BNNK Ciamis Rangkul Pecinta SCOOTER

BNNK Ciamis Rangkul Pecinta SCOOTER

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Ciamis melalui Seksi Pencegahan kembali menggelar advokasi dalam upaya penegakkan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Kali ini giliran para pengurus Paguyuban Scooter Galuh (PASGAL) yang menjadi sasaran advokasi. Acara dilaksanakan pada Kamis (29/08/2013) lalu di Saung Sanggar Seni Rengganis Ciamispun berlangsung dengan penuh kekeluargaan dan keakraban.

Mengawali acara, Kepala BNNK Ciamis, Engkan Iskandar dalam sambutannya mengungkapkan harapannya atas peran serta yang maksimal dari para pecinta scooter yang tergabung dalam Pasgal, untuk berperan aktif dalam menegakan P4GN di wilayah Kabupaten Ciamis.

“Sebagaimana tertuang dalam Inpres Nomor 12 tahun 2011 tentang Jakstranas P4GN, yang kemudian di Kabupaten Ciamis ditindaklanjuti dengan Intruksi Bupati Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Rencana Aksi Daerah dalam Pelaksanaan P4GN, maka Pasgal dan komunitas-komunitas lainnya yang berada di Kabupaten Ciamis, dituntut untuk bahu-membahu memberikan informasi yang benar tentang bahaya penyalahgunaan narkoba kepada sesama anggota dan komunitas lainnya” tegas Engkan Iskandar.

Harapan senada pun diungkapkan oleh Kasat Binmas Polres Ciamis, AKP. Suyadi yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan advokasi tersebut.  Bahkan dalam uraiannya, Suyadi menekankan perbedaan antara komunitas pecinta motor atau club motor dengan geng motor.

“Salah satu ciri yang paling menonjol adalah, para pecinta motor yang tergabung dalam suatu komunitas motor pasti akan melakukan hal-hal positif, termasuk ikut aktip melaksanakan P4GN, sedangkan geng motor kerap meresahkan” ungkap Suyadi.

Ketua Pasgal, Agus S. Markusi menyambut baik kegiatan tersebut. Bahkan Agus mengaku bangga pihaknya bisa mendapatkan kesempatan untuk diajak berperan aktif dalam penegakan P4GN. “Suatu kesempatan berharga bagi kami bisa mengikuti kegiatan advokasi ini. Apalagi kami menyadari bahwa kami sangat kekurangan informasi tentang Narkoba” pungkas Agus.

[alert style=”white”] Sumber : Press Release BNNK Ciamis (ciamiskab)[/alert]

Ngabuburit di Jembatan Cirahong

Ngabuburit di Jembatan Cirahong

SAAT bulan Ramadan seperti sekarang, Jembatan Cirahong yang berada di perbatasan Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, dengan Kecamatan Manonjaya di Kabupaten Tasikmalaya, menjadi lokasi ngabuburit warga. Tak hanya dari dua kebupaten tersebut, warga datang juga dari daerah tetangga seperti Kota Banjar.

Seperti terlihat Selasa (7/8), sejak pukul 16.00 warga sudah berdatangan ke Cirahong untuk melihat kereta api melintas di atas jembatan. Biasanya kereta muncul pukul 16.30 jika tidak ada halangan. Ada juga yang muncul saat sekitar pukul 18.00, sehingga kereta yang lewat pada jam ini kerap dijadikan patokan telah tibanya waktu untuk berbuka.

Suara khas kereta di atas, serta alunan irama dari bilah-bilah kayu jembatan yang dilewati mobil dan motor di bagian bawah, menjadi irama khas Cirahong. Suara tersebut berpadu, menyusun nada unik yang mengundang banyak masyarakat untuk menyambanginya.

Tak terkecuali bagi Ade Juhayana dan rekan-rekannya dari Divisi Anak Muda Pecinta Alam (Dampal) SMA Pasundan Tasikmalaya. Mereka sengaja ngabuburit di Cirahong. Ramlay, panggilan akrab Ade, menjajal ekstrimnya jembatan dengan cara berlatih memanjat.

Menurutnya, bergelantungan pada seutas tali di bawah jembatan yang panjangnya mencapai 202 meter dan di atasnya ada kereta api lewat, punya sensasi yang sangat berkesan. Saat ada kereta api lewat jembatan terasa bergoyang. Alunan khas kayu yang terlintasi kendaraan menambah suasanya lebih berbeda. “Itu yang kami tunggu-tunggu, saat bergelantungan dan kebetulan ada kereta lewat ini anugerah luar biasa,” kata Ade.

Kipli, Raden, dan Tiwan, yang merupakan senior Ade, merasakan betul dengan bergelantungan di atas jembatan sangat tidak terasa. “Ujug-ujug poek we teu karasa nyerelekna,” ujar Tiwan.

