Pantai Keusik Luhur

Pantai Keusik Luhur

Obyek wisata lainnya di kawasan Ciamis Selatan, Jawa Barat ini masih banyak yang belum diungkap secara lebih jauh, namun sering dan sudah banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun wisman (wisatawan mancanegara) diantaranya Pantai Indah Keusik Luhur.

Obyek wisata Pantai Indah Keusik Luhur ini letaknya sekitar 15 KM dari obyek wisata Green Canyon (Cukang Taneuh). Sekitar 43 KM dari Pantai Indah Pangandaran. Tepatnya arah selatan dari Green Canyon, perbatasan di selatan antara Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Tasikmalaya tepatnya di Kecamatan Kalapa Genep. Kelapa Genep adalah daerah dimana di tempat perkebunan Kelapa Hybrida tersebut ada sebuah pohon kelapa dengan cabang 6 pucuk. Sehingga terkenal dengan daerah Kalapa Genep.

Dilokasi wisata ini menyajikan indahnya panorama alam pegunungan yang begitu eksotik dan nan hijau menyatu dengan tebing curam serta hamparan batu karang di pantai selatan.

Diobyek wisata Pantai Keusik Luhur ini para pengunjung tidak dapat (tidak diperbolehkan) untuk berenang di area pantai dikarenakan pantai tersebut dipenuhi batu terjal dan karang-karang yang tajam. Untuk melaut pun warga sekitar tidak bisa dikarenakan alasan tadi.

Namun dari segi keindahannya tidak usah diragukan lagi, dimana perpaduan antara alam pegunungan yang hiaju dengan hamparan pantai berkarang. Tingkat kecuraman tebingnya sekitar 90 derajat. Disinilah salah satu keunikan dan keistimewaan obyek wisata Keusik Luhur. Para pengunjung dapat berfoto ria dan mengabadikan diri dengan background yang sangat indah dan alami.

[alert style=”white”]referensi: wisataairpantaipangandaran.blogspot.com, image: mypangandaran.com[/alert]

Kisah Asal Muasal Curug Tujuh Cibolang Ciamis

Kisah Asal Muasal Curug Tujuh Cibolang Ciamis

Kecintaan seorang pemimpin pada rakyatnya, dan kesedihan yang timbul melihat penderitaan mereka, dapat membawa jawaban dan kebahagiaan pada akhirnya. Itulah mungkin pesan moral dari kisah sasakala Curug Tujuh Cibolang Ciamis. Konon terbentuknya curug tujuh menurut keterangan berasal dari kisah jaman dahulu kala, manakala terdapat seorang penguasa atau raja di wilayah tersebut, yang pada suatu waktu merasa sangat prihatin melihat keadaan di wilayahnya yang sangat menderita akibat kemarau panjang. Air tidak ada dan tanah kering kerontang sehingga rakyatnya dirundung malang berkepanjangan.

Sang raja kemudian bertapa untuk memohon supaya diturunkan hujan agar keadaan negerinya pulih seperti sediakala. Namun usahanya itu tidak mendapatkan jawaban dari penguasa alam. Hal tersebut menyebabkan hatinya sangat sedih dan kesedihannya itu membuatnya menangis. Saat itu keajaiban terjadi, air mata raja perlahan berubah menjadi genangan air jernih dan semakin membesar sehingga membentuk aliran air yang akhirnya terpecah dan jatuh di tujuh buah tebing.

Panorama alam yang indah dan suasana hutan alam menjadi daya tarik wana wisata Curug Tujuh, dimana objek wisata ini berada di kiri kanan bukit gunung Ciparang dan Cibolang yang merupakan bagian dari Gunung Sawal.

Luas Wana Wisata Curug Tujuh 20 Ha terletak di kawasan hutan RPH Panjalu BKPH Ciamis KPH Ciamis yang menurut administrasi pemerintah termasuk Desa Sanding Taman Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis.

Objek wisata ini terletak pada ketinggian sekitar 800-900 di atas permukaan laut dengan konfigurasi lapangan bergunung, suhu udara secara umum sekitar 17-18 derajat Celcius.

Sesuai namanya Curug Tujuh terdiri dari tujuh buah air terjun yang lokasinya berjejer dengan Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Cibolang, Curug Simantaja, Curug Cileutik, dan Curug Cibuluh. Konon diantara curug tersebut mengalirkan air yang berkhasiat menyembuhkan penyakit seperti penyakit kulit, encok, rematik dan pegal linu. Dan airnya tidak pernah surut sekalipun musim kemarau, dimana air yang mengalir berasal dari gunung Sawal.

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]

Sasakala Curug Panganten Cisaga

Sasakala Curug Panganten Cisaga

Perjalanan melongok salah satu asset wisata alam di wilayah Kabupaten Ciamis yang terletak di Kecamatan Cisaga, yaitu Curug Panganten nyaris tak menemui hambatan. Disamping kondisi jalan yang lumayan baik juga dilengkapi dengan beberapa papan penunjuk arah dibeberapa persimpangan jalan. Jikapun hal itu masih dianggap membingungkan, maka masyarakat setempat, terutama tukang ojeg yang biasa mangkal di persimpangan jalan Raya Banjar-Ciamis akan dengan sukarela menunjukannya bahkan mengantarkannya.  Diperkirakan jarak Curug Panganten  dari jalan raya sekitar 400 m, jalan masuknya tepat berada di sisi Jembatan Sungai Citanduy yang terletak di kawasan Wisata Sejarah Karangkamulyan.

