Rumah Tradisional Saung Ranggon

Rumah Tradisional Saung Ranggon

Saung Ranggon terletak di Kampung Cikedokan, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, dengan keletakan pada 107º 0′.204″ BT  dan  06º 20′ 298″ LS , serta ketinggian 61 di  atas permukaan air laut. Desa Cikedokan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum (angkot) jurusan Cikedokan Setu. Lokasi Kampung Cikedokan memang agak terpencil dari kampung-kampung lainnya. Cikedokan, dikatakan berasal dari kata “Ci” yang artinya bening, dan “Kedok” berarti nyamar. Jadi Cikedokan mempunyai arti penyamaran, hal ini disebabkan karena karuhun-karuhun yang datang ke Cikedokan adalah mereka-mereka yang sedang menyamar, karena dikejar-kejar Belanda.

Saung Ranggon menurut kuncen Bapak Tholib, dibangun kira-kira pada abad-16, oleh Pangeran Rangga, putra Pangeran Jayakarta, yang datang dan kemudian menetap di daerah ini. Saung ini kemudian terkenal dengan sebutan Saung Ranggon, ditemukan oleh Raden Abbas tahun 1821. Dalam bahasa Sunda saung berarti saung/rumah yang berada di tengah ladang atau huma berfungsi sebagai tempat menunggu padi atau tanaman palawija lainnya yang sebentar lagi akan dipanen. Biasanya saung dibuat dengan ketinggian di atas ketinggian 3 atau 4 meter di atas permukaan tanah. Hal ini diperlukan untuk menjaga keselamatan bagi si penunggu dari gangguan hewan buas, seperti babi hutan, harimau dan binatang buas lainnya.

Pangeran Jayakarta merupakan tokoh dalam sejarah Betawi, khususnya Jakarta dan Bekasi pada masa kedatangan Belanda yang mencoba menanamkan kekuasaan atas daerah Jakarta dan Bekasi dan sekitarnya. Saung ini merupakan bagian dari basis perlawanan masyarakat Bekasi terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bangunan ini diakui oleh masyarakat Bekasi, merupakan bangunan tertua di sekitar Cikarang Barat pada khususnya dan mungkin sekali di seluruh Bekasi.

Saung Rangon berdiri di atas tanah seluas 500 m², dengan ukuran bangunan seluas 7,6 m x 7, 2 m dan tinggi bangunan dari permukaan tanah 2,5 m. Bentuk Saung Ranggon adalah rumah panggung, menghadap ke arah selatan ditandai dengan penempatan tangga pintu utama dengan 7 buah anak tangga untuk masuk ke dalam rumah tersebut; bagian dalam Saung Ranggon hanya merupakan ruangan terbuka dan tanpa sekat pemisah antara ruangan, walaupun ada sebuah kamar; Bentuk atap Julang Ngapak (atap yang terdiri dari dua bidang miring) dengan penutupnya dari sirap kayu; dinding terbuat dari papan dan tidak mempunyai jendela, dan pada dinding terdapat bukaan selebar 30 cm yang ada di sebelah kiri dan kanan dengan cara dinding bawah agak masuk ke dalam, sedangkan dinding atas berada di luar menempel langsung pada langit-langit kemungkinan disengaja sebagai ventilasi, ada juga bagian dinding yang terbuat dari bilik(bambu); rangka dan tiang-tiang terbuat dari kayu; bagian bawah bangunan (kolong bangunan) terdapat tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang dibentuk menyerupai sumur (sekarang dibentuk lantai); Sedangkan sekeliling bangunan telah diberi pagar besi setinggi 1,20 m.

Saung Ranggon yang tampak sekarang, merupakan hasil renovasi-renovasi sebelumnya, namun menurut pengakuan kuncen (Juru Pelihara) tetap memperhatikan dalam penggantian bahan dan tetap memelihara pelestarian bangunan kuno ini. Masyarakat Cikedokan beranggapan bahwa yang membangun Saung Ranggon adalah cikal bakal mereka, sehingga keberadaanya Saung Ranggon sangat dihormati dan dipelihara dengan baik.

Tujuan dari pembuatan Saung Ranggon pertama-tama adalah tempat menyepi dan bersembunyi dari kejaran pihak Belanda. Tapi di kemudian hari fungsi Saung Ranggon itu menjadi tempat menyimpan berbagai benda pusaka, dan yang lebh unik lagi bahwa Saung Ranggon kini menjadi tempat ziarah orang-oarng yang memerlukan ”bantuan” dalam menghadapi kenyataan hidup. Tujuan orang berziarah tersebut bermacam-macam, mulai dari keinginan untuk keselamatan, naik pangkat atau untuk meminta berkah karena akan melakukan hajatan di rumahnya.

Orang-orang yang datang ke Saung Ranggon bukan saja masyarakat setempat tetapi ada yang dari luar Bekasi. Pantangan yang ada apabila memasuki Saung Ranggon ini adalah tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kasar atau ”sompral”. Saung Ranggon tidak ditempati secara khusus oleh kuncen tetapi dipergunakan sebagai tempat menyepi bagi orang yang datang (tamu) untuk minta berkah atau karomah. Ramainya Saung Ranggon oleh pengunjung pada waktu-waktu tertentu terutama malam Jumat Kliwon, Sabtu Suro, Maulid Nabi, Rajaban. Ritual yang dilakukan untuk karuhun dipimpin oleh kuncen Bapak Tholib dengan memakai sarana untuk sesajen yaitu bunga-bunga dan buah-buahan yang terdiri 7 macam yang dipersembahkan untuk para karuhun dengan memanjatkan doa.

Pada setiap bulan Maulid (Hijriah) dilakukan hajat ”Maulidan”, dengan melakukan cuci pusaka dan dilanjutkan dengan hiburan jaipongan (Sunda Bekasi) dan wayang kulit khas dari Bekasi (dengan budaya Betawi). Kegiatan hajat budaya (cuci pusaka dan maulidan) dilakukan di halaman rumah Tradisional Saung Ranggon dapat dijadikan sebagai daya tarik bila dikembangkan sebagai objek wisata budaya.

[alert style=”white”] Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 [/alert]

Rumah Adat Cikondang

Rumah Adat Cikondang

Menurut kuncen Kampung Cikondang, konon mulanya di daerah ini ada seke (mata air) yang ditumbuhi pohon besar yang dinamakan Kondang. Oleh karena itu selanjutnya tempat ini dinamakan Cikondang atau kampung Cikondang. Nama itu perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang; “ci’ berasal dari kependekan kata “cai’ artinya air (sumber air), sedangkan “kondang’ adalah nama pohon tadi. Masih menurut penuturan kuncen, untuk menyatakan kapan dan siapa yang mendirikan kampung Cikondang sangat sulit untuk dipastikan. Namun, masyarakat meyakini bahwa karuhun (Leluhur) mereka adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget dan Uyut Istri yang diyakini membawa berkah dan dapat ngauban (melindungi) anak cucunya.

Kapan Uyut Pameget dan Uyut Istri mulai membuka kawasan Cikondang menjadi suatu pemukiman atau kapan ia datang ke daerah tersebut? Tidak ada bukti konkrit yang menerangkan kejadian itu baik tertulis maupun lisan. Menurut perkiraan seorang tokoh masyarakat, Bumi Adat diperkirakan telah berusia 200 tahun. Jadi, diperkirakan Uyut Pameget dan Uyut Istri mendirikan pemukiman di kampung Okondang kurang lebih pada awal abad ke-XIX atau sekitar tahun 1800.

Pada awalnya bangunan di Cikondang ini merupakan pemukiman dengan pola arsitektur tradisional seperti yang digunakan pada bangunan Bumi Adat. Konon tahun 1940-an terdapat kurang lebih enam puluh rumah. Sekitar tahun 1942 terjadi kebakaran besar yang menghanguskan semua rumah kecuali Bumi Adat. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebab kebakaran itu. Namun ada dugaan bahwa kampung Cikondang dulunya dijadikan persembunyian atau markas para pejuang yang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Belanda. Kemungkinan tempat itu diketahui Belanda dan dibumi hanguskan.

Jarak dari Kota Bandung ke Kampung adat Cikondang ini sekitar 38 kilometer, sedangkan dari pusat Kecamatan Pengalengan sekitar 11 kilometer. Dari Kota Bandung ke arah selatan melewati Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Cimaung.

[alert style=”white”] Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 [/alert]

Rumah Makan Ikan Bakar Ibu H. Imi Cigembor

Rumah Makan Ikan Bakar Ibu H. Imi Cigembor

Ciamis cukup terkenal dengan ikan bakarnya, karena kebanyakan pendududknya memiliki dan membudidayakan balong (kolam ikan). Salah satu kedai ikan bakar yang cukup terkenal di kota ini adalah “Kedai Ikan Bakar H. Imi” yang berada di desa Cigembor. Wilayah ini terletak sekitar 3 km arah timur Ciamis. Kalau kita kebingungan untuk mencarinya, tanya saja kepada salah satu warga, pasti kita akan diberi petunjuk menuju ketempat ini.

Usaha rumah makan tradisional yang dirintis oleh H. Imi pada tahun 80an itu sebenarnya sebuah kebetulan yang membawa berkah. Ibu Nuryani, salah seorang anak H. Imi yang kini meneruskan usaha itu mengatakan, pada awalnya H.Imi hanya berjualan makanan ringan/kecil saja di samping rumah. Kemudian sering dipanggil sebagai juru masak oleh para tetangga ketika ada hajatan, makin terkenal dengan cara mengolah dan memasak ikan bakar. Jadilah ia sering mendapat order para tetangga, khususnya ikan bakar. Kewalahan menerima order ikan bakar, membuat Imi memtuskan untuk membuka warung makan khusus. Keterkenalan akan kelezatan ikan bakar Imi membuat banyak pelanggannya terus berdatangan ke warungnya yang kecil, hingga akhirnya menjadi rumah makan seperti sekarang.

