Sepenggal Sejarah Galuh: Para Penguasa Galuh

Sepenggal Sejarah Galuh: Para Penguasa Galuh

Boleh tunjuk tangan bagi orang Ciamis yang mengetahui sejarah Galuh secara menyeluruh, juga buat yang mengetahuinya episode per episode, atau juga bagi yang paham secara teoritis mengenainya. Jago we mun loba, mungkin itu bahasa lomanya untuk tawaran tadi. Termasuk saya yang ibu-bapak-nini-aki-uyut-bao-dan seterusnya berasal dari Ciamis, sayapun remeng-remeng alias tidak tahu banyak. Menurut para ahli (sejarah tentunya), sumber mengenai Galuh (sebagai pusat kekuasaan) relatif sedikit, sedangkan rentang waktunya relatif panjang, belum lagi oral history berkenaan dengannya relatif banyak, lengkaplah sudah sulitnya menuturkan secara kronologis dan komprehensif mengenai sejarah Galuh. Bagi saya, penelusuran jejak nama Galuh lebih sering terbentur kepada mitos. Berbagai mitos tentang asal-usul Galuh dapat dibaca dalam beberapa naskah kuno yang berbentuk babad atau wawacan. Secara umum, naskah-naskah kuno itu merupakan historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur historis, mitos, legenda, dan dongeng. Semakin mendekati waktu penulisan dengan waktu terjadinya peristiwa, maka semakin tinggi nilainya sebagai sumber sejarah. Keterangan mengenai Galuh di antaranya dapat dibaca dalam naskah Carita Parahyangan, Sanghyang Siksa Kandang Karesyan, Wawacan Sajarah Galuh, Ciung Wanara, dan Carios Wiwitan Raja-Raja di Pulo Jawa.

Dan kalau boleh saya menambahkan, penyebab lainnya adalah kurangnya dukungan dari pemerintah kabupaten Ciamis dalam upaya mewariskan “cerita sejarah” dari generasi ke generasi. Jangan lupa, faktor kekuasaan menjadi penting dalam proses ini karena akan menjadi pelindung bagi live of history. Jangan sampai ungkapan “yang lalu biarlah berlalu, jangan diungkit kembali” diberlakukan secara paten terhadap sejarah karena justru dari sejarahlah kita bisa belajar karena sejarah itu adalah jembatan yang menyambungkan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Bagaimana kita bangga menjadi manusia jika kita tidak mau mempelajari sejarah penciptaan manusia? Bagaimana kita bangga terhadap Ciamis jika kita tidak mengetahui sejarah Galuh? Tidak mungkin pemerintah kabupaten Ciamis menggunakan semboyan “CIAMIS MANIS MANJING DINAMIS PAKENA GAWE RAHAYU PAKEUN HEUBEUL JAYA DI BUANA” secara ujug-ujug begitu saja. Dari mana asalnya pakena gawe rahayu pakeun heubeul di buana? Ya dari sejarah Galuh! Moal ujug-ujug aya mun teu aya sajarahna, betul atau betul?

Sasieureun sabeunyeureun, semoga ada manfaatnya. Itulah yang ingin saya sampaikan sebelum bercerita sedikit tentang sejarah Galuh dengan folus para penguasanya. Bukan berarti sim kuring langkung apal tibatan nu apal, ieu mah mung sekedar berbagi pengetahuan saya yang sedikit tentang sejarah Galuh. Sepanjang yang saya ketahui mengenai sejarah Galuh, ada berbagai pemahaman makna atas kata Galuh. Kata Galuh bisa kita temukan tidak hanya berkaitan dengan Ciamis saja, tetapi ada banyak Galuh yang berkaitan dengan segala hal. Berkaitan dengan tempat contohnya, Hujung Galuh di Jawa Timur. Bagelen di Purworejo atau Begaluh di Banyumas. Adakah kaitannya galuh-galuh tersebut dengan Galuh baheula Ciamis kiwari? Kita bicarakan belakangan, sekarang mari kita kembali kepada Galuh dalam perspektif sebuah kekuasaan.

Nama Galuh muncul pada abad VII sebagai nama sebuah kerajaan di ujung timur Priangan, tepatnya di wilayah Bojong Galuh. Wilayah itu berada di tepat di daerah pertemuan dua buah sungai, yaitu sungai Citanduy dan Cimuntur. Bojong Galuh (sekarang Karangkamulyan) adalah pusat kekuasaan kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Ciung Wanara, leluhur penguasa Galuh Rakean Jambri yang bergelar Rahiang Sanjaya.[1] Ia adalah putra Sanna yang dibunuh oleh saudaranya yang bernama Purbasora. Sanjaya berhasil merebut tahta Galuh dari Purbasora. Ia menikah dengan putri kerajaan Sunda yang berpusat di Pakwan Pajajaran, sehingga berhak atas tahta kerajaan Sunda. Ia menyatukan Sunda ke dalam Galuh dengan pusat pemerintahan di Bojong Galuh. Sanjaya memutuskan bertahta di Jawa Tengah, sehingga ia menyerahkan Galuh kepada keponakannya (Seuweu Karma), sedangkan Sunda diberikan kepada putranya (Rahiang Tamperan). Nama Galuh tenggelam hingga akhirnya muncul kembali pada abad XIII sebagai nama sebuah kerajaan yang berpusat di Kawali. Carita Parahyangan menyebutkan bahwa tokoh Raja Wastu sama dengan Niskala Wastu Kancana, yaitu putra raja Galuh yang memerintah di Kawali. Ayah Niskala Wastu Kancana adalah Prabu Maharaja (1350-1357) yang identik dengan Pasundan Bubat. Selain dalam Carita Parahyangan, keterangan mengenai Pasundan Bubat terdapat juga dalam kitab Pararaton dari Majapahit. Pararaton menyebutkan bahwa di sebelah barat Majapahit terdapat sebuah kerajaan yang bernama Galuh dengan rajanya bernama Prabu Maharaja.[2]

Hubungan Galuh dengan Majapahit terjadi karena adanya pinangan raja Majapahit yang bernama Hayam Wuruk kepada putri Prabu Maharaja yang bernama Citra Kirana Diah Pitaloka. Rencana pernikahan itu gagal karena patih Majapahit yang bernama Gajah Mada mensyaratkan bahwa pernikahan itu adalah tanda tunduknya Galuh kepada Majapahit. Prabu Maharaja menolak, ia lebih memilih perang dengan Majapahit dari pada menjadi taklukan kerajaan itu. Perang antara prajurit kedua kerajaan terjadi di daerah yang bernama Bubat, menewaskan Prabu Maharaja dan nyaris seluruh prajurit Galuh.[3] Hanya mangkubumi (patih) Rahyang Bunisora dan putra bungsu raja yang bernama Niskala Wastu Kancana yang selamat dan berhasil kembali ke Kawali.

Periode keemasan kerajaan Galuh dicapai pada masa pemerintahan putra Prabu Maharaja yang bernama Niskala Wastu Kancana (1371-1475). Abad XIV, pusat pemerintahan Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran oleh cucunya yang bergelar Sri Baduga Maharaja Dewata Prana. Ia menikah dengan putri penguasa kerajaan Sunda, sehingga memiliki hak atas tahta kerajaan itu. Ia menggabungkan kerajaan Galuh ke dalam kerajaan Sunda dan memindahkan pusat kekuasaan ke Pakuan Pajajaran. Peristiwa itu sekaligus mengakhiri berita tentang Galuh periode Kawali.

