Telah Lahir Kabupaten Pangandaran

Telah Lahir Kabupaten Pangandaran

Jumlah Daerah Otonomi Baru (DOB) di Indonesia dipastikan akan bertambah lagi. Setelah sebelumnya disetujui oleh Rapat Paripurna DPR, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyetujui lahirnya 4 (empat) DOB baru, yaitu Kabupaten Pangandaran (Jabar), Kabupaten Pesisir Barat (Lampung), Kabupaten Manokwari Selatan (Papua Barat), dan Kabupaten Pegunungan Arfak (Papua Barat).

Persetujuan Presiden atas terbentuknya Kabupaten Pangandaran (Jabar) tertuang dalam penandatanganan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2012, Kabupaten Pesisir Barat (Lampung) melalui penandatanganan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2012, Kabupaten Manokwari Barat (Papua Barat) melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2012, dan Kabupaten Pegunungan Arfak (Papua Barat) melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2012. Semua UU yang mendasari lahirnya keempat kabupaten baru (DOB) itu ditandatangani oleh Presiden SBY pada 16 November 2012, dan kemudian diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin pada 17 November.

UU itu mengamanatkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) agar melaksanakan peresmian dan pelantikan penjabat bupati dari masing-masing daerah paling lambat 9 (sembilan) bulan sejak UU disahkan.

Cakupan Wilayah

Dalam UU No. 21/2012 disebutkan, Kabupaten Pangandaran (Jabar) berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Ciamis, yang terdiri dari: Kecamatan Parigi; Kec. Cijulang; Kec. Cimerak; Kec. Cigugur; Kec. Langkaplancar; Kec. Mangunjaya; Kec. Padaherang; Kec. Kalipucang; Kec. Pangandaran; dan Kec. Sidamulih. Ibukota Kabupaten Pangandaran berkedudukan di Kec. Parigi.

Pada tahap awal biaya penyelenggaraan pemerintahan Kabupaten Pangandaran akan didukung oleh hibah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis sebesar Rp 5 miliar/tahun selama 2 (dua) tahun berturut-turut, dan hibah sebesar Rp 4,5 miliar untuk pelaksanaan pemilihan Bupati dan/atau Wakil Bupati pertama kali. Sementara Pemda Provinsi Jabar akan mengalokasikan bantuan hibah sejumlah Rp 2,5 miliar/tahun untuk 2 (dua) tahun berturut-turut, serta Rp 2,5 miliar untuk penyelenggaraan pemilihan Bupati dan/atau Wakil Bupati pertama kali.

Adapun wilayah Kabupaten Pesisir Barat (Lampung) sesuai UU No. 22/2012 berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Lampung Barat, yang terdiri dari: a. Kec. Pesisir Tengah; b. Kec. Pesisir Selatan; c. Kec. Lemong; d. Kec. Pesisir Utara; e. Kec. Karya Penggawa; f. Kec. Pulau Pisang; g. Kec. Way Krui; h. Kec. Krui Selatan; i. Kec. Ngambur; j. Kec. Bengkunat; dan k. Kec. Bangkunat Belimbing.

“Ibukota Kabupaten Pesisir Barat berkedudukan di Krui,” bunyi Pasal 7 UU No. 22/2012.

Biaya operasional pemerintahan Kabupaten Pesisir Barat pada tahap awal akan didukung oleh Pemkab Lampung Barat melalui hibah sebesar Rp 5 miliar/tahun selama 2 (dua) tahun bertutut-turut, dan Rp 5 miliar lainnya untuk pelaksanaan pemilihan Bupati dan/atau Wakil Bupati pertama kali. Sementara Pemprov Lampung akan memberikan bantuan dana sebesar Rp 5 miliar/tahun sebanyak 2 (dua) kali untuk penyelenggaraan pemerintah, dan Rp 3 miliar untuk penyelenggaraan Pemilihan Bupati dan/atau wakilnya pertama kali.

Sementara pada UU No. 23/2012 disebutkan, wilayah Kabupaten Manokwari Selatan berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Manokwari yang terdiri dari: a. Distrik Ransiki; b. Distrik Oransbari; c. Distrik Neney; d. Distrik Dataran Isim; e. Distrik Momi Waren; dan f. Distrik Tohota. Adapun ibukota Kabupaten Mankowari Selatan ditetapkan di Boundij Distrik Ransiki.

