Museum Galuh Pakuan

Museum Galuh Pakuan

Museum Galuh Pakuan adalah salah satu tempat yang sayang untuk dilewatkan jika Anda berkunjung ke Ciamis. Kita dapat melihat lebih dekat benda-benda peninggalan masa kejayaan Galuh di jaman dulu dan mengambil semangatnya untuk membangun di masa kini dan mendatang.

Museum Galuh Pakuan diresmikan pada hari Minggu 18 Juli 2010 dengan dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf. Museum tersebut terletak di Jl. KH. A. Dahlan No 40 Ciamis, dan berisi koleksi benda-benda pusaka peninggalan kerajaan Galuh. Sebelumnya ratusan benda tersebut disimpan di kompleks Makam Kangjeng Prebu di Jambansari, tidak jauh dari lokasi museum sekarang. Ruangan penyimpanan benda pusaka yang lama mengalami rusak berat ketika terjadi gempa 2 September 2009.

Peresmian diwarnai wacana pengembalian nama kabupaten Ciamis menjadi kabupaten Galuh. “Dahulu perubahan nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis merupakan proses politik. Sehingga dengan proses politik pula, akan dapat mengembalikan sesuai nama asli yaitu Kabupaten Galuh,” tutur Ketua Paguyuban Rundayan Galuh Pakuan, Raden Gani Kusumahdinata.

Tampak hadir dalam peresmian tersebut Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, Pangeran Raja Adipati Arif Nata Diningrat dari Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Hempi dari Keraton Sumedang Larang, mantan Gubernur Aceh Darussalam Abdullah Puteh, mantan Wagub Jabar H Karna Suwanda, sejarawan Prof. Hj. Nina Lubis, Prof. Hiemendra, Prof. Dr. Rasyid, Ketua Paguyuban Pasundan Syafei dan undangan lainnya. Pihak keluarga mantan menteri PU Radinal Muchtar juga hadir, mengingat Museum Galuh Pakuan untuk sementara menempati kediaman tokoh tersebut.

sumber berita: PR Online
foto-foto diambil dari note Kang Dede Yusuf

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]

Sejarah Banjarsari Ciamis

Sejarah Banjarsari Ciamis

Pernahkan Anda singgah berkunjung ke Banjarsari Ciamis atau sekedar melewatinya? Daerah ini ternyata menyimpan banyak cerita masa lalu yang mungkin sudah dilupakan oleh sebagian besar warga Ciamis khususnya dan Jawa Barat pada umumnya. Selain jarang diungkap, penyebarluasan informasinya pun memang terasa masih minim dan nyaris tidak terdengar, sehingga masyarakat umumnya tidak mengetahui sejarah Banjarsari. Sebuah tulisan dari Kang Mustafid Sawunggalih yang terdapat di halaman ini akan menambah wawasan kita tentang riwayat daerah tersebut. Selamat membaca dan kembali ke masa lalu.

Tahun 1628 Sultan Agung menugaskan Dipati Ukur membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa. Namun Bahureksa tidak mengadakan hubungan dengan Dipati Ukur. Oleh karena itu Dipati Ukur tidak dapat melakukan perundingan dengan Bahureksa.

Pada waktu yang telah ditentukan, Dipati Ukur memimpin pasukannya bergerak menuju Batavia untuk menyerang Kompeni. Ketika pasukan dipeti Ukur tiba di Batavia, ternyata pasukan Mataram belum datang. Oleh karena itu, Dipati Ukur gagal mengusir Kompeni dari Batavia. Kegagalan itu terjadi karena ketidakseimbangan persenjataan dan tidak mendapat dukungan dari pasukan Mataram. Padahal seharusnya pasukan Mataram yang menjadi kekuatan ini penyerangan, dibantu oleh pasukan Dipati Ukur.

Atas kegagalan menjalankan tugas dari raja Mataram, rupanya Dipati Ukur berpikir, daripada ia menerima hukuman berat dari Sultan Agung, lebih baik ia tidak setia lagi terhadap Mataram. Dipati Ukur beserta sejumlah pengikutnya mengabaikan kekuasaan Mataram dan melakukan gerakan memberontak terhadap Mataram.

Sikap Dipati Ukur tersebut segera diketahui oleh penguasa Mataram. Pihak Mataram berusaha keras menumpas pemberontakan Dipati Ukur. Bila pemberontakan itu tidak segera ditumpas, akan merugikan pihak Mataram.

Akhirnya pemberontakan Dipati Ukur dapat dipadamkan. Menurut versi Mataram, Dipati Ukur tertangkap dan dihukum mati di Mataram. Menurut Sajarah Sumedang (babad), pemberontakan Dipati Ukur terhadap Mataram berakhir pada tahun awal tahun 1632.

