Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe

Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe

Salah satu situs unggulan di Kabupaten Ciamis yaitu situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe, di Dusun Tinggarahayu, Desa Cimaragas, Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis.

Situs Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe merupakan tinggalan Situs yang di dalmnya adanya bcb batu entog , batu lambang peribadatan, patilasan Prabu Galuh Salawe, dan sebagainya.

Prabu Salawe sekitar tahun 30 an ternyata telah dikunjungi oleh Bapak Proklamator Presiden pertama RI Ir. Soekarno, beliau berkunjung ke situs Prabu Galuh di Salawe ketika masih menjadi mahasiswa ITB Bandung. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya data-data kliping koran yang masih tersimpan sampai sekarang di Jupel Salawe Abah latif Adiwijaya.

Kemudian pada tahun 2013 setelah melalui seleksi yang ketat dari The soekarno Center yang berpusat di Tampaksiring Bali, Situs Prabu Galuh di Salawe mendapatkan sertifikat The Soekarno Center yang akan diberikan penganugrahan pada tanggal 20 Nopember 2013 di Balai Kota Bandung oleh Ketua The Soekarno Center Ibu Sukmawati Soekarno Puteri.

[alert style=”white”] sumber: Eman Hermansyah Sastrapraja/PANGAUBAN GALUH PAKUAN

Gambar: WARGA mengikuti ritual misalin di situs keramat makam Galuh Salawe di Cimaragas Kabupaten Ciamis, Minggu (15/7). Misalin salah satu ritual yang digelar menjelah Ramadan.**(foto: Pikiran Rakyat)
[/alert]

Situs Singaperbangsa III

Situs Singaperbangsa III

Situs singaperbangsa III dari kerajaaan galuh kertabumi yang sudah masuk islam cisaga yang menurunkan bupati pertama karawang singaperbangsa IV.

[alert style=”white”]foto: Eman Hermansyah Sastrapraja, PANGAUBAN GALUH PAKUAN[/alert]

Situs Pangcalikan Gunung Padang

Situs Pangcalikan Gunung Padang

Di Desa Sukaresik, Kecamatan Cikoneng terdapat semacam hutan lindung yang di dalamnya terdapat objek peninggalan purbakala yang oleh masyarakat setempat dinamakan pangcalikan. Lahan seluas sekitar 7 hektar ini kondisi geografisnya berupa perbukitan. Untuk mencapai lokasi ini setelah memasuki kawasan hutan lindung harus melalui jalan setapak berbatu yang menanjak.

Pada kompleks situs Pangcalikan Gunung Padang terdapat objek berupa bangunan berundak, makam, dan kolam. Bangunan berundak di Gunung Padang terpusat pada batu datar yang disebut pangcalikan. Batu ini berada di dalam bangunan semacam cungkup yang dibangun pada 1999 oleh kerabat juru pelihara. Bangunan cungkup menghadap ke arah selatan berukuran 4,42 x 4,62 m berdiri pada lahan yang lebih tinggi dari sekitarnya. Lahan tersebut dibatasi dengan benteng talud batu dengan ukuran panjang 11,76 m dan lebar 12,80 m. Batu pangcalikan terdiri dua bongkah. Batu yang besar berukuran panjang 114 cm, lebar 69 cm, dan tebal 14 m. Sedang batu yang lebih kecil berukuran panjang 45 cm, lebar 28 cm, dan tebal 10 cm. Di sebelah selatan pangcalikan terdapat enam batu tegak dan di sebelah utara terdapat satu batu tegak. Di sebelah utara (belakang) bangunan cungkup terdapat hamparan batu yang bentuk dan ukurannya bervariasi. Jarak dari batas benteng talud ke hamparan batu adalah 3,53 m .

Di sebelah utara bangunan terdapat makam. Makam ditandai dengan nisan berukuran tinggi 44 cm, lebar 25 cm dan tebal 16 cm. Jarak antara makam dengan benteng talud batu 4,85 m.

Di Situs Gunung Padang  terdapat 1 kolam yang disebut cikahuripan dan 3 sumur kecil sebagai sumber mata air. Kolam dan sumur kecil terletak di sebelah utara halaman inti. Kolam Cikahurupan berukuran panjang 4.80 m dan lebar 3.70 cm. Di sebelah utara kolam cikahuripan berjarak ± 4.90 m terdapat tiga sumur kecil sebagai sumber mata yang mengalir ke kolam kahuripan melalui bawah tanah.

