Situ Lengkong Panjalu Kiwari

Situ Lengkong Panjalu Kiwari

Situ Lengkong Panjalu Kiwari

Situ Lengkong Panjalu merupakan perpaduan antara objek wisata alam dan objek wisata budaya. Situ Lengkong Panjalu terletak di Desa Panjalu Kecamatan Panjalu dengan jarak 42 Km dari kota Ciamis ke arah utara. Di   objek   wisata ini kita bisa menyaksikan indahnya Danau ( Situ) yang  berudara sejuk dengan sebuah pulau (nusa) ter dapat ditengahnya yang disebut Nusa Larang, di Nusa itu terdapat makam Hariang Kencana, putra dari Hariang Borosngora, Raja Panjalu yang membuat Situ Lengkong pada masa beliau menjadi Raja Kerajaan Panjalu.

Untuk menghormati  jasa para leluhur Panjalu, maka sampai saat ini warga keturunan Panjalu biasa melaksanakan semacam upacara adat yang disebut Nyangku,  acara ini dilaksanakan pada tiap-tiap Bulan Maulud dengan jalan membersihkan benda – benda pusaka yang disimpan disebuah tempat khusus  ( semacam museum ) yang disebut Bumi Alit.

Kegiatan yang bisa dilaksanakan disini antara lain berperahu mengelilingi nusa, camping dan sebagainya.

Sumber Foto: Pandu Radea

Mari Elka Pangestu Jadi Warga Kehormatan Panjalu

Mari Elka Pangestu Jadi Warga Kehormatan Panjalu

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dinobatkan sebagai Warga Kehormatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (12/4/2014) malam.

“Tentunya saya merasa sangat bangga mendapatkan kehormatan ini. Semoga saya bisa membantu mengembangkan potensi wisata di Ciamis, khususnya Panjalu,” ujar Mari yang sebelumnya pernah mendapatkan gelar yang sama dari masyarakat Buton, Sulawesi Tenggara.

Mari berada di Panjalu dalam rangka kunjungan kerja selama dua hari di tiga kabupaten di Jawa Barat, yaitu Pangandaran, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Dalam kunjungannya di Panjalu, Mari sempat melakukan peninjauan di beberapa obyek wisata di Panjalu seperti situs bersejarah Astana Gede Kawali, Masjid Panjalu, dan Situ Lengkong.

Kunjungan ditutup dengan pergelaran seni wayang golek dan dialog interaktif dengan masyarakat yang dipimpin oleh tokoh wayang golek Cepot di Alun-alun Panjalu.

Dalam kesempatan itu, Mari mengatakan Panjalu sebagai pusat

Mari mengatakan sebagai salah satu daerah yang kaya akan nilai-nilai sejarahnya, Panjalu sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata religi. Potensi lainnya yaitu berupa ekonomi kreatif yang terwujud dalam pentas seni dan beberapa kerajaninan.

Dengan potensi itu, Mari yakin Ciamis, khususnya Panjalu, tetap menjadi destinasi wisata pilihan pasca lepasnya Pangandaran dari Ciamis setelah pemekaran 2012 lalu.

“Panjalu ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Panjalu sudah beradab dan berwawasan lingkungan terlihat dari adanya Situ Lengkong. Jadi saya rasa masyarakat tidak perlu khawatir karena nenek moyang telah melihat jauh segala hal. Segala sesuatu sudah tersedia,” katanya.

sumber: http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/04/13/mari-elka-jadi-warga-kehormatan-panjalu , gambar: panjalu.desa.id

Panyipuhan Cidehem Panjalu

Panyipuhan Cidehem Panjalu

Jika berkunjung ke Karamat Cidehem di Desa Sandingtaman, Panjalu, cobalah untuk ngadehem di sisi mata airnya., maka mata air yang jernih tersebut akan ngaburukbuk dan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Percaya atau tidak, yang jelas itu adalah fakta yang terjadi saat Saya mencobanya di pagi hari. Fenomena alam yang aneh dan sedikit menggelikan ini sampai saat ini tidak dapat diketahui apa yang menyebabkan mata air itu ngaburukbuk.