Kedai ini hanya menyediakan dua jenis ikan untuk ikan bakarnya, agar lebih mudah menyediakan bahan segarnya. Ikan yang dibakar memang benar–benar masih segar dan berasal dari balong yang ada di samping kedai ini. Kita bisa memilih yang ukuran sedang atau yang besar, disajikan dengan nasi putih hangat, lalapan daun singkong dan tiga jenis sambal. Ada sambal uleg, sambal kecap, dan sambal kacang. Lalapan daun singkong juga menjadi favorite, selain masih segar rasanya juga agak manis. Sedangkan untuk sambal kacangnya juga berbeda, karena dicampur jahe, kencur dan honje yang membuat rasanya lebih segar dan cukup unik. Selain itu, kedai ini juga menyediakan ayam goreng/ bakar, mendoan, karedok dan tumis kangkung. Namun ikan gurame dan ikan mas bakarnya yang menjadi favorite di kedai ini. kita bisa mengunjungi kedai ini setiap harinya mulai pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam.

  • Menu Andalan: Ikan Gurame Bakar & Ikan Mas Bakar
  • Jam Buka: 09.00 – 21.00
  • Alamat Lokasi: Desa Cigembor, sekitar 3 km arah timur Ciamis

[alert style=”white”]referensi: wisatakuliner.com[/alert]

Rumah Makan Lesehan Batu Hitam Cirahong Ciamis

Rumah Makan Lesehan Batu Hitam Cirahong Ciamis

Rumah Makan Lesehan Batu Hitam yang berada di Ciamis Jawa Barat memberi sajian wisata kuliner dengan pemandangan Jembatan KA Cirahong. Menyajikan menu spesial  dengan suasana alam yang nyaman.

Bukan hanya makanan yang enak dilidah, juga nuansa tempat cukup memanjakan mata. Bayangkan saja, tepat di tanah seluas setengah hektare di atas jembatan Cirahong, orang berasa di atas awan tengah memandang sebuah jembatan nan kokoh yang dibangun pada tahun 1893 zaman penjajahan Belanda. Ketakjuban akan jembatan sepanjang 202 meter yang diperkuat kembali pada 1934 silam itu bertambah saat kereta melintas.

Nuansanya masih asri tanpa mengubah struktur alam yang masih berbukit, berbatu, dan bertanah. Puluhan gazebo terbuat dari bambu dan daun pohon kelapa kering untuk para tamu bersantap. Pengunjung setiap hari ramai hendak berwisata kuliner. Bahkan, mulai banyak dikunjungi turis asing dari Belanda.

Nama Batu Hitam kami ambil dari sebuah batu hitam berukuran diameter sekitar 65 cm berada di depan halaman parkir.

[alert style=”white”] flickr.com By ciamisPangandaran Deny Mulyana, kabar-priangan.com[/alert]

Menengok Tradisi Nyepuh Warga Ciomas

Menengok Tradisi Nyepuh Warga Ciomas

Tradisi Nyepuh sesungguhnya merupakan puncak dari rangkaian kegiatan ngamumule (melestarikan) adat karuhun (leluhur). Dan upacara Nyepuh sendiri merupakan manifestasi kearifan lokal yang tidak saja harus dilestarikan, tapi juga diangkat dalam lingkup berbangsa dan bernegara. Sebab di dalamnya terdapat banyak nilai dan layak dipahami sebagai keteladanan.

Ciomas adalah nama desa di kaki Gunung Syawal, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Di desa ini tergambar kehidupan khas masyarakat Tatar Sunda yang sesungguhnya. Dan seperti desa agraris lainnya, penduduk Desa Ciomas juga menggantungkan hidupnya kepada alam. Ketaatan dan kearifan terhadap alam inilah yang kemudian membuat Ciomas menjadi daerah harmonis dan damai.

Kearifan warga Ciomas terhadap alam tak lepas dari keberadaan hutan yang berada persis di tengah-tengah desa. Hutan seluas 35 hektare ini disebut hutan Sukarame dan dianggap keramat oleh warga. Aturan-aturan tidak tertulis dalam adat masyarakat, membuat hutan ini tetap lestari. Kepatuhan terhadap aturan inilah yang membuat hutan keramat ini masih lestari. Bahkan pemerintah sendiri pernah menganugerahi penghargaan Kalpataru bagi masyarakat Ciomas karena kepeduliannya dalam melestarikan hutan.

Kepercayaan warga terhadap hutan keramat terkait dengan keberadaan makam Kiai Haji Eyang Penghulu Gusti, yang terletak di tengah hutan Sukarame. Di sekitar makam ini pulalah upacara Nyepuh setiap tahun digelar. Menurut sesepuh Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede Sadeli Suryabinangun, Eyang Penghulu Gusti merupakan penyebar agama Islam di Ciomas. Penghulu Gusti pulalah yang meminta warga setempat untuk selalu memperhatikan hutan dan melestarikannya.

Masyarakat di sana dilarang menebang pohon, apalagi merusaknya. Siapa yang melanggar pantangan itu, dipercaya bakal mendapatkan musibah dalam hidupnya. Karena pantangan itulah tak ada seorang pun warga di sana yang berani berbuat macam-macam di hutan ini.

Mulung Pangpung

Tradisi Nyepuh sendiri merupakan upacara puncak dari rangkaian tradisi lain yang berlangsung sehari sebelumnya. Antara lain tradisi mulung pangpung atau pengambilan kayu bakar dan nalekan (menanyai). Dua acara ini merupakan kegiatan dalam rangka memasak tiga nasi tumpeng untuk melengkapi upacara Nyepuh keesokan harinya. Ritual memasak nasi tumpeng ini dilakukan menggunakan kebersamaan atau gotong royong.

Ritual mulung pangpung dan nalekan ini pun sangat sarat makna. Misalnya pada prosesi mulung pangpung, pengambilan kayunya harus dari hutan. Itupun tidak boleh sembarangan. Pangpung (kayu lempung) yang diambil harus kayu yang sudah jatuh dari pohonnya. “Jadi tidak boleh kayu yang masih nempel, apalagi yang masih tumbuh. Di situlah nilai pelestarian lingkungan yang diajarkan leluhur tetap dijalankan,” tutur Ki H Dede Sadeli kepada posmo.

Selain itu, proses mulung pangpung harus didampingi kuncen hutan Sukarame, yakni Ibu Siti Mariyam. Nah, juru kuncilah yang kemudian membuka hutan agar terbuka bagi para pencari kayu yang dilakoni para pemuda desa. Pengambilan kayu ini pun harus setelah mendapatkan izin lebih dahulu dari penguasa hutan. Maka Diiringi lantunan ayat suci Alquran dan sholawat nabi, mereka berdoa di sekitar makam. Tujuannya agar kayu-kayu yang nantinya digunakan untuk memasak dapat membawa keberkahan.

Bila menengok kenyataan saat ini, kita bisa menyaksikan hutan-hutan di seantero nusantara rusak berat karena tebang dan dijarah. Hal itu, menurut Ki H Dede, karena simbolisasi mulung pangpung ini tidak diamalkan dalam kehidupan. Di Ciomas, 35 ha hutan Sukarena hingga kini masih lestari karena kearifan masyarakatnya. Sehingga jangan heran pemerintah pernah memberi penghargaan Kalpataru kepada masyarakat Ciomas.

Nah, bila keperluan kayu bakar dirasa telah mencukupi, para pemuda desa yang mendapat mengambil kayu harus menunjukkan kayu-kayu tersebut pada tetua desa. Sebelum dibawa ke kampung, tetua diwajibkan memeriksa kayu-kayu itu. Bila ada rayap atau sudah rapuh, kayu itu tak boleh dibawa pulang dan harus dikembalikan lagi ke dalam hutan.

Ritual Nalekan

Setelah bahan-bahan untuk memasak tersedia. Tibalah saatnya ritual nalekan dilakukan. Nalekan adalah ritual menanyai tentang segala hal berkait pembuatan nasi tumpeng, mulai dari bahan-bahan untuk memasak, hingga prosesnya. Sesuai aturan adat, bahan-bahan membuat tumpeng harus berasal dari kebaikan dan harus halal. Bila ada yang diperoleh dari jalan tidak halal, maka harus disingkirkan. Selain itu, yang memasak tiga tumpeng ini pun harus dilakukan oleh 17 wanita yang sudah menopause.

Dapur yang akan digunakan untuk memasak makanan pun tak lepas dari pengawasan para tetua. Maklum, sejumlah persyaratan harus dipatuhi. Terutama penggunaan kayu bakar dan air. Dan perlu diperhatikan, air untuk memasak haruslah diambil dari mata air di gunung.

Makna pemeriksaan bahan-bahan makanan sebenarnya sesuai dengan pesan bulan suci Ramadan yang akan segera datang. Di Bulan Suci inilah, umat yang menjalankan ibadah puasa diharapkan dapat menjaga segala tingkah lakunya dari perbuatan kotor. Itu pulalah yang diharapkan dari Upacara Nyepuh. Melalui ritual ini, warga Ciomas disadarkan tentang arti menyucikan diri untuk menjadi manusia sempurna yang fitri.