Penangkapan Dipati Ukur Oleh Adipati Kawasen

Naskah Leiden Oriental adalah naskah yang memuat tentang pemberontakan Dipati Ukur & Penangkapan Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura (Adipati Kawasen). Naskah ini ditulis oleh Sukamandara yang pernah menjadi Jaksa di Ghaluh. Peristiwa penangakapan Dipati Ukur Oleh Bupati Kawasen ini menurut Prof. DR. Emuch Herman Somantri terjadi pada hari Senin tanggal 1 bulan Jumadil Awal 1034 H sekitar pertengahan tahun 1632.

Berikut adalah cuplikan naskah Leiden Oriental yang menceritakan tentang penangakapan Dipati Ukur oleh Adipati Kawasen (Bagus Sutapura):

“Nunten pada guneman lan para bupati kabeh. Daweg pada angulati srana kang bhade bisa nyekel Dipati Mogol punika. Nunten kyai Dhipati Galuh Bendanagara angsal sanunggal santana Kawasen westa bagus Sutapura, gawena lagi ambhating raga, sanggem anyekel Dipati Ukur. Sarta lajeng kumanabang sareng sareng samenek ing Gunung lumbung punika. Nunten dipun tibani watu Westa Munding Jalu dipun capakeun dening Bagus Sutapura, dipun balangakeun sumangsang wonten sainggiling lajeng leles. Mangke nyataning Batulayang sareng sampun sumangsang watu puniku. Nunten Bagus Sutapura angamuk pribadi, katah kiang pejah balanipun Dipati Ukur punika sarta dipun besta dibakta dateng Ghaluh.”

Artinya:
“Hasil musyawarah para Bupati yang akan diberi tugas menangkap Dipati Ukur yang memberontak, kemudian Kyai Ghaluh Bandanagara mendapatkan Senopati dari Kawasen (Bagus Sutapura) yang orang sedang bertapa untuk menangkap Dipati Ukur. Bagus Sutapura lalu maju untuk berperang. Ia naik gunung lumbung. Begitu Bagus Sutapura naik ke Gunung Lumbung, Bagus Sutapura dijatuhi batu yang bernama Munding Jalu oleh Dipati Ukur. Batu itu kemudian ditangkap oleh Bagus Sutapura, kemudian dilemparkan dan nyangkut di phon leles. Berhubung dengan ditangkapnya Batu itu (Munding Jalu), maka tempat itu dinamakan batu layang. Kemudian Bagus Sutapura menyerng sendirian sampai pengikut Dipati Ukur banyak yang tewas. Akhirnya Dipati Ukur dapat ditangkap oleh bagus Sutapura dan diikat kemudian dibawa ke galuh”

Sejarah Galuh yang disusun oleh raden Padma Kusumah merupakan salah satu naskah yang memuat tentang penangkapan Dipati Ukur oleh Bagus Sutapura. Naskah ini disusun berdasarkan naskah yang dimiliki oleh Bupati galuh R.A.A Kusumah Diningrat 1836-1886 M, bupati Galuh R.T Wiradikusumah 1815 M dan R.A Sukamandara 1819 M. Diantara naskah tersebut yang menceritakan Penangkapan Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura (Adipati Kawasen) adalah:

255. Heunteu kocap dijalanna
Di dayeuh Ukur geus Neupi
Ki Tumenggung narapaksa
Geus natakeun baris
Gunung Lembung geus dikepung
Durder pada ngabedilan
Jalan ka gunung ngan hiji
Geus diangseug eta ku gagaman perang

256. Dipati Ukur sadia
Batuna digulang galing
Mayak Gagaman di lebak
Rea anu bijil peujit
Sawareh nutingkulisik
Pirang-pirang anu deungkeut
kitu bae petana
Batuna sok pulang panting
Ki Tumenggung Narapaksa rerembugan

257. Urang mundur ka Sumedang
Didinya Urang Badami
Nareangan anu bisa
Nyekel raheden Dipati
Bupati pada mikir
Emut ku Dhipati galuh
Ka Ki bagus Sutapura
Waktu eta jalma bangkit
Seg disaur ana datang diperiksa

258. Kyai bagus Sutapura
Ayeuna kawula meureudih
Dipati Ukur sing beunang
Ditimbalan dijeng gusti
Nanging kudu ati-ati
Perkakasna eta batu
Gedena kabina-bina
Dikira sagede leuit
Dingaranan Batu Simunding lalampah

259. Kyai bagus Sutapura
Perkakasna ngan pedang jeung keris
Datang kana pipir gunung
Tuluy gancangan nanjak
Geus datang kana tengah-tengah gunung
Batu Ngadurungdung datang
Dibunuh geus burak-barik

260. Nu sabeulah seug dicandak
Dibalangkeun nyangsang dina luhur kai
Nu matak ayeuna masyhur
Ngarana batu layang
Kocap deui Kyai bagus Sutapura ngamuk
Balad Ukur ennggeus ruksak
Ukur ditangkap sakali.