Situs Pangcalikan Gunung Padang dikaitkan dengan Kerajaan Galuh. Diceritakan bahwa Sri Maharaja Adi Mulya adalah seorang raja dari kerjaan Galuh. Pada waktu ia memerintah sangat disegani rakyatnya. Beliau mempunyai dua orang istri yang pertama bernama Naga Ningrum berputra Ciung Wanara dan yang kedua Dewi Pangrengep yang berputra Hariang Banga. Sementara beliau memerintah dibantu oleh seorang patih bernama Aria Kebonan dan seorang longser. Aria Kebonan adalah seorang patih yang cukup cakap sehingga segala perintah raja dapat dilaksanakan dengan baik. Pada suatu hari dalam hati kecil Patih  berkeinginan menjadi raja. Keinginan ini kian menjadi sehingga dengan sekuat tenaga Kerajaan Galuh dapat direbutnya. Raja Sri Maharaja Adi Mulya merasa tersingkir dan akhirnya beliau pergi ke sebelah barat bermaksud mengasingkan diri dan bertapa di sebuah tempat dan menyamar dengan mengganti nama menjadi  Ki Hajar Sukaresi. Ada yang mengatakan untuk menghilangkan jejaknya sampai dua badan kasarnya juga dirubah menjadi ular yang sangat besar yang bernama Naga Wiru. Setelah bertapa, dengan dibantu oleh Giri Dawang, beliau berniat untuk merebut kembali tahta Kerjaan Galuh. Setelah kerajaan dapat direbut kembali kerajan itu diserahkan kepada putranya yaitu Ciung Wanara di sebelah barat dan Hariang Banga di sebelah timur. Tempat ketika bertapa dan menyusun kekuatan  inilah bernama Gunung Padang yang sampai sekarang masih bisa dilihat menjadi tempat berjiarah yang banyak dikunjungi.

Situs Pangcalikan Gunung Padang merupakan peninggalan purbakala yang berhubungan dengan bentuk sistem religi masyarakat masa lampau. Pengembangan untuk sektor pariwisata sebaiknya memperhatikan faktor lingkungan dan makna simbolis yang berkaitan dengan religi masa lampau. Jalan setapak berbatu menuju kompleks situs perlu dipertahankan agar tidak menghilangkan makna simbolis nilai-nilai budaya luhur.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id [/alert]

Situs Pangrumasan Kyai Bagus Santri

Situs Pangrumasan Kyai Bagus Santri

Nama Pangrumasan merupakan sebuah dusun di Desa Banjarananyar Kecamatan Banjarsari merupakan sebuah desa , yang terletak di wilayah Ciamis, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Pamarican, Sebelah Timur dengan Kecamatan Padaherang, sebelah Utara dengan Desa Cigayam dan sebelah selatan dengan Kecamatan Langkaplancar.

Nama Pangrumasan merupakan situs tinggalan di sebuah dusun Pangrumasan dengan luas kurang lebih 14 Ha , merupakan tinggalan makam keramat Kiyai Bagus Santri seorang ulama Islam penyebar agama Islam di Daerah Banjarananyar dan sekitarnya Dari Kerajaaan Demak.

Sebagai bukti adanya tinggalan makam patilasan di Situs Pangrumasan adanya makam keramat Kiyai Bagus Santri beberapa peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala yang diperkirakan berupa situs antara lain :

a. Situs Pangrumasan
b. Situs Batu Gajah
c. Situs Curug Bandung
d. Kedung Bulan
e. Batu Pangsalatan sekarang terkubur.

Kiyai Bagus Santri diperkirakan masuk ke daerah Banjarannyar Kecamatan Banjasari untuk menyebarkan agama Islam sekitar abad 14 dan 15 semasa kerajaaan Demak yang terkenal dengan Rajanya Raden Fatah. Kiayai Bagus Santri meskipun tokoh Islam yang berdialek suku Jawa akan tetapi tetap bisa diterima oleh masyarakar Banjarananyar dan sekitarnya karena sebagian mayoritas di daerah tersebut bisa berbahasa Jawa karena dimungkinkan adanya urbanisasi Dari daerah Cilacap dan Banyumas yang menetap di daerah tersebut.

