Nyepuh Sebagai Penjemput Ramadan

Nyepuh Sebagai Penjemput Ramadan

Upacara Nyepuh diselenggarakan pada pertengahan bulan Sya’ban atau Rewah. Salah satu makna Nyepuh antara lain sebagai ritual penjemput Ramadan. Yakni bulan yang disucikan umat Islam, dimana saat itu kaum muslimin melaksanakan ibadah puasa, dan menahan segala godaan.

Tradisi Nyepuh merupakan upacara lanjutan dari upacara Ngawit yang dilaksanakan sebelumnya di Ciomas pada bulan Shafar. Upacara Nyepuh merupakan upacara tradisional yang memiliki arti mempertua, pendalaman atau penyempurnaan dan berarti juga nyipuh. Artinya adalah menjaga agar nilai-nilai yang baik yang telah ditanamkan para pendahulu tetap konsisten, sejalan dengan awitna (awalnya) sebagaimana maksud upacara Ngawit.

Seperti diungkap sesepuh Karahayuan Pangawitan Ciomas, Ki H Dede, upacara Nyepuh dapat dimaknai ke dalam tiga hal. Pertama, nyipuhkeun nu to ngawitan. Ini bermakna bahwa upacara Nyipuh merupakan pengawal jalan kebaikan yang telah dimulai atau diawali (ngawit) oleh para leluhur dan penyebar Islam di masa lalu. Tradisi yang sudah puluhan tahun digelar di Ciomas ini, lebih jauh adalah sebagai penghormatan terhadap amanah Kiai Haji Penghulu Gusti, karuhun masyarakat Ciomas.Di upacara inilah, anak muda belajar kepada orang yang lebih tua atau sepuh. Terutama agar lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

Kedua, nyepuhkeun panyipuhan urang. Ini berarti mengukur perjalanan kehidupan timbale balik selama ini, yang dikhususkan kepada diri kondisi diri anak terhadap orang tua, kondisi generasi penerus terhadap generasi tua, kondisi kepemimpinan ditingkat bawah dan atas (kepenghuluan). Sehingga diharapkan terjadi dialog timbale balik tentang masalah-masalah yang dihadapi dan mudah-mudahan memperoleh jalan keluarnya. “Ritual ini tercermin dalam prosesi sambung rasa yang dilakukan di makam Eyang Penghulu Gusti,” ujar Ki H Dede.

Ketiga, nyepuhkeun mapag Ramadan. Upacara Nyepuh juga digelar sebagai persiapan diri menghadapi bulan Ramadan. Sebab di bulan yang penuh barokah ini, umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa. Sehingga sebelum menjalankan ibadah tersebut, seseorang harus bersih lahir dan batin. Selain itu, bila puasanya berhasil, maka ia akan memperoleh kemenangan pada hari raya Idul Fitri sebagai ganjaran dan kebaikan pada bulan-bulan selanjutnya, serta pengampunan dosa yang dilakukan sebelumnya.

Hakekat Nyipuh

Upacara Nyepuh adalah upacara yang diharap menyadarkan bahwa umat setelah menyatakan diri sebagai muslim, harus terus menerus meningkatkan, memperbaiki, menyempurnakan perilaku hidupnya sejalan dengan tuntutan agama Islam. Oleh karena itu, pengertian Nyepuh juga berarti Nyipuh, yang dalam pelaksanaannya harus senantiasa disertai dengan peningkatan komunikasi dengan Allah SWT, diantaranya melalui zikir, doa, shalawat, minta pengampunan dan beramal sholeh.

Dalam kesehariannya adalah tertib dan taat melaksanakan sholat, zakat dan puasa. Semua itu dalam rangka peningkatan, penghayatan, pemahaman dan pengamalan Islam di manapun. Meski yang dilaksanakan adalah sesuatu yang kecil dan sederhana, namun upacara Nyepuh tetap mengikuti hakekatnya bahwa tidak akan ada yang besar apabila tidak dimulai dari yang kecil.

Tahapan upacara Nyepuh antara lain bebersih (thaharoh), pupujian, tawasulan, sambung rasa (silaturahmi), ngaregepkeun kyai (mendekatkan kiai dengan umat) dan lain-lain. Dalam kegiatan kebersamaan, diwujudkan dengan makan bersama atau ruing mungpulung menyantap tumpeng yang telah diolah secara cermat, baik bahan-bahannya yang halal, cara pengolahannya dengan ikhlas, pengolahannya dipimpin tetua yang sudah menopause (tamat haid), serta senantiasa dalam doa dimulai bismillah dan diakhiri alhamdulillah.

Tiga buah tumpeng yang disajikan, merupakan perlambang apa yang sudah dingawitan (dimulai) yakni Iman, Islam dan Ihsan, harus terpelihara dengan baik. Dalam pada itu, ranginang yang merupakan sajian bersama tumpeng mengandung arti bahwa mudah-mudahan melalui upacara Nyepuh bisa menjadi ragi bagi diri manusia, kehidupan dan penghidupan manusia dan terhadap siar agama Islam.

“Upacara Nyepuh secara keseluruhan adalah untuk mengajak agar umat Islam menjadi umat yang baik, yang senantiasa meningkatkan iman dan taqwanya, serta amal ibadahnya sesuai dengan Alquran dan Alhadist,” tutur Ki H Dede.

Sambung Rasa

Puncak Upacara Nyepuh berlangsung di dalam hutan Keramat. Untuk mencapai hutan ini, warga yang seluruhnya berpakaian putih-putih sebagai tanda menyucikan diri, harus berjalan sejauh tiga kilometer. Lantunan shalawat dan salam terhadap Kanjeng Muhammad SAW mengalun sepanjang jalan masuk ke hutan. Sebelum memulai upacara, seorang warga diutus untuk mengambil air wudlu. Ini sebagai tata cara masuk ke areal pemakaman sekaligus sebagai simbol membersihkan diri dari segala kotoran yang melekat di tubuh.

Air suci dari sumur emas pun diambil oleh kuncen dan keluarganya. Air dari sumur ini dipercaya penduduk mempunyai khasiat yang sama dengan air zamzam di Mekah, Arab Saudi. Bila minum atau mandi dengan air ini, dipercaya dapat membawa keberkahan.

Diiringi lantunan salawat dan doa-doa, barisan masyarakat itu kemudian memasuki lokasi makam Eyang Penghulu Gusti dan keluarganya.

Di depan makam-makam yang dianggap suci ini, mereka pun menyampaikan keluh-kesahnya. Bagi masyarakat Ciomas, pertemuan yang disebut sambugn rasa di depan makam karuhun ini amat penting. Di sinilah saatnya perwakilan warga bertemu dengan pejabat pemerintah dan pemimpin desa. Tak jarang, dialog antara anak dan orang tuanya juga terjadi di depan makam Eyang Penghulu Gusti ini. ER

(pernah dimuat di Tabloid POSMO)

[alert style=”white”]http://ekoabimanyu.blogspot.com/2008/10/tradisi-nyepuh-2.html[/alert]

“Nyangku” di Panjalu

“Nyangku” di Panjalu

DAERAH Panjalu ialah sebuah kota kecamatan yang berada di Kabupaten Ciamis. Panjalu terletak sekitar 100 km dari Kota Bandung. Topografi daerah ini merupakan perbukitan dengan daerah persawahan cukup mendominasi. Selain kaya akan hasil pertanian, di tempat ini terdapat beberapa lokasi wisata ziarah seperti Situ Lengkong. Di tengah Situ Lengkong ini terdapat sebuah pulau kecil bernama nusa gede. Di nusa gede inilah terdapat makam raja raja Panjalu.