Biaya operasional pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan pada 2 (dua) tahun pertama akan didukung melalui dana hibah dari Kabupaten Manokwari sebesar Rp 5 miliar/tahun; dan Rp 3.933.283.733,00 untuk pelaksanaak pemilihan Bupati dan /atau Wakil Bupati. Sementara Pemprov Papua Barat akan menyumbang Rp 5 miliar/tahun selama 2 (dua) tahun berturut-turut untuk operasional  Pemkab Manokwari Selatan, dan 1,5 miliar untuk pemilihan Bupati dan/atau Wakil Bupati pertama kali.

Adapun wilayah Kabupaten Pegunungan Arfak (Papua Barat) sesuai UU No. 24/2012 berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Manokwari yang terdiri atas: a. Distrik Anggi; b. Distrik Anggi Gida; c. Distrik Membey; d. Distrik Sururey; e, Distrik Didohu; f. Distrik Taige; g. Distrik Catubouw; h. Distrik Testega; i. Distrik Minyambouw; dan j. Distrik Hink. Ibukota Kabupaten Arfak berkedudukan di Ullong Distrik Anggi.

Untuk operasional Pemkab Pegunungan Arfak itu, Pemkab Manokwari akan memberikan hibah sebesar Rp 5 miliar/tahun untuk 2 (dua) tahun berturut-turut, dan Rp 1,5 miliat untuk pemilihan Bupati dan/atau Wakil Bupati pertama kali. Sementara Pemprov Papua Barat memberikan hibah Rp 5 miliar/tahun untuk operasional jalannya pemerintahan Kabupaten Pegunungan Arfak dan Rp  1,5 miliar untuk pemilihan Bupati dan/atau Wakil Bupati pertama kali.(Pusdatin/ES)

[alert style=”white”] referensi: setkab.go.id [/alert]

Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran

Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran

Cagar alam seluar ± 530 hektar, yang diantaranya termasuk wisata seluas 37,70 hektar berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II. Memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti Bunga Raflesia Padma, Banteng, Rusa dan berbagai jenis Kera. Selain itu, terdapat pula gua-gua alam dan gua buatan seperti: Gua Panggung, Gua Parat, Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, gua Jepang serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan Taman Lautnya. Untuk Taman Wisata Alam (TWA) dikelola Perum Perhutani Ciamis.

[alert style=”white”]foto: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

2013, Pangandaran Mekar Jadi Kabupaten “Pariwisata”

2013, Pangandaran Mekar Jadi Kabupaten “Pariwisata”

Pangandaran memiliki banyak potensi pariwisata yang belum digali secara maksimal. Dorongan untuk menjadikan Pangandaran sebagai kabupaten “pariwisata” pun muncul.

Secara geografis, Pangandaran terletak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang terkenal dengan keindahan alamnya. Beberapa yang menjadi kebanggaan, seperti Green Canyon, Batu Karas, Goa Jepang, Taman Wisata Alam Panjanjung, dan lainnya.

Pelaku industri pariwisata Pangandaran ternyata memandang bahwa potensi wilayah yang berada di bagian selatan Jawa Barat dan tepi Samudera Hindia ini belum dieksplorasi dengan baik. Lantas muncul keinginan untuk memekarkan Pangandaran sebagai kabupaten “pariwisata”.

“Saking tidak sabarnya karena kami karena selalu mentok dengan kebijakan Ciamis. Kami ingin berdiri sendiri jadi kabupaten sendiri,” kata Supratman, Ketua Destination Management Organization (DMO) Pangandaran pada diskusi bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Pangandaran, Jawa Barat, baru-baru ini.

Supratman menambahkan, masyarakat Pangandaran sudah siap untuk semakin membesarkan potensi daerahnya. Mereka bahkan mendambakan sekali, katanya. Proses pengesahan dengan undang-undang dan keputusan presiden rencananya akan dilakukan pertengahan Juli 2012. Bila tidak terjadi perubahan, Januari 2013 akan menjadi babak baru bagi warga Pangandaran.