Di luar dapur, suasana menjelang upacara Nyepuh begitu kentara. Sejak siang hari hingga malam hari, suasana desa begitu meriah. Para orang tua dan pemuda desa berbaur menjadi satu mempersiapkan atribut berupa bendera dan janur kuning dan mengolahnya sedemikian rupa sehingga menjadi hiasan yang cantik dan semarak. Saat membuat hiasan upacara, warga pun disarankan untuk menggunakan lampu tempel. Pelita berbahan minyak tanah ini bermakna sebagai penerang kehidupan warga Ciomas. Maka menjelang tengah malam, barisan obor menerangi sepanjang jalan desa. ER

(pernah dimuat di tabloid POSMO)

[alert style=”white”]http://ekoabimanyu.blogspot.com/2008/10/menengok-tradisi-nyepuh-warga-ciomas.html[/alert]

Video: Ekspedisi Cirahong

Video: Ekspedisi Cirahong

Ekspedisi Cirahong, Jembatan sepanjang 200 meter ini melintang di atas Sungai Citanduy, menghubungkan Kecamatan Ciamis dan Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Jembatan ini berfungsi ganda, di bagian atas merupakan jembatan kereta api, sementara di bagian bawah sebagai jalan raya.

[alert style=”white”]Uploaded by on Apr 5, 2011[/alert]

Ngabuburit @Alun-alun Ciamis

Ngabuburit @Alun-alun Ciamis

Di Alun-alun Kabupaten Ciamis atau yang dikenal juga dengan Taman Raflesia Ciamis.

Sejak bulan Ramadhan ini, setiap sore hari setelah Ashar, pelataran alun-alun Ciamis selalu ramai dikunjungi orang. Bukan hanya keluarga, tapi juga para anak muda ABG, dan mereka-mereka yang tergabung dalam club otomotif di ciamis.

Untuk anak-anak Balita, tersedia berbagai macam mainan yang dapat disewa, memancing, atau juga bisa dengan mengelilingi alun-alun menggunakan deldom (Delman Domba), becak mini, atau mobile batere. Semuanya tersedia untuk dapat dinikmati oleh anak-anak.

Banyak para penjajaga makanan ringan, es sirop, es campur, kelapa muda, sampai kepada gorengan, cilok, cimol, cakque, pisang keju, bahkan baso dan kerak telor juga ada, tinggal pilih aja mana yang suka buat teman berbuka puasa.

Untuk anak mudanya alias ABG, ada tempat khusus para anak muda ciamis berkumpul dan melihat-lihat siapa aja yang lewat, bisa disekitar pelataran parker di sebelah selatan alun-alun, atau juga di sekitar halaman masjid Agung Ciamis. Biasanya ini adalah tempat-tempat favorit anak muda ciamis berkumpul ngabuburit bersama pasangannya atau yang mencari pasangan.

[alert style=”white”]foto: http://shannypersonalblog.wordpress.com[/alert]

Kampung Adat di Jawa Barat

Kampung Adat di Jawa Barat

Kampung Cikondang

Kampung Cikondang secara administratif terletak di dalam wilayah Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kampung Cikondang ini berbatasan dengan Desa Cikalong dan Desa Cipinang (Kecamatan Cimaung) di sebelah utara, dengan Desa Pulosari di sebelah selatan, dengan desa Tribakti Mulya di sebelah Timur, serta di sebelah barat berbatasan dengan desa Sukamaju.
Jarak dari Kota Bandung ke Kampung Adat Cikondang ini sekitar 38 Kilometer, sedangkan dari pusat Kecamatan Pangalengan sekitar 11 Kilometer. Dari Kota Bandung ke arah Selatan melewati Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Cimaung. Jarak dari ruas jalan Bandung-Pangalengan yang berada di wilayah Kampung Cibiana ke Kampung Cikondang satu kilometer. Sedang dari jalan komplek perkantoran PLTA Cikalong, melewatai bendungan dengan tangga betonnya, selanjutnya melalui Kantor DEsa Lamajang sekitar satu setengah kilometer.

Potensi Budaya

a. Sejarah / Asal-usul

Menurut kuncen Kampung Cikondang, konon mulanya di daerah ini ada seke (mata air) yang ditumbuhi pohon besar yang dinamakan Kondang. Oleh karena itu selanjutnya tempat ini dinamakan Cikondang atau kampung Cikondang. Nama itu perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang; “Ci” berasal dari kependekan kata “cai” artinya air (sumber air), sedangkan”kondang” adalah nama pohon tadi.

Masih menurut penuturan kuncen, untuk menyatakan kapan dan siapa yang mendirikan kampung Cikondang sangat sulit untuk dipastikan. Namun, masyarakat meyakini bahwa karuhun (Ieluhur) mereka adalah salah seorang wall yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget dan Uyut Istri yang diyakini membawa berkah dan dapat ngauban (melindungi) anak cucunya.

Kapan Uyut Pameget dan Uyut Istri mulai membuka kawasan Cikondang menjadi suatu pemukiman atau kapan is datang ke daerah tersebut? Tidak ada bukti konkrit yang menerangkan kejadian itu baik tertulis maupun lisan. Menurut perkiraan seorang tokoh masyarakat, Bumi Adat diperkirakan telah berusia 200 tahun. Jadi, diperkirakan Uyut Pameget dan Uyut Istri mendirikan pemukiman di kampung Cikondang kurang Iebih pada awal abad ke-XIX atau sekitar tahun 1800.

Pada awalnya bangunan di Cikondang ini merupakan pemukiman dengan pola arsitektur tradisional seperti yang digunakan pada bangunan Bumi Adat. Konon tahun 1940-an terdapat kurang Iebih enampuluh rumah. Sekitar tahun 1942 terjadi kebakaran besar yang menghanguskan semua rumah kecuali Bumi Adat. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebab kebakaran itu. Namun ada dugaan bahwa kampung Cikondang dulunya dijadikan persembunyian atau markas para pejuang yang berusaha membebaskan diri dari cengkeraman Belanda. Kemungkinan tempat itu diketahui Belanda dan dibumihanguskan. Selanjutnya, masyarakat di sana ingin membangun kembali rumahnya. Namun karena bahan-bahan untuk membuat rumah seperti Bumi Adat yang berarsitektur tradisional membutuhkan bahan cukup banyak, sementara bahan yang tersedia di hutan keramat tidak memadai, akhirnya mereka membtuskan untuk membangun rumahnya dengan arsitektur yang umum, yang sesuai dengan kemajuan kondisi saat itu. Keinginan ini disampaikan oleh Anom Idil (kuncen) kepada karuhun di makam keramat.

Permohonan mereka dikabulkan dan diizinkan mendirikan rumah dengan arsitektur umum kecuali Bumi adat yang harus tetap dijaga kelestariannya sampai kapanpun. Hingga sekarang Bumi Adat masih tetap utuh seperti dahulu karena Bumi Adat dianggap merupakan “lulugu” (biang) atau rumah yang harus dipelihara dan dilestarikan.

Sampai sekarang baru ada lima kuncen yang memelihara Bumi Adat yaitu :

  • 1. Ma Empuh
  • 2. Ma Akung
  • 3. Ua Idil (Anom Idil)
  • 4. Anom Rumya
  • 5. Aki Emen.

Jabatan kuncen di Bumi Adat atau ketua adat kampung Cikondang memiliki pola pengangkatan yang khas. Ada beberapa syarat untuk menjadi kuncen Bumi Adat, yaitu harus memiliki ikatan darah atau masih keturunan leluhur Bumi Adat. la harus laki-laki dan dipilih berdasarkan wangsit, artinya anak seorang kuncen yang meninggal tidak secara otomatis diangkat untuk menggantikan ayahnya. Dia Iayak dan patut diangkat menjadi kuncen jika telah menerima wangsit. Biasanya nominasi sang anak untuk menjadi kuncen akan sirna jika pola pikirnya tidak sesuai dengan hukum adat Ieluhurnya.

Pergantian kuncen biasanya diawali dengan menghilangnya “cincin wulung” milik kuncen. Selanjutnya orang yang menemukannya dapat dipastikan menjadi ahli waris pengganti kuncen. Cnncin wulung dapat dikatakan sebagai mahkota bagi para kuncen di Bumi Adat kampung Cikondang.

Kuncen yang telah terpilih, dalam kehidupan sehari-hari diharuskan mengenakan pakaian adat Sunda, Iengkap dengan iket (ikat kepala). Jabatan kuncen Bumi Adat mencakup pemangku adat, sesepuh masyarakat, dan pengantar bagi para pejiarah.

b. Religi, Sistem Pengetahuan, dan Tabu

Seluruh warga masyarakat Kampung Cikondang beragama Islam, namun dalam kehidupan sehad-harinya masih mempercayai adanya roh-roh para leluhur. Hal ini dituangkan dalam kepercayaan mereka yang menganggap para leluhurnya ngauban (melindungi) mereka setiap saat. Leluhur itu pula yang dipercaya dapat menyelamatkan mereka dari berbagai persoalan, sekaligus dapat mencegah marabahaya yang setiap saat selalu mengancam.

Leluhur utama mereka yang sangat dipuja adalah Eyang Pameget dan Eyang Istri, kedua eyang ini dipercaya masyarakat setempat sebagai salah satu wali yang bertugas menyebarkan agama Islam di kawasan Bandung Selatan, khususnya di kampung Cikondang. Di tempat inilah akhirnya kedua eyang ini mengakhiri hidupnya dengan tidak meninggalkan jejak; masyarakat setempat mempercayai bahwa kedua eyang ini “tilem”.
Adat istiadat yang bertalian dengan leluhur misalnya kebiasaan mematuhi segala pantangan-pantangan (tabu) dan melaksanakan : upacara-upacara adat.