Kerajaan Panjalu merupakan sebuah kerajaan termasyur. Syahdan menurut cerita yang diyakini oleh keturunan raja Panjalu, ketika kerajaan diperintah oleh Sanghyang Cakradewa mempunyai putra bernama Sanghyang Boros Ngora. Oleh Prabu Cakra Dewa, Boros Ngora diperintahkan untuk mencari ilmu yang berguna bila kelak ia memimpin kerajaan Panjalu.

Singkat cerita segala ilmu kejayaan telah didapat Boros Ngora, namun semua itu tidak menyenangkan ayah handanya, sampai kemudian pencarian ilmunya menuju ke Jazirah Arab. Di kota Makkah dia belajar dari Sahabat Nabi Sayidina Ali ra. Karean tertarik pada ajaran Islam ia berguru selama bertahun tahun. Ketika masa bergurunya selesai, ia dibekali tongkat, pedang serta pakaian haji dari Sayidina Ali, kemudian Boros Ngora berjanji menyebarkan agama Islam di tanah kelahirannya.

Dari makkah tidak lupa membawa air zamzam. Sesampainya di Panjalu air ini kemudian dicurahkan dan akhirnya menjadi situ Lengkong. Tidak lama kemudian ia diangkat menjadi raja di Panjalu. Keturunan dari Sanghyang Boros Ngora inilah yang kemudian dimakamkan di Nusa Gede. Dengan demikian dapat disimpulkan para peziarah mendatangi Panjalu, karena terdapat makam para penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Ada sebuah tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun yaitu tradisi “Nyangku.” Biasanya ritual ini dilakukan pada bulan Maulud. Malam sebelum puncak acara digelar berbagai jenis kesenian tradisi seperti pencak silat, gembyung serta berbagai jenis tari tarian. Ketika malam semakin larut, tampilah seorang sesepuh ke tengah pagelaran acara dengan gerak sigap memperagakan berbagai jenis jurus pencak silat.
Dan ketika penonton terkesima beberapa orang menghampiri sang tokoh yang tengah memperagakan beberapa jurus,sesaat kemudian muncul beberapa orang menghantamkan balok ke bagian kepalanya. Ajaibnya balok balok tersebut terbelah, selanjutnya bambu serta berbagai macam kayu lainnya hancur.

Kemudian murid muridnya melanjutkan atraksi, bahkan yang ini lebih seru, mereka memainkan sepak bola yang terbuat dari buah kelapa yang di bakar. Jadi mereka menendang dan menyundul kelapa yang dipenuhi bara api. Atraksi tersebut sangat memukau, namun semua ini harus dilakukan oleh orang yang ahli disertai latihan intensif bertahun tahun. Apabila orang awam melakukannya dikhawatirkan mengakibatkan kecelakaan fatal.

Sebagai tradisi turun temurun, kegiatan ini selalu mengundang pengunjung dari berbagai daerah. Dinas Pariwisata menetapkan tradisi ini sebagai salah satu kegiatan rutin pariwisata di Ciamis. Salah satu alasannya selain melihat tradisi unik, para pengunjung bisa juga menikmati eksotisme situ lengkong dengan pemandangan indah serta ratusan kelelawar bergelantungan di habitat aslinya.

[alert style=”white”]http://bandungtv.blogspot.com/2012/03/tradisi-nyangku-di-panjalu.html [/alert]

Rumah Makan Manjabal 1

Rumah Makan Manjabal 1

Rumah makan ini berada sekitar 10 km dari Ciamis ke arah kota Tasikmalaya, lebih tepatnya di jalan Raya Gunung Cupu, Sindang Kasih. Rumah makan ini diberi nama Manjabal karena konon singkatan dari Manusia Jaman Baheula. Ini untuk menyatakan bahwa resep-resep yang ditampilkan rumah makan ini merupakan kuliner pusaka dari masa lalu. Rumah makan Manjabal 1 pertama kali berdiri di Ciamis, Jawa Barat sekitar 20 tahun lalu, pendirinya Hj. Oom Komariah (77), dan sekarang telah diwariskan kepada anak pertamanya.

Tempatnya luas dengan beberapa lokasi bersantap yang dapat kita pilih. Ada yang di ruangan seperti tempat makan pada umumnya, lesehan di atas kolam, lesehan di pinggir sawah dan ada juga yang berlokasi agak jauh di tengah sawah. Dengan suasana yang berbeda membuat acara makan jadi lebih nikmat. Selain itu lahan parkirnya juga cukup luas, sehingga tidak perlu kerepotan mencari tempat parkir.

Yang menjadi makanan favorite di tempat ini adalah tumis genjer yang rasanya cukup unik. Genjer biasanya tumbuh di sekitar persawahan dan menjadi tanaman pengganggu bagi sebagian orang terutama para petani di sawah, tetapi disini genjer dimasak sebagai tumisan. Tumisan genjer ini dimasak dengan tauco yang agak banyak dan bumbu-bumbu yang lainnya. Tekstur luarnya lembut, tapi jika digigit rasanya renyah dan tumisannya tidak terlalu berminyak. Cocok sekali didampingi tempe atau tahu goreng.

Selain tumis genjer, masih banyak menu khas Priangan lainnnya, seperti nasi timbel, pencok leunca, ayam goreng/ bakar, sayur asem dan gurame bakar bumbu cobek dengan rasa bumbunya yang pas di lidah. Selain itu juga tersedia minuman segar dari es teh manis, softdrink, kelapa muda dan aneka jus.

  • Menu Andalan: Tumis Genjer
  • Jam Buka: 09.00 – 21.00
  • Alamat Lokasi: Jl. Raya Gunung Cupu no.175, Sindang Kasih – Ciamis Telp. (0265) 326184

[alert style=”white”]wisatakuliner.com[/alert]

Peta Wisata Pangandaran

Peta Wisata Pangandaran

Banyak sekali object wisata yang menjadi tujuan wisata dikala kita ke Pangandaran. Beberapa informasi terkait wisata di pangandaran diantaranya sebagai berikut :

Pantai Karang Tirta
Objek wisata ini terletak di Desa Sukaresik Kecamatan Sidamulih ke arah Batu Hiu belok kiri. Di objek wisata ini pengunjung selain dapat menikmati keindahan alam juga melakukan rekreasi berupa bersampan,memancing dan berkemah.

Pantai Madasari
Terletak di Dusun Madasari Desa Masawah Kecamatan Cimerak Kabupaten Ciamis, sekitar 40 km dari Pantai Pangandaran, atau sekitar 10 km dari Pantai Batukaras.Meupakan obyek wisata yang masih perawan..

Citumang Pangandaran
Obyek wisata alam Citumang merupakan obyek wisata yang memiliki daya tarik khusus, yaitu sungai Citumang yang mengalir membelah hutan jati dengan airnya yang bening kebiruan. Tepian sungai yang terdiri dari ornamen….

