Bebegig Sukamantri Ciamis

Bebegig Sukamantri Ciamis

Bebegig meskipun seram, rambut gimbalnya yang tersusun dari bunga rotan yang disebut bubuai itu menyiratkan kecintaan pada alam semesta. Dalam bunga-bunga itu masih tersimpan ribuan benih rotan. Jika pemilik wajahnya berjalan dan menggerak-gerakkan rambutnya, ia bagaikan kupu-kupu yang mengisap sari bunga dan menebarkannya ke daerah lain.

Itu sebabnya, rambut lelaki seram itu tak pernah diganti ijuk atau benda lain karena dari rambut itulah ia menyimpan rahasianya menjaga alam.

Wajah seram itu adalah bebegig milik masyarakat Desa Cempaka, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis. Hingga kini masyarakat di bagian utara Ciamis masih menggunakan bebegig untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Para pembuat kedok atau topeng bebegig pergi ke makam untuk menemukan suasana seram. Pengguna akan menyimpan kedok bebegig di makam hingga tiga hari. Dari pemakaman umum itu ratusan orang keluar dan berarak-arak keliling desa. Bebegig akan ditinggalkan di makam khusus setelah acara selesai.

Racmayati mengatakan seni baru ngarumat merupakan berbagai seni tradisi di Ciamis yang kemudian dirangkai dan dipertontonkan. Dalam seni musik, metode itu disebut medley.

Masyarakat Desa Cempaka meyakini bebegig merupakan perlambang kemenangan. Sebab, pembuatan bebegig diilhami wajah Prabu Sampulur. Ia memusnahkan kejahatan dan meminta imbalan untuk menguasai Pulau Jawa. Kemenangannya dikenang dengan membuat kedok seperti wajahnya.

Seni tradisi ini spektakuler karena melibatkan banyak orang untuk arak-arakan. Selain itu, masyarakat dari muda hingga tua mau mengeluarkan uang sendiri sekitar Rp 250.000 untuk membeli bebegig. Itu sebabnya, tradisi khas Ciamis ini diangkat oleh para pembina kesenian dari STSI Bandung, yaitu Yuyus Supriatna, Racmayati Nilakusumah, dan Endi Ependi.

Rachmayati mengatakan seni bebegig kemudian diambil untuk melengkapi penciptaan seni baru Ciamis, yaitu ngarumat atau memelihara. Dalam seni ngarumat yang diciptakan selama delapan bulan pada tahun 2006 tersebut seni bebegig yang hanya diiringi musik kelotok, aksesori yang dikalungkan pada kerbau dan sapi, kemudian ditambah beduk marung dari Desa Buniseuri, Kecamatan Cipaku, Ciamis, sehingga kemudian disebut dugig atau beduk dan bebegig.

Kreasi dengan bebegig ditempatkan di akhir pementasan. Bebegig merepresentasikan penjaga lingkungan. Karena itulah masyarakat Ciamis yang agraris bisa menunjukkan kepada masyarakat lain hasil taninya yang melimpah, seperti ketupat dan galendo dari kelapa.

Sebelumnya, dalam rangkaian ngarumat juga ditunjukkan cara masyarakat memelihara alam dengan menebarkan benih. Penebaran benih diawali dengan parukuyan terbuat dari pelepah bunga kelapa kering yang dibakar dengan kemenyan. Pemegangnya mengibas-kibaskan parukuyan ke sekitar tempat penanaman benih. Dalam upacara ini juga dipertunjukkan Tari Sintung.

Penanaman benih diikuti upacara ritual nyangku dari Panjalu, Ciamis. Upacara ini dilakukan untuk mengambil air bersih dari sumber air.

Untuk menjaga yang sudah ditanam dan disiram, upacara dilengkapi tanjidor dari Buniseuri, Ciamis, sebagai kesenian untuk menjaga situasi. Kesenian karawitan ini menggunakan tabuh beduk, kendang, calung renteng, genjring, rebab, dan sinden. Mulanya seni ini dipakai orangtua yang sedang berjaga malam pada masa pendudukan Jepang. Untuk menghela rasa bosan dan mengantuk, dimainkan tanjidor.

[alert style=”white”]referensi: wisataciamis.com[/alert]

Museum Tambaksari Ciamis

Museum Tambaksari Ciamis

Selintas Museum

Pendirian Site Museum Tambaksari berawal dari sejumlah temuan fosil yang berasal dari wilayah ini. Tambaksari adalah desa kecil di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kisah temuan fosil-fosil yang tak terhitung jumlahnya di daerah itu sebelumnya adalah secara kebetulan. Bukan oleh arkeolog atau peneliti lainnya, melainkan ditemukan oleh sekelompok murid Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tambaksari yang dipimpin Darwa Hardiya Ruhyana, seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Fosil pertama ditemukan oleh siswa bernama Yayat Suryati, berupa potongan gigi besar binatang purba yang diperkirakan hidup antara satu-dua juta tahun lalu.  Sekolah tersebut menyimpan ratusan atau mungkin ribuan fosil vertebrata, mamalia, dan moluska. Ada fosil Proximal tibia (pangkal tulang kering gajah purba), Astragalus (tulang tumir I), Molat (M) atau geraham, Distal humerus (ujung tulang lengan), Stegodon Sp (gajah purba), dan banyak lagi. Bahkan karena begitu banyaknya, fosil-fosil tersebut pernah berserakan di lantai, meja laboratorium, dan sebagian lagi disimpan dalam karung.

Untuk penyelamatan  fosil tersebut, berbagai fihak berusaha membantu menyediakan tempat penyimpanan koleksi , diantaranya pihak Museum Geologi pada tahun 1996, menyusul Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTN) Yogyakarta, Balai Arkeologi Bandung, Pusat Pengembangan Geologi, yang saat itu bekerja sama dengan Universitas Tennessee dan Universitas Alabama, Amerika Serikat.

Situs Tambaksari dianggap sangat potensial, sebagai tempat temuan  fosil-fosil binatang purba, terutama di daerah yang terletak di Urug Kasang. Untuk upaya penyelamatan dan penyimpanan temuan fosil-fosil tersebut, maka Pemerintah Kabupaten Ciamis pada awal tahun 2001 berinisiatif membangun site museum yang dinamakan Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Tambaksari. Untuk pentaan koleksinya,  dibantu oleh Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Koleksi Museum

Koleksi yang tersimpan di Site Museum Tambaksari  terdiri atas (1) Fosil Hewan Kuda Nil (fosil rusuk, fosil sendi, fosil rahang, fosil gigi, fosil taring), (2) Fosil Hewan Gajag Purba (fosil tulang belakang, fosil tengkorak belakang, fosil kaki belakang, fosil rahang belakang, fosil gigi belakang, dan fosil engsel belakang), (3) Fosil Hewan Rusa Purba (fosil sendi, fosil kaki, fosil tulang belakang, fosil rusuk, fosil rahang, fosil tanduk, fosil gigi), (4) Fosil Hewan Sapi (fosil rahang bawah kiri, fosil rahang bawah kanan), (5)  Fosil Tanah (fosil abu kehitaman, abu kecoklatan, dan hitam), (6) Fosil Kayu , (7) Fosil Daun, (8) Fosil Gigi Ikan, (9) Fosil Sisik Ikan, (10) Deposit Kerang, (11) Kerang, (12) Fosil Kura-kura Purba.

Alamat

Ds. Tambaksari, Kec. Tambaksari Kab. Ciamis

[alert style=”white”]referensi: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]
Wayang Landung

Wayang Landung

Atraksi Seni Wayang Landung yang baru seumur jagung, langsung menuai prestasi. Sejak diciptakan awal Agustus 2007 oleh seniman Ciamis Pandu Radea (yang juga wartawan budaya SK Priangan) seni helaran kreasi baru ini mampu menjuarai 2 event besar. Prestasi pertama yang diraih Wayang Landung yaitu tampil sebagai 10 terbaik dalam kegiatan Parade Budaya Nusantara di Bali pada September 2007. Kegiatan prestisius tersebut diikuti oleh 50 peserta dari dalam dan luar negeri. Saat itu Wayang Landung menjadi utusan dari Kabupaten Ciamis sekaligus mewakili Jawa Barat bersama Kabupaten Sumedang.

Kemudian pada even Parade Kemilau Nusantara yang usai diselenggarakan pada 25 November 2007, untuk tingkat Jawa Barat yang diikuti 24 kabupaten, Wayang Landung sebagai andalan Kabupaten Ciamis mampu meraih juara ke 2 setelah kontingen Cirebon yang menjadi juara pertama dengan kesenian Buroq-nya. Sementara juara ke 3 diraih Kabupaten Subang. Sedangkan untuk tingkat Nasional yang diikuti oleh 12 Provinsi, Jawa Barat yang diwakili oleh kesenian Bebegig (Juara 1 tingkat Jawa Barat tahun 2006) yang juga masih berasal dari Kabupaten Ciamis harus mengalah kepada kontingen yang datang dari jauh yaitu Sumatra Barat sebagai juara pertama, disusul oleh Kalimantan Tengah dan Banten.

Hampir seluruh kabupaten menampilkan jenis kesenian tradisi yang ada didaerahnya masing-masing. Untuk wilayah Priangan, Kabupaten Garut menampilkan “Angklung Buncis”, Sumedang menampilkan seni rengkong dalam prosesi “Ampih Pare” , Kotif Banjar “Jampana”, Kota Tasikmalaya menampilkan “Angklung Badud” dan Kabupaten Tasikmalaya menampilkan “Tari Batok” yang dipadukan dengan seni tradisinya.

Menurut Pandu, Prestasi bagi Wayang Landung bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah mengembangkannya di masyarakat. “Wayang Landung mudah dibuat oleh siapa saja, murah pula biayanya karena terbuat dari unsur dedaunan yang ada disekitar rumah, bentuknya pun menarik karena memiliki tinggi 4 meter dengan bentuk Wayang Golek.” Ujar pria yang juga menciptakan dan tengah mengembangkan seni pertunjukan Loyang (longser wayang) dan Wayang Sekar (wayang anak-anak) dalam wadah Komunitas Sangkala Disbudpar Ciamis.

