Museum Tambaksari Ciamis

Museum Tambaksari Ciamis

Selintas Museum

Pendirian Site Museum Tambaksari berawal dari sejumlah temuan fosil yang berasal dari wilayah ini. Tambaksari adalah desa kecil di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kisah temuan fosil-fosil yang tak terhitung jumlahnya di daerah itu sebelumnya adalah secara kebetulan. Bukan oleh arkeolog atau peneliti lainnya, melainkan ditemukan oleh sekelompok murid Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tambaksari yang dipimpin Darwa Hardiya Ruhyana, seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Fosil pertama ditemukan oleh siswa bernama Yayat Suryati, berupa potongan gigi besar binatang purba yang diperkirakan hidup antara satu-dua juta tahun lalu.  Sekolah tersebut menyimpan ratusan atau mungkin ribuan fosil vertebrata, mamalia, dan moluska. Ada fosil Proximal tibia (pangkal tulang kering gajah purba), Astragalus (tulang tumir I), Molat (M) atau geraham, Distal humerus (ujung tulang lengan), Stegodon Sp (gajah purba), dan banyak lagi. Bahkan karena begitu banyaknya, fosil-fosil tersebut pernah berserakan di lantai, meja laboratorium, dan sebagian lagi disimpan dalam karung.

Untuk penyelamatan  fosil tersebut, berbagai fihak berusaha membantu menyediakan tempat penyimpanan koleksi , diantaranya pihak Museum Geologi pada tahun 1996, menyusul Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTN) Yogyakarta, Balai Arkeologi Bandung, Pusat Pengembangan Geologi, yang saat itu bekerja sama dengan Universitas Tennessee dan Universitas Alabama, Amerika Serikat.

Situs Tambaksari dianggap sangat potensial, sebagai tempat temuan  fosil-fosil binatang purba, terutama di daerah yang terletak di Urug Kasang. Untuk upaya penyelamatan dan penyimpanan temuan fosil-fosil tersebut, maka Pemerintah Kabupaten Ciamis pada awal tahun 2001 berinisiatif membangun site museum yang dinamakan Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Tambaksari. Untuk pentaan koleksinya,  dibantu oleh Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Koleksi Museum

Koleksi yang tersimpan di Site Museum Tambaksari  terdiri atas (1) Fosil Hewan Kuda Nil (fosil rusuk, fosil sendi, fosil rahang, fosil gigi, fosil taring), (2) Fosil Hewan Gajag Purba (fosil tulang belakang, fosil tengkorak belakang, fosil kaki belakang, fosil rahang belakang, fosil gigi belakang, dan fosil engsel belakang), (3) Fosil Hewan Rusa Purba (fosil sendi, fosil kaki, fosil tulang belakang, fosil rusuk, fosil rahang, fosil tanduk, fosil gigi), (4) Fosil Hewan Sapi (fosil rahang bawah kiri, fosil rahang bawah kanan), (5)  Fosil Tanah (fosil abu kehitaman, abu kecoklatan, dan hitam), (6) Fosil Kayu , (7) Fosil Daun, (8) Fosil Gigi Ikan, (9) Fosil Sisik Ikan, (10) Deposit Kerang, (11) Kerang, (12) Fosil Kura-kura Purba.

Alamat

Ds. Tambaksari, Kec. Tambaksari Kab. Ciamis

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]
Wayang Landung

Wayang Landung

Atraksi Seni Wayang Landung yang baru seumur jagung, langsung menuai prestasi. Sejak diciptakan awal Agustus 2007 oleh seniman Ciamis Pandu Radea (yang juga wartawan budaya SK Priangan) seni helaran kreasi baru ini mampu menjuarai 2 event besar. Prestasi pertama yang diraih Wayang Landung yaitu tampil sebagai 10 terbaik dalam kegiatan Parade Budaya Nusantara di Bali pada September 2007. Kegiatan prestisius tersebut diikuti oleh 50 peserta dari dalam dan luar negeri. Saat itu Wayang Landung menjadi utusan dari Kabupaten Ciamis sekaligus mewakili Jawa Barat bersama Kabupaten Sumedang.