Pantai Batu Karas
Pantainya yang landai dengan air laut tenang nan biru menanti Anda untuk segera berenang menikmati airnya yang segar.

Pantai Batu Hiu
Sebuah pantai dengan tebing cukup terjal yang memiliki pemandangan lepas kearah samudra hindia. Batu hiu berjarak sekitar 14 km dari pangandaran sebagai objek wisata pilihan ketika anda datang ke Pangandaran.

Cukang Taneuh ( Green Canyon)
Jika merasa terlalu jauh berkunjung ke Grand Canyon yang ada di Amerika sana, sekarang Anda tidak perlu terlalu kecewa lagi. Indonesia ternyata juga memiliki Green Canyon sendiri yang tak kalah cantiknya. .

Pangandaran Waterpark
Pangandaran yang selama ini sudah menjadi primadona pariwisata pulau Jawa, akan bertambah ramai dikarenakan ada penambahan Wahana Baru yaitu Water Park Pangandaran.

Cagar Alam Pananjung
Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam Pangandaran semula merupakan tempat perladangan penduduk. Tahun 1922, ketika Y. Eycken menjabat Residen Priangan, diusulkan menjadi Taman Buru..

Pantai Pangandaran
Objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis.

Pantai Karang Nini
Di pantai ini terhampar batu-batu karang yang salah satunya menyerupai seorang nenek (nini dalam bahasa Sunda) yang sedang menunggu si kakek, sehingga tempat ini dinamakan Pantai Karangnin.

Pantai Karapyak
ADA sejumlah objek wisata pantai di Kabupaten Ciamis selain Pantai Pangandaran dan Pantai Batu Hiu. Namun pantai ini sangat jarang diperhatikan masyarakat apalagi pemerintah..

Pantai Keusik Luhur
Merupakan perpaduan antara alam pegunungan dengan panorama pantai. Dari sebuah bukit kita bisa menyaksikan bergeloranya samudra Indonesia dengan gelombang laut selatan menghempas karang, sehingga buih-buih putih birunya laut .

Peta Wisata Pangandaran

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com[/alert]

Tarif Masuk Object Wisata Ciamis

Tarif Masuk Object Wisata Ciamis

Berikut adalah beberapa informasi tarif/biaya masuk beberapa object wisata yang ada di kabupaten ciamis berdasarkan PERDA NOMOR 9 TAHUN 2003

1. OBJEK WISATA SITU LENGKONG PANJALU :

  • a. Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 2.500,-
  • b. Pejalan Kaki 5(lima) Orang Rp. 12.500,-
  • c. Pejalan Kaki 10(sepuluh) Orang Rp. 25.000,-
  • d. Pejalan Kaki 20(duapuluh) Orang Rp. 50.000,-

2. OBJEK WISATA KOLAM RENANG TIRTAWINAYA

  • a. Tiket Masuk untuk Anak-anak Rp. 2.000,-
  • b. Tiket Masuk untuk Dewasa Rp. 2.500,-

3. OBJEK WISATA KARANGKAMULYAN

  • a. Tiket Masuk Pejalan Kaki Rp. 1.500,-

4. OBJEK WISATA PANGANDARAN

  • a. Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 2.500,-
  • b. Sepeda Motor Rp. 5.900,-
  • c. Kendaraan Jenis Jeep/Sedan Rp. 14.200,-
  • d. Kendaraan Jenis Carry Rp. 27.200,-
  • e. Kendaraan Penumpang Besar Rp. 40.200,-
  • f. BUS Kecil Rp. 52.700,-
  • g. BUS Sedang Rp. 79.500,-
  • h. BUS Besar Rp.130.500,-

5. OBJEK WISATA BATU HIU

  • a. Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 2.500,-
  • b. Sepeda Motor Rp. 5.900,-
  • c. Kendaraan Jenis Jeep/Sedan Rp. 14.200,-
  • d. Kendaraan Jenis Carry Rp. 27.200,-
  • e. Kendaraan Penumpang Besar Rp. 40.200,-
  • f. BUS Kecil Rp. 52.700,-
  • g. BUS Sedang Rp. 79.500,-
  • h. BUS Besar Rp.130.500,-

6. OBJEK WISATA CUKANG TANEUH (GREEN CANYON)

  • a. Tiket Perahu/Parkir Rp. 57.500,-
  • b. Tiket Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 12.500,-

7. OBJEK WISATA BATU KARAS

  • a. Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 1.500,-
  • b. Sepeda Motor Rp. 3.900,-
  • c. Kendaraan Jenis Jeep/Sedan Rp. 9.200,-
  • d. Kendaraan Jenis Carry Rp. 17.200,-
  • e. Kendaraan Penumpang Besar Rp. 22.200,-
  • f. BUS Kecil Rp. 32.700,-
  • g. BUS Sedang Rp. 49.500,-
  • h. BUS Besar Rp. 80.500,-

TARIF KELAS I

OBJEK WISATA PANGANDARAN dan BATU HIU

NO. JENIS KENDARAAN TARIF RETRIBUSI OBJEK WISATA RETRIBUSI PARKIR RETRIBUSI SAMPAH PREMI ASURANSI RETRIBUSI KENDARAAN JUMLAH
1. Pejalan Kaki Rp     1.800,00

Rp       200,00 Rp        500,00

Rp       2.500,00
2. Sepeda Motor Rp     3.600,00 Rp     400,00 Rp       400,00 Rp     1.000,00 Rp       500,00 Rp       5.900,00
3. Sedan/Jeep Rp     9.000,00 Rp     700,00 Rp    1.000,00 Rp     2.500,00 Rp    1.000,00 Rp     14.200,00
4. Mobil Penumpang Sejenis Rp   18.000,00 Rp     700,00 Rp    2.000,00 Rp     5.000,00 Rp    1.500,00 Rp     27.200,00
5. Mobil Penumpang Besar Rp   27.000,00 Rp     700,00 Rp    3.000,00 Rp     7.500,00 Rp    2.000,00 Rp     40.200,00
6. Bus Kecil Rp   36.000,00 Rp      700,00 Rp    4.000,00 Rp    10.000,00 Rp     2.000,00 Rp      52.700,00
7. Bus Sedang Rp   54.000,00 Rp  1.500,00 Rp     6.000,00 Rp    15.000,00 Rp     3.000,00 Rp      79.500,00
8. Bus Besar Rp   90.000,00 Rp   1.500,00 Rp   10.000,00 Rp    25.000,00 Rp     4.000,00 Rp    130.500,00

TARIF KELAS II
OBJEK WISATA BATU KARAS – SITU LENGKONG PANJALU
KARANGKAMULYAN – GOA DONAN – KOLAM RENANG TIRTAWINAYA

NO. JENIS KENDARAAN TARIF RETRIBUSI OBJEK WISATA RETRIBUSI PARKIR RETRIBUSI SAMPAH PREMI ASURANSI RETRIBUSI KENDARAAN JUMLAH
1. Pejalan Kaki Rp        800,00