Wayang Landung memang diadaftasi dari beberepa idiom tradisi. bentuknya diambil dari orang-orangan sawah namun wanda dan rupanya dari wayang golek. Terbuat dari jerami, eurih, kararas, dan janur. Memainkan Wayang Landung sama halnya dengan memainkan Wayang Golek, karena tangannya diberi tuding bambu yang dipegang oleh seorang penari yang memanggulnya. Kendati beratnya mencapai 25 kg, namun pemanggulnya dapat bergerak lincah untuk melakukan konfigurasi tari maupun berjalan jauh.

Adanya kreasi-kreasi baru yang diangkat dari nilai ketradisian menurut Pandu merupakan hal penting. Selain memperkaya khazanah seni budaya daerah, hal itu juga wujud dari kreatifitas seniman. “Mungkin puluhan tahun ke depan seni kreasi baru ini akan menjadi tradisi pula seandainya berkembang dimasyarakat” ujar Pandu. Lebih jauh Pandu juga mengatakan bahwa saat ini seni tradisi Indonesia yang merupakan kekayaan intelektual terancam diakui juga oleh negara lain sebagai kesenian aslinya, seperti kasus Angklung, Lagu Rasa Sayange dan terakhir Reog Ponorogo yang diklaim oleh Malaysia.

“Pemerintah harus singkil memberikan perlindungan terhadap Seni Tradisi Indonesia. Baik itu dengan undang-undang hak cipta, maupun dengan semakin memperbanyak event-event budaya di berbagai wilayah agar seni tradisi semakin terpublikasikan lebih luas lagi. Disamping itu banyaknya kegiatan tersebut memberi gairah kepada seniman penggarapnya untuk menampilkan yang terbaik sekaligus meningkatkan daya tarik wisata daerah”.

Beberapa video Wayang Landung bisa diperoleh di link ini

[alert style=”white”] referensi: wisataciamis.com, foto: wayanglandung.blogspot.com [/alert]

Video: Wayang Landung

Video: Wayang Landung

Wayang landung in festv. Kemilau nusantara bandung

Wayang Landung Panjalu in Braga Festv. 2011

Wayang Landung is a type of art helaran (parade) New Creation created by Pandu Radea in August 2007. inspired by, Sundanese puppet show, whether it’s basic structure and technical play and projected on a large scale. Parade Wayang Landung Packaged in the form of outdoor performances or on the street (street art). Parade Wayang Landung as art can also be performed for the circumcision ceremony and marriage, or in festival.

[alert style=”white”] sumber: youtube [/alert]

Opak Ketan Bakar

Opak Ketan Bakar

Opak terbuat dari beras ketan putih yang dihaluskan secara tradisional yaitu dengan perangkat halu dan jubleg. Kemudian dibentuk bulat tipis-tipis lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah kering lalu dipanggang di atas bara satu-satu untuk menghasilkan opak yang matang dan renyah. Ada juga yang dipanggang tiga sampai lima buah sekaligus dengan bantuan ram kawat yang disimpan di atas bara. Dari segi kuantitas memang lebih cepat namun rasanya menjadi kurang wangi dan agak keras sedikit. Jadi kepada para penikmat opak kalau menginginkan opak yang renyah, wangi dan gurih silahkan pilih opak yang dibakar satu-satu dengan menggunakan cacapit.

[alert style=”white”]foto: flickriver.com [/alert]

Makanan Khas Panjalu

Makanan Khas Panjalu

Menjelang lebaran dan menjelang hari-hari raya lainnya adalah saatnya makanan khas diproduksi secara besar-besaran karena tingginya permintaan pasar. Bagi mereka yang bekerja di kota, ajang mudik ke kampung halaman merupakan saat yang tepat untuk membawa dan memperkenalkan makanan khas daerah masing-masing untuk di bawa kembali ke kota. Barter makanan dan saling mencicipi oleh-oleh khas daerah atau makanan yang dianggap unik pun terjadi. Hal ini secara tidak langsung akan saling memperkenalkan makanan khas dari daerah lain. Begitu juga di daerah Panjalu atau sekitar Kecamatan Panjalu, dari tempat inilah makanan khas diproduksi oleh masyarakat setempat. Alhasil, Panjalu tidak hanya terkenal dengan sejarah atau wisata ziarahnya saja, namun menawarkan ragam makanan khas yang tidak kalah menarik dengan daerah lain.

Panjalu dalam Konteks Sejarah
Secara terminologi, Panjalu berasal dari kata jalu (Bhs. Sunda) yang berarti jantan, jago, maskulin, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata Panjalu berkonotasi dengan kata-kata: jagoan, jawara, pendekar, warrior (Bhs. Inggris: pejuang, ahli olah perang), dan knight (Bhs. Inggris: ksatria, perwira).

Ada pula orang Panjalu yang mengatakan bahwa kata Panjalu berarti “perempuan” karena berasal dari kata pan+jalu atau jalu yang diberi awalan pan artinya menjadi bukan laki-laki yaitu perempuan sama seperti kata male (Bhs. Inggris : laki-laki) yang apabila diberi prefiks fe + male menjadi female (Bhs.Inggris : perempuan). Konon nama ini disandang karena Panjalu pernah diperintah oleh seorang Ratu bernama Ratu Permanadewi.

Panjalu sebagai Desa Wisata
Pada tanggal 7 Maret 2004, Gubernur Jawa Barat meresmikan kawasan Panjalu sebagai tujuan wisata ziarah tingkat nasional. Tentunya, dengan adanya deklarasi ini telah memberikan keuntungan tersendiri untuk perkembangan pariwisata setempat.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Memet Hamdan, mengakui sejarah mengenai Panjalu sangat menarik sehingga minat wisatawan untuk melakukan wisata ziarah ke daerah tersebut sangat tinggi.

Panjalu memang memiliki daya tarik tersendiri, bukan hanya sebagai kampung adat yang memiliki potensi wisata alam, wisata ziarah, dan wisata budaya (upacara Adat Nyangku) tetapi juga memiliki wisata kuliner yang sangat mendukung. Panjalu banyak memiliki makanan khas yang unik, menarik dan enak rasanya.

Berikut ini beberapa makanan khas Panjalu yang sudah terkenal ke beberapa daerah:

Makanan Khas Panjalu

Makanan khas Panjalu tersebar di beberapa daerah, seperti Kalua Jeruk pusatnya di Desa Kertamandala dan Mandalare, Jawadah Takir (sejenis Wajit) di Garahang, Goreng Mujaer dan Udang di Cimendong, Opak, Kolontong, Saroja dan Raginang di Desa Maparah, Mie Golosor di Desa Sandingtaman dan lain-lain. Makanan khas Panjalu ini memiliki rasa yang gurih, unik dan tahan lama. Berikut ini sekilas tentang makanan khas dari daerah Panjalu.

Kalua Jeruk
Yang paling unik dari makanan khas Panjalu adalah Kalua Jeruk dan Jawadah Takir. Pusat pembuatan Kalua Jeruk ada di daerah Kertamandala dan Mandalare. Menurut pengrajin Kalua, proses produksi sudah berlangsung cukup lama yaitu sekitar 40 tahunan. Kalua yang terkenal dari daerah ini pada awalnya diproduksi oleh keluarga Bu Ecin disusul oleh keluarga Bu Lilis.

Kalua Jeruk terbuat dari kulit Jeruk Bali setengah matang yang diberi gula aren (gula merah) yang diolah dengan beberapa tahapan. Dipilihnya kulit Jeruk Bali setengah matang karena memiliki kulit yang tebal dan Kalua yang dihasilkan akan enak rasanya.

Berikut ini tahapan dari pembuatan Kalua Jeruk. Pertama, Jeruk Bali setengah matang dikupas, diambil kulitnya saja yang berwarna putih. Lapisan terluar yang berwarna hijau dibuang untuk meghindari rasa pahit. Setelah itu diiris berbentuk kotak atau jajarangenjang ataupun bentuk sembarang seukuran kurang lebih 3 x 4 cm dengan tebal 1-2 cm. Kedua, kulit jeruk yang sudah dipotong direndam dengan air apu selama 2 jam, lalu diangkat didiamkan beberapa menit, lalu direbus setengah matang supaya kulit jeruknya tidak pecah-pecah, lalu dicuci dengan air dingin yang mengalir sampai bersih kemudian diperas-peras sampai agak kering. Tahapan terakhir tinggal memasukkan potongan kulit jeruk ke larutan gula aren yang mendidih. Setelah kering angkat dan siap dihidangkan. Emm… harum, enak dan gurih.

Kalua ini aman dikonsumsi karena diproses secara alami melalui tahapan yang panjang dalam mengolahnya. Pemanis yang digunakan merupakan pemanis alami dari nira aren, diproduksi tanpa memakai zat kimia. Gula aren memiliki Index Glycemic (IG) yang rendah. Rendahnya IG ini bermanfaat bagi pengidap diabetes, atau yang ingin menurukan berat badan. Bahkan gula are memiliki IG lebih rendah dari pada gula putih dan madu sehingga tidak menyebabkan kegemukan. Kalua Jeruk dari Kertamandala dan Mandalare Kecamatan Panjalu ini memiliki rasa yang unik, tidak terlalu manis, kenyal, dan empuk ketika dikunyah. Kalua ini diproses secara apik, manis gula arennya meresap ke seluruh kulit jeruk sehingga rasanya enak dan tidak ada lagi bau kulit jeruknya.

Bagi para pecinta kuliner, khususnya makanan khas, hati-hati ketika membeli kalua jeruk karena ada juga kalua jeruk yang rasanya kurang enak dan warnanya juga kurang cerah. Para penikmat kalua biasanya memesan kalua Panjalu yang berasal dari daerah Kertamadala dan Mandalare karena rasanya lebih enak dan gurih.

Jawadah Takir
Jawadah Takir adalah sejenis wajit namun pembungkusnya terbuat dari daun pisang yang kering (kararas dalam Bhs.Sunda). Yang unik dari Jawadah Takir ini adalah tidak dibungkus secara utuh, hanya ditempel diatas daun pisang kering kecil. Dalam kondisi apapun Jawadah Takir tetap kering sehingga rasanya tetap enak. Makanan ini tahan lama dan aman kerena tanpa bahan pengawet.