Soal makanan untuk berbuka, jangan khawatir. Karena banyaknya warga yang ngabuburit, banyak pula pedagang makanan. Cirahong pun berkembang menjadi lokasi ngabuburit yang menyenangkan. Tak heran, pemandangannya yang khas banyak dijadikan obyek fotografi.
Petang kian menjelang, pengunjung berangsur pulang. Masih ada kereta yang akan lewat esok hari… (Abdul Latif/ ”KP”)***

[alert style=”white”]referensi: kabarpriangan[/alert]

40 Jenis Kesenian Tradisional di Jabar Nyaris Punah

40 Jenis Kesenian Tradisional di Jabar Nyaris Punah

Kesenian tradisional teater dan sandiwara rakyat dari rumpun seni tutur tradisional menjadi bagian dari 10 persen kesenian tradisional yang punah. Tidak kurang dari 40 kesenian tradisional Jawa Barat dari 243 jenis kesenian terancam punah.

“Ada banyak penyebab punahnya kesenian tradisional di Jawa Barat. Selain karena tokohnya meninggal dunia, kesenian sudah tidak mendapat tempat ataupun tidak ditanggap masyarakatnya serta kalah dengan kesenian yang berkembang saat ini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Drs. Nunung Sobari, M.M., dalam paparanya pada acara Forum Diskusi Wartawan Bandung, bertempat di Toko Yu, Jalan Hasanudin Bandung, Rabu (22/2).

Sedangkan kesenian yang terancam punah, ungkap Nunung, kebanyakan berupa seni teater dan sandiwara rakyat, reog, masres dan sebagainya. Dikatakannya, jika tidak ada upaya dari masyarakat maupun pemerintah daerah, seni yang terancam punah ini justru akan punah. Oleh karena itu, lanjut dia, Disparbud Jabar melalui Balai Taman Budaya Jabar melakukan program pewarisan seni dan revitalisasi seni.

Untuk menangani kepunahan sejumlah kesenian tradisional, menurut Nunung, Disparbud Jabar melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) melakukan program revitalisasi dan pewarisan. Program pewarisan yang diselenggarakan sejak tahun 2005 hingga 2011 telah merevitalisasi 11 kesenian tradisional dan tahun 2012 ada tiga kesenian yang masuk program revitalisasi dan 13 kesenian masuk program pewarisan.

Kesenian tradisional yang berhasil direvitalisasi, meliputi kesenian Topeng Lakon (Kab. Cirebon), Gondang Buhun (Kab. Ciamis), Angklung Badud (Kota Tasikmalaya), Parebut Seeng (Kab. Bogor), Goong Kaman (Kab. Bekasi), Cokek (Kab. Bekasi), Gamelan Ajeng (Kab. Karawang), Topeng Menor (Kab. Subang), Randu Kentir (Kab. Indramayu), Seni Uyeg (Kota Sukabumi) dan Ketuk Tilu Buhun (Kota Bandung). “Dari kesebelas kesenian yang punah dan nyaris punah, kesenian Uyeg pada masa kerajaan Padjajaran abad ke 15 yang paling tua, dan tahun ini ada empat yang masuk program revitalisasi,” terang Nunung.

Selain kendala tokoh maupun pelaku seni, menurut Nunung, kendala anggaran menjadi penyebab tersendatnya upaya-upaya pelestarian kesenian tradisional. “Setiap tahunnya Disparbud melalui BPTB Jabar baru hanya mampu menjalankan program revitalisasi antara tiga hingga lima kesenian tradisional, sementara program pewarisan yang baru dilaksanakan tahun 2011 hingga tahun ini direncanakan 23 kesenian,” ujar Nunung.

Namun demikian, menurut Nunung program pewarisan dan revitalisasi yang dilaksanakan Disparbud Jabar melalui BPTB Jabar selain berhasil menyelamatkan kesenian tradisional, juga mengangkat tokohnya serta menghidupkan kembali perekonomian para pelakunya.

Dicontohkannya kesenian tradisional Parebut Seeng yang kini sudah difestivalkan untuk menumbuhkan rasa cinta berkesenian di masyarakat, juga mampu menghidupkan pengrajin alat kesenian yang dipergunakan serta lainnya.

[alert style=”white”]referensi: pikiran-rakyat.com[/alert]

Siswa SMKN 1 Padaherang Memproduksi Semen

Siswa SMKN 1 Padaherang Memproduksi Semen

Gubernur Jabar H. Ahmad Heryawan menyambut baik produksi semen SMKN 1 Padaherang sebagai sebuah kemajuan pendidikan SMK di Jawa Barat. Apalagi kecamatan Padaherang berada di kawasan Jawa Barat selatan yang kaya bahan tambang.

“Produksi semen SMKN 1 Padaherang bisa menjadi lahan wirausaha yang bagus bagi generasi muda kedepan. Kalau yang lain mobil, kita semennya,” ujar Ahamad Heryawan saat mengglar acara ìCurhatî dengan Jajaran SMKN 1 Padaherang, Komite Tenaga Sukwan Indoensia (KTSI), Asosiasi Pembantu Penghulu (APPP) dan Presidium Pemekaran Kab. Pangandaran, di RM Torojol, Minggu (1/7).