Upacara adat tersebut pada hakekatnya merupakan komunikasi antara masyarakat dengan leluhurnya yang dianggap sangat berjasa kepada mereka yaitu sebagai orang yang membuka atau merintis pemukiman Cikondang. Dalam upacara tersebut warga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada leluhurnya.

Beberapa pantangan atau tabu yang berlaku di masyarakat kampung Cikondang, khususnya tabu saat pelaksanaan upacara adat Musiman, antara lain sebagai berikut:

  • 1. Melangkahi nasi tumpeng terutama untuk kegiatan upacara. Begitu juga konca, susudi, dan takir.
  • 2. Menendang duwegan, terutama duwegan untuk keperluan sajian (sajen), yang melanggar akan mendapatkan musibah. Pernah ada kejadian, si pelanggar mendapatkan musibah tabrakan yang membuat kakinya cacat seumur hidup.
  • 3. Kelompok yang mencari daun pisang Manggala ke hutan untuk keperluan upacara adat tidak boleh memisahkan diri dari rombongan, jika dilakukan sexing kesasar walaupun sebelumnya telah mengetahui dan menguasai situasi dan kondisi hutan di daerahnya.
  • 4. Pergi ke hutan pada hari Kamis.
  • 5. Berselonjor kaki clad arah utara ke selatan.
  • 6. Kencing tidak boleh mengarah ke selatan, harus ke utara. Ke arah barat dan timur kurang baik.
  • 7. Menginjak parako; wadah atau alas hawu (perapian) sekaligus pemisah dengan bagian luar.
  • 8. Menginjak bangbarung (bagian alas pintu).
  • 9. Melakukan kegiatan di hari Jumat dan Sabtu, kecuali hari Sabtu untuk penetapan hari H upacara.
  • 10. Acara menumbuk padi lulugu tidak boleh jatuh pada hari Selasa dan Jumat. Menumbuk padi lulugu harus dilakukan pada tanggal 13 Muharam, jika tanggal ini jatuh pada had tersebut, maka harus digeser pada hari be rikutnya; artinya jika jatuh pada hari Selasa maka kegiatan dialihkan pada had Rabu, begitu juga jika jatuh pada hari Jumat maka kegiatan dilakukan pada hari Sabtunya.
  • 11. Rumah penduduk tidak boleh menghadap ke arah Bumi Adat, kecuali perumahan di seberang jalan desa.
  • 12. Jarah atau berjiarah tidak boleh dilakukan pada hari Jumat dan Sabtu.
  • 13. Wanita datang bulan (haid) dan yang sedang nifas tidak boleh masuk Bumi Adat. Jika ada keperluan yang berkaitan dengan Bumi Adat atau ingin menanyakan sesuatu kepada Anom, disediakan bale-bale di bagian depan Bumi Adat.
  • 14. Di Bumi Adat dilarang ada barang pecah belah dan barang-barang elektronik (modern) seperti radio, listrik, dan televisi.
  • 15. Bumi Adat tidak boleh memakai kaca, dan menambah dengan bangunanlain.
  • 16. Makanan yang dimasak untuk keperluan upacara tidak boleh dicicipi terlebih dahulu. Bagi mereka ada anggapan bahwa makanan yang dicicipi sebelum upacara selesai, sama dengan menyediakan makanan basi.
  • 17. Menginjak kayu bakar yang akan digunakan untuk bahan bakar hawu dalam pembuatan tumpeng lulugu.
  • 18. Daun pisang Manggala yang dipetik dari hutan keramat tidak boleh jatuh ke tanah.
  • 19. Mengambil bahan makanan yang tercecer dan dimasukkan kembali ke tempatnya.
  • 20. Berkata kasar atau sompral.
  • 21. Menyembelih ayam, selain ayam kampung.
  • 22. Empat pesan dari kabuyutan:
  1. Atap rumah tidak boleh menggunakan genting dan rumah harus menghadap ke utara. Maknanya : jangan lupa akan asal muasal kejadian bahwa manusia dari tanah dan mati akan menjadi tanah. Maksudnya jangan sampai menjadi manusia yang angkuh, sombong, dan takabur.
  2. Jika ibadah haji harus menjadi haji yang mabrur yaitu haji yang mempunyai kemampuan baik lahir maupun batin.
  3. Tidak boleh menjadi orang kaya. Maknanya : sebab menjadi orang kaya khawatir tidak mau bersyukur atas nikmat dari Tuhannya.
  4. Tidak boleh menjadi pejabat di pemerintahan. Maknanya : takut menjadi pejabat yang tidak dapat mengayomi semua pihak.

Kampung Kuta

1. Lokasi dan Lingkungan

Kampung/Dusun Kuta secara administratif berada di wilayah Kabupaten Ciamis, Kecamatan Tambaksari, tepatnya di dalam Desa Karangpaningal dan ditetapkan sebagai sebuah Dusun yaitu Dusun Kuta. Dusun Kuta ini terdiri atas 2 RW dan 4 RT.

Kampung Kuta secara administratif berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan disebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.

Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar 34 km menuju ke arah utara. Dapat dicapai dengan menggunakan mobil angkutan umum sampai ke Kecamatan Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang berkelok-kelok, serta banyak tanjakan yang cukup curam. Jika melalui Kecamatan Tambaksari dapat menggunakan kendaraan umum mobil sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan serupa. Jika cuacanya akan turun hujan mobil sewaan tidak akan mau mengantar ke Kampung Kuta tersebut, karena kondisi jalan yang licin dan terjal, kecuali naik ojeg.

Secara geografis Kampung Kuta letaknya terpisah dengan kampung lain yang ada di Desa Karangpaninggal karena berada di suatu lembah yang dikelilingi tebing-tebing tegak lurus yang sekaligus memisahkan atau menjadi batas dengan kampung lainnya. Tebing-tebing yang mengelilingi Kampung Kuta di bagian sebelah utara, barat dan selatan, jika dilihat dari arah dalam Kampung Kuta nampak menyerupai benteng yang melindungi Kampung tersebut. Sebagai daerah lembah, kampung kuta merupakan daerah yang subur. Namun demikian daerah kampung kuta dan daerah lainnya di Desa Karangpaningal mempunyai kondisi tanah yang labil.

terdekat terletak di Kecamatan Tambaksari yang membutuhkan waktu dua jam berjalan kaki. Sekolah SLTA harus ke Kota Ciamis atau Banjar.
Sebagai pengisi kekosongan waktu anak-anak, para orang tua Iebih senang jika anak-anak mereka membantu orang tuanya menyadap aren, menyabit rumput, atau pekerjaan rumah tangga. Walaupun secara akademis penduduk Kampung Kuta relatif rendah, namun etos kerja mereka relatif tinggi. Mereka bersedia mengerjakan apa saja yang dinilainya halal, terutama pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan, apalagi jika pekerjaan-pekerjaan tersebut dinilai dapat meningkatkan potensi kampung.

Potensi Budaya

a. Asal-usul

Nama Kampung Kuta ini mungkin diberikan karena sesuai dengan lokasi Kampung Kuta yang berada di lembah yang curam sedalam kurang Iebih 75 meter dan dikelilingi oleh tebung-tebinglperbukitan, dalam bahasa Sunda disebut Kuta (artinya pager tembok).

Mengenai asal-uasul Kampung Kuta, dalam beberapa dongeng buhun yang tersebar di kalangan masyarakat Sunda sering disebut adanya nagara burung atau daerah yang tidak jadi/batal menjadi ibukota Kerajaan Galuh. Daerah ini dinamai Kuta Pandak. Masyarakat Ciamis dan sekitarnya menganggap Kuta Pandak adalah Kampung Kuta di Desa Karangpaningal sekarang. Masyarakat Cisaga menyebutnya dengan nama Kuta Jero. Dongeng tersebut ternyata mempunyai kesamaan dengan cerita asal-usul Kampung Kuta. Mereka menganggap dan mengakui dirinya sebagai keturunan Raja Galuh dan keberadaannya di Kampung Kuta sebagai penunggu atau penjaga kekayaan Raja Galuh.

Sejak kapan berdiri Kampung Kuta, maupun asal-usul kampung tersebut, belum diketahui dengan pasti. Namun demikian, ada beberapa versi asal-usul Kampung Kuta yang dituturkan kuncen Kampung Kuta.

Asal-usul Kampung Kuta terdiri dari atas dua bagian yang masing-masing berdiri sendin, yaitu Kampung Kuta pada masa kerajaan Galuh dan pads masa kerajaan Cirebon.

Versi Kampung Kuta pada masa Kerajaan Galuh ini dimulai pada awal pendirian Kerajaan Galuh. Seorang raja Galuh bernama Prabu Ajar Sukaresi sedang mengembara bersama beberapa pengawal terpilih dan berpengalaman. Pengembaraan dilakukan untuk mencari daerah yang cocok untuk mendirikan pusat pemerintahan kerajaan. Pada saat rombongan Prabu Ajar Sukaresi tiba di tepi sebuah sungai yang bernama Cijulang, raja melihat daerah di seberang sungai atau sebelah barat cukup menarik dan menurut penglihatannya cocok untuk dijadikan pusat kerajaan. Prabu Ajar Sukaresi segera memerintahkan para pengawalnya untuk beristirahat dan membangun tempat peristirahatan di tempat tersebut. Dia sendiri akan meneliti dan menunjau secara seksama daerah seberang Sungai Cijulang.

Setelah melakukan penelitian, Prabu Ajar Sukaresi memerintahkan para pengawalnya untuk membongkar tempat peristirahatan sementara dan segera pindah ke seberang sungai untuk memulai persiapan membuka daerah yang akan dijadikan pusat kerajaan. Bekas tempat peristirahatan sementara yang terdapat di tepi sungai Cijulang ini, sampai sekarang disebut Dodokan, artinya daerah tempat duduk atau peristirahatan raja.

