ciamis pada tanggal 12 Mei 2004.

Benda-benda yang terdapat didalam museum ini antara lain :

  • Keris-keris peninggal Galuh Imbanagara
  • Dokumen-dokumen penting milik Galuh Imbanagara
  • Foto-foto tentang sejarah Galuh Imbanagara
  • dan benda-benda pusaka peninggalan Galuh Imbanagara lainnya

Dengan adanya museum ini, ketua yayasan Galuh Imbanagara yaitu bapak R. Enggun S Rachmat berharap warga masyarakat Tatar Galuh Kabupaten Ciamis dapat melihat langsung serta mengetahui tentang keberadaan sejarah kabupaten Galuh di masa lalu.

Namun, sayangnya letak Museum Galuh Imbanagara ini kurang strategis, kita harus memasuki sebuah gang untuk mencapainya. Museum ini juga relatif sepi dan kecil dibandingkan dengan museum-museum lain yang ada di Indonesia.

[alert style=”white”]referensi: sophiechan-sophie-chan.blogspot.com [/alert]

Kisah Asal Muasal Curug Tujuh Cibolang Ciamis

Kisah Asal Muasal Curug Tujuh Cibolang Ciamis

Kecintaan seorang pemimpin pada rakyatnya, dan kesedihan yang timbul melihat penderitaan mereka, dapat membawa jawaban dan kebahagiaan pada akhirnya. Itulah mungkin pesan moral dari kisah sasakala Curug Tujuh Cibolang Ciamis. Konon terbentuknya curug tujuh menurut keterangan berasal dari kisah jaman dahulu kala, manakala terdapat seorang penguasa atau raja di wilayah tersebut, yang pada suatu waktu merasa sangat prihatin melihat keadaan di wilayahnya yang sangat menderita akibat kemarau panjang. Air tidak ada dan tanah kering kerontang sehingga rakyatnya dirundung malang berkepanjangan.

Sang raja kemudian bertapa untuk memohon supaya diturunkan hujan agar keadaan negerinya pulih seperti sediakala. Namun usahanya itu tidak mendapatkan jawaban dari penguasa alam. Hal tersebut menyebabkan hatinya sangat sedih dan kesedihannya itu membuatnya menangis. Saat itu keajaiban terjadi, air mata raja perlahan berubah menjadi genangan air jernih dan semakin membesar sehingga membentuk aliran air yang akhirnya terpecah dan jatuh di tujuh buah tebing.

Panorama alam yang indah dan suasana hutan alam menjadi daya tarik wana wisata Curug Tujuh, dimana objek wisata ini berada di kiri kanan bukit gunung Ciparang dan Cibolang yang merupakan bagian dari Gunung Sawal.

Luas Wana Wisata Curug Tujuh 20 Ha terletak di kawasan hutan RPH Panjalu BKPH Ciamis KPH Ciamis yang menurut administrasi pemerintah termasuk Desa Sanding Taman Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis.

Objek wisata ini terletak pada ketinggian sekitar 800-900 di atas permukaan laut dengan konfigurasi lapangan bergunung, suhu udara secara umum sekitar 17-18 derajat Celcius.

Sesuai namanya Curug Tujuh terdiri dari tujuh buah air terjun yang lokasinya berjejer dengan Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Cibolang, Curug Simantaja, Curug Cileutik, dan Curug Cibuluh. Konon diantara curug tersebut mengalirkan air yang berkhasiat menyembuhkan penyakit seperti penyakit kulit, encok, rematik dan pegal linu. Dan airnya tidak pernah surut sekalipun musim kemarau, dimana air yang mengalir berasal dari gunung Sawal.

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]

Gua Lanang Di Pananjung

Gua Lanang Di Pananjung

Gua Lanang terletak  didalam kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,442’S 108°39,508’E, dimana menurut legenda dulunya Gua Lanang merupakan keraton Kerajaan Pananjung dengan Rajanya bernama Prabu Anggalarang dan Permaesurinya Dewi Siti Samboja yang dikenal dengan nama Dewi Rengganis dengan dibantu oleh Patih Aria KIdang Pananjung.

