Situ Mustika

Situ Mustika

Wana Wisata Situ Mustika adalah sebuah situ buatan yang terletak di tengah kota Banjar, Jawa Barat. Luas efektif wana wisata ini adalah 8,5 Ha, dengan 3,5 ha berupa situ (kolam besar) dan 5 ha daratan. Di tengah-tengah kolam terdapat pulo kecil. Sebuah sebuah jembatan gantung menghubungkan pulo tersebut dengan pinggir situ.

Dikelola Perum Perhutani sejak 1985, wana wisata ini menawarkan suasana hutan yang sejuk serta panorama situ yang asri dan tenang.

Secara aksesibilitas, wana wisata ini dapat dijelang dari tiga arah. Dari kota Ciamis menggunakan jalan raya Ciamis – Banjar dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dari arah Jawa Tengah menggunakan jalan raya Cilacap – Ciamis dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dari batas provinsi. Sedang dari arah Pangandaran dapat melalui jalan raya Pangandaran – Ciamis, masuk kota Banjar dan menggunakan jalan Jend Soewarto sebelum tiba di Parungsari. Waktu tempuh Banjar – Pangandaran adalah sekitar 2,5 jam.

Situ Mustika dikenal lama sebagai tempat berkemah (camping ground). Kelompok Pramuka, pelajar dan para pecinta alam biasa menggunakan Situ Mustika dalam agenda tahunannya. Hal ini disebabkan karena wana wisata ini memiliki lokasi yang strategis (mudah dijelang karena berada di dalam kota) serta memiliki syarat-syarat yang cukup untuk kegiatan di alam luar (kondisi hutannya sangat terjaga) dengan fasilitas-fasilitas yang cukup memadai (WC, musholla, warung dll).

Favorit Reuni

Situ Mustika juga biasa digunakan perkumpulan-perkumpulan hobby, seperti klub off roader, penggemar sepeda gunung atau motor trail untuk melakukan gathering atau outbound. Khusus pada musim liburan atau Idul Fitri, Situ Mustika merupakan tempat favorit untuk melakukan reuni keluarga atau alumni suatu almamater dengan melaksanakan serangkaian acara bersama.

Lokasi:  Kecamatan Cisaga, Kota Banjar
Koordinat : 7° 21′ 28″ S, 108° 31′ 57″ E
Arah:  3 km dari Kecamatan Cisaga, 1 km dari Kabupaten Banjar, dan 27 km dari Ciamis. Kondisi jalan umumnya beraspal dan baik, sehingga dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat. Sarana transportasi umum yang ada adalah colt dan bus.
Fasilitas: Fasilitas yang tersedia di dalam wana wisata ini adalah papan petunjuk, pos jaga, loket karcis, tempat parkir, jalan setapak, instalasi air bersih, MCK, bangku, dan musholla.

[alert style=”white”]referensi: perumperhutani.com, disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

 

Nama Rupa Iket

Nama Rupa Iket

Beberapa Jenis Rupa IKET yang saya ketahui, berdasarkan hasil yang pernah saya lihat dari  kampung adat ( masih banyak kampung adat yang belum saya kunjungi, dan mohon bantuannya )  masih banyak lagi yang pernah saya dengar, atau lihat, dari beberapa sumber, tetapi saya masih saya cari informasinya, apakah iket tersebut masuk ke kategori rupa iket buhun atau rupa iket réka-an.

Diantaranya Adalah:

RUPA IKET BUHUN

  1. Parekos Jéngkol
  2. Parekos Nangka
  3. Barangbang Semplak
  4. Julang Ngapak
  5. Koncér
  6. Kuda Ngencar
  7. Lohen
  8. Kebo Modol
  9. Kolé Nyangsang
  10. Buaya Ngangsar
  11. Porténg
  12. Parekos Gedang ( Kampung Ciptagelar )
  13. Ki Parana ( Kampung Ciptagelar )
  14. Udeng ( Kampung Ciptagelar )
  15. Pa’tua ( Kampung Ciptagelar )
  16. Babarengkos ( Kampung Ciptagelar )
  17. Iket Adat Kampung Ciptagelar 1 ( Kampung Ciptagelar )
  18. Iket Adat Kampung Naga 1
  19. Iket Adat Kampung Naga 2
  20. Iket Adat Kampung Dukuh
  21. Iket Adat Kampung Cikondang 1
  22. Iket Adat Rancakalong

RUPA IKET RÈKA-AN

  1. Parékos Candra Sumirat
  2. Parékos Maung Leumpang
  3. Parékos Batu Amparan
  4. Parékos Dua Adegan
  5. Parékos KiPahare
  6. Kujang Dua Papasangan
  7. Parékos Jeulit Danas

Tentunya masih ada beberapa rupa iket buhun atau reka-an yang lainnya, namun karena masih rancu untuk kategori iket buhun atau reka-an,maka belum bisa untuk ditampilkan.

Untuk Gambar dari masing masing rupa iket, akan ditampilkan menyusul.

Hapunten rebu hapunten, mugia janten kasaean, sae atanapi awon-na, urang silih lereskeun… cag.

pulasara iket, wilujeng calik na-ampar-an

[alert style=”white”]referensi: http://pulasara-iket.com [/alert]

Rumah Makan Mergosari

Rumah Makan Mergosari

RM. Mergosari di Ciamis ada beberapa cabang yaitu di daerah Cijeungjing, Sindangkasih dan sepanjang Nagrek-Ciamis.