276. Hariring katu nimbalang
Eta maneh bener Kyai Dipati
Eh ayeuna Tumenggung
Tumenggung Narapaksa
Karep kamenta Ngabehi anu tilu
Ayeuna angkat Bupati

279. Kyai bagus Sutapura
ayeuna ngarana kudu diganti
Bari diangkat Tumenggung
Tumenggung Sutanangga
Jeung bere cacah 7000
Ayeuna Geus tetep linggih

Pemberontakan Dipati Ukur yang berlangsung lebih-kurang empat tahun (1628-1632) merupakan faktor penting yang mendorong Sultan Agung tahun 1630-an memecah wilayah Priangan di luar Sumedang menjadi beberapa kabupaten, termasuk Galuh. Wilayah Galuh dipecah menjadi beberapa pusat kekuasaan kecil, yaitu Utama diperintah oleh Sutamanggala, Imbanagara diperintah oleh Adipati Jayanagara, Bojong-lopang diperintah oleh Dipati Kertabumi, dan Kawasen diperintah oleh Bagus Sutapura.

Khusus kepala-kepala daerah yang berjasa membantu menumpas pemberontakan Dipati Ukur diangkat oleh Sultan Agung menjadi bupati di daerah masing-masing. Tahun 1634 Bagus Sutapura dikukuhkan menjadi Bupati Kawasen (wilayah Kawasen pada saat itu antara Pamotan (Kalipucang) sampai Bojong Malang (Cimaragas sebelah Barat) berpusat di Kawasen-Banjarsari).

Kepala daerah lain yang diangkat menjadi bupati antara lain Ki Astamanggala (Umbul Cihaurbeuti) menjadi bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Ki Wirawangsa (Umbul Sukakerta) menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha, dan Ki Somahita (Umbul Sindangkasih) menjadi bupati Parakanmuncang dengan gelar Tumenggung Tanubaya). Bagus Sutapura memerintah Kawasen sampai dengan 1653 M.

Sementara itu, Dipati Imbanagara yang dicurigai oleh pihak Mataram berpihak kepada Dipati Ukur, dijatuhi hukuman mati (1636). Namun puteranya, yaitu Adipati Jayanagara (Mas Bongsar) diangkat menjadi Bupati Garatengah. Imbanagara dijadikan nama kabupaten dan Kawasen digabungkan dengan Imbanagara.

Demikianlah untaian cerita nyata yang pernah terjadi tentang Pemberontakan Dipati Ukur & Penangkapan Dipati Ukur Oleh Bagus Sutapura Adipati Kawasen. Dari berbagai sumber yang ada tentang Jasa Bagus Sutapura yang telah berjasa mengagalkan pemberontakan yang dilakukan oleh Dipati Ukur.

Selanjutnya Tahun 1963 Bagus Sutapura diangkat sebagai Dalem Kawasen dengan gelar Tumenggung Sutanangga. Kadaleman Kawasen sekarang bernama Banjarsari.

Kadaleman Kawasen resmi dibubarkan pada tahun 1810 M berdasarkan Besluit yang ditetapkan oleh Gubernur Jendral Herman Deandels.

Peninggalan-peninggalan dari kebesaran Kadaleman Kawasen yang tersisa sampai saat ini hanya berupa makam-makam dari para Dalem Kawasen yang berkuasa di Kawasen beserta para pejabat kawasen. Di Banjarsari sendiri orang kebanyakan hanya tahu Kawasen itu adalah salah satu Desa di Kecamatan Banjarsari yang tidak ada sejarahnya. Selain itu sekarang tidak tampak Bahwa di Banjarsari dulu adalah sebuah kabupaten yang besar dan masyhur di Tatar Parahiyangan dengan nama Kawasen. Hal ini terjadi karena Kurangnya kesadaran masyarakat untuk kembali menelusuri sejarah “Nyakcruk Galur Mapay Patilasan”.

Sepertinya pemerintah setempat khususnya Ciamis kurang memperhatikan sisa-sisa peninggalan dari Kadaleman kawasen. Seandainya Pemerintah ciamis sadar bahwasanya di Banjarsari masih ada sisa-sisa kebudayaan dalam hal ini Kadaleman kawasen, maka Kawasen ini layak dijadikan sebagai Situs Wisata Budaya yang ada di Bumi tatar galuh Tercinta.

Semoga tulisan singkat mengenai kebesaran kadaleman kawasen ini dapat memberikan hikmah suri taulada kepada kita semua tentang jiwa Patriotisme Bagus Sutapura yang tercermin dalam jiwa dirinya.

Banjarsari adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Indonesia. Sebutan yang pernah populer untuk kecamatan ini adalah “Kota Nyari” – nyaman, asri, rindang, dan indah. Kini istilah itu tidak lagi terlalu menggema. Sebagai bukti keberadaannya, didirikanlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kotanyari, sebuah sekolah dasar yang cukup baik, menyusul SDN IX Banjarsari.