Rp       200,00 Rp        500,00

Rp       1.500,00
2. Sepeda Motor Rp     1.600,00 Rp     400,00 Rp       400,00 Rp     1.000,00 Rp       500,00 Rp       3.900,00
3. Sedan/Jeep Rp     4.000,00 Rp     700,00 Rp    1.000,00 Rp     2.500,00 Rp    1.000,00 Rp        9.200,00
4. Mobil Penumpang Sejenis Rp     8.000,00 Rp     700,00 Rp    2.000,00 Rp     5.000,00 Rp    1.500,00 Rp     17.200,00
5. Mobil Penumpang Besar Rp     9.000,00 Rp     700,00 Rp    3.000,00 Rp     7.500,00 Rp    2.000,00 Rp     22.200,00
6. Bus Kecil Rp   16.000,00 Rp      700,00 Rp    4.000,00 Rp    10.000,00 Rp     2.000,00 Rp      32.700,00
7. Bus Sedang Rp   24.000,00 Rp  1.500,00 Rp     6.000,00 Rp    15.000,00 Rp     3.000,00 Rp      49.500,00
8. Bus Besar Rp   40.000,00 Rp   1.500,00 Rp   10.000,00 Rp    25.000,00 Rp     4.000,00 Rp      80.500,00

TARIF KHUSUS OBJEK WISATA CUKANG TANEUH (GREEN CANYON)

NO. JENIS KARCIS TARIF MASUK PREMI ASURANSI JUMLAH
1. Satu Perahu untuk 5 orang (di luar biaya sewa)   Rp   12.000,00

Rp  500,00

  Rp    12.500,00
2. Sewa Perahu untuk 5 orang   Rp   19.000,00

Jumlah

  Rp   31.500,00

Sumber: Brosur “Sekilas Pandang Kepariwisataan di Kab. Ciamis Jawa Barat”,  Berlaku mulai 1 Mei 2003

[alert style=”white”]sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ciamis, SMKN 1 Ciamis[/alert]

Museum Nyamuk, Kabupaten Ciamis

Museum Nyamuk, Kabupaten Ciamis

Selintas Museum

Museum Nyamuk berada di komplek perkantoran Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (Litbang P2B2)-Ciamis. Museum ini milik Departemen Kesehatan dan merupakan museum nyamuk satu-satunya di Indonesia yang memilliki berbagai fasilitas agar masyarakat waspada akan bahaya nyamuk. Penggagas pertama kali pendirian Museum Nyamuk adalah Sugiono, saat menjabat sebagai Kepala Loka Balitbang P2B2 Ciamis.

Berlatar belakang pemikiran bahwa penyakit menular dengan vektor nyamuk hingga kini masih menjadi beban berat bagi sebagian besar negara tropis termasuk Indonesia. Penyakit-penyakit menular melalui gigitan nyamuk seperti demam berdarah dengue, malaria, filariasis dan chikungunya masih endemis di banyak daerah di Indonesia dan merenggut ribuan jiwa setiap tahun. Karena itu, masyarakat Indonesia harus disadarkan akan keberadaan dan bahaya nyamuk.

Museum Nyamuk dibangun di atas tanah seluas 2.000 m2 dan dilengkapi fasilitas lainnya seperti  Gedung Sinema (teater Nyamuk), ruang multimedia, dan ruang Cinderamata, yang pembangunannya selama 3 tahun dari tahun 2006-2008. Museum ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan  pada tanggal 19 Agustus 2009. Diresmikannya Museum dan Theater Nyamuk diharapkan dapat menjadi ikon wisata ilmiah Litbangkes dan dapat mempermudah akses hasil Litbangkes agar penelitian yang dilakukan selama ini berhasil dan berdaya guna.

Keberadaan Museum Nyamuk ini setidaknya dapat membantu masyarakat yang ingin mengetahui dan mempelajari tentang nyamuk secara menyeluruh. Pengunjung dapat mengenal berbagai fase perkembangan nyamuk. Juga contoh-contoh specimen genus mulai dari Aedes aegepty, nyamuk penyebar demam berdarah, hingga nyamuk Culex quin-ques-fast-ciatus, penyebar penyakit kaki gajah. Museum Nyamuk juga menyediakan film dokumenter tentang siklus kehidupan nyamuk.

Museum dan teater nyamuk ini selain sebagai wisata pendidikan untuk anak-anak juga bersifat promotif untuk meningkatkan perilaku hidup sehat. Museum wisata ilmiah ini juga dilengkapi dengan sarana penunjang insektarium, laboratorium entomologi, parasitologi, farmakologi dan virology, laboratorium uji Insektisida, perpustakaan dan tanaman obat anti malaria dan pengusir nyamuk (Tompen). Mosquito Theatre atau Teater Nyamuk merupakan ikon Wisata Ilmiah Litbangkes yang keberadaannya tidak lepas dari kegiatan workshop yang diselenggarakan atas kerjasama Badan Litbangkes dengan Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Koleksi Museum

Museum ini memiliki sekitar 80 koleksi nyamuk vector penyebar penyakit asal dari Indonesia. Koleksi museum dibagi dalam 6 genera, yaitu: Aedes, Culex, Anopheles, Mansonia, Armigeres dan Toxor. Masing-masing genus terdiri dari spesimen, stadium telur, larva, pupa dan nyamuk selain itu juga dilengkapi koleksi tanaman pengusir nyamuk dan tanaman obat untuk gejala penyakit yang dibawa nyamuk.

Alamat

Jalan Raya Pangandaran Km 3 Pangandaran Kab. Ciamis 46396,
Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat.
Telp. ( 0265)  639375
Email : lokaciamis@litbang.depkes.go.id

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

Video: Sasak Cirahong

Video: Sasak Cirahong

Sasak Cirahong, Jembatan sepanjang 200 meter ini melintang di atas Sungai Citanduy, menghubungkan Kecamatan Ciamis dan Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Jembatan ini berfungsi ganda, di bagian atas merupakan jembatan kereta api, sementara di bagian bawah sebagai jalan raya.

[alert style=”white”]Uploaded by on Apr 5, 2011[/alert]

Nyangku di Panjalu, Pencucian Benda Pusaka

Nyangku di Panjalu, Pencucian Benda Pusaka

Rangkaian kegiatan tradisi “Nyangku” adalah membersihkan benda pusaka peninggalan Raja Panjalu setelah melakukan ziarah ke makam Prabu Hariang Kencana putra dari Hariang Borosngora Raja Panjalu yang dimakamkan di Situ Lengkong, Panjalu.

[alert style=”white”]Foto: kaskus[/alert]

“Ngikis” di Karangkamulyan

“Ngikis” di Karangkamulyan

SIANG itu, pengunjung kawasan objek wisata Situs Karangkamulyan, Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, lebih banyak daripada hari biasanya. Rupanya, selain ramai dikunjungi warga yang hendak munggahan (makan bersama menjelang masuknya bulan puasa), situs Karangkamulyan juga didatangi warga yang tengah menggelar tradisi tahunan Ngikis.

Ngikis ini merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang yang sudah berlangsung sejak abad ke-17, yang dilaksanakan setiap Senin atau Kamis terakhir menjelang masuknya bulan puasa,” ujar Endan Sumarsana (60), kuncen Situs Karangkamulyan, Senin (16/7).

Secara harfiah, kata Endan, tradisi ngikis ini merupakan upacara ritual mengganti pagar yang mengelilingi pangcalikan, batu petilasan yang dipercaya sebagai singgasana raja-raja Kerajaan Galuh Purba.

“Dulu, warga dari setiap dusun yang ada di Desa Karangkamulyan membawa pagar bambu untuk mengganti pagar pangcalikan yang sudah lapuk atau sudah rusak. Bambu tersebut dipasang secara bergotong royong,” ujar Endan, yang sudah 34 tahun menjadi kuncen Situs Karangkamulyan.

Warga dari berbagai dusun di Desa Karangkamulyan tersebut tak hanya membawa bambu yang siap dipasang jadi pagar, tetapi juga disertai dengan ibu-ibu yang membawa nasi lengkap dengan lauk- pauknya. Jadi, setelah memasang pagar, digelar makan bersama di pelataran pangcalikan.

Meski sekarang pagar pangcalikan tidak lagi berupa bambu, tapi sudah diganti dengan pagar besi dan cor beton, tradisi Ngikis tetap berlangsung. Tradisi mengganti pagar itu diganti dengan mengganti cat pagar.

Setelah lantuan ayat suci Alquran dan doa bersama, pengecatan pertama sebagai tanda dimulainya ritual Ngikis tersebut dilakukan oleh Wabup Ciamis Drs H Iing Syam Arifin MM, Kepala Keraton Pajajaran Rd Roza R Mintareja, kemudian dilanjutkan oleh Camat dan Muspika Cijeungjing, Kades Karangkamulyan, dan tokoh masyarakat setempat.

Seusai pengecatan pagar pintu masuk secara simbolis tersebut, warga pun saling bersalam-salaman. Kemudian ratusan warga yang sejak semula mengikuti upacara tradisi Ngikis tersebut menutup ritual dengan makan bersama. Menyantap nasi tumpeng atau nasi serta lauk-pauk yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing.

“Setiap tahun saya ikut tradisi ini. Dulu waktu masih kecil ikut orang tua. Tetapi sekarang setelah punya anak, ya ke sininya dengan anak-anak. Ikut ngikis sekalian munggahan,” ujar Aisah (30) sembari merangkul kedua anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD sebelum menyantap nasi dan lauk- pauk yang dibawa dari rumah.

“Tradisi ini secara turun-temurun dari orang tua ke anak-anaknya begitu terus  berlangsung setiap menjelang masuknya bulan puasa. Ke mana pun warga Karangkamulyan merantau, takkan pernah lupa dengan Ngikis,” tutur Endan.

Nilai filosofi yang hendak diwariskan para leluhur Galuh Karangkamulyan lewat tradisi Ngikis ini, kata Endan, adalah mengingatkan anak-cucu agar selalu memagari hati, menjauhkan perbuatan-perbuatan yang bakal membatalkan puasa. Kemudian juga menjaga hati agar selalu jauh dari sifat iri dan dengki serta dari keserakahan. Ketika akan memasuki bulan suci Ramadan, sesama warga saling memaafkan, mengikis dosa-dosa yang pernah diperbuat.

Nama Kerajaan Galuh, kata Endan, berasal dari kata galeuh, yakni hati, sesuatu yang berada di tengah-tengah. Itulah nama kerajaan besar di Tatar Pasundan yang berkuasa pada abad ketujuh, yakni Kerajaan Galuh Purba, yang berpusat di Karangkamulyan, yang berarti tempat yang mulia.

Peninggalan sejarah Kerajaan Galuh tersebut sampai sekarang masih terjaga baik, berupa hutan cagar budaya seluas 25 hektare yang berada di sisi jalan raya Ciamis-Banjar diapit pertemuan Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy.

Tak hanya Pangcalikan, tetapi ada juga Panyandaan, Pamangkonan, Sang Hiyang Bedil, makam Adipati Panaekan, Cikahuripan, Patimuhan, dan sebagainya.

Wakil Bupati Ciamis Drs H Iing Syam Arifin pada sambutannya berharap, tradisi Ngikis yang sudah berlangsung berabad-abad ini selalu terjaga dan jangan sampai terkikis oleh kemajuan zaman.

“Ciamis boleh jadi merupakan daerah di Jabar yang paling banyak memiliki situs dengan tradisi-tradisinya. Maklum Ciamis merupakan daerah peninggalan Kerajaan Galuh mulai dari Galuh Purba, Galuh zaman Hindu-Buddha, sampai Kerajaan Galuh setelah masuknya agama Islam,” ujar Iing.

Beberapa tradisi warisan nenek moyang yang terperlihara sampai sekarang, kata Iing, antara lain Ngikis di Karangkamulyan, Nyangku di Panjalu, Nyipuh di Ciomas, Nyuguh di Kampung Adat Kuta, Misalin di situs Salawe Cikawung, Bojongmengger, Merlawu di Situs Susuru Kertabumi, hingga hajat laut di pesisir pakidulan Ciamis. Semua tradisi tersebut berkaitan dengan bulan Maulud atau menjelang puasa.

[alert style=”white”]jabar.tribunnews.com [/alert]

Lumar-lumar ti Kawali

Lumar-lumar ti Kawali

Bus asup ka situs Astana Gedé. Bras anjog ka tabét leuweung karamat Surawisésa. Jalma-jalma nu tadi gumuruh di luar, jep jarempé bangun kasima ku leuweung nu canéom geueuman. Ukur tingharéwos, silih tuyun silih séréd. Aya hawa nu nyaksrak saawak-awak. Asa cunduk ka bihari. Asa aya nu narangtung tanpa wujud. Nareuteup ngabagéakeun, di lebah saung-saung Cungkup nu hening jarempling. Nu apal mah tangtu moal bireuk deui. Terang lebah-lebahna. Tah, lebah dinya aya Linggabingba atawa Batu Panyandaan. Lebah ditu Linggahiang, Batu Eunteung, Batu Palinggih, Batu Tapak jeung Batu Prasasti. Kabéh minangka titinggal, nu jejem nyidem sajarah.

Ka dinya digiringna ku panitia, ratusan jalma nu rék milu ‘nyiar lumar’ téh, ka puseur tabét nu dilingkung batu-batu buhun. Dua acara poko digelar di dinya, Tawasulan jeung Maca Fiksimini dina tempat anu misah, rada paanggang. Tawasulan minangka adat tatali paranti, sanduk-sanduk ka karuhun nu sumaré di Astana Gedé, sangkan pamaksudan lungsur-langsar.

Di tengah jalan pantia méré isarah, misahkeun rombongan. Réngréngan fikminer ti Bandung mah tuluy dipéngkolkeun, sina langsung ngajugjug panggung nu husus disadiakeun ku pantia pikeun acara maca fiksimini. Jog ka hiji lahan. Bréh panggung agréng pisan. Panggung kai nu undak-undakan, diréka pohara artistikna. Lével undakna dibungkus ku kaén satén, semu ngempur ngaborélak. Dina latar tukangna, kénca-katuhu, aya gugunungan sarua tina kaén satén. Ngahapit lampion nu ngagantung di béh tengah. Aya kaén beureum dua kebat. Aya obor, lilin beureum, jeung damar-damar duwegan nu harurung di panggung jeung sakurilingna. Komaraan. Dangiangan. Panggung pangistiméwana ceuk uing mah, tina sakabéh panggung nu aya dina Nyiar Lumar ayeuna.

