Batik Ciamisan, Bersahaja Tetapi Elegan

Batik Ciamisan, Bersahaja Tetapi Elegan

Kesahajaan merupakan ciri khas batik ciamis. Warna hitam, putih, dipadu coklat kekuningan, begitu menonjol pada motif batik daerah ini. Ragam hias batik ciamisan bernuansa naturalistik, banyak menggambarkan flora dan fauna serta lingkungan alam sekitar.

Kesederhanaan corak batik ciamis tak lepas dari sejarah keberadaannya yang banyak dipengaruhi daerah lain, seperti ragam hias pesisiran dari Indramayu dan Cirebon. Selain itu, pengaruh batik nonpesisiran, seperti dari Solo dan Yogyakarta, tak kalah dominan.

Pengaruh dari wilayah pesisir dan nonpesisir yang berpadu dengan nilai-nilai budaya Sunda dan kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Ciamis melahirkan ragam motif batik ciamisan yang sesuai dengan gaya dan selera masyarakat setempat, bersahaja tetapi elegan.

Alhasil, corak batik ciamisan tidak memiliki makna filosofi, perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat. Kesederhanaan itu tertuang dalam bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari.

Motif alam sekitar yang banyak dijumpai dalam batik ciamisan adalah rereng atau lereng. Motif yang menggambarkan tebing miring ini dipengaruhi motif parang pada batik Jawa Tengah. Motif lain adalah kumali, berupa empat bentuk yang mengelilingi pusat, dan cupat manggu, motif geometris bergambar buah manggis.

Masa keemasan batik ciamis berlangsung pada era 1960-an hingga awal 1980-an. Dari sekitar 1.200 perajin batik di Ciamis waktu itu, 421 perajin di antaranya menjadi anggota Koperasi Rukun Batik yang berdiri tahun 1939.

Koperasi itu dapat memenuhi segala kebutuhan perajin batik, mulai dari bahan baku sampai pemasaran produk. Rukun Batik berhasil membeli sejumlah aset, bahkan mendirikan pabrik kain bahan baku batik di Jalan Sudirman, Ciamis.

Namun, tahun 1980-an pamor batik ciamisan tenggelam, terlibas kemajuan industri tekstil yang menghasilkan batik cetak (“printing”). Kondisi itu diperparah dengan letusan Gunung Galunggung tahun 1982 yang menyebabkan matahari nyaris tidak tampak selama setahun akibat debu vulkanik yang tak henti menyembur. Para perajin tak bisa menjemur batik karena tidak ada cahaya matahari.

Dari ribuan perajin batik yang pernah jaya pada 1960-an, kini hanya tersisa satu unit usaha yang masih berproduksi. Pabrik sekaligus markas Koperasi Rukun Batik sudah lama berhenti beroperasi. Lahan di depan pabrik kini berubah fungsi menjadi rumah petak yang dikontrakkan.

[alert style=”white”]referensi: kompas[/alert]

Batik Ciamisan, Sarasehan Batik Jawa Barat

Batik Ciamisan, Sarasehan Batik Jawa Barat

20/11/2009: YBJB dan Disperindag Jabar menggelar Saresehan Batik Jawa Barat ke-2 di Paris van Java mall, Bandung. Tema saresehan ini adalah mengangkat dan melestarikan batik Ciamisan yang sudah hampir punah karena tidak ada regenerasi.

[alert style=”white”] foto: foto.detik.com [/alert]

Batik Ciamis, Batik Ciamisan

Batik Ciamis, Batik Ciamisan

Batik Ciamis berbeda dengan batik di daerah lain. Coraknya tidak terlalu ramai. Ada yang bermotif daun, ada pula yang bermotif parang rusak. Ciri yang paling dominan adalah pada penggunaan warna. Batik Ciamis hanya menggunakan dua warna, misalnya warna coklat dan hitam dengan dasar putih.

         

DI era 60-an, kain batik tradisional (motif maupun pengerjaannya) masihmenikmati masa kejayaannya. Di Jawa Barat, misalnya, beragam motif khas hadir dengan segala keunggulannya. Uniknya motif batik ini identik dengan nama asal kain itu dibuat. Sebut misalnya motif asal Kab Garut dikenal dengan nama garutan, cirebonan (Cirebon), tasikan (Tasikmalaya), dan ciamisan (Ciamis).

Akan tetapi motif ciamisan kini nampaknya terasa asing. Nyaris orang tak kenal lagi kain ini. Padahal di tahun 60-an boleh dibilang kain batik itu sempat pula menikmati masa kejayaan. Di daerah paling timur Jabar ini, saat itu tak kurang dari 1.200 perajin menekuni batik tulis motif ciamisan. Bahkan pada era itu, mereka yang akan membeli harus rela menunggu paling cepat seminggu, barulah mendapatkan pesanannya.

                 

Para pemesan batik khas daerah Ciamis ini, tidak datang dari daerah sekitar Jabar atau Jakarta, tapi dari Surabaya, Semarang, Samarinda, Ban­jarmasin, hingga Makassar. Daerah Ciamis ini memiliki khas atau motif tersendiri untuk batik yaitu dinamakan sarian.

Generasi penerus batik khas Ciamis, bahwa ciamisan memiliki dasar putih. Ini lain dengan garutan yang memiliki dasar kuning. Sedangkan warna dominan pada ciamisan perpaduan warna coklat soga dan hitam. Ciamisan juga memiliki dua motif rereng, yakni rereng eneng dan rereng seno. Motif rereng eneng kini diaplikasikan untuk baju, sedangkan rereng seno untuk kain bawahan.

Seperti halnya seniman atau perajin batik, dalam menuangkan objek gambar selalu mengambil dari lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Tanaman daun rente dan daun kelapa, adalah dua jenis tanaman yang dijadikan gambar ciri khas ciamisan. Tanaman rente yang biasa tumbuh di kolam-kolam penduduk Ciamis dan dijadikan pakan ikan, diangkat pada kain mori dan dituangkan jadi gambar untuk batiknya. Demikian pula keakraban perajin batik dengan pohon kelapa yang banyak tumbuh di daerah itu, jadi ilham untuk motif ciamisan. Motif ciamisan tampil sebagai kain yang kalem. Mungkin ini sesuai dengan jiwa masyarakat Ciamis yang tenang dan tidak bergejolak.

Sebagai bukti dari keberhasilan usaha batik di daerah itu sempat muncul Rukun Batik Ciamis (RBC). Oraganisasi ini merupakan koperasi yang menampung para perajin batik. RBC berdiri sebelum kemerdekaan dan mengalami puncak kejayaan di era 60-an.

[alert style=”white”]referensi: diditds.wordpress.com[/alert]