Kemudian pada even Parade Kemilau Nusantara yang usai diselenggarakan pada 25 November 2007, untuk tingkat Jawa Barat yang diikuti 24 kabupaten, Wayang Landung sebagai andalan Kabupaten Ciamis mampu meraih juara ke 2 setelah kontingen Cirebon yang menjadi juara pertama dengan kesenian Buroq-nya. Sementara juara ke 3 diraih Kabupaten Subang. Sedangkan untuk tingkat Nasional yang diikuti oleh 12 Provinsi, Jawa Barat yang diwakili oleh kesenian Bebegig (Juara 1 tingkat Jawa Barat tahun 2006) yang juga masih berasal dari Kabupaten Ciamis harus mengalah kepada kontingen yang datang dari jauh yaitu Sumatra Barat sebagai juara pertama, disusul oleh Kalimantan Tengah dan Banten.

Hampir seluruh kabupaten menampilkan jenis kesenian tradisi yang ada didaerahnya masing-masing. Untuk wilayah Priangan, Kabupaten Garut menampilkan “Angklung Buncis”, Sumedang menampilkan seni rengkong dalam prosesi “Ampih Pare” , Kotif Banjar “Jampana”, Kota Tasikmalaya menampilkan “Angklung Badud” dan Kabupaten Tasikmalaya menampilkan “Tari Batok” yang dipadukan dengan seni tradisinya.

Menurut Pandu, Prestasi bagi Wayang Landung bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah mengembangkannya di masyarakat. “Wayang Landung mudah dibuat oleh siapa saja, murah pula biayanya karena terbuat dari unsur dedaunan yang ada disekitar rumah, bentuknya pun menarik karena memiliki tinggi 4 meter dengan bentuk Wayang Golek.” Ujar pria yang juga menciptakan dan tengah mengembangkan seni pertunjukan Loyang (longser wayang) dan Wayang Sekar (wayang anak-anak) dalam wadah Komunitas Sangkala Disbudpar Ciamis.

Wayang Landung memang diadaftasi dari beberepa idiom tradisi. bentuknya diambil dari orang-orangan sawah namun wanda dan rupanya dari wayang golek. Terbuat dari jerami, eurih, kararas, dan janur. Memainkan Wayang Landung sama halnya dengan memainkan Wayang Golek, karena tangannya diberi tuding bambu yang dipegang oleh seorang penari yang memanggulnya. Kendati beratnya mencapai 25 kg, namun pemanggulnya dapat bergerak lincah untuk melakukan konfigurasi tari maupun berjalan jauh.

Adanya kreasi-kreasi baru yang diangkat dari nilai ketradisian menurut Pandu merupakan hal penting. Selain memperkaya khazanah seni budaya daerah, hal itu juga wujud dari kreatifitas seniman. “Mungkin puluhan tahun ke depan seni kreasi baru ini akan menjadi tradisi pula seandainya berkembang dimasyarakat” ujar Pandu. Lebih jauh Pandu juga mengatakan bahwa saat ini seni tradisi Indonesia yang merupakan kekayaan intelektual terancam diakui juga oleh negara lain sebagai kesenian aslinya, seperti kasus Angklung, Lagu Rasa Sayange dan terakhir Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malaysia.

“Pemerintah harus singkil memberikan perlindungan terhadap Seni Tradisi Indonesia. Baik itu dengan undang-undang hak cipta, maupun dengan semakin memperbanyak event-event budaya di berbagai wilayah agar seni tradisi semakin terpublikasikan lebih luas lagi. Disamping itu banyaknya kegiatan tersebut memberi gairah kepada seniman penggarapnya untuk menampilkan yang terbaik sekaligus meningkatkan daya tarik wisata daerah”.

Beberapa video Wayang Landung bisa diperoleh di link ini

[alert style=”white”] referensi: wisataciamis.com, foto: wayanglandung.blogspot.com [/alert]

Pantai Karapyak

Pantai Karapyak

Ada sejumlah objek wisata pantai di Kabupaten Ciamis selain Pantai Pangandaran dan Pantai Batu Hiu. Keindahan alam dan pantai yang satu ini melebihi keindahan pantai di Pangandaran maupun Batu Hiu. Pantai yang dimaksud adalah Pantai Karapyak, terletak di Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis. Sekitar 20 km dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun-alun Kota Ciamis.

