Galuh Ontel Eling Sadaya (GOES)

Galuh Ontel Eling Sadaya (GOES)

Ciamis Car Free Day 3

Komunitas sepeda Ontel Ciamis yang tergabung dalam Galuh Ontel Eling Sadaya (GOES)

[alert style=”white”] foto: ciamiskab, GOES Ciamis [/alert]

Ciamis Car Free Day

Ciamis Car Free Day

Peta Ciamis Car Free Day

Jalur Pengendalian Ciamis Car Free Day dapat dilihat pada Peta Pengendalian Lalu Lintas dan Parkir diatas. Ciamis Car Free Day akan diselenggarakan setiap hari Minggu mulai dari tanggal 27 Januari 2013 Pukul 06.00 s/d 10.00 WIB.

“Go Green…” merupakan slogan yang telah lama dikenal oleh masyarakat dunia. Sebagai salah satu upaya melestarikan bumi dari rusaknya ekosistem. Merekayasa pengendalian arus lalu lintas, menentukan lokasi parkir, menginventarisir kebutuhan rambu-rambu, menempatkan personil pada simpul-simpul lalu-lintas. Dengan harapan mendapat tanggapan positif dari masyarakat dan dapat meningkatkan PAD Kabupaten Ciamis merupakan upaya-upaya mengantisipasi permasalahan polusi lingkungan yang kini digalakan kembali di Kabupaten Ciamis melalui Program ‘Car Free Day ’.

Dalam  gelaran ‘Car Free Day ’ minggu (27/1) Wakil Bupati Ciamis menyampaikan bahwa:  ‘Car Free Day ‘ Sungguh merupakan gagasan yang baik memberikan arti dan makna bagi masyarakat di Tatar Galuh Khususnya untuk mengisi hari libur di ruang publik. Diharapkan dapat menggugah kita semua untuk memperkuat tali silaturahmi kebersamaan menjaga kebersihan serta ikut berperan serta dalam melestarikan pembangunan. Car Free Day merupakan gerakan Global dekade ini merupakan gagasan untuk menumbuhkan kesadaran dalam memberikan dan beraktifitas dengan tidak menggunakan kendaraan bermotor yang menimbulkan polusi udara. Lalu lalang kendaraan bermotor akan tergantikan dengan dominasi aktifitas sehat dengan menikmati jalan kota tanpa kendaraan bermotor dan terhindar dari polusi. Adapun aktifitas yang mengisi kegiatan ini antara lain yaitu jalan kaki, bersepeda, senam, jogging, sepak bola sangat berpengaruh pada diri kita. Hal ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi tingkat polusi pada udara dan mendorong masyarakat untuk menggunakan alat transportasi ramah lingkungan”, demikian ungkap Wabup.

Polusi udara dari kendaraan bermotor mengandung berbagai macam unsur racun seperti karbon dioksida, karbon monoksida dan sebagainya, sehingga dapat mengakibatkan ISPA. Diakhir sambutannya Wabup menghimbau warga masyarakat tatar galuh untuk menjadikan ‘Car Free Day ’ sebagai wahana silaturahmi dalam ikut serta menjaga lingkungan dan kebersihan, mari kita tanamkan pengertian kepada masyarakat pentingnya pemeliharaan kelestarian lingkungan dan keramahan lingkungan, tingkatkan gerakan K3 di lingkungan pemukiman, perkantoran dan lingkungan masing-masing secara berkesinambungan.

[alert style=”white”] referensi: ciamiskab[/alert]

Ritual Bentang Boeh Larang

Ritual Bentang Boeh Larang

Ritual Bentang Boeh Larang adalah ritual pada masyarakat adat Geger Sunten Ciamis. Ritual ini dilakukan dengan membentangkan kain putih (kain kafan) ukuran 2 x 3 dan setiap sudutnya dipegang oleh wanita yang sudah menopause. Ritual itu mengandung makna borojol suci, mulihna ge suci. Artinya manusia itu lahir dan matinya harus suci.