Raden Anggalarang adalah putra Prabu Haur Kuning seorang raja kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggang kemudian mendirikan kerajaan Pananjung atas kemauannya sendiri, walaupun ayahnya telah memperingatkan dengan alasan tidak akan berjaya karena rawan gangguan dari para Bajo ( bajak laut ), Raden Anggalarang tetap pada pendiriannya karena daerah Pananjung merupakan tempat yang cocok bagi dirinya untuk mendirikan pusat pemerintahan.

Prabu Anggalarang adalah seorang laki – laki yang gagah dan sakti sehingga dijuluki ” Sang Lanang ” dan gua ini merupakan tempat tinggalnya maka disebut ” Gua Lanang “.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

Cagar Alam Pananjung

Cagar Alam Pananjung

BELUM lengkap rasanya jika mengunjungi objek wisata Pantai Pangandaran bila tidak menginjakkan kaki di Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran. Objek wisata ini merupakan satu-satunya objek wisata hutan yang ada di Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Keadaan topografi sebagian besar landai dan di beberapa tempat terdapat tonjolan bukit kapur yang terjal.

TWA Pangandaran memiliki kekayaan sumber daya hayati berupa flora dan fauna serta keindahan alam. Hutan sekunder yang berumur 50-60 tahun dengan jenis dominan antara lain laban, kisegel, merong , dan sebagainya. Juga terdapat beberapa jenis pohon peninggalan hutan primer seperti pohpohan kondang, dan benda . Hutan pantai hanya terdapat di bagian timur dan barat kawasan, ditumbuhi pohon formasi Barringtonia, seperti butun, ketapang.

Dengan berbagai ragam flora, kawasan TWA Pangandaran merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan satwa-satwa liar, antara lain tando, monyet ekor panjang , lutung , kalong , banteng, rusa, dan landak. Sedangkan jenis burung antara lain burung cangehgar, tlungtumpuk, cipeuw , dan jogjog. Jenis reptilia adalah biawak , tokek, dan beberapa jenis ular, antara lain ular pucuk.

Banyaknya flora dan fauna yang berkembang biak di sana merupakan daya tarik tersendiri. Tidak heran jika TWA Pangadaran tidak pernah sepi dari kunjungan para wisatawan. Selain itu, TWA ini mempunyai berbagai daya tarik lainnya, seperti Batu Kalde, salah satu peninggalan sejarah zaman Hindu. Selain itu, banyak terdapat gua alam dan gua buatan seperti Gua Panggung, Gua Parat, Gua Lanang, Gua Sumur Mudal, dan gua-gua peninggalan Jepang.

Daya tarik lainnya yang berada di TWA, baik yang berada di kawasan cagar alam darat maupun cagar alam laut, adalah Batu Layar, Cirengganis, Pantai Pasirputih di kawasan cagar alam laut. Lalu, padang pengembalaan Cikamal, yang merupakan areal padang rumput dan semak seluas 20 ha sebagai habitat banteng dan rusa. Air terjun yang berada di kawasan cagar alam bagian selatan, dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 2 jam melalui jalan setapak.

Sejarah kawasan

Pada tahun 1922, seorang Belanda bernama Eyken membeli tanah pertanian di pananjung Pangandaran, kemudian memindahkan penduduk yang tinggal di daerah yang sekarang menjadi taman wisata alam. Selanjutnya daerah tersebut dikelola sebagai daerah perburuan pada tahun 1931.

Pada tahun 1934, daerah tersebut diresmikan menjadi sebuah wildreservaat dengan keputusan Statblad 1934 nomor 663. Tetapi dengan ditemukannya jenis-jenis tumbuhan penting, termasuk Raflesia patma pada tahun 1961, membuat statusnya diubah menjadi cagar alam, dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.34KMP/tahun 1961. Akhirnya pada 1978, karena adanya potensi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata alam, sebagian wilayah cagar alam yang berbatasan dengan areal permukiman statusnya diubah menjadi taman wisata alam.