Prabu Ajar Sukaresi berkeliling ke daerah tersebut dan ternyata daerah tersebut dikelilingi tebing-tebing tinggi. Melihat kondisi ini, Prabu Ajar Sukaresi beranggapan bahwa daerah ini tidak dapat berkembang dan diperluas karena dibatasi tebing. Dengan terpaksa, segala persiapan yang telah dilaksanakan untuk membangun pusat pemerintahan dibatalkan dan ditinggalkan. Daerah ini sekarang disebut Kampung Kuta. Penamaan kampung ini sesuai. dengan Ietaknya yang berada di sebuah Iembah dan dikelilingi tebing. Dalam bahasa Sunda daerah dengan kondisi demikian ini disebut kuta Prabu Ajar Sukaresi dan rombongan melanjutkan pengembaraan. Setelah mengembara cukup jauh dan cukup lama akhirnya berhasil menemukan daerah pertemuan dua sungai yaitu Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy yang cocok untuk pusat pemerintahan. Daerah ini dibangun menjadi pusat kerajaan Galuh dan sekarang menjadi kawasan situs Karangkamulyan.

Setelah ditinggalkan Prabu Ajar Sukaresi, daerah Kampung Kuta tidak diketahui kelanjutan ceritanya.

Versi asal-usul Kampung Kuta pada masa Kerajaan Cirebon. Diawali oleh dua kerajaan yang menaruh perhatian besar terhadap Kampung Kuta, yaitu kerajaan Cirebon dan kerajaan Mataram di Solo. Perhatian kedua kerajaan tersebut, disebabkan para penguasanya mendapat amanat dan wangsit dari leluhurnya untuk memelihara dan menjaga daerah bekas peninggalan Prabu Ajar Sukaresi.

Raja Cirebon mengutus salah seorang kepercayaannya yang bernama Raksabumi agar menetap di Kuta dengan tugas memelihara dan menjaga keutuhan daerah Kuta. Kepada Raksabumi, Raja Cirebon berpesan bahwa apabila di Kuta telah ada utusan dari kerajaan Mataram maka sebaiknya mengalah (ngelehan maneh) dan Raksabumi (Ki Bumi) tidak boleh kembali ke Cirebon. Demikian juga Raja Solo berpesan kepada utusannya bahwa jika utusan Raja Cirebon telah ada di Kuta lebih dulu maka harus mengalah dan tidak boleh kembali ke Solo. Dengan adanya perintah tersebut maka kedua utusan berusaha keras agar dapat mencapai Kuta lebih dulu.

Sebenarnya kedua utusan tiba di daerah Kuta hampir bersamaan. Akan tetapi, setelah tiba di daerah Kuta tanpa sebab yang pasti utusan kerajaan Solo meninggalkan daerah Kuta. Raksabumi sendiri segera membuka hutan dan membangun pemukiman di sekitar situ (danau, rawa) dan dikenal dengan nama pamarakan, artinya tempat marak atau menangkap ikan dengan cara mengeringkan airnya. Sebagian masyarakat menyebutnya pamarekan bukan pamarakan. Pamarekan berarti dekat. Disebut demikian karena Raksabumi membangun pemukiman dekat dengan daerah yang dimaksud.

Demikianlah, akhirnya Raksabumi menjadi pemimpin di Kampung Kuta atau penunggu dan penjaga daerah Kuta hing9a akhir hayatnya. Setelah meninggal Raksabumi dimakamkan di Cibodas dan dikenal dengan nama Ki Bumi. Dia dianggap sebagai cikal bakal dan leluhur yang menurunkan masyarakat Kuta. Raksabumi adalah pemimpin pertama dan sampai sekarang Kampung KUta tetap dipimpin oleh keturunan Ki Bumi.

Keberadaan Ki Bumi di Kampung Kuta ditugaskan oleh Raja Cirebon agar menjaga dan memelihara daerah bekas peninggalan Prabu Ajar Sukaresi yang terdapat di Kampung Kuta. Peninggalam tersebut umumnya berupa tempat di hutan keramat yang dilihat dad namanya menunjukkan persiapan membangun pemukiman, antara lain Panday Domas ( pandai besi tempat pembuatan senjata dan peralatan pembangunan), Panyipuhan (tempat menyepuh peralatan perang atau emas), Gunung Apu, Gunung Semen, dan Gunung Barang.

Masyarakat Kampung Kuta percaya bahwa peninggalan itu disimpan di hutan keramat yang dijaga oleh mahluk gaib yang bernama Bima Raksa
Kalijaga, Sang Maetil Putih, Kiai Bima Raksanagara, dan Prabu Mangkurat Jagat. Oleh karena itu, masyarakat sangat patuh untuk tetap memelihara dan menjaga hutan keramat. (1998:18).

Versi lain ditulis dalam Selayang Pandang Pemukiman Tradisional Kampung Kuta, bahwa Kampung Kuta telah ada sejak jaman dulu. Dimulai dengan datangnya Ambu Raksa Bima Kalijaga suruhan Prabu Siliwangi untuk membuka pusat Kerajaan Galuh di Kuta. Bukti-bukti persiapan tersebut sampai kini masih tersimpan di antaranya persiapan semen merah masih tersimpan di Gunung Semen; peralatan rumah tanggga tersimpan di Gunung Padaringan dan Panday Domas; peralatan kesenian tersimpan di Gunung Wayang dan Gunung Batu Goong. Namun pada saat akan mendirikan kerajaan tidak mencapai Patang Ngewu Domas pendirian keraton digagalkan, semua barang-barang yang telah dipersiapkan semuanya disimpan di Gunung Barang.

Setelah itu Kerajaan Galuh berpindah ke Karang Kamulyan, sebagai gantinya is menunjuk anak buahnya yang berasal dari Solo yang bernama Aki Batasela untuk memelihara Kampung Kuta, selanjutnya menugaskan anak buahnya yang lain yang berasal dari Cirebon yang bemama Aki Bumi. Di antara dua anak buah yang ditugaskan ke Kampung Kuta hanya Aki Bumi yang dapat sampai ke Kampung Kuta, sedangkan Aki Batasela karena lambat hanya sampai ke Kampung Cibodas, untuk selanjutnya bermukin di Cibodas sampai meninggal. Oleh sebab itu sampai kini setiap penduduk Kampung Kuta yang meninggal akan dikuburkan di Cibodas, hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur yaitu Aki Batasela yang meninggal di Cibodas.

Pemeliharaan Kampung Kuta selanjutnya diserahkan kepada turunanturunan Aki Bumi secara turun-temurun disebut dengan kuncen atau kunci. Keturunan dari Aki Bumi, yang menjadi kuncen di Kampung Kuta adalah Aki Dano, Aki Maena, Aki Surabangsa, dan Aki Rasipan. Kelima kuncen tersebut telah meninggal, selanjutnya yang menjadi kuncen di Kampung Kuta harus merupakan keturunan Aki Rasipan.

b. Religi, Sistem Pengetahuan, dan Tabu

Seluruh penduduk Kampung Kuta beragama Islam. Sarana ibadah yang dapat dipakai oleh masyarakat umum berupa sebuah mesjid yang letaknya bersebelahan dengan Balai Dusun, disamping mushola-mushola lain yang terdapat di rumah-rumah penduduk. Walaupun hanya sebuah mesjid, bukan berarti pelaksanaan ibadah keagamaan rendah karena penduduk Kampung Kuta dikenal sebagai masyarakat yang taat menjalankan syariat agama Islam. Pelaksanaan shalat lima waktu mereka lakukan di rumah masing-masing atau berjamaah di masjid. Pengajian rutin diikuti oleh sejumlah besar penduduk dilakukan di masjid. Pengajian yang diikuti oleh kaum ibu atau remaja putri dilakukan pada Kamis malam (malam Jumat) atau Jumatpagi, sedangkan pengajian yang diikuti oleh bapak-bapak atau remaja putra dilakukan pada had Jumat menjelang shalat Jumat.

Pelaksanaan peringatan hari-hari besar keagamaan seperti Muludan, Rajaban, atau Nuzulul Quran tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat Kampung Kuta. Pelaksanaan acara tersebut dipusatkan di mesjid atau di Balai Dusun dengan cara mengadakan pengajian atau ceramah keagamaan dengan mendatangkan penceramah dari luar Kampung Kuta biasanya dari Cisontrol. Pada acara tersebut secara spontan penduduk mendatangi tempat perayaan dengan membawa nasi tumpeng atau penganan Iainnya yang akan dimakan bersama-sama. Jika memerlukan biaya berupa uang, mereka akan menyumbang secara sukarela dengan jumlah yang variatif.

Fungsi utama penyelenggaraan kegiatan tersebut, selain melaksanakan kegiatan beribadat yang dapat meningkatkan pengetahuan, keimanan, dan ketaqwaan, juga sebagai ajang silaturahmi sebab pada saat penyelenggarakan kegiatan tersebut berkumpul hampir seluruh penduduk kampung, pada saat itu peserta dapat saling melepaskan kerinduan atau saling bertanya tentang keadaan masing-masing termasuk tentang kesehatan seseorang. Jika terdapat warga kampung yang sakit mereka akan menengok bersama-sama.