Balaréa nu haladir hémpak dariuk hareupeun panggung. Sawaréh narangtung di gigir, kénca-katuhu. Rempeg pisan, malah rada pasesedek. Awor antara para pangarang fikmin jeung tatamu nu rék ngadon lalajo. Loba di antarana para mahasiswa ti fakultas sastra nu haladir téh, para seniman, aktivis téater, jeung wartawan. Ari ti kalangan sastrawan, nu minangka kawilang senior, salian ti Kang Godi Suwarna téh aya Kang H.Usép Romli HM deuih, pangarang anu kakara kaayeunakeun kataji milu nulis fiksimini. Kaméra vidéo geus sayaga deukeut panggung. Ti Radar TV jeung Galuh TV cenah nu ngahaja ngaliput. Tegep, cek haté, ieu acara bakal aya dokuméntasina. Ukur saratus urang kira-kira para fikminer nu hadir bisa nyaksian éta acara. Tapi dokuméntasina bakal bisa dilalajoanan ku 2.953 anggota FBS jeung nu liana.

Maca fikmin can prung dimimitian. Aya haréwos ti panitia, majar kudu nunggu réngsé heula nu tawasul. Panggung kosong, tapi angger dangiangan. Damar renclang, hurung tinggalebur ngaliarkeun haseup hideung. Kalacat Kang Uyuh ka panggung, mawa rebab, suling, jeung tarompét. Teu apal naha diharéwosan ku pantia atawa caang haté baé, hayang ngahirupkeun suasana. Nu puguh barang kadéngé sada rebab melas-melis, kaayaan sabudeur panggung ahéng naker karasana. Nu ngarebab ngeluk tungkul. Kang Uyuh. Bangun ngemat sora lawas nu ngagelik lalaunan. Sora buhun nu nyérését ti dasaring batin. Aeu-aeu…dina lelembutan uing bet asa ngadéngé sora beluk ngalanglaung ti jauhna, biheung ti lebah mana.

Keur kitu jol saabringan panitia nu dijarubah bodas cunduk, tas tawasulan. Jen nu nyekel iteuk Kembang Cakra nangtung rada anggang ti panggung. Ka dinya uing mah nénjo téh, ka palebah kembang cakra. Asa teu seubeuh neges-neges. Wangunna buleud maké eluk kembang sahinasna, bodas nyacas, di tengahna aya tanda cakra. Kawas eunteung disidik-sidik mah. Eunteung ti bihari nu jadi pangeunteungan kiwari. Paeunteung-eunteung di dieu. Bihari jeung kiwari. Rét deui uing kana kembang cakra, lambang kaagungan Nagri Galuh, rét ka panggung keur macakeun fiksimini, bet tuluy inget kana komén Kang Tatang Sumarsono, “sina pateungteung antara bihari jeung kiwari” cenah. Hanjakal Kang Tatang bet teu nyaksian kaayaan ayeuna, cek haté. Di dieu di tempat karamat, nu dilingkung Linggahiang jeung Batu Eunteung, tempat reureuh Prabu Linggabuana jeung Putri Citraresmi, rék dibacakeun fiksimini. Rék disorakeun wangun anyar sastra Sunda nu keur melentis laun-laun, rék hirup ngigelan abad kiwari.

Henteu ukur dilataran ku tempat karamat. Saméméh prung maca fiksimini, aya pedaran sajarah Galuh jeung peristiwa Perang Bubat. Pa Daday nu ngaguarna, sesepuh urang dinya, kuwu manten di Kawali. Kaasup acara poko dina saban Nyiar Lumar medar sajarah Galuh téh. Nu dipalar sangkan nu cunduk ka situs henteu ukur nénjo batu tingjarentul. Nanging terang kumaha lalakon baheula. Sajarah nu natrat tur aya tapakna dina batu prasasti: “Nihan tapa kawali nu siya mulya tapa bagya. Prébu Raja Wastu mangadeg di kuta kawali nu mahayu na kadatuan Surawisésa. Nu marigi sakuriling dayeuh nu najur sagala désa. Aya ma nu pandeuri pakéna gawé rahayu, pakeun heubeul jaya di buana.” Ti dinya mata holangna, tina aksara nu natrat dina Prasasti Kawali, pedaran Pa Daday téh. Henteu papanjangan, diala tingkesna baé. Nyaritakeun Prabu Wastu Kancana nu ngaheuyeuk Nagri Galuh, sanggeus ramana Prabu Linggabuana, Citaresmi, jeung para prajuritna tariwas di tegalan Bubat. “Tah lebah dinya lebu sucina dipendem. Maranéhna tiwas nandonkeun raga, pikeun mélaan kahormatan nagri Sunda.” Pa Daday mungkas pedaran. Deg aya nu neumbag kana angen.

Kalacat Dadan Sutisna ka panggung. Kang Wawan Husin nu ti barang jol lir kasima ku hawa panggung, kaciri bangun kebek rarasaan. Leuleumpangan. Sut ngadurukan kertas. Gur seuneu dina kertas, digigiwing. Ang Abu Ainun ngajanteng bari memener fokus kaméra. Hareupeun panggung, Kang Godi, Kang Usép Romli, Kang Entjép Sunardi, jeung para fikminer séjénna geus dariuk saregep. Ngong Dadan, muka jeung ngajejeran acara. Teu papanjangan. Nétélakeun naon ari fiksimini sabéngbatan, tuluy nataan saha-sahana nu rék midang maraca fikmin di panggung. Yuséf Muldiyana nu dihaturan pangheulana. Ngahaja, kitu badami ti anggalna, sangkan aya daya tarik keur nu nongton. Ang Yusép aktor téater sohor, matak deungdeuleueun basa harita ngajeprut maca fikmin di YPK. Enya baé ngalacat ka panggung téh matak colohok nu nénjo. Papakéan tegep naker. Maké jubah, maké pangsi jeung iket, bari mébérkeun kaén hideung. Kawuwuh ku tangtungan jangkung badag, bréh dina implengan uing, asa nénjo Rakéan Gempong Lotong, ponggawa kapetengan Sang Prabu dina novel Perang Bubat. Dipirig ku gelik rebab. Ang Yuséf. Ngéktingna dienyakeun. “Sampurasuuuunn…!” pokna ngagorowok nukangan nu nongton bari ngageberkeun kaén hideung, nalar fikmin “Nu Sumping Na Tengah Wengi” karya Nana Sukmana. Hirup pisan katénjona, hut-hét pepeta ngajeprut.

Kang Irman ngalacat. Gék diuk, ayem naker. Buuk gondrong, iketna dibeubeurkeun kana tarang. Sampingna disampaykeun dina beuheung. Tegep naker ieu ahli tanaga dalam téh, asa nénjo Kiyai Aang Nuh ajengan hikmat ti Cianjur. Rét neuteup ka hareup, ka lebah Batu Pangeunteungeun, kawas aya nu katénjo. Gorolang maca fikmin “Taneuh Kuburan”, ngedalkeun geter-geterna ka nu tingtrim sumaré mangabad-abad, Putri Citraresmi. Rebab masih ngagelik, Kang Uyuh nu ngésétna peureum beunta di béh tukang, tingsariak.