Selain potensi alam, nilai jual yang menjadi sumber pendapatan Pangandaran lainnya, adalah sektor pertambangan, pertanian-perkebunan, dan kehutanan. Di sektor perkebunan, seperti dicontohkan Supratman, Pangandaran menjadi pemasok 50 persen kebutuhan gula merah di Jawa Barat. Produksi gula merah bisa mencapai 500 ton atau sepadan dengan sejuta butir sehari.

“Kami unggulkan wisata alam dan budaya. Wisata budaya ada dari budaya nelayan, seperti hajat laut, ronggeng gunung, wayang golek, wayang kulit, kuda lumping, alat musik jidur, kerajinan masyakarat, banyak lagi,” jelasnya.

Supratman mengakui, potensi alam tidak cukup untuk menjadikan Pangandaran sebagai destinasi pariwisata turis mancanegara.  Infrastruktur jalan, pengaturan pedagang kaki lima, kemampuan sumber daya manusia, dan kebersihan lingkungan menjadi tantangan lainnya.

“Pangandaran ibarat gula, semut banyak datang dari mana-mana. Tantangannya adalah kami harus lebih maju, perlu keahlian,” imbuhnya.

“Kami telah melakukan studi banding; kelebihan Kabupaten Ciamis akan kami pakai dan kelemahannya kami buang. Kami juga belajar dari daerah yang mampu mengelola potensi alam dan dananya. Dengan banyak orang datang, kami punya hotel, restoran, pasar tradisional, yang pasti akan memberi hasil,” harapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis Sobar Sugema menandaskan tantangan perlunya semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat Pangandaran akan potensi pariwisata yang bisa digalinya. Apalagi, katanya, bencana tsunami pada 2006 lalu masih menyisakan traumatik bagi para investor.

“Seiring pertumbuhan masyarakat, perlu untuk menumbuhkan kepada mereka, ini (aktivitas keseharian-red) bisa dijual. Masalahnya, mereka tidak berpikir panjang, hanya menjawab kebutuhan hari ini,” sahutnya pada kesempatan yang sama.

“Dengan ada tsunami, investor sulit masuk, kita harus promosikan, masyarakat Pangandaran harus bisa meyakinkan dengan pariwisatanya,” tutupnya.

[alert style=”white”]referensi: okezone, ilustrasi: mypangandaran.com[/alert]

Pindang Gunung Ciamis

Pindang Gunung Ciamis

Jangan mengaku penggemar ikan pindang, jika belum merasakan nikmatnya ikan pindang gunung, yang menjadi salah satu ciri khas masakan obyek Wisata Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.

Dengan rasa asem dan pedas, ikan laut jenis kakap yang diaduk dengan rempah-rempah tradisional ini, siap memanjakan lidah anda, selain itu anda juga bisa langsung melihat proses pembuatan pindang gunung. Cara membuatnya pun cukup sederhana. Pertama tama ikan laut jenis seperti ikan kakap, mangmung, kakap merah, tongkol dan carwang yang masih segar dipotong menjadi dua bagian, kemudian baru disiapkan berbagai jenis bumbu nya, yaitu kemiri, cabe, kuning, jahe, terasi dan bawang, baru semua bumbu tersebut ditumbuk hingga halus kemudian baru dimasak, dan ditambahkan sedikit air. Aroma segar pun mulai terasa. Setelah bumbu mulai matang baru potongan ikan kakap dimasuKkan kedalam bumbu tersebut dan diaduk hingga merata.

Pindang Gunung adalah makanan sejenis Sop Ikan yang mempunyai rasa berbeda karena campuran bumbunya yang khas. Jenis makanan ini banyak dijumpai di Ciamis Selatan, khususnya Pangandaran, Parigi, Cijulang dan Cimerak.

Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, ikan pindang gunung pun siap disajikan. Jika biasanya pindang selalu disajikan kering, namun pindang gunung ini berbeda yaitu disajikan dengan direndam oleh kuah dengan bumbu ciri khas tersendiri mirip dengan sop. Rasanya pun tidak kalah enak, dengan rasa asem pedas sangat berbeda di banding jenis masakan pindang lainnya.

Jika penasaran, tak ada salahnya anda untuk mencoba sensasi baru menyantap hidangan pindang gunung ini, hanya dengan merogoh kocek 15 Ribu Rupiah, anda sudah bisa menikmati pindang gunung tersebut, yang dapat anda temui di hampir semua depot makan di sepanjang obyek wisata Pantai Pangandaran.