Tokoh panutan keagamaan bagi masyarakat Kampung Kuta adalah ustadz yang menjadi pengurus DKM. Bagi masyarakat Kampung Kuta orang yang terpilih menjadi DKM adalah orang-orang pilihan yang pengetahuan agamanya melebihi kemampuan beragama penduduk Iainnya, sikap-sikap mereka pun perlu dituruti dan diteladani sebagai sikap yang terpuji. Pada umumnya sikap mereka selalu merendah, tidak emosional, dan menuntun orang-orang yang memerlukan tambahan pengetahuan agama, karena setiap ucapan selalu dituruti oleh para santrinya dan penduduk Iainnya. Karena sikap-sikap itulah mereka selalu diundang pada setiap kegiatan keagamaan dan dijadikan konsultan bagi masalah-masalah keagamaan. Tidak jarang I ustadz ini dijadikan mediator atau transformator bagi program-program pemerintah dalam pengembangan pembangunan daerah atau hal-hal lainnya.

Sekalipun keyakinan terhadap agama Islam yang dianut masyarakat Kampung Kuta melekat dengan kuat, namun pada pelaksanaan sehari-hari masih tercampur antara kaidah-kaidah Islam dengan adat setempat. Hal ini disebabkan karena penerapan ajaran Islam sejak awal dibarengkan dengan adat yang berlaku scat itu dan disampaikan tanpa pemilahan berupa penjelasan akan perbedaan antara ajaran agama dan adat. Selain itu adat yang berlaku sangat aplikatif dengan kehidupan penduduk sehari-hari bercampur dengan ajaran agama yang dituntut untuk dilaksanakan. Kini, akhimya penduduk Kampung Kuta sangat sulit untuk memilah dan memilih antara ajaran agama Islam dan adat.

Penerapan adat yang kuat menyebabkan kepercayaan terhadap mahluk gaib pun sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari, dan dipercayai keberadaannya secara kasat mata. Mahluk-mahluk gaib tadi dinamai Ambu, Rama, Raksa, dan Bima Kal#aga. Mahluk-mahluk gaib tadi berada di berbagai tempat di seluruh wilayah Kampung Kuta dan senantiasa menjaga keamanan, kesejahteraan, keselarasan penduduknya. Oleh sebab itu setiap akanmelakukan kegiatan ritual nama-nama itu selalu disebut untuk dimintai ijin dengan ucapan ” Ka Ambu, Ka Rama, Ka Raksa , Ka Bima Kalijaga nu ngageugeuh di karamat Kuta Jero “. Namanama tersebut secara tidak langsung merupakan simbol-simbol. Ka Ambu merupakan simbol permohonan kepada ibu; Ka Rama merupakan simbol permohonan kepada bapak, Ka Raksa merupakan simbol permohonan untuk menjaga diri kita sendiri; Ka Bima Kalijaga merupakan simbol permohonan kepada sesuatu yang dinilai paling gagah.

Selain “disambat” dalam acara-acara ritual, nama-nama tersebut disebutkan jika ada orang yang kasambet (jasadnya dimasuki roh halus/ kesurupan). Menurut anggapan penduduk Kampung Kuta orang yang kasambet dinilai telah melakukan perbuatan yang ditabukan. Untuk menyembuhkannya harus diweruhkeun berupa permintaan maaf ‘kepada mahluk-mahiuk gaib tersebut, karena mahiuk-mahiuk tersebut mempunyai pangaweruh berupa kemampuan untuk meniadakan sesuatu yang asalnya ada atau mengadakan sesuatu yang asalnya tidak ada.
Kepercayaan terhadap tabet-tabet (tempat-tempat keramat) sama kentalnya dengan kepercayaan terhadap mahluk gaib/mahluk harus. Di Kampung Kuta terdapat beberapa tabet yang kekeramatannya masih terjaga dengan baik. Tabet-tabet tersebut adalah:

  • 1. Leuweung Gede (Leuweung Karamat) 4. Gunung Barang
  • 2. Gunung Wayang 5. Gunung Batu Goong
  • 3. Gunung Panday Domas 6. Ciasihan

1. Leuweung Gede (Leuweung Karamat)

Leuweung Gede merupakan kawasan hutan lindung yang dikeramatkan. Letak hutan ini berada di sebelah Selatan Kampung Kuta dengan luas hampir separuh luas Kampung Kuta yaitu seluas kurang Iebih 40 hektar. Selain hutannya sendiri yang dikeramatkan, di dalamnya terdapat danau kedil (disebut kawah) dan batu (disebut kuburan) yang sama-sama dikeramatkan. Cara atau bentuk penghormatan terhadap hutan tersebut diberlakukan sejumlah tabu atau pamali yang diberlakukan untuk semua warga.

2. Gunung Wayang

Gunung Wayang merupakan gunung yang dikeramatkan penduduk Kampung Kuta, tepatnya di sebelah utara kampung. Gunung ini dikeramatkan karena terkait erat dengan kisah asal-usul Kampung Kuta. Menurut penuturan beberapa informan, disebut Gunung Wayang karena di gunung itulah berbagai persiapan kesenian termasuk wayang disimpan, pada saat Ambu Rama Raksa Bima Kalijaga akan menjadikan kawasan Kuta sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Galuh.

3. Gunung Pandai Domas/ Gunung Tahanan

Letak gunung ini terletak di sebelah barat Kampung Kuta. Gunung ini dikeramatkan karena masih memiliki rangkaian cerita dengan gunung-gunung Iainnya yang dikeramatkan.

4. Gunung Barang

Gunung Barang yang terletak di sebelah Barat Daya kampung, dikeramatkan oleh penduduk karena memiliki nilai historis, yaitu gunung ini dijadikan tempat menyimpan barang-barang yang akan dipakai untuk membuka pusat kerajaan Galuh. Barang-barang yang telah dipersiapkan ternyata tidak dipergunakan mengingat pembukaan pusat kerajaannya tidak jadi, maka barang-barang tersebut tidak dibawa pulang, melainkan disimpan dan ditimbun di Gunung Barang.

5. Gunung Batu Goong

Gunung Batu Goong masih berada di kawasan Kampung Kuta letaknya di sebelah Timur Laut. Gunung ini dikeramatkan karena di gunung ini tersimpan goong (gong) pada saat akan dibuka wilayah pusat pemerintahan kerajaan Galuh. Menurut cerita di gunung ini terdapat sebuah batu yang bentuknya mirip goong (gong)

6. Ciasihan

Ciasihan merupakan sebuah mata air terletak hampir di tengah-tengah Kampung Kuta. Ciasihan dikeramatkan karena sepanjang masa airnya tidak pemah surut dan tidak pernah meluap. Jika dilihat dari namanya, Ciasihan yaitu cai (air) yang memiliki asih (kasih, sayang) artinya air tersebut dipercaya dapat menimbulkan rasa kasih sayang dari seseorang kepada orang lain.

Cara lain sebagai bentuk penghormatan atau pengkeramatan tabettabet tersebut yaitu dengan memelihara kelestarian Iingkungan alamnya dengan cara memberlakukan beberapa tabu di tempat-tempat itu, serta ancaman yang keras bagi setiap perusak atau pelanggar tabu.

Bentuk kepercayaan terhadap hari baik dan hari buruk pun masih dianut serta dipergunakan oleh masyarakat Kampung Kuta. Perhitungan hari tersebut digunakan untuk menentukan saat-saat yang baik dan kurang baik dalam memulai kegiatan. Umumnya perhitungan didasarkan kepada nama orang yang akan menyelenggarakan kegiatan tertentu, berdasarkan naptu hari, naptu bulan, dan weton (hari kelahiran), dan sebagainya.
Beberapa kegiatan/keperluan yang didasarkan kepada hari baik dan hari buruk, antara lain:

1. Memberi nama kepada bayi; bayi yang baru lahir harus diberi nama yang baik berdasarkan perhitungan tertentu. Harus dihindarkan nama-nama yang perhitungannya jatuh kepada perhitungan yang mendapatkan lara (sengsara) atau pati (kematian), tetapi harus dipilih nama-nama yang perhitungannya akan jatuh kepada kebahagiaan seperti had yang sama dengan sri (kaya akan hasil tanaman), lungguh (pangkat dan ilmu yang tinggi), dan dunya (kekayaan yang banyak).

2. Melakukan pekerjaan; seseorang yang akan melakukan pekerjaan seperti akan mencari nafkah, berdagang, bercocok tanam, menyimpan padi di lumbung, dan lain sebagainya harus menghitung hari yang tepat. Jika harinya tidak tepat/buruk (apes), maka pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan tidak akan menghasilkan sesuatu yang menggembirakan, bahkan akan mendatangkan kekecewaan; berdagang tidak beroleh keberuntungan; menagih utang tidak akan berhasil; atau tanaman yang ditanam hasilnya sedikit karena`tanamannya diserang hama, atau sebabsebab Iainnya.

3. Mendirikan rumah; mereka memperhitungkan hari baik dalam mendirikan rumah ataupun memindahkan rumah. Akan tetapi tidak hanya menentukan had baiknya saja, merekapun menentukan arah serta tata letak rumah yang akan dibangun. Hal ini dimaksudkan agar rumah yang dibangun menjadi rumah yang menentramkan penghuninya, terhindar dari segala macam kejahatan baik dari manusia atau dari mahluk halus, serta penghuninya selalu diberi limpahan rejeki.

4. Menentukan hari perkawinanlkhitanan; hari perkawinan atau khitanan anak merupakan saat-saat yang monumental dan hanya dilakukan sekali seumur hidup, oleh sebab itu semua yang terkait dengan saat-saat itu diperhitungkan dan dipertimbangkan secara matang dan hati-hati termasuk penentuan hari pelaksanaan acara tersebut. Dengan hari yang dianggap tepat penyelenggaraan perkawinan akan berjalan lancar, keluarga yang dibangun dari pernikahan tersebut akan menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera, suami istri akan dihindarkan dan masalah rumah tangga, dan lain sebagainya. Bagi anak yang dikhitan selain lancar dalam penyelenggaraannya, juga anaknya diharapkan menjadi anak yang soleh, banyak rejeki, dan berbakti pada kedua orang tuanya.

