Menjelang lebaran dan menjelang hari-hari raya lainnya adalah saatnya makanan khas diproduksi secara besar-besaran karena tingginya permintaan pasar. Bagi mereka yang bekerja di kota, ajang mudik ke kampung halaman merupakan saat yang tepat untuk membawa dan memperkenalkan makanan khas daerah masing-masing untuk di bawa kembali ke kota. Barter makanan dan saling mencicipi oleh-oleh khas daerah atau makanan yang dianggap unik pun terjadi. Hal ini secara tidak langsung akan saling memperkenalkan makanan khas dari daerah lain. Begitu juga di daerah Panjalu atau sekitar Kecamatan Panjalu, dari tempat inilah makanan khas diproduksi oleh masyarakat setempat. Alhasil, Panjalu tidak hanya terkenal dengan sejarah atau wisata ziarahnya saja, namun menawarkan ragam makanan khas yang tidak kalah menarik dengan daerah lain.

Panjalu dalam Konteks Sejarah
Secara terminologi, Panjalu berasal dari kata jalu (Bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata Panjalu berkonotasi dengan kata-kata: jagoan, jawara, pendekar, warrior (Bhs. Inggris: pejuang, ahli olah perang), dan knight (Bhs. Inggris: ksatria, perwira).

Ada pula orang Panjalu yang mengatakan bahwa kata Panjalu berarti “perempuan” karena berasal dari kata pan+jalu atau jalu yang diberi awalan pan artinya menjadi bukan laki-laki yaitu perempuan sama seperti kata male (Bhs. Inggris : laki-laki) yang apabila diberi prefiks fe + male menjadi female (Bhs.Inggris : perempuan). Konon nama ini disandang karena Panjalu pernah diperintah oleh seorang Ratu bernama Ratu Permanadewi.

Panjalu sebagai Desa Wisata
Pada tanggal 7 Maret 2004, Gubernur Jawa Barat meresmikan kawasan Panjalu sebagai tujuan wisata ziarah tingkat nasional. Tentunya, dengan adanya deklarasi ini telah memberikan keuntungan tersendiri untuk perkembangan pariwisata setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Memet Hamdan, mengakui sejarah mengenai Panjalu sangat menarik sehingga minat wisatawan untuk melakukan wisata ziarah ke daerah tersebut sangat tinggi.

Panjalu memang memiliki daya tarik tersendiri, bukan hanya sebagai kampung adat yang memiliki potensi wisata alam, wisata ziarah, dan wisata budaya (upacara Adat Nyangku) tetapi juga memiliki wisata kuliner yang sangat mendukung. Panjalu banyak memiliki makanan khas yang unik, menarik dan enak rasanya.

Berikut ini beberapa makanan khas Panjalu yang sudah terkenal ke beberapa daerah:

Makanan Khas Panjalu

Makanan khas Panjalu tersebar di beberapa daerah, seperti Kalua Jeruk pusatnya di Desa Kertamandala dan Mandalare, Jawadah Takir (sejenis Wajit) di Garahang, Goreng Mujaer dan Udang di Cimendong, Opak, Kolontong, Saroja dan Raginang di Desa Maparah, Mie Golosor di Desa Sandingtaman dan lain-lain. Makanan khas Panjalu ini memiliki rasa yang gurih, unik dan tahan lama. Berikut ini sekilas tentang makanan khas dari daerah Panjalu.

Kalua Jeruk
Yang paling unik dari makanan khas Panjalu adalah Kalua Jeruk dan Jawadah Takir. Pusat pembuatan Kalua Jeruk ada di daerah Kertamandala dan Mandalare. Menurut pengrajin Kalua, proses produksi sudah berlangsung cukup lama yaitu sekitar 40 tahunan. Kalua yang terkenal dari daerah ini pada awalnya diproduksi oleh keluarga Bu Ecin disusul oleh keluarga Bu Lilis.

Kalua Jeruk terbuat dari kulit Jeruk Bali setengah matang yang diberi gula aren (gula merah) yang diolah dengan beberapa tahapan. Dipilihnya kulit Jeruk Bali setengah matang karena memiliki kulit yang tebal dan Kalua yang dihasilkan akan enak rasanya.

Berikut ini tahapan dari pembuatan Kalua Jeruk. Pertama, Jeruk Bali setengah matang dikupas, diambil kulitnya saja yang berwarna putih. Lapisan terluar yang berwarna hijau dibuang untuk meghindari rasa pahit. Setelah itu diiris berbentuk kotak atau jajarangenjang ataupun bentuk sembarang seukuran kurang lebih 3 x 4 cm dengan tebal 1-2 cm. Kedua, kulit jeruk yang sudah dipotong direndam dengan air apu selama 2 jam, lalu diangkat didiamkan beberapa menit, lalu direbus setengah matang supaya kulit jeruknya tidak pecah-pecah, lalu dicuci dengan air dingin yang mengalir sampai bersih kemudian diperas-peras sampai agak kering. Tahapan terakhir tinggal memasukkan potongan kulit jeruk ke larutan gula aren yang mendidih. Setelah kering angkat dan siap dihidangkan. Emm… harum, enak dan gurih.