Namun akses jalan kendaraan menuju Curug Panganten harus terhenti pada jarak 50 meter. Selanjutnya, disambung dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak. Saat Priangan menyambangi tempat ini, keadaan debit airnya tengah turun. Namun walau musim kemarau entak-entakan, ternyata limpahan airnya masih cukup banyak, sehingga tidak mengurangi keindahan alam yang melingkupinya. Suara gemuruhnya masih keras terdengar berpadu dengan jatuhan air yang berederai dari tebing setinggi 50 meter.  bahkan akibat musim kemarau ini, kondisi airnya menjadi jernih serta memantulkan warna hijau kebiru-biruan, berbalik saat musim penghujan, airnya menjadi keruh kecoklat-coklatan. Disamping itu akibat surutnya air mengakibatkan beberapa tempat yang biasanya tergenangi berubah menjadi daratan yang dapat dijelajahi.

Sungguh luar biasa panorama alam perawan yang terpampang di depan mata. Kendati tempat ini kerap dikunjungi para pelancong, ternyata belum tersentuh pembangunan  sebagaimana layaknya sebuah tempat wisata. Mungkin kondisinya yang masih asli ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang berkunjung.

Curug Panganten dapat dikatakan merupakan sambungan dari dua sungai yang mengalirinya. Di bagian atasnya adalah batas akhir sungai Cirende dan bagian bawahnya adalah hulu dari sungai Ciliung.  Bahkan batang akhir sungai Cirende sendiri ternyata tersusun dari tiga tangga curug, yaitu Curug Cirende, Curug Sewu dan terakhir Curug Panganten. Curug Cirende dan Curug Sewu tidak dapat dilihat langsung dari bawah, karena disamping ketinggiannya rendah, juga terhalang oleh tebing tinggi yang menjadi limpahan air terjun Curug Panganten.

Menurut Ujang Solikhin, salah seorang warga setempat curug tersebut dulunya disebut Curug Sewu. Namun setelah terjadi peristiwa mengenaskan yang menimpa sepasang pengantin, air terjun tersebut lebih dikenal dengan nama Curug Panganten. “ Sasakala ceuk kolot mah kieu, , ceunah baheula aya sapasang panganten nuju pelesir paparahuan dina lengkob cucurugan cai, ari si Panganten lalaki ngadon ngaheureuyan pamajiikanana ku hileud. Bakat ku sieun jeung reuwas antukna tigejebur,  lantaran harita keur badag cai, panganten awewe teh kasedot puseran cai. Ningali kitu salakina langsung ngunclungkeun maneh rek nulungan tiditu n amah. Ngan orokaya manehna kalah milu kasedot, tiwas sapasang panganten teh, malah layonna oge teu kapendak. Tah tidinya curug Sewu teh katelahna we ngaranna jadi Curug Panganten” Kata Ujang sambil menerawang.

Keberadaan Curug Panganten memang tidak lepas dari cerita legenda yang masih dipegang oleh sebagian masyarakat disekitaranya. Pun demikian dengan kewingitannya. Soal kaahengan Curug Panganten, dialami sendiri oleh Ujang Solikhin. Dua peristiwa gaib yang pernah dirasakaanya cukup membuatnya percaya bahwa Curug Panganten memiliki aura mistis yang cukup besar. Bahkan peristiwa terakhir, tidak saja menjadi pembuktian bagi dirinya sendiri, namun juga bagi masyarakat dikampungnya.  Saat itu Ujang Solikhin pernah hilang tanpa jejak selama 8 jam di Curug Panganten. Sampai-sampai masyarakat yang mencarinya hampir putus asa.

“ Jaman teu acan lebet PLN, abdi ngamangfaatkeun Curug Panganten teh janten PLTA Cirende taun 1987,  listrikna kangge masok kaperyogian masyarakat lembur. Harita teh ba’da Isya, ngadadak listrik pareum. Nya ku abdi dipilari ka Curug Panganten. Pas marios lebah kincirna, kadangu aya nu naros. Tisaprak diwaler, anjeuna langsung we ngajak pelesir. Raraosasan mah abdi di candak kaMalaysia. Dumeh sateuacanna abdi memang gaduh cita-cita hoyong ka luar negeri.  Di Malaysia teh kitu we kukurilingan. Dugi ka anjeuna ngandeg sangkan abdi ulah mulang deui. Ngan abdi keukeuh maksa hoyong mulang kalembur. Tungtungna abdi dibelewerkeun, ari emut-emut tos aya di buruan bumi Pa Jatma, kalayan lilir bada subuh, parantos diriung ku masyarakat.” Paparnya menceritakan pengalamannya.