Referensi lain: Dipati Ukur, an Honourable Hero or a Legendary Loser

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com, wikipedia[/alert]

Ngabuburit di Jembatan Cirahong

Ngabuburit di Jembatan Cirahong

SAAT bulan Ramadan seperti sekarang, Jembatan Cirahong yang berada di perbatasan Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, dengan Kecamatan Manonjaya di Kabupaten Tasikmalaya, menjadi lokasi ngabuburit warga. Tak hanya dari dua kebupaten tersebut, warga datang juga dari daerah tetangga seperti Kota Banjar.

Seperti terlihat Selasa (7/8), sejak pukul 16.00 warga sudah berdatangan ke Cirahong untuk melihat kereta api melintas di atas jembatan. Biasanya kereta muncul pukul 16.30 jika tidak ada halangan. Ada juga yang muncul saat sekitar pukul 18.00, sehingga kereta yang lewat pada jam ini kerap dijadikan patokan telah tibanya waktu untuk berbuka.

Suara khas kereta di atas, serta alunan irama dari bilah-bilah kayu jembatan yang dilewati mobil dan motor di bagian bawah, menjadi irama khas Cirahong. Suara tersebut berpadu, menyusun nada unik yang mengundang banyak masyarakat untuk menyambanginya.

Tak terkecuali bagi Ade Juhayana dan rekan-rekannya dari Divisi Anak Muda Pecinta Alam (Dampal) SMA Pasundan Tasikmalaya. Mereka sengaja ngabuburit di Cirahong. Ramlay, panggilan akrab Ade, menjajal ekstrimnya jembatan dengan cara berlatih memanjat.

Menurutnya, bergelantungan pada seutas tali di bawah jembatan yang panjangnya mencapai 202 meter dan di atasnya ada kereta api lewat, punya sensasi yang sangat berkesan. Saat ada kereta api lewat jembatan terasa bergoyang. Alunan khas kayu yang terlintasi kendaraan menambah suasanya lebih berbeda. “Itu yang kami tunggu-tunggu, saat bergelantungan dan kebetulan ada kereta lewat ini anugerah luar biasa,” kata Ade.

Kipli, Raden, dan Tiwan, yang merupakan senior Ade, merasakan betul dengan bergelantungan di atas jembatan sangat tidak terasa. “Ujug-ujug poek we teu karasa nyerelekna,” ujar Tiwan.

Soal makanan untuk berbuka, jangan khawatir. Karena banyaknya warga yang ngabuburit, banyak pula pedagang makanan. Cirahong pun berkembang menjadi lokasi ngabuburit yang menyenangkan. Tak heran, pemandangannya yang khas banyak dijadikan obyek fotografi.
Petang kian menjelang, pengunjung berangsur pulang. Masih ada kereta yang akan lewat esok hari… (Abdul Latif/ ”KP”)***

[alert style=”white”]referensi: kabarpriangan[/alert]

Sirop Edi Ciamis

Sirop Edi Ciamis

Usaha kuliner Sirop Edi sudah lama melayani konsumennya dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Ciamis. Mereka yang beranjak dewasa sudah menikmati sirop ini sejak berusia belia atau remaja. Banyak pula orang Ciamis yang sewaktu berada di tanah kelahirannya suka menikmati sajian minuman istimewa tersebut, akan terkenang kembali manakala sedang berada di tempat yang cukup jauh, entah merantau karena bekerja, sekolah atau pindah tempat tinggal.

Liputan seorang blogger muda Ciamis berikut ini dapat menjadi update berharga untuk para pecinta kuliner khas kota manis. Tidak diragukan lagi, Sirop Edi merupakan salah satu tujuan kuliner yang cukup ternama dan dikenal masyarakat. Usaha ini beralamat di depan eks bioskop Swadaya Ciamis, cukup dekat dengan alun-alun pusat kota. Bioskop yang sempat menjadi tujuan hiburan di jaman dulu itu sekarang sudah tutup, tetapi Sirop Edi tetap setia menanti kehadiran pelanggannya.

Tulisan Teh Ririn, pemilik blog bertajuk DUNIAKU, dapat menggambarkan perkembangan positif usaha Sirop Edi Ciamis dalam terus meningkatkan pelayanannya dari dulu hingga tahun 2012 ini.

Harga satu porsi Sirop Edi Ciamis saat tulisan dilansir adalah Rp. 6.000, sudah mengalami kenaikan dari harga lama yang berkisar Rp. 3.500 atau Rp. 4.000. Kenaikan tersebut ternyata diimbangi oleh pelayanan yang lebih baik dan tetap mempertahankan rasa khas Sirop Edi. Singkat kata, Anda tidak akan rugi mengeluarkan uang Rp. 6.000 untuk sajian minuman yang segar dan nikmat, apalagi jika dibawah terpaan udara siang yang panas terik. Rasanya akan terasa lebih mantap!

Mau dinikmati sendirian, atau bersama teman, apalagi orang tersayang, hidangan ini akan tetap membawa kenikmatan tersendiri. Sirop Edi Ciamis pantas menjadi tujuan yang direkomendasikan bagi pencari kuliner yang khas Ciamis.