Kalacat Déwi Ratna Damayanti. Dikabaya bodas, disamping pashmina héjo nu meulit dina cangkéng. Tapi ka handapna dicalana jean. Kontras tapi payus jeung watekna nu ‘kancolah’. Nyurup jeung fikminna nu ‘garalak’. Enya baé, peuting harita gé Maya motah, gogorowokan macakeun fikmin petinganana “Direcah Ajag”. Matak reuwas nu nénjo. Teu nyangka, Maya horéng bisa macakeun karyana ku éksprési dirina nu sahinasna tapi luar biasa. Réngsé éta, Kang Iwan Hanjuang anu naék ka panggung. Béda ti sasari, ayeuna mah teu bari mamawa gitar. Moal henteu éraeun ku karuhun. Piraku kudu ngagembrung hihitaran di hareupeun batu buhun. Tegep pisan da papakéanana ogé, pangsi-kamprét hideung, diiket Baduy, bari nyampaykeun sarung dina beuheung. Gorowok maca fikmin. Daria riukna jeung pepetaanana. Kang Iwan. Peuting harita lain musisi nu kancolah sok nakolan drum jeung simbal, tapi pangarang nu keur nyoarakeun haténa ka balaréa.

Nana Sukmana nu kungsi pok ka uing, majar teu ludeung maca fikmin, harita mah bangun kahudang ku suasana. Koréjat, jén, gorowok maca fikmin. Rada motah deuih, da bari téténjrag sagala rupa. Panggung tepi ka ngagebros. Ditéma ku Téh Tiktik Rusyani. Gék dina biwir panggung. Kalem naker, teu seueur peta, tapi karasa weningna. Tuluy Darpan. Ieu pangarang nu geus lila kasohor ku carpon-carponna nu platonis téh peuting harita gé macakeun fikmin ‘Kebon Awi’, serial fikmin kayasanana. Sanggeus Darpan, tuluy Didin Tulus, Babéh Irawan, jeung Rin Candraresmi. Ang Didin nu tegep diiket, maca henteu loba peta, tapi tetep genah katénjona. Ang Babéh mah rada béda, petana leuwih éksprésif. Matak kayungyun ti harita, basa inyana maca fikmin bari ngadapang di YPK. Rinrin gé kawilang motah, abong tukang ngékting. Atraktif, maké dadapangan sagala di panggung! Rinrin macakeun fikmin Kang Entjép Sunardi — pangarang fikmin nu nuju ginulur bagja, sabab antologi fikminna geus medal jadi buku. Buku fikmin anu munggaran dina sastra Sunda!

Nu lalajo angger hémpak. Damar masih tinggalebur. Angin peuting laun ngahiliwir, sumélékét tina dangdaunan, tina tatangkalan, ti lebah Batu Pangeunteungan. Beuki peuting beuki anteb suasana. Karasa aya nu keur anteng patepung, bihari jeung kiwari! Kalacat Nunu Nazarudin, admin nu munggaran naratas lapak FBS. Jep jarempling. Uing gé tanggah, asa aya nu nyiak. Lain Nunu nu katénjo, tapi hiji lawang gapura, nu muka ngagemblang di kajauhan. Tapi Nunu rinéh naker katénjona. Henteu medar lalakon muka lapak FBS. Kalah ngedalkeun fikmin anyar “Sapada Sajak” nu can dipostingkeun, pokna. Siga kakara harita kapikirna, da bangun ditalar. Ieu fikmin, ceuk uing, karasa nyéngcélakna. Siga lumar! Lumar nu rék pada néangan peuting harita, nu teu kaimpleng biheung di lebah mana ayana. Ungkarana, galur carita jeung suasana, pohara puitikna. Kieu Ang Nunu pokna ngedalkeun éta fikmin:

“Kataji ku tulisan na prasasti, nu batuna diteundeun di alun-alun karajaan, Ki Jangkaru gilig hayang bisa nulis. Manéhna diajar ka Ki Swarna Godisatva. Bujangga nagara. Bubuhan pamuda calakan, Ki Jangkaru téréh pisan bisana. Malah terus meunang pancén ti guruna, nyalin sajak haturkeuneun ka Sang Ratu. Basa guruna ngadeuheus ka karaton, manéhna milu. Bet kalah jiga nu nyiar pipanyakiteun, di karaton parérét jeung mojang nu imutna terus bumetah na pikiran. Ngalangkangan kamana nya ringkang miang. Jadi mangrebu sajak dina lontar nu ngahunyud di kamarna. “Katresna nu pamohalan, tapi agung darajatna, Pitaloka,” gerentesna, basa bulan mabra nyaangan sisi tabet nu arang kasaba jalma. Di dinya manéhna natahkeun sapada sajak na batu, masrahkeun prasasti kingkin ka mangsa nu baris mulasara asihna. Manéhna sorangan laju ngalalana ka jauhna. Batu nu ditinggalkeunana, ratusan taun ti harita, teu eureun ditalungtik ku para ahli aksara kuna, di hiji rohang musieum, nu teu weléh alum….”

Nu nongton surak ngaguruh. Uing ngarahuh. Ngarénghap jero naker. Karasa aya nu nyelek dina tikoro. Tuluy bagéan uing ka panggung, saméméh dipungkas ku Kang Godi. Geus ngageter ti anggalna, ti barang sup ka Astana Gedé. Basa jeg nangtung di dinya gé, gigireun panggung, geus ngahariring baé dina haté, ngalagukeun beluk buhun. Saméméh ngalacat ka panggung, ceg uing nyokot dua damar duwegan. Saharita kapikirna, teu diajam ti anggalna. “Kahaturkeun ieu fikmin ‘Sarébu Lumar’ keur Godi Suwarna!”, cek uing bari nanggeuy damar. Rebab Kang Uyuh nyérését deui ngagerihan peuting simpé. Uing tuluy ngalaeu ngahariringkeun fikmin.

“….aya lumar, lumar ngalempur ‘na batu waktu. Pelak sukmaning karuhun. Ini pakeun urang ngrétakeun bumi lamba. Caang Jalan. Panjang tajur! Jep inyana jempling. Dangdaunan tarumungkul ngabandungan. Akar jeung kalakay taranggah. Ieu lumar terus hurung ti abad ka abad.Ruy di Galuh ray di Pajajaran..Sang amaca maka suka. Sang nurut ma ujar rahayu ngaregep cipta nirmala. Ini kawuwusan siksakandang karesiyan! Jep deui. Leuweung jempling beuki ahéng. Cag lumar ditunda ‘na batu lémpar. Laju renclang nyaliara. Sarébu lumar. Ngempur nandingan purnama! Terus hurung nurut catur. Ang-eung jadi sora di jalan di pasampangan. Hak-heuk jaradi ungkara dina leunjeuran carita. Peuting ieu, rébuan lumar marakbak nyaangan jalan sorangeun. Tinggarenyay jadi kecap jeung kalimah. Ngalempur dina jajantung. Nu laleumpang ‘na muara pajamanan…”