Beberapa makanan yang direkomendasikan di tempat ini yaitu :

Ayam Goreng Serundeng, Rasanya gurih banget dan lebih mantap disajikan masih panas ditambah sambel dadaknya yang maknyus

Garang Asem

Sop Dengkul : Segar, paduan rasanya mantap dan disajikan hangat

Selain itu jg tersedia pepes ikan, pepes jamur dan tahu.

Rumah Makan Mergosari
Phone: 0265 2751322
Alamat: Jl. Raya Cikoneng
Kota: Ciamis

Rumah Makan Mergosari
Alamat: Jl. Raya Banjar – Ciamis No. 285 Pamalayan
Kota: Ciamis

Rumah Makan Mergosari
022-730.46.64
Alamat: Jl. Karapitan No.135 Bandung
Kota: Bandung

[alert style=”white”]referensi: berbagai sumber [/alert]

Rumah Adat Panjalin

Rumah Adat Panjalin

Rumah adat Panjalin terletak di wilayah Desa Panjalin. Desa Panjalin adalah sebuah desa yang berada di lingkungan Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka. Sejak tahun 1982, Desa Panjalin telah dimekarkan menjadi dua desa, yaitu Desa Panjalin Kidul dan Desa Panjalin Lor. Desa Panjalin Kidul terletak di sebelah utara wilayah Kecamatan Sumberjaya dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Cirebon. Adapun batas-batas daerah Desa Panjalin Kidul antara lain

  • Sebelah utara berbatasan dengan Desa Panjalin Lor Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka dan Desa Budur Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon,
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Panyingkiran Kecamatan Sumberjaya,
  • Sebelah barat berbatasan dengan Desa Rancaputat Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka,
  • Sebelah timur berbatasan dengan Babakan Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.

Secara administratif, pemerintahan Desa Panjalin Kidul terdiri atas lima buah dusun dan 9 Rukun Warga (RW). Setiap dusun dipimpin oleh seorang kepala dusun (Kadus) dengan membawahi sejumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT). Rukun Tetangga (RT) di Desa Panjalin Kidul seluruhnya berjumlah 24 RT. Jabatan kepala dusun dipilih dan ditetapkan oleh kepala desa yang disebut kuwu dan disyahkan oieh Bupati Majalengka dengan Surat Keputusan. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala dusun bertanggung jawab kepada kepala desa.

Jarak orbitrasi Desa Panjalin Kidul terhadap pusat-pusat pemerintahan relatif tidak terlalu jauh, antara lain

  • dengan ibukota Kecamatan Sumberjaya berjarak kurang lebih 5 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 15 menit,
  • dengan ibukota Kabupaten Majalengka berjarak kurang lebih 37 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 60 menit,
  • dengan ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung, berjarak kurang lebih 165 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 3 jam.

Secara geografis, Desa Panjalin Kidul berada pada garis antara 108° – 1090 Bujur Barat dan antara 6° – 7° Lintang Selatan. Adapun keadaan suhu di Desa Panjalin Kidul relatif cukup panas sekitar 28° Celcius dengan kelembaban rata-rata antara 78 % – 84 %. Jumlah curah hujan rata-rata 2.500 mm/tahun dengan jumlah bulan basah sekitar 10 bulan pertahun.

Desa Panjalin Kidul berada pada ketinggian tanah bervariasi antara 150 sampai 200 meter di atas permukaan air taut (dpa), dengan bentuk relief permukaan tanah pedataran. Keadaan tanah umumnya berupa dataran rendah dengan direlief oleh sungai-sungai kecil serta Sungai Ciwaringin di sebelah timur. Sungai Ciwaringin ini, selain merupakan batas desa juga merupakan batas Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Cirebon.

Was wilayah Desa Panjalin Kidul adalah 250 ha. Penggunaan lahan lebih banyak dimanfaatkan sebagai lahan produksi sebesar 151 ha yang berupa lahan sawah teknis sebesar 31 ha, semi teknis sebesar 36 ha, sederhana sebesar 17 ha, dan tadah hujan sebesar 67 ha. Penggunaan lahan untuk pemukiman atau perumahan penduduk sebesar 50 ha, dan sisanya terdiri atas tanah desa, pangangonan dan kuburan.

Persoalan yang cukup dirasakan warga adalah air bersih dan tempat pembuangan limbah dapur. Pada saat musim kemarau panjang melanda daerah ini maka air tanah yang menjadi sumber utama untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat kadang-kadang sulit didapatkan karena sebagian besar sumur-sumur yang ada surut airnya dan kering. Sementara itu, untuk memusnahkan limbah dapur biasa dilakukan dengan cara dibakar atau dibuang ke aliran sungai.

 [alert style=”white”] Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 [/alert]
Rumah Adat Citalang

Rumah Adat Citalang

Desa Citalang merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta dengan batas-batas wilayah sebagai berikut

  • sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Munjuljaya
  • sebelah timur berbatasan dengan Desa Selaawi
  • sebelah selatan berbatasan dengan Desa Warungkadu, dan – sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Tegalmunjul.

Secara administratif, pemerintahan Desa Citalang terdiri atas 23 RT (rukun tetangga), 5 RW (rukun warga), dan 5 dusun. Ke-5 dusun berdasarkan RW-nya adalah RW 01 Citalang, RW 02 Karangsari, RW 03 Wangunjaya, RW 04 Mekarsari, dan RW 05 Citalang Indah.