Penguasa-penguasa Kabupaten Galuh

Nama Galuh muncul kembali pada abad XVI sebagai nama sebuah kerajaan mandiri yang berpusat di Panaekan. Bersama dengan Sumedang Larang, Galuh menjadi penerus kerajaan Sunda yang hancur oleh Banten. Pada tahun 1595 ketika Galuh dipimpin oleh Sanghiang Cipta Permana, Mataram Islam berhasil menanamkan pengaruh politiknya di Galuh. Pengganti Panembahan Senapati yang bernama Sultan Agung mengangkat putra Sanghiang Cipta Permana yang bergelar Adipati Panaekan (1618-1625) sebagai wedana Mataram di Galuh.[4] Langkah awal Adipati Panaekan adalah memindahkan pusat pemerintahan dari Panaekan ke Gara Tengah. Tahun 1625 ia dibunuh oleh saudara iparnya yang bernama Adipati Kertabumi.[5] Pembunuhan itu dipicu oleh perbedaan faham dalam menanggapi rencana penyerangan terhadap Batavia oleh Mataram. Adipati Panekan berpendapat lebih baik menyerang Batavia secepatnya agar kekuasaan VOC tidak semakin berkembang. Singaperbangsa I sependapat dengan Rangga Gempol I, yaitu menginginkan Galuh memperkuat pasukannya dahulu sebelum menyerang Batavia. Adipati Panaekan dituduh membantu Adipati Ukur yang memberontak kepada Mataram karena ingin melepaskan Priangan dari kekuasaan raja Jawa.

Pengganti Adipati Panaekan adalah putranya yang bernama Adipati Imbanagara (1625-1636). Sama seperti ayahnya, ia mati dibunuh oleh prajurit Mataram pada tahun 1636.[6] Kematiannya mengakibatkan terjadinya kekosongan kepala pemerintahan kabupaten Galuh yang kemudian dimanfaatkan oleh patih Wiranangga untuk mengangkat dirinya sebagai bupati Galuh. Ia berbuat curang dengan cara mengganti nama calon bupati yang ditunjuk penguasa Mataram dengan namanya. Piagam pengangkatan itu disembunyikan Wiranangga di kolong rumahnya. Pengasuh putra Adipati Imbanagara berhasil menemukannya lalu melaporkan kepada prajurit Mataram. Sebagai hukuman atas kecurangannya, Wiranangga dihukum mati oleh raja Mataram.

Pengganti Adipati Imbanagara adalah putranya yang bergelar Adipati Panji Aria Jayanagara (1636-1642).[7] Ia resmi menjadi bupati Galuh pada 5 Rabi’ul Awal tahun Je yang bertepatan dengan 6 Agustus 1636. Atas saran raja Mataram, ia mengganti nama kabupaten Galuh menjadi kabupaten Galuh Imbanagara. Jayanagara memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Galuh dari Gara Tengah ke Barunay.[8] Pada masa pemerintahannya, Galuh dikenai kebijakan reorganisasi Priangan oleh raja Mataram. Tahun 1641 Mataram membentuk kabupaten-kabupaten baru di sekitar Galuh, yaitu Bojong Lopang, Utama, Kawasen, dan Banyumas.

Reorganisasi Priangan terulang kembali pada tahun 1645, yaitu ketika Amangkurat I berkuasa di Mataram. Tetapi pada reorganisasi wilayah kali itu, luas wilayah kabupaten Galuh tidak berubah, bahkan ketika diserahkan kepada VOC pun relatif tetap. Mataram menyerahkan Priangan Timur yang terdiri dari kabupaten Limbangan, Sukapura, Galuh, dan Cirebon kepada VOC melalui perjanjian 19-20 Oktober 1677. Bupati Galuh yang berkuasa saat itu adalah putra Jayanagara yang bergelar R.A. Angganaya (1678-1693).[9] VOC menetapkan jumlah cacah untuk kabupaten Galuh sebanyak 708 jiwa, Kawasen sebanyak 605 jiwa, sedangkan Bojong Lopang sebanyak 20 jiwa dan 10 desa. Beralihnya kekuasaan dari Mataram kepada VOC telah memberikan keuntungan, yaitu semakin teraturnya sistem pemerintahan kabupaten.[10]

Bupati Galuh berikutnya adalah putra Angganaya yang bergelar R.A. Sutadinata (1693-1706).[11] Bertepatan dengan masa pemerintahannya, VOC memberlakukan Prianganstesel sebagai sistem ekonomi dan indirect rule sebagai sistem pemerintahan di seluruh daerah kekuasaannya. Sutadinata adalah bupati Galuh pertama yang diakui sebagai bupati VOC. Kabupaten Galuh resmi diserahkan kepada VOC oleh Mataram melalui perjanjian tanggal 5 Oktober 1705 sebagai imbalan atas jasa VOC membantu Pangeran Puger merebut tahta Mataram dari Amangkurat III.

Pengganti Sutadinata adalah putranya yang bergelar R.A. Kusumadinata I (1706-1727).[12] Untuk mengawasi para bupati di wilayah Priangan Timur, VOC mengangkat Pangeran Aria dari Cirebon sebagai opziener.[13] Ia mengeluarkan kebijakan yang berkaitan  dengan Galuh, yaitu mengangkat patih Cibatu sebagai bupati Kawasen karena dianggap sebagai menak tertua dan pandai. Ia juga melebur kabupaten Utama ke dalam kabupaten Bojong Lopang.

Pengganti Kusumadinata I adalah putranya yang bergelar R.A. Kusumadinata II (1727-1751).[14] Ia menjabat bupati dalam waktu yang singkat karena meninggal dalam usia muda. Ia belum berkeluarga, sehingga jabatan bupati diwariskan kepada keponakannya yang kelak bergelar R.A. Kusumadinata III. VOC tidak mengangkat salah satu adik Kusumadinata II, yaitu Danumaya dan Danukriya karena mereka berlainan ibu, oleh karena itu VOC memutuskan untuk mencalonkan putra kakak perempuan Kusumadinta II.

Pemerintahan Galuh dijalankan sementara oleh 3 orang wali Kusumadinata III yang dipimpin oleh R.T. Jagabaya. Pada masa pemerintahannya, terjadi kericuhan besar di daerah Ciancang yang menyebabkan daerah itu porak-poranda.[15] Peristiwa itu dipimpin oleh Tumenggung Banyumas dan dibantu oleh Ngabehi Dayeuh Luhur. VOC menggabungkan Ciancang ke dalam wilayah Imbanagara dan menyerahkan pengawasannya kepada Jagabaya. Pemerintahan Galuh diserahkan kepada Kusumadinta III (1751-1801) setelah dewasa.[16] Ia berhasil memulihkan kondisi Ciancang yang telah digabungkan ke dalam wilayah Imbanagara.[17] Selain berhasil memulihkan kondisi wilayah Galuh yang menurun, Kusumadinta III berhasil memperkuat kehidupan agama masyarakat Galuh.[18]

Pengganti Kusumadinata III adalah putranya yang bergelar R.A. Natadikusuma (1801-1806).[19] Natadikusuma menjabat bupati Galuh dalam waktu yang relatif singkat. Ia dianggap menghina pejabat Belanda yang bernama Van Bast, sehingga dipecat dari jabatan bupati.[20] Akibat perbuatannya itu, ia ditahan untuk beberapa waktu di Cirebon tetapi kemudian dibebaskan dan dikembalikan ke Imbanagara. Jabatan bupati Galuh tidak diwariskan kepada putra Natadikusuma, tetapi diserahkan kepada bupati penyelang dari Limbangan, yaitu R.T. Surapraja (1806-1811).[21]

Akibat perbuatan Natadikusuma, pemerintah kolonial memutuskan untuk mengurangi wilayah kekuasaan Galuh. Banyumas dan Dayeuh Luhur dikeluarkan dari wilayah Galuh. Kawasen, Pamotan, Pangandaran, dan Cijulang digabungkan ke dalam wilayah kabupaten Sukapura, sedangkan Utama dan Cibatu digabungkan ke dalam wilayah Imbanagara.[22] Bupati Cibatu yang bernama R.T. Jayengpati Kartanagara (1811-1812) diangkat menjadi bupati Galuh, ia dibebankan kewajiban membayar utang kabupaten Galuh sebanyak 23.000 Rds.[23]

Jayengpati memindahkan pusat pemerintahan Galuh dari Imbanagara ke Cibatu. Ia tidak lama menjabat karena pemerintah kolonial menggantinya dengan R.T. Natanagara (1812) dari Cirebon. Natanagara mengusulkan kepada pemerintah kolonial untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Randengan, tetapi usul itu ditolak. Natanagara dipecat karena dianggap tidak mampu mengatasi pemberontakan yang terjadi di Nusa Kambangan. Penggantinya adalah P. Sutawijaya (1812-1815) dari Cirebon.

Sutawijaya didampingi oleh tiga orang patih, yaitu Wiradikusuma, Wiratmaka, dan Jayadikusuma. Pada masa pemerintahannya, daerah Dayeuh Luhur, Madura, dan Nusa Kambangan dimasukkan ke dalam kabupaten Banyumas. Imbanagara diserahkan kepada patih Wiradikusuma, Cibatu kepada Jayakusuma, sedangkan Utama kepada Wiratmaka. Sutawijaya memindahkan pusat pemerintahan dari Cibatu ke Burung Diuk untuk memudahkan pengawasan pembangunan Dayeuh Anyar yang dipersiapkan sebagai ibu kota kabupaten yang baru.[24]

Patih Galuh yang bernama Wiradikusuma (1815-1819) diangkat sebagai bupati Galuh menggantikan Sutawijaya yang kembali ke Cirebon.[25] Meskipun sudah lanjut usia, pemerintah kolonial mempercayainya untuk memimpin kabupaten Galuh. Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan Galuh dipindahkan dari Cibatu ke Ciamis.[26] Ia mengajukan pensiun kepada pemerintah kolonial yang disetujui pada tahun 1819. Penggantinya adalah putranya yang bergelar R.A. Adikusuma (1819-1939).[27] Pada masa pemerintahannya, kabupaten Kawali dan Panjalu digabungkan ke dalam kabupaten Galuh. Untuk selanjutnya kabupaten Galuh dibagi menjadi 4 distrik, yaitu Ciamis, Kepel, Kawali, dan Panjalu.[28] Pada masa pemerintahan Adikusuma, pemerintah kolonial menggulirkan Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel. Komoditas tanaman perdagangan yang dikenai tanam wajib di Galuh adalah kopi, beras, tebu, dan tarum.

Pengganti Adikusuma adalah putranya yang bergelar R.A.A. Kusumadiningrat (1839-1886).[29] Galuh mengalami perkembangan relatif signifikan di bawah kepemimpinannya, terutama di bidang pendidikan dan pembangunan fisik. Kusumadiningrat memprakarsai pembangunan beberapa saluran irigasi yang sangat berguna bagi pertanian rakyat, yaitu bendungan Nagawangi, Wangundireja, Cikatomas, dan Nagawiru. Ia juga memprakarsai pembangunan 3 buah pabrik minyak kelapa dan sebuah pabrik penggilingan kopi.[30] Ia juga membangun masjid agung Galuh dan gedung-gedung perkantoran di daerah Ciamis. Selain itu, ia juga berhasil meyakinkan pemerintah kolonial untuk mengalihkan jalur kereta api melewati daerah kota Ciamis. Jalur kereta itu terpaksa dibangun di atas jembatan Cirahong agar bisa dialihkan ke kota Ciamis.

Pengganti Kusumadiningrat adalah putranya yang bernama R.A.A. Kusumasubrata (1886-1914). Sejak kecil ia sudah dibimbing dan persiapkan oleh ayahnya untuk menjadi penggantinya. Salah satu bentuknya adalah memasukkan Kusumasubrata (juga  saudara-saudaranya) ke sekolah formal selain pesantren.[31] Awalnya Kusumasubrata disekolahkan di Sakola Kabupaten Sumedang yang memiliki guru bahasa Belanda bernama Warnaar.[32] Ia tidak melanjutkan sekolahnya karena sakit, lalu dibawa pulang ke Galuh dan di sekolahkan di Sakola Kabupaten Galuh. Kusumasubrata melanjutkan sekolahnya, ia didaftarkan ke Kweekschool di Bandung, tetapi tidak diterima.[33] Akhirnya ia sekolah di Hoofdenschool yang baru saja dibuka di Bandung.[34] Setelah menyelesaikan sekolahnya, ia magang di kabupaten Galuh sebagai juru tulis kabupaten.[35]

Keturunan Kusumasubrata tidak ada yang menjadi bupati Galuh. Meskipun dekat dengan para pejabat Belanda, namun tidak membuat mereka memihak kepada Belanda. Tidak hanya kepada pejabat Belanda saja mereka memberontak, kepada para ayah angkatnya yang berkebangsaan Belanda pun mereka cenderung memberontak. Putra Kusumasubrata yang bernama R. Otto Gurnita Kusumasubrata menjadi salah satu pendiri Negara Pasundan yang menentang Belanda.

Bupati Galuh berikutnya adalah R.A.A. Sastrawinata (1914-1936). Ia mengganti nama kabupaten Galuh menjadi kabupaten Ciamis pada tahun 1916. Tahun 1926 bersama-sama dengan kabupaten Tasikmalaya dan Garut, Ciamis dimasukkan ke dalam afdeeling Priangan Timur. Sastrawinata mendapat Bintang Willems Orde karena berhasil menumpas pemberontakan komunis yang dipimpin oleh Egom, Hasan, dan Dirja yang meletus di Ciamis. Ia juga mendapatkan penghargaan Bintang Tanjung dan stempel singa dari pemerintah kolonial atas jasanya membuka rawa-rawa di daerah Cisaga untuk dijadikan area pesawahan.