Anda bahkan dapat memesan sirop tersebut untuk dibungkus, jika ingin menikmatinya lagi di tempat lain (ini khusus untuk para konsumen yang terlalu jaim untuk pesan satu mangkuk lagi di meja Sirop Edi), atau karena ingin membawakan oleh-oleh istimewa bagi orang rumah. Kemasan sirop Edi Ciamis sekarang tidak sekadar ‘asal bungkus’ seperti dulu, melainkan sudah cukup menarik dan lebih baik.

Nah, tinggal Anda jadwalkan saja kapan mengunjungi tempatnya. Selamat menikmati Sirop Edi dari Ciamis!

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]

Gorengan Komar, Kuliner Rakyat Legendaris

Gorengan Komar, Kuliner Rakyat Legendaris

Berangkat dari pemikiran ingin menjual makanan yang murah dan bisa terjangkau oleh masyarakat kecil, Komar (68), warga Lingkungan Bojonghuni Kelurahan Maleber Kecamatan Ciamis, membikin ide cemerlang. Dia mencoba menjual gorengan ‘unyil’ dengan harga murah. Ya, gorengan ‘unyil’ itu terdiri dari gorengan tempe, balabala, gehu dan combro dengan ukuran serba kecil.

Memang, jika sepintas dilihat dari ukurannya, sebenarnya tidak lazim dengan ukuran gorengan pada umumnya. Karena sangat kecil. Tapi, apabila sudah dimakan, pasti siapapun akan ketagihan.

Usaha membuat gorengan ‘unyil’ ini dirintis dari tahun 1975. Berawal dari jualan keliling yang setiap malam menyisir sudut jalan Sudirman Kota Ciamis, hingga kini memiliki warung sendiri di Jalan Sudirman Olvado Ciamis, meski masih sangat sederhana. Saking sudah lama bertahan menjajakan gorengan ‘unyil’, warung gorengan ‘komar’ sudah akrab di telinga warga Ciamis kota.

Selama 36 tahun mampu mempertahankan ciri khasnya, membuat warung gorengan ‘komar’ kini tak lagi untuk masyarakat kecil saja, tetapi sudah berbagai kalangan yang singgah ke warung ini. Maka tak heran warung yang buka pada jam 8 malam ini, kerap dibanjiri pembeli, mulai dari penjalan kaki hingga yang turun dari mobil mewah. Warung gorengan komar kini sudah menjadi salah satu icon kuliner di kota Ciamis.

Usaha gorengan ‘unyil’ yang awalnya dirintis oleh Komar ini, kini sudah turun ke generasi keduanya. Ade Oman, (38), anak Komar, sekarang sebagai penurus usaha bapaknya. Menurut Ade, setelah umur Bapaknya sudah hampir menginjak 70 tahun, akhirnya usaha gorengan ‘unyil’ dia ambil alih.

“Bapak udah gak kuat lagi begadang. Karena udah tua. Jadi saya sekarang yang rutin nungguin warung,” kata Ade didampingi istrinya Iis, ketika ditemui HR, di warungnya, pekan lalu. Memang, warung ini buka dari jam 8 malam hingga tengah malam, bahkan tak jarang sampai pagi. Karenanya, si pedagang butuh kondisi tubuh dan energi ekstra, karena harus beradu dengan dinginnya angin malam.

Menurut Ade, selain menjual berbagai macam gorengan yang ukurannya serba ‘unyil’, di warung ini pun menjual aneka makanan lainnya, seperti nasi timbel, goreng ayam, piritan ayam dan pete goreng.

“Kita memadukan gorengan ‘unyil’ ini dengan menu makanan. Hal itu agar gorengan ini tidak hanya untuk cemilan saja, tetapi juga untuk makanan yang dipadukan dengan nasi timbel dan goreng ayam berikut sambalnya,” ujarnya.

Sambal di warung komar ini pun, memiliki ciri khas tersendiri. Ada dua jenis sambal yang dijajakan di warung ini, yakni sambal tomat dan sambal cabe rawit yang dikemas berbeda dengan sambal pada umumnya.

“Sambal yang kita punya, pastinya akan berbeda rasa dan resep dengan sambal lainnya. Sambal ini khusus cuma ada di sini. Kita sengaja membuat sambal dan makanan yang memiliki ciri khas, agar si pembeli selalu ingat dengan warung ini,“ katanya sembari berkelekar.

Menurut Ade, meski warungnya tampak terlihat sederhana, tetapi jika dihitung uang beromzet jutaan rupiah.

“Kalau seluruh dagangan ini terjual habis, kita bisa mendapat uang dikisaran Rp. 1,5 juta. Tetapi kalau dagangan lagi sepi, paling sedikit kita bisa mendapat sekitar Rp. 900 ribu,” katanya.