Letak astronomisnya adalah antara 107° 30′ – 107° 40′ Bujur Barat dan 6° 25′- 6° 45′ Lintang Selatan. Adapun jarak orbitrasi Desa Citalang terhadap pusat pemerintahan dan lokasi fasilitas umum relatif dekat, yakni .: – Jarak dengan kecamatan Purwakarta hanya ± 3 km, – Jarak dengan ibu kota Kabupaten Purwakarta sekitar 3,5 kilometer, – Jarak dengan ibu kota propinsi sekitar 78 kilometer; serta – Jarak dengan ibu kota negara sekitar 114 kilometer.

Secara geografis, Desa Citalang berada pada ketinggian 100 – 150 meter di atas permukaan air laut. Ketinggian lokasi ini menyebabkan Desa Citalang dikiasifikasikan sebagai wilayah dataran rendah dengan kandungan tanah sangat cocok untuk persawahan. Tidak mengherankan jika Desa Citalang termasuk salah satu desa penghasil beras di Kabupaten Purwakarta.

Kurang lebih 80 % daerah ini berjenis tanah latosol, sisanya terdiri atas aluvial, regosol, andosol, dan grumosol. Rata-rata curah hujan di Desa Citalang berkisar antara 2000 – 2500 mm per tahun dengan jumlah curah hujan terbanyak 116 hari. Suhu udara rata-rata setiap harinya berkisar antara 22° – 25° Celcius.

Desa Citalang memiliki luas wilayah 347,639 hektar. Sebagian besar dari luas wilayah digunakan untuk sawah dan ladang yaitu seluas 247,384 hektar Selebihnya dimanfaatkan untuk pemukiman/perumahan, empang, jalan, industri, dan pekuburan.

[alert style=”white”] Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 [/alert]

Cukang Taneuh ( Green Canyon )

Cukang Taneuh ( Green Canyon )

Jika merasa terlalu jauh berkunjung ke Grand Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata juga memiliki Green Canyon sendiri yang tak kalah cantiknya. Sebenarnya tempat ini punya nama asli yaitu Cukang Taneuh. Nama Green Canyon sendiri dipopulerkan oleh seorang warga Perancis pada tahun 1993. Sedangkan Cukang Taneuh punya arti yaitu jembatan tanah. Hal itu dikarenakan di atas lembah dan jurang Green Canyon terdapat jembatan dari tanah yang digunakan oleh para petani di sekitar sana untuk menuju kebun mereka.

Green Canyon Indonesia ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Ciamis sendiri berjarak sekitar 130 km atau jika dari Pangandaran berjarak sekitar 31 km. Di dekat objek wisata ini terdapat objek wisata Batukaras serta Lapangan Terbang Nusawiru.

Objek wisata mengagumkan ini sebenarnya merupakan aliran dari sungai Cijulang yang melintas menembus gua yang penuh dengan keindahan pesona stalaktif dan stalakmitnya. Selain itu daerah ini juga diapit oleh dua bukit, juga dengan banyaknya bebatuan dan rerimbunan pepohonan. Semuanya itu membentuk seperti suatu lukisan alam yang begitu unik dan begitu menantang untuk dijelajahi.

Untuk mencapai lokasi ini wisatawan harus berangkat dari dermaga Ciseureuh. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu tempel atau kayuh yang banyak tersedia di sana. Jarak antara dermaga dengan lokasi Green Canyon sekitar 3km, yang bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit. Sepanjang perjalanan kita akan melewati sungai dengan air berwarna hijau tosca. Mungkin dari sinilah nama Green Canyon berasal.

Begitu terlihat jeram dengan alur yang sempit yang sulit dilewati oleh perahu berarti sudah sampai di mulut Green Canyon, di mana airnya sangat jernih berwarna kebiru-biruan. Di sinilah awal petualangan menjelajah keindahan objek wisata ini dimulai. Dari sini wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke atas dengan berenang atau merayap di tepi batu. Disediakan ban dan pelampung bagi yang memilih untuk berenang. Meski harus menempuh cara seperti ini, perjalanan dijamin sepenuhnya aman. Bahkan untuk anak-anak 6 tahun ke atas cukup aman untuk menyusuri aliran sungai dengan menggunakan ban dan dipandu oleh pemilik perahu yang disewa.

Perjalanan akan terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai. Dinding-dinding untuk menyajikan keindahan tersendiri, yang paling unik berbentuk menyerupai sebuah gua yang atapnya sudah runtuh. Selain itu di bagian atas beberapa kali pengunjung akan melewati stalaktit-stalaktit yang masih dialiri tetesan air tanah. Setelah beberapa ratus meter berenang, akan terlihat beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan. Jika diteruskan berenang maka pengunjung akan sampai pada ujung jalan, di mana terdapat gua yang dihuni oleh banyak kelelawar.

Alur aliran sungai ini cukup panjang, sehingga pengunjung dapat berenang sepuas-puasnya sambil mengikuti arus dari air terjun. Selain pemandangan indah di atas permukaan air, Green Canyon akan menjadi surga tersendiri bagi yang suka menyelam. Tinggal membawa beberapa alat selam, pemandangan menakjubkan cekungan-cekungan di dalam air siap untuk ditelusuri dan dinikmati, lengkap dengan beragamnya ikan-ikan yang berenang ke sana kemari di dasar lubuk. Bagi yang suka menantang adrenalin, dapat meloncat dari sebuah batu besar dengan ketinggian 5m ke dasar lubuk yang dalam.