Untuk menuju lokasi ini tidak begitu sulit, karena akses masuk ke sana sudah bagus, bahkan ada penunjuk jalan yang bisa mengarahkan wisatawan ke Pantai Karapyak. Yang patut disayangkan, belum adanya angkutan umum yang bisa membawa pengunjung ke Pantai Karapyak, sekalipun ojek. Hanya pengunjung yang mempunyai kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan yang bisa mencapai Pantai Karapyak.

Keindahan Pantai Karapyak memang belum bisa mengalahkan Pantai Pangandaran. Namun bukan berarti tidak layak dikunjungi dan dijadikan objek wisata. Pantai ini mempunyai kelebihan hamparan pasir putih yang memanjang sepanjang kurang lebih 5 km dipadu dengan tonjolan batu karang. Keindahan semakin kentara, ketika ombak laut mulai surut, ikan hias berenang ke sana kemari di sela-sela batu karang. Kepiting kecil dan kumang (kepiting berumah) keluar masuk lubang pasir sambil membawa makanan. Tak hanya itu, cangkang kerang dan hewan moluska lainnya serta karang putih berserakan di sepanjang pantai, menggoda kita untuk mengambil dan mengumpulkannya untuk dijadikan suvenir laut.

Batu karang yang menghampar dan menjorok hampir ke tengah lautan, memang menjadi surga bagi ikan laut. Ada puluhan ribu bahkan puluhan juta ikan hias yang hidup di sana, jelas membuat Pantai Karapyak lebih hidup dan menantang. Selain hamparan pasir putih dan batu karang, pantai ini pun mempunyai tebing-tebing curam nan indah, yang siap mengundang para petualang untuk menjelajahi tiap jengkal tebing karangnya. Di bawah tebing curam, deburan ombak siap mengolah adrenalin hingga ubun-ubun. Buih-buih ombak di bawah tebing curam seolah menanti cucuran keringat petualangan Anda.

Selain menawarkan sejuta keindahan dan petualangan, Pantai Karapyak terbilang masih alami dan perawan. Ini ditandai masih bersihnya pantai dari serbuan sampah plastik maupun sejenisnya. Kondisi alamnya pun masih alami dan terawat. Hanya sayang, pantai ini kurang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Ini terlihat dari masih jarangnya warung-warung maupun penginapan yang dikembangkan warga setempat.

Hal ini lebih diakibatkan gelombang ombaknya yang tinggi dan menyeramkan, juga pantainya yang curam karena terhubung langsung dengan batu-batu karang. Juga kurangnya akses masuk ke lokasi tersebut. Padahal di Karapyak sudah didirikan menara pengawas pantai serta sarana lainnya yang siap memanjakan para wisatawan. Terlebih pantai ini lokasinya sangat dekat Pulau Nusakambangan. Cukup dengan menyewa perahu, Anda bisa menginjakkan kaki di pulau yang mengundang sejuta misteri ini. Tak hanya itu, Anda pun bisa berjalan-jalan menyusuri muara Sungai Citanduy atau lebih dikenal dengan sebutan Sagara Anakan. Jauh di tengah laut, berdiri tegak dua batu karang yang membentuk pintu masuk ke Sagara Anakan. Menurut nelayan setempat, Maryono, batu karang tersebut dijadikan benteng pertahanan Dermaga Sagara Anakan dari serbuan ombak yang ganas.

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com, ciamiskab[/alert]

Ciamis, Kota Manis Manjing Dinamis

Ciamis, Kota Manis Manjing Dinamis

Ciamis, sebuah Kabupaten di daerah Provinsi Jawa Barat, suatu kota dimana saya dilahirkan, kota dimana saya tumbuh. Kabupaten Ciamis berada pada posisi strategis yang dilalui jalan Nasional lintas Jawa Barat-Jawa Tengah dan jalan Provinsi lintas Ciamis-Cirebon-Jawa Tengah. Kabupaten Ciamis ini awalnya disebut dengan nama Galuh, karena dahulu di Ciamis ini terdapat sebuah Kerajaan yang bernama Galuh. Singkatnya kerajaan Galuh ini terkenal dengan kejadian yang masih terkenang hingga sekarang, yaitu terjadinya perang Bubat antara Kerajaan Sunda (Galuh) dengan Majapahit. Peperangan tersebut terjadi karena Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit, yakni Patih Gajah Mada yang menghendaki Puteri Sunda, Dyah Pitaloka, menjadi upeti. hingga peperangan pun terjadi dan hampir semua gugur.