Menurutnya, jiwa wirausaha di SMK sangat luas, makanya menjadi tugas wajib bagi guru-guru SMK untuk menanamkan jiwa wira usaha pada semua SMK apapun jurusannya. Termasuk mampu mengolah bahan tambang di lingkungan sendiri, dari pada dijual dalam bentuk mentah ke luar negeri seperti di SMKN 1 Padaherang.

“Pemerintah propinsi Jabar akan membantu pengembangan produksi semen di SMKN 1 Padaherang. Bahan tambang yang ada di Jabar Selatan jangan sampai dijual mentah tapi harus bisa diolah sendiri. Jika dijual mentah banyak ruginya,” kata Ahmad Heryawan yang biasa disapa Kang Aher.

Sementara itu Kepsek SMKN 1 Padherang Asep Agus didampingi Ketua Program Geologi Pertambangan Dadi Hidayat mengatakan, produksi semen Pozolan sudah berjalan selama 3 tahun. Semen Pozolan terbuat dari bahan tambang trast, zeolit dan kapur merupakan jenis semen yang bisa digunakan untuk bahan bangunan selain semen portlan yang biasa beredar di pasaran.

“Siswa SMKN 1 Padaherang Program Geologi Pertambangan baru mampu memproduksi semen jenis Pozolan, karena untuk Portlan masih kekurangan alat yang mampu mengeluarkan panas lebih dari 1400 derajat celcius. Untuk bahan baku semen baik Pozolan maupun portlan tidak masalah karena banyak tersebar di wilayah selatan Ciamis î ujarnya.

Sejak berhasil memproduksi semen dan pupuk phospat, kata Agus, SMKN 1 Padaherang kini terus dibanjiri siswa dan perusahaan tambang yang membutuhkan pekerja.

“Sejak didirikan tiga tahun lalu, jumlah siswa sudah mencapai 1.400 orang, dengan lima keahlian yaitu, geologi pertambangan, Teknik Kemputer Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Elektronika Industri serta Teknik pengolahan migas dan petrokimia,î ujarnya. E-35***

[alert style=”white”]http://www.kabar-priangan.com/news/detail/5225[/alert]

Kujang akan Diajukan sebagai Kekayaan Budaya Dunia ke UNESCO

Kujang akan Diajukan sebagai Kekayaan Budaya Dunia ke UNESCO

Pemerintah provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat (Disparbud Jabar) diharapkan segera melakukan upaya untuk mendaftarkan kekayaan seni budaya tradisi Jawa Barat ke UNESCO. Senjata kujang menjadi salah satu dari 10 kekayaan seni budaya yang rencananya dalam waktu dekat akan diajukan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

“Pemerintah sangat merespon setiap upaya yang dilakukan elemen masyarakat untuk menyelamatkan dan melestarikan seni budaya tradisi. Apalagi ada upaya bersama untuk mendaftarkan kekayaan seni budaya tersebut ke badan dunia (UNESCO),” ujar Staf Ahli Gubernur, Dede Maryana, dalam dialog Usulan Tim Gugus HAKI dan Bahan Usulan World Heritage Warisan Budaya Jawa Barat, Jumat (20/7) bertempat di Operation Room, kantor Disparbud Jabar.

Bahkan menurut Dede Maryana, Tim Gugus HAKI yang dibentuk Disparbud Jabar terdisi dari Prof. Yesmil Anwar, DR. Miranda Risang Ayu dan DR. Boeki Wikagoe, tidak hanya mendaftarkan kekayaan budaya tradisi ataupun masa lalu saja, tetapi juga temuan budaya pada jaman modern. “Selain Kujang, Topeng, Kendang dan juga jargon silih asah silih asih silih asuh, perlu untuk didaftarkan,” ujar Dede Maryana.

Dosen Seni Rupa ITB, Aris Kurniawan yang juga pernah meneliti kujang selama tujuh tahun, mengatakan bahwa kujang layang diajukan sebagai warisan budaya dunia. “Kujang bukan hanya dikenal sebagai perkakas ataupun senjata tapi juga simbol sebagaimana keris yang dibuat oleh empu,” ujar Aris.

Kujang dikatakan Aris, merupakan budaya luhur yang diciptakan masyarakat jaman dulu dengan proses sangat rumit dan waktu sangat lama. “Karenanya kujang sangat layang diajukan ke UNESCO sebagai kekayaan budaya dunia dari Jawa Barat,” ujar Aris.

Sementara DR. Miranda Risang Ayu, dati Tim Gugus HAKI Jabar, mengatakan bahwa pihaknya telah menyusun dan memilih 10 budaya yang akan diajukan sebagai kekayaan budaya dunia ke UNESCO. “Tapi karena setiap daerah hanya mendapat kesempatan mengajukan satu untuk diajukan maka kita akan mengajukan kujang diantara benda budaya yang sudah di inventarisir,” ujar Miranda.

Untuk mendapatkan pengakuan UNESCOpun, menurut Miranda bukan perkara mudah. Karena senjata kujang yang akan diajukan harus bersaing dengan daerah atau provinsi lain di Indonesia dan setelah itu bersaing dengan negara lainnya. (A-87/A-108)***

[alert style=”white”]referensi : http://www.pikiran-rakyat.com/node/196731 [/alert]