Bagi Anda yang benar-benar ingin menikmati keindahan objek wisata Green Canyon harus paham dengan musim-musimnya. Karena saat terbaik untuk bisa menikmati keindahaan objek wisata ini adalah beberapa saat setelah masuk musim kemarau. Karena jika pada musim hujan, dikhawatirkan deras sungai dan warna airnya pun akan menjadi coklat.

Sebelum Anda memutuskan untuk ke Green Canyon, sebaiknya terlebih dahulu menyiapkan uang tunai yang cukup. Pasalnya, disana tidakada bank atau ATM. Untuk ATM, tempat penginapan dan fasilitas akomodasi yang lengkap bisa Anda dapatkan di Pangandaran.

Untuk akses berperahu, disana tersedia armada perahu yang cukup banyak. Ada sekitar 100 unit perahu yang dapat mengantarkan Anda untuk menelusuri objek wisata ini. Pada setiap perahu akan dilengkapi seorang juru dan tugas batu untuk memandu Anda dalam perjalanan.

Rute perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Green Canyon yaitu :

Dari JAKARTA dan BANDUNG,

Anda bisa mengikuti Rute Arah ke Jawa Tengah dengan melalui Kota Tasik-Ciamis Kota-Kota Banjar- Pangandaran.

Dari JAWA TIMUR dan JAWA TENGAH,

Untuk JAWA TIMUR anda dapat menuju Arah JAWA TENGAH terlebih dahulu, lalu dilanjutkan untuk mengambil jalur ke Jawa Barat dengan mengikuti jalur Arah (Purworejo-Kebumen-Wangon-Banjar- Pangandaran-Ciamis).

Bagi Anda yang menggunakan kendaraan umum, tentunya tidak usah repot memikirkan rute. Karena sopir akan membawa Anda Langsung ke Pangandaran(Green Canyon). Tapi yang perlu diperhatikan yaitu tempat Anda Menginap disana, anda bisa memilih penginapan yang terdapat di hotel-hotel yang tersedia banyak di Pangandaran atau bisa juga menginap di objek wisata Batukaras yang sangat berdekatan dengan Green Canyon. (untuk data informasi hotel anda bisa lihat pada list hotel yang tesedia di situs ini).

Selamat Menikmati Liburan Panjang dengan Keluarga Anda, Kunjungi dan Nikmati Potensi Objek Wisata Kabupaten Ciamis yang lain, yang tidak kalah menariknya dengan Green Canyon.

TIKET MASUK OBJEK WISATA CUKANG TANEUH (GREEN CANYON)

  • a. Tiket Perahu/Parkir Rp. 57.500,-
  • b. Tiket Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 12.500,-

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com[/alert]

Raden Aria Koesoemadininggrat, Bupati Galuh (1879)

Raden Aria Koesoemadininggrat, Bupati Galuh (1879)

Raden Aria Koesoemadininggrat, regent (bupati) Galuh (1879)

Kangjeng Prebu sebagai bupati Galuh yang keenambelas ini paling ternama. Ia mempunyai ilmu yang tinggi dan merupakan bupati pertama di wilayah itu yang bisa membaca huruf latin. Memerintah dengan adil disertai dengan kecintaannya pada rakyat. Empat puluh tujuh tahun lamanya Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memimpin Galuh Ciamis (1839-1886).

[alert style=”white”]foto: id.wikipedia [/alert]

Kerajaan Galuh

Kerajaan Galuh

Kerajaan Galuh adalah suatu kerajaan Sunda di pulau Jawa, yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cipamali di sebelah timur. Kerajaan ini adalah penerus dari kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara.

Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ada pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada awal abad ke-16. Dalam naskah tersebut, ceritera mengenai Kerajaan Galuh dimulai waktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi raja resi selama lima belas tahun. Selanjutnya, kekuasaan ini diwariskan kepada putranya di Galuh yaitu Sang Wretikandayun.

Saat Linggawarman, raja Tarumanagara yang berkuasa dari tahun 666 meninggal dunia pada tahun 669, kekuasaan Tarumanagara jatuh ke Tarusbawa, menantunya dari Sundapura, salah satu wilayah di bawah Tarumanagara. Karena Tarubawa memindahkan kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura, pihak Galuh, dipimpin oleh Wretikandayun (berkuasa dari tahun 612), memilih untuk berdiri sebagai kerajaan mandiri. Adapun untuk berbagi wilayah, Galuh dan Sunda sepakat menjadikan Sungai Citarum sebagai batasnya.

[alert style=”white”]http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Galuh[/alert]

Rumah Adat di Jawa Barat

Rumah Adat di Jawa Barat

A. Rumah Adat Citalang

1. Lokasi dan Lingkungan

Desa Citalang merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta dengan batas-batas wilayah sebagai berikut

  • sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Munjuljaya
  • sebelah timur berbatasan dengan Desa Selaawi
  • sebelah selatan berbatasan dengan Desa Warungkadu, dan – sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Tegalmunjul.

Secara administratif, pemerintahan Desa Citalang terdiri atas 23 RT (rukun tetangga), 5 RW (rukun warga), dan 5 dusun. Ke-5 dusun berdasarkan RW-nya adalah RW 01 Citalang, RW 02 Karangsari, RW 03 Wangunjaya, RW 04 Mekarsari, dan RW 05 Citalang Indah.