Menurut Elim Mulyono, kuncen yang menggantikan Aki Bihi kuncen yang sudah meninggal dunia, Cidehem sareatnya merupakan tempat nyipuh atau membersihkan diri dari penyakit yang mengotori jiwa untuk semakin meningkatkan ibadah.

Cara mandinya juga memiliki tata cara yang unik, peziarah harus memakai kain putih yang di dodotkan dan sebelum ancrub harus membaca sahadat dan ngadehem tiga kali, baru setelah itu teuleum tiga kali, nangkeup dan ngangkat batu juga tiga kali.

“Numutkeun sepuh mah didieu teh tempat mersihan diri Ki Aji Bukas Tangan, jawara kahot anu insyaf, janten salah sahiji ulama nu nyebarkeun agama Islam di daerah Citaman. Luhureun cidehem nu katelahna pasaleman aya tempat anu disebat lingga, nyaeta batu demprak. Ceunah mah sok dianggo solat Aji Bukas Tangan dugi ka nyilemna”

Panyipuhan Cidehem Panjalu

dalam versi lain Sang Beukas Tangan merupakan salah satu lawang gada kerajaan Panjalu yang menjadi batas wilayah mandala kerajaan Panjalu yang dikenal dengan Batara salapan. Yang terdiri dari Sri Manggelong, Sri Manggulang, Kebo Patenggel, Sri Keukeuhseukeurweuleuh, Lembu Dulur, Batara Terus Patala, Sang Ratu Lahuta, Sang Aji Bukas Tangan dan Sri Pakuntilan.

Dipinggir mata air terdapat dua buah batu yang berbeda dengan batu-batu lainnya. Permukaan batu tersebut tampak racak seperti bekas garukan kuku yang tajam. Mengenai hal itu Pria yang dipanggil elim itu memperkirakan bahwa itu merupakan bekas kuku maung nu ngancik saat Aji Bukas Tangan membuang seluruh ilmu kadugalannya.

“Salian ti ngaburukbuk kaanehan nu sanesna, mun kawenehan sok seueur lauk emas warna-warni, jiga aya nu ngahaja melakan. Komo basa hieum keneh ku tatangkalan ageung mah, saban wayah mun ngadehem pasti ngaburukbuk, namung saparantosna caang kieu, mun hoyong ngaburukbuk kedah enjing-enjing ngadehemna”

Selain keunikannya Cidehem juga merupakan sumber air yang tidak pernah kering bagi masyarakat setempat. Sayangnya kini tempat itu kini sedikit kurang natural dengan dibangunnya dinding penahan air dari tembok, juga kerimbunan pepohonan untuk menyerap dan menyimpan air manakala kemarau sebagian besar sudah ditebang. (tapakkaruhun-Pandu Radea)

[alert style=”white”] sumber: https://www.facebook.com/pandu.radea [/alert]

Seni Manuk Hahayaman Panjalu

Seni Manuk Hahayaman Panjalu

Seni Manuk Hahayaman Panjalu

Seni Manuk Hahayaman merupakan kritik Komunitas Anak Ibu (KAI) Panjalu atas menghilangnya aneka burung di wilayahnya sehingga untuk mereka menghadirkan sosok burung impor. Manuk Hahayaman menjadi ikon penting upacara adat Nyangku 2013 yang digelar pada 1-4 Februari 2013 di Alun-Alun Borosngora, Panjalu, Ciamis.

[alert style=”white”] sumber: youtube, desamembangun.or.id [/alert]

Maung Panjalu, Bongbang Larang Bongbang Kancana

Maung Panjalu, Bongbang Larang Bongbang Kancana

Mitos Maung Panjalu

Mempelajari sejarah dan kebudayaan Panjalu tidak akan lepas dari berbagai tradisi, legenda, dan mitos yang menjadi dasar nilai-nilai kearifan budaya lokal, salah satunya adalah mitos Maung Panjalu (Harimau Panjalu). Sekelumit kisah mengenai Maung Panjalu adalah berlatar belakang hubungan dua kerajaan besar di tanah Jawa yaitu Pajajaran (Sunda) dan Majapahit.

