Museum Galuh Pakuan

Museum Galuh Pakuan

Museum Galuh Pakuan adalah salah satu tempat yang sayang untuk dilewatkan jika Anda berkunjung ke Ciamis. Kita dapat melihat lebih dekat benda-benda peninggalan masa kejayaan Galuh di jaman dulu dan mengambil semangatnya untuk membangun di masa kini dan mendatang.

Museum Galuh Pakuan diresmikan pada hari Minggu 18 Juli 2010 dengan dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf. Museum tersebut terletak di Jl. KH. A. Dahlan No 40 Ciamis, dan berisi koleksi benda-benda pusaka peninggalan kerajaan Galuh. Sebelumnya ratusan benda tersebut disimpan di kompleks Makam Kangjeng Prebu di Jambansari, tidak jauh dari lokasi museum sekarang. Ruangan penyimpanan benda pusaka yang lama mengalami rusak berat ketika terjadi gempa 2 September 2009.

Peresmian diwarnai wacana pengembalian nama kabupaten Ciamis menjadi kabupaten Galuh. “Dahulu perubahan nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis merupakan proses politik. Sehingga dengan proses politik pula, akan dapat mengembalikan sesuai nama asli yaitu Kabupaten Galuh,” tutur Ketua Paguyuban Rundayan Galuh Pakuan, Raden Gani Kusumahdinata.

Tampak hadir dalam peresmian tersebut Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, Pangeran Raja Adipati Arif Nata Diningrat dari Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Hempi dari Keraton Sumedang Larang, mantan Gubernur Aceh Darussalam Abdullah Puteh, mantan Wagub Jabar H Karna Suwanda, sejarawan Prof. Hj. Nina Lubis, Prof. Hiemendra, Prof. Dr. Rasyid, Ketua Paguyuban Pasundan Syafei dan undangan lainnya. Pihak keluarga mantan menteri PU Radinal Muchtar juga hadir, mengingat Museum Galuh Pakuan untuk sementara menempati kediaman tokoh tersebut.

sumber berita: PR Online
foto-foto diambil dari note Kang Dede Yusuf

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]

Museum Galuh Imbanagara, Ciamis

Museum Galuh Imbanagara, Ciamis

Museum Galuh Imbanagara terletak di Jln Mayor Ali Basyah No.311 Imbanagara Raya Ciamis.

Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan kabupaten Ciamis tak lepas dari sejarah Galuh Imbanagara yang menjadi menjadi pusat pemerintahan selama kurang lebih 2 abad.

Museum ini didirikan untuk mengamankan benda-benda pusaka dan dokumen sejarah Galuh Imbanagara Ciamis, Museum ini telah diresmikan oleh Bupati Ciamis pada tanggal 12 Mei 2004.

Benda-benda yang terdapat didalam museum ini antara lain :

  • Keris-keris peninggal Galuh Imbanagara
  • Dokumen-dokumen penting milik Galuh Imbanagara
  • Foto-foto tentang sejarah Galuh Imbanagara
  • dan benda-benda pusaka peninggalan Galuh Imbanagara lainnya

Dengan adanya museum ini, ketua yayasan Galuh Imbanagara yaitu bapak R. Enggun S Rachmat berharap warga masyarakat Tatar Galuh Kabupaten Ciamis dapat melihat langsung serta mengetahui tentang keberadaan sejarah kabupaten Galuh di masa lalu.

Namun, sayangnya letak Museum Galuh Imbanagara ini kurang strategis, kita harus memasuki sebuah gang untuk mencapainya. Museum ini juga relatif sepi dan kecil dibandingkan dengan museum-museum lain yang ada di Indonesia.

[alert style=”white”]referensi: sophiechan-sophie-chan.blogspot.com [/alert]

Museum Nyamuk, Kabupaten Ciamis

Museum Nyamuk, Kabupaten Ciamis

Selintas Museum

Museum Nyamuk berada di komplek perkantoran Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (Litbang P2B2)-Ciamis. Museum ini milik Departemen Kesehatan dan merupakan museum nyamuk satu-satunya di Indonesia yang memilliki berbagai fasilitas agar masyarakat waspada akan bahaya nyamuk. Penggagas pertama kali pendirian Museum Nyamuk adalah Sugiono, saat menjabat sebagai Kepala Loka Balitbang P2B2 Ciamis.

Berlatar belakang pemikiran bahwa penyakit menular dengan vektor nyamuk hingga kini masih menjadi beban berat bagi sebagian besar negara tropis termasuk Indonesia. Penyakit-penyakit menular melalui gigitan nyamuk seperti demam berdarah dengue, malaria, filariasis dan chikungunya masih endemis di banyak daerah di Indonesia dan merenggut ribuan jiwa setiap tahun. Karena itu, masyarakat Indonesia harus disadarkan akan keberadaan dan bahaya nyamuk.

Museum Nyamuk dibangun di atas tanah seluas 2.000 m2 dan dilengkapi fasilitas lainnya seperti  Gedung Sinema (teater Nyamuk), ruang multimedia, dan ruang Cinderamata, yang pembangunannya selama 3 tahun dari tahun 2006-2008. Museum ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan  pada tanggal 19 Agustus 2009. Diresmikannya Museum dan Theater Nyamuk diharapkan dapat menjadi ikon wisata ilmiah Litbangkes dan dapat mempermudah akses hasil Litbangkes agar penelitian yang dilakukan selama ini berhasil dan berdaya guna.