Pengalaman Ujang tersebut dibenarkan oleh beberapa penduduk setempat diantaranya, Mang Otoy dan Ki Amar. Menurut keduanya, saat itu masyarakat menjadi gempar karena Ujang tidak ditemukan di Curug Panganten. Bahkan timbul dugaan bahwa Ujang telah meninggal akibat tercebur dan terseret arus Curug Panganten. Akhirnya malam itu juga pengajian diselenggarakan di rumah Ujang. Masyarakat berharap mayat Ujang segera ditemukan. Namun menjelang subuh terdengar suara berdebam di halaman Rumah Pa Jatma, setelah di periksa ternyata berasal dari tubuh Ujang Solkihin yang terlempar dalam keadaan tidak sadar. Sampai kini peristiwa gaib itu akhirnya menjadi kenangan tersendiri bagi Ujang Solikhin dan masyarakat yang mengetahui peristiwa itu.

Kewingitan lainnya adalah misteri suara gamelan. Hal ini pun diakui oleh masyarakat setempat. Konon, di salah satu batu besar yang ada di Curug Panganten selalu terdengar nyaring suara gamelan setiap malam jumat kliwon. Bahkan anehnya lagi, bukan suaranya saja yang terdengar tapi gamelannyapun dapat dilihat. Hal ini dikisahkan oleh Ki Amar yang dipercaya sebagai kuncen Curug Panganten.

“ Kapungkur, jalmi nu peryogi gamelan kangge manggung tiasa nambut ti karuhun Curug Panganten. Buktos eta mah, ngajenggelek barangna, kantun nyandak. Ngan kedah diuihkeun deui. Hanjakal, pernah aya nu nambut, deleka teu diuihkeun deui. Antukna sora gamelan teh sababaraha puluh taun mah teu kakuping deui. Tah, basa malam jumaah kaliwon sasih mulud taun ayeuna, nembe tiasa kakuping deui. Sorana kadangu kamana-mana, utamina masyarakat nu bumina sabudeureun Curug Panganten. Mangga we teu percanten mah taroskeun kanu sanes” Ujar Ki Amar menjelaskan tentang gamelan gaib Curug Panganten.

Betul tidaknya kisah-kisah tersebut diatas, pada dasarnya menjadi salah satu daya tarik Curug Panganten. Namun sayangnya, perhatian sebagian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Curug Panganten masih kurang. Saat Priangan berkunjung, ternyata banyak bangkai ikan yang  mengambang dalam berbagai ukuran dan jenis. Tatkala ditanyakan, ternyata masih ada kebiasaan masyarakat yang menangkap ikan dengan cara di portas. Sayang sekali.***

Dimuat di koran Priangan

[alert style=”white”]referensi: galuh-purba.com, foto: myopera.com[/alert]

Gua Lanang Di Pananjung

Gua Lanang Di Pananjung

Gua Lanang terletak  didalam kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,442’S 108°39,508’E, dimana menurut legenda dulunya Gua Lanang merupakan keraton Kerajaan Pananjung dengan Rajanya bernama Prabu Anggalarang dan Permaesurinya Dewi Siti Samboja yang dikenal dengan nama Dewi Rengganis dengan dibantu oleh Patih Aria KIdang Pananjung.

Raden Anggalarang adalah putra Prabu Haur Kuning seorang raja kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggang kemudian mendirikan kerajaan Pananjung atas kemauannya sendiri, walaupun ayahnya telah memperingatkan dengan alasan tidak akan berjaya karena rawan gangguan dari para Bajo ( bajak laut ), Raden Anggalarang tetap pada pendiriannya karena daerah Pananjung merupakan tempat yang cocok bagi dirinya untuk mendirikan pusat pemerintahan.

Prabu Anggalarang adalah seorang laki – laki yang gagah dan sakti sehingga dijuluki ” Sang Lanang ” dan gua ini merupakan tempat tinggalnya maka disebut ” Gua Lanang “.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

Gua Jepang Di Pananjung

Gua Jepang Di Pananjung

Gua Jepang terletak di kawasan cagar alam pananjung Pangandaran dengan koordinat 7°42,336’S 108°39,379’E, Perang Pasifik atau Perang Asia Timur raya terjadi pada tanggal 8 Desember 1941, diawali serangan mendadak Angkatan Udara Dai Nippon ( Jepang ) ke pelabuhan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour ( Hawai ).

Pada tanggal 18 Maret 1941 balatentara Dai Nippon menduduki seluruh pulau Jawa dan Madura dan pemerintah Hindia Belanda ( sekutu ) menyerah tanpa syarat kepada balatentara Dai Nippon.

Penyerahan daerah jajahan dilakukan di kalijati – Subang oleh Letnan Jenderal H. Ter poorten atas nama seluruh angkatan perang sekutu di Indonesia kepada Letnan Jenderal Imamora Hitoshi atas nama Kemaharajaan Jepang.

Gua Jepang di kawasan ini dibuat selama periode perang Dunia Kedua ( 1941 – 1945 ) dengan menggunakan kerja paksa selama kurang lebih 1 tahun.

Gua Jepang ini terbuat dari tembok beton yang tertimbun tanah sebagai benteng pertahanan dengan lubang – lubang pengintai ke arah laut untuk mengawasi pendaratan oleh pihak sekutu.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]