Dibalik cerita perang Bubat pun yang masih menjadi mitos adanya Sunda-Jawa tersebut, masih banyak potensi wisata dan situs budaya di Ciamis. objek wisata budaya di Ciamis diantaranya ada Situ Lengkong Panjalu (dengan objek wisata alam, danau dan ada beberapa peninggalan kerajaan kuno), Astana Gede (Bukti keberadaan Kerajaan Sunda), Karangkamulyan (pusat peninggalan kerajaan Galuh), Kampung Kuta (kamput adat), Urug Kasang (tempat ditemukannya fosil-fosil), Situs Gunung Susuru (tinggalan Punden Berundak dari masa Kerajaan Hindu).

Ciamis juga terkenal dengan Pantainya yang sangat indah, yaitu Pantai Pangandaran dan cagar alam Pananjung. Pangandaran merupakan objek wisata di Kabupaten Ciamis yang merupakan primadona pantai di Provinsi Jawa Barat. Pangandaran sendiri memiliki banyak keistimewaan, diantaranya dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari dari tempat yang sama, Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan orang untuk berenang dengan aman. Kemudian, terdapat pantai dengan hamparan pasir putih yang luas dimana setiap pengunjung bisa melihat batu karang dan ikan-ikan hias dengan jelas. Pada pesisir pantai pasir putih ini pengunjung bisa melakukan penyelaman. Di kawasan ini juga terdapat cagar alam, yang didalamnya terdapat Goa-Goa Alam yang terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Terdapat pula Goa Belanda sebagai tempat persembunyian tatkala mendapat serangan tentara Sekutu.

Masih banyak objek wisata lainnya yang perlu anda kunjungi, karena Ciamis, Kota Manis dengan segala objek wisata yang tidak kalah dengan daerah lain. Makanan khas Ciamis yakni Galendo, mungkin anda penasaran apa Galendo ? Galendo sejenis ampas dari minyak kelapa

Jika anda jalan-jalan ke Ciamis, jangan lupa mampis di Taman Raflesia, alun-alun kota Ciamis yang juga merupakan maskot Kota Manis ini. Dinamakan Taman Raflesia, karena di Taman tersebut di tengah-tengahnya terdapat patung raksasa bunga raflesia. Taman ini selalu rame dari pagi hingga tengah malam, dari mulai anak kecil, hingga orang tua banyak yang suka sekedar main di alun-alun ini.

Bagi anda yang belum pernah main ke Ciamis,yuk, maen kesini 🙂

[alert style=”white”]referensi: wisata.kompasiana.com[/alert]

Situs Gunung Susuru

Situs Gunung Susuru

Situs Gunung Susuru terletak di Kecamatan Cijeungjing. Luas situs ini 7 Ha yang dikelilingi oleh 2 sungai di bawahnya, yaitu Sungai Cimuntur dan Cileueur.

Situs Gunung Susuru merupakan tingalan punden berundak dari masa Kerajaan Hindu (Masa Klasik). Disana terletak 3 buah goa yang mempesona, 1 buah sumur batu dan peninggalan lainnya seperti manik-manik, keramik, senjata, batu pipisan, batu peluru dan lain-lain.

[alert style=”white”]referensi: ciamiskab[/alert]

Kampung Adat Kuta Ciamis

Kampung Adat Kuta Ciamis

Kampung Adat Kuta merupakan sebuah komunitas adat berupa foklor atau Cerita rakyat yang perlu di lestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan sebagai asset wisata budaya local daerah di Kab.Ciamis dan Jawa Barat, Karena Kampung adat kuta pada tahun 2002 mendapatkan Kalpataru oleh Presiden RI Mega Wati Soekarno putrid sebagai kategori penyelamat lingkungan dan adat istiadat di Indonesia.