Goreng Udang dan Goreng Mujaer

Udang dan Mujaer ini berasal dari daerah Cimendong. Udang yang dipilih adalah udang yang yang berukuran sedang. Udang yang berasal dari Situ Lengkong Panjalu ini gurih rasanya, karena hidup bebas tanpa makanan yang dibuat oleh pabrik.

Goreng Mujaer pun enak dan renyah, karena ikan mujaer yang dipilih adalah ukuran sedang atau masih remaja. Goreng Mujaer dan Goreng Udang dikemas tanpa bahan pengawet sehingga aman untuk dikonsumsi oleh siapapun.

Opak
Opak yang terkenal adalah opak dari Desa Maparah. Opak ini rasanya renyah dan wangi. Opak terbuat dari beras ketan putih yang dihaluskan secara tradisional yaitu dengan perangkat halu dan jubleg. Kemudian dibentuk bulat tipis-tipis lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Setelah kering lalu dipanggang di atas bara satu-satu untuk menghasilkan opak yang matang dan renyah. Ada juga yang dipanggang tiga sampai lima buah sekaligus dengan bantuan ram kawat yang disimpan di atas bara. Dari segi kuantitas memang lebih cepat namun rasanya menjadi kurang wangi dan agak keras sedikit. Jadi kepada para penikmat opak kalau menginginkan opak yang renyah, wangi dan gurih silahkan pilih opak yang dibakar satu-satu dengan menggunakan cacapit.

Mie Golosor
Dari namanya juga sudah unik yaitu golosor (Bhs. Sunda), mie ini akan meluncur licin di lidah dan enak rasanya. Mie ini terbuat dari bahan terigu berkualitas tinggi sehingga aman untuk perut dan tanpa bahan pengawet. Warna mie ini kuning segar karena pewarna yang digunakan adalah pewarna alami. Mie Golosor diproduksi oleh masyarakat Desa Sandingtaman Kecamatan Panjalu.

Dari beberapa makanan khas Panjalu yang disebutkan di atas, mungkin selera penikmat bermacam-macam dalam memilih oleh-olehnya. Ada yang sukanya Kalua Jeruk dan Jawadah Takir atau Opak saja, atau bahkan mungkin ada yang suka semuanya. Selamat menikmati hari raya dengan makanan-makanan yang sehat, halal, bergizi dan unik termasuk makanan khas sebagai menu tambahan.

[alert style=”white”] Penulis: YOPPY Y. S.Pd. Guru Seni Budaya di SMPN 1 dan 2 Panjalu-Ciamis, Sumber : Wawancara langsung dengan pemilik home industry di Panjalu, ilustrasi: flickriver.com[/alert]

Mie Bakso Aga

Mie Bakso Aga

Bakso aga sebenarnya bernama Bakso Oding, cuma dulu kebetulan disamping baso Oding ada Toko Aga (kalo ga salah toko kacamata), trus malah terkenalnya jadi bakso aga.

Bakso aga ini emang paling original rasa ciamisnya, ga bakal ditemukan di tempat laen. Yang khas nya adalah mie golosor (mie warnanya kuning terbuat dari tepung tapioka), dan ditambahin acar mentimun, sehingga rasanya segar. Rasa bakso aga yang khas terletak pada racikan bumbu special ditambah sambal khas, sambal bawang. Selain itu rasa khasnya terletak pada orang yang meracik takaran bumbu, biasanya sang pemilik sendiri yang meracik, sehingga tak heran kalo kadang penyajiannya jadi agak lama. Kalo yang meraciknya beda biasanya beda pula rasanya. Itu terbukti dari cabang Bakso aga di depan Gwan Hien (arah kota banjar, sebelum gedung golkar), ataupun cabang Bandung di daerah Antapani.

ceritaperut: Indonesia emang terkenal dengan bakso nya! Apalagi di Jawa Barat ini.. akhirnya menemukan harta karun lainnya dari kekayaan kuliner kita soal bakso! Di perjalanan pulang dari Pangandaran menuju Bandung, di kota Ciamis kita menemukan Bakso AGA ini! Udah beberapa kali lewat situ dan memang selalu ramai, akhirnya di sore hari yang gerimis itu kita memutuskan nyemil bakso di sini!

Lucu banget pilihan mie nya.. ada mie gelosor namanya! Katanya sih karena pas di makan gelosor-gelosor wkakakak!!! tapi emang iya! si mie gelosor ini enak banget licin.. bisa disruput langsung! mienya warna kuning dan agak besar.. di sini bisa pilih kalau mie biasa juga ada.. kita diberi pilihan topping.. ada babat, ada sayap ayam.. ada bakso tentu saja! si sayap ayamnya guedee katanya sih ayam kampung.. tapi sayap ayamnya emang enak 😀 trus babatnya sayangnya bukan babat handuk, tapi babat yang hitam.. tapi not bad lah.. lumayan enak juga.. ga keras koq… baksonya juga enak! uniknya lagi mienya terasa segar karena ada acarnya… wahhhh mantab lah apalagi ditambah sambel huiiii!!!!! jadi pengen lagi nih mencicipi si bakso AGA ini! yang sering jalan-jalan ke Ciamis, wajib kudu harus lah!

ciamismanis.com: Bakso Aga adalah salah satu tempat tujuan kuliner di Ciamis yang dapat direkomendasikan. Rasa bakso yang khas dan lezat sudah diakui beberapa generasi warga Ciamis. Bakso ini dapat Anda jadikan pilihan jajan di siang hari, dan para penggemar pedas boleh memuaskan rasa laparnya tanpa kecewa.

Penasaran? Silakan datangi alamat Bakso Aga (atau juga disebut Mie Bakso H. Oding) di Jl. Ir. H. Juanda No. 147 Ciamis.

[alert style=”white”] referensi: ayojajan.com, ceritaperut.blogspot.com, ciamismanis.com [/alert]

Rumah Makan Siliwangi Bojong

Rumah Makan Siliwangi Bojong

RM. Siliwangi berlokasi setelah SPBU Bojong, tepatnya berada di Jalan Bojong Jalan Raya Ciamis Banjar; Kuliner Sehat dengan sajian Nasi Rempah dan Lalapan Herbal sebagai penambah stamina setelah melakukan perjalanan bagi Anda yang akan berwisata ke objek wisata; Pantai Pangandaran, Batu Hiu, Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Objek Wisata Batukaras, Sensasi Wisata Adventure Green Canyon.

Menu yang hidangkan, hampir semua diramu dengan bumbu cita rasa rempah yang sangat menyehatkan bagi tubuh Anda setelah melakukan perjalanan, sajian pelengkap kami juga menyediakan Lalapan Herbal yang sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Paket Nasi Rempah dengan Lalapan Herbal ditawarkan hanya Rp. 15.000,00/Paket,  Isi Paket terdiri dari:

  1. Ayam/Bebek/Ikan/Lele Goreng/Bakar
  2. Tempe dan Tahu Sutra
  3. Lalapan Herbal
  4. Nasi Rempah Sehat dan
  5. Sambal Extrim yang sangat menyegarkan stamina tubuh Anda.

Bagi Penyedia Jasa Paket Perjalanan Wisata untuk Tujuan ke; Pangandaran, Batu Hiu, Batu Karas dan Green Canyon atau Cukang Taneuh, Paket Nasi Rempah kami merupakan Alternatif Kuliner Sehat bagi Rombongan Tour atau Trip Anda sebelum Sampai ke tujuan wisata di Kawasan Pantai Pangandaran.

Kuliner Sehat ala RM. Siliwangi menyediakan Masakan dengan bumbu rempah dan Lalapan Herbal yang sangat bermanfaat bagi kesehatan Anda, yang dilengkapi dengan Sambal EXTRIM Extra PedasSss… yang dapat membuat lidah Anda bergoyang.

Sajian Nasi Rempah dengan Lalapan Herbal terdiri dari berbagai daun-daunan herbal serta akar-akaran khas ciamis yang diramu dengan Sambal EXTRIM dengan tingkatan pedas sesuai dengan selera Anda. Tingkatan Sambal EXTRIM khas RM. Siliwangi ini tersedia dengan tingkatan atau Level, mulai dari Sambal Extrim Level 1 s.d Level 6 yang akan membuat Anda tidak akan berhenti untuk menyantap lalapan herbal yang dihidangkan.

Menu yang dihidangkan oleh RM. Siliwangi terdiri dari; Ayam Bakar, Bebek Bakar, Ikan Mujair Bakar, Ikan Gurame Bakar, Ikan Peda Goreng ataupun Bakar serta Ikan Mas Bakar yang dirasik dengan ramuan bumbu-bumbu rempah dengan paduan Nasi Rempah dan Lalapan Herbal Khas Kuliner Ciamis.

Rumah Makan Siliwangi juga dapat menerima paket pesanan bagi Travel Agen yang membuat paket Trip perjalanan ke objek wisata kawasan pangandaran. Perjalanan menuju objek wisata pangandaran, Batu Hiu, Green Canyon ataupu Batu Karas berkisar kurang lebih 3 Jam dari Ciamis. Jika Anda dari Jakarta atau Bandung yang akan berwisata ke Pangandaran ada baiknya mencoba untuk mampir dan beristirahat di RM. Siliwangi dengan Wisata Kuliner Sehat yang menyediakan Menu Nasi Rempah dan Lalapan Herbal dengan Sajian Sambal Extrim samapi dengan Level 6 tingkat kepedasan.

Untuk Pemesanan Paket Dapat Menghubungi:
RM. SILIWANGI (Kuliner Sehat Nasi Rempah dan Lalapan Herbal)
Jl. Raya Bojong Ciamis Banjar Setelah SPBU Bojong
Tlp: 08211.8118.187, atau 0265-7157922(PEMESANAN PAKET)

Basa Sunda: Sajarah Sunda

Basa Sunda: Sajarah Sunda

Bhineka Tunggal Ika teh lambang nagara Republik Indonesia. Eta lambang hartosna “rupa-rupa tapi hiji “, ngandung hartos yen Indonesia diwangun ku rupa-rupa sukubangsa, kabudayaan, katut nusa, tapi sakumna sapuk ngahiji jadi bangsa Indonesia pikeun ngudag hiji cita-cita nasional nya eta masyarakat adil jeung ma’mur.

