Sejarah Galuh (bagian III)

Sejarah Galuh (bagian III)

Antara Galuh, Saunggalah, dan Pakuan

Telah disebutkan, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan saat itu belum dapat diterima; sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh pada masa sebelumnya. Karena perbedaan daerah asal inilah, Prabu Darmaraksa (891-895) akhirnya tewas mengenaskan. Nyawanya berakhir di tangan seorang menteri Sunda yang fanatik.

Semenjak peristiwa itu, setiap raja Sunda yang baru dinobatkan selalu memperhitungkan tempat kediaman yang akan dipilihnya menjadi ibukota. Maka dari itu, pusat pemerintahan sering berpindah-pindah dari timur ke barat dan sebaliknya (antara 895 hingga 1482 M). Sebagai contoh: ayah Sri Jayabhupati berkedudukan di Galuh, namun Jayabhupati sendiri memilih tinggal di Pakuan; tetapi putra Jayabhupati berkedudukan di Galuh lagi. Begitu pula dengan Prabu Guru Dharmasiksa (1175-1187) yang menurut Kropak 406, mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian pindah ke Pakuan. Putranya, Prabu Ragasuci, berkedudukan di Saunggalah. Jadi, ada kalanya Galuh menjadi kerajaan utuh terlepas dari Kerajaan Sunda, ada kalanya berperan sebagai “kerajaan kembar” bersama Sunda.

Carita Parahyangan menceritakan bahwa Prabu Dharmasiksa mendirikan panti pendidikan dan sejumlah kabuyutan (tempat suci-keramat). Pembuatan tempat suci ini ternyata merata bagi setiap golongan, baik untuk para sesepuh (sang rama), para pendeta (sang resi), para dukun (sang disri), para biksu (sang wiku), pawang rakit (sang tarahan), dan para leluhur (parahiyangan). Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi semacam sinkretisasi (pembauran) dalam hal kepercayaan-kemagisan-keagamaan, sebagaimana yang telah terjadi di Jawa Timur. Kebijaksanaan Dharmasiksa ini diperoleh dari arahan para wiku yang mengamalkan keaslian Sunda, berpegang teguh kepada ajaran dharma, dan menjalankan aturan agama (ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda, mikukuhan Sanghyang Dharma, ngawakan Sanghyang Siksa).

Gejala pemerintahan yang condong ke timur Jawa Barat ini sesungguhnya telah ada sejak masa Prabu Ragasuci (1297-1303). Tatkala naik tahta menggantikan ayahnya (Prabu Guru Darmasiksa), Prabu Ragasuci tetap memilih Saunggalah sebagai pusat pemerintahan karena sebelumnya telah lama berkedudukan sebagai raja daerah di wilayah timur (Galuh). Namun, pada masa pemerintahan putranya, Prabu Citraganda, Pakuan untuk kesekian kalinya menjadi ibukota dan pusat pemerintahan Sunda.

Yang sebenarnya berhak menggantikan Dharmasiksa adalah Rakeyan Jayadarma, kakak Ragasuci. Menurut Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, Jayadarma adalah menantu Mahisa Campaka dari Kerajaan Singasari di Jawa Timur karena ia menikah dengan Dyah Singamurti atau Dyah Lembu Tal. Mereka berputrakan Sang Nararya Sanggramawijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya yang lahir di Pakuan, yang kelak pendiri kerajaan besar di Jawa Timur, Majapahit. Akan tetapi, karena Jayadarma wafat dalam usia muda, takhta pun berpindah ke Ragasuci.

Setelah Jayadarma mangkat, Lembu Tal enggan tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya, ia bersama putranya, Wijaya, pulang ke Jawa Timur. Dalam Babad Tanah Jawi, Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pajajaran. Kematian Jayadarma mengakibatkan kekosongan takhta karena putra mahkota, Wijaya, memilih tinggal di Jawa Timur. Prabu Dharmasiksa kemudian menunjuk cucunya, yakni putra kedua Prabu Ragasuci, bernama Citraganda, sebagai ahli waris Kerajaan. Permaisuri Ragasuci adalah Dara Puspa, putri Kerajaan Melayu, adik Dara Kencana istri Kertanegara Raja Singasari. Citraganda tinggal di Pakuan bersama kakeknya.