Keberadaan Museum Nyamuk ini setidaknya dapat membantu masyarakat yang ingin mengetahui dan mempelajari tentang nyamuk secara menyeluruh. Pengunjung dapat mengenal berbagai fase perkembangan nyamuk. Juga contoh-contoh specimen genus mulai dari Aedes aegepty, nyamuk penyebar demam berdarah, hingga nyamuk Culex quin-ques-fast-ciatus, penyebar penyakit kaki gajah. Museum Nyamuk juga menyediakan film dokumenter tentang siklus kehidupan nyamuk.

Museum dan teater nyamuk ini selain sebagai wisata pendidikan untuk anak-anak juga bersifat promotif untuk meningkatkan perilaku hidup sehat. Museum wisata ilmiah ini juga dilengkapi dengan sarana penunjang insektarium, laboratorium entomologi, parasitologi, farmakologi dan virology, laboratorium uji Insektisida, perpustakaan dan tanaman obat anti malaria dan pengusir nyamuk (Tompen). Mosquito Theatre atau Teater Nyamuk merupakan ikon Wisata Ilmiah Litbangkes yang keberadaannya tidak lepas dari kegiatan workshop yang diselenggarakan atas kerjasama Badan Litbangkes dengan Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Koleksi Museum

Museum ini memiliki sekitar 80 koleksi nyamuk vector penyebar penyakit asal dari Indonesia. Koleksi museum dibagi dalam 6 genera, yaitu: Aedes, Culex, Anopheles, Mansonia, Armigeres dan Toxor. Masing-masing genus terdiri dari spesimen, stadium telur, larva, pupa dan nyamuk selain itu juga dilengkapi koleksi tanaman pengusir nyamuk dan tanaman obat untuk gejala penyakit yang dibawa nyamuk.

Alamat

Jalan Raya Pangandaran Km 3 Pangandaran Kab. Ciamis 46396,
Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
Telp. ( 0265)  639375
Email : lokaciamis@litbang.depkes.go.id

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

Museum Tambaksari Ciamis

Museum Tambaksari Ciamis

Selintas Museum

Pendirian Site Museum Tambaksari berawal dari sejumlah temuan fosil yang berasal dari wilayah ini. Tambaksari adalah desa kecil di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kisah temuan fosil-fosil yang tak terhitung jumlahnya di daerah itu sebelumnya adalah secara kebetulan. Bukan oleh arkeolog atau peneliti lainnya, melainkan ditemukan oleh sekelompok murid Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tambaksari yang dipimpin Darwa Hardiya Ruhyana, seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Fosil pertama ditemukan oleh siswa bernama Yayat Suryati, berupa potongan gigi besar binatang purba yang diperkirakan hidup antara satu-dua juta tahun lalu.  Sekolah tersebut menyimpan ratusan atau mungkin ribuan fosil vertebrata, mamalia, dan moluska. Ada fosil Proximal tibia (pangkal tulang kering gajah purba), Astragalus (tulang tumir I), Molat (M) atau geraham, Distal humerus (ujung tulang lengan), Stegodon Sp (gajah purba), dan banyak lagi. Bahkan karena begitu banyaknya, fosil-fosil tersebut pernah berserakan di lantai, meja laboratorium, dan sebagian lagi disimpan dalam karung.

Untuk penyelamatan  fosil tersebut, berbagai fihak berusaha membantu menyediakan tempat penyimpanan koleksi , diantaranya pihak Museum Geologi pada tahun 1996, menyusul Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTN) Yogyakarta, Balai Arkeologi Bandung, Pusat Pengembangan Geologi, yang saat itu bekerja sama dengan Universitas Tennessee dan Universitas Alabama, Amerika Serikat.

Situs Tambaksari dianggap sangat potensial, sebagai tempat temuan  fosil-fosil binatang purba, terutama di daerah yang terletak di Urug Kasang. Untuk upaya penyelamatan dan penyimpanan temuan fosil-fosil tersebut, maka Pemerintah Kabupaten Ciamis pada awal tahun 2001 berinisiatif membangun site museum yang dinamakan Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Tambaksari. Untuk pentaan koleksinya,  dibantu oleh Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Koleksi Museum

Koleksi yang tersimpan di Site Museum Tambaksari  terdiri atas (1) Fosil Hewan Kuda Nil (fosil rusuk, fosil sendi, fosil rahang, fosil gigi, fosil taring), (2) Fosil Hewan Gajag Purba (fosil tulang belakang, fosil tengkorak belakang, fosil kaki belakang, fosil rahang belakang, fosil gigi belakang, dan fosil engsel belakang), (3) Fosil Hewan Rusa Purba (fosil sendi, fosil kaki, fosil tulang belakang, fosil rusuk, fosil rahang, fosil tanduk, fosil gigi), (4) Fosil Hewan Sapi (fosil rahang bawah kiri, fosil rahang bawah kanan), (5)  Fosil Tanah (fosil abu kehitaman, abu kecoklatan, dan hitam), (6) Fosil Kayu , (7) Fosil Daun, (8) Fosil Gigi Ikan, (9) Fosil Sisik Ikan, (10) Deposit Kerang, (11) Kerang, (12) Fosil Kura-kura Purba.

Alamat

Ds. Tambaksari, Kec. Tambaksari Kab. Ciamis

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]