Prosesi Seni Penta Kahuripan (Seni Kupat) dari Panawangan

Prosesi Seni Penta Kahuripan (Seni Kupat) dari Panawangan

Penta Kahuripan merupakan salah satu gambaran kegiatan, kebiasaan / aktivitas sehari-hari Masyarakat Panawangan, yang diapresiasikan melalui pentas seni. Masyarakat Panawangan  biasa membuat sesuatu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, yang dilakukan sejak dahulu (Bihari) hingga sekarang (Kiwari).

Kegiatan tersebut masih terus berlangsung bahkan hingga kini sangatlah terkenal  yaitu Kupat Panawangan  yang menjadi  ciri khas makanan ringan produk lokal,  pada awalnya kupat tersebut di buat untuk kebutuhan / syarat  dalam kegiatan yang bersifat sakral  misalnya acara selamatan atau syukuran.

Kupat panawangan bisa terkenal kemana-mana terutama pada saat menyongsong hari besar islam, juga tidaklah surut  para tamu yang lewat atau sengaja membutuhkannya untuk berbagai keperluan misalnya bekal disaat bepergian mengingat disamping  praktis, Kupat  bisa  tahan tanpa pengawet hingga beberapa hari.

Tentunya hal ini membuat mereka kagum dan aneh, dengan cara yang sangat tradisi, Kupat yang terbuat dari bahan beras dibungkus dengan daun kelapa kemudian direbus bisa tahan dan mempunyai rasa yang khas sebagai ciri yang khas kupat Panawangan.

Tidak sedikit daerah yang lain ingin membuatnya, membuat kupat seperti di Panawangan, namun sampai sekarang belum ada yang mampu menyerupai baik rasa, rupa maupun keawetannya.

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan turun-temurun hingga puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Dan ternyata tidak mudah bagi mereka yang sama sekali tidak mempunyai keturunan dalam arti  ( kasepuhan ). Mengapa demikan, ternyata dalam proses pembuatannya tidak sembarangan, artinya  pembuatan kupat selalu menggunakan proses yang sangat sukar tanpa mengetahui tata cara yang sangat khas dan ketradisiannya.

Kupat yang berbentuk segi lima ini mempunyai  symbol yang mempunyai arti tertentu seperti pada bentuknya lima sudut ( Juru ) yang artinya ( penta ) yaitu lima kekuatan untuk dapat mempertahankan hidup ( Kahuripan ) yaitu kahayang, kabisa, kauletan, kanyaah dan kaboga. Yang akhirnya dengan memegang falsapah tersebut  terbukti idak  sedikit mereka kini kehidupannya menjadi berubah lebih dari cukup.

Begitulah sedikit informasi yang dapat di tulis dalam sinopsis ini tentang keberadaan Kupat Panawangan atau Kupat Penta Kahuripan.  Dengan harapan hal ini bisa dijadikan Kegiatan Budaya Daerah Panawangan, sehingga masyarakat tidak lupa akan jati dirinya.

Dalam hal ini tidak akan banyak dikupas lebih dalam tentang bagaimana asal mula Kupat Penta Kahuripan tersebut lahir dan berkembang.  Kami disini hanya akan memberikan gambaran melalui pentas seni tentang proses pembuatan Kupat Penta Kahuripan yang ternyata pada mulanya dibuat sangat suci dan sakral.

KARAKTERISTIK

Karateristik dari prosesi seni adat Kupat Penta Kahuripan ini yang kesemuanya mempunyai makna sesuai dengan tujuan awal masyarakat Panawangan ingin merubah hidup dalam kehidupan, diantaranya adalah:

  • Menumbuk padi pada lesung di gambarkan dengan pertunjukkan seni gondang.
  • Makna betuk kupat  yang terdiri dari 5 siku ( juru ) yang merupakan simbol pegangan hidup.
  • Makna warna yang khas ( tekad, keberanian) sebagai rakyat jelata yang ingin tetap bertahan hidup.
  • Proses pengambilan air dari lima sumber mata air keramat yang ada di daerah panawangan dengan tujuan meminta doa dari sesepuh.
  • Tatakrama membersihkan beras yang merupakan bahan pembuatan kupat pada bakul dengan gerakan yang sudah ditentukan tidak boleh kurang atau lebih dari jumlah yang sudah ditentukan. Tatakrama pengambilan daun kelapa / janur dari pohon  kelapa pilihan di daerah Panawangan.

Suasana memasak kupat dimana selama memasak tidak boleh ditinggalkan.
Suasana disaat hari raya besar islam dimana kupat merupakan makanan yang sangat didambakan masyarakat.

Prosesi seni penta kahuripan (seni kupat)merupakan jenis seni kreasi baru yang diambil dari kebiasaan masyarakat yakni masyarakat daerah panawangan dan jenis kesenian ini bisa disebutkan jenis senimonumental.

Diciptakan pada th.2008 oleh Endi Ependi S.Sn
Dipublikasikan ditingkat jabar Pada acara Kemilau Nusantara Propinsi Jawa Barat Tahun 2009

 

[alert style=”white”]referensi: smpn2sukamantri.blogspot.com[/alert]

Pagi Yang Cerah di Cirikip, Panawangan

Pagi Yang Cerah di Cirikip, Panawangan

Photo taken in Cinyasag, Panawangan, Indonesia

Panawangan merupakan bagian Wilayah Ciamis Utara,ada pun batas wilayah adalah; sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Kuningan dan Majalengka, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Rajadesa, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Kawali, sebelah barat berbatasan dengan Kec.Panjalau dan Kec.Lumbung. Ciri khas oleh-oleh dari Panawangan adalah Kupat dan Opak panawangan.

Panawangan terkenal dengan sebutan Kota Kupat karena kupat panawangan merupakan ciri khas makanan tradisional kecamatan Panawangan yang enak, legit dan mampu bertahan sampai 2-3 hari. Selain enak dan legit, Kupat Panawangan mampu menginspirasi seniman lokal sehingga melahirkan seni tari yang kreatif yang dikembangkan oleh anak-anak SMP Negeri 2 Sukamantri Panjalu.

Menurut cerita sesepuh, kupat yang berbentuk persegi lima mengandung arti dan falsapah kehidupan orang Panawangan, yaitu setiap orang dalam mengarungi hidup harus masagi yang didasarkan kepada keinginan, keterampilan, keuletan, kasih sayang dan harta benda. Dalam bidang keduniaan, lima falsafah hidup ini akan jadi kuat karena diikat oleh saling asih, saling asah dan saling asuh diantara dua jenis manusia, yaitu lelaki dan perempuan, hal ini disimbolkan dengan anyaman dari daun kelapa yang mengikat dan menjadi bungkus ketupat.

[alert style=”white”]foto: panoramio , raihanrn.com[/alert]