Menurut Babad Panjalu kisah Maung Panjalu berawal dari Dewi Sucilarang puteri Prabu Siliwangi yang dinikahi Pangeran Gajah Wulung putera mahkota Raja Majaphit Prabu Brawijaya yang diboyong ke Keraton Majapahit. Dalam kisah-kisah tradisional Sunda nama Raja-raja Pajajaran (Sunda) disebut secara umum sebagai Prabu Siliwangi sedangkan nama Raja-raja Majapahit disebut sebagai Prabu Brawijaya.

maung-panjalu-bongbang-larang-bongbang-kancana

Ketika Dewi Sucilarang telah mengandung dan usia kandungannya semakin mendekati persalinan, ia meminta agar dapat melahirkan di tanah kelahirannya di Pajajaran, sang pangeran mau tidak mau harus menyetujui permintaan isterinya itu dan diantarkanlah rombongan puteri kerajaan Pajajaran itu ke kampung halamannya disertai pengawalan tentara kerajaan.

Suatu ketika iring-iringan tiba di kawasan hutan belantara Panumbangan yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Panjalu dan berhenti untuk beristirahat mendirikan tenda-tenda. Di tengah gelapnya malam tanpa diduga sang puteri melahirkan dua orang putera-puteri kembar, yang lelaki kemudian diberi nama Bongbang Larang sedangkan yang perempuan diberi nama Bongbang Kancana. Ari-ari kedua bayi itu disimpan dalam sebuah pendil (wadah terbuat dari tanah liat) dan diletakkan di atas sebuah batu besar.

Kedua bocah kembar itu tumbuh menuju remaja di lingkungan Keraton Pakwan Pajajaran. Satu hal yang menjadi keinginan mereka adalah mengenal dan menemui sang ayah di Majapahit, begitu kuatnya keinginan itu sehingga Bongbang Larang dan Bongbang Kancana sepakat untuk minggat, pergi secara diam-diam menemui ayah mereka di Majapahit.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh mereka tiba dan beristirahat di belantara kaki Gunung Sawal, Bongbang Larang dan Bongbang Kancana yang kehausan mencari sumber air di sekitar tempat itu dan menemukan sebuah pendil berisi air di atas sebuah batu besar yang sebenarnya adalah bekas wadah ari-ari mereka sendiri.

Bongbang Larang yang tak sabar langsung menenggak isi pendil itu dengan lahap sehingga kepalanya masuk dan tersangkut di dalam pendil seukuran kepalanya itu. Sang adik yang kebingungan kemudian menuntun Bongbang Larang mencari seseorang yang bisa melepaskan pendil itu dari kepala kakaknya. Berjalan terus kearah timur akhirnya mereka bertemu seorang kakek bernama Aki Ganjar, sayang sekali kakek itu tidak kuasa menolong Bongbang Larang, ia kemudian menyarankan agar kedua remaja ini menemui Aki Garahang di pondoknya arah ke utara.

Aki Garahang yang ternyata adalah seorang pendeta bergelar Pendita Gunawisesa Wiku Trenggana itu lalu memecahkan pendil dengan sebuah kujang sehingga terbelah menjadi dua (kujang milik sang pendeta ini sampai sekarang masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit). Karena karomah atau kesaktian sang pendeta, maka pendil yang terbelah dua itu yang sebelah membentuk menjadi selokan Cipangbuangan, sedangkan sebelah lainnya menjadi kulah (kolam mata air) bernama Pangbuangan.

Sebagai tanda terima kasih, kedua remaja itu kemudian mengabdi kepada Aki Garahang di padepokannya, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Suatu ketika sang pendeta bepergian untuk suatu keperluan dan menitipkan padepokannya kepada Bongbang Larang dan Bongbang Kancana dan berpesan agar tidak mendekati kulah yang berada tidak jauh dari padepokan.
Kedua remaja yang penuh rasa ingin tahu itu tak bisa menahan diri untuk mendatangi kulah terlarang yang ternyata berair jernih, penuh dengan ikan berwarna-warni. Bongbang Larang segera saja menceburkan diri kedalam kulah itu sementara sang adik hanya membasuh kedua tangan dan wajah sambil merendamkan kedua kakinya.