Menentukan hari baik dan hari buruk untuk memulai suatu kegiatan tidak dapat dilakukan sendiri setiap penduduk Kampung Kuta, mengingat keterbatasan pengetahuan mereka akan pengetahuan tersebut, oleh sebab itu bagi penduduk yang memerlukan penentuan hari baik atau hari buruk akan bertanya kepada orang yang menguasai ilmu tersebut yaitu puun. Puun ini adalah laki-laki yang telah tua usianya, sangat wajar orang tua dianggap puun mengingat usia yang menunjukkan banyaknya pengalaman hidup, dan berbagai kejadian dalam kehidupan, atau sudah mengenal asam garam kehidupan.

Selain mengenai perhitungan hari baik dan hari buruk serta kepercayaan terhadap mahiuk halus/gaib, masyarakat Kampung Kuta sebagai warga kampung adat mempunyai’ beberapa aturan adat dan tabu (pamah) yang harus ditaati. Pelanggaran terhadap tabu (pamah) dapat menyebabkan terjadinya musibah bukan saja melanda pelaku pelanggaran tapi juga mengenai seluruh penduduk kampung. Bentuk-bentuk musibah yang datang dapat bermacam-macam seperti wabah penyakit, serangan hama tanaman, atau gempa bumi berupa tanah longsor, angin topan, atau banjir. Tabu atau pamali terungkap dalam ungkapan-ungkapan yang dikemukakan ketua adat atau kuncen sebagai aturan adat yang harus dipatuhi dan diyakini kebenarannya. Ungkapan-ungkapan tersebut dianggap sebagai kearifan tradisional karena berasal dari wrisan leluhur yang telah berlaku secara turuntemurun. Di Kampung Kuta, ungkapan tradisional tersebut masih berlaku sebagai pranata sosial yang dapat mengendalikan perilaku manusia dalam berinteraksi dengan alam atau dengan sesamanya.

Kampung Mahmud

Lokasi dan Lingkungan

Secara administratif Kampung Mahmud termasuk ke dalam wilayah Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Posisi tepatnya, Kampung Mahmud, berada di RW 04, dengan hanya dua RT di dalamnya, yakni RT 01 dan RT 02.

Tempat itu cukup mudah dijangkau dari Kota Bandung, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Ada beberapa aternatif rute yang dapat ditempuh menuju Kampung Mahmud, khususnya dengan kendaraan umum. Pertama, dari terminal Kebun Kelapa menggunakan angkutan kota dengan rute Kebun Kelapa -Cibaduyut, lalu berhenti di terminal Tegallega. Dari terminal tersebut, menggunakan angkutan kota dengan rute Tegallega-Mahmud, kemudian berhenti di lokasi Kampung Mahmud. Di bawah pukul 09.00 WIB, angkutan tersebut biasanya hanya sampai Bumi Ash I. Untuk melanjutkan perjalanan ke Kampung Mahmud, tersedia delman atau ojeg.

Alternatif kedua, dari terminal Kebun Kelapa menggunakan angkutan kota dengan rute Kebun Kelapa – Cibaduyut, lalu turun di terminal Leuwi Panjang. Dari terminal itu naik angkutan kota dengan jurusan Cipatik, lau berhenti di Rahayu. Selanjutnya naik ojeg menuju Kampung Mahmud. Perjalanan melalui kedua rute tersebut menghabiskan waktu lebih kurang 90 menit.

Mengenali Kampung Mahmud cukup mudah, karena ada gapura bertuliskan Makom Mahmud. Itu artinya, tempat yang dituju sudah ada di depan mata. Makom Mahmud sendiri merupakan tempat makam keramat yang banyak dikunjungi para peziarah, baik dari lingkungan setempat maupun dan luar kampung Mahmud.

Kampung Mahmud menempati lokasi yang terpisah dengan perkampungan Iainnya. Batas-batas yang mengelilingi kampung Mahmud adalah SungaiCitarum. Tepatnya, batas Kampung Mahmud di sebelah barat, selatan, dan timur adalah Sungai Citarum lama. Adapun di sebelah utara, Kampung Mahmud berbatasan dengan Sungai Citarum baru.

Kampung Mahmud juga menempati satu dataran yang agak rendah atau lengkob dalam bahasa Sunda. Meskipun demikian, tempat tersebut tidak pemah mengalami banjir. Dalam pandangan masyarakat Mahmud, itu berkat tuah atau barokah dari tanah karomah yang menjadi asal-usul kampung tersebut.

Secara geografis, Kampung Mahmud memang berada di pinggiran Sungai Citarum dan agak terpisah dari perkampungan lain di sekitamya.

Kondisi geografis seperti itu tidak menutup peluang warga Mahmud berkomunikasi dengan orang luar Kampung Mahmud. Pertama, ada sarana transportasi berupa jembatan kokoh dan mulus di atas Sungai Citanam yang mempermudah keluar masuknya berbagai alat transportasi ke tempat tersebut. Kedua, media komunikasi berupa telepon pun sudah mulai masuk. Dengan demikian, mudah bagi mereka menjalin komunikasi dengan dunia luar. Dalam hal ini, termasuk juga mengenal dunia luar melalui media elektronik seperti radio dan televisi; juga media cetak seperti surat kabar, majalah, atau buku. Selain itu, mereka sudah terbiasa dengan kunjungan para peziarah dari daerah lain.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar

1. Lokasi dan Lingkungan

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar adalah sebuah kampung adat yang mempunyai ciri khas dalam lokasi dan bentuk rumah serta tradisi yang masih dipegang kuat oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat yang tinggal di Kampung Ciptagelar disebut masyarakat kasepuhan. Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh dengan awalan /ka/ dan akhiran /an/. Dalam bahasa Sunda, kata sepuh berarti ‘kolot’ atau ‘tua’ dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan pengertian ini, muncullah istilah kasepuhan, yaitu tempat tinggal para sesepuh. Sebutan kasepuhan ini pun menunjukkan model ‘sistem kepemimpinan’ dari suatu komunitas atau masyarakat yang berasaskan adat kebiasaan para orang tua (sepuh atau kolot). Kasepuhan berarti ‘adat kebiasaan tua’ atau ‘adat kebiasaan nenek moyang’. Menurut Anis Djatisunda (1984), nama kasepuhan hanya merupakan istilah atau sebutan orang luar terhadap kelompok sosial ini yang pada masa lalu kelompok ini menamakan dirinya dengan istilah keturunan Pancer Pangawinan.

Pada era 1960-an, Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar mempunyai nama khusus yang dapat dianggap sebagai nama asli masyarakat tersebut, yaitu Perbu. Nama Perbu kemudian hilang dan berganti menjadi kasepuhan atau kasatuan. Selain itu, mereka pun disebut dengan istilah masyarakat tradisi.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar (selanjutnya ditulis Kampung Ciptagelar) merupakan nama baru untuk Kampung Ciptarasa. Artinya sejak tahun 2001, sekitar bulan Juli, Kampung Ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan “hijrah wangsit” ke Desa Sirnaresmi yang berjarak belasan kilometer. Di desa inilah, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom atau Bapa Encup Sucipta sebagai puncak pimpinan kampung adapt memberi nama Ciptagelar sebagai tempat pindahnya yang baru. Ciptagelar ‘artinya terbuka atau pasrah.

Kepindahan Kampung Ciptarasa ke kampung Ciptagelar lebih drsebabkan karena “perintah leluhur” yang disebut wangsit. Wangsit ini dlperoleh atau diterima oleh Abah Anom setelah melalui proses ritual beliau yanng hasilnya tidak boleh tidak, mesti dilakukan. Oleh karena itulah kepindahan kampung adat bagi warga Ciptagelar merupakan bentuk kesetiaan dan kepatuhan kepada leluhurnya.

Secara administratif, Kampung Ciptagelar berada di wilayah Kampung Sukamulya Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Jarak Kampung Ciptagelar dari Desa Sirnaresmi 14 Km, dari kota kecamatan 27 Km, dan pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi 103 Km dan dari Bandung 203 Km ke arah Barat.

Kampung Ciptagelar dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (motor). Jenis kendaraan roda empat harus mempunyai persyaratan khusus, yakni mempunyai ketinggian badan cukup tinggi di atas tanah serta dalam kondisi prima. Apabila tidak mempunyai persyaratan yang dimaksud kecil kemungkinan kendaraan tersebut sampai ke lokasi. Dan umumnya mobil-mobil demikian hanya sampai di kantor Desa Sirnaresmi yang sekaligus merupakan tempat parkimya. – Selebihnya menggunakan kendaraan ojeg atau mobil umum (jenis jeep) yang hanya ada sewaktu-waktu atau jalan kaki.

Guna mencapai lokasi tujuan, ada beberapa pilihan jalur jalan. Pilihan pertama adalah : Sukabumi – Pelabuhanratu. Pelabuhanratu – Cisolok berhenti di Desa Cileungsing. Dari Desa Cileungsing menuju Desa Simarasa dan berhenti di Kampung Pangguyangan. Di Karnpung Pangguyangan semua kendaraan roda empat di parkir dan selanjutnya dari kampung ini menuju Kampung Ciptagelar ditempuh dengan jalan kaki atau naik ojeg. Sebagai catatan, melalui jalur ini kendaraan pribadi hanya sampai di Kampung Pangguyangan mengingat kondisi jalan yang berat.