Letak astronomisnya adalah antara 107° 30′ – 107° 40′ Bujur Barat dan 6° 25′- 6° 45′ Lintang Selatan. Adapun jarak orbitrasi Desa Citalang terhadap pusat pemerintahan dan lokasi fasilitas umum relatif dekat, yakni .: – Jarak dengan kecamatan Purwakarta hanya ± 3 km, – Jarak dengan ibu kota Kabupaten Purwakarta sekitar 3,5 kilometer, – Jarak dengan ibu kota propinsi sekitar 78 kilometer; serta – Jarak dengan ibu kota negara sekitar 114 kilometer.

Secara geografis, Desa Citalang berada pada ketinggian 100 – 150 meter di atas permukaan air laut. Ketinggian lokasi ini menyebabkan Desa Citalang dikiasifikasikan sebagai wilayah dataran rendah dengan kandungan tanah sangat cocok untuk persawahan. Tidak mengherankan jika Desa Citalang termasuk salah satu desa penghasil beras di Kabupaten Purwakarta.

Kurang lebih 80 % daerah ini berjenis tanah latosol, sisanya terdiri atas aluvial, regosol, andosol, dan grumosol. Rata-rata curah hujan di Desa Citalang berkisar antara 2000 – 2500 mm per tahun dengan jumlah curah hujan terbanyak 116 hari. Suhu udara rata-rata setiap harinya berkisar antara 22° – 25° Celcius.

Desa Citalang memiliki luas wilayah 347,639 hektar. Sebagian besar dari luas wilayah digunakan untuk sawah dan ladang yaitu seluas 247,384 hektar Selebihnya dimanfaatkan untuk pemukiman/perumahan, empang, jalan, industri, dan pekuburan.

B. Rumah Adat Lengkong

1. Lokasi dan Lingkungan

Rumah tradisional yang terletak di Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan ini merupakan rumah tinggal Hasan Maolani. Rumah tradisional ini letaknya di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat dan rapat. Rumah ini merupakan satu-satunya rumah yang dibangun dengan kontruksi rumah panggung dan bahan kayu, bambu dan atap dan genteng.

Kecamatan Garawangi luas wilayahnya 4.073 kilometer persegi yang dihuni oleh 11.960 kepala keluarga. Jumlah penduduk 52.504 jiwa atau ratarata 1.289 jiwa/kilometer persegi.’ Komposisi penduduk menurut jenis kelamin terdiri dan 25.971 pria dan 26.633 wanita. Penduduk Desa Lengkong berjumlah 4.076 jiwa yang terdiri dari 992 kepala keluarga. Jumlah penduduk pria 2.084 jiwa dan penduduk wanita sebanyak 1.992 jiwa.

Desa Lengkong terletak tiga kilometer dari Ibu Kota Kecamatan Garawangi, serta empat setengah kilometer ke arah timur Kota Kuningan. Luas wilayah desa Lengkong 257.595 hektar dan terletak 380 meter di atas permuka laut. Wilayah tersebut terbagi menjadi 70 % berupa dataran dan 30 % perbukitan dengan kesuburan tanah sedang.

C. Rumah Adat Panjalin

1. Lokasi dan Lingkungan

Rumah adat Panjalin terletak di wilayah Desa Panjalin. Desa Panjalin adalah sebuah desa yang berada di lingkungan Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka. Sejak tahun 1982, Desa Panjalin telah dimekarkan menjadi dua desa, yaitu Desa Panjalin Kidul dan Desa Panjalin Lor. Desa Panjalin Kidul terletak di sebelah utara wilayah Kecamatan Sumberjaya dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Cirebon. Adapun batas-batas daerah Desa Panjalin Kidul antara lain

  • Sebelah utara berbatasan dengan Desa Panjalin Lor Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka dan Desa Budur Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon,
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Panyingkiran Kecamatan Sumberjaya,
  • Sebelah barat berbatasan dengan Desa Rancaputat Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka,
  • Sebelah timur berbatasan dengan Babakan Ciwaringin Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon.

Secara administratif, pemerintahan Desa Panjalin Kidul terdiri atas lima buah dusun dan 9 Rukun Warga (RW). Setiap dusun dipimpin oleh seorang kepala dusun (Kadus) dengan membawahi sejumlah Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT). Rukun Tetangga (RT) di Desa Panjalin Kidul seluruhnya berjumlah 24 RT. Jabatan kepala dusun dipilih dan ditetapkan oleh kepala desa yang disebut kuwu dan disyahkan oieh Bupati Majalengka dengan Surat Keputusan. Dalam melaksanakan tugasnya, kepala dusun bertanggung jawab kepada kepala desa.

Jarak orbitrasi Desa Panjalin Kidul terhadap pusat-pusat pemerintahan relatif tidak terlalu jauh, antara lain

  • dengan ibukota Kecamatan Sumberjaya berjarak kurang lebih 5 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 15 menit,
  • dengan ibukota Kabupaten Majalengka berjarak kurang lebih 37 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 60 menit,
  • dengan ibukota Propinsi Jawa Barat, Bandung, berjarak kurang lebih 165 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 3 jam.