Resep Pindang Gunung:

Bumbu minimal :
Bawang Merah 5 Siung, diiris halus
Bawang Putih 2 Siung, diiris halus
Jahe 2 Buku jari, diiris besar terus dimemarkan (ditinggang mke mutu, hehehe…)
Kunyit 2 Buku jari di iris besar
Cabe rawit, diiris, banyakna tergantung selera
Merica bubuk sacekapna weee…

Bumbu pelengkap wajib :
2 Barang sereh, dimemarkan
3 Lembar daun salam

Bumbu pelengkap sunat :
Honje, bisa diganti daun kedondong, atau gak pake juga gak apa-apa (Honje itu memberi rasa gahar yang khas dengan keasaman dan aroma yang khas pula)
Daun bawang

Bahan :
Ikan Gurame 1/2 Kilo, tp ikan lain juga bisa seperti nila, lele, ikan mas… naon we lah nu aya.

Cara memasak

Ikan dibersihkan, digarami, kemudian di lumuri jeruk limau. Simpan setengah jam di kulkas (anu gaduh, nya hu henteu mah dimana we asal ulah diluar, bisi ku Ucing…)
Tumis irisan bawang merah dan bawang putih dengan minyak goreng sampe harum, kemudian tambahkan air 2-3 gelas.
Masukan cabe rawit, kunyit, jahe, sereh, dan daun salam (honje atawa daun kedondong), biarkan sampe mendidih dalam api sedang. Seungitna pasti matak ngacay weeeh…
Terakhir, masukkan ikan, tapi ulah jeung wadahna bisi pinuh katelna. Hehe…
Masak sampai mateng (kurang lebih mah 10 menit lah. Ditengah waktu pematangan taburi merica bubuk, garam, dan terakhir masukan irisan daun bawang.

[alert style=”white”]referensi: aztama.com, a5mur.wordpress.com[/alert]

Wisata Alam Citumang Pangandaran

Wisata Alam Citumang Pangandaran

Obyek wisata alam Citumang merupakan obyek wisata yang memiliki daya tarik khusus, yaitu sungai Citumang yang mengalir membelah hutan jati dengan airnya yang bening kebiruan. Tepian sungai yang terdiri dari ornamen batu-batu padas dengan relung dalam dihiasi relief alam dan aliran sungai yang menembus ke dalam goa. Keheningan alam akan Anda jumpai disini. Musik alami berupa gemercik air sungai, bisikan angin sepoi yang menyelinap di antara pepohonan dan suara satwahutan yang tak pernah sepi. Obyek wisata ini terletak di Desa Bojong Kecamatan Parigi Ciamis, berjarang lebihJalan menuju lokasi kurang 15 km dari Pangandaran ke arah barat. Atau sekitar 4 km dari jalan raya Pangandaran – Cijulang. Jarak seluruhnya dari kota Ciamis sekitar 95 km.

CitumangDapat dicapai dengan kendaraan umum jurusan Cijulang, dilanjutkan dengan kendaraan ojeg, disambung dengan jalan kaki menelusuri tepi sungai dan kebun pendudukan sepanjang 500 meter.

Sisi lain CitumangSetelah melewati pintu masuk, kurang lebih 300 meter perjalanan yang harus Anda tempuh menuju titik tujuan. Sambil berjalan menuruh lokasi, perlu Anda ketahui bahwa nama Citumang berasal dari legenda tentang seekor buaya buntung, Si Tumang. Begitu kuatnya kepercayaan penduduk akan kehadirna buaya buntung tersebut sehingga sampai sekarang meninggalkan nama yang melekat kuat menjadi nama sungai. Versi lain kisah Citumang, berasal dari Cai (Bhs. Sunda = air) yang numpang (cai numpang) yang berkaitan dengan adalah air sungai yang mengalir di bawah tanah. Kata cai numpang ini seiringAir yang bening menanti Andaperjalanan waktu lama-lama berubah menjadi Citumang.

Ketika Anda jumpai sungai yang rimbun dengan pohon di tiap sisinya, lanjutkan perjalanan Anda agak ke hulu, karena di sanalah bening dan sejuknya air dapat segera Anda nikmati.Tibalah kita di tempat tujuan. Aliran air yang mengalir menanti Anda untuk segera turun menikmati bening dan sejuknya air.