E. Kampung Dukuh

1. Lokasi dan Lingkungan

Secara administratif, Kampung Dukuh termasuk dalam kawasan RT 02 dan 03 RW 07 Desa Cijambe Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut. Jarak Kampung Dukuh dari Desa Cijambe + 9 km, dari kota kecamatan ± 10 km, dad pusat pemerintahan Kabupaten Garut sekitar 100 km dan dari Bandung + 160 km ke arah selatan.

Kampung Dukuh dapat dicapai dari Garut dengan menggunakan kendaraan umum jurusan Cimari atau Cikelet. Kendaraan umum Garut – Cimari melalui Cijambe, sedangkan bila menggunakan trayek Garut – Cikelet, harus menggunakan kendaraan umum lagi untuk sampai di Cijambe. Dad Cijambe perjalanan ditempuh dengan ojeg sepeda motor atau berjalan kaki karena tidak ada kendaraan umum selain ojeg yang menuju Kampung Dukuh.

Jalan beraspal hanya sampai di Cijambe. Sedangkan jalan dad Cijambe ke Kampung Dukuh masih berbatu-batu dan tidak rata, naik turun
relatif terjal, agak sempit, serta kiri- kanannya terdapat tebing dan jurarig. Kendaraan beroda empat dengan kondisi prima bisa melewatinya sampai pamenekan yaitu persimpangan menuju Kampung Dukuh. Kondisi jalan dari pamenekan ke Kampung Dukuh yang berjarak ± 1 km, berupa jalan setapak yang kiri-kanannya dipenuhi semak belukar dan pohon jati.

Ketinggian Kampung Dukuh adalah sekitar 390 m di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 26° C dan letak astronomis Dada saris 7° – 8° LS. 70 – 108° BT. Udara di Kampuna Dukuh vans luasnva sekitar 5 Ha ini tidak begitu panas (sedang) meskipun terletak hampir di pesisir selatan. Hal ini mungkin karena pengaruh hutan lebat di sebelah utara kampung. Letak kampungnya sendin di tanah miring, di lereng Gunung Dukuh dan terpencil dari kampung-kampung lainnya yang satu desa tetapi tidak membuatnya sulit untuk melakukan komunikasi karena kondisi jalan yang cukup balk. Batas-batas administrasi Kampung Dukuh adalah

  • Sebelah utara berbatasan dengan Kampung Palasari Desa Karangsari.
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Kampung Cibalagung Desa Cijambe
  • Sebelah timur berbatasan dengan Kampung Nangela Desa Karangsari.
  • Sebelah barat berbatasan dengan Kampung Ciawi Desa Cijambe.

Kampung Naga

Lokasi dan Lingkungan

Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan Ieluhumya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga.

Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di Iembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di ‘dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah Selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah Utara dan Timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari Kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah ditembok (Sunda sengked) sampai ke tepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai ke dalam Kampung Naga.

Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Was tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah yang dipanen satu tahun dua kali.

Kampung Urug

Lokasi dan Keadaan Alam

Secara administratif, Kampung Urug termasuk ke dalam wilayah Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Dialiri tiga buah sungai, yakni Sungai Ciapus, Sungai Cidurian, dan anak sungai Ciapus. Luas wilayahnya berbatasan dengan daerah-daerah sekitarnya, yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Tajur; sebelah selatan berbatasan dengan Mandaya; sebelah barat berbatasan dengan Pasirmadang; dan di sebelah timur berbatasan dengan Pasirpeuteuy.

Keadaan temperatur I suhu udara di Kampung Urug berkisar antara 24-28 derajat celcius dengan suhu udara pada slang hari rata-rata 28 derajat celcius dan malan hari rata-rata sekitar 24 derajat celcius. Beriklim tropis terdiri atas dua musim, yaitu musim hujan jatuh pada bulan Oktober-Maret dan musim kemarau jatuh pada bulan April-September. Musim penghujan berlangsung selama Iebih kurang enam bulan dengan angka rata-rata curah hujan yang tinggi mengakibatkan tanah pertanian di Kampung Urug dan sekitarnya menjadi subur.

Jarak tempuh Kampung Urug dari Ibukota provinsi Jawa Barat lebih kurang 165 kilometer ke arag barat. Jarak dari Ibukota Kabupaten Bogor Iebih kurang 48 kilometer, dari kota kecamatan Sukajaya lebih kurang 6 kilometer, sedangkan dari kantor Desa Kiarapandak Iebih kurang 1,2 kilometer. Kondisi jalan dari kantor kecamatan Sukajaya ke Kampung Urug berbelok-belok naik turun mengikuti lereng bukit dengan badan jalan yang sempit. Sepanjang jalan dari kantor kecamatan ke kantor kepala desa Kiarapandak sudah beraspal, namun sebagian besar rusak berat. Jalan dari kantor desa ke kampung Urug, beraspal dan kondisinya cukup baik.

Ke lokasi dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Adapun menggunakan angkutan umum dari pertigaan Jasinga Leuwiliang Leuwiliang menuju ke Cipatat. Dipertigaan jalan raya Cipatat dan jalan desa bisa menggunakan ojeg sampai ke kampung Urug, atau bisa juga menggunakan mobil Carry dari Jasinga – Leuwiliang sampai ke kampung Urug.

Mobilitas penduduk dari dalam ke luar atau dari luar ke dalam tidak begitu tinggi sehingga eksistensinya tidak mudah kentara dari Iuar. Akan tetapi tidak berarti sikap warga setempat bersifat tertutup kepada para pendatang, hal ini terbukti dari sikap ramah tamah mereka yang spontan kepada para tamu ataupun orang luar yang akan menetap di sana. Sementara itu ada sebagian warga yang merantau ke Bogor atau Jakarta untuk mencari nafkah namun jumlahnya sedikit.

[alert style=”white”] Sumber : Kampung Adat & Rumah Adat di Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat 2002 [/alert]

Siswa SMKN 1 Padaherang Memproduksi Semen

Siswa SMKN 1 Padaherang Memproduksi Semen

Gubernur Jabar H. Ahmad Heryawan menyambut baik produksi semen SMKN 1 Padaherang sebagai sebuah kemajuan pendidikan SMK di Jawa Barat. Apalagi kecamatan Padaherang berada di kawasan Jawa Barat selatan yang kaya bahan tambang.

“Produksi semen SMKN 1 Padaherang bisa menjadi lahan wirausaha yang bagus bagi generasi muda kedepan. Kalau yang lain mobil, kita semennya,” ujar Ahamad Heryawan saat mengglar acara ìCurhatî dengan Jajaran SMKN 1 Padaherang, Komite Tenaga Sukwan Indoensia (KTSI), Asosiasi Pembantu Penghulu (APPP) dan Presidium Pemekaran Kab. Pangandaran, di RM Torojol, Minggu (1/7).

Menurutnya, jiwa wirausaha di SMK sangat luas, makanya menjadi tugas wajib bagi guru-guru SMK untuk menanamkan jiwa wira usaha pada semua SMK apapun jurusannya. Termasuk mampu mengolah bahan tambang di lingkungan sendiri, dari pada dijual dalam bentuk mentah ke luar negeri seperti di SMKN 1 Padaherang.

“Pemerintah propinsi Jabar akan membantu pengembangan produksi semen di SMKN 1 Padaherang. Bahan tambang yang ada di Jabar Selatan jangan sampai dijual mentah tapi harus bisa diolah sendiri. Jika dijual mentah banyak ruginya,” kata Ahmad Heryawan yang biasa disapa Kang Aher.

Sementara itu Kepsek SMKN 1 Padherang Asep Agus didampingi Ketua Program Geologi Pertambangan Dadi Hidayat mengatakan, produksi semen Pozolan sudah berjalan selama 3 tahun. Semen Pozolan terbuat dari bahan tambang trast, zeolit dan kapur merupakan jenis semen yang bisa digunakan untuk bahan bangunan selain semen portlan yang biasa beredar di pasaran.

“Siswa SMKN 1 Padaherang Program Geologi Pertambangan baru mampu memproduksi semen jenis Pozolan, karena untuk Portlan masih kekurangan alat yang mampu mengeluarkan panas lebih dari 1400 derajat celcius. Untuk bahan baku semen baik Pozolan maupun portlan tidak masalah karena banyak tersebar di wilayah selatan Ciamis î ujarnya.

Sejak berhasil memproduksi semen dan pupuk phospat, kata Agus, SMKN 1 Padaherang kini terus dibanjiri siswa dan perusahaan tambang yang membutuhkan pekerja.

“Sejak didirikan tiga tahun lalu, jumlah siswa sudah mencapai 1.400 orang, dengan lima keahlian yaitu, geologi pertambangan, Teknik Kemputer Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Elektronika Industri serta Teknik pengolahan migas dan petrokimia,î ujarnya. E-35***

[alert style=”white”]http://www.kabar-priangan.com/news/detail/5225[/alert]

Video: Selamat Datang di Jalan Raya Kota Ciamis

Video: Selamat Datang di Jalan Raya Kota Ciamis

Speed, Selamat Datang di Jalan Raya Kota Ciamis

Iseng iseng tempel kamera di bak motor matic(Honda Vario Techno CBS). Ketinggian Lensa kamera sekitar 25 cm diatas aspal, 15 cm meter dari arah body motor sebelah kanan.

Awal kecepatan setelah 2 menit mencapai 60km/jam. Dari jalan Jendral Sudirman sampai habis jalan Jendral Ahmad Yani mencapai sekitaran 60km-70km/jam.

Sehabis Cijantung kecepatan mencapai 80km/jam.

Kecepatan tertinggi, ketika kendaran melampaui motor Yamaha Vixion, 100km/jam.

[alert style=”white”]Published on Apr 6, 2012 by [/alert]