Latar Belakang Sejarah
Syahdan salah seorang utusan Kiyai Bagus Santri Dari Kerajaan Demak bermaksud untuk menyebarkan agama Islam di daerah tanah Pasundan atas titah Raden Fatah di daerah Banjarananyar Banjarsari dan sekitarnya. Karena pada waktu itu di daerah Tatah Pasundan berdiri Kerajaan besar Galuh dan Galuh Kawali yang masih menganut agama Hindu, maka Kiyai bagus Santri bermaksud untuk mengIslamkan kedua kerajaan tersebut, akan tetapi karena kedua kerajaan tersebut sangat kuat dan besar pengaruhnya terhadap masyarakatnya, maka Kiyai Bagus Santri berusaha untuk menyebabarkan Agama Islam melalui daerah pinggiran perbukitan dan pegunungan daerah Ciamis Selatan. Karena untuk penyebaran Agama Islam Dari daerah Utara Ciamis dari Kerajaan Cirebon. Akhirnya Kiyai Bagus Santri mendatangi daerah Timiur dan Selatan Tatah Pasundan untuk menyebarkan Agama Islam. Akhirnya beliau di daerah Pangrumasan desa Cigayam yang kemudian dimekarkan menjadi desa Banjarananyar sekarang. Beberapa waktu kemudian akhirnya rombongan Kiyai Bagus Santri dapat diterima oleh masyarakat tersebut untuk memeluk dan bersedia masuk Islam dengan cara damai.

Ritual Adat Setempat
Ritual adat yang selalu dilaksanakan di situs Pangrumasan Patilasan Kiyai Bagus Santri adalah NYIMBUR yaitu : Ritual adat yang biasanya dilaksanakan pada tiap tanggal 14 Maulud, merupakan ungkapan rasa syukur pada Alloh Yang Maha Kuasa yang memberikan rejeki dan menafakuri ajaran Islam Kiyai Bagus santri yang telah menyebarkan Agama Islam pertama sampai sekarang. Ritual nyimbur diisi dengan mediasi tolak bala Dari berbagai penyakit supaya tidak berjangkit pada masyarakat Banjarananyar dan sekitarnya, dengan cara menyemburkan air dari seeng dengan daun hanjuang, air tersebut diambil dari mata air curug Bandung kemudian disemburkan oleh kuncen atau masyarakat kepada seluruh masyarakat yang hadir pada kegiatan tersebut. Kemudian secara bersama-sama membersihkan benda-benda pusaka tinggalan karuhun semasa Kiyai Bagus Santri di tempat Bale Bandung.

Ziarah
Ziarah kliwon biasa dilaksanakan setiap jumat kliwon kecuali jumat kliwon bulan mulud dan jumat kliwon bulan puasa. Biasanya dilaksanakan dengan cara tawasulan bermunajat pada Yang Maha Kuasa supaya diberi kesalamatan lahir dan batin dengan perantaraan mencari berkah di Patilasan Kiayai Bagus Santri, kemudian setelah melakukan ziarah Kliwon mereka makan nasi tumpeng secara bersamaan.

Berdasarkan kondisi dan potensi situs Pangrumasan Patilasan Kiyai Bagus Santri Desa Banjaranyar Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis yang memiliki kurang lebih 14 Hektar telah ditemukan beberapa Benda Cagar Budaya yang sangat penting sebagai bukti temuan sejarah kepurbakaan yang ada di situs tersebut. Sehingga perlu ditindaklanjuti keberadanya untuk dijadikan bahan penelitian oleh para ahli kesejarahan dan kepurbakalaan serta arkeolog guna membuktikan bahwa BCB tersebut mempunyai kandungan nilai-nilai tradisi yang sangat tinggi sebagai bahan kajian untuk dijadikan telaahan sebagai bahan bukti untuk dijadikan sebuah situs yang bersifat nasional.

Benda Cagar Budaya:

  •     Keris Kujang
  •     Keris Kujang Kudi Jawa
  •     Tombak berjagak
  •     Gerabah dan keramik
  •     Tombak berjumlah 5 buah
  •     Golok tua berjumlah 5 buah
  •     Keris kurang lebih berjumlah 100 buah
  •     Padud Emas
  •     Batu Peluru bulat
  •     Batu Peluru Lonjong
  •     Buku Kitab Dari kulit kayu 1 buah
  •     Buku Naskah wawacan 1 buah
  •     Buku naskah berjumlah 4 buah
  •     Waditra Bonang 3 buah
  •     Goong kecil 1 buah
  •     Keris luk 9
  •     Keris kecil lurus 1 buah
  •     Batu buli-buli
  •     Bokor lampu

[alert style=”white”]Sumber: Eman Hermansyah/Disbudpar Ciamis[/alert]