Kegiatan “NYANGKU” merupakan kegiatan tahunan masyarakat Panjalu Kabupaten Ciamis yang biasa dilaksanakan di minggu terakhir bulan Maulid pada hari Senin atau Kamis. Kegiatan “NYANGKU” mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, Kepolisian, TNI dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Ciamis sebagai aset kebudayaan peninggalan leluhur Panjalu yang sangat berharga yang wajib dilestarikan. “NYANGKU” diawali dengan arak-arakan benda pusaka menuju Alun-alun Kecamatan Panjalu. Di Alun-alun Panjalu barulah prosesi pembersihan pusaka-pusaka dilaksanakan satu-persatu dengan penuh khidmat. Sedangkan air yang digunakan untuk membersihkan pusaka-pusaka tersebut berasal dari berbagai sumber mata air di seputar provinsi Jawa Barat.

Kegiatan “NYANGKU” kali ini dilaksanakan pada hari Senin (4/2) bertempat di alun-alun Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis. Seperti dituturkan oleh Ketua Panitia Penyelenggara Bapak Ucup dalam sambutannya, ”Arti kata “NYANGKU” berarti “membersihkan”. Jadi pada hakikatnya, menurut Ucup, NYANGKU adalah ritual untuk membersihkan pusaka-pusaka peninggalan para leluhur Panjalu yang salah satu peninggalan tersebut berbentuk pedang yang diberikan Sayidina Ali Rodhialloh huanhu kepada Prabu Boros Ngora (Raja Panjalu saat itu).

Ucup juga menuturkan, bahwa Upacara nyangku ini merupakan acara melestarikan dan memelihara pusaka para leluhur, bukan berarti ‘menyembah pusaka’ karena hal tersebut termasuk musyrik. Karena masyarakat Panjalu yang religius sebagai Umat Muslim tetap menyembah dan meminta pertolongan kepada Allah SWT. Demikian paparan Bapak Ucup sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Upacara “NYANGKU” dalam laporannya di awal upacara “NYANGKU”.

Kegiatan  berupa budaya pembersihan benda-benda pusaka peninggalan para leluhur Panjalu ini sama seperti budaya “Sekatenan” di Yogyakarta dan “Upacara Panjang Jimat” di Cirebon,” tambah Ucup. Budaya ini adalah merupakan kekayaan warisan masyarakat Panjalu. Oleh karena itu panitia mengajak warga masyarakat Panjalu pada khususnya dan warga masyarakat Tatar Galuh Ciamis pada umumnya yang peduli terhadap kebudayaan warisan leluhur Panjalu  untuk melestarikan “NYANGKU” sebagai kebudayaan Panjalu yang tidak boleh punah sampai kapanpun.

Ucup juga menjelasakan, bahwa Upacara “NYANGKU” ini telah dikenal sampai ke mancanegara seperti, Timur Tengah, Asia bahkan Amerika Serikat. Untuk penyempurnaan pada pelaksanaannya, panitia fokus pada sistem penyelenggaraan dan SDM pelaksananya. Perhatian terhadap Upacara “NYANGKU” datang dari berbagai pihak dan berbagai daerah di Nusantara khususnya pihak-pihak yang ‘concern’ terhadap budaya tanah air, misalnya perhatian dari Universitas Padjadjaran-Bandung melalui dukungan Profesor Nina Lubis untuk menyusun sejarah Panjalu secara lengkap dan terintegrasi.

Dalam kesempatan tersebut Ketua Panitia Penyelenggara menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian penuh dari Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, khususnya dalam pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana pendukung pelestarian kebudayaan di Panjalu. Seperti penataan Alun-alun Kecamatan Panjalu dengan pembuatan panggung permanen, sehingga sangat menunjang  acara seperti “NYANGKU”. Tinggal pembinaan sumber daya manusia (SDM) pengelolanya agar lebih baik lagi. Selanjutnya sampai saat ini koordinasi antara para kepala desa, camat sampai tingkat kabupaten telah berjalan dengan baik terutama konsentrasi terhadap bidang kesehatan, pendidikan dan kepariwisataan,” demikian penuturan Bapak Ucup.

Pesan terakhir Bapak Ucup, ”Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk upaya pelestarian budaya leluhur, jangan dijadikan kegiatan penyembahan kepada pusaka, karena sebagai Umat Muslim masyarakat Panjalu tetap menyembah, berdo’a dan memohon kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa  seperti halnya kegiatan “NYANGKU” ini dirangkaikan dengan kegiatan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Bazar dan pentas kreasi seni kebudayaan setempat.

Bupati Ciamis H. Engkon Komara yang berkesempatan hadir dalam acara “NYANGKU” sangat mengapresiasi kegiatan yang digelar. Sedangkan kegiatan “NYANGKU” ini pula memiliki arti khusus bagi Bupati Engkon karena secara keturunan, Bupati Engkon Komara juga lahir dari keturunan keluarga besar Panjalu  tepatnya yaitu di daerah Sandingtaman Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis.

Dalam sambutannya, Bupati Ciamis menceritakan sekelumit sejarah Panjalu khususnya di masa kepemimpinan Prabu Boros Ngora di Panjalu. Bupati Ciamis mengajak warga masyarakat Kabupaten Ciamis untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Tatar Galuh Ciamis, termasuk kebudayaan “NYANGKU” sebagai salah satu warisan berharga dari nenek moyang Ciamis.

Masih dalam sambutannya, Bupati Engkon menyampaikan dampak positif dari penyelenggaran acara ini yaitu bahwa Generasi Muda menjadi tahu dan mengerti tentang asal-usul leluhurnya. Apalagi dengan dapat menyaksikan langsung secara khidmat upacara yang digelar pada hari ini. Bupati Ciamis juga mengamanatkan, ”Jangan sampai kegiatan ini disalahpersepsikan sebagai upacara menyembah pusaka (keris) karena hal tersebut hukumnya ‘musyrik’. “Tetapi mari kita kaitkan arti upacara “NYANGKU” ini dengan kehidupan kita sehari-hari yang harus senantiasa introspeksi apakah kita sudah bersih atau belum. Seperti halnya upacara “NYANGKU” ini, maka marilah kita selalu berupaya untuk membersikan diri dalam kehidupan kita,” demikian pesan dalam sambutan Bupati Ciamis.

Kelestarian terhadap Budaya Panjalu dengan situs dan kebudayaan religinya sempat menarik perhatian mantan Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkunjung ke Panjalu beberapa tahun silam. Hal ini menunjukkan bahwa Panjalu memiliki objek wisata yang sangat potensial yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat Panjalu dan sekitarnya dalam segi perekonomian,” demikian disampaikan Bupati Ciamis menutup sambutannya.

[alert style=”white”] Sumber : Press Release Humas Setda Kabupaten Ciamis/ciamiskab[/alert]