Salasahiji anggota bangsa Indonesia nya eta sukubangsa Sunda anu miboga kabudayaan jeung lemah cai sorangan, wujudna mangrupa kabudayaan Sunda jeung Tanah Sunda atawa Tatar Sunda. Kecap Sunda anu ngandung harti wewengkon atawa daerah mimiti kacatet dina prasasti (Prasasti Juru Pangambat) taun 458 Saka (536 Masehi). Anu pasti pisan Sunda sabage nagara (karajaan) kacatet dina prasasti Sanghiyang Tapak taun 952 Saka (1030 Masehi). Dina ieu prasasti disebutkeun sababaraha kali yen Sri Jayabhupati ngaku sabage raja Sunda. Tanah Sunda perenahna di beulah kulon hiji pulo anu ayeuna jenenganana Pulo Jawa. Ku kituna eta wewengkon disebut oge Jawa Kulon. Ceuk urang Walanda mah West Java. Sacara formal istilah West Java digunakeun ti mimiti taun 1925, nalika pamarentah kolonial ngadegkeun pamarentah daerah anu statusna otonom sarta make ngaran Provincie West Java. Ti mimiti zaman Republik Indonesia (1945) eta ngaran propinsi anu make basa Walanda teh diganti ku basa Indonesia jadi Propinsi Jawa Barat.

Sangkan jaga henteu nimbulkeun salah paham atawa ngabingungkeun, pedaran ngeunaan sajarah Sunda dibagi dua. Kahiji, medar harti sajarah jeung gambaran sajarah Sunda nurutkeun kabudayaan Sunda. Kadua, medar sajarah Sunda dumasar hasil panalungtikan elmu sajarah. Soalna, harti sajarah sacara tradisi dina hirup kumbuh urang Sunda mangsa katukang geuning beda atawa aya bedana jeung harti sajarah dumasar elmu sajarah ayeuna. Sacara tradisi harti sajarah ceuk urang Sunda teu bina ti legenda atawa mitologi, nyaritakeun kahirupan manusa di ieu dunya, tapi bari dipacampurkeun hirup kumbuhna jeung kahirupan mahluk gaib kayaning jin, arwah luluhur, sato kajajaden. Apan sajarah nurutkeun elmu sajarah mah kudu nyaritakeun kahirupan manusa di ieu dunya anu sajalantrahna, bisa dibuktikeun manusa-manusana kungsi hirup di ieu dunya tur kahirupanana enya-enya kungsi kajadian. Atuh dina nyaritakeunana kudu kaharti ku akal (rasional), marele (sistematis), jeung runut runtuyan waktuna (kronologis).

Dina ieu kasempetan pedaran sajarah Sunda diwatesanan ku sajarah Sunda periode Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh anu ngawengku waktu kurang leuwih 9 abad ti mimiti ahir abad ka-7 nepi ka ahir abad ka-16 Masehi.

I. SAJARAH SUNDA JEROEUN KABUDAYAAN SUNDA

Dumasar titinggal tinulis anu mangrupa prasasti jeung naskah, dina abad wewelasan urang Sunda geus katembong gede kasadaran sajarahna. Sababaraha prasasti anu dikaluarkeun ku raja Sunda disebutna sakakala. Eta istilah ngandung harti pangeling-ngeling; pangeling-ngeling ka mangsa katukang. Jadi, prasasti sakakala hartina prasasti anu dikaluarkeun atawa eusina pikeun mieling hiji hal (kajadian, kaayaan) anu geus kalakonan. Beda jeung prasasti piteket, nya eta prasasti anu dikaluarkeun pikeun mutuskeun hiji hal atawa anu eusina kaputusan raja ngeunaan hiji hal. Eusi prasasti sakakala nyaritakeun kajadian atawa kaayaan mangsa katukang, ari prasasti piteket ngembarkeun hal anu kajadian harita. Kukituna prasasti sakakala leuwih eces nembongkeun kasadaran sajarahna tibatan prasasti piteket, sok sanajan duanana oge ngandung ajen dokumen historis. Prasasti Batutulis anu aya di kota Bogor ayeuna bisa dijadikeun conto prasasti sakakala. Ieu prasasti anu ditulis make basa Sunda (kuna) dikaluarkeun ku Prabu Surawisesa (raja Sunda nu marentah taun 1521-1535) taun 1533 pikeun mieling ramana, Sri Baduga Maharaja (raja Sunda nu marentah taun 1482-1521), anu pupus 12 taun kalangkung (1521) bari sakalian ngayakeun upacara srada, nya eta upacara pikeun nyampurnakeun arwah luluhur. Dina ieu prasasti dicaritakeun ngeunaan gelar Sri Baduga Maharaja anu sababaraha kali gentos luyu sareng kalungguhanana, luluhur Sri Baduga, jeung hasil garapanana. Unina awal eta prasasti kieu. “Wan na pun. Iti sakakala Prebu Ratu purane pun. …” (Mugi-mugi salamet. Ieu tanda mieling haturan Prebu Ratu almarhum. …). Conto prasasti piteket nya eta prasasti Sanghiyang Tapak anu dikaluarkeun ku Sri Jayabhupati, raja Sunda taun 1030-1042. Ieu prasasti ngabewarakeun kaputusan Sri Jayabhupati ngeunaan wates daerah kabuyutan (daerah kaagamaan) Sanghiyang Tapak, larangan ngaganggu eta daerah kabuyutan, larangan ngala lauk di walungan nu aya di eta daerah, jeung ancaman hukuman ka sing saha anu ngalanggar larangan-larangan kasebut.

Luhurna kasadaran sajarah urang Sunda harita katembong oge tina amanat Rakeyan Darmasiksa, raja Sunda taun 1175-1297, ka putra-putuna, jembarna ka sakumna urang Sunda sapandeurieunana. Eta amanat kaunggel dina naskah Amanat Galunggung anu ditulis dina daun lontar make aksara jeung basa Sunda (kuna). Unina kieu.

“Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke.
Aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna.
Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang.
Hana ma tunggulna aya tu catangna.”

(Aya bareto aya jaga, lamun teu aya bareto moal aya jaga.
Aya baheula aya ayeuna, lamun teu aya baheula moal aya ayeuna.
Aya iteuk aya dahan, lamun teu aya iteuk moal aya dahan.
Lamun aya tunggul tangtu aya urut tangkalna.)

Hiji cecekelan hirup manusa anu sifatna historis, ngandung tilu dimensi sajarah: mangsa katukang, mangsa ayeuna, jeung mangsa nu bakal datang. Yen dina ngalakonan hirup alam ayeuna perlu nyoreang jeung ngaca ka alam tukang sarta seukeut deuleu jeung teteg hate dina nyanghareupan alam nu bakal kasorang. Sabab, saur Ayatrohaedi oge, sajarah teh nya eta tapak lacak nu kasorang, cecekelan urang leumpang, enggoning ngudag tujuan.

Atuh babaran sajarah anu luyu jeung eta kasadaran sajarah aya contona, seperti babaran sajarah nu aya dina naskah Bujangga Manik (disusun memeh taun 1511) jeung naskah Carita Parahiyangan (disusun teu lila ti saruntagna Karajaan Sunda). Bujangga Manik nyaritakeun pangalaman pangarangna (Prabu Jaya Pakuan) nalika ngalalana ngurilingan Pulo Jawa jeung Bali. Sacara ringkes Carita Parahiyangan nyaritakeun sajarah Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh ti mimiti ngadeg nepi ka runtagna. Raja-raja Sunda jeung Galuh ditataan saurang-saurang bari disebutkeun lilana nyekel pamarentahan.

Hanjakal pisan kasadaran sajarah jeung cara nyusun sajarah kitu teh henteu lana, da sabadana mah sajarah teh dihartikeunana meh sarua jeung legenda, malah sarua jeung mitologi. Atuh carita-carita sajarahna oge disusun dumasar eta harti nepi ka eusina pacampur antara sajarah jeung legenda atawa mitologi. Tegesna, sajarah meh taya bedana jeung dongeng. Gambaran sajarah kitu teh babakuna lamun nyaritakeun zaman Karajaan Sunda, Karajaan Galuh, jeung sumebarna Islam di Tanah Sunda. Katembong pisan saruntagna Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh urang Sunda ngagungkeun eta dua karajaan. Zaman harita dianggapna, malah dipercaya, sabage zaman ideal urang Sunda. Katelahna zaman harita teh zaman subur ma’mur loh jinawi, rea ketan rea keton, tata tengtrem kerta raharja. Tapi ngagungkeunana ku carita anu sifatna legendaris atawa mitologis boh dina wangunan tradisi lisan boh dina wangunan tradisi tulisan. Tradisi lisan ngawujudna dina carita pantun, carita legenda hiji tempat, kapercayaan sabubuhan masyarakat, saperti carita pantun Mundinglaya di Kusumah, Ciung Wanara, Lutung Kasarung, legenda leuweung Sancang, kapercayaan kana maung kajajaden anu asalna rayat Pajajaran. Tradisi tulisan ngawujud dina naskah, saperti Babad Pajajaran, Carios Prabu Siliwangi, Wawacan Kean Santang, Sajarah Banten, Carita Dalem Pasehan. Mundinglaya di Kusumah, putera raja Pajajaran, bisa ngapung nyaba ka langit padahal henteu jangjangan sarta bisa ngelehkeun mahluk gaib raksasa (Jonggrang Kalapetung) ku kakuatan gaib. Ciung Wanara keur mangsa orokna dipalidkeun ka walungan, terus nyangsang dina badodon (alat paranti ngala lauk) Aki Balangantrang, tapi henteu kua-kieu, salamet. Guruminda, putera (dewa) Sunan Ambu, ti kaindraan turun ka dunya bari nyamar jadi lutung (Lutung Kasarung) sangkan patepung jeung putera mahkota, Purbasari. Ku kakuatan gaib Guruminda bisa ngayakeun karaton nu singsarwa endah jeung ngabendung walungan masing-masing dina waktu ukur sapeuting. Kean Santang, putera raja Pajajaran Prabu Siliwangi, bisa napak rancang dina beungeut cai laut nyebrang nepi ka tanah Arab. Di Arab Kean Santang tepang sareng Bagenda Ali, oge Nabi Muhammad. Kean Santang lebet Islam, alatan eleh jajaten teu mampuh nyabut iteuk Bagenda Ali anu ditanclebkeun kana taneuh. Sunan Burung Baok, putera Prabu Siliwangi, bisa nerus bumi ti Pakuan (Bogor) ka Suci (Garut) bulak-balik.