Mengenai Ragasuci ini, yang oleh Kropak 632 disebut sebagai Sang Lumah ing Taman (Yang dikebumikan di Taman, tak jauh dari Winduraja), ada kemungkinan ia memiliki saudara lain, tepatnya kakak perempuan. Hal ini dapat dilacak melalui Prasasti Gegerhanjuang yang terletak di Singaparna, Tasikmalaya, yang diperkirakan dibuat pada tahun 1033 Saka (1111 M). Disebutkan pada prasasti tersebut adanya kegiatan panyusukan atau penyaluran air sehubungan dengan pembuatan Kabuyutan Linggawangi yang merupakan lokasi ditemukannya prasasti bersangkutan. Panyusukan ini dilakukan atas perintah Batari Hyang, yang merujuk kepada seorang wanita (batari, bukan batara) yang setidaknya memiliki kedudukan istimewa dalam masyarakat. Tokoh Batari Hyang ini kemungkinan besar yang ditunjuk untuk mengurusi Kabuyutan Linggawangi, yang memang terdapat dalam wilayah Gunung Galunggung.  Dengan begitu, sangat mungkin bahwa Batari Hyang ini adalah kakak perempuan Sang Lumah ing Taman (Rajasuci), dan ia melakukan upacara sakral dalam merestui/menyambut penobatan adiknya menjadi raja di Saunggalah.

Setelah Prabu Darmasiksa mangkat, untuk sementara Citraganda menjadi raja daerah selama enam tahun di Pakuan. Ketika itu Raja Sunda dijabat ayahnya, Ragasuci, di Saunggalah. Dari 1303 sampai 1311 M, Citraganda lalu menjadi Raja Sunda di Pakuan. Setelah wafat ia dipusarakan di Tanjung.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]

Sejarah Galuh (bagian II)

Sejarah Galuh (bagian II)

Kudeta PertamaS

Raja Galuh ketiga, Sena (709-716 M), memiliki nama nobat Sang Prabu Bratasena Rajaputra Linggabhumi. Ia menjalin hubungan persahabatan dengan Tarusbawa yang memerintah Kerajaan Sunda selama 54 tahun (669-723). Maka dari itu, Sanjaya dinikahkan dengan cucu Tarusbawa yang bernama Dewi Tejakancana Hayu Purnawangi atau Nay Sekarkancana. Putra mahkota yang rencananya akan menggantikan Tarusbawa, yakni Rakeyan Sunda Sembawa, mati dalam usia muda. Maka dari itu, cucu Tarusbawa yang bernama Dewi Tejakancana (anak dari Sunda Sembawa) dijadikan ahli waris Kerajaan. Setelah menikah dengan Tejakancana, Sanjaya lalu dinobatkan menjadi raja Sunda. Ia memerintah Sunda dan juga Galuh selama sembilan tahun (723-732).

Sena digulingkan dari takhta Galuh oleh Purbasora Jayasakti, yang tak lain keponakannya sendiri, pada 716 M. Purbasora adalah cucu Wretikandayun dari putera sulungnya, Sempakwaja. Sena sendiri adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Jadi, Purbasora merasa lebih berhak atas singgasana Galuh karena ayahnya adalah anak pertama Wretikandayun. Ayah Purbasora, Sempakwaja tak diangkat menjadi raja karena dinilai tak layak menjadi pemimpin karena giginya ompong.

Hubungan Purbasora dan Sena tak hanya keduanya sama-sama cucu Wretikandayun. Mereka berdua sebenarnya saudara satu ibu. Ayah Sena, Mandiminyak, dulunya pernah berhubungan gelap dengan kakak iparnya, istri Sempakwaja, Pwahaci Rababu. Dari Pwahaci, Sempakwaja berputrakan Purbasora dan Demunawan (Carita Parahyangan menyebutnya Seuweukarma yang menganut Buddha).

Dengan dibantu pasukan dari Kerajaan Indraprahasta, sebuah kerajaan di daerah Cirebon, Purbasora melancarkan kudeta merebut Galuh. Sena melarikan diri ke daerah timur di sekitar Gunung Marapi yang termasuk wilayah Kalingga, kerajaan nenek istrinya, Maharani Sima. Purbasora menjadi raja di Galuh selama tujuh tahun (716-723). Ia menikah dengan putri Raja Indraprahasta Sang Resi Padmahariwangsa yang bernama Dewi Citrakirana.

Sanjaya alias Rakeyan Jambri, anak Sena, pun tak tinggal diam; berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Segera Sanjaya, yang penganut Hindu-Siwaisme, meminta bantuan Tarusbawa, sahabat ayahnya yang juga kakek istrinya. Sebelum penyerangan dilancarkan, Sanjaya telah menyiapkan pasukan khusus di daerah Gunung Sawal atas bantuan Rabuyut Sawal, sahabat baik Sena juga. Pasukan khusus ini dipimpin Sanjaya langsung, sementara pasukan Sunda dipimpin Patih Anggada. Serangan dilakukan pada malam hari secara diam-diam dan sangat mendadak. Seluruh keluarga Purbasora tewas. Yang berhasil meloloskan diri hanyalah menantu Purbasora, Bimaraksa yang menjabat Patih Galuh, bersama segelintir pasukan.

Bimaraksa dikenal juga dengan nama Ki Balangantrang karena ia pun merupakan senapati kerajaan. Bimaraksa juga merupakan cucu Wretikandayun dari putra kedua, Resi Guru Jantaka atau Rahiyang Kidul. Dalam pelariannya, Bimaraksa bersembunyi di kampung Geger Sunten dan diam-diam menghimpun kekuatan untuk melawan Sanjaya. Ia mendapat dukungan dari raja-raja di daerah Kuningan dan juga sisa-sisa laskar Indraprahasta, kerajaan yang sebelumnya telah ditaklukkan oleh Sanjaya karena dahulu membantu Purbasora dalam usaha menjatuhkan Sena.

Sena sempat menasehati Sanjaya bahwa kecuali Purbasora, anggota keluarga Galuh lainnya harus tetap dihormati. Sanjaya sendiri memang tidak berhasrat menjadi penguasa Galuh. Ia menyerang Galuh hanya dalam rangka balas dendam. Setelah mengalahkan Purbasora, Sanjaya segera mendatangi ayah Purbasora, yakni Sempakwaja, di Galunggung. Ia meminta agar uwaknya itu menobatkan Demunawan, adik Purbasora, menjadi raja Galuh. Namun, Sempakwaja menolak permohonan itu karena curiga kalau hal tersebut merupakan tipu-muslihat Sanjaya untuk melenyapkan Demunawan.

Sementara itu, Sanjaya pun tidak bisa menghubungi Balangantrang karena tak mengetahui keberadaannya. Melihat situasi ini, terpaksa Sanjaya mengangkat dirinya menjadi Raja Galuh. Dengan demikian, Sanjaya merupakan raja pertama yang memerintah di dua kerajaan sekaligus, Sunda dan Galuh.

Selama menjadi raja Galuh, Sanjaya menyadari bahwa kehadirannya di Galuh kurang begitu disenangi. Sebabnya: karena ia bukan asli Galuh melainkan orang Pakuan (Sunda). Maka dari itu, ia menobatkan Premana Dikusuma, cucu Purbasora, menjadi penguasa Galuh. Sebelumnya, Premana Dikusuma merupakan raja daerah. Dalam usia 43 tahun (lahir 683 M), ia telah dikenal sebagai rajaresi karena ketekunannya mendalami agama dan bertapa sejak muda. Karena itu, ia dijuluki Bagawat Sajalajaya.
Selain karena Premana cucu Purbasora, alasan lain Sanjaya mengangkatnya karena istri Premana, yakni Naganingrum, adalah cucu Ki Balangantrang. Dengan demikian, suami-istri itu cocok untuk mewakili keturunan Sempakwaja dan Jantaka, anak pertama dan kedua Wretikandayun.

Premana Dikusumah dan Naganingrum kemudian memiliki anak lelaki bernama Surotama alias Manarah. Surotama lahir pada 718 M. Saat Sanjaya menyerang Galuh ia masih kecil, berusia 5 tahun. Dalam sastra (literatur) Sunda klasik, Surotama dikenal sebagai Ciung Wanara. Di hari kemudian, kelak Ki Balangantrang, buyut dari ibunya, akan mengurai kisah tragis yang menimpa keluarga leluhurnya, sekaligus menyiapkan Manarah untuk melakukan balas dendam.