Kang Godi antaré naék ka panggung. Pada nganti ku saréréa. Papakéan sarwa bodas. Gék diuk dina panggung, kacaangan cahya damar reyem-reyem. Kawas supa lumar, cek haté. Salsé nakér katénjona. Saréréa moal henteu ngarep-ngarep Ang Prabu (kitu lalandian conggah ti saréréa) maca fikmin masterpiece-na serial “Tukang Parahu”. Henteu horéng, henteu hayang édun cara ilaharna anjeunna di panggung. Katingalna bangun ukur ngajejeman baé, ngagoongan. Ngajurung nu lian, nu sakitu harédédna maca fikmin. Uyuhan. Tanaga reujeung sorana apan geus dikorédaskeun di luhur panggung Ustrali. Najan kitu, dua fikmin nu dibacana “Dongéng ti Nagri Kedok” jeung “Fatal Atraction” dipirig sora tarompét Kang Uyuh, teu burung nyirep nu nongton. Kang Wawan Husin tuluy nyungsung bari angger nyekel obor kertas nu ngagebur. Ngajak turun ti panggung. Ngarangkul Kang Godi. Ngedalkeun pangwilujeng, “Wilujeng, God! Tilu puluh genep taun Godi makalangan dina sastra Sunda téh, lain waktu nu sakeudeung. Tohaga, God! Pieunteungeun keur nu lian, keur urang-urang!”

Acara maca fikmin lekasan. Saréréa cengkat, ngabring deui ka tempat séjén. Kang Uyuh nu keur bébérés pada ninggalkeun. Luak-lieuk tingsariak, asa aya nu marengan, cenah. Kang Irman gé sarua, tadi basa keur maca fikmin, ti lebah Batu Pangeunteungan sidik pisan aya némbongan samar-samar. Ngan inyana sorangan nu nénjo. Pameunteuna semu ngempur cahayaan, disiger emas semu héjo, tinggurilap. Nyerangkeun ka panggung.

Panggung geus kosong, simpé, pada ninggalkeun. Tapi asa kadéngé kénéh sora nu ngaliuh di dinya, tuluy ngaweuhan hawar-hawar ka jauhna. Uing ngaléngkah, milu ngaleut deui jeung nu lian. “Di mana ayana supa lumar téh? Naha urang bakal manggihan?” Ceuk nu tinggerendeng tukangeun. Uing jempling sajajalan. Mapay jalan nu ngembat dina poékna peuting, ka ditu ka palebah Cikawali…***

[alert style=”white”]referensi: http://www.pikiran-rakyat.com/node/196065[/alert]

Khas: Batik Ciamisan

Khas: Batik Ciamisan

Ciamis memiliki tradisi turun temurun dalam sejarah kerajinan batik. Ada yang menyebutnya sudah ada sejak Kerajaan Galuh berjaya. Tapi, yang pasti, ini sudah berlangsung sejak beberapa abad silam.

Batik Ciamis memiliki karakter dan corak batik yang berbeda dengan batik Garut dan Tasik. Batik ciamisan tampil sederhana tapi penuh wibawa. Kesederhaan ini tak lepas dari sejarah keberadaannya yang banyak dipengaruhi daerah lain, seperti ragam hias pesisiran dari Indramayu dan Cirebon. Selain itu, pengaruh batik nonpesisiran, seperti dari Solo dan Yogyakarta, tak kalah dominan.

Pengaruh dari wilayah pesisir dan nonpesisir yang berpadu dengan nilai-nilai budaya Sunda dan kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Ciamis melahirkan ragam motif batik ciamisan yang sesuai dengan gaya dan selera masyarakat setempat, bersahaja tetapi elegant. Alhasil, corak batik ciamisan tidak memiliki makna filosofi, perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu.

Penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat. Kesederhanaan itu tertuang dalam bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari Motif batik di daerah Ciamis antara lain rereng lasem, parang sontak, rereng seno, rereng sintung ageung, kopi pecah, lepaan, rereng parang rusak, rereng adu manis, kumeli, rereng parang alit, rereng useup, rereng jenggot, rereng peuteuy papangkah

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

Kujang akan Diajukan sebagai Kekayaan Budaya Dunia ke UNESCO

Kujang akan Diajukan sebagai Kekayaan Budaya Dunia ke UNESCO

Pemerintah provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat (Disparbud Jabar) diharapkan segera melakukan upaya untuk mendaftarkan kekayaan seni budaya tradisi Jawa Barat ke UNESCO. Senjata kujang menjadi salah satu dari 10 kekayaan seni budaya yang rencananya dalam waktu dekat akan diajukan ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

“Pemerintah sangat merespon setiap upaya yang dilakukan elemen masyarakat untuk menyelamatkan dan melestarikan seni budaya tradisi. Apalagi ada upaya bersama untuk mendaftarkan kekayaan seni budaya tersebut ke badan dunia (UNESCO),” ujar Staf Ahli Gubernur, Dede Maryana, dalam dialog Usulan Tim Gugus HAKI dan Bahan Usulan World Heritage Warisan Budaya Jawa Barat, Jumat (20/7) bertempat di Operation Room, kantor Disparbud Jabar.

Bahkan menurut Dede Maryana, Tim Gugus HAKI yang dibentuk Disparbud Jabar terdisi dari Prof. Yesmil Anwar, DR. Miranda Risang Ayu dan DR. Boeki Wikagoe, tidak hanya mendaftarkan kekayaan budaya tradisi ataupun masa lalu saja, tetapi juga temuan budaya pada jaman modern. “Selain Kujang, Topeng, Kendang dan juga jargon silih asah silih asih silih asuh, perlu untuk didaftarkan,” ujar Dede Maryana.

Dosen Seni Rupa ITB, Aris Kurniawan yang juga pernah meneliti kujang selama tujuh tahun, mengatakan bahwa kujang layang diajukan sebagai warisan budaya dunia. “Kujang bukan hanya dikenal sebagai perkakas ataupun senjata tapi juga simbol sebagaimana keris yang dibuat oleh empu,” ujar Aris.

Kujang dikatakan Aris, merupakan budaya luhur yang diciptakan masyarakat jaman dulu dengan proses sangat rumit dan waktu sangat lama. “Karenanya kujang sangat layang diajukan ke UNESCO sebagai kekayaan budaya dunia dari Jawa Barat,” ujar Aris.

Sementara DR. Miranda Risang Ayu, dati Tim Gugus HAKI Jabar, mengatakan bahwa pihaknya telah menyusun dan memilih 10 budaya yang akan diajukan sebagai kekayaan budaya dunia ke UNESCO. “Tapi karena setiap daerah hanya mendapat kesempatan mengajukan satu untuk diajukan maka kita akan mengajukan kujang diantara benda budaya yang sudah di inventarisir,” ujar Miranda.

Untuk mendapatkan pengakuan UNESCOpun, menurut Miranda bukan perkara mudah. Karena senjata kujang yang akan diajukan harus bersaing dengan daerah atau provinsi lain di Indonesia dan setelah itu bersaing dengan negara lainnya. (A-87/A-108)***

[alert style=”white”]referensi : http://www.pikiran-rakyat.com/node/196731 [/alert]