Saking sudah memiliki banyak langganan dan sudah dikenal masyarakat Ciamis, tak jarang gorengan komar ini kerap mendapat pesanan untuk acara resepsi pernikahan atau acara-acara lainnya.

“Kita sering mendapat pesanan untuk acara hajatan atau rapat. Alhamdulilah, semakin dikenal banyak orang, semakin laris pula dagangan yang kita jajakan,“ ujarnya sembari tersenyum.

Meski dagangannya selalu laris manis, tetapi bangunan warung yang saat ini ditempati masih berukuran gubuk kecil yang sangat sederhana. Pasalnya, tanah diatas bangunan warung tersebut masih berstatus milik orang lain.

“Sebenarnya kita ingin sekali membangun warung ini secara permanen dan dilakukan pelebaran biar pembeli lebih nyaman makan di sini. Tetapi bagaimana lagi, tanah ini milik orang lain. Jadinya kita gak enak kalau warung ini direhab atau diperlebar secara permanen,“ ujarnya.

Saking kecilnya ukuran bangunan warung komar, membuat pembeli harus pasesedek apabila lagi ramai-ramainya kebanjiran pembeli. Pembeli yang datangnya belakangan, terkadang harus rela berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]

Mars Ciamis Manis Manjing Dinamis

Mars Ciamis Manis Manjing Dinamis

Tetela geuning masih aya anu kagungan kereteg hoyong ngahaleuangkeun lagu kameumeut ieu. Mangga atuh kahatur laguna, kantun ngiring dihaleuangkeun teks syairna.

Wilujeng ngahaleuang.

Mars Ciamis

Pakena gawe rahayu
Pakeun heubeul jaya di buana
Ciamis natar udagan
Mapag mangsa datang
Nanjung tur gumilang
Mahayuna kadatuan
Kiwari ngancik bihari
Ayeuna sampeureun jaga
Geusan mahayuna ayuna kadatuan

Ciamis manjang manisna
Ciamis manjing dinamis …
Pangharepan pangwangunan
Kukuh ajeg pribadi
Raharja lemah cai

[alert style=”white”]referensi: ciamismanis.com[/alert]

Daftar Kecamatan di Kabupaten Ciamis

Daftar Kecamatan di Kabupaten Ciamis

Sejak otonomi daerah diberlakukan pada tahun 2001, Kabupaten Ciamis mengalami pemekaran wilayah menjadi Kabupaten Ciamis dengan 30 kecamatan dan Kota Banjar 4 kecamatan.

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di Kabupaten Ciamis dan untuk mengurangi rentang kendali pemerintahan pada tahun 2006 di Kabupaten Ciamis mengalami pemekaran sebanyak 6 kecamatan, sehingga dari 30 kecamatan menjadi 36 kecamatan.

Begitu juga untuk jumlah desa, selama periode 2007 – 2009, jumlah desa bertambah sebanyak 3 desa. Demikian juga untuk periode yang sama jumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) mengalami penambahan sebanyak 27 Rukun Warga (RW) dan 92 Rukun Tetangga (RT).

No Nama Kecamatan
1 Kecamatan Ciamis
2 Kecamatan Cikoneng
3 Kecamatan Cijeungjing
4 Kecamatan Sadananya
5 Kecamatan Cimaragas
6 Kecamatan Panumbangan
7 Kecamatan Cihaurbeuti
8 Kecamatan Panjalu
9 Kecamatan Kawali
10 Kecamatan Cipaku
11 Kecamatan Panawangan
12 Kecamatan Jatinagara
13 Kecamatan Rancah
14 Kecamatan Cisaga
15 Kecamatan Tambaksari
16 Kecamatan Rajadesa
17 Kecamatan Sukadana
18 Kecamatan Banjarsari
19 Kecamatan Lakbok
20 Kecamatan Pamarican
21 Kecamatan Langkaplancar
22 Kecamatan Pangandaran
23 Kecamatan Kalipucang
24 Kecamatan Padaherang
25 Kecamatan Cijulang
26 Kecamatan Parigi
27 Kecamatan Cigugur
28 Kecamatan Cimerak
29 Kecamatan Sidamulih
30 Kecamatan Cidolog
31 Kecamatan Sindangkasih
32 Kecamatan Baregbeg
33 Kecamatan Sukamantri
34 Kecamatan Lumbung
35 Kecamatan Purwadadi
36 Kecamatan Mangunjaya

[alert style=”white”]referensi: ciamiskab[/alert]

Pangandaran Lautan Scooter 2012

Pangandaran Lautan Scooter 2012

 

Pangandaran Lautan Scooter (PALAS) telah menjadi agenda tahunan Pariwisata Kecamatan Pangandaran, yang diselenggarakan setiap Bulan Juli dalam rangka ulang tahun PASCA. Photo By Satimin Pada Minggu, 08 Juli 2012 20:52 WIB

[alert style=”white”]foto: mypangandaran.com[/alert]

Wisata Pantai Pangandaran

Wisata Pantai Pangandaran

Objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis, memiliki berbagai keistimewaan seperti:

  • Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama
  • Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman
  • Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih
  • Tersedia tim penyelamat wisata pantai
  • Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan penerangan jalan yang memadai
  • Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.