Harti jeung gambaran sajarah kitu teh di kalangan tertentu masyarakat Sunda masih keneh lumangsung nepi ka ayeuna. Nepi ka taun 1984 hiji tokoh Sunda di Bandung sok ngadatangkeun roh Prabu Siliwangi anu ngajirim dina awak anak buahna. Sacara teu sadar eta anak buahna nembangkeun kidung anu pikasediheun bari gerak-gerikna siga maung. Dina hiji pajumuhan ilmiah sim kuring kungsi medar sababaraha urang raja Sunda anu hengker tur goreng adat jeung laku-lampahna nepi ka ngabalukarkeun karajaan jadi nyirorot kakuatanana, malah ahirna mah runtag samasakali (1579). Teu lila ti harita muncul komentar-komentar anu sifatna emosional ti sababaraha tokoh Sunda. Aranjeunna nganaha-naha sarta henteu nampi eta pedaran kalawan alesan anu teu jelas. Ringkesna mah, aranjeunna henteu suka raja Sunda digogoreng kitu. Padahal pedaran sim kuring dumasar kana informasi tina naskah Carita Parahiyangan anu disusun ku pangarang warga keneh Karajaan Sunda. Minangkana mah eta pangarang manghanjakalkeun ka raja-raja Sunda anu talajakna kitu.

Harti jeung gambaran sajarah Sunda saperti dipedar di luhur teh mimiti muncul dina awal abad ka-18 sanggeus kabudayaan Jawa asup ka jero kabudayaan Sunda. Asupna kabudayaan Jawa ka Tanah Sunda di mimitian ku asupna kakawasaan Kasultanan Mataram ka Priangan (1625) jeung ka Cirebon (1650). Saenyana dina ahir abad ka-17 nepi ka awal abad ka-18 masih aya keneh tulisan sajarah (historiografi) anu sifatna historis dihasilkeun di Tatar Sunda, nya eta ti Cirebon jeung ti Banten anu geus ngajanggelek jadi karajaan Islam (kasultanan). Bisa jadi eta tulisan sajarah teh, di sagigireun masih keneh aya pangaruh alam pikiran zaman samemehna, oge dipangaruhan ku konsep sajarah nurutkeun paham Islam. Asupna kabudayaan Islam ka Tatar Sunda dimimitian ku kagiatan buniaga jeung mukimna para sodagar Islam di palabuan-palabuan Karajaan Sunda. Eta kaum muslimin ditangtayungan ku Kasultanan Demak (1475-1546). Tapi sanggeus kakawasaan di Tanah Sunda aya dina cangkingan pamarentah kolonial Walanda (ti wangkid 1800) harti jeung gambaran sajarah anu miboga sifat legendaris/mitologis teh beuki ngandelan tur nerekab ka meh sakumna masarakat Sunda. Sigana mah eta teh perlambang kaayaan sabenerna yen urang Sunda geus teu boga kakawasaan deui di lemah caina, anu nyampak ngan kakawasaan nu aya di awang-awang atawa dina lamunan. Pikeun ngabeberah hate nya digambarkeun yen urang Sunda bisa hirup kumbuh pacampur jeung mahluk gaib, malah bisa ngelehkeun maranehanana.

Aya dua masalah anu sajalan tur pikatajieun upama dibahas dina raraga ieu pedaran. Kahiji, masalah Pajajaran sabage jenengan karajaan. Kadua, masalah identitas Prabu Siliwangi. Dina meh sakumna tradisi tulis jeung tradisi lisan anu disusun sabada asupna pangaruh kabudayaan Jawa jeung kakawasaan Walanda, karajaan di Tanah Sunda samemeh asupna Islam make jenengan Pajajaran. Eta tradisi miboga sifat jeung ajen sastra. Padahal dina sumber-sumber sajarah mah (prasasti, naskah primer, beja ti mancanagara) di Tanah Sunda teu aya nagara anu jenenganana Pajajaran. Istilah Pajajaran atawa lengkepna Pakuan Pajajaran dina eta sumber sajarah dipake pikeun nyebut jenengan puseur dayeuh, lain ngaran nagara. Ari jenengan nagarana mah nya eta Sunda, Karajaan Sunda.

Timbulna Pajajaran jadi jenengan nagara, bisa jadi ngaliwatan proses luyu jeung perjalanan sajarahna. Ti taun 1579 Karajaan Sunda taya wujudna deui, sabab geus runtag. Nu masih aya keneh wujudna iwal ti titinggalna (prasasti, arca, batu tahta, benteng, jalan, makam, tatangkalan, tradisi lisan) nu dumuk di patilasan puseur dayeuh karajaan. Eta titinggal kasaksian keneh ku urang Walanda nu datang ka eta tempat taun 1687, 1690, 1703, 1704, jeung 1709. Sababaraha titinggal kasebut masih bisa disaksikeun keneh nepi ka kiwari. Bisa kaharti lamun zaman harita jenengan puseur dayeuh Pakuan Pajajaran mindeng disebut-sebut. Ahirna fungsi istilah Pakuan Pajajaran jadi robah. Anu tadina sacara gembleng sabage jenengan puseur dayeuh, saterusna pecah jadi dua. Pakuan pikeun jenengan puseur dayeuh sarta Pajajaran pikeun jenengan nagara. Memang istilah Pakuan Pajajaran asalna tina dua kecap anu miboga harti sewang-sewangan. Pakuan asalna tina kecap paku (ngaran sabangsaning tutuwuhan palm) atawa kecap akuwu (tempat padumukan raja), ditambah ahiran an atawa awalan pa jeung ahiran an anu nuduhkeun harti katerangan tempat; tempat anu loba tangkal pakuna atawa tempat padumukan raja. Pajajaran asalna tina kecap jajar, ditambah awalan pa jeung ahiran an anu nuduhkeun kaayaan tempat; kaayaan (tangkal paku atawa patempatan) nu ngajajar. Aya nu nafsirkeun Pakuan Pajajaran teh nuduhkeun loba tangkal paku anu ngajajar di sabudereun karaton atawa sabudereun puseur dayeuh. Aya oge tafsiran Pakuan Pajajaran teh nuduhkeun lima wangunan anu ngajajar di kompleks karaton. Dina Carita Parahiyangan eta lima wangunan karaton disebut jenenganana Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.

Istilah Sunda sabage jenengan nagara kaluli-luli, lila-lila robah dipake jenengan wewengkon, penduduk, katut kabudayaanana, nya eta Tanah Sunda (oge Selat Sunda, Sunda Besar, Sunda Kecil, jeung Dataran Sunda), urang Sunda, jeung kabudayaan Sunda. Kituna mah memang aya kabiasaan di kalangan masarakat yen jenengan puseur dayeuh, malah jenengan karaton, sok dipake pikeun nyebut jenengan nagara, saperti Surosowan di Banten, Ngayogyakarta jeung Surakarta di Tanah Jawa.

Teu aya deui raja Pajajaran anu pangkamashurna iwal ti Prabu Siliwangi. Tegesna, Prabu Siliwangi teh raja Pajajaran anu taya tandingna. Waktu dimasalahkeun, naha Karajaan Pajajaran ngan boga hiji-hijina raja anu kamashur? Sacara tradisi jawabna teh, kusabab sadaya raja Pajajaran jenenganana Prabu Siliwangi. Kukituna aya Prabu Siliwangi kahiji, kadua, katilu, jeung saterusna, saperti oge raja Majapahit di Tanah Jawa, aya Prabu Brawijaya kahiji, kadua, katilu jeung saterusna. Samemeh jadi raja Pajajaran, Prabu Siliwangi ngalaman heula hirup prihatin kulantaran dipikangewa ku dulur terena. Memang anjeunna putra raja Pajajaran, nuju alit kakasihna Sang Pamanahrasa. Kasieunan mahkota karajaan ragrag ka Sang Pamanahrasa, anu memang hakna, dulur terena kungsi rek nandasa, tapi sacara gaib teu mempan. Saterusna Sang Pamanahrasa dibalur kulitna nepi ka rupana jadi hideung sarta dijual ka sudagar, tapi dijual deui ka raja daerah Sindangkasih nu perenahna di wewengkon Cirebon ayeuna. Kusabab laku lampahna hade tur loba kabisa, Sang Pamanahrasa dipulung minantu ku raja Sindangkasih, malah teu mangkuk lami diangkat jadi raja Sindangkasih ngagentos mertuana. Sanggeus identitasna kabuka sarta ku kamotekaran jeung kasantikaanana, ahirna Sang Pamanahrasa dijungjung lungguh raja Pajajaran. Ti harita jenenganana digentos jadi Prabu Siliwangi. Anjeunna kongas raja wijaksana, nyaah ka rayat, gede wawanen, loba akal tarekah, sareng sifatna adil palamarta. Cindekna, pribadi Prabu Siliwangi mangrupa tokoh manusa, pamingpin, sareng raja nu ideal. Eta anggapan, malah kapercayaan, hirup keneh di kalangan urang Sunda nepi ka kiwari.

Kiwari jenengan Karajaan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi dipake pikeun ngajenenganan rupa-rupa hal, saperti lembaga pendidikan, jalan, majalah, organisasi. Basana teh ngalap berkah tina nanjungna Karajaan Pajajaran jeung seungitna Prabu Siliwangi sarta itung-itung ngalanggengkeun sajarah luluhur. Pajajaran diantarana dipake jenengan hiji universitas utama di Tanah Sunda, organisasi kasenian, jalan, majalah, teks lagu, jeung sajaba ti eta. Kitu deui siliwangi dipake jenengan kasatuan militer di Tanah Sunda, universitas, organisasi pamuda, bioskop, jalan, majalah/suratkabar, jeung sajaba ti eta.

Taun 1966 Moh. Amir Sutaarga ngumumkeun hasil panalungtikanana ngeunaan identitas Prabu Siliwangi ditilik tina jihad sajarah. Dumasar perbandingan rupa-rupa sumber boh anu miboga ajen sastra boh anu mibona ajen sajarah boh ajen sejenna anjeunna nyindekkeun yen Prabu Siliwangi sabage tokoh sastra identik sareng Sri Baduga Maharaja sabage tokoh sajarah. Eta tokoh teh luhung elmuna, loba hasil garapanana, gede wewesenna, sarta dipikaserab kapamingpinanana. Tapi nurutkeun Ayatrohaedi, tokoh sastra Prabu Siliwangi teh identik sareng tokoh sajarah Prabu Niskala Wastukancana, akina Sri Baduga Maharaja. Prabu Niskala Wastukancana (1371-1475) kongas wijaksana, nanjeurkeun hukum, hirup sederhana religius (satmata), sarta ngutamakeun kapentingan rayat. Pamiangan eta kacindekan dumasar kana katerangan naskah Sanghiyang Siksakandang Karesian yen taun 1518 jenengan Siliwangi geus jadi ngaran lalakon carita pantun. Kukituna mustahil raja anu nyangking kalungguhan keneh jenenganana parantos dianggo ngaran carita pantun anu sifatna sastra. Tapi deuih Ayatrohaedi henteu nolak kacindekan Moh. Amir Sutaarga. Saurna, bisa jadi duanana disinugrahan gelar Prabu Siliwangi ku rayatna, lantaran duanana raja agung tur populer. Saurna deui, jenengan Prabu Siliwangi asalna tina Prabu Wangi, gelar almarhum Prabu Maharaja, ramana Prabu Niskala Wastukancana, anu kawangikeun alatan gugur di Bubat (1357) nuju ngabela kahormatan nagara katut lemah caina.

Ahir Karajaan Sunda digambarkeun oge di jero kabudayaan Sunda. Gambaranana henteu negatif, lain aib, tapi sabage parobahan anu sifatna alamiah. Prabu Siliwangi keukeuh mageuhan agemanana (zaman heubeul), tapi henteu nyarek putrana (Walangsungsang, Rarasantang, Kean Santang) lebet Islam (zaman anyar). Prabu Siliwangi nutup lalakonna ku cara ngahiyang ka alam kalanggengan, putrana nguniang hudang nyieun sajarah anyar.

Kukituna, kaayaan urang Sunda katut lemahcaina dina mangsa Karajaan Pajajaran, nurutkeun kabudayaan Sunda mah mangrupa kaayaan ideal, mangsa Sunda jaya. Prabu Siliwangi digambarkeun sabage pahlawan kabudayaan Sunda. Timbulna gambaran kitu teh, jigana, kulantaran sabadana mangsa Karajaan Pajajaran, urang Sunda katut lemahcaina terus-terusan pinanggih jeung kaprihatinan, salilana aya dina kakawasaan deungeun (jati kasilih ku junti), tapi bari terus ngarep-ngarep tandangna deui Prabu Siliwangi kiwari sarta ngalaman deui zaman Pajajaran anyar. Dina sabagian teks lagu mah digambarkeun yen Prabu Siliwangi ngungun ningali ti alam kahiyangan kaayaan Tatar Sunda katut rayatna paburantak tur lara balangsak.

“Hasil meleng hasil ngimpleng, anjogna semet ngahuleng, Tatar Sunda paburantak, paburantak, rahayatna lara balangsak.

Beak taun beak windu, ngabandungan nyerangkeun ti kaanggangan, lampahna pra seuweu-siwi, Pajajaran.”

II. KARAJAAN SUNDA JEUNG KARAJAAN GALUH

1. Ngadegna Karajaan Kembar

Katompernakeun abad ka-7 Karajaan Tarumanaga anu ngadeg di Tatar Sunda ti mimiti awal abad ka-5 Masehi tinemu suda kakawasaan katut kakuatanana. Bisa jadi eta teh dilantarankeun ku eleh saingan di laut jeung Karajaan Sriwijaya ti wewengkon Sumatera Kidul. Tarumanagara anu puseur dayeuhna di basisir kaler (Sundapura?) di antara Jakarta-Bekasi kasieuhkeun pangupahjiwana jeung kaamananana ku mekarna Sriwijaya jadi nagara maritim di wewengkon Indonesia beulah kulon. Tapi pairing-iring jeung caremna Tarumanagara, di wewengkon pagunungan mitembeyan ngadeg dua karajaan anyar anu dingaranan Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh. Karajaan Sunda diadegkeun ku raja Tarusbawa, ari nu ngadegkeun Karajaan Galuh nya eta Wretikandayun. Duanana oge masih keneh sarerehan, tunggal teureuh Tarumanagara. Puseur dayeuh Karajaan Sunda nya eta Pakuan (kota Bogor ayeuna), perenahna di sisi walungan Ciliwung anu ngamuara di kota palabuan Kalapa (kota Jakarta ayeuna). Ari puseur dayeuh Karajaan Galuh kungsi aya dua tempat. Mimiti puseur dayeuhna di Bojong Galuh (wetaneun kota Ciamis kiwari), perenahna di antara tinemuna walungan Citanduy jeung walungan Cimuntur anu brasna ka Laut Kidul (Lautan Hindia ayeuna). Laju pindah ka Kawali (kalereun kota Ciamis) anu perenahna di tutugan Gunung Sawal. Wates alam wewengkon eta dua karajaan mangrupa walungan Citarum. Beulah kuloneun walungan Citarum mangrupa wewengkon Karajaan Sunda, kawetankeun wewengkon Karajaan Galuh. Wates alam wewengkon Karajaan Sunda beulah kaler, kulon, jeung kidul mangrupa laut, nya eta Laut Kaler (Laut Jawa ayeuna), Selat Sunda, jeung Laut Kidul. Ari wates beh kaler, wetan, jeung kidul Karajaan Galuh nya eta Laut Kaler, walungan Cipamali, jeung Laut Kidul. Beh wetan Karajaan Galuh tepung wates jeung Karajaan Majapahit anu puseur dayeuhna Trowulan (deukeut kota Mojokerto ayeuna), perenahna di sisi kali Brantas anu ngamuara di kota palabuan Surabaya ayeuna. Majapahit minangka karajaan urang Jawa (sukubangsa Jawa ayeuna).

Ieu dua karajaan disebut kembar, lantaran duanana lahir dina waktu anu meh bareng (akhir abad ka-7 Masehi) tur perenahna parerendeng. Di sagigireun eta, tali mimitran diantara duanana raket pisan boh dina kakulawargaan boh dina kanagaraan. Malah mindeng kajadian kakawasaan raja di hiji karajaan ngurung kakawasaan di karajaan nu hiji deui, boh kulantaran boga hak tina alatan pernikahan boh kulantaran boga hak tina alatan turunan (sagetih), saperti nalika pamarentahan raja Sanjaya (623-632), Rakeyan Darmasiksa (1175-1297), Perbu Niskala Wastukancana (1371-1475), Sri Baduga Maharaja (1482-1521). Sok sanajan kitu, sawaktu-waktu mah kajadian oge pagetreng diantara eta dua karajaan, kulantaran parebut kadudukan jeung beda pamadegan di antara para pamingpinna, tapi henteu ari nepi ka ngabalukarkeun bengkah duduluran katut peperangan rongkah mah. Keur urang luar Sunda mah ieu dua karajaan katelahna Karajaan Sunda bae.

2. Kahirupan Ekonomi

Pindahna puseur dayeuh karajaan ti basisir (Tarumanagara) ka pagunungan mawa dampak ka nagara katut rakyat Karajaan Galuh jeung Karajaan Sunda leuwih ngutamakeun kahirupan tatanen tibatan kagiatan buniaga. Harita tatanen urang Sunda anu ngabaku nya eta ngahuma, melak pare di huma, di lahan anu tuhur, lain di lahan baseuh (sawah). Tanah di Tatar Sunda memang lendo, bubuhan leuweung geledegan keneh, lapisan taneuh bagian luhur loba nu asalna tina lebu gunung api anu bitu, tingparentul gunung anu mindeng ngadatangkeun hujan nepi ka cai curcor, walungan ting raringkel di ditu di dieu. Kukituna teu wudu mucekil hasil tina tatanen teh. Lian ti nyukupan pikeun dahar sapopoe, paleuleuwih beasna dijual ka mancanagara. Hasil melak pedes oge, lolobana mah iangkeuneun ka mancanagara. Mangsa harita pedes, cengkeh, jeung pala anu disebut rempah-rempah jadi barang dagangan internasional anu dijual sacara tatalepa nepi ka Eropa.

Sasela-selaning ngahuma, loba patani anu sok moro sato ngarah daging, kulit, tanduk, jeung culana. Sato-sato anu sok diboro kayaning uncal, peucang, banteng, badak, jeung rea-rea deui. Di sagigireun eta, para patani migawe oge nyadap tangkal kawung pikeun diala lahangna. Lahang teh mangrupa cai anu kaluar tina langgari kawung, rasana amis matak seger kana badan. Tapi babakuna lahang jadi bahan pikeun nyieun gula, disebutna gula kawung. Hasil tina nyadap oge mokaha, bisa ngajual gula kawung ka para padagang boh padagang pribumi boh padagang ti mancanagara.

Ti jaman Tarumanagara basisir kaler jadi jalan dagang laut internasional anu nyambungkeun tata buniaga ti wewengkon Indonesia ka Asia Kidul, Asia Kulon, katut Asia Wetan. Barang dagangan anu laris mangsa harita nya eta emas, rempah-rempah, kaen, beas. Lila-lila mah di wewengkon ieu dua karajaan ngadeg sababaraha kota palabuan. Nurutkeun catetan Tome Pires, urang Portugis anu ngideran jaladri Indonesia taun 1513, aya 6 kota palabuan sapanjang basisir kaler wewengkon Karajaan Sunda, ngajajar ti kulon ka wetan nya eta Banten, Pontang, Cikande, Kalapa, Karawang, jeung Cimanuk. Kota palabuan Cirebon jeung Japura, ceuk Tome Pires, geus misah ti Karajaan Sunda.