  • [1] Nama Sanjaya diidentikan dengan nama penguasa yang disebutkan dalam Prasasti Canggal (723). Keterangan prasasti Canggal saling melengkapi dan menunjang dengan Carita Parahyangan.
  • [2]Pararaton menyebutkan bahwa Perang Bubat terjadi pada tahun 1357, sedangkan Carita Parahyangan menyebutkan bahwa Prabu Maharaja memerintah Galuh hanya 7 tahun sejak 1350. Berdasarkan dua keterangan itu, dapat disimpulkan bahwa Prabu Maharaja yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1357 sezaman dengan Hayam Wuruk dari Majapahit.
  • [3] Konon Gajah Mada mendatangi rombongan Galuh yang beristirahat di daerah Bubat sebelum melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Prabu Maharaja menolak syarat yang diajukan oleh Gajah Mada karena pada awal pinangan tidak ada persyaratan apapun. Prabu Maharaja memutuskan kembali ke Kawali tetapi dicegah oleh pasukan Gajah Mada yang akhirnya menjadi peperangan. Raja dan keluarganya, para pengiring, dan pasukan Galuh gugur dalam pertempuran itu. Calon pengantin putri memutuskan bunuh diri dari pada harus menikah dengan Hayam Wuruk yang dianggap sebagai penyebab kematian seluruh rombongan Galuh.
  • [4] Penguasa Galuh sejak Adipati Panaekan tercantum dalam beberapa catatan VOC dan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Adipati Panaekan adalah bupati pertama yang diangkat sebagai wedana Mataram di wilayah Mancanagara Kilen dengan anugerah 960 cacah. Tidak berlebihan jika Adipati Panaekan disebut sebagai De oudste der Wedana’s in de Wester Ommelanden van Mataram. Lihat F. de Haan, ibid, hlm. 68.
  • [5] Adipati Kertabumi adalah penguasa kabupaten Bojong Lopang yang dibentuk oleh Mataram tahun 1641 sebagai kelanjutan dari penanganan pemberontakan Ukur (1630-1632). Wilayahnya meliputi Majenang, Dayeuh Luhur, Nusa Kambangan, dan daerah pantai Selatan. Sultan Agung menugasi Adipati Kertabumi untuk menjaga daerah yang paling dekat dengan Batavia, yaitu Karawang dengan Adipati Kertabumi sebagai bupatinya. Salah satu keturunannya yang bernama Sastrawinta kelak pada tahun 1914 menjadi bupati Galuh menggantikan Kusumasubrata.
  • [6] Berdasarkan keterangan tradisi lisan Galuh, kematian Adipati Imbanagara disebabkan oleh kemarahan Sultan Agung yang mendapat kabar bahwa Adipati Imbanagara telah menodai wanita Galuh yang diminta oleh Sultan Agung.
  • [7] Namanya adalah Yogaswara, sedangkan nama kecilnya adalah Mas Bongsar. Gelar Raden Panji Aria dianugerahkan oleh raja Mataram karena Jayanagara dianggap satu visi dengan raja Mataram.
  • [8] Barunay berada sekitar 10 km di sebelah barat ibu kota kabupaten Ciamis. Nama Barunay diganti menjadi Imbanagara setelah menjadi pusat pemerintahan yang baru. Pemindahan pusat pemerintahan itu dilakukan tanggal 14 Mulud tahun He atau bertepatan dengan tanggal 12 Juni 1642 yang dijadikan sebagai hari jadi kabupaten Ciamis.
  • [9] Angganaya adalah putra kedua Jayanagara, ia diangkat menjadi bupati Galuh karena kakaknya yang bernama R. Anggapraja (nama kecilnya adalah Mas Tumbal) menolak jabatan bupati yang diwariskan ayahnya karena ia tidak mau bekerja sama dengan VOC. Angganaya memiliki empat orang anak dari seorang istri, yaitu R. A. Sutadinata, R. Angganata, R. Ay. Gilang, dan R. Kartadinata.
  • [10] Selain bupati, ada beberapa kepala daerah di bawahnya yaitu wedana, penghulu, dan kepala cutak. Penghasilan para pejabat pemerintahan kabupaten diatur oleh VOC melalui pembagian tanah jabatan (bengkok) dan wajib kerja (pancen).
  • [11] Nama kecilnya adalah Mas Pato, ia adalah bupati Galuh pertama yang menyerahkan hasil penanaman kepada VOC. Tahun 1695, ia menyerahkan 90 pikul lada yang ditanam di daerah Kawasen (50 pikul) dan Imbanagara (40 pikul). Selain lada, ia juga menyerahkan 80 pikul tarum dan 55 pikul kapas.
  • [12] Kusumadinata I memiliki nama kecil Mas Bani. Dari pernikahannya dengan dua orang istri, ia memiliki 5 orang anak, yaitu R. Ay. Candranagara, R.A. Kusumadinata II, R. Danukria, R. Danumaya, R.Ay. Sarati.
  • [13] Kabupaten Karawang dan Cianjur tidak diawasi oleh opziener karena kedua kabupaten itu dianggap sebagai bagian dari Batavia. Bupati kedua kabupaten itu berada dalam pengawasan langsung para pejabat VOC. Lihat Otto van Rees, op.cit, hlm. 87.
  • [14] Kusumadinata II memiliki nama kecil Mas Baswa, ia juga mendapatkan sebutan Dalem Kasep yang artinya bupati tampan.
  • [15] Nama Ciancang diubah menjadi Utama setelah tiga kali berturut-turut dilanda kericuhan (nista maja utama).
  • [16] Nama kecil Kusumadinata III adalah Mas Garuda, ia masih anak-anak ketika ditujuk sebagai calon pengganti Kusumadinata II.
  • [17] Berkat keberhasilan Kusumadinata III memulihkan kondisi Ciancang, VOC menganugerahkan baju kebesaran dan lencana perak yang bertuliskan Vergeet Mij Niet.
  • [18] Ia bersahabat dengan beberapa ulama besar dari Cirebon. Salah satu guru agamanya adalah Kyai Bagus Satariyah yang mengajarkan tarikat satariyah.
  • [19] Natadikusuma memiliki nama kecil Demang Gurinda, ia dikenal sebagai bupati yang sangat dekat dengan rakyatnya dan membenci Belanda. Ia cenderung keras dalam menghadapi para pejabat Belanda. Ayahnya sempat merasa khawatir dengan sikapnya yang sering menentang kebijakan kolonial. Ia sangat melindungi rakyatnya dan tidak segan-segan melawan pejabat Belanda yang dianggap bertindak keterlaluan. Tidak heran jika pemerintah kolonial mengawasinya secara ketat karena tingkah lakunya lebih banyak memberontak dari pada patuh kepada mereka. Ia memiliki 22 orang anak dari 8 orang istri.
  • [20] Edi S. Ekajati, op.cit, hlm. 81.
  • [21] Sebutan bupati penyelang digunakan untuk mengidentifikasi bupati yang bukan keturunan Galuh.
  • [22]  Nama Galuh dipakai kembali sebagai nama kabupaten mengganti Galuh Imbanagara.
  • [23] Natadikusuma dianggap tidak membayar upeti selama 4 tahun, seingga ia berhutang kepada pemerintah kolonial sebesar 200.000 real yang harus ditanggung oleh bupati berikutnya.
  • [24] Dayeuh Anyar berarti kota baru, kelak dinamai Ciamis setelah pusat pemerintahan pindah ke kota itu. Nama Ciamis dianggap sebagai penghinaan Sutawijaya kepada Galuh. Dalam bahasa Cirebon, Ciamis artinya air anyir, sedangkan dalam bahasa Sunda Ciamis artinya adalah air manis. Kota Ciamis hingga sekarang tetap menjadi ibu kota kabupaten Ciamis.
  • [25] Wiradikusuma mendapat gelar Raden Tumenggung dari pemerintah kolonial setelah menjabat bupati Galuh.
  • [26]  Kabupaten Galuh resmi menjadi bagian dari Keresidenan Cirebon berdasarkan Besluit no. 23/ 5 Januari 1819.
  • [27] Pada tahun 1820, Adikusuma secara resmi mendapatkan gaji dari pemeritnah kolonial sebesar f. 500 dan bengkok seluas 100 bau.
  • [28] Kabupaten Galuh dibagi ke dalam empat distrik, yaitu distrik Ciamis, Panjalu, Kawali, dan Kepel (diubah menjadi distrik Rancah). Jumlah desa mencapai 91 desa, yang kelak bertambah menjadi 238 desa pada pemerintahan Kusumadiningrat.
  • [29] Kusumadiningrat yang lebih dikenal dengan sebutan Kangjeng Prebu sangat besar minatnya dalam kesenian. Beberapa kesenian rakyat seperti angklung, reog, ronggeng, calung, terbang, rudat, wayang, penca, dan berbagai macam ibing (tarian) berkembang pesat pada masa pemerintahannya. Ia bahkan menciptakan ibing baksa, yaitu ibingnyoderan atau tarian pembuka pada ibing tayub.
  • [30] Salah satunya adalah pabrik minyak Olvado yang didirikan di Ciamis, sedangkan pabrik penggilingan kopi didirikan di Kawali.
  • [31] Semua putra Kusumadiningrat disekolahkan di berbagai sekolah, ada yang di Sakola Kabupaten Galuh, Bandung, dan Sumedang, bahkan di Hoofdenschool.
  • [32] R.A.A. Koesoemasubrata, Ti Ngongkoak doegi ka Ngoengkoeeoek, (Bandung: Mijvorking, 1926), hlm.102.
  • [33] Tidak ada keterangan mengenai alasan tidak diterimanya Kusumasubrata di sekolah itu.
  • [34] Sikap Kusumadiningrat mencerminkan kesadarannya dalam menghadapi dan menyikapi perkembangan serta perubahan zaman. Ia beranggapan bahwa kualitas para putranya harus ditingkatkan untuk memenuhi tuntutan perubahan zaman.
  • [35] Para magang harus mempelajari etiket dan gaya hidup menak serta menghayati metode. Mereka tinggal dalam lingkungan keluarga menak dan mengerjakan apa saja tanpa bayaran.