Secara geografis, Desa Panjalin Kidul berada pada garis antara 108° – 1090 Bujur Barat dan antara 6° – 7° Lintang Selatan. Adapun keadaan suhu di Desa Panjalin Kidul relatif cukup panas sekitar 28° Celcius dengan kelembaban rata-rata antara 78 % – 84 %. Jumlah curah hujan rata-rata 2.500 mm/tahun dengan jumlah bulan basah sekitar 10 bulan pertahun.

Desa Panjalin Kidul berada pada ketinggian tanah bervariasi antara 150 sampai 200 meter di atas permukaan air taut (dpa), dengan bentuk relief permukaan tanah pedataran. Keadaan tanah umumnya berupa dataran rendah dengan direlief oleh sungai-sungai kecil serta Sungai Ciwaringin di sebelah timur. Sungai Ciwaringin ini, selain merupakan batas desa juga merupakan batas Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Cirebon.
Was wilayah Desa Panjalin Kidul adalah 250 ha. Penggunaan lahan lebih banyak dimanfaatkan sebagai lahan produksi sebesar 151 ha yang berupa lahan sawah teknis sebesar 31 ha, semi teknis sebesar 36 ha, sederhana sebesar 17 ha, dan tadah hujan sebesar 67 ha. Penggunaan lahan untuk pemukiman atau perumahan penduduk sebesar 50 ha, dan sisanya terdiri atas tanah desa, pangangonan dan kuburan.

Persoalan yang cukup dirasakan warga adalah air bersih dan tempat pembuangan limbah dapur. Pada saat musim kemarau panjang melanda daerah ini maka air tanah yang menjadi sumber utama untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat kadang-kadang sulit didapatkan karena sebagian besar sumur-sumur yang ada surut airnya dan kering. Sementara itu, untuk memusnahkan limbah dapur biasa dilakukan dengan cara dibakar atau dibuang ke aliran sungai.

D. Rumah Adat Cikondang

Menurut kuncen Kampung Cikondang, konon mulanya di daerah ini ada seke (mata air) yang ditumbuhi pohon besar yang dinamakan Kondang. Oleh karena itu selanjutnya tempat ini dinamakan Cikondang atau kampung Cikondang. Nama itu perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang; “ci’ berasal dari kependekan kata “cai’ artinya air (sumber air), sedangkan “kondang’ adalah nama pohon tadi. Masih menurut penuturan kuncen, untuk menyatakan kapan dan siapa yang mendirikan kampung Cikondang sangat sulit untuk dipastikan. Namun, masyarakat meyakini bahwa karuhun (Leluhur) mereka adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget dan Uyut Istri yang diyakini membawa berkah dan dapat ngauban (melindungi) anak cucunya.

Kapan Uyut Pameget dan Uyut Istri mulai membuka kawasan Cikondang menjadi suatu pemukiman atau kapan ia datang ke daerah tersebut? Tidak ada bukti konkrit yang menerangkan kejadian itu baik tertulis maupun lisan. Menurut perkiraan seorang tokoh masyarakat, Bumi Adat diperkirakan telah berusia 200 tahun. Jadi, diperkirakan Uyut Pameget dan Uyut Istri mendirikan pemukiman di kampung Okondang kurang lebih pada awal abad ke-XIX atau sekitar tahun 1800.

Pada awalnya bangunan di Cikondang ini merupakan pemukiman dengan pola arsitektur tradisional seperti yang digunakan pada bangunan Bumi Adat. Konon tahun 1940-an terdapat kurang lebih enam puluh rumah. Sekitar tahun 1942 terjadi kebakaran besar yang menghanguskan semua rumah kecuali Bumi Adat. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebab kebakaran itu. Namun ada dugaan bahwa kampung Cikondang dulunya dijadikan persembunyian atau markas para pejuang yang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Belanda. Kemungkinan tempat itu diketahui Belanda dan dibumi hanguskan.

Jarak dari Kota Bandung ke Kampung adat Cikondang ini sekitar 38 kilometer, sedangkan dari pusat Kecamatan Pengalengan sekitar 11 kilometer. Dari Kota Bandung ke arah selatan melewati Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Cimaung.

E. Rumah Tradisional Saung Ranggon

Saung Ranggon terletak di Kampung Cikedokan, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, dengan keletakan pada 107º 0′.204″ BT  dan  06º 20′ 298″ LS , serta ketinggian 61 di  atas permukaan air laut. Desa Cikedokan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum (angkot) jurusan Cikedokan Setu. Lokasi Kampung Cikedokan memang agak terpencil dari kampung-kampung lainnya. Cikedokan, dikatakan berasal dari kata “Ci” yang artinya bening, dan “Kedok” berarti nyamar. Jadi Cikedokan mempunyai arti penyamaran, hal ini disebabkan karena karuhun-karuhun yang datang ke Cikedokan adalah mereka-mereka yang sedang menyamar, karena dikejar-kejar Belanda.

Saung Ranggon menurut kuncen Bapak Tholib, dibangun kira-kira pada abad-16, oleh Pangeran Rangga, putra Pangeran Jayakarta, yang datang dan kemudian menetap di daerah ini. Saung ini kemudian terkenal dengan sebutan Saung Ranggon, ditemukan oleh Raden Abbas tahun 1821. Dalam bahasa Sunda saung berarti saung/rumah yang berada di tengah ladang atau huma berfungsi sebagai tempat menunggu padi atau tanaman palawija lainnya yang sebentar lagi akan dipanen. Biasanya saung dibuat dengan ketinggian di atas ketinggian 3 atau 4 meter di atas permukaan tanah. Hal ini diperlukan untuk menjaga keselamatan bagi si penunggu dari gangguan hewan buas, seperti babi hutan, harimau dan binatang buas lainnya.