Di jero karajaan aya sabaraha jalan anu nyambungkeun hiji daerah jeung daerah sejen, hiji kota jeung kota sejen. Diantarana jalan gede anu nyambungkeun puseur dayeuh Pakuan jeung puseur dayeuh Galuh ngaliwatan jalan kaler jeung jalan kidul. Kitu deui jeung daerah Banten di beh kulon disambungkeun ka Pakuan ku dua jalan ngaliwatan jalan kaler jeung jalan kidul. Jalan kaler mapay padataran anu sajajar jeung basisir kaler, jalan kidul mah mileuweungan mapay wewengkon pagunungan. Mangsa harita walungan dijadikeun jalan oge anu ngahubungkeun daerah basisir jeung daerah pagunungan make kapal atawa parahu. Walungan anu kakoncara loba balawiri parahuna nya eta Cibanten, Cisadane, Ciliwung, Citarum, jeung Cimanuk. Walungan Ciliwung ngahubungkeun puseur dayeuh Pakuan, katelah oge Pakuan Pajajaran, jeung kota palabuan Kalapa. Ti ieu kota palabuan merlukeun waktu dua poe perjalanan make kapal pikeun ngajugjug ka Pakuan. Kalapa minangkana mah kota palabuan panggedena jeung pangramena di Karajaan Sunda mah. Kapala kota palabuanana oge gede wibawa jeung pangaruhna.

Penduduk puseur dayeuh Pakuan Pajajaran kurang leuwih 50.000 jiwa jumlahna. Dina tanggal 21 Agustus 1522 di dieu kungsi ditanda hiji perjangjian gawe bareng dina widang ekonomi jeung pertahanan antara gegeden Karajaan Sunda jeung gegeden urang Portugis anu puseur kagiatanana di Malaka.

3. Pamarentahan

Karajaan diparentah ku raja. Jaman harita kadudukan raja dumasar kana konsep kultus dewaraja, nyaeta pandangan yen raja teh sabage wakil dewa di bumi. Kukituna raja kacida dihormatna, malah tampolana disembah ku rayatna siga ka dewa. Raja nyekel kakawasaan mutlak tur miboga hak turun-tumurun ngalinggihan tahta karajaanana. Lilana raja marentah henteu diwatesanan, umumna mah dugi ka pupusna atanapi dugi ka ngaraos sepuh sareng hoyong ngahenang-ngahening museurkeun lelembutanana kana kahirupan jaga sabada ninggalkeun dunya.

Aya aturan anu nangtukeun saha pigentoseun raja anu pupus atanapi anu ngecagkeun kalungguhan. Eta aturan nangtukeun daftar prioritas hak waris dumasar kana tingkat padeukeutna hubungan getih raja jeung anu bakal ngagantina. Anu pangluhurna nya eta putra raja pameget ti prameswari anu cikalna. Upama cikalna putra istri nya turun ka putra pameget adina anu kahiji, kadua, jeung saterusna. Upama teu aya putra pameget ti prameswari, turun ka putra pameget ti selir. Upama teu aya putra pameget bisa oge turun hak waris ka putra istri. Raja anu teu kagungan putra, ragrag hak warisna ka saderek sagetih. Kungsi kajadian hak waris karajaan ragrag ka minantu (lalaki).

Pamarentahan Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh disusun ku wangunan federasi. Ku kituna aya raja pamarentah puseur anu nyekel kakawasaan sakumna karajaan tur linggihna di puseur dayeuh nagara, gelarna maharaja. Aya oge raja-raja di daerah anu nyekel kakawasaan di daerah-daerah. Umumna raja di daerah masih keneh katalian dulur (getih, pernikahan) jeung raja di puseur, malah aya raja daerah anu naek pangkat jadi raja puseur, waktu jabatan raja di puseur kosong. Rakeyan Darmasiksa, upamana, memeh mangku kaprabon di Pakuan, kungsi jadi raja daerah heula di Saunggalah.

Di sabudereun raja aya pajabat-pajabat anu mangku pancen masing-masing, kayaning patih (anu ngajalankeun pamarentahan sapopoe), mangkubumi (anu ngatur urusan tanah), lengser (pangbantu pribadi raja), nu nangganan (pajabat nu nguruskeun masalah jeung daerah), wado (pajabat puseur nu aya di daerah), hulujurit (panglima perang), jurubasa darmamurcaya (penterjemah rupa-rupa basa). Kitu deui di daerah aya sababaraha pajabat daerah anu ngabantu raja daerah, kayaning pangurang dasa calagara anu pancenna nagihan pajeg. Raja daerah boga hak pikeun mungut pajeg ka rayat. Sabagian tina eta pajeg digunakeun pikeun ngajalankeun pamarentahan di daerah (pangwereg), sabagian deui disetorkeun ka pamarentah puseur (pamwatan). Sabalikna, raja daerah boga kawajiban datang ka puseur dayeuh sabage tanda satia ka raja puseur bari sakalian masrahkeun pajeg jeung upeti anu mangrupa hasil bumi ti eta daerah.

Pamarentahan diatur ku rupa-rupa papagon anu disusun nungtut unggal generasi.

Undang-undang (papagon) pamarentahan munggaran nya eta Sanghiang Watangageung anu disusun ku Rahiyangta ri Medangjati kira-kira dina abad ka-7. Saterusna eta papagon dilengkepan saban waktu upama katimbang perlu, nepi ka ahirna aya undang-undang pikeun ngatur kagiatan kaagamaan (dewasasana), pamarentahan (rajasasana), jeung kahirupan rayat sakumna (manusasasana). Eta aturan dumasar kana dua sumber hukum, nya eta ajaran agama (Hindu, Buddha, Jatisunda) jeung ajaran luluhur (patikrama, purbastiti, purbajati). Karajaan Sunda ngutamakeun pisan aturan (hukum) dina ngolah nagarana nepi ka digambarkeun waktu hukum dicekel pageuh, nagara tinemu aman santosa, kerta raharja; tapi waktu hukum disapirakeun, nagara nyorang awut-awutan, malah ahirna mah (1579) runtag samasakali.

4. Kaagamaan

Kahirupan jaman harita raket pisan pakaitna jeung kapercayaan tur kagiatan kaagamaan. Agama anu dianut nyoko kana ajaran agama Hindu jeung agama Buddha anu asalna ti India. Eta dua agama asup ka Tatar Sunda ti jaman Karajaan Tarumanagara keneh. Bukti-bukti anu kapanggih ngeunaan eta hal, saperti candi Cangkuang di Garut, candi Batujaya di Karawang, patung Buddha di Talaga (Majalengka), arca Syiwa di Kendan (Bandung). Sok sanajan kitu, dibandingkeun jeung pangaruh agama Hindu/Buddha anu tumerap di Tanah Jawa (Mataram, Kediri, Singasari, Majapahit), pangaruh eta dua agama di Tatar Sunda kaasup leutik pisan. Titinggal mangrupa patilasan punden berundak, kabuyutan, arca tipe Polynesia, jeung naskah nembongkeun yen sabagian gede masyarakat Sunda jeung Galuh ngagem agama Jatisunda, nya eta agama hasil sinkretisme kapercayaan ka arwah luluhur, ajaran Hindu, jeung ajaran Buddha. Dina ieu hal urang Sunda alam harita geus ngabogaan konsep sorangan ngeunaan kaagamaan anu ngurung tilu hal, nya eta (1) kapangeranan, (2) kahirupan sanggeus nyawa ninggalkeun raga, jeung (3) cara-cara pikeun nyalametkeun diri boh keur salila kumelendang di ieu dunya boh keur hirup jaga di aherat.

Tilu dewa (Trimurti) anu dianggap pangeran pangluhurna ceuk agama Hindu (Brahma, Wisnu, Syiwa), nurutkeun ajaran Jatisunda, perenahna sahandapeun sanghiyang. Jadi, sanghiyang minangka unsur kakawasaan anu pangluhurna. Sanghiyang nyiptakeun alam sagemblengna. Sanghiyang ngatur sakumna mahluk. Sacara mutlak Sanghiyang nyekel kakawasaan di jagat raya. Tempat dumuk Sanghiyang di Kahiyangan anu pernahna di luar alam dunya ieu. Kahiyangan teh alam anu suci, sepi, tur langgeng taya gangguan kahirupan dunya.

Asup ka alam Kahiyangan katut hirup ngahiji sareng Hiyang sabada nyawa ninggalkeun raga mangrupa panyileukan manusa, sabab nya di dinya nyampak kabagjaan abadi. Eta panyileukan bisa kahontal, upama manusa salila hirupna di alam dunya ngagungkeun tur nyembah Hiyang sarta loba nyieun kahadean ka sasama manusa, laku lampahna hade luyu jeung pancen hirupna.

Kasalametan jeung kabagjaan hirup di alam pawenangan (dunya) jeung di alam kalanggengan (aherat) gumantung kana ajen tapa hiji jalma anu dilakonan salila hirupna di alam dunya. Tapa teh nya eta garapan gawe nurutkeun kaahlian jeung pagawean masing-masing. Lamun tapana hade tur daria, kahirupan di dunya jeung di aheratna oge pinanggih kasalametan jeung kabagjaan. Tapi sabalikna, lamun tapana goreng, kahirupanana oge bakal tinemu jeung kacilakaan katut katunggaraan boh di dunya boh di aherat.

5. Basa, Aksara, jeung Sastra

Yakin pisan yen masyarakat Sunda zaman Karajaan Sunda jeung Karajaan Galuh geus ngabogaan basa jeung aksara. Eta hal teh dumasar bukti-bukti mangrupa titinggal tinulis (prasasti, naskah, jeung catetan urang mancanagara). Salian ti eta, zaman harita urang Sundana sorangan ngaku yen geus ngabogaan basa jeung aksara sorangan. Kiwari basa jeung aksara anu dipake zaman harita disebutna basa Sunda Kuna jeung aksara Sunda Kuna. Eta sesebutan pikeun ngabedakeun jeung basa Sunda ayeuna anu katelah basa Sunda Modern. Adeg-pangadeg aksara Sunda Kuna jeung kabeungharan kecap basa Sunda Kuna dipangaruhan ku basa Sansekerta jeung aksara Palawa anu asalna ti India.

