SIANG itu, pengunjung kawasan objek wisata Situs Karangkamulyan, Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, lebih banyak daripada hari biasanya. Rupanya, selain ramai dikunjungi warga yang hendak munggahan (makan bersama menjelang masuknya bulan puasa), situs Karangkamulyan juga didatangi warga yang tengah menggelar tradisi tahunan Ngikis.

Ngikis ini merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang yang sudah berlangsung sejak abad ke-17, yang dilaksanakan setiap Senin atau Kamis terakhir menjelang masuknya bulan puasa,” ujar Endan Sumarsana (60), kuncen Situs Karangkamulyan, Senin (16/7).

Secara harfiah, kata Endan, tradisi ngikis ini merupakan upacara ritual mengganti pagar yang mengelilingi pangcalikan, batu petilasan yang dipercaya sebagai singgasana raja-raja Kerajaan Galuh Purba.

“Dulu, warga dari setiap dusun yang ada di Desa Karangkamulyan membawa pagar bambu untuk mengganti pagar pangcalikan yang sudah lapuk atau sudah rusak. Bambu tersebut dipasang secara bergotong royong,” ujar Endan, yang sudah 34 tahun menjadi kuncen Situs Karangkamulyan.

Warga dari berbagai dusun di Desa Karangkamulyan tersebut tak hanya membawa bambu yang siap dipasang jadi pagar, tetapi juga disertai dengan ibu-ibu yang membawa nasi lengkap dengan lauk- pauknya. Jadi, setelah memasang pagar, digelar makan bersama di pelataran pangcalikan.

Meski sekarang pagar pangcalikan tidak lagi berupa bambu, tapi sudah diganti dengan pagar besi dan cor beton, tradisi Ngikis tetap berlangsung. Tradisi mengganti pagar itu diganti dengan mengganti cat pagar.

Setelah lantuan ayat suci Alquran dan doa bersama, pengecatan pertama sebagai tanda dimulainya ritual Ngikis tersebut dilakukan oleh Wabup Ciamis Drs H Iing Syam Arifin MM, Kepala Keraton Pajajaran Rd Roza R Mintareja, kemudian dilanjutkan oleh Camat dan Muspika Cijeungjing, Kades Karangkamulyan, dan tokoh masyarakat setempat.

Seusai pengecatan pagar pintu masuk secara simbolis tersebut, warga pun saling bersalam-salaman. Kemudian ratusan warga yang sejak semula mengikuti upacara tradisi Ngikis tersebut menutup ritual dengan makan bersama. Menyantap nasi tumpeng atau nasi serta lauk-pauk yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing.

“Setiap tahun saya ikut tradisi ini. Dulu waktu masih kecil ikut orang tua. Tetapi sekarang setelah punya anak, ya ke sininya dengan anak-anak. Ikut ngikis sekalian munggahan,” ujar Aisah (30) sembari merangkul kedua anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD sebelum menyantap nasi dan lauk- pauk yang dibawa dari rumah.

“Tradisi ini secara turun-temurun dari orang tua ke anak-anaknya begitu terusĀ  berlangsung setiap menjelang masuknya bulan puasa. Ke mana pun warga Karangkamulyan merantau, takkan pernah lupa dengan Ngikis,” tutur Endan.

Nilai filosofi yang hendak diwariskan para leluhur Galuh Karangkamulyan lewat tradisi Ngikis ini, kata Endan, adalah mengingatkan anak-cucu agar selalu memagari hati, menjauhkan perbuatan-perbuatan yang bakal membatalkan puasa. Kemudian juga menjaga hati agar selalu jauh dari sifat iri dan dengki serta dari keserakahan. Ketika akan memasuki bulan suci Ramadan, sesama warga saling memaafkan, mengikis dosa-dosa yang pernah diperbuat.

Nama Kerajaan Galuh, kata Endan, berasal dari kata galeuh, yakni hati, sesuatu yang berada di tengah-tengah. Itulah nama kerajaan besar di Tatar Pasundan yang berkuasa pada abad ketujuh, yakni Kerajaan Galuh Purba, yang berpusat di Karangkamulyan, yang berarti tempat yang mulia.

Peninggalan sejarah Kerajaan Galuh tersebut sampai sekarang masih terjaga baik, berupa hutan cagar budaya seluas 25 hektare yang berada di sisi jalan raya Ciamis-Banjar diapit pertemuan Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy.

Tak hanya Pangcalikan, tetapi ada juga Panyandaan, Pamangkonan, Sang Hiyang Bedil, makam Adipati Panaekan, Cikahuripan, Patimuhan, dan sebagainya.

Wakil Bupati Ciamis Drs H Iing Syam Arifin pada sambutannya berharap, tradisi Ngikis yang sudah berlangsung berabad-abad ini selalu terjaga dan jangan sampai terkikis oleh kemajuan zaman.

“Ciamis boleh jadi merupakan daerah di Jabar yang paling banyak memiliki situs dengan tradisi-tradisinya. Maklum Ciamis merupakan daerah peninggalan Kerajaan Galuh mulai dari Galuh Purba, Galuh zaman Hindu-Buddha, sampai Kerajaan Galuh setelah masuknya agama Islam,” ujar Iing.

Beberapa tradisi warisan nenek moyang yang terperlihara sampai sekarang, kata Iing, antara lain Ngikis di Karangkamulyan, Nyangku di Panjalu, Nyipuh di Ciomas, Nyuguh di Kampung Adat Kuta, Misalin di situs Salawe Cikawung, Bojongmengger, Merlawu di Situs Susuru Kertabumi, hingga hajat laut di pesisir pakidulan Ciamis. Semua tradisi tersebut berkaitan dengan bulan Maulud atau menjelang puasa.

[alert style=”white”]jabar.tribunnews.com [/alert]