Untuk mengikat kesetiaan Premana terhadap pemerintahan pusat di Pakuan, Sanjaya menjodohkannya dengan Dewi Pangrenyep, puteri Anggada, Patih Sunda. Sanjaya pun menunjuk putranya, Tamperan, sebagai Patih Galuh, yang menganut Buddha. Penunjukan Tamperan bukannya tak beralasan; melaluinya Sanjaya bisa mengontrol dan mengawasi sepak-terjang pemerintahan Galuh.

Di lain pihak, Premana pun terpaksa menerima kedudukan Raja Galuh. Ia segan menolak karena Sanjaya memiliki sifat seperti Purnawarman, baik hati terhadap raja bawahan yang setia namun tak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Posisi Premana dalam keadaan serba sulit. Sebagai Raja Galuh yang menjadi bawahan Raja Sunda, ia harus tunduk kepada Sanjaya yang telah membunuh kakeknya sendiri. Sebagai solusinya, Premana memilih meninggalkan istana. Telah bulat tekadnya: ia akan bertapa di dekat perbatasan Sunda sebelah timur Sungai Citarum dan sekaligus juga meninggalkan istrinya. Pemerintahan ia serahkan kepada Tamperan, Patih Galuh yang menjadi “telik” sekaligus anak Sanjaya.

Ternyata, Tamperan mewarisi watak buyutnya, Mandiminyak yang senang membuat hubungan terlarang. Dengan Pangrenyep, istri Premana, Tamperan terlibat hubungan gelap. Hubungan rahasia mereka membuahkan seorang anak lelaki bernama Kamarasa alias Aria Banga (723 M). Hubungan terlarang ini terjadi karena beberapa alasan. Pertama, ketika ditinggal suaminya pergi bertapa, Pangrenyep merupakan pengantin baru yang berusia 19 tahun. Kedua, baik Tamperan maupun Pangreyep umurnya sebaya dan telah mengenal satu sama lain ketika masih di Keraton Pakuan. Ketiga, keduanya sama-sama cicit Tarusbawa. Selain itu, mereka sama-sama merasakan penderitaan jiwa karena kehadiran mereka sebagai orang Pakuan yang kurang diterima di Galuh.

Agar hubungan gelapnya tak tercium oleh orang lain, Tamperan menyuruh seseorang untuk membunuh Premana. Dan setelah si pembunuh bayaran tersebut berhasil menghabisi Premana, sungguh malang ia pun dibunuh pula oleh orang-orang suruhan Tamperan. Langkah ini diambil Tamperan agar rahasianya tertutup rapat-rapat. Namun, sepandai-pandainya menyembunyikan kejadian ini akhirnya tercium oleh Ki Balangantrang.

Pada 732 M Sanjaya mewarisi takhta Kerajaan Medang Kamulan (Bhumi Mataram) dari ibunya, Sannaha. Sebelum meninggalkan Pakuan, ia mengatur pembagian kekuasaan kepada Tamperan dan Resiguru Demunawan (lahir pada 646 M). Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan wilayah Saunggalah (Kuningan) dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan, putra bungsu Sempakwaja. Demunawan inilah yang kemudian mendirikan istana di Saunggalah, yang kelak sempat dijadikan istana raja-raja Sunda-Galuh selama beberapa kali.

Keturunan Manarah dan Banga

Tamperan menjadi penguasa Sunda-Galuh dari tahun 732-739 M. Di pihak lain, Manarah (Ciung Wanara) diam-diam tengah menyiapkan rencana perebutan takhta Galuh dengan bantuan buyutnya, Ki Balangantrang, di Geger Sunten. Tamperan sendiri tak menaruh curiga sedikit pun terhadap Manarah karena telah menganggapnya seperti anak sendiri.

Nama Ciung Wanara terdapat pada naskah Babad Galuh dan Babad Pajajaran. Selain Ciung Wanara, ada pula tokoh-tokoh lain, misalnya Nyai Purbasari dan Lutung Kasarung. Padahal, selama ini Ciung Wanara dan Lutung Kasarung dianggap tokoh fiktif, bukan pelaku sejarah. Mungkin saja, cerita yang terdapat dalam babad-babad tersebut adalah peristiwa sejarah yang berkaitan dengan Kerajaan Galuh-Sunda yang disamarkan sehingga terkesan sebagai legenda atau foklor—padahal merupakan peristiwa sejarah.
Penyerbuan ke Galuh dilancarkan pada siang hari bertepatan saat pesta sabung ayam. Sebagaimana acara kebesaran lainnya, acara sabung ayam ini dihadiri semua pembesar Galuh, termasuk Banga. Manarah bersama pasukannya hadir dalam gelanggang sebagai peserta sabung ayam. Balangantrang sendiri bertugas memimpin pasukan Geger Sunten menyerang Keraton Galuh.