Tahun 1990 dikukuhkan pula kawasan perairan di sekitar cagar alam laut (470 ha), sehingga luas kawasan perairan di sekitar Pangandaran seluruhnya menjadi 1.500 ha. Perkembangan selanjutnya berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.104/kpts-II/1993, pengusahaan TWA Pangandaran diserahkan kepada Perum Perhutani dan diserahkan fisik pengelolaannya pada 1 November 1999.

TWA Pangandaran mempunyai banyak legenda, seperti legenda Gua Parat. Gua ini dulu tempat bertapa dan bersemedi beberapa pangeran dari Mesir, yaitu Pangeran Kesepuluh (Syekh Ahmad), Pangeran Kanoman (Syekh Muhammad), Pangeran Maja Agung, dan Pangeran Raja Sumenda. Di dalam gua ini terdapat dua kuburan sebagai tanda bahwa di tempat inilah Syekh Ahmad dan Muhamad menghilang (tilem).

Gua Panggung

Menurut cerita, yang berdiam digua ini adalah Embah Jaga Lautan atau disebut pula Kiai Pancing Benar. Beliau merupakan anak angkat dari Dewi Loro Kidul dan ibunya menugaskan untuk menjaga lautan di daerah Jabar dan menjaga pantai Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, beliau disebut Embah Jaga Lautan.

Gua Lanang

Gua ini dulunya merupakan keraton pertama Kerajaan Galuh. Sedangkan keraton yang kedua terdapat di Karang Kamulyan Ciamis. Raja Galuh adalah laki-laki (lanang) yang sedang berkelana.

Batu Kalde atau Sapi Gumarang

Di tempat ini, menurut cerita, tinggal seorang sakti yang dapat menjelma menjadi seekor sapi yang gagah berani dan sakti. Sapi Gumarang adalah nakhoda kapal.

Cirengganis

Cerita ini berawal dari adanya sebuah pemandian berupa sungai kepunyaan seorang raja bernama Raja Mantri. Pada suatu hari, Raja Mantri pergi untuk melihat-lihat pemandiannya.

Kebetulan waktu itu Dewi Rangganis dan para inangnya sedang mandi. Karena terdorong oleh perasaan hatinya, Raja Mantri mengambil pakaian Dewi Rangganis. Karena kesal, Dewi Rangganis kemudian berkata, barang siapa menemukan bajunya, bila perempuan akan dijadikan saudara dan bila laki-laki akan dijadikan suami.

Gua Jepang

Gua Jepang terletak di kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,336’S 108°39,379’E, Perang Pasifik atau Perang Asia Timur raya terjadi pada tanggal 8 Desember 1941, diawali serangan mendadak Angkatan Udara Dai Nippon ( Jepang ) ke pelabuhan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour ( Hawai ).

Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam Pangandaran semula merupakan tempat perladangan penduduk. Tahun 1922, ketika Y. Eycken menjabat Residen Priangan, diusulkan menjadi Taman Buru. Pada waktu itu dilepaskan seekor Banteng, 3 ekor Sapi Betina dan beberapa ekor rusa. Karena memiliki keanekaragam satwa yang unik dan khas serta perlu dijaga habitat dan kelangsungan hidupnya maka pada tahun 1934, status kawasan tersebut diubah menjadi Suaka Margasatwa dengan luas 530 ha.

Tahun 1961, setelah ditemukan bunga Raflesia Fatma yang langka, statusnya diubah lagi menjadi Cagar Alam. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tempat rekreasi, maka pada tahun 1978, sebagian kawasan tersebut (37,70 ha) dijadikan Taman Wisata. Pada tahun 1990 dikukuhkan kawasan perairan di sekitarnya sebagai Cagar Alam Laut (470 ha), sehingga luas seluruhnya menjadi 1.000 ha.

Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 104/Kpts-II/1993 pengusahaan wisata TWA Pangandaran diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani. Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di kawasan konservasi Pangandaran dan sekitarnya adalah: lintas alam, bersepeda, berenang, bersampan, scuba diving, snorking dan melihat peninggalan sejarah.