[alert style=”white”] referensi: miniskripmi.blogspot.com (Yulia Sofiani)[/alert]

Sejarah Galuh (bagian VII, terakhir)

Sejarah Galuh (bagian VII, terakhir)

Kerajaan-kerajaan Lain di Sekitar Galuh

Berdasarkan naskah-naskah kuno, baik sekunder maupun primer, di wilayah Galuh terdapat beberapa kerajaan kecil. Sayang memang, bahwa kerajaan-kerajaan ini tak meninggalkan bukti otentik seperti prasasti atau bangunan fisik lainnya. Dalam laporan yang disusun Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat sejumlah nama kerajaan sebagai berikut:

  • Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?);
  • Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan;
  • Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan;
  • Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan;
  • Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman;
  • Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan;
  • Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo;
  • Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan;
  • Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka;
  • Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung;
  • Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara
  • Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis sejak tahun 1812.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com [/alert]

Sejarah Galuh (bagian VI)

Sejarah Galuh (bagian VI)

Galuh Setelah Pakuan Pajajaran Runtuh

Selama Sri Baduga memerintah di Pakuan, di Galuh pun tetap ada penguasa yang statusnya raja-bawahan Pajajaran. Dan hingga Pakuan Pajajaran runtuh tahun 1579, di Galuh masih terdapat beberapa raja yang memerintah. Mereka di antaranya: Prabu Haur Kuning, Prabu Cipta Sanghiang, Prabu Galuh Cipta Permana atau Ujang Ngekel (yang pertama masuk Islam).

Eksistensi politik Galuh goyah ketika tahun 1595, Mataram menyerang Galuh. Dan selanjutnya, pada masa Sultan Agung invasi militer Mataram terhadap Galuh makin gencar. Oleh penguasa Mataram, penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dengan jumlah pendududk (cacah) sebanyak 960 orang. Ketika Mataram hendak melancarkan serangan terhadap benteng VOC di Batavia tahun 1628, pengikut Mataram di Tanah Sunda berbeda pendapat. Misalnya, Rangga Gempol I dari Sumedang Larang menginginkan pertahanan militer diperkuat dahulu, sementara Dipati Ukur dari Tatar Ukur menginginkan serangan segera saja dilakukan. Pertentangan pun terjadi di Galuh, yakni antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya, Dipati Kertabhumi, Bupati Bojonglopang, putra Prabu Dimuntur, keturunan Prabu Geusan Ulun. Perselisihan ini memuncak dan akhirnya pecahlah perkelahian. Adipati Panaekan terbunuh pada tahun 1625. Ia lalu diganti puteranya, Mas Dipati Imbanagara, yang berkedudukan di Garatengah (sekarang Cineam).

Daftar Raja-raja di Galuh (dan Kawali, Saunggalah, dan Pakuan)

  • 1.    Wretikandayun atau Wertikandayun (612-702).
  • 2.    Mandiminyak (702-709).
  • 3.    Sena atau Sang Prabu Bratasena Rajaputra Linggabhumi (709-716 M).
  • 4.    Purbasora (716-723).
  • 5.    Sanjaya Sang Harisdarma atau Rakeyan Jambri (723-732 M), Pakuan-Galuh.
  • 6.    Premana Dikusuma atau Bagawat Sajalajaya (732)
  • 7.    Rahyang Tamperan atau Rakeyan Panaraban (732-739 M), Pakuan-Galuh.
  • 8.    Surotama alias Manarah alias Ciung Wanara atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Sakalabhuwana (739-783).
  • 9.    Sang Mansiri atau Prabu  Dharmasakti Wijaleswara (783-799).
  • 10.  Sang Tariwulan atau Prabu  Kertayasa Dewakusaleswara (799-806).
  • 11.  Sang Welengan atau Prabu  Brajanagara Jayabhuwana (806-813).
  • 12.  Prabu  Linggabhumi (813-842).
  • 13.  Rakeyan Wuwus atau Prabu Gajah Kulon (842-891 M), Pakuan-Galuh.
  • 14.  Arya Kedaton atau Prabu Darmaraksa Bhuwana (891-895 M). Catatan: sejak tahun 895 hingga 1311 M, pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur (Galuh atau Saunggalah) ke barat (Pakuan) dan sebaliknya.
  • 15.   Rakeyan Windusakti atau Prabu Dewagong Jayengbhuwana (895-913 M).
  • 16.   Rakeyan Kemuning Gading atau Prabu Pucukwesi atau Sang Mokteng Hujungcariang(913-916 M).
  • 17.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wanayasa, adik Pucukwesi (916-942 M).
  • 18.   Rakeyan Watwagong atau Prabu Resi Atmajadarma Hariwangsa (942-954 M), menantu Jayagiri.
  • 19.   Limburkancana atau Sang Mokteng Galuh Pakwan, putra Pucukwesi (954-964 M).
  • 20.   Rakeyan Sunda Sembawa atau Prabu Munding Ganawirya Tapakmanggala Jayasatru(964-973 M).
  • 21.   Rakeyan Jayagiri atau Prabu Wulung Gadung atau Sang Mokteng Jayagiri (973-989 M).
  • 22.   Rakeyan Gendang atau Prabu  Jayawisesa (989-1012 M).
  • 23.   Sanghyang Ageung atau Prabu Dewa Sanghyang atau Sang Mokteng Patapan (1012-1019M), Galuh.
  • 24.   Sri Jayabhupati atau Prabu Satya Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Bhuwanamanadala Leswaranindita Harogowardhana Wikramattunggadewa (1019-1042), Pakuan.
  • 25.    Prabu Dharmaraja Jayamanahen Wisnumurti Sakalasundabhuwana (1042-1064), Galuh.
  • 26.    Prabu Langlangbhumi atau Sang Mokteng Kreta (1064-1154), Pakuan.
  • 27.    Rakeyan Jayagiri atau Prabu Menakluhur Langlangbhumisutah (1154-1156), Pakuan.
  • 28.    Prabu Dharmakusumah atau Sang Mokteng Winduraja (1156-1175), Galuh.
  • 29.   Prabu Guru Dharmasiksa Paramartha Mahapurusa atau Guru Dharmakusumah atau Prabu Sanghyang Wisnu (1175-1297); di Saunggalah tahun 1175-1187, di Pakuan tahun 1187-1297.
  • 30.   Prabu Ragasuci atau Rakeyan Saunggalah (1297-1303), Saunggalah
  • 31.   Prabu Citragandha (1303-1311), Pakuan.
  • 32.   Prabu Lingga Dewata (1311-1333), Kawali.
  • 33.   Prabu Ajiguna Wisesa (1333-1340), Kawali.
  • 34.   Prabu Ragamulya Luhurprabhawa atau Sang Aki Kolot (1340-1350), Kawali.
  • 35.   Prabu Lingga Bhuwana Wisesa atau Prabu Maharaja atau Sang Mokteng Bubat (1350-1357 M), Kawali.
  • 36.   Prabu Bunisora (1357-1371), Kawali.
  • 37.   Niskala Wastukancana atau Prabu Raja Wastu atau Sang Mokteng Nusalarang (1371-1475), Kawali.
  • 38.   Ningratkancana atau Prabu Dewa Niskala atau Sang Mokteng Gunatiga (1475-1482), Kawali.
  • 39.   Sri Baduga Maharaja (1482-1521), Galuh dan Pakuan.

Mitos Buaya dan Harimau

Proses kepindahan ibukota pada masa Sunda-Galuh memiliki pengaruh secara sosial-budaya. Dalam hal tradisi, antara Galuh dengan Sunda memang terdapat perbedaan. Disebutkan, bahwa orang Galuh itu adalah “orang air”, sedangkan orang Sunda itu adalah “orang gunung”. Yang satu (Galuh) memiliki “mitos buaya”, yang lainnya (Sunda) memiliki “mitos harimau”.

Di sekitar Ciamis dan Tasikmalaya masih ada sejumlah tempat yang bernama Panereban. Pada masa silam, tempat tersebut konon merupakan tempat melabuhkan (nerebkeun) mayat karena menurut tradisi Galuh, mayat harus dihanyutkan (dilarung) di sungai. Sebaliknya, orang Kanekes (Banten) yang masih menyimpan banyak sekali peninggalan tradisi Sunda, mengubur mayat dalam tanah (ngurebkeun). Tradisi nerebkeun di sebelah timur dan tradisi ngurebkeun di sebelah barat, membekas dalam istilah panereban dan pasarean.