Pada kedalaman tertentu Anda dapat menikmatinya dengan mandi dan berenang. Lima ratus meter dari lokasi pamandian ke arah hulu, dijumpai pesona alam berupa aliran sungai Citumang yang masuk ke dalam perut bumi dan keluar lagi di arah hilir. Aliran sungai yang masuk ke dalam goa ini diberi nama Goa Taringgul yang kemudian diberikan nama baru sebagai Sanghyang Tikoro (Batara Tenggorokan).

Menikmati Citumang, tidak sekedar mandi dan berenang seperti yang selama ini banyak dilakukan wisatawan asing, tapi dapat AndaAir keluar dari Sanghyang Tikorolakukan kegiatan lainnya seperti: menikmati suasana sepanjang sungai, petualangan ke dalam goa dan menikmati privacy di tengah alam yang asli, sejuk dan eksotis.Citumang

Tips Ketika Berkunjung ke Citumah

Sekedar kontribusi mengenai salah satu tempat yang asik buat Hunting Foto di Pantai Selatan Jawa Barat. Adalah Citumang nama desa kecil yang terletak disebelah barat laut desa Pangandaran Kabupaten Ciamis. Bagi anda yang punya GPS, masukan koordinat ini untuk membimbing anda menuju lokasi Citumang, S 07˚ 38.674˚ E 108˚ 32.090˚.

Rencanakan perjalanan anda 3H/2M agar acara hunting anda optimal dan tidak terlalu melelahkan. Waktu terbaik untuk menuju lokasi ini adalah musim kemarau, pada musim hujan biasanya langit selalu mendung, juga perjalanan ke lokasi yang basah dan licin.

Di Hari Pertama, arahkan kendaraan anda menuju ke Pangandaran yang tentu saja sudah tak asing lagi bagi anda. Berbagai jenis akomodasi bertebaran di saentero Pangandaran, saya rasa anda tidak akan kesulitan untuk mencari akomodasi ditempat ini.

Hari kedua, Berangkatlah pagi hari setelah sarapan pagi, jangan lupa bawa perbekalan untuk makan siang, karena di Citumang tidak ada Restaurant. Belilah juga air minum secukupnya, karena tidak ada warung di lokasi. Arahkan kendaraan anda kearah timur keluar kota Pangandaran menuju arah Parigi. Sekitar 15 km dari Pangandaran anda akan menjumpai petunjuk jalan kearah kanan yang menunjukan jalan ke Parigi. Harap diingat !, pelankan laju kendaraan anda setelah melewati SPBU, karena tanda penunjuk jalan dan jalan masuknya cukup kecil.

Memasuki jalan kecil menuju ke Citumang, anda bisa mencari objek-objek landscape dan human interest. Hamparan sawah, sungai, hutan, semuanya kumplit ada disini. Mau bikin foto refleksi air wah juga bisa, namun harus menunggu waktu sampai agak senja. Jalan kecil ini panjangnya kurang lebih 15 km, ditempuh kurang lebih 1 jam karena ada sebagian ruas jalannya agak buruk. Meskipun jalan ini agak buruk, kendaraan jenis Sedan masih bisa masuk meski agak riskan.

Setibanya di ujung jalan (buntu), parkirkan kendaraan anda, laporlah pada masyarakat setempat, berjalanlah kearah jembatan, bila anda belum pernah ke lokasi air terjun, sewa lah seorang guide untuk mengantarkan anda ke lokasi. Guide biasanya dibayar sukarela, tergantung kerelaan anda. Jarak jalan setapak dari lokasi parkir ke curug citumang kurang lebih 800m jalan kaki. Anda akan melintasi ladang, bukit2 kecil, untuk mencapai lokasi. Setibanya di airterjun, anda bisa renang, lompat indah dari akar-akar pohon yang tumbuh di langit-langit goa setinggi 5 meter. Air disini sangatlah segar, hati-hati batu-batunya agak licin. Setelah puas menikmati pemandangan citumang, jangan lupa lewat pantai barat bulak laut untuk mengabadikan sunset di pantai tsb.

Hari ketiga, Sempatkan makan di pasar ikan Pangandaran untuk hidangan seafood yang murah meriah sebelum pulang kembali ke kota anda.

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com [/alert]