Dengan adanya faktok-faktor penunjang tadi, maka wisatawan yang datang di Pangandaran dapat melakukan kegiatan yang beraneka ragam: berenang, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, para sailing, jet ski dan lain-lain.

Adapun acara tradisional yang terdapat di sini adalah Hajat Laut, yakni upacara yang dilakukan nelayan di Pangandaran sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap kemurahan Tuhan YME dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasa dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Muharam, dengan mengambil tempat di Pantai Timur Pangandaran.

Event pariwisata bertaraf internasional yang selalu dilaksanakan di sini adalah Festival Layang-layang Internasional (Pangandaran International Kite Festival) dengan berbagai kegiatan pendukungnya yang bisa kita saksikan pada tiap bulan Juni atau Juli.

Fasilitas yang tersedia:

  1. Lapang parkir yang cukup luas,
  2. Hotel, restoran, penginapan, pondok wisata dengan tarif bervariasi,
  3. Pelayanan pos, telekomunikasi dan money changer,
  4. Gedung bioskop, diskotik
  5. Pramuwisata dan Pusat Informasi Pariwisata,
  6. Bumi perkemahan,
  7. Sepeda dan ban renang sewaan,
  8. Parasailing dan jetski.

TIKET MASUK OBJEK WISATA PANGANDARAN

  • Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 3.000,-
  • Sepeda Motor Rp. 6.100,-
  • Kendaraan Jenis Jeep/Sedan Rp. 14.700,-
  • Kendaraan Jenis Carry Rp. 27.700,-
  • Kendaraan Penumpang Besar Rp. 40.700,-
  • BUS Kecil Rp. 53.200,-
  • BUS Sedang Rp. 80.000,-
  • BUS Besar Rp.131.000,-

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com[/alert]

Gondang Buhun

Gondang Buhun

Gondang, atau di Ciamis disebut Gondang Buhun, adalah seni tetabuhan (tutunggulan) yang disertai dengan nyanyian. Alatnya adalah sebuah lisung (lesung, wadah untuk menumbuk padi) dan halu (alu), penumbuk padi terbuat dari sebatang kayu. Bunyi lesung dihasilkan dari tumbukan alu, yang bisa dilakukan ke berbagai bagian lesung, baik ke bagian dalam maupun bagian luar. Seluruh pemainnya perempuan, berjumlah kurang lebih lima orang. Kesenian ini tersebar di beberapa wilayah pedesaan di Ciamis Selatan. Salah satunya ada di Kampung Cikukang, Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Mereka yang kini masih bisa ngagondang di antaranya Enah, Karlah, Anah, dan Niti. Kesenian ini terkait dengan beberapa ritus, antara lain ritus Nyi Pohaci Sanghyang Sri (mapag sri), ritus minta hujan, dan sebagai undangan kenduri.

Gondang yang dimainkan dalam rangka upacara mapag sri atau ngampihkeun (menyimpan padi ke lumbung) biasanya dilakukan selepas panen. Tempatnya dilaksanakan di sekitar leuit (lumbung padi). Upacara itu dimulai oleh seorang punduh (sesepuh upacara) perempuan, yang berdoa sambil membakar kemenyan, memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan rasa syukurnya atas hasil panen yang didapat. Padi pun diarak, dimasukkan ke dalam lumbung sambil diiringi tutunggulan. Setelah itu, nyanyian gondang pun dilantunkan dengan penuh keceriaan.

Pada musim kemarau yang panjang, dan hujan tak kunjung turun, masyarakat melakukan upacara minta hujan yang disebut dengan iring-iring ucing. Dalam upacara ini, seekor kucing dan ayam jago diarak keliling kampung. Pelaksanaannya pada malam hari, dan tandanya dimulai dengan tutunggulan galuntang. Setelah itu, rombongan gondang bersiap untuk keliling kampung mengarak kedua binatang tersebut. Lesung digotong beramai-ramai, sementara alat musik Ronggeng Gunung ditabuh bersahut-sahutan. Setelah sampai di suatu tempat, kucing dan ayam jago dimandikan, kemudian dilepas. Gondang pun dimainkan.

Lain halnya dengan gondang yang dimainkan untuk kepentingan kenduri. Suara lesungnya yang terdengar sampai jauh, berfungsi sebagai pemberitahuan atau sebagai tanda adanya seseorang yang akan mengadakan kenduri. Suara tutunggulan dan nyanyian-nyanyian itu adalah undangan kepada khalayak ramai untuk datang kepada orang yang punya kenduri. Tutunggulan biasanya dilakukan jauh hari sebelum kenduri seseorang itu dilaksanakan. Biasanya selama tiga hari sampai dengan seminggu. Akan tetapi, ritus-ritus tersebut kini mulai hilang dan gondang pun jarang dimainkan lagi.