Perjalanan sejarah lambat-laun telah meleburkan kedua kelompok sub-etnik ini, Galuh dan Sunda (Orang Air dengan Orang Gunung) menjadi akrab. Perbauran ini, contohnya, dilambangkan oleh dongeng Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet (Seekor Kura-kura dan Seekor Monyet). Dongeng fabel khas Sunda ini sangat dikenal oleh segala lapisan masyarakat. Padahal dalam kenyataannya, monyet (wakil dari budaya gunung) dan kuya (wakil dari budaya air) itu bertemu saja mungkin tidak pernah.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]

Sejarah Galuh (bagian V)

Sejarah Galuh (bagian V)

Niskala Wastukancana, Pembuat Parit di Kawali

Dikarenakan putra mahkota, anak lelaki Lingga Bhuwana Wisesa, masih kecil, Kerajaan diperintah sementara oleh adik Lingga Bhuwana Wisesa, yakni Patih Mangkubhumi Suradipati. Setelah dinobatkan menjadi raja, Suradipati bergelar Sang Prabu Bunisora (disebut juga Prabu Kuda Lalean atau Prabu Borosngora). Raja ini memerintah selama 14 tahun (1357-1371) dan berkedudukan di Kawali. Bunisora pun dijuluki Batara Guru di Jampang karena ia menjadi pertapa dan resi yang ulung. Setelah wafat, ia dikenal dengan nama Sang Mokteng Geger Omas (Yang Dikebumikan di Geger Omas).

Bunisora memiliki dua anak lelaki bernama Giridewata (lahir tahun 1347) dan Bratalegawa (lahir 1350), dan beberapa anak gadis di antaranya Banawati dan Mayangsari. Giridewata, yang memang kurang berhak meneruskan Kerajaan Sunda, kemudian menjadi penguasa Cirebon Girang. Sementara itu, Bratalegawa memilih hidup menjadi saudagar; dan ia berhasil dalam menjalankan bisnisnya dan memiliki banyak kapal dagang serta sejumlah peristirahatan baik di lereng gunung maupun di pantai. Sebagai pedagang, Bratalegawa banyak bepergian ke manca negara, seperti Sumatera, Semenanjung Melayu, Campa, Cina, Srilangka, India, Persia, bahkan hingga ke Arab. Di negara-negara yang dikunjunginya, Bratalegawa banyak berkenalan dan bersahabat dengan para pedagang di negera bersangkutan. Bahkan ketika berada di Gujarat, India, ia memiliki rekan bisnis bernama Muhammad. Muhammad ini kemudian menikahkan Bratalegawa dengan anak gadisnya, Farhana. Bratalegawa pun masuk Islam dengan nama baru Haji Badaruddin al-Jawi. Dapat dikatakan, dialah orang Sunda yang pertama menjadi Muslim; sekitar satu abad sebelum Wali Sanga menyebarkan Islam di Tanah Jawa.

Ada pun setelah Bunisora mangkat, yang memegang tampuk pemerintahan selanjutnya adalah putra mahkota anak Lingga Bhuwana Wisesa, yaitu Niskala Wastukancana. Ketika tragedi Pasunda Bubat, usia Wastukancana baru 9 tahun dan merupakan satu-satunya ahli waris Kerajaan yang hidup karena ketiga kakaknya meninggal di Bubat. Setelah cukup usia, Wastukancana dinobatkan menjadi raja pada 1371 ketika berusia 23 tahun. Prabu Wastukancana-lah yang membuat Prasasti Kawali yang berjumlah 6 buah. Berikut adalah bunyi Prasasti Kawali I, II, III, IV, dan V.

“Inilah tanda bekas beliau yang mulia Prabu Raja Wastu (yang) berkuasa di kota Kawali, yang memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit (di) sekeliling ibukota, yang memakmurkan seluruh desa. Semoga ada penerus yang melaksanakan berbuat kebajikan agar lama jaya di dunia. Janganlah dirintangi, janganlah diganggu, yang memotong akan hancur, yang menginjak akan roboh. Semoga ada yang menghuni di Kawali ini yang melaksanakan kemakmuran dan keadilan agar unggul dalam perang. Sang Hyang Lingga Bingba. Demikianlah.”

Prasasti Kawali ini dengan jelas menegaskan bahwa pusat pemerintahan berada di Kota Kawali (mangadeg di Kuta Kawali) dan keratonnya disebut Surawisesa. Raja inilah yang memperindah keraton Surawisesa di Kawali dan membuat parit (buat pertahanan) di Kawali. Oleh naskah Carita Ratu Pakuan yang ditulis oleh Ki Raga dari Srimanganti-Cikuray, Surawisesa disebut sebagai keraton yang memberikan ketenangan hidup (dalem sipawindu hurip). Oleh naskah Pustaka Nusantara, keterangan tentang Kawali dan Surawisesa ini diperkuat, malah ada tambahan bahwa ayahnya pun (berarti Lingga Bhuwana yang gugur di Bubat) bertakhta di Kawali.

“Persemayaman Sang Prabu Wastu Kancana adalah keraton Surawisesa. Ibukota kerajaannya bernama Kawali. Pada masa sebelumnya, ayahnya pun bertahta sebagai maharaja di situ juga.”

Membuat parit di sekeliling kota (marigi sakuriling dayeuh) adalah ide Wastukancana guna membuat pertahanan kota, untuk kepentingan militer, karena raja-raja Sunda sebelumnya seperti Banga dan Dharmasiksa pernah membuat hal serupa di kota Pakuan. Wastukancana takut bila sewaktu-waktu negaranya diserang oleh bangsa atau kerajaan lain, mungkin oleh Majapahit yang pernah menghancurkan ayahandanya. Demikian pentingnya pembuatan parit itu, maka Raja Wastukancana merasa perlu mengabadikannya dalam prasasti. Karena penting “agar unggul dalam perang” dan juga mengerahkan rakyat-tentara yang jumlahnya pasti banyak, Wastukancana mengingatkan bahwa barang siapa yang mengganggu maka akan “hancur dan roboh”.

Perihal membuat parit ini, ternyata ditenggarai bahwa di sepanjang wilayah selatan dan timur-laut Kabupaten Bandung banyak terdapat bekas parit pertahanan. Bukan itu saja, naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630) banyak menyebutkan hal-hal yang menyangkut bidang kemiliteran atau peperangan. Simaklah sebagian bunyinya.

“Bila ingin tahu tentang perilaku perang, seperti: makarabihwa, katrabihwa, lisangbihwa, singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, suci
muka, braja panjara, asu maliput, merak simpir, gagak sangkur, luwak
maturut, kidang sumeka, babah buhaya, ngalingga manik, lemah mrewasa, adipati, prebu sakti, pake prajurit, tapak sawetrik, tanyailah panglima perang.”

Walau hingga kini belum diketahui sebagian arti dari kata-kata dalam naskah tersebut, akan tetapi naskah tersebut memberitaku kita bahwa masyarakat Sunda kuno telah mengenal taktik dan senjata militer yang cukup memadai. Sanghyang Siksakandang Karesian pun memperingatkan bahwa apabila rakyat diperintah untuk: bekerja ke ladang, ke sawah, ke serang besar, mengukuhkan tepian sungai, menggali saluran (marigi), mengandangkan ternak, memasang ranjau tajam, membendung sebagian alur sungai untuk menangkap ikan, menjala, menarik jaring, memasang jaring, menangguk ikan, merentang jaring; segala pekerjaan untuk kepentingan raja, hendaknya ia:

“jangan marah-marah, jangan munafik, jangan resah dan uring-uringan, kerjakanlah dengan senang hati semuanya.”

Juga, Kropak 632 atau Amanat Galunggung memuat hal-hal yang berkaitan dengan parit dan perang.

“Tetaplah mengikuti orangtua, melaksanakan ajaran yang membuat parit (nyusuk) di Galunggung, agar unggul perang, serba tumbuh tanam-tanaman, lama berjaya. Sungguh-sungguhlah mengikuti patikrama warisan dari para suwargi (almarhum).”