Cagar alam seluar ± 530 hektar, yang diantaranya termasuk wisata seluas 37,70 hektar berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II. Memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti Bunga Raflesia Padma, Banteng, Rusa dan berbagai jenis Kera. Selain itu, terdapat pula gua-gua alam dan gua buatan seperti: Gua Panggung, Gua Parat, Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, gua Jepang serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan Taman Lautnya. Untuk Taman Wisata Alam (TWA) dikelola Perum Perhutani Ciamis.

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com, foto: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

Gua Jepang Di Pananjung

Gua Jepang Di Pananjung

Gua Jepang terletak di kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,336’S 108°39,379’E, Perang Pasifik atau Perang Asia Timur raya terjadi pada tanggal 8 Desember 1941, diawali serangan mendadak Angkatan Udara Dai Nippon ( Jepang ) ke pelabuhan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour ( Hawai ).

Pada tanggal 18 Maret 1941 balatentara Dai Nippon menduduki seluruh pulau Jawa dan Madura dan pemerintah Hindia Belanda ( sekutu ) menyerah tanpa syarat kepada balatentara Dai Nippon.

Penyerahan daerah jajahan dilakukan di kalijati – Subang oleh Letnan Jenderal H. Ter poorten atas nama seluruh angkatan perang sekutu di Indonesia kepada Letnan Jenderal Imamora Hitoshi atas nama Kemaharajaan Jepang.

Gua Jepang di kawasan ini dibuat selama periode perang Dunia Kedua ( 1941 – 1945 ) dengan menggunakan kerja paksa selama kurang lebih 1 tahun.

Gua Jepang ini terbuat dari tembok beton yang tertimbun tanah sebagai benteng pertahanan dengan lubang – lubang pengintai ke arah laut untuk mengawasi pendaratan oleh pihak sekutu.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

Pantai Karang Nini

Pantai Karang Nini

Objek wisata ini terletak di Desa Emplak, Kecamatan Kalipucang ± 83 km dari kota Ciamis ke arah Selatan. Sepanjang jalan dari pintu gerbang ke lokasi, akan Anda nikmati kesejukan hutan jati dengan irama alam liarnya. Bukan itu saja, pada beberapa bagian jalan ini akan dihidangkan panorama pantai di kejauhan dengan latar belakang Sagara Anakan. Sungguh sebuah pemandangan yang tak terlupakan apabila Anda datang pada saat cuaca cerah. Sebelum mencapai pantai Anda pun akan menjumpai Pondok Wisata yang dikelola oleh Perhutani Kabupaten Ciamis.

Anda beberapa tipe yang dapat Anda pilih. Dengan tarif/malam yang bersaing Anda dapat bersantai bersama keluaga menikmati suasana alam yang tenang dengan panorama pantai yang menakjubkan.

Di pantai ini terhampar batu-batu karang yang salah satunya menyerupai seorang nenek (nini dalam bahasa Sunda) yang sedang menunggu si kakek, sehingga tempat ini dinamakan Pantai Karangnini.

Wana Wisata Karangnini adalah obyek wisata alam yang merupakan perpaduan hutan dan pantai. Hamparan hutan Jati dan rimba yang lebat bertaut dengan lautan lepas, ditingkah debur ombak dan berujung di langit biru lazuardi yang membentuk garis horizon di kejauhan, merupakan pesona alam yang menyimpan misteri kebesaran dan keagungan Tuhan.

Dari silhuet mentari di ufuk timur, membayang pulau Nusa Kambangan dan teluk Pananjung di selatan, serta kelokan jalan kereta api peninggalan Belanda yang menghilang di ujung terowongan.

Kenangan tempo doeloe menerawang dalam lamunan sepur yang sarat muatan, terengah merengkuh tanjakan dan hilang di kelok jalan, menyisakan bunyi raungan keletihan.