Pangeran Jayakarta merupakan tokoh dalam sejarah Betawi, khususnya Jakarta dan Bekasi pada masa kedatangan Belanda yang mencoba menanamkan kekuasaan atas daerah Jakarta dan Bekasi dan sekitarnya. Saung ini merupakan bagian dari basis perlawanan masyarakat Bekasi terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bangunan ini diakui oleh masyarakat Bekasi, merupakan bangunan tertua di sekitar Cikarang Barat pada khususnya dan mungkin sekali di seluruh Bekasi.

Saung Rangon berdiri di atas tanah seluas 500 m², dengan ukuran bangunan seluas 7,6 m x 7, 2 m dan tinggi bangunan dari permukaan tanah 2,5 m. Bentuk Saung Ranggon adalah rumah panggung, menghadap ke arah selatan ditandai dengan penempatan tangga pintu utama dengan 7 buah anak tangga untuk masuk ke dalam rumah tersebut; bagian dalam Saung Ranggon hanya merupakan ruangan terbuka dan tanpa sekat pemisah antara ruangan, walaupun ada sebuah kamar; Bentuk atap Julang Ngapak (atap yang terdiri dari dua bidang miring) dengan penutupnya dari sirap kayu; dinding terbuat dari papan dan tidak mempunyai jendela, dan pada dinding terdapat bukaan selebar 30 cm yang ada di sebelah kiri dan kanan dengan cara dinding bawah agak masuk ke dalam, sedangkan dinding atas berada di luar menempel langsung pada langit-langit kemungkinan disengaja sebagai ventilasi, ada juga bagian dinding yang terbuat dari bilik(bambu); rangka dan tiang-tiang terbuat dari kayu; bagian bawah bangunan (kolong bangunan) terdapat tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang dibentuk menyerupai sumur (sekarang dibentuk lantai); Sedangkan sekeliling bangunan telah diberi pagar besi setinggi 1,20 m.

Saung Ranggon yang tampak sekarang, merupakan hasil renovasi-renovasi sebelumnya, namun menurut pengakuan kuncen (Juru Pelihara) tetap memperhatikan dalam penggantian bahan dan tetap memelihara pelestarian bangunan kuno ini. Masyarakat Cikedokan beranggapan bahwa yang membangun Saung Ranggon adalah cikal bakal mereka, sehingga keberadaanya Saung Ranggon sangat dihormati dan dipelihara dengan baik.

Tujuan dari pembuatan Saung Ranggon pertama-tama adalah tempat menyepi dan bersembunyi dari kejaran pihak Belanda. Tapi di kemudian hari fungsi Saung Ranggon itu menjadi tempat menyimpan berbagai benda pusaka, dan yang lebh unik lagi bahwa Saung Ranggon kini menjadi tempat ziarah orang-oarng yang memerlukan ”bantuan” dalam menghadapi kenyataan hidup. Tujuan orang berziarah tersebut bermacam-macam, mulai dari keinginan untuk keselamatan, naik pangkat atau untuk meminta berkah karena akan melakukan hajatan di rumahnya.

Orang-orang yang datang ke Saung Ranggon bukan saja masyarakat setempat tetapi ada yang dari luar Bekasi. Pantangan yang ada apabila memasuki Saung Ranggon ini adalah tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kasar atau ”sompral”. Saung Ranggon tidak ditempati secara khusus oleh kuncen tetapi dipergunakan sebagai tempat menyepi bagi orang yang datang (tamu) untuk minta berkah atau karomah. Ramainya Saung Ranggon oleh pengunjung pada waktu-waktu tertentu terutama malam Jumat Kliwon, Sabtu Suro, Maulid Nabi, Rajaban. Ritual yang dilakukan untuk karuhun dipimpin oleh kuncen Bapak Tholib dengan memakai sarana untuk sesajen yaitu bunga-bunga dan buah-buahan yang terdiri 7 macam yang dipersembahkan untuk para karuhun dengan memanjatkan doa.

Pada setiap bulan Maulid (Hijriah) dilakukan hajat ”Maulidan”, dengan melakukan cuci pusaka dan dilanjutkan dengan hiburan jaipongan (Sunda Bekasi) dan wayang kulit khas dari Bekasi (dengan budaya Betawi). Kegiatan hajat budaya (cuci pusaka dan maulidan) dilakukan di halaman rumah Tradisional Saung Ranggon dapat dijadikan sebagai daya tarik bila dikembangkan sebagai objek wisata budaya.

F. Rumah Adat Hasan Maulani

Rumah Adat Hasan Maulani terletak di Kampung Wage, Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi. Secara astronomis terletak pada koordinat 6º59’22” LS dan 108º30’48” BT. Rumah adat ini terletak di tengah permukiman warga yang relatif mudah dihangkau. Kendaraan roda empat tidak bisa menjangkau lokasi ini, hanya sampai di jalan beraspal yang melalui kampung ini. Selanjutnya dilanjutkan kaki sekitar 150 m. Sedang kendaraan roda bisa sampai ke rumah adat ini. Beberapa bangunan di sekitar rumah adat adalah masjid yang berada di sebelah barat laut rumah adat dan pondok pesantren di sebelah timur laut rumah adat.