Penyerangan mendadak tersebut berhasil dalam tempo satu malam (sama seperti peristiwa ketika Sanjaya menguasai Galuh). Tamperan dan Pangrenyep termasuk Banga berhasil ditawan di gelanggang sabung ayam. Karena dianggap tak bersalah, Banga kemudian dibebaskan. Pada malam harinya Banga berhasil membebaskan orang tuanya, Tamperan dan Pangrenyep, dari tahanan.

Namun, tindakan Banga tercium oleh pasukan pengawal yang segera memberitahukan hal tersebut kepada Manarah. Terjadilah pertarungan antara Manarah dengan Banga yang berakhir dengan kekalahan Banga. Sementara itu, Tamperan dan Pangrenyep yang melarikan diri terbunuh oleh panah-panahnya yang ditembakkan oleh pasukan Manarah.

Sanjaya yang memerintah di Medang i Bhumi Mataram marah mendengar Tamperan tewas. Tak menunggu lama, Sanjaya dengan diiringi pasukan dalam jumlah besar menyerang ibukota Galuh. Di lain pihak, Manarah telah menduga bahwa Sanjaya takkan tinggal diam. Oleh karena itu, ia telah siap-siaga dengan pasukan yang juga didukung oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta (kerajaan ini saat itu telah berubah nama menjadi Wanagiri), dan raja-raja di daerah Kuningan yang pernah ditaklukkan Sanjaya.

Perang saudara sesama keturunan Wretikandayun pun meletus. Untung, perang itu dapat dihentikan atas prakarsa Rajaresi Demunawan (ketika itu sudah sangat tua, berusia 93 tahun). Perundingan gencatan senjata digelar di Keraton Galuh pada 739 M. Kesepakatan pun tercapai. Galuh harus diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga. Sunda dan Galuh yang selama tahun 723-739 merupakan satu kekuasan terpecah kembali. Dalam perjanjian itu ditetapkan bahwa Banga merupakan raja bawahan, yang terpaksa diterima oleh Banga. Banga merasa, ia bisa tetap hidup karena kebaikan Manarah.

Untuk menjaga agar tak terjadi perseteruan, Manarah dan Banga dinikahkan dengan kedua cicit Demunawan. Manarah sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabhuwana memperistri Kancanawangi. Banga sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Kretabhuwana Yasawiguna Hajimulya, berjodoh dengan adik Kancanawangi, Kancanasari.

Sebuah naskah buatan abad ke-13 (atau ke-14) memberitakan bahwa Rakeyan Banga pernah membangun parit di Pakuan. Hal ini dilakukannya sebagai persiapan untuk mengukuhkan diri sebagai raja yang merdeka dari Galuh. Lepasnya Pakuan dari Galuh terjadi setelah 20 tahun Banga menjadi penguasa Pakuan. Daerah yang termasuk kekuasaannya adalah sebelah barat Citarum. Ia memerintah selama 739–766 M.

Manarah memerintah di Galuh hingga 783 M. Lalu ia melakukan manurajasuniya, mengundurkan diri dari takhta Kerajaan untuk melakukan tapa hingga akhir hayat. Manarah wafat pada 798 saat berusia 80 tahun.

Dalam naskah-naskah babad, posisi Manarah dan Banga ini sering tidak sesuai, alias dikacaukan. Tidak saja dalam hal usia, dimana Banga dianggap lebih tua, juga dalam penempatan mereka sebagai raja. Dalam naskah-naskah tua, silsilah raja-raja Pakuan selalu dimulai dengan tokoh Banga. Kekacauan silsilah dan penempatan posisi itu mulai tampak dalam naskah Carita Waruga Guru yang ditulis pada pertengahan abad ke-18.

Kekeliruan paling menyolok dalam Carita Waruga Guru ialah Banga dianggap sebagai pendiri Majapahit. Padahal, Majapahit didirikan Wijaya pada 1293 M, 527 tahun setelah Banga wafat. Kekacauan ini dapat dilihat pula pada kisah pertemuan Pangeran Cirebon Walangsungsang dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib yang masa hidupnya berselisih sekitar 8 abad lebih.