Pemuliaan Nilai Kearifan Lokal

Oleh: Pandu Radea
Ketua Litbang Seni dan Sejarah Komunitas Sangkala Ciamis

Matahari belumlah tinggi. Tapi panasnya mulai menyengat. Padahal di musim hujan ini, langit di atas Geger Sunten, Desa Sodong, Kecamatan Tambaksari, Kab. Ciamis, biasanya selalu digayuti awan tebal. Tentu saja, ini pertanda baik bagi Masyarakat Adat Geger Sunten yang akan melaksanakan Adat Seren Taun, Sabtu, 25 September 2011 lalu. Prosesi ritual seren taun yang diselenggarakan oleh masyarakat adat Geger Sunten dipusatkan di halaman rumah Abah Tasim selaku sesepuh adat. Di halaman rumahnya yang sudah diberi peneduh untuk tetamu, lengkap dengan panggung yang berisi gamelan degung. tampak empat sasajen yang berisi berbagai hasil bumi dihiasi dengan hiasan janur. Sasajen ini merupakan adeg-adeg dari pucuk, kembang, buah, dan beuti. Hal tersebut merupakan simbol dari kesuburan.

Sementara di sisi lainnya, sebuah kotak besar yang merupakan leuit berukuran kecil tampak ditutupi oleh kain hitam. Leuit ini menurut literatur di masyarakat adat, disebut juga Leuit Ratna Inten, Si Jimat atau Leuit Indung. Menurut Iing Wargi, ketua adat Geger Sunten, leuit itu merupakan tempat untuk ngaruwat Pohaci. Di dalamnya tersimpan dua jenis padi yang disebut pare indung yang ditutup dengan kain putih dan pare abah yang ditutup dengan kain hitam. Kedua padi itu merupakan benih unggulan hasil panen masyarkat yang diserahkan kepada ketua adat. Benih yang sudah diberkati ini disimpan di dalam leuit untuk dijadikan bibit padi untuk ditanam di musim tani berikutnya. Rangkaian sakral di atas secara umum disebut Ngajayak.

Pukul 08.00 WIB, ritual adat yang dihadiri oleh masyarakat Geger Sunten dan tamu undangan baik dari beberapa kecamatan di Ciamis maupun dari kabupaten lain seperti Garut dan Bandung dibuka dengan biantara sesepuh adat. Hadir pula Barisan Olot Tatar Galuh bersama Drs. H. Eka Santosa yang menjadi sekjen Masyarakat Adat Tatar Sunda. Termasuk beberapa juru kunci situs sejarah yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Geger Sunten dan Galuh, seperti Ki Oyon (kuncen karamat Aki Balangantrang Cisaga) , Aip Sarifudin (Jupel Situs Apun Pagergunung) dan utusan dari Komunitas Sangkala Kawali yang diwakili oleh R. Ega Anggara Kautsar, Iip Smok, Andri dan Kiki juga tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi.

Iing Wargi medar bahwa ada beberapa proses adat yang dianggap sakral sebagai bentuk penghormatan terhadap padi seperti mitembeyan, beukah pare, nyalin, ngajayak, ngelep, dan nganyaran. Semuanya merupakan rangkaian ketika padi mulai ditanam, berbuah, dipanen, dikeringkan, disimpan, dan diolah menjadi beras.

Proses tersebut secara alami adalah bentuk pemuliaan ketaatan terhadap padi. Karena dalam paradigm spiritual masyarakat agraris Sunda klasik, padi tidak sekadar bahan pangan utama, tetapi juga diyakini memiliki nilai sakral yang dikaitkan dengan pemahaman religi yang diwariskan oleh para leluhur. Kesucian padi dikaitkan dengan asal-usulnya yang memiliki hubungan dengan para dewa dan dewi, terutama Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

Ada satu bentuk ritual lain yang membuat seren taun di Geger Sunten menjadi berbeda dengan di tempat lain. Yaitu ritual Bentang Boeh Larang, yakni membentangkan kain putih dengan ukuran 2 x 3 dan setiap sudutnya dipegang oleh wanita yang sudah menopause. Ritual ini dipimpin oleh Abah Ali yang bertindak sebagai pemangku adat seren taun. Setelah selesai medar piwuruk dan memanjatkan doa, bentangan kain itu dibawa menuju pasir keramat Geger Sunten yang letaknya 400 meter dari lokasi upacara seren taun untuk berziarah dan napak tilas. Ritual itu menurut Abah Ali, mengandung makna borojol suci, mulihna ge suci. Artinya manusia itu lahir dan matinya harus suci.