Rumah adat ini merupakan rumah yang pernah ditinggali oleh Hasan Maulani. Tokoh ini hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro sekitar abad ke-19. beliau berasal dari Cirebon. Beliau merupakan tokoh yang penting dalam peng-Islaman di daerah ini dan juga merupakan tokoh yang anti-kolonial. Beliau menetap di daerah ini dan menyebarkan agama Islam dengan membuka pesantren sebagai salah satu strateginya. Sikapnya yang antikolonial Belanda mengakibatkan beliau ditangkap dan selanjutnya menjalani pengasingan hingga meninggal dan dimakamkan di daerah Manado, Sulawesi Utara.

Rumah beliau sampai sekarang masih dipertahankan keberadaannya meskipun telah mengalami pemugaran. Pemugaran yang wajar dilaksanakan mengingat usia rumah yang mencapai dua abad tersebut dibuat dari bahan bambu dan kayu sehingga mudah lapuk.  Rumah Hasan Maulani merupakan rumah panggung dengan 16 tiang penyangga. Tiang-tiang penyangga tersebut semula terbuat dari kayu, dan sekarang telah diganti dengan konstruksi bata berspesi semen.  Rumah berukuran sekiatr 15 x 15 m, menghadap ke utara. Pintu terdapat di dinding bagian muka rumah. Pintu tidak dilengkapi dengan tangga. Untuk keluar masuk rumah tedapat batu tegak di depan pintu. Rumah dibagi menjadi dua ruang, yaitu ruang depan dan ruang dalam yang dipisahkan dengan dinding penyekat. Dinding penyekat dilengkapi dengan pintu. Lantai dan dinding rumah dibuat dari bambu, sedangkan atap bangunan rumah dibuat dari bata. Keaslian bentuk rumah ini agak terganggu dengan adanya penambahan ruang. Penambhan ruang yang diumaksud berupa bangunan berdinding permanen yang dilengjkapi dengan jendela kaca.

Selain bangunan rumah tinggal, di lokasi ini terdapat tinggalan Hasan Maulani berupa keris, tongkat, terompah, dan kitab berhuruf Arab Pegon tulisan tangan beliau. Kitab tulisan tangan, ditulis oleh Hasan Maulani di pengasingan.

[alert style=”white”] Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 [/alert]

Rumah Adat Hasan Maulani

Rumah Adat Hasan Maulani

Rumah Adat Hasan Maulani terletak di Kampung Wage, Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi. Secara astronomis terletak pada koordinat 6º59’22” LS dan 108º30’48” BT. Rumah adat ini terletak di tengah permukiman warga yang relatif mudah dihangkau. Kendaraan roda empat tidak bisa menjangkau lokasi ini, hanya sampai di jalan beraspal yang melalui kampung ini. Selanjutnya dilanjutkan kaki sekitar 150 m. Sedang kendaraan roda bisa sampai ke rumah adat ini. Beberapa bangunan di sekitar rumah adat adalah masjid yang berada di sebelah barat laut rumah adat dan pondok pesantren di sebelah timur laut rumah adat.

Rumah adat ini merupakan rumah yang pernah ditinggali oleh Hasan Maulani. Tokoh ini hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro sekitar abad ke-19. beliau berasal dari Cirebon. Beliau merupakan tokoh yang penting dalam peng-Islaman di daerah ini dan juga merupakan tokoh yang anti-kolonial. Beliau menetap di daerah ini dan menyebarkan agama Islam dengan membuka pesantren sebagai salah satu strateginya. Sikapnya yang antikolonial Belanda mengakibatkan beliau ditangkap dan selanjutnya menjalani pengasingan hingga meninggal dan dimakamkan di daerah Manado, Sulawesi Utara.

Rumah beliau sampai sekarang masih dipertahankan keberadaannya meskipun telah mengalami pemugaran. Pemugaran yang wajar dilaksanakan mengingat usia rumah yang mencapai dua abad tersebut dibuat dari bahan bambu dan kayu sehingga mudah lapuk.  Rumah Hasan Maulani merupakan rumah panggung dengan 16 tiang penyangga. Tiang-tiang penyangga tersebut semula terbuat dari kayu, dan sekarang telah diganti dengan konstruksi bata berspesi semen.  Rumah berukuran sekiatr 15 x 15 m, menghadap ke utara. Pintu terdapat di dinding bagian muka rumah. Pintu tidak dilengkapi dengan tangga. Untuk keluar masuk rumah tedapat batu tegak di depan pintu. Rumah dibagi menjadi dua ruang, yaitu ruang depan dan ruang dalam yang dipisahkan dengan dinding penyekat. Dinding penyekat dilengkapi dengan pintu. Lantai dan dinding rumah dibuat dari bambu, sedangkan atap bangunan rumah dibuat dari bata. Keaslian bentuk rumah ini agak terganggu dengan adanya penambahan ruang. Penambhan ruang yang diumaksud berupa bangunan berdinding permanen yang dilengjkapi dengan jendela kaca.

Selain bangunan rumah tinggal, di lokasi ini terdapat tinggalan Hasan Maulani berupa keris, tongkat, terompah, dan kitab berhuruf Arab Pegon tulisan tangan beliau. Kitab tulisan tangan, ditulis oleh Hasan Maulani di pengasingan.

[alert style=”white”] Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 [/alert]