Niskala Wastukancana memerintah dalam waktu yang panjang sekali dan hampir tak mungkin, yaitu selama 104 tahun, dari tahun 1371 hingga 1475. Pada masanya, kehidupannya sosial pun menjadi perhatian. Ia memperingatkan kepada rakyatnya yang gemar berjudi agar meninggalkan kebiasaan buruknya. Ini sesuai dengan bunyi Prasasti Kawali VI, yaitu:

“Ini peninggalan dari (yang) kokoh (dari) rasa yang ada, yang menghuni kota ini jangan berjudi (karena) bisa sengsara.”

Wastukancana menikah dua kali, yaitu dengan Nay Ratna Lara Sarkati, anak dari Resi Susuklampung, sebagai permaisuri pertama. Setelah itu, ia pun menikah dengan sepupunya (putri sulung Bunisora), Nay Ratna Mayangsari. Dari Lara Sarkati lahirlah Sang Haliwungan (Susuktunggal). Dari Mayangsari lahir Ningratkancana (Dewa Niskala).
Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, Prabu Wastukancana disebut juga Prabu Wangisutah. Wastukancana setelah meninggal bergelar Sang Mokteng Nusalarang ring Giri Wanakusumah karena dikebumikan di Nusalarang di Gunung Wanakusumah.

Dewa Niskala, Ayah Sri Baduga

Setelah Niskala Wastukancana wafat, kerajaan dibagi dua. Susuktunggal diberi kuasaan atas wilayah sebelah barat, Kerajaan Sunda-Pakuan; sedangkan Ningratkancana diberi kekuasaan atas wilayah timur Citarum, yakni Galuh. Dengan demikian, “negara kembar” ini terbagi kembali. Sementara Susuktunggal memerintah di Pakuan, Dewa Niskala (Ningratkancana) memerintah Galuh selama 7 tahun (1475-1482). Hubungan kakak-adik ini kemudian diperkuat oleh perkawinan kedua anak mereka. Putri Susuktunggal bernama Kentring Manik Mayangsunda dinikahkan dengan Sri Baduga, anak Dewa Niskala.

Syahdan, ketika Majapahit pada masa Kertabhumi atau Bhre Wijaya (Brawijaya V) mengalami keruntuhan karena serangan Demak tahun 1478, banyak rombongan-pelarian dari Majapahit yang mengungsi ke Priangan. Salah satunya ada yang sampai di Kawali, yaitu Raden Baribin, saudara seayah Kertabhumi. Kehadiran Baribin diterima baik oleh Prabu Dewa Niskala (Ningratkancana). Baribin bahkan dijodohkan dengan puteri bungsu Dewa Niskala yang bernama Ratna Ayu Kirana (adik raden Banyak Catra atau Kamandaka, yang jadi raja-daerah di Pasir Luhur). Tak hanya itu, Dewa Niskala sendiri menikahi salah seorang wanita pengungsi dari Jawa Timur itu yang kebetulan telah bertunangan. (Carita Parahyangan menyebutnya “estri larangan ti kaluaran”). Memang, sejak peristiwa Pasunda Bubat, bagi kerabat keraton Galuh-Kawali (Sunda) merupakan hal tabu bila beristrikan kerabat keraton Majapahit. Pun, menurut aturan waktu itu, wanita yang telah bertunangan dilarang menikah dengan laki-laki lain dengan pengecualian bila tunangannya meninggal dunia atau membatalkan pertunangan. Maka dalam hal ini, Dewa Niskala melanggar dua “peraturan” sekaligus; dan sebagai raja hal tersebut dianggap dosa besar.

Melihat perbuatan saudaranya yang dinilai memalukan dinasti-keluarga, Susuktunggal di Pakuan mengancam hendak memisahkan kekerabatan dengan Galuh di Kawali. Namun, ketegangan tersebut cair melalui keputusan bahwa kedua raja yang berselisih itu bersama-sama mengundurkan diri sebagai raja. Dewa Niskala menyerahkan takhta Galuh kepada puteranya, Jayadewata (Sri Baduga), Susuktunggal menyerahkan takhta Sunda juga kepada Jayadewata, menantu sekaligus keponakan. Kerajaan warisan Wastukencana pun berada dalam satu tangan kembali, di tangan cucunya sendiri yang kelak menjadi raja besar di seluruh Tatar Sunda, Sri Baduga Maharaja. Dewa Niskala sendiri setelah wafat dikebumikan di daerah Gunatiga dan bergelar Sang Mokteng Gunatiga.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]

Sejarah Galuh (bagian IV)

Sejarah Galuh (bagian IV)

Kawali, Ibukota Galuh yang Baru

Setelah Citraganda tiada, takhta Galuh berpindah ke anaknya, Lingga Dewata. Sejak pemerintahan Prabu Lingga Dewata ini, pusat Kerajaan berpindah ke tempat yang baru, bernama Kawali. Belum ada keterangan pasti siapa sebenarnya yang pertama memerintah di Kawali. Yang jelas, menantunya, Prabu Ajiguna Wisesa (1333-1340), sudah berkedudukan di Kawali. Dengan begitu, sejak pertengahan abad ke-14 ini, pusat pemerintahan tak lagi berada Galuh atau Saunggalah atau pun Pakuan.

Kawali sendiri berarti “kuali” atau “belanga”. Lokasi Kawali cukup strategis karena berada di tengah segitiga Galunggung-Saunggalah-Galuh. Sejak abad ke-14, Galuh selalu dikaitkan dengan Kawali karena ada dua orang raja Sunda-Galuh yang dipusarakan di Winduraja, dekat Kawali. Nama Kawali kini masih digunakan sebagai nama desa, yakni Desa Kawali di Kampung Indrayasa, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Nama Kawali terabadikan dalam Prasasti Kawali, berupa batu peninggalan Prabu Raja Wastu (Niskala Wastukancana) di Astana Gede, Kecamatan Kawali.

Ajiguna Linggawisesa adalah menantu Lingga Dewata karena menikah dengan Dewi Uma Lestari alias Ratu Santika, putri Linggadewata. Dari perkawinan ini lahir Ragamulya (yang kelak menggantikan ayahnya) dan Suryadewata yang kemudian menurunkan raja-raja Talaga. Adik perempuan Ajiguna Linggawisesa yang bernama Pujasari diperistri oleh Patih Srenggana dan menjadi leluhur raja-raja Tanjung Barat yang terletak di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Prabu Ajiguna Linggawisesa memerintah dari tahun 1333 hingga 1340 M. Ia sezaman dengan Tribuwonotunggadewi Jayawisnuwardani (1328-1350).   Setelah wafat, Ajiguna Linggawisesa dipusarakan di Kiding. Maka dari itu, gelar anumertanya Sang Mokteng Kiding. Yang menggantikannya adalah putra sulungnya, yaitu Ragamulya Luhur Prabawa atau Sang Aki Kolot (1340-1350 M). Ia berputera dua orang yaitu Lingga Bhuwana dan Bunisora yang kedua-duanya kemudian menjadi penguasa di Kawali.

Pasunda Bubat

Prabu Lingga Bhuwana Wisesa memerintah di Kawali hanya 7 tahun, 1350-1357. Raja inilah yang meninggal pada tragedi Pasunda Bubat; karena itu digelari Sang Mokteng Bubat. Peristiwa Pasunda Bubat atau Perang Bubat ini terjadi pada 1357 M, yakni peperangan antara Sunda-Galuh dengan Majapahit. Kisah ini diuraikan cukup komplit dalam Kidung Sundayana dan Pararaton.

Mengenai Pasunda Bubat ini, Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara mengungkapkan:
Di medan perang Bubat ia (Lingga Bhuwana) banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.

Perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda terjadi di Desa Bubat. Nagarakretagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca menyebutkan bahwa Bubat merupakan bandar tempat kapal atau perahu berlabuh karena terletak di tepi sebatang sungai besar. Di Bubat ini terdapat sebuah lapangan upacara yang luas tempat upacara kenegaraan dan keagamaan. Jika ingin menghadiri upacara tersebut, Raja Hayam Wuruk datang ke Bubat dengan mengendarai kereta yang ditarik empat ekor kuda. Meski demikian, Nagarakretagama tak menyinggung Perang Bubat sama sekali; dan ini mungkin Prapanca tak ingin menyinggung-nyinggung masalah yang dapat membuat hati rajanya bersedih.