Istilah Seren Taun berasal dari kata seren yang artinya menyerahkan, dan taun (tahun). Jadi Seren Taun mengandung arti serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dan pelaksanaan tahun ini berkaitan juga untuk menyambut tahun baru hijriah 1 Muharram 1433 H. Arti yang lebih spesifik lagi, upacara seren taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung, atau dalam bahasa Sunda disebut leuit.

Sebetulnya kegiatan Seren Taun yang diselenggarakan di Geger Sunten ini baru terbuka untuk umum dalam tiga tahun terakhir ini. Awalnya cenderung dilaksanakan secara tertutup hanya di kalangan adat saja. Namun semenjak Geger Sunten ditetapkan sebagai situ sejarah, kegiatan ini mulai terbuka untuk disaksikan oleh umum.

Sementara itu Eka Santosa menyatakan bahwa kekayaan sejarah dan budaya Kabupaten Ciamis ini harus lebih ditanggapi serius. “Kepariwisataan Ciamis itu jangan hanya dijadikan komoditas saja tanpa memperkuat kearifan lokalnya. Dan yang dibangun itu tata nilainya dulu, bukan visualnya,” ujar Eka yang saat ini tengah mensosialisasikan program Duta Sawala yang berkaitan dengan penjagaan/pemeliharaan, pemberdayaan potensi SDA/SDM, dan advokasi terhadap kearifan lokal.

Sedangkan R. Ega Anggara dari Komunitas Sangkala Kawali, menyatakan bahwa kegiatan seren tahun ini penting untuk dikenalkan kepada generasi muda saat ini. “Banyak yang dapat dipelajari dari kegiatan ini, antaranya adalah belajar menghargai alam dan sejarah. Adanya adat seren taun di Geger Sunten ini, semakin memperkaya dan menegaskan Kabupaten Ciamis yang sarat dengan nilai lokal. ” ujar Ega.

IIp Smok, salah satu pengelola even organizer asal Kawali juga mengatakan bahwa mungkin saja suatu saat kegiatan seren taun di Geger Sunten ini akan menjadi potensi wisata seperti halnya seren taun di Cigugur Kuningan, jika dikelola dengan benar dan tepat. Kegiatan seren taun itu merupakan pembelajaran penting bagi Komunitas Sangkala yang akan menyelenggarakan Kegiatan Gelar Budaya Purna Kala pada akhir Desember 2011 nanti. ***

[alert style=”white”]foto: Edwin Syahrizal, referensi:  kabar-priangan[/alert]

Situs Singaperbangsa III

Situs Singaperbangsa III

Situs singaperbangsa III dari kerajaaan galuh kertabumi yang sudah masuk islam cisaga yang menurunkan bupati pertama karawang singaperbangsa IV.

[alert style=”white”]foto: Eman Hermansyah Sastrapraja, PANGAUBAN GALUH PAKUAN[/alert]

Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran

Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran

Cagar alam seluar ± 530 hektar, yang diantaranya termasuk wisata seluas 37,70 hektar berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II. Memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti Bunga Raflesia Padma, Banteng, Rusa dan berbagai jenis Kera. Selain itu, terdapat pula gua-gua alam dan gua buatan seperti: Gua Panggung, Gua Parat, Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, gua Jepang serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan Taman Lautnya. Untuk Taman Wisata Alam (TWA) dikelola Perum Perhutani Ciamis.

[alert style=”white”]foto: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]