Pola permainannya dibagi menjadi dua bagian, yakni tutunggulan dan nyanyian. Dalam Gondang Buhun terdapat empat jenis tutunggulan yang paling dominan, setiap jenisnya mempunyai irama yang khas. Keempat tutunggulan itu adalah:

  1. Galuntang, dimainkan oleh 4 atau banyak orang, yang berfungsi sebagai pembuka dan penutup pertunjukan.
  2. Pingping Hideung, dimainkan oleh 4 orang
  3. Ciganjengan, dimainkan oleh 5 orang
  4. Angin-anginan, dimainkan oleh 7 orang

Setiap pemain gondang mempunyai motif irama dan tumbukannya sendiri. Motif tumbukan atau tabuhan yang berbeda-beda itu kemudian dipadukan sehingga membentuk sebuah komposisi irama. Motif tabuhan tersebut antara lain: turun-unggah atau midua, gejog, onjon, titir, kutek, ambruk, tilingting, dan dongdo.

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id, ilustrasi: wikipedia[/alert]

40 Jenis Kesenian Tradisional di Jabar Nyaris Punah

40 Jenis Kesenian Tradisional di Jabar Nyaris Punah

Kesenian tradisional teater dan sandiwara rakyat dari rumpun seni tutur tradisional menjadi bagian dari 10 persen kesenian tradisional yang punah. Tidak kurang dari 40 kesenian tradisional Jawa Barat dari 243 jenis kesenian terancam punah.

“Ada banyak penyebab punahnya kesenian tradisional di Jawa Barat. Selain karena tokohnya meninggal dunia, kesenian sudah tidak mendapat tempat ataupun tidak ditanggap masyarakatnya serta kalah dengan kesenian yang berkembang saat ini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Drs. Nunung Sobari, M.M., dalam paparanya pada acara Forum Diskusi Wartawan Bandung, bertempat di Toko Yu, Jalan Hasanudin Bandung, Rabu (22/2).

Sedangkan kesenian yang terancam punah, ungkap Nunung, kebanyakan berupa seni teater dan sandiwara rakyat, reog, masres dan sebagainya. Dikatakannya, jika tidak ada upaya dari masyarakat maupun pemerintah daerah, seni yang terancam punah ini justru akan punah. Oleh karena itu, lanjut dia, Disparbud Jabar melalui Balai Taman Budaya Jabar melakukan program pewarisan seni dan revitalisasi seni.

Untuk menangani kepunahan sejumlah kesenian tradisional, menurut Nunung, Disparbud Jabar melalui Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar) melakukan program revitalisasi dan pewarisan. Program pewarisan yang diselenggarakan sejak tahun 2005 hingga 2011 telah merevitalisasi 11 kesenian tradisional dan tahun 2012 ada tiga kesenian yang masuk program revitalisasi dan 13 kesenian masuk program pewarisan.

Kesenian tradisional yang berhasil direvitalisasi, meliputi kesenian Topeng Lakon (Kab. Cirebon), Gondang Buhun (Kab. Ciamis), Angklung Badud (Kota Tasikmalaya), Parebut Seeng (Kab. Bogor), Goong Kaman (Kab. Bekasi), Cokek (Kab. Bekasi), Gamelan Ajeng (Kab. Karawang), Topeng Menor (Kab. Subang), Randu Kentir (Kab. Indramayu), Seni Uyeg (Kota Sukabumi) dan Ketuk Tilu Buhun (Kota Bandung). “Dari kesebelas kesenian yang punah dan nyaris punah, kesenian Uyeg pada masa kerajaan Padjajaran abad ke 15 yang paling tua, dan tahun ini ada empat yang masuk program revitalisasi,” terang Nunung.

Selain kendala tokoh maupun pelaku seni, menurut Nunung, kendala anggaran menjadi penyebab tersendatnya upaya-upaya pelestarian kesenian tradisional. “Setiap tahunnya Disparbud melalui BPTB Jabar baru hanya mampu menjalankan program revitalisasi antara tiga hingga lima kesenian tradisional, sementara program pewarisan yang baru dilaksanakan tahun 2011 hingga tahun ini direncanakan 23 kesenian,” ujar Nunung.

Namun demikian, menurut Nunung program pewarisan dan revitalisasi yang dilaksanakan Disparbud Jabar melalui BPTB Jabar selain berhasil menyelamatkan kesenian tradisional, juga mengangkat tokohnya serta menghidupkan kembali perekonomian para pelakunya.

Dicontohkannya kesenian tradisional Parebut Seeng yang kini sudah difestivalkan untuk menumbuhkan rasa cinta berkesenian di masyarakat, juga mampu menghidupkan pengrajin alat kesenian yang dipergunakan serta lainnya.

[alert style=”white”]referensi: pikiran-rakyat.com[/alert]