Perang Bubat sendiri meletus karena dipicu oleh ambisi Mahapatih Gajah Mada yang ingin menguasai Kerajaan Sunda. Carita Parahyangan mengisahkan bahwa putri Prabu Maharaja bernama Dyah Pitaloka Citraresmi sangat banyak keinginannya (manja). Ia ingin dipinang oleh seorang raja Jawa yang begitu berkuasa dan enggan bersuamikan pria berdarah Sunda. Dan konon Hayam Wuruk tertarik hatinya kepada Pitaloka Citraresmi setelah melihat sendiri lukisan Sang Putri Citraresmi di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman Jawa bernama Sungging Prabangkara.

Pararaton (Pararatwan) mengisahkan tragedi ini dengan cukup detail, yakni:
Kemudian terjadi peristiwa orang Sunda di Bubat. Sri Prabu (Hayam Wuruk) ingin memperistri putri dari Sunda. Patih Madu diutus mengundang orang Sunda. Maksudnya, mengharap agar orang Sunda menikahkan putrinya. Lalu Raja Sunda datang di Majapahit. Sang Ratu Maharaja (Sunda) tidak bersedia mempersembahkan putrinya. Orang Sunda harus meniadakan selamatan (jangan mengharapkan adanya upacara pesta perkawinan) kata sang utusan. Sang Mahapatih Majapahit tidak menghendaki pernikahan (resmi), sebab ia menganggap rajaputri sebagai upeti.

Sebenarnya, pihak Sunda sendiri agak keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Ia menilai, tidak lazim pihak perempuan datang kepada pihak pengantin pria; suatu hal yang dianggap tabu menurut adat yang berlaku di Sunda maupun Nusantara umumya. Akan tetapi, Sang Maharaja menilai bahwa pernikahan Pitaloka-Hayam Wuruk bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan, karena bukankah lelulur Hayam Wuruk adalah Raden Wijaya yang memiliki darah Sunda. Hayam Wuruk sendiri kemungkinan besar mengetahui bahwa dirinya masih keturunan raja Sunda. Di lain pihak pun, berdasarkan Kidung Sundayana, “Sumpah Palapa” Gajah Mada rupanya belum dikatakan berhasil karena Pajajaran belum juga mengakui kekuasaan Majapahit, walau sudah dua kali diserang.

Akhirnya, alih-alih Raja Hayam Wuruk yang lajang ingin menyunting putri Sunda yang kesohor cantik jelita, maka diutuslah Tuan Anepaken (Patih Sunda) untuk melamar Dyah Pitaloka Citraresmi. Maka ketika tiba saatnya, ratusan rakyat mengantar keberangkatannya yang disertai raja dan para bangsawan Sunda ke Majapahit dengan menggunakan perahu. Namun tiba-tiba, laut yang semula biru, secara mendadak dilihatnya berubah menjadi hamparan air yang bewarna merah. Tanda-tanda buruk iturupanya tidak dihiraukan, sehingga setelah sepuluh hari berlayar, rombongan tiba di Bubat.

Namun, Gajah Mada merasa keberatan menyambutnya karena menganggap putri Dyah Pitaloka Citraresmi merupakan “upeti yang akan dihadiahkan” kepada Raja Hayam Wuruk. Sebaliknya, Raja Sunda dan rombongan tetap bersikukuh bahwa putri Sunda yang cantik jelita itu akan “dipinang” oleh Hayam Wuruk. Perbedaan pendapat yang kemudian menimbulkan ketegangan itu, akhirnya mencapai puncaknya setelah utusan Sunda Patih Anakepan mencela keras sikap Gajah Mada. Anakepan mengingatkan, bahwa bantuan Sunda kepada Majapahit tidaklah sedikit ketika masa penaklukan Bali.

Sebelum ada keputusan sidang istana Majapahit, Gajah Mada telah mendahului menyerang rombongan Sunda yang tengah rehat di sebelah utara Majapahit. Peperangan pun tak terhindarkan. Para ksatria terkemuka dari pihak Sunda yang bersemangat berperang di antaranya: Larang Agung, Tuan Sohan, Tuan Gampong, Panji Melong, orang-orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuan Usus, Pangulu, Rangga Kaweni, orang Siring, Satrajali, Jagadsaya. Namun, karena tak seimbang dalam jumlah tentara dan peralatan, ditambah ketaksiapan pasukan Sunda yang memang semula tak berniat berperang, semua rombongan Sunda tewas. Dalam membela kehormatan martabatnya dan Kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Lingga Bhuwana gugur lebih dulu, tersungkur bersama Tuan Usus. Namun meski demikian, peperangan masih ters berkobar. Para ksatria Sunda lainnya akhirnya mengikuti jejak Prabu Maharaja, gugur sebagai satria yang membela kehormatan negaranya.

Putri Dyah Pitaloka pun diberitakan memilih bunuh diri, mengikuti jejak para kesatria Sunda. Namun, ada pula yang yakin bahwa sang Putri Sunda itu tak bunuh diri, melainkan ikut bertempur dan berhasil melukai Gajah Mada. Walau akhirnya gugur, Sang Putri berhasil melukai tubuh Gajah Mada dengan konon keris Singa Barong berlekuk 13, keris leluhur peninggalan pendiri Tarumanagara, Prabu Jayasinghawarman. Diceritakan, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang Sunda, tak ada yang ketinggalan. Hari naas tersebut terjadi pada Selasa-Wage sebelum tengah hari, tanggal 13 bagian terang, bulan Badra tahun 1279 Saka.

Begitu mengetahui tragedi Bubat, Hayam Wuruk begitu menyesalkan tindakan Gajah Mada. Ia lalu mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali (yang saat itu masuk ke dalam kekuasaan Majapahit) untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, pejabat sementara Raja Sunda. Pun, Hayam Wuruk berjajnji bahwa peristiwa tragis itu akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar bisa diambil hikmahnya.

Akibat tragedi Bubat ini, hubungan antara Gajah Mada dengan Hayam Wuruk kemudian merenggang. Hubungan antara Sunda-Majapahit pun tak bisa dikatakan harmonis kembali karena “nasihat dan pepatah” Sang Prabu Dharmasiksa kepada Raden Wijaya telah dikhianati oleh Gajah Mada yang memang bukan termasuk trah (keturunan) Wijaya. Dan hingga akhir hayatnya, Hayam Wuruk (yang bila ditelisik dari silsilah R. Wijaya, masih memiliki darah Sunda) tetap menepati janjinya: tak pernah melakukan penaklukan terhadap Sunda-Pajajaran. Hingga Majapahit runtuh, Pajajaran tetap negara merdeka.

Nasib Gajah Mada sendiri berakhir dengan tragis pula. Akibat luka yang digoreskan Dyah Pitaloka, ia menderita sakit yang tak bisa diobati, sehingga akhirnya meninggal. Tetapi, dalam versi lain disebutkan bahwa Gajah Mada tidak meninggal melainkan kecewa mendalam dan masgul atas kejadian tersebut. Ia akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Sang Maha Patih dan memilih menyepi di suatu tempat hinnga akhirnya moksa karena merasa tugasnya di dunia telah selesai.

Dikisahkan, Sri Maharaja Lingga Bhuwana senantiasa memperhatikan kemakmuran hidup rakyatnya. Kemahsyurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara (Nusantara). Kehebatan Prabu Maharaja membangkitkan rasa bangga kepada keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang, dan rakyat Priangan.

Oleh karena itu, nama Prabu Maharaja jadi mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi, dan keturunannya lalu disebut Prabu Siliwangi. Merujuk kepada Carita Parahyangan, Amir Sutaarga dan juga Atja beranggapan bahwa Prabu Wangi ini identik dengan Niskala Wastukancana, anak Lingga Bhuwana. Dengan begitu, Niskala Wastukancana-lah yang disebut Siliwangi, meski ada pula yang menyebutkan bahwa Sri Baduga-lah (cucu Wastukancana) yang disebut Prabu Siliwangi.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]