Kalua ini aman dikonsumsi karena diproses secara alami melalui tahapan yang panjang dalam mengolahnya. Pemanis yang digunakan merupakan pemanis alami dari nira aren, diproduksi tanpa memakai zat kimia. Gula aren memiliki Index Glycemic (IG) yang rendah. Rendahnya IG ini bermanfaat bagi pengidap diabetes, atau yang ingin menurukan berat badan. Bahkan gula are memiliki IG lebih rendah dari pada gula putih dan madu sehingga tidak menyebabkan kegemukan. Kalua Jeruk dari Kertamandala dan Mandalare Kecamatan Panjalu ini memiliki rasa yang unik, tidak terlalu manis, kenyal, dan empuk ketika dikunyah. Kalua ini diproses secara apik, manis gula arennya meresap ke seluruh kulit jeruk sehingga rasanya enak dan tidak ada lagi bau kulit jeruknya.

Bagi para pecinta kuliner, khususnya makanan khas, hati-hati ketika membeli kalua jeruk karena ada juga kalua jeruk yang rasanya kurang enak dan warnanya juga kurang cerah. Para penikmat kalua biasanya memesan kalua Panjalu yang berasal dari daerah Kertamadala dan Mandalare karena rasanya lebih enak dan gurih.

Jawadah Takir
Jawadah Takir adalah sejenis wajit namun pembungkusnya terbuat dari daun pisang yang kering (kararas dalam Bhs.Sunda). Yang unik dari Jawadah Takir ini adalah tidak dibungkus secara utuh, hanya ditempel diatas daun pisang kering kecil. Dalam kondisi apapun Jawadah Takir tetap kering sehingga rasanya tetap enak. Makanan ini tahan lama dan aman kerena tanpa bahan pengawet.

Goreng Udang dan Goreng Mujaer

Udang dan Mujaer ini berasal dari daerah Cimendong. Udang yang dipilih adalah udang yang yang berukuran sedang. Udang yang berasal dari Situ Lengkong Panjalu ini gurih rasanya, karena hidup bebas tanpa makanan yang dibuat oleh pabrik.

Goreng Mujaer pun enak dan renyah, karena ikan mujaer yang dipilih adalah ukuran sedang atau masih remaja. Goreng Mujaer dan Goreng Udang dikemas tanpa bahan pengawet sehingga aman untuk dikonsumsi oleh siapapun.

Opak
Opak yang terkenal adalah opak dari Desa Maparah. Opak ini rasanya renyah dan wangi. Opak terbuat dari beras ketan putih yang dihaluskan secara tradisional yaitu dengan perangkat halu dan jubleg. Kemudian dibentuk bulat tipis-tipis lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah kering lalu dipanggang di atas bara satu-satu untuk menghasilkan opak yang matang dan renyah. Ada juga yang dipanggang tiga sampai lima buah sekaligus dengan bantuan ram kawat yang disimpan di atas bara. Dari segi kuantitas memang lebih cepat namun rasanya menjadi kurang wangi dan agak keras sedikit. Jadi kepada para penikmat opak kalau menginginkan opak yang renyah, wangi dan gurih silahkan pilih opak yang dibakar satu-satu dengan menggunakan cacapit.

Mie Golosor
Dari namanya juga sudah unik yaitu golosor (Bhs. Sunda), mie ini akan meluncur licin di lidah dan enak rasanya. Mie ini terbuat dari bahan terigu berkualitas tinggi sehingga aman untuk perut dan tanpa bahan pengawet. Warna mie ini kuning segar karena pewarna yang digunakan adalah pewarna alami. Mie Golosor diproduksi oleh masyarakat Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu.

Dari beberapa makanan khas Panjalu yang disebutkan di atas, mungkin selera penikmat bermacam-macam dalam memilih oleh-olehnya. Ada yang sukanya Kalua Jeruk dan Jawadah Takir atau Opak saja, atau bahkan mungkin ada yang suka semuanya. Selamat menikmati hari raya dengan makanan-makanan yang sehat, halal, bergizi dan unik termasuk makanan khas sebagai menu tambahan.

[alert style=”white”] Penulis: YOPPY Y. S.Pd. Guru Seni Budaya di SMPN 1 dan 2 Panjalu-Ciamis, Sumber : Wawancara langsung dengan pemilik home industry di Panjalu, ilustrasi: flickriver.com[/alert]