Masyarakat tradisional yang disebarkan dalam bantuk relatif tetap atau dalam bentuk standar dan disebarkan di antara kolektif tertentu dari waktu yang cukup lama dengan menggunakkan kata klise (James Danandjaya, (2007 : 4). Jan Harold Brunvand seorang ahli folklor dari AS dalam James Danandjaja (2007 : 21) menyebutkan pembagian folklor dalam tiga kelompok besar yaitu :

Folklor lisan, yaitu folklor yang bentuknya memang murni lisan sebagai contoh adalah cerita rakyat, nyanyian rakyat, dll.

Folklor sebagian lisan, yaitu folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan bukan unsur lisan misalnya : teater rakyat, kepercayaan rakyat, adat istiadat, dll.

Folklor bukan lisan, yaitu folklor yang bentuknya bukan lisan walaupun pembuatnya diajarkan secara lisan, sebagai contoh adalah arsitektur, makanan, minuman, dll. Dari teori Jan Harold Brunvand di atas dapat diketahui bahwa salah satu jenis folklor adalah cerita rakyat yang masuk ke dalam golongan folklor lisan. Cerita rakyat merupakan cerita yang terdapat dalam kelompok masyarakat dan disebarkan dengan lisan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Isi dari cerita rakyat biasanya berisi berbagai nilai-nilai ajaran namun cerita itu bersifat anonim, maksudnya dalam cerita  rakyat  tidak  dapat  diketahui  dengan  pasti  siapa  pengarangnya. Salah satu efek dari folklor yang bersifat anonim ini adalah memungkinkan cerita rakyat ini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan waktu serta kehendak informan sebagai pencerita yang berbeda-beda.

Penelitian terhadap folklor masih sangat perlu untuk dilakukan, selain itu untuk mendapatkan bentuk cerita yang lengkap, penelitian terhadap cerita rakyat perlu dilakukan guna menghindar kelenyapan, sehingga penelitian tersebut nantinya bisa menemukan hasil-hasil yang memberikan manfaat bagi manusia, misalnya saja mengenai nilai-nilai pendidikan yang ada  pada folklor adat istiadat  yang sedang diteliti.
Kampung adat Kuta merupakan  salah satu Kampung adat di Kabupaten Ciamis. Kampung adat  Kuta berada di Desa Karangpaningal Kecamatan Tambaksari Kabupaten Ciamis.

Secara administratif  masyarakatnya masih melaksanakan tata cara kebiasaaan adat istiadat kebiasaan nenek moyang secara turun temurun, mereka hidup dari hasil hutan, berkebun, bersawah dan berladang. Sebagai kelompok sosial, mereka juga memandang lahan, tidak saja sebagai lahan produksi, tetapi juga sebagai suatu yang suci yang disepati secara bersama-sama dengan adanya hukum adat yang berlaku secara turun temurun, dengan adat istiadat yang masih dijaga oleh masyarakat Kampung adat Kuta.

Adat-istiadat merupakan kebiasaan atau kesukaan masyarakat setempat ketika melaksanakan upacara adat, berkesenian, hiburan, berpakaian, olah raga dan sebagainya.

Terwujudnya adat istiadat ini diibaratkan menanam tumbuhan yang tidak terlalu kuat pohonnya seperti kacang panjang dan lada, kacang panjang atau lada menjadi kuat batangnya hanya jika tanah di sekitarnya selalu (digemburkan) sehingga kandungan oksigen dalam tanah lebih banyak dan akarnya mudah menembus tanah. Pohon dapat berdiri tegak dan makin tinggi jika diberi kayu anjungan. Pada saat orang lupa mengambak dan mengajung, maka tumbuhan menjadi kerdil atau mati, demikian pula pelaksanaan adat-istiadat ini di tengah-tengah masyarakat.