Semua keindahan itu dapat dinikmati melalui fasilitas:

  • Lima pondok wisata berarsitektur tradisional Sunda dengan kapasitas rata-rata tiga kamar
  • Saung pertemuan Bale Rancage
  • Menara pandang dilengkapi teropong
  • Beberapa shelter untuk rileks memandang laut lepas
  • Joging track
  • Hidangan makan malam ikan bakar
  • Tempat Parkir yang luas dan aman
  • Tempat bermain anak-anak
  • Camping ground kapasitas 300 orang

Joging melalui jalan setapak bisa dilakukan sambil menikmati berbagai jenis flora dan fauna yang hidup di hutan sekitar, seperti Jati (Tectona Grandis), Mahoni (Sweitenia Mahagoni), Angsana (Pterocarpus Indicus Willd), Ketapang (Terminalia Catappa), Keben (Baringtonia Asiatica), Johar (Casia Siamea) dan jenis-jenis lainnya

Sedangkan fauna seperti Musang (Paradoxorus Hermaproditus), Tupai (Callosiorus Notatus), Kera (Presbytis Cristata).

Wana Wisata Karangnini yang dikelola Perum Perhutani, berada pada jalur wisata Ciamis-Pangandaran. Jarak dari Bandung sekitar 200 km atau 80 km dari kota manis Ciamis, 10 km sebelum Pantai Pangandaran. Karangnini dapat dicapai dengan kendaraan umum atau pribadi, masuk sekitar 2 km, tersembunyi dari kebisingan dan menghadap laut lepas Samudra Indonesia.

Ketinggian dari muka laut sekitar 100 meter. dengan suhu 24 – 30 Derajat Celcius dan kelembaban udara rata-rata 85%.

Selain keindahan alam dapat dinikmati pula obyek-obyek kunjungan lainnya:

  • Makam Cikabuyutan dan mata air Sumur Tujuh yang dipercaya dapat membuat orang awet muda dan mampu menyembuhkan berbagai pernyakit
  • Beberapa goa keramat, seperti Goa Dompet, Goa Panjang, Goa Parat dan Goa Pendek, yang masing-masing m miliki ciri khas dan kisah yang berbeda. Konon Gua Panjang merupakan jalan tembus menuju Kasunanan Cirebon.
  • Makam Eyang Anggasinga Wencana dan Mahapatih Bagaspati
  • Aquarium alam di muara Cipangbokongan, dimana saat air laut surut, kita dapat menikmati berbagai jenis ikat hias yang terjebak di relung-relung terumbu karang.
  • Meneropong pulau Nusa Kambangan di sebelah timur dan cagar alam Pananjung di sebelah selatan, dari menara pandang.

Nama Karang Nini diberikan masyarakat sekitar yang percaya bahwa tempat ini merupakan simbol cinta dan kesetiaan sejati antara kakek (aki dalam bahasa Sunda) dan nenek (nini dalam bahasa Sunda). Konon saat itu sang kakek melaut untuk memancing hingga akhirnya tidak pernah kembali lagi. Kemudian sang Nenek meminta dan memohon kepada Ratu Pantai Selatan untuk dipertemukan dengan sang kekasih hatinya, dan tak lama kemudian muncullah sebuah karang yang mengambang sebagai perwujudan jasad sang kakek.

Batu karang tersebut dinamakan Bale Kambang, di mana orang yang berdiri di atasnya akan merasa bergoyang. Setelah itu sang nenek bersemedi dan meminta agar selalu berdekatan dengan sang kakek. Tidak lama kemudian dikabulkanlah permintaannya dan menjelmalah sang nenek menjadi sebuah karang yang tepat menghadap ke arah Bale Kambang.

Selain itu di kawasan ini juga terdapat daya tarik wisata lain seperti Mata Air Sumur Tujuh yang dipercaya dapat membuat awet muda, juga aquarium alam di muara Cipangbokongan yang sangat menarik di saat air laut surut, di mana para pengunjung dapat melihat berbagai jenis ikan hias yang terjebak di relung-relung terumbu.

Koordinat : 7 41′ 1″ S, 108 44′ 11″ E
Telepon: 0265 – 771042
Arah: 45 Km dari Kota Banjar menuju Pangandaran, 200 km atau 80 km dari kota Ciamis, 10 km dari Pantai Pangandaran ke arah timur
Informasi Lebih Lanjut: Kantor Perum Perhutani KPH Ciamis, Jl. Raya Ciamis Banjar Km. 2 Kertasari Ciamis

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com, disparbud.jabarprov.go.id[/alert]