Keturunan Manarah yang bernama Sang Mansiri atau Prabu Dharmasakti Wijaleswara kemudian menjadi penguasa Galuh (783-799). Berturut-turut setelah Dharmasakti, yang menjadi raja Galuh adalah Sang Tariwulan atau Prabu  Kertayasa Dewakusaleswara (799-806), Sang Welengan atau Prabu  Brajanagara Jayabhuwana (806-813), dan Prabu Linggabhumi (813-852). Takhta Galuh diserahkan kepada suami adiknya, yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon atau Gajah Kulwan (819-891), cicit Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8. Rakeyan Wuwus beristrikan putri keturunan Galuh. Sementara itu, adik perempuan Rakeyan Wuwus menikah dengan putra Galuh yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Darmaraksa Bhuwana (Arya Kedatwan). Sejak 852 M, Kerajaan Sunda-Pakuan dan Galuh diperintah oleh keturunan Banga sebagai akibat perkawinan antara para kerabat keraton Pakuan, Galuh, dan Saunggalah.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]

Sejarah Galuh (bagian I)

Sejarah Galuh (bagian I)

Raja pertama Galuh adalah Wretikandayun (ada yang menulisnya Wertikandayun). Galuh sendiri terletak di wilayah Ciamis sekarang. Kendati hingga kini belum ada bukti otentik (sejarahan primer) di mana letaknya yang pasti, namun hingga sekarang ada sebuah desa bernama Bojong Galuh, yang disebut juga Desa Karangkamuliaan. Oleh Babad Galuh, desa ini dianggap sebagai bekas pusat Kerajaan Galuh. Dan bila dilihat dari segi keagamaan Hindu, tempat itu sangat strategis dijadikan pusat pemerintahan karena letaknya berada di muara, tempat pertemuan dua aliran sungai, yakni Sungai Citanduy dan Cimuntur.

Wretikandayun memerintah Galuh selama 90 tahun, dari tahun 612 hingga 702. Ia menikah dengan putri Resi Makandria, Nay Manawati atau disebut juga Dewi Candrarasmi. Dari pernikahan ini, Wretikandayun memiliki tiga orang anak, yakni Sempakwaja, Wanayasa (Jantaka), dan Mandiminyak (Amara). Karena Sempakwaja dan Jantaka memiliki kekurangan fisik, yang menjadi raja Galuh menggantikan Wretikandayun adalah Mandiminyak, putra bungsu. Sempakwaja yang bergigi ompong (Sempakwaja berarti “bergigi ompong”) menjadi pendeta di Galunggung dan bergelar Batara Dangiang Guru. Sedangkan Wanayasa atau Rahyang Kidul memilih jadi pendeta di Denuh karena dirinya menderita kemir (hernia).

Mandiminyak memerintah di Galuh selama tujuh tahun, dari 702-709. Permaisurinya bernama Dewi Parwati, putri pasangan Kartikeyasingha-Ratu Sima dari Kerajaan Keling (Kalingga). Namun, ternyata Mandiminyak menjalin hubungan gelap dengan kakak iparnya sendiri, Nay Pwahaci Rababu, istri Sempakwaja. Dari Parwati, Mandiminyak memiliki putri bernama Sannaha, sedangkan dari Pwahaci Rababu dihasilkan anak lelaki bernama Sena (Bratasenawa). Kemudian, Sannaha dinikahkan dengan Sena (saudara sebapak, lain ibu) yang menghasilkan seorang anak lelaki yang kelak menurunkan raja-raja di Jawa Tengah, yakni Sanjaya. Pada Prasasti Stirengga atau Prasasti Canggal (dibuat tahun 732 M), disebutkan bahwa Sanjaya adalah anak Sannaha. Sedangkan dalam Carita Parahyangan, disebutkan bahwa Sanjaya adalah anak Sena.

Dewi Parwati sendiri memiliki adik lelaki bernama Narayana. Narayana menikah dengan putri dari Jayasinghanagara dan memiliki anak bernama Dewasingha. Salah seorang anak Dewasingha adalah Limwa atau Gajayana, yang ketika berkuasa memindahkan ibukota kerajaan ke Linggapura di Jawa bagian timur yang asalnya berlokasi di Jawa Tengah bagian selatan.

[alert style=”white”]referensi: dangianggaluhpusaka.wordpress.com[/alert]