Sehingga apabila dibiarkan berlarut-larut ada kemungkinan akan memudar bahkan lenyap atau hilang karena kemajuan jaman. Keberadaan Kampung adat Kuta dan masyarakat pendukungnya diproyeksikan dalam suatu bentuk adat istiadat, hukum adat, ritual adat dan, rumah adat yang masih dipegang teguh secara turun temurun sampai sekarang. Kampung adat Kuta masih mempertahankan nilai-nilai adat istiadat melalui hukum adat yang berlaku di daerahnya. Misalnya untuk masuk ke hutan keramat hanya hari senin dan jumat, tidak boleh meludah, mengambil barang-barang yang ada di hutan keramat, tidak boleh memakai perhiasan, tidak boleh mengunakan pakaian serba hitam, larangan menggunakan alas kaki, larangan memakai pakaian dinas. Bahkan kekhasan kampung adat kuta yang berbeda dengan kampung adat lain yaitu di kampung adat Kuta menguburkan orang yang meninggal dunia ke kampung lain, tidak boleh atau larangan membuat sumur, sampai sekarang hukum adat tersebut masih berlaku.

Pada umumnya, cerita asal usul kampung kuta terbagi dua bentuk paparan, yaitu kampung kuta pada masa kerajaan galuh dan masa kerajaan Cirebon, namun keduanya ternyata memiliki  kesamaan. Dalam beberapa dongeng buhun mereka menganggap dan mengakui sebagai keturunan ratu galuh, dan keberadaannya di kampung kuta sebagai penunggu atau penjaga kekayaan ratu galuh. Tersebutlah seorang raja bernama Prabu Sukaresi ( Prabu Adimulya Permana Dikusuma th.742-752 Masehi ) mengembara bersama beberapa pengawal terpilih yang berpengalaman.

Pengembaraan dilakukan untuk mencari daerah yang cocok dijadikan pusat pemerintahan kerajaan, saat untuk pusat kerajaan. Prabu Ajar  Sukaresi segera memerintahkan pengawalnya untuk membangun peristirahatan, dia sendiri akan meneliti dan meninjau secara sesama daerah sebrang cijolang tersebut.

Setelah penelitian, Prabu Ajar Sukaresi mengajak pasukannya untuk memulai persiapan membuka  daerah yang akan dijadikan pusat kerajaan. Bekas tempat peristirahatan sementara di tepi sungai cijolang tadi, sekarang di sebut dodokan artinya bekas tempat peristirahatan raja.

Pada suatu hari, Prabu Ajar  Sukaresi berkeliling daerah ternyata daerah tersebut dikelilingi tebing tinggi, melihat kondisi ini, Prabu Ajar Sukaresi, Beranggapan bahwa daerah ini, tidak dapat berkembang dang di perluas karena dibatasi tebing. Dengan terpaksa, persiapan yang telah dilaksanakan untuk membangun pusat pemerintahan di tinggalkan. Karena letaknya berada di sebuah lembah yang di kelilingi tebing, maka daerah ini di sebut Kampung Kuta.

Untuk selanjutnya, karena dilator belakangi oleh beberapa alasan, maka Raja Galuh tidak jadi membangunya di kampung kuta, melainkan di Desa Karangkamulyan sekarang kecamatan Cijengjing, untuk memelihara Kampung Kuta, Raja Galuh Mempercayai Raja Cirebon,dan Rja Solo X untuk mengutus orang kepercayaannya, yaitu Raksa Bumi dari Cirebon dan Bata Sela dari Solo. Diantara dua orang yang ditugaskan, yang paling cepat dating ke Kampung Kuta Yaitu traksabumi. Kemudian traksa bumi menetap di Kampung Kuta dengan Memelihara keutuhan daerah Kampung Kuta dengan sambutan Ki Bumi yang di beri gelar Kuncen ( Juru Kunci).Ki Bumi menjaga beberapa peralatan/perbekalan yang belum sempat dibawa kota Raja Baru ( Karangkamulyan).Untuk selanjutnya Ki Bumi tersebut merupakan leluhur yang menurunkan kuncen Kampung Kuta sampai sekarang .

[alert style=”white”]oleh: Eman Hermansyah Sastrapraja (Kasi Sejarah dan purbakala Disbudpar Kab. Ciamis)[/alert]