Betapa terkejutnya sang adik ketika Bongbang Larang naik ke darat ternyata wajah dan seluruh tubuhnya telah ditumbuhi bulu seperti seekor harimau loreng. Tak kalah kagetnya ketika Bongbang Kancana bercermin ke permukaan air dan ternyata wajahnya pun telah berubah seperti harimau sehingga tak sadar menceburkan diri kedalam kulah. Keduanyapun kini berubah menjadi dua ekor harimau kembar jantan dan betina.

Hampir saja kedua harimau itu akan dibunuh oleh Aki Garahang karena dikira telah memangsa Bongbang Larang dan Bongbang Kancana. Namun ketika mengetahui kedua harimau itu adalah jelmaan dua putera-puteri kerajaan Pajajaran yang menjaga padepokannya sang Pendeta tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berpendapat bahwa kejadian itu sudah menjadi kehendak Yang Mahakuasa, ia berpesan agar kedua harimau itu tidak mengganggu hewan peliharaan orang Panjalu, apalagi kalau mengganggu orang Panjalu maka mereka akan mendapat kutukan darinya.

Kedua harimau jejadian itu berjalan tak tentu arah hingga tiba di Cipanjalu, tempat itu adalah kebun milik Kaprabon Panjalu yang ditanami aneka sayuran dan buah-buahan. Di bagian hilirnya terdapat pancuran tempat pemandian keluarga Kerajaan Panjalu. Kedua harimau itu tak sengaja terjerat oleh sulur-sulur tanaman paria oyong (sayuran sejenis terong-terongan) lalu jatuh terjerembab kedalam gawul (saluran air tertutup terbuat dari batang pohon nira yang dilubangi) sehingga aliran air ke pemandian itu tersumbat oleh tubuh mereka.

Prabu Sanghyang Cakradewa terheran-heran ketika melihat air pancuran di pemandiannya tidak mengeluarkan air, ia sangat terkejut manakala diperiksa ternyata pancurannya tersumbat oleh dua ekor harimau. Hampir saja kedua harimau itu dibunuhnya karena khawatir membahayakan masyarakat, tapi ketika mengetahui bahwa kedua harimau itu adalah jelmaan putera-puteri Kerajaan Pajajaran, sang Prabu menjadi jatuh iba dan menyelamatkan mereka dari himpitan saluran air itu.

Sebagai tanda terima kasih kedua harimau itu bersumpah dihadapan Prabu Sanghyang Cakradewa bahwa mereka tidak akan mengganggu orang Panjalu dan keturunannya, bahkan bila diperlukan mereka bersedia datang membantu orang Panjalu yang berada dalam kesulitan. Kecuali orang Panjalu yang meminum air dengan cara menenggak langsung dari tempat air minum (teko, ceret, dsb), orang Panjalu yang menanam atau memakan paria oyong, orang Panjalu yang membuat gawul (saluran air tertutup), maka orang-orang itu berhak menjadi mangsa harimau jejadian tersebut.

Selanjutnya kedua harimau kembar itu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Keraton Majapahit dan ternyata setibanya di Majapahit sang ayah telah bertahta sebagai Raja Majapahit. Sang Prabu sangat terharu dengan kisah perjalanan kedua putera-puteri kembarnya, ia kemudian memerintahkan Bongbang Larang untuk menetap dan menjadi penjaga di Keraton Pajajaran, sedangkan Bongbang Kancana diberi tugas untuk menjaga Keraton Majapahit.

Pada waktu-waktu tertentu kedua saudara kembar ini diperkenankan untuk saling menjenguk. Maka menurut kepercayaan leluhur Panjalu, kedua harimau itu selalu berkeliaran untuk saling menjenguk pada setiap bulan Maulud.

[alert style=”white”] referensi: id.wikipedia, panjalu.desa.id [/alert]