Hanjakal pisan basa jeung aksara Sunda Kuna henteu lana hirupna, kulantaran menak-menak Sunda kabongroy ku basa jeung aksara anyar ti piluaran ti mimiti ahir abad ka-17. Atuh ieu basa jeung aksara teh pegat di tengah jalan, henteu nyambung ka zaman satuluyna. Balukarna loba nu nyangka, kaasup urang Sundana sorangan, yen urang Sunda teu bogaeun aksara sorangan jeung basana henteu bisa dipake masamoan dina kahirupan sastra, kanagaraan, jeung elmu pangaweruh. Kitu deui, lamun urang Sunda kiwari maca teks Sunda Kuna, aksarana teu kabaca sarta basana teu kaharti. Kumaha wujud basa Sunda Kuna teh? Ieu contona sakadar ubar kapanasaranan. “Nya mana sang rama enak mangan, sang resi enak ngaresisasana, ngawakan na purbatisti, purbajati. Sang disri enak masini ngawakan na manusasasana, ngaduman alas pari-alas.” Tarjamahna: “Mana sang rama tengtrem nguruskeun bahan pangan. Sang resi tengtrem ngajalankeun palaturan karesianana, ngamalkeun tali-paranti karuhun, adat baheula. Sang disri tengtrem ngaracik rupa-rupa ubar. (Raja) ngalaksanakeun aturan kahirupan manusa, ngabagi-bagi leuweung jeung tanah di sabudereunana.”

Aksara Sunda Kuna dijieun sanggeus urang Sunda wanoh kana aksara Palawa pikeun nuliskeun basa Sanskerta. Kumaha cara nuliskeun basa Sunda? Kalawan cecekelan aksara Palawa, nya dijieun aksara Sunda (Kuna) pikeun ngawujudkeun basa Sunda (Kuna) sacara tinulis. Ti harita gubrag ka dunya aksara Sunda (Kuna). Abjadna dumasar kana engang dina kecap anu jumlahna 18 sarta unina: ka ga nga, ca ja nya, ta da na, pa ba ma, ya ra la, dan wa sa ha. Aya oge aksara lambang vokal mandiri, angka, jeung tanda pikeun lambang sora vokal sejen katut tambahan tanda lianna.

Puisi zaman harita diwangun ku susunan jajar demi jajar anu unggal jajar kauger ku 8 engang. Eta wangunan puisi teh disebutna carita pantun. Pantun mangrupa seni pertunjukan asli urang Sunda. Juru pantun nembangkeun carita pantun bari dipirig ku kacapi. Ku kituna carita pantun miang tina tradisi lisan. Conto puisi jenis pantun kaunggel di handap ieu.

Ambuing karah sumangerIbu wilujeng kantun

Pawekas pajeueung beungeut

Panungtung patembong raray

ambu kita deung awaking

ibu sareng diri abdi

Sapoe ayeuna dini

Sapoe poe ieu pisan

pajeueung beungeut deung aing

patepung lawung sareng sim abdi

Mo nyorang pacarek deui

(Jaga mah) moal ngalaman pataros deui

moma tina pangimpian

iwal dina pangimpian

pajeueung beungeut di bulan

patepung lawung di bulan

patempuh awak di angin

pasalisir awak di angin

6. Runtagna Karajaan

Iwal ti nyatet kota-kota palabuan di Karajaan Sunda jeung kagiatanana, Tome Pires nyatet oge kaayaan Karajaan Sunda anu pakait jeung sabab runtagna ieu karajaan. Dicaritakeun yen harita raja Sunda nyieun kawijakan pikeun ngawatesanan jumlah padagang muslim buniaga di wewengkon Karajaan Sunda, sabab ngarasa hariwang ku mekarna buniaga jeung jumlah kaum muslimin. Memang harita geus loba padagang muslim bubuara di kota palabuan Cimanuk, malah kota palabuan Cirebon jeung Japura mah geus misahkeun diri ti lingkungan Karajaan Sunda. Kabejakeun oge di kota palabuan Banten jeung Karawang geus aya para padagang jeung kaum muslimin sejenna anu mukim. Atuh rayat Sunda mimiti nungtutan pindah agama jadi ngagem agama Islam. Keur pamarentah puseur mah eta hal teh jadi ancaman anu sawaktu-waktu ngbarubahkeun. Memang teu mangkuk lila ti harita timbul daerah-daerah anu baruntak, untung Prabu Surawisesa (1521-1535) masih keneh kuat mingpin pasukan pikeun ngungkulanana.

Sapupusna Prabu Surawisesa, raja-raja Sunda (4 raja) teuing ku hengker tur sikep paripolahna henteu hade, leuwih loba ngutamakeun kasenangan dirina tibatan ngurus nagara jeung rayat. Di ditu di dieu timbul deui nu baruntak, teu bisa diungkulan. Banten misahkeun diri. Ahirna Karajaan Sunda teu mangga pulia nyanghareupan kakuatan gabungan Cirebon, Banten, jeung Demak anu ngarurug puseur dayeuh Pakuan Pajajaran taun 1579.

Edi S. Ekadjati

Gurubesar Tamu Research Institute for Languages and Cultures of Asia and Africa Tokyo University of Foreign Studies

[alert style=”white”]referensi: Majalah Manglé, édisi online [/alert]

Galendo “GAYAM” Ciamis

Galendo “GAYAM” Ciamis

Jika anda sangat menggemari makanan dengan rasa manis, berarti anda harus mencoba makanan yang satu ini, namanya Galendo GAYAM makanan sejenis dodol yang merupakan kebanggaan warga kota / kabupaten Ciamis sejak zaman doeloe, provinsi Jawa Barat ini memiliki rasa manis yang begitu alami, bahkan selain itu galendo  juga pernah menjadi makanan pembuka saat presiden SBY sedang menggelar sidang kabinet.

Bagaimana cara pembuatan Galendo itu?

Galendo ini berbahan dasar dari santan kelapa, terlebih dahulu direbus menggunakan wajan berukuran besar, hingga santan tersebut berubah warna menjadi kecoklatan, hampir 2 jam lamanya baru santan tersebut berubah menjadi semacam serbuk. Setelah diperiksa dulu dan dinyatakan sudah matang baru bahan dasar galendo ini di angkat untuk ditiriskan sejenak.

Kemudian kini tinggal disaring untuk memisahkan serbukan galendo dengan air santan, setelah terpisah kini tinggal proses pembuatannya  yaitu si serbuk galendo dimasukan kedalam cetakan khusus untuk proses pengepresan dengan alat khusus, usai pengepresan selama 6 jam, serbuk galendo pun berubah menjadi galendo lempengan/ batangan dan siap untuk dikemas. Lihat foto-foto lebih detail cara pembuatan galendo.

Galendo GAYAM saat ini masih memberikan bentuk kemasan dari anyaman bambu untuk mempertahankan ciri khas sejak jaman dulu. Kini galendo pun siap dipasarkan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Dengan adanya bantuan website galendo.com yang bisa online 24 jam  diharapkan dapat menembus pasaran nasional. Hasilnya, pasaran galendo pun kini mulai merambah ke seluruh nusantara seperti Sumatera, Kalimantan, dan wilayah lainnya.

Galendo GAYAM sengaja dipasarkan melalui internet  untuk mengubah image kalau ternyata galendo bukan identik sebagai makanan yang tidak dikenal khalayak umum (kolot) namun kini juga agar bisa dikenal dan dirasakan enaknya galendo oleh seluruh masyarakat Indonesia. Galendo memiliki rasa manis yang begitu alami, bahkan sangat cocok dijadikan cemilan anda saat berkumpul bersama keluarga, nah jika anda tertarik dan ingin mencoba galendo ini tidak ada salahnya anda pesan dan membeli galendo GAYAM ini melalui website kami.

Selain itu, sebagai warga Indonesia yang selalu cinta produk dalam negeri, tentu boleh juga anda membeli Galendo GAYAM ini sebagai oleh-oleh makanan khas Kabupaten Ciamis.

Harga

  • Galendo GAYAM batang (8 ons) Rp 40.000,-
  • Galendo GAYAM batang (1 Kg) Rp 49.000,-
  • Galendo GAYAM batang (1,5 Kg) Rp 70.000,-
  • Galendo GAYAM batang (2 Kg) Rp 95.000,-
  • Galendo GAYAM Bubuk ( 1 Kg ) Rp 45.000,-
  • Galendo GAYAM Bubuk ( 1,5 Kg ) Rp 67.500,-
  • Galendo GAYAM Bubuk ( 2 Kg ) Rp 90.000,-

Kontak Galendo GAYAM

kang oman galendo

HP: 0813 2345 2229

Alamat: Jl. Ciptomangunkusumo No. 524 RT01/RW23 Ciamis Jawa Barat – 46211

[alert style=”white”]referensi: galendo.com [/alert]

Munggahan, Tradisi Masyarakat Ciamis

Munggahan, Tradisi Masyarakat Ciamis

Munggahan adalah salah satu tradisi di Jawa Barat untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Sebagian besar masyarakat Jawa Barat khususnya Tasikmalaya dan Ciamis selalu melakukan tradisi ini. Munggahan diambil dari kata Unggah (menjelang/masuk) Biasanya dengan cara ngaliwet (memasak nasi tanpa di aron biasanya menggunakan kastrol).

ada berbagai maca cara orang menyambut bulan ramadhan atau munggahan, ada yang makan makan ada yang ziarah ada yang mandi di laut DLL.

[alert style=”white”] referensi: forum.detik, foto: http://www.facebook.com/groups/naratasgaluhpakuan/  [/alert]

Gelar Budaya Nyiar Lumar Situs Astana Gede Kawali 7 Juli 2012

Gelar Budaya Nyiar Lumar Situs Astana Gede Kawali 7 Juli 2012

Gelar happening art/instalasi seni teater “nyiliwuri di awang-awang” teater jagat kawali karya eman hermansyah sastrapraja

Sekilas tentang Nyiar Lumar, Nyiar Lumar adalah acara tahunan dari sebuah makna hidup yang diwariskan nenek moyang  di tatar Sunda, khususnya untuk daerah Kawali. Nyiar Lumar semacam dengan acara Nyangku di Panjalu.

Nyiar Lumar, Nyiar artinya mencari.  Lumar adalah jamur cahaya.  Perjalanan mencari jamur cahaya, demikianlah arti tersuratnya. Arti tersiratnya tiada lain adalah perjalanan kontemplatif, kembali mendekatkan diri dengan alam, merenungi akar-akar kehidupan, mencari jati diri agar yakin melangkah kemasa depan.

[alert style=”white”] sumber: http://www.facebook.com/groups/naratasgaluhpakuan/, raihanrn.com [/alert]