Galendo “Doyanku” Ciamis

Galendo “Doyanku” Ciamis

Kabupaten Ciamis terkenal akan daerah penghasil berbagai jenis makanan. Salah satu diantaranya, yaitu makanan khas Ciamis, “Galendo”. Makanan yang terbuat dari kelapa ini sudah terkenal ke berbagai kota di Indonesia. Kalau dulu Galendo masih terbungkus secara tradisional sehingga cepat kadaluwarsa. Kini, sudah terbungkus dengan menggunakan aluminium foil, sehingga bisa tahan lama.

 

Pembuatan makanan khas kota Ciamis galendo ini melalui beberapa tahapan. Mulai dari pengumpulan bahan baku utama dan pemilihan bahan baku, yaitu kelapa. Pengupasan kelapa hingga proses pembuatan menjadi air santan kelapa. Pemanasan air santan hingga terbentuk serbuk-serbuk galendo.

 

Pengepressan serbuk galendo dalam wadah anyaman bambu. Hingga akhirnya jadilah Galendo makanan khas kota Ciamis ini. Produk Galendo Ciamis ini siap saji dan siap untuk disantap dengan cita rasanya yang khas dan enak untuk makanan camilan.

 

Untuk lebih lanjut kita bisa berkunjung ke tempat pembuatan Makanan Galendo, yaitu ke PD Rasa Asli Galendo, di Jl. Kapten Harsono Sudiro No. 60 Kab. Ciamis, pimpinan Bpk H. Endut. Ditangan Haji Endut, galendo diolah secara higienis tradisional, namun kemasannya sudah tergolong modern. Bahkan rasa galendo bermacam-macam. Rasa coklat, rasa kacang, rasa pisang dan rasa susu. Dirumahnya dijadikan outlet sekaligus pusat pemasaran. Bagi anda yang saat tertentu datang ke Ciamis, misalnya ketika akan ke Pantai Pangandaran, ada baiknya mampir dan mencicipi makanan galendo. Untuk kontak dapat menghubungi nomor telephone dan fax  0265-774448.

[alert style=”white”]referensi: jabarprov.go.id [/alert]

Tari Ronggeng Gunung

Tari Ronggeng Gunung

Asal-usul

Ciamis adalah suatu daerah yang ada di Jawa Barat. Di sana ada tarian khas yang bernama “Ronggeng Gunung”. Ronggeng Gunung sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utamanya adalah seorang perempuan yang dilengkapi dengan sebuah selendang. Fungsi selendang, selain untuk kelengkapan dalam menari, juga dapat digunakan untuk “menggaet” lawan (biasanya laki-laki) untuk menari bersama dengan cara mengalungkan ke lehernya.

Ada beberapa versi tentang asal-usul tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Ciamis Selatan (masyarakat: Panyutran, Ciparakan, Burujul, Pangandaran dan Cijulang) ini.

Versi pertama mengatakan bahwa Ronggeng Gunung diciptakan oleh Raden Sawunggaling. Konon, ketika kerajaan Galuh dalam keadaan kacau-balau karena serangan musuh, Sang Raja terpaksa mengungsi ke tempat yang aman dari kejaran musuh. Dalam situasi yang demikian, datanglah seorang penyelamat yang bernama Raden Sawunggaling. Sebagai ungkapan terima kasih atas jasanya yang demikian besar itu, Sang Raja menikahkan Sang Penyelamat itu dengan putrinya (Putri Galuh). Kemudian, ketika Raden Sawunggaling memegang tampuk pemerintahan, beliau menciptakan tarian yang bernama Ronggeng Gunung sebagai sarana hiburan resmi di istana. Penarinya diseleksi ketat oleh raja dan harus betul-betul mempunyai kemampuan menari, menyanyi, dan berparas cantik, sehingga ketika itu penari ronggeng mempunyai status terpandang di lingkungan masyarakat.

Versi kedua berkisah tentang seorang puteri yang ditinggal mati oleh kekasihnya. Siang dan malam sang puteri meratapi terus kematian orang yang dicintainya. Selagi sang puteri menangisi jenasah kekasihnya yang sudah mulai membusuk, datanglah beberapa pemuda menghampirinya dengan maksud untuk menghiburnya. Para pemuda tersebut menari mengelilingi sang puteri sambil menutup hidung karena bau busuk mayat. Lama-kelamaan, sang puteri pun akhirnya ikut menari dan menyanyi dengan nada melankolis. Adegan-adegan tersebut banyak yang menjadi dasar dalam gerakan-gerakan pada pementasan Ronggeng Gunung saat ini.

Versi ketiga yang ditulis oleh Yanti Heriyawati dalam tesisnya yang berjudul “Doger dan Ronggeng, Dua Wajah Tari Perempuan di Jawa Barat”. Versi ini menyatakan bahwa kesenian Ronggeng Gunung berkait erat dengan kisah Dewi Samboja (www.korantempo.com). Dewi Samboja adalah puteri ke-38 dari Prabu Siliwangi yang bersuamikan Angkalarang. Konon, suatu saat suami sang Dewi yaitu Angkalarang mati terbunuh oleh Kalasamudra (pemimpin bajak laut dari seberang lautan). Dewi Samboja sangat bersedih hatinya karena suami yang dicintainya telah meninggal dunia dan ia sangat marah kepada Kalasamudra yang telah membunuh suaminya. Untuk menghilangkan kesedihan dan sekaligus kemarahan puterinya atas kematian Angkalarang, maka ayahandanya, yaitu Prabu Siliwangi memberikan wangsit kepada Dewi Samboja. Isi wangsit tersebut adalah bahwa untuk dapat membalas kematian Angkalarang dan membunuh Kalasamudra, Dewi Samboja harus menyamar sebagai Nini Bogem, yaitu sebagai seorang penari ronggeng kembang. Dan, berdasar wangsit itulah, Dewi Samboja mulai belajar menari ronggeng dan seni bela diri. Singkat cerita, pergelaran ronggeng di tempat Kalasamudra pun terjadi. Dan, ini berarti kesempatan bagi Dewi Samboja untuk membalas kematian suaminya. Konon, ketika sempat menari bersamanya, Dewi Samboja mewujudkan niatnya, sehingga perkelahian pun tidak dapat dihindari. Perkelahian itu baru berakhir ketika Dewi Samboja dapat membunuhnya.

Versi keempat mirip dengan versi ketiga, hanya jalan ceritanya yang berbeda. Dalam versi ini perkawinan antara Dewi Siti Samboja dan Raden Anggalarang, putra Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, tidak. direstui oleh ayahnya. Untuk itu, pasangan suami-isteri tersebut mendirikan kerajaan di Pananjung, yaitu daerah yang kini merupakan Cagar Alam Pananjung di obyek wisata Pangandaran. Suatu saat kerajaan tersebut diserang oleh para perompak yang dipimpin oleh Kalasamudra, sehingga terjadi pertempuran. Namun, karena pertempuran tidak seimbang, akhirnya Raden Anggalarang gugur. Akan tetapi, istrinya, Dewi Siti Samboja, berhasil menyelamatkan diri.dan mengembara. Dalam pengembaraannya yang penuh dengan penderitaan, sang Dewi akhirnya menerima wangsit agar namanya diganti menjadi Dewi Rengganis dan menyamar sebagai ronggeng. Di tengah kepedihan hatinya yang tidak terperikan karena ditinggal suaminya, Dewi Rengganis berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa terasa, gunung-gunung telah didaki dan lembah-lembah dituruni. Namun, di matanya masih terbayang bagaimana orang yang dijadikan tumpuan hidupnya telah dibunuh para perompak dan kemudian mayatnya diarak lalu dibuang ke Samudera Hindia. Kepedihan itu diungkapkan dalam lagu yang berjudul “Manangis”. Berikut ini adalah syairnya.

Ka mana boboko suling
Teu kadeuleu-deuleu deui
Ka mana kabogoh kuring
Teu Kadeulu datang deui
Singkat cerita, pergelaran ronggeng akhirnya sampai di tempat Kalasamudra dan Dewi Samboja dapat membalas kematian suaminya dengan membunuh Kalasamudra ketika sedang menari bersama.

Cerita mengenai asal usul tari yang digunakan untuk “balas dendam” ini membuat Ronggeng Gunung seakan berbau maut. Konon, dahulu orang-orang Galuh yang ikut menari menutup wajahnya dengan kain sarung sambil memancing musuhnya untuk ikut hanyut dalam tarian. Oleh karena wajah mereka tertutup sarung, maka ketika musuh mereka terpancing dan ikut ke tengah lingkaran, sebilah pisau mengintip menunggu saat yang tepat untuk ditikamkan. Selain itu, dahulu kesenian Ronggeng Gunung bagi masyarakat Ciamis selatan, bukan hanya merupakan sarana hiburan semata, tetapi juga digunakan sebagai pengantar upacara adat seperti: panen raya, perkawinan, khitanan, dan penerimaan tamu. Mengingat fungsinya yang demikian, maka sebelum pertunjukan dimulai, diadakan sesajen untuk persembahan kepada para leluhur dan roh-roh yang ada di sekitar tempat digelarnya tarian, agar pertunjukan berjalan dengan lancar. Bentuk sesajennya terdiri atas kue-kue kering tujuh macam dan tujuh warna, pisang emas, sebuah cermin, sisir, dan sering pula ditemukan rokok sebagai pelengkap sesaji.

Sebagai catatan, dalam mitologi orang Sunda, Dewi Samboja atau Dewi Rengganis hampir mirip dengan Dewi Sri Pohaci yang selalu dikaitkan dengan kegiatan bertani. Oleh karena itu, tarian Ronggeng Gunung juga melambangkan kegiatan Sang Dewi dalam bercocok tanam, mulai dari turun ke sawah, menanam padi, memanen, sampai akhirnya syukuran setelah panen.

Pemain, Peralatan, dan Pergelaran

Orang-orang yang tergabung dalam kelompok kesenian Ronggeng Gunung biasanya terdiri dari enam sampai sepuluh orang. Namun demikian, dapat pula terjadi tukar-menukar atau meminjam pemain dari kelompok lain. Biasanya peminjaman pemain terjadi untuk memperoleh pesinden lalugu, yaitu perempuan yang sudah berumur agak lanjut, tetapi mempunyai kemampuan yang sangat mengagumkan dalam hal tarik suara. Dia bertugas membawakan lagu-lagu tertentu yang tidak dapat dibawakan oleh pesinden biasa. Sedangkan, peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Ronggeng Gunung adalah tiga buah ketuk, gong dan kendang.
Sebagai catatan, untuk menjadi seorang ronggeng pada zaman dahulu memang tidak semudah sekarang. Beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain bentuk badan bagus, dapat melakukan puasa 40 hari yang setiap berbuka puasa hanya diperkenankan makan pisang raja dua buah, latihan nafas untuk memperbaiki suara, fisik dan juga rohani yang dibimbing oleh ahlinya. Dan, yang umum berlaku, seorang ronggeng harus tidak terikat perkawinan. Oleh karena itu, seorang penari ronggeng harus seorang gadis atau janda.
Tari Ronggeng Gunung bisa digelar di halaman rumah pada saat ada acara perkawinan, khitanan atau bahkan di huma (ladang), misalnya ketika dibutuhkan untuk upacara membajak atau menanam padi ladang. Durasi sebuah pementasan Ronggeng Gunung biasanya memakan waktu cukup lama, kadang-kadang baru selesai menjelang subuh.

Perkembangan

Perkembangan Ronggeng Gunung pada periode tahun 1904 sampai tahun 1945, banyak terjadi pergeseran nilai dalam penyajiannya, misalnya dalam cara menghormat yang semula dengan merapatkan tangan di dada berganti dengan cara bersalaman. Bahkan, akhirnya cara bersalaman ini banyak disalahgunakan, dimana penari laki-laki atau orang-orang tertentu bukan hanya bersalaman melainkan bertindak lebih jauh lagi seperti mencium, meraba dan sebagainya. Bahkan, kadang-kadang penari dapat dibawa ke tempat sepi. Karena tidak sesuai dengan adat-istiadat, maka pada tahun 1948 kesenian Ronggeng Gunung dilarang dipertunjukkan untuk umum. Baru pada tahun 1950 kesenian Ronggeng Gunung dihidupkan kembali dengan beberapa pembaruan, baik dalam tarian maupun dalam pengorganisasiannya sehingga kemungkinan timbulnya hal-hal negatif dapat dihindarkan.

Untuk mencegah pandangan negatif terhadap jenis tari yang hampir punah ini diterapkan peraturan-peraturan yang melarang penari dan pengibing melakukan kontak (sentuhan) langsung. Beberapa adegan yang dapat menjurus kepada perbuatan negatif seperti mencium atau memegang penari, dilarang sama sekali. Peraturan ini merupakan suatu cara untuk menghilangkan pandangan dan anggapan masyarakat bahwa ronggeng identik dengan perempuan yang senang menggoda laki-laki.

Sumber:

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

[alert style=”white”] referensi: uun-halimah.blogspot.com, foto: disparbud.jabarprov[/alert]

Galendo Khas Ciamis

Galendo Khas Ciamis

JAWA Barat dikenal sebagai daerah yang kaya makanan tradisional. Salah satunya adalah galendo (gelendo) Ciamis. Meski sudah bermunculan di sejumlah daerah, galendo Ciamis tetap punya keistimewaan tersendiri di lidah konsumen. Dulu, untuk bisa mencicipi nikmatnya galendo Ciamis, orang harus membeli langsung ke rumah-rumah penduduk penghasil galendo. Belakangan, galendo sudah tersedia di sejumlah supermarket dengan kemasan yang menawan. Ya, mirip seperti kemasan dodol Garut.

Penganan yang terbuat dari ampas minyak kelapa itu memang identik dengan Ciamis dimana Ciamis merupakan salah satu penghasil kelapa terbesar di Jawa Barat.Meski sudah bermunculan di sejumlah daerah, galendo Ciamis tetap punya keistimewaan tersendiri di lidah konsumen. Galendo enak dinikmati bersama secangkir teh panas atau kopi pahit, apalagi jika di cocolkan dengan gula putih, wuih mantap. Saat ini Galendo sudah tersedia di mana-mana, dengan kemasan yang menarik. Harga Galendo bervariasi dari Rp5.000 hingga Rp20.000 per bungkus tergantung besar kecilnya dan jugatentunya kualitas dari Galendo itu sendiri.

Selain itu Galendo juga memiliki cita rasa yang berbeda-beda untuk menambah rasa nikmat, seperti rasa coklat, dan Strawberry. Tapi tetap saja untuk menikmati cita rasa yang beda lebih baik jika dibuat dan dimakan di kota asalnya, ayo jangan mau ketinggalan.

Perajin galendo di Ciamis mempunyai trik sendiri agar galendo bisa dijadikan makanan yang  menarik, bahannya tak hanya ampas pembuatan minyak kelapa, tapi juga dicampur cokelat, rasa stroberi, dan bahan lain. Ukuran kemasan juga dibuat berbeda-beda. Dengan upaya itulah, kelas galendo bisa naik dan nangkring di supermarket.

Tentunya untuk mengangkat galendo sebagai makanan khas Ciamis, masyarakat Ciamis juga harus ikut turut serta mengenalkannya, misalnya dalam bentuk oleh-oleh untuk teman, saudara, dll. Semoga Galendo bisa menjadi salah satu daya tarik tersendiri sebagai makanan khas Ciamis.

[alert style=”white”] referensi: wisata.kompasiana.com, foto : jabarprov [/alert]

Laut Biru Resort Hotel Pangandaran

Laut Biru Resort Hotel Pangandaran

Laut Biru Resort Hotel terletak di jantung kota Pangandaran. Lokasinya sangat cocok untuk berenang, sun-worshippers, dan penggemar luar ruangan lainnya. Laut Biru diatur hanya 5 meter ke rekreasi pantai barat.

Laut Biru Resort Hotel memiliki 48 kamar secara total. Setiap kamar memiliki 2 tempat tidur ukuran besar, yang ideal pilihan bagi keluarga dan kelompok.
Fasilitas dalam kamar :

  • 2 King size beds
  • Air conditioning
  • Hot Water
  • Fridge + Mineral water
  • LCD TV
  • Full-length mirror
  • Hairdryer
  • Big Balcony
  • Voltage 110/120
  • Wake up call

* hair dryer and kettle are available during request

Fungsi ruang untuk pertemuan, konferensi, kegiatan usaha, atau kegiatan kelompok. Dilengkapi dengan proyektor dan sound system.  Siap untuk mengatur untuk sukses acara Anda.

Fasilitas Hotel :

  • Swimming Pool with Jacuzzi
  • Function Room
  • Meeting Rooms
  • Karaoke
  • Table Tennis (Ping Pong)
  • Big Parking Area

INFO DETIL

Lokasi: Jl. E. Jaga Lautan No 17-18
Pangandaran 46396, Jakarta – INDONESIA
Telp: (0265) 639360, 639361, Faks: (0265) 639017
Reservasi: Telp: 08122324883, (022) 9196 9191
e-mail: hotel@lautbiru.com

[alert style=”white”]lautbiru.com[/alert]

Khas: Badodon

Khas: Badodon

Badodon mangrupakeun hiji alat paragi ngala lauk nu aya di Sunda, badodon oge masih keneh aya nu ngagunakeun salahsawiosna di daerah Kertabumi.

Biasana badodon, ditaheunkeun. Pasosoré diteundeun di tempat anu sakirana loba laukan, isukna ditéang terus diangkat. Badodon teh bubu, ngan nu gedena nepika ampir sagede beuteung munding. Hasil dina badodon mah loba pisan, rupa-rupa ning soro nu sagede bitis kolot ogé aya puluhna,  komo lauk laleutiknamah.

Dina carita sunda Ciung Wanara kungsi kacaritakeun eta Badodon. Ciung Wanara keur mangsa orokna dipalidkeun ka walungan, terus nyangsang dina badodon (alat paranti ngala lauk) Aki Balangantrang, tapi henteu kua-kieu, salamet.

[alert style=”white”]referensi: internet[/alert]

Bahasa Sunda ?

Bahasa Sunda ?

Bahasa Sunda (Basa Sunda) adalah sebuah bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini dituturkan oleh sekitar 33 juta orang (sekitar 1 juta orang di luar negeri) dan merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia. Bahasa Sunda dituturkan di hampir seluruh provinsi Jawa Barat, melebar hingga sebagian Jawa Tengah mulai dari Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes dan Majenang, Cilacap, di kawasan provinsi Banten dan Jakarta, serta di seluruh provinsi di Indonesia dan luar negeri yang menjadi daerah urbanisasi Suku Sunda.

Dari segi linguistik, bersama bahasa Baduy, bahasa Sunda membentuk suatu rumpun bahasa Sunda yang dimasukkan ke dalam rumpun bahasa Melayu-Sumbawa.

Variasi dalam bahasa Sunda

Dialek (basa wewengkon) bahasa Sunda beragam, mulai dari dialek Sunda-Banten, hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para pakar bahasa biasanya membedakan enam dialek yang berbeda. Dialek-dialek ini adalah:
  • Dialek Barat
  • Dialek Utara
  • Dialek Selatan
  • Dialek Tengah Timur
  • Dialek Timur Laut
  • Dialek Tenggara

Dialek Barat dipertuturkan di daerah Banten selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Lalu dialek Selatan adalah dialek Priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Sementara itu dialek Tengah Timur adalah dialek di sekitar Majalengka. Dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar Kuningan, dialek ini juga dipertuturkan di beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah. Dan akhirnya dialek Tenggara adalah dialek sekitar Ciamis.

Bahasa Sunda Kuna adalah bentuk bahasa Sunda yang ditemukan pada beberapa catatan tertulis, baik di batu (prasasti) maupun lembaran daun kering (lontar). Tidak diketahui apakah bahasa ini adalah dialek tersendiri atau merupakan bentuk yang menjadi pendahulu bahasa Sunda modern. Sedikitnya literatur berbahasa Sunda menyulitkan kajian linguistik varian bahasa ini.

Sejarah dan penyebaran

Bahasa Sunda terutama dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Namun demikian, bahasa Sunda juga dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Brebes dan Cilacap. Banyak nama-nama tempat di Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu, dan sebagainya. Ironisnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa ini merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa yang “disundakan”, sebab pada abad ke-19 nama ini seringkali ditulis sebagai “Clacap”.

Selain itu menurut beberapa pakar bahasa Sunda sampai sekitar abad ke-6 wilayah penuturannya sampai di sekitar Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah, berdasarkan nama “Dieng” yang dianggap sebagai nama Sunda (asal kata dihyang yang merupakan kata bahasa Sunda Kuna). Seiring mobilisasi warga suku Sunda, penutur bahasa ini kian menyebar. Misalnya, di Lampung, di Jambi, Riau dan Kalimantan Selatan banyak sekali, warga Sunda menetap di daerah baru tersebut.

Fonologi

Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin dan sangat fonetis. Ada lima suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (ɤ), dan tidak ada diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r, dan y.

Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z -> j, and kh -> h.

Berikut adalah fonem dari bahasa Sunda dalam bentuk tabel. Pertama vokal disajikan. (Silahkan isi sesuai keinginan)

Vokal
Depan Madya Belakang
Tertutup
Tengah e ə o
Hampir Terbuka (ɛ) ɤ (ɔ)
Terbuka a

Dan di bawah ini adalah tabel konsonan.

Konsonan
Bibir Gigi Langit2
keras
Langit2
lunak
Celah
suara
Sengau m n ɲ ŋ
Letap p b t d c ɟ k g ʔ
Desis s h
Getar/Sisi l r
Hampiran w j

Sistem penulisan

Huruf Besar Huruf Kecil Nama Huruf Besar Huruf Kecil Nama
A a M m
B b N n
C c Ng ng
D d Ny ny
E e O o
É é P p
Eu eu Q q
G g R r
H h S s
I i T t
J j U u
K k W w
L l Y y

Aksara Sunda

Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga

Undak-usuk

Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda – terutama di wilayah Parahyangan – mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan. Di bawah ini disajikan beberapa contoh.

Tempat

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
di atas .. di luhur .. palih luhur ..
di belakang .. di tukang .. palih pengker ..
di bawah .. di handap .. palih handap ..
di dalam .. di jero .. palih lebet ..
di luar .. di luar .. palih luar ..
di samping .. di sisi .. palih gigir ..
di antara ..
dan ..
di antara ..
jeung ..
antawis ..
sareng ..

Waktu

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
sebelum saacan, saencan, saméméh sateuacan
sesudah sanggeus saparantos
ketika basa nalika
Besok Isukan Enjing

Lain Lain

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda
(normal)
Bahasa Sunda
(sopan/lemes)
lapar Tina Tina
Ada Aya Nyondong
Tidak Embung Alim
Saya Urang Abdi/sim kuring/pribados

Perbedaan dengan Bahasa Sunda di Banten

Bahasa Sunda yang berada di Banten, serta yang berada di daerah Priangan (Garut, Tasikmalaya, Bandung, dll.) memiliki beberapa perbedaan. Mulai dari dialek pengucapannya, sampai beberapa perbedaan pada kata-katanya. Bahasa Sunda di Banten juga umumnya tidak mengenal tingkatan, Bahasa Sunda tersebut masih terlihat memiliki hubungan erat dengan bahasa Sunda Kuna. Namun oleh mayoritas orang-orang yang berbahasa Sunda yang memiliki tingkatan (Priangan), Bahasa Sunda Banten (Rangkasbitung, Pandeglang) digolongkan sebagai bahasa Sunda kasar. Namun secara prakteknya, Bahasa Sunda Banten digolongkan sebagai Bahasa Sunda dialek Barat. Pengucapan bahasa Sunda di Banten umumnya berada di daerah Selatan Banten (Lebak, Pandeglang). Berikut beberapa contoh perbedaannya:

Bahasa Indonesia Bahasa Sunda
(Banten)
Bahasa Sunda
(Priangan)
sangat jasa pisan
dia nyana anjeunna
susah gati hese
seperti doang siga
tidak pernah tilok tara
saya aing abdi
mereka maraneh aranjeuna
melihat noong ningali/nenjo
makan hakan tuang/dahar
kenapa pan naha
singkong dangdeur sampeu
tidak mau embung/endung alim
belakang Tukang Pengker
repot haliwu rebut
Baju Jamang Acuk
Teman Orok Batur

Contoh perbedaan dalam kalimatnya seperti:

Ketika sedang berpendapat:

  • Sunda Banten (Rangkasbitung): “Jeuuuh aing mah embung jasa jadi doang jelma nu kedul!”
  • Sunda Priangan: “Ah abdi mah alim janten jalmi nu pangedulan teh!”
  • Bahasa Indonesia: “Wah saya sangat tidak mau menjadi orang yang malas!”

Ketika mengajak kerabat untuk makan (misalkan nama kerabat adalah Eka) :

  • Sunda Banten (Rangkasbitung): “Teh Eka, maneh arek hakan teu?”
  • Sunda Priangan: “Teh Eka, badé tuang heula?”
  • Bahasa Indonesia: “(Kak) Eka, mau makan tidak?”

Ketika sedang berbelanja:

  • Sunda Banten (Rangkasbitung): “Lamun ieu dangdeur na sabarahaan mang? Tong mahal jasa.”
  • Sunda Priangan: “Dupi ieu sampeu sabarahaan mang? Teu kénging awis teuing nya”
  • Bahasa Indonesia: “Kalau (ini) harga singkongnya berapa bang? Jangan kemahalan.”

Ketika sedang menunjuk:

  • Sunda Banten (Rangkasbitung): “Eta diditu maranehna orok aing”
  • Sunda Priangan: ” Eta palih ditu réréncangan abdi. “
  • Bahasa Indonesia: “Mereka semua (di sana) adalah teman saya”

Meski berbeda pengucapan dan kalimat, namun bukan berarti beda bahasa, hanya berbeda dialek. Berbeda halnya dengan bahasa Sunda Priangan yang telah terpengaruh dari kerajaan Mataram. Hal itu yang menyebabkan bahasa Sunda Priangan, memiliki beberapa tingakatan. Sementara bahasa Sunda Banten, tidak memiliki tingkatan. Penutur aktif bahasa Sunda Banten saat ini, contohnya adalah orang-orang Sunda yang tinggal di daerah Banten bagian selatan (Pandeglang, Lebak). Sementara masyarakat tradisional pengguna dialek ini adalah suku Baduy di Kabupaten Lebak.

Sementara wilayah Utara Banten, seperti Serang, umumnya menggunakan bahasa campuran (multi-bilingual) antara bahasa Sunda dan Jawa.

Bilangan dalam bahasa Sunda

Bilangan Lemes
1 hiji
2 dua
3 tilu
4 opat
5 lima
6 genep
7 tujuh
8 dalapan
9 salapan
10 sa-puluh
11 sa-belas
12 dua belas
13 tilu belas
.. ..
20 dua puluh
21 dua puluh hiji
22 dua puluh dua
.. ..
100 sa-ratus
101 sa-ratus hiji
.. ..
200 dua ratus
201 dua ratus hiji
.. ..
1.000 sa-rebu
.. ..
1.000.000 sa-juta
.. ..
1.000.000.000 sa-miliar
.. ..
1.000.000.000.000 sa-triliun
.. ..
1.000.000.000.000.000 sa-biliun

[alert style=”white”] wikipedia [/alert]

Sejarah Pangandaran

Sejarah Pangandaran

Pada awalnya Desa Pananjung Pangandaran ini dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari suku sunda. Penyebab pendatang lebih memilih daerah Pangandaran untuk menjadi tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil yang membuat mudah untuk mencari ikan. Karena di Pantai Pangandaran inilah terdapat sebuah daratan yang menjorok ke laut yang sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung, tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai. Di sinilah para nelayan menjadikan tempat tersebut untuk menyimpan perahu yang dalam bahasa sundanya disebut andar setelah beberapa lama banyak berdatangan ke tempat ini dan menetap sehingga menjadi sebuah perkampungan yang disebut Pangandaran. Pangandaran berasal dari dua buah kata pangan dan daran . yang artinya pangan adalah makanan dan daran adalah pendatang. Jadi Pangandaran artinya sumber makanan para pendatang.

Lalu para sesepuh terdahulu memberi nama Desa Pananjung, karena menurut para sesepuh terdahulu di samping daerah itu terdapat tanjung di daerah inipun banyak sekali terdapat keramat-keramat di beberapa tempat. Pananjung artinya dalam bahasa sunda Pangnanjung-nanjungna ( paling subur atau paling makmur)

Pada mulanya Pananjung merupakan salah satu pusat kerajaan, sejaman dengan kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggan sekitar abad XIV M.  setelah munculnya kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor.  Nama rajanya adalah Prabu Anggalarang yang salah satu versi mengatakan bahwa beliau masih keturunan Prabu Haur Kuning, raja pertama kerajaan Galuh Pagauban, namun sayangnya kerajaan Pananjung ini hancur diserang oleh para Bajo (Bajak Laut) karena pihak kerajaan tidak bersedia menjual hail bumi kepada mereka, karena pada saat itu situasi rakyat sedang dalam keadaan paceklik (gagal panen).

Pada tahun 1922 pada jaman penjajahan Belanda oleh Y. Everen (Presiden Priangan) Pananjung dijadikan taman baru, pada saat melepaskan seekor banteng jantan, tiga ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa.

Karena memiliki keanekaragaman satwa dan jenis – jenis tanaman langka, agar kelangsungan habitatnya dapat terjaga maka pada tahun 1934 Pananjung dijadikan suaka alam dan marga satwa dengan luas 530 Ha.  Pada tahun 1961 setelah ditemukannya Bunga Raflesia padma status berubah menjadi cagar alam.

Dengan meningkatnya hubungan masyarakat akan tempat rekreasi maka pada tahun 1978 sebagian kawasan tersebut seluas 37, 70 Ha dijadikan Taman Wisata.  Pada tahun 1990 dikukuhkan pula kawasan perairan di sekitarnya sebagai cagar alam laut (470,0 Ha) sehingga luas kawasan pelestarian alam seluruhnya menjadi 1000,0 Ha.  Perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 104?KPTS-II?1993 pengusahaan wisata TWA Pananjung Pangandaran diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani dalam pengawasan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, Kesatuan Pemangkuan Hutan Ciamis, bagian Kemangkuan Hutan Pangandaran.

[alert style=”white”] referensi: mypangandaran.com [/alert]

Sejarah Kabupaten Ciamis

Sejarah Kabupaten Ciamis

Proses lahirnya hari jadi Kabupaten Ciamis, diawali dengan keluarnya Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ciamis tanggal 6 oktober 1970 Nomor: 36/X/Kpts/DPRD/1970 dan Nomor : 5/II/Kpts/DPRD/1971, tentang Pembentukan Panitia Penyusunan Sejarah Galuh, yang dalam pelaksaannya panitia tersebut didampingi oleh tim ahli sejarah IKIP Bandung, yang dipimpin oleh Drs. Rd. H. Said Raksanegara.

Dibentuknya panitia penyusunan sejarah Galuh, dimaksudkan untuk menelusuri dan mengkaji sejarah Galuh secara menyeluruh, mengingat terdapat beberapa alternatif didalam menetapkan hari jadi tersebut, apakah akan memakai Titimangsa Rahyangta di Medangjati yaitu mulai berdirinya Kerajaan Galuh oleh Wretikkandayun tanggal 23 maret 612 M atau zaman Rakean Jamri yang juga disebut Raiyang Sanjaya sebelum Sang Manarah berkuasa, atau akan mengambil tanggal dan tahun dari peristiwa peristiwa, sebagai berikut :

  1. Digantinya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis oleh Bupati Rd. Tumenggung Sastra Winata pada tahun 1916;
  2. Pindahnya pusat pemerintahan dari Imbanagara ke Cibatu (Ciamis) oleh Bupati Rd. Aa Wiradikusumah pada tanggal 15 januari 1815;
  3. Atau berpindahnya pusat Kabupaten Galuh dari Garatengah yang letaknya di sekitar Cineam (Tasikmalaya) ke Barunay (Imbanagara) pada tangal 12 juni 1642.

Hasil kerja keras panitia penyusun sejarah Galuh dan tim ahli sejarah IKIP Bandung, akhirnya menyimpulkan bahwa hari jadi Kabupaten Ciamis jatuh pada tanggal 12 juni 1642, yang kemudian dikukuhkan dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ciamis tanggal 17 Mei 1972 nomor: 22/V/Kpts/DPRD/ 1972.

Dengan Keputusan DPRD tersebut, diharapkan teka-teki mengenai hari jadi Kabupaten Ciamis tidak dipertentangkan lagi dan juga diharapkan seluruh masyarakat mengetahui, sehingga akan lebih bersemangat untuk membangun tatar galuh ini, sejalan dengan moto juang kabupaten ciamis, yaitu: pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya dinabuana untuk mengejar / mewujudkan mahayunan ayuna kadatuan.

Kata Galuh berasal dari bahasa sansekerta, yang berarti batu permata, Kerajaan Galuh berarti kerajaan batu permata yang indah gemerlapan, subur makmur gemah ripah loh jinawi, aman tentram kertaraharja.

Dari sejarah terungkap bahwa pendiri Kerajaan Galuh adalah Wretikkandayun, ia adalah putra bungsu dari Kandiawan yang memerintah Kerajaan Kendan selama 15 tahun ( 597 s.d 612) yang kemudian menjadi pertapa di Layungwatang (daerah Kuningan) dan bergelar Rajawesi Dewaraja atau Sang Layungwatang.

Wretikkandayun berkedudukan di Medangjati, tetapi ia mendirikan pusat pemerintahan yang baru dan diberi nama Galuh (yang lokasinya kurang lebih di desa Karangkamulyan sekarang). Ia dinobatkan pada tanggal 14 Suklapaksa bulan Caitra tahun 134 Caka (kira – kira 23 Maret 612 Masehi). Tanggal tersebut dipilihnya benar-benar menurut tradisi Tarumanagara, karena tidak saja dilakukan pada hari
purnama melainkan juga pada tanggal itu matahari terbit tepat di titik timur.

Tujuan Wretikkandayun membangun pusat pemerintahan di daerah Karangkamulyan (sekarang) adalah untuk membebaskan diri dari Tarumanagara, yang selama itu menjadi negara adikuasa. Oleh karena itu demi mewujudkanobsesinya ia menjalin hubungan baik dengan kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, bahkan putra bungsunya Mandi Minyak di jodohkan dengan Parwati putri sulung Maharanissima.

Kesempatan untuk menjadi negara yang berdaulat penuh, terjadi pada tahun 669 ketika Linggawarman (666 s.d 669) Raja Tarumanagara yang ke 12 wafat. Ia digantikan oleh menantunya (suami Dwi Manasih) bernama Terus Bawa yang berasal dari kerajaan Sunda Sumbawa. Terus Bawa inilah yang pada saat penobatannya tanggal 9 Suklapaksa bulan Yosta tahun 951 Caka (kira-kira 17 Mei 669 Masehi), ia mengubah kerajaan Tarumanagara menjadi Negara Sunda.

Masa Kerajaan Galuh berakhir kira-kira tahun 1333 Masehi ketika Raja Ajiguna Lingga Wisesa atau Sang Dumahing Kending (1333 s.d 1340) mulai bertahta di Kawali, sedangkan kakaknya Prabu Citragada atau Sang Dumahing Tanjung bertahta di Pakuan Pajajaran.

Lingga Wisesa adalah kakek Maharaja Linggabuana yang gugur pada Perang Bubat tahun 1357, yang kemudian diberi gelar Prabu Wangi. Ia gugur bersama putri sulungnya Citra Resmi atau Diah Pitaloka. Diah Pitaloka mempunyai adik laki-laki yang bernama Wastu Kancana dan diberi umur panjang.

Ketika perang bubat berlangsung, Wastu Kancana baru berusia 9 tahun dibawah bimbingan pamannya yaitu Mangkubumi Suradipati alias Sang Bumi Sora atau Batara Guru di Jampang, Wastu Kancana berkembang menjadi seorang calon raja yang seimbang keluhuran budinya lahir bathin, sepeti tersebut pada wasiatnya yang tertulis pada Prasasti Kawali yaitu:

  1. Negara akan jaya dan unggul perang bila rakyat berada dalam kesejahteraan (kareta beber).
  2. Raja harus selalu berbuat kebajikan (pakena gawe rahayu).

itulah syarat yang menurut wasiatnya untuk dapat pakeun heubeul jaya dina buana, pakeuna nanjeur najuritan untuk menuju mahayunan ayuna kadatuan.

Pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kancana, negara dan rakyatnya berada dalam keadaan aman tenteram kertaraharja, para abdi dalem patuh dan taat terhadap peraturan ratu yang dilandasi oleh Purbastiti dan Purbajati.

Wastu Kancana mempunyai dua orang isteri, yaitu Larasati (Puteri Resi Susuk Lampung) dan Mayangsari. Putra sulung dari Larasati yang bernama Sang Halimun diangkat menjadi penguasa Kerajaan Sunda berkedudukan di Pakuan Pajajaran pada Tahun 1382.

Dari Mayangsari, Wastu Kancana mempunyai empat orang putera yaitu Ningrat Kencana, Surawijaya, Gedeng Sindangkasih dan Gedeng Tapa. Ningrat Kencana diangkat menjadi Mangkubumi di Kawali dengan gelar Surawisesa. Wastu Kancana wafat pada Tahun 1475 dan digantian oleh Ningrat Kencana dengan gelar Prabu Dewa Niskala berkedudukan di Kawali, yang hanya menguasai Kerajaan Galuh, karena Kerajaan Sunda dikuasai oleh kakaknya yaitu Sang Halimun yang bergelar Prabu Susuk Tunggal. Dengan wafatnya Wastu Kancana, maka berakhirlah periode Kawali yang berlangsung selama 142 tahun (1333 s.d 1475).

Dalam periode tersebut, Kawali menjadi pusat pemerintahan dan keraton Surawisesa menjadi persemayaman raja-rajanya terlebih lagi Sribaduga Maharatu Haji sebagai pewaris terakhir tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya Dewa Niskala yang pusat kerajaanya di Keraton Surawisesa pindah ke Pakuan Pajajaran (Bogor sekarang) untuk merangkap jabatan menjadi Raja Sunda yang dianugerahkan dari mertuanya, maka sejak itu Galuh Sunda bersatu kembali menjadi Pakuan Pajajaran dibawah kekuasaan Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata yang kini lazim disebut Prabu Siliwangi.

Penanggalan pada zaman Kerajaan Galuh bihari nampaknya kurang tepat bila dijadikan penanggalan hari jadi Kabupaten Ciamis, karena luas teritorialnya sangat jauh berbeda dengan keadaan Kabupaten Ciamis sekarang.

Nama Kerajaan Galuh baru muncul Tahun 1595, yang sejak itu mulai masuk kekuasan Mataram. Adapun batas-batas kekuasaannya sebagai berikut :

  • di sebelah timur, sungai citanduy;
  • di sebelah barat, galunggung sukapura;
  • di sebelah utara, sumedang dan cirebon;
  • di sebelah selatan, samudera hindia.

Daerah-daerah Majenang, Dayeuh Luhur dan Pagadingan termasuk juga daerah  Galuh masa itu (menurut DR. F. Dehaan) dan ternyata dari segi adat istiadat dan bahasa masih banyak kesamaan dengan tatar Pasundan terutama sekali di daerah pegunungan.

Kerajaan Galuh pada saat itu terbagi menjadi beberapa pusat kekuasaan yang dipimpin oleh raja-raja kecil (Kandaga Lante), yang kemudian dianggap sederajat dengan Bupati yang antara satu dengan yang lainnya masih mempunyai hubungan darah mempunyai perkawinan. Pusat-pusat kekuasaan tersebut berada di wilayah Cibatu, Garatengah, Imbanagara, Panjalu, Kawali, Utama (Ciancang), Kertabumi (Bojonglopang) dan Kawasen (Desa Banjarsari).

Pengaruh kekuasaan Mataram sedikit banyak mewarnai tata cara pemerintahan dan budaya Kerajaan Galuh dari tata cara buhun sebelumnya pada zaman itu mulai ada pergeseran antara Bupati yang satu dengan Bupati yang lainnya, seperti Adipati Panaekan putra Prabu Galuh Cipta pertamanya diangkat menjadi Bupati Wedana (semacam Gubernur) di Galuh oleh Sultan Agung.

Pengangkatan tersebut menyulut perselisihan faham antara Dipati Panaekan dengan Adipati Kertabumi yang berakhir dengan tewasnya Adipati Panaekan. jenazahnya dihanyutkan ke sungai Citanduy dan dimakamkan di Pasarean Karangkamulyan. Sebagai penggantinya ditunjuk Adipati Imbanagara yang pada waktu itu berkedudukan di Garatengah (Cineam – Tasikmalaya).

Usaha Sultan Agung untuk melenyapkan kekuasaan VOC di Batavia pada penyerangan pertama mendapat dukungan penuh dari Adipati Ukur, walaupun pada penyerangan itu gagal. Pada penyerangan kedua ke Batavia, Dipati Ukur mempergunakan kesempatan tersebut untuk membebaskan daerah Ukur dan sekitarnya dari pengaruh kekuasaan Mataram. Politik Dipati Ukur tersebut harus dibayar mahal, yaitu dengan terbunuhnya Adipati Imbanagara (yang dianggap tidak setia lagi kepada Mataram) oleh utusan Mataram yang dipenggal kepalanya dan dibawa ke Mataram sebagai barang bukti. Sedangkan badannya dimakamkan di Bolenglang (Kertasari). Tetapi kepala Adipati Imbanagara dapat direbut lagi oleh para pengikutnya walaupun terjatuh di sungai Citanduy, yang kemudian tempat jatuhnya disebut leuwi panten.

Kedudukan Adipati Imbanagara selanjutnya digantikan oleh puteranya yang bernama Mas Bongsar atau Raden Yogaswara dan atas jasa-jasanya dianugerahi gelar Raden Adipati Panji Jayanegara.

Pada masa pemerintahan Raden Adipati Panji Jayanegara, pusat kekuasaan pemerintahan dipindahkan dari Garatengah ke Calingging yang kemudian dipindahkan lagi ke Barunay (Imbanagara sekarang ), pada tanggal 14 Maulud atau pada tanggal 12 Juni 1642 M.

Perpindahan pusat Kabupaten Galuh dari Garatengah ke Imbanagara, mempunyai arti penting dan makna yang sangat dalam bagi perkembangan Kabupaten Galuh berikutnya dan merupakan era baru pemerintahan Galuh menuju terwujudnya Kabupaten Ciamis dikemudian hari, karena :

  1. Peristiwa tersebut membawa akibat yang positif terhadap perkembangan pemerintahan maupun kehidupan masyarakat kabupaten galuh yang mempunyai batas teritorial yang pasti dan terbentuknya sentralisasi pemerintahan
  2. Perubahan tersebut mempunyai unsur perjuangan dari pemegang pimpinan kekuasaan terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyatnya dan adanya usaha memerdekakan kebebasan rakyatnya dari kekuasaan penjajah.
  3. Kabupaten Galuh dibawah pemerintahan Bupati Rd. Adipati Arya Panji Jayanegara mampu menyatukan wilayah galuh yang merdeka dan berdaulat tanpa kekerasan.
  4. Adanya pengakuan terhadap kekuasaan Mataram dari Kabupaten Galuh semata-mata dalam upaya memerangi penjajah (VOC) dan hidup berdampingan secara damai.
  5. Sejarah perkembangan Kabupaten Galuh tidak dapat dipisahkan dari sejarah terbentuknya Kabupaten Ciamis itu sendiri. Dirubahnya nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis pada tahun 1916 oleh Bupati Rd. Tumenggung Satrawinata (Bupati ke 18) sampai sekarang belum terungkap alasannya merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri dan dihindari.

Atas pertimbangan itulah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Ciamis dalam sidang Paripurna Khusus tanggal 17 Mei 1972 dengan Surat Keputusannya, sepakat untuk menetapkan tanggal 12 Juni 1642 sebagai hari jadi Kabupaten Ciamis.

Demikianlah sekilas pintas sejarah hari jadi Kabupaten Ciamis yang kita banggakan dan kita cintai mudah-mudahan Komara Galuh Ciamis terus cemerlang dan makin gemerlap oleh keluhuran budi masyarakat dan Aparatur Pemerintahnya.

[alert style=”white”] referensi: ciamiskab [/alert]

Pantai Karapyak

Pantai Karapyak

Ada sejumlah objek wisata pantai di Kabupaten Ciamis selain Pantai Pangandaran dan Pantai Batu Hiu. Keindahan alam dan pantai yang satu ini melebihi keindahan pantai di Pangandaran maupun Batu Hiu. Pantai yang dimaksud adalah Pantai Karapyak, terletak di Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis. Sekitar 20 km dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun-alun Kota Ciamis.

Untuk menuju lokasi ini tidak begitu sulit, karena akses masuk ke sana sudah bagus, bahkan ada penunjuk jalan yang bisa mengarahkan wisatawan ke Pantai Karapyak. Yang patut disayangkan, belum adanya angkutan umum yang bisa membawa pengunjung ke Pantai Karapyak, sekalipun ojek. Hanya pengunjung yang mempunyai kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan yang bisa mencapai Pantai Karapyak.

Keindahan Pantai Karapyak memang belum bisa mengalahkan Pantai Pangandaran. Namun bukan berarti tidak layak dikunjungi dan dijadikan objek wisata. Pantai ini mempunyai kelebihan hamparan pasir putih yang memanjang sepanjang kurang lebih 5 km dipadu dengan tonjolan batu karang. Keindahan semakin kentara, ketika ombak laut mulai surut, ikan hias berenang ke sana kemari di sela-sela batu karang. Kepiting kecil dan kumang (kepiting berumah) keluar masuk lubang pasir sambil membawa makanan. Tak hanya itu, cangkang kerang dan hewan moluska lainnya serta karang putih berserakan di sepanjang pantai, menggoda kita untuk mengambil dan mengumpulkannya untuk dijadikan suvenir laut.

Batu karang yang menghampar dan menjorok hampir ke tengah lautan, memang menjadi surga bagi ikan laut. Ada puluhan ribu bahkan puluhan juta ikan hias yang hidup di sana, jelas membuat Pantai Karapyak lebih hidup dan menantang. Selain hamparan pasir putih dan batu karang, pantai ini pun mempunyai tebing-tebing curam nan indah, yang siap mengundang para petualang untuk menjelajahi tiap jengkal tebing karangnya. Di bawah tebing curam, deburan ombak siap mengolah adrenalin hingga ubun-ubun. Buih-buih ombak di bawah tebing curam seolah menanti cucuran keringat petualangan Anda.

Selain menawarkan sejuta keindahan dan petualangan, Pantai Karapyak terbilang masih alami dan perawan. Ini ditandai masih bersihnya pantai dari serbuan sampah plastik maupun sejenisnya. Kondisi alamnya pun masih alami dan terawat. Hanya sayang, pantai ini kurang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Ini terlihat dari masih jarangnya warung-warung maupun penginapan yang dikembangkan warga setempat.

Hal ini lebih diakibatkan gelombang ombaknya yang tinggi dan menyeramkan, juga pantainya yang curam karena terhubung langsung dengan batu-batu karang. Juga kurangnya akses masuk ke lokasi tersebut. Padahal di Karapyak sudah didirikan menara pengawas pantai serta sarana lainnya yang siap memanjakan para wisatawan. Terlebih pantai ini lokasinya sangat dekat Pulau Nusakambangan. Cukup dengan menyewa perahu, Anda bisa menginjakkan kaki di pulau yang mengundang sejuta misteri ini. Tak hanya itu, Anda pun bisa berjalan-jalan menyusuri muara Sungai Citanduy atau lebih dikenal dengan sebutan Sagara Anakan. Jauh di tengah laut, berdiri tegak dua batu karang yang membentuk pintu masuk ke Sagara Anakan. Menurut nelayan setempat, Maryono, batu karang tersebut dijadikan benteng pertahanan Dermaga Sagara Anakan dari serbuan ombak yang ganas.

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com, ciamiskab[/alert]

Ciamis, Kota Manis Manjing Dinamis

Ciamis, Kota Manis Manjing Dinamis

Ciamis, sebuah Kabupaten di daerah Provinsi Jawa Barat, suatu kota dimana saya dilahirkan, kota dimana saya tumbuh. Kabupaten Ciamis berada pada posisi strategis yang dilalui jalan Nasional lintas Jawa Barat-Jawa Tengah dan jalan Provinsi lintas Ciamis-Cirebon-Jawa Tengah. Kabupaten Ciamis ini awalnya disebut dengan nama Galuh, karena dahulu di Ciamis ini terdapat sebuah Kerajaan yang bernama Galuh. Singkatnya kerajaan Galuh ini terkenal dengan kejadian yang masih terkenang hingga sekarang, yaitu terjadinya perang Bubat antara Kerajaan Sunda (Galuh) dengan Majapahit. Peperangan tersebut terjadi karena Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit, yakni Patih Gajah Mada yang menghendaki Puteri Sunda, Dyah Pitaloka, menjadi upeti. hingga peperangan pun terjadi dan hampir semua gugur.

Dibalik cerita perang Bubat pun yang masih menjadi mitos adanya Sunda-Jawa tersebut, masih banyak potensi wisata dan situs budaya di Ciamis. objek wisata budaya di Ciamis diantaranya ada Situ Lengkong Panjalu (dengan objek wisata alam, danau dan ada beberapa peninggalan kerajaan kuno), Astana Gede (Bukti keberadaan Kerajaan Sunda), Karangkamulyan (pusat peninggalan kerajaan Galuh), Kampung Kuta (kamput adat), Urug Kasang (tempat ditemukannya fosil-fosil), Situs Gunung Susuru (tinggalan Punden Berundak dari masa Kerajaan Hindu).

Ciamis juga terkenal dengan Pantainya yang sangat indah, yaitu Pantai Pangandaran dan cagar alam Pananjung. Pangandaran merupakan objek wisata di Kabupaten Ciamis yang merupakan primadona pantai di Provinsi Jawa Barat. Pangandaran sendiri memiliki banyak keistimewaan, diantaranya dapat melihat terbit dan terbenamnya matahari dari tempat yang sama, Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan orang untuk berenang dengan aman. Kemudian, terdapat pantai dengan hamparan pasir putih yang luas dimana setiap pengunjung bisa melihat batu karang dan ikan-ikan hias dengan jelas. Pada pesisir pantai pasir putih ini pengunjung bisa melakukan penyelaman. Di kawasan ini juga terdapat cagar alam, yang didalamnya terdapat Goa-Goa Alam yang terbentuk ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Terdapat pula Goa Belanda sebagai tempat persembunyian tatkala mendapat serangan tentara Sekutu.

Masih banyak objek wisata lainnya yang perlu anda kunjungi, karena Ciamis, Kota Manis dengan segala objek wisata yang tidak kalah dengan daerah lain. Makanan khas Ciamis yakni Galendo, mungkin anda penasaran apa Galendo ? Galendo sejenis ampas dari minyak kelapa

Jika anda jalan-jalan ke Ciamis, jangan lupa mampis di Taman Raflesia, alun-alun kota Ciamis yang juga merupakan maskot Kota Manis ini. Dinamakan Taman Raflesia, karena di Taman tersebut di tengah-tengahnya terdapat patung raksasa bunga raflesia. Taman ini selalu rame dari pagi hingga tengah malam, dari mulai anak kecil, hingga orang tua banyak yang suka sekedar main di alun-alun ini.

Bagi anda yang belum pernah main ke Ciamis,yuk, maen kesini 🙂

[alert style=”white”]referensi: wisata.kompasiana.com[/alert]

Peninggalan Arkeologi Klasik di Ciamis

Peninggalan Arkeologi Klasik di Ciamis

PENELITIAN ARCA-ARCA DI CIAMIS KAITANNYA DENGAN RAGAM PENGARCAAN

Endang Widyastuti

Sari

Penelitian tentang ikonografi yang dilaksanakan di Kabupaten Ciamis telah mendata sejumlah arca. Berdasarkan ciri-cirinya arca-arca tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Ketiga kelompok tersebut yaitu arca tipe Polinesia, arca bercorak Hindu-Buddha, dan arca tipe Pajajaran.

Abstract

Iconography research in the Ciamis area had been collected data from a number of statues. Based on its characteristics, the statues can be divided into three groups. Which are Polynesians, Hindu-Buddha pattern, and Pajajaran types.

Kata Kunci: arca, tipe Polinesia, tipe Pajajaran

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kawasan Ciamis banyak mengandung potensi arkeologis. Tinggalan-tinggalan tersebut meliputi kurun waktu yang cukup panjang, yaitu dari masa prasejarah sampai masa pengaruh Islam. Berdasarkan beberapa penelitian tercatat bahwa situs prasejarah di kawasan Ciamis berada di beberapa aliran sungai yang terdapat di daerah tersebut, di antaranya yaitu Sungai Cipasang dan Sungai Cisanca (Agus, 1994: 4; 1998/1999; Yondri, 1999: 4). Situs yang berasal dari masa Klasik di antaranya tercatat situs Karangkamulyan (Saptono, 2002), dan situs Kertabumi (Widyastuti, 2002a). Sementara itu dari masa Islam tercatat tinggalan berupa makam-makam Islam, di antaranya makam para bupati Ciamis dan Kompleks Makam Singaperbangsa (Widyastuti, 2000: 96). Tulisan ini akan membahas masa klasik di Kawasan Ciamis, khususnya mengenai arca-arca yang ditemukan tersebar di beberapa situs di Ciamis.

Di kawasan Sunda banyak ditemukan arca-arca yang berbeda bentuknya dengan arca di daerah lain, misalnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra. Arca-arca ini sering disebut dengan arca tipe Pajajaran. Penggambaran arca demikian berkaitan erat dengan perkembangan religi masa klasik Jawa Barat. Berdasarkan beberapa naskah seperti misalnya Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian dan Carita Parahyangan, menunjukkan bahwa pada awalnya, keagamaan yang melatari masyarakat Sunda adalah Hindu. Dalam perkembangannya agama Hindu bercampur dengan agama Buddha, dan pada akhirnya unsur kepercayaan asli muncul (Sumadio, 1990). Kemunculan kepercayaan asli dari para leluhur terlihat dari keterangan dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karêsian yang menurunkan derajat Dewata berada di bawah Hyang (Danasasmita, 1987: 96; Ayatrohaedi, 1982: 338). Fenomena yang terdapat di dalam naskah dan pada tinggalan arkeologis terlihat terdapat korelasi. Berdasarkan fenomena ini dilakukan penelitian ikonografi.

Penelitian tentang ikonografi di daerah Jawa Barat pernah dilakukan oleh J.F.G. Brumund dan N.J. Krom. Brumund dalam penelitiannya di daerah Bogor dan Priangan menemukan arca-arca yang kemudian disebut arca tipe Pajajaran (Mulia, 1980). Oleh Brumund istilah arca tipe Pajajaran hanya digunakan untuk menyebut arca Polinesia yang menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha, sedangkan arca yang tidak menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha tidak diberikan istilah tersendiri (Mulia, 1980: 600). Sementara itu, Krom menyatakan bahwa setiap arca yang tidak mempunyai ciri-ciri sebagai arca Hindu-Buddha yang menonjol adalah arca Polinesia dan berfungsi sebagai arca pemujaan leluhur. Menurut Krom arca Polinesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu

  1. arca yang berasal dari masa sebelum zaman klasik
  2. yang dilanjutkan sesudah mulai pengaruh Hindu-Buddha dan tetap berfungsi; terdapat di daerah terpencil
  3. yang sudah terpengaruh oleh kebudayaan Hindu-Buddha tetapi disesuaikan dengan konsepsi baru (Mulia, 1980: 602).

Berdasarkan pendapat Brumund dan Krom dapat ditarik kesimpulan bahwa di daerah Jawa Barat terdapat beberapa tipe arca, yaitu arca yang berasal dari masa sebelum klasik dan awal masa klasik yang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Arca semacam ini biasa disebut dengan arca tipe Polinesia atau arca megalitik. Tipe arca yang kedua adalah yang telah mendapat pengaruh Hindu-Buddha tetapi telah mengalami percampuran dengan kepercayaan asli. Arca sejenis ini biasa disebut dengan arca tipe Pajajaran. Di samping kedua tipe arca tersebut terdapat pula arca yang mengandung ciri-ciri sebagai pantheon Hindu atau Buddha.

Balai Arkeologi Bandung pada penelitian tahun 2000 di daerah Cirebon telah mendata beberapa arca tipe Pajajaran ini (Widyastuti, 2002b). Arca-arca tersebut digambarkan dengan sangat sederhana. Bentuk tangan dan kaki semuanya digambarkan melekat ke badan yang ditampilkan dengan memberikan batas goresan saja. Selain itu bentuk wajah sangat sederhana hanya berupa goresan-goresan yang membentuk mata, hidung, dan bibir. Berdasarkan pengamatan terhadap atribut yang ada dapat diketahui bahwa sekumpulan arca tersebut di antaranya menggambarkan Ganeça, Siwa, Lingga, dan arca-arca tipe Polinesia. Sementara itu, penelitian tahun 2003 yang dilaksanakan di daerah Kuningan juga mencatat adanya arca-arca sejenis. Arca-arca dari daerah Kuningan tersebut di antaranya menggambarkan Ganeça, Nandi, Lingga, Yoni, dan arca-arca Polinesia (Widyastuti, 2003).

Objek yang akan dibahas dalam makalah ini adalah arca-arca yang ditemukan di Kabupaten Ciamis. Ciamis pada masa klasik sering dihubungkan dengan keberadaan Kerajaan Galuh. Menurut Van der Meulen terdapat tiga Kerajaan Galuh, yaitu Galuh Purba yang berpusat di daerah Ciamis, Galuh Utara (Galuh Lor, Galuh Luar) yang berpusat di daerah Dieng, dan Galuh yang berpusat di Denuh (Tasikmalaya) (Iskandar, 1997: 97). Menurut Carita Parahyangan, Kerajaan Galuh mula-mula diperintah oleh Raja Séna. Pada suatu ketika Galuh diserang oleh Rahyang Purbasora. Ketika Sanjaya dewasa dapat merebut kembali dan berkuasa di Galuh (Danasasmita, 1983/1984: 61; Iskandar, 1997: 126 – 134). Nama Galuh (Galoeh) pada zaman Hindia-Belanda dijadikan nama kabupaten (afdeeling) yang termasuk dalam wilayah Residentie Cheribon. Wilayah afdeeling Galoeh di antaranya district Ciamis, Ranca, Kawali, dan Panjalu.

Masalah
Berdasarkan pendapat Brumund dan Krom diketahui bahwa terdapat 3 jenis arca yang terdapat di Jawa Barat yaitu arca tipe Polinesia, arca tipe Pajajaran, dan arca bercorak Hindu-Buddha. Arca tipe Polinesia yaitu arca sederhana yang tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai arca Hindu-Buddha. Arca demikian ini biasanya berhubungan dengan pemujaan terhadap nenek moyang. Arca tipe Pajajaran yaitu arca sederhana tetapi menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha, misalnya terdapat mahkota, senjata, sikap tangan, sikap duduk, dan atribut lain yang menunjukkan kedewaan. Sedang arca bercorak Hindu-Buddha yaitu arca yang penggambarannya sesuai dengan aturan ikonografi Hindu-Buddha. Berdasarkan hal tersebut timbul pertanyaan yaitu bagaimanakah penggambaran arca di daerah Ciamis.
Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai atribut-atribut pada arca-arca yang terdapat di Kabupaten Ciamis. Berdasarkan atribut yang ada diharapkan dapat diungkapkan mengenai unsur spesifik dan penyimpangannya. Dengan demikian dapat dikelompokkan arca-arca tersebut berdasarkan tipenya.
Metode Penelitian

Penelitian tentang ikonografi masa Kerajaan Sunda, menerapkan penelitian deskriptif. Strategi penelitian melalui observasi lapangan yaitu pendeskripsian dan pengukuran terhadap tinggalan arkeologis di daerah penelitian. Berdasarkan hasil pendeskripsian dapat diketahui atribut yang terdapat pada masing-masing arca. Selanjutnya dari atribut yang ada dapat diperoleh suatu kesimpulan mengenai tokoh yang diarcakan.

Pelaksanaan observasi tidak hanya berupa pendeskripsian dan pengukuran, tetapi juga dilaksanakan wawancara dengan masyarakat setempat. Wawancara ini dimaksudkan untuk melacak latar belakang keberadaan arca.

Ruang lingkup penelitian meliputi keseluruhan arca, baik berupa arca berbentuk manusia, dewa, binatang, ataupun arca-arca yang menggambarkan simbol-simbol tertentu seperti lingga dan yoni.
DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

Penelitian di Kabupaten Ciamis dilaksanakan di 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ciamis, Kecamatan Lakbok, Kecamatan Mangunjaya, Kecamatan Pamarican, Kecamatan Pangandaran, dan Kecamatan Cijeungjing.

Kecamatan Ciamis 

Gambaran Lokasi
Penelitian di Kecamatan Ciamis dilaksanakan di situs Jambansari. Situs Jambansari secara administratif termasuk lingkungan Rancapetir, Kelurahan Linggasari. Situs Jambansari berada pada ketinggian 233 m di atas permukaan laut dan pada koordinat 0719’48,7” LS dan 10820’54,2” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin). Situs ini merupakan kompleks makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, Bupati Ciamis ke-16, yang berkuasa dari tahun 1839-1886. Situs berada di sebuah lahan seluas 4 hektar. Pada lahan tersebut selain terdapat kompleks makam juga terdapat tanah persawahan. Kompleks makam R.A.A Kusumadiningrat berada pada lokasi tersebut dengan dibatasi pagar tembok. Di lokasi ini terdapat 13 buah arca. Menurut keterangan juru kunci makam, arca-arca yang terdapat di lokasi ini dikumpulkan oleh R.A.A Kusumadiningrat. Pengumpulan ini dilakukan dalam rangka dakwah agama Islam sehingga bagi yang mempunyai arca atau berhala diharuskan untuk dikumpulkan di lokasi tersebut. Untuk mempermudah pendeskripsian maka masing-masing arca tersebut diberi kode dengan huruf JBSR 1 sampai dengan JBSR 13. Berikut ini pemerian masing-masing arca tersebut:

Kode : JBSR 1
Uraian bentuk : Bahan arca berupa batuan sedimen. Arca digambarkan berupa manusia tanpa kaki. Tangan digoreskan bersilangan di dada. Muka arca berbentuk oval. Bagian-bagian muka digambarkan secara lengkap dengan mata, hidung dan mulut. Sebagian rambut disanggul di bagian atas kepala, dan sisa rambut terurai di bagian belakang. Jenis kelamin arca tidak jelas.

Kode : JBSR 2
Uraian bentuk : Arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk dengan bahan batuan sedimen. Kaki depan dilipat ke belakang dan kaki belakang dilipat ke depan. Kedua kaki bertemu di bagian perut. Bagian muka arca sudah sangat aus, tapi masih terlihat adanya mata berjumlah 2 buah. Mulut digambarkan berupa cekungan tipis. Lubang hidung berupa 2 cekungan berbentuk bulat berada di atas mulut. Pada bagian kepala terdapat 2 buah tanduk yang sudah patah sebagian. Pada bagian punggung terdapat tonjolan (punuk). Ekor digambarkan melengkung ke kiri dengan ujungnya berada di punggung.

Kode : JBSR 3
Uraian bentuk : Arca berbahan tufa dengan warna putih. Arca berupa manusia yang digambarkan setengah badan. Posisi sedang duduk dengan sandaran di belakangnya. Sandaran ini pada ujung atasnya meruncing. Kedua tangan di samping badan. Kedua tangan dilipat mengarah ke depan dan memegang sebuah benda berbentuk persegi. Muka arca digambarkan secara lengkap dengan mata terbuka lebar, hidung besar, mulut menyeringai sehingga terlihat giginya, dan telinga. Pada sisi kanan belakang terdapat goresan seperti jubah.

Kode : JBSR 4
Uraian bentuk : Merupakan arca manusia yang digambarkan sedang duduk dengan kaki terlipat (jongkok). Tangan ditekuk berada di depan dada. Bagian-bagian muka hanya berupa goresan-goresan yang membentuk mata, mulut, dan telinga. Sedang hidung tidak ada. Bahan arca ini berupa batuan sedimen.

Kode : JBSR 5
Uraian bentuk : Bahan yang digunakan berupa batuan sedimen. Kondisi arca sudah sangat aus. Arca digambarkan sebagai manusia berkepala gajah. Mata dan gading tidak ada. Belalai menjuntai menyentuh tangan kiri. Tangan kanan terpotong sebatas siku. Arca digambarkan memakai upawita di bahu kiri. Di bagian belakang kepala terdapat bulatan yang kemungkinan sebagai prabha. Bagian bawah arca hilang.

Kode : JBSR 6
Uraian bentuk : Arca digambarkan sebagai manusia berperut buncit, berbahan batuan sedimen. Bagian muka tidak ada lagi karena telah dipangkas. Tangan bersedakap di dada. Pada bagian bawah perut terdapat tonjolan.

Kode : JBSR 7
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu yang memanjang dengan bahan batuan sedimen. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat.

Kode : JBSR 8
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu yang memanjang dengan bahan batuan sedimen. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat.

Kode : JBSR 9
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu setinggi 48 cm, dari bahan batuan sedimen. Bagian dasar berdenah persegi dengan ukuran 36 x 30 cm. Pada bagian tengah melekuk ke dalam. Sebagian batu ini telah hilang.

Kode : JBSR 10
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu bulat dengan bagian atas rata. Batu ini merupakan batuan sedimen

Kode : JBSR 11
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu dengan bagian tengah berlubang. Bahan yang digunakan adalah batuan sedimen.

Kode : JBSR 12
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu yang memanjang, yang terbuat dari batuan sedimen. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat.

Kode : JBSR 13
Uraian bentuk : Arca ini menggunakan bahan tufa. Merupakan arca manusia yang digambarkan setengah badan. Posisi sedang duduk dengan sandaran di belakangnya. Tangan kiri memegang perut, sedangkan tangan kanan di samping badan. Arca ini bagian kepala dan sebagian sandaran hilang.

Kecamatan Lakbok

Gambaran lokasi
Penelitian di Kecamatan Lakbok dilaksanakan di Dusun Kelapa Kuning, Desa Sukanegara. Secara geografis wilayah ini berada di daerah dataran rendah dengan ketinggian 26 m di atas permukaan laut. Situs Kelapa Kuning berada pada koordinat 0724’076” LS dan 10809’22,1” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin). Situs berada di kebun milik penduduk. Sekarang ini arca-arca yang terdapat di lokasi ini telah dikumpulkan di sebuah bangunan. Menurut keterangan Bapak Marjono (juru pelihara) arca-arca tersebut sebagian besar telah dirusak oleh masyarakat pada tahun 1965.

Di lokasi ini terdapat 6 arca. Untuk mempermudah pendeskripsian maka masing-masing arca tersebut diberi kode dengan huruf LKB 1 sampai dengan LKB 6. Berikut ini pemerian masing-masing arca tersebut:

Kode : LKB 1
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu berdenah bujur sangkar. Bahan yang digunakan merupakan batuan sedimen. Pada salah satu sisi terdapat tonjolan. Di bagian tengah terdapat lubang. Di permukaan bagian atas batu terdapat pelipit, sedangkan sisi batu berbentuk sisi genta. Keadaan sekarang salah satu sudutnya telah hilang.

Kode : LKB 2
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu yang memanjang. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat. Bahan yang digunakan adalah batuan sedimen. Keadaan sekarang telah patah menjadi 3 bagian.

Kode : LKB 3
Uraian bentuk : Arca terbuat dari batuan sedimen. Arca digambarkan sebagai manusia dengan badan ramping. Bagian kepala dan tangan sudah hilang. Kaki hanya tersisa sebelah kiri sebatas lutut, sedangkan kaki kanan sudah hilang. Arca digambarkan duduk di atas lapik berbentuk balok. Di bagian belakang arca terdapat sandaran. Kondisi arca sudah sangat aus sehingga tidak terlihat lagi adanya hiasan atau atribut lain.

Kode : LKB 4
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu berdenah bujur sangkar. Sisi bagian bawah bertingkat-tingkat makin ke atas makin menyempit. Bagian atas batu ini telah hilang. Bahan yang digunakan berupa batuan sedimen.

Kode : LKB 5
Uraian bentuk : Bahan yang digunakan berupa batuan sedimen. Kondisi arca sudah sangat aus, sehingga goresan yang ada sudah sangat tipis. arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk. Penggambaran sapi disini hanya separuh bagian depan saja. Sedangkan bagian perut belakang dan kaki belakang tidak ada. Pada bagian samping kiri terdapat goresan yang menggambarkan kaki depan yang dilipat ke belakang. Sedang pada bagian samping kanan polos. Muka arca sudah tidak jelas lagi, tapi masih terlihat bagian menonjol yang merupakan moncongnya.

Kode : LKB 6
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu berdenah bujur sangkar, dengan bahan batuan sedimen. Pada bagian permukaan atas batu ini terdapat bagian yang menonjol. Bagian yang menonjol ini sebagian telah hilang. Di samping bagian tengah batu terdapat lekukan mengelilingi badan batu.

Kecamatan Mangunjaya

Gambaran Lokasi
Situs Mangunjaya secara administratif berada di Dusun Pasirlaya desa Mangunjaya. Lokasi temuan tepat berada di depan kantor kecamatan Mangunjaya. Situs Mangunjaya berada pada koordinat 0729’13,6” LS dan 10841 ‘47,1” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) dengan ketinggian 29 m di atas permukaan laut.

Lokasi temuan berada di puncak sebuah bukit. Sisi timur bukit tersebut sekarang sudah dipangkas untuk dibangun masjid. Pada sisi barat masih tampak adanya teras berundak yang dibentuk dengan batu pasir tufaan. Di sebelah utara situs terdapat Sungai Ciputrahaji, sedangkan di sebelah selatan terdapat Sungai Ciseel. Di lokasi tersebut terdapat dua buah batu bulat dan sebuah yoni. Pemerian yoni tersebut adalah sebagai berikut.

Kode : MGJ
Uraian bentuk : Berupa sebongkah batu berbentuk balok dengan bahan batuan sedimen. Pada waktu ditemukan tinggalan tersebut dalam posisi terbalik dan terbelah menjadi dua. Pada bagian permukaan atas batu terdapat lubang berbentuk bulat. Pada salah satu sisi bagian atas terdapat tonjolan yang berfungsi sebagai cerat. Bagian tonjolan ini sebagian telah patah. Pada bagian yang menonjol tersebut terdapat saluran yang menghubungkan lubang dengan sisi luar. Bagian badan batu tersebut terdapat pelipit. Pelipit tersebut dibuat secara simetris antara bagian atas dan bagian bawah, yaitu pelipit lebar dan pelipit tipis yang diseling dengan sisi genta.

Kecamatan Pamarican

Gambaran Lokasi
Penelitian di Kecamatan Pamarican dilaksanakan di situs Candi Ronggeng. Situs tersebut secara administratif berada di Kampung Kedung Bangkong, Dusun Sukamaju, Desa Sukajaya. Situs Candi Ronggeng berada pada koordinat 0725’46,9” LS dan 10829’36,7” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) dengan ketinggian 34 m di atas permukaan laut.

Situs berada pada lahan datar yang digunakan sebagai kebun oleh penduduk. Tanaman yang terdapat di lahan tersebut di antaranya adalah kelapa, bungur, sengon, mahoni, dan pisang. Di sebelah utara situs berjarak sekitar 50 m terdapat aliran Sungai Ciseel. Di antara situs dengan sungai terdapat tanggul tanah dengan lebar sekitar 4 m.

Sekarang pada lahan situs tidak terdapat adanya tinggalan. Menurut informasi di lahan tersebut pada kedalaman sekitar 1,5 m terdapat susunan batu-batu candi. Di lokasi ini juga pernah ditemukan sebuah arca yang sekarang disimpan di Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Pamarican. Berikut pemerian arca tersebut.

Kode : CRG
Uraian bentuk : Kondisi arca terbelah dua pada bagian perut. Arca berupa seekor sapi dengan posisi duduk di atas naga sehingga badan naga seolah menjadi alas badan sapi. Keempat kaki sapi terlipat. Kaki depan terlipat ke belakang, sedangkan kaki belakang terlipat ke depan. Sisi samping kanan arca, pada bagian perut terdapat bidang datar berbentuk segi lima. Ekor sapi melingkar ke samping kiri badan lalu ke atas dan ujungnya berada di punggung. Di punggung arca terdapat tonjolan seperti punuk. Pada bagian belakang terdapat goresan yang menggambarkan buah zakar sapi dengan ukuran yang besar. Pada bagian kepala arca tidak terdapat goresan yang membentuk mata, hidung, mulut, dan telinga. Di bawah kepala arca terdapat pahatan yang membentuk kepala naga. Kepala naga digambarkan menyeringai sehingga terlihat giginya. Pada masing-masing sisi terlihat 4 gigi atas dan 4 gigi bawah. Pada bagian depan mulut naga tersebut terdapat hiasan seperti kalung.

Kecamatan Pangandaran

Gambaran Lokasi
Di Kecamatan Pangandaran penelitian dilaksanakan di situs Batu Kalde. Situs Batu Kalde terletak di kawasan Taman Nasional Pangandaran yang dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat. Secara administratif wilayah ini termasuk Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Situs ini berada pada koordinat 0742’21,5” LS dan 10839’27,1” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) dengan ketinggian 54 m di atas permukaan laut. Wilayah ini di sebelah utara berbatasan dengan Desa Pananjung, sebelah timur berbatasan dengan Teluk Pananjung, sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia dan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Parigi. Situs Batu Kalde menempati lahan datar seluas 75 x 15 m.

Di lokasi ini terdapat 8 batu bulat, sebaran batu-batu bekas candi dan 2 buah arca. Untuk mempermudah pendeskripsian maka kedua arca tersebut masing-masing diberi kode dengan huruf BKL 1 dan BKL 2. Berikut ini pemerian masing-masing arca tersebut.

Kode : BKL 1
Uraian bentuk : Berupa batu berdenah bujur sangkar, berbahan batuan sedimen. Batu tersebut terdiri dari dua bagian. Bagian atas terbelah menjadi tiga. Pada permukaan atas terdapat pelipit. Pada bagian tengah permukaan atas terdapat lubang berbentuk bujur sangkar yang menembus sampai batu bagian bawah. Pada salah satu sisi terdapat bagian tonjolan, tetapi sekarang sudah terpangkas. Pada tonjolan tersebut terdapat cekungan sebagai saluran yang menghubungkan lubang dengan sisi luar. Bagian badan batu tersebut terdapat pelipit-pelipit. Bagian bawah batu sebagian sudah terpendam dalam tanah. Bagian luar dari batu bagian bawah ini bertingkat-tingkat makin ke atas makin sempit.

Kode : BKL 2
Uraian bentuk : Arca terbuat dari batuan sedimen. Arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk. Kaki kanan depan dilipat kebelakang, sedangkan kaki kiri depan dilipat ke depan. Kedua kaki belakang dilipat ke depan. Bagian muka arca sudah terpangkas sehingga tidak tampak lagi mata dan mulutnya. Pada bagian kepala masih terlihat adanya sepasang telinga. Di bawah bagian mulut yang hilang terdapat gelambir yang memanjang sampai dada. Di sepanjang badan sapi terdapat alur-alur sejajar yang merupakan proses pelapukan. Pada bagian punggung sapi terdapat tonjolan berbentuk persegi yang merupakan (punuk). Bagian punuk ini sebagian telah hilang. Ekor digambarkan melengkung ke kanan dengan ujungnya berada di punggung. Di antara kedua kaki belakang terlihat adanya buah zakar yang besar.

Kecamatan Cijeungjing

Gambaran Lokasi
Penelitian di Kecamatan Cijeungjing dilaksanakan di Kompleks Karangkamulyan. Kompleks Karangkamulyan secara administratif berada di Kampung Karangkamulyan, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing. Situs tersebut berada pada koordinat 0720’54,05” LS dan 10829’26,3” BT (berdasarkan pembacaan GPS Garmin) dengan ketinggian 70 m di atas permukaan laut.

Keadaan situs berupa hutan seluas sekitar 25,5 hektar pada pertemuan antara Sungai Cimuntur dan Citanduy. Pada saat ini komplek situs di sebelah utara dibatasi jalan raya, sebelah timur Sungai Cimuntur, sebelah selatan Sungai Citanduy, dan sebelah barat komplek rest area. Sungai Cimuntur di sebelah timur situs merupakan kelanjutan yang sebelumnya mengalir di sebelah utara kemudian berbelok ke arah selatan dan bersatu dengan Sungai Citanduy.

Situs Karangkamulyan merupakan kompleks situs yang sekarang sudah dijadikan obyek wisata budaya. Kompleks dilengkapi dengan tempat parkir, warung, dan masjid. Untuk memasuki situs Karangkamulyan melalui pintu masuk yang terdapat di sisi timur halaman belakang tempat parkir. Situs-situs yang terdapat di kompleks ini adalah Pangcalikan, Sipatahunan, Sanghyang Bedil, Panyabungan Hayam, Lambang Peribadatan, Cikahuripan, Panyandaan, Makam Sri Bhagawat Pohaci, Pamangkonan, Makam Adipati Panaekan. Situs-situs tersebut dikelilingi fetur parit dan benteng

Dari sejumlah situs di kompleks Karangkamulyan tinggalan ikonografi ditemukan di situs Pangcalikan. Selain itu di lokasi yang sekarang digunakan sebagai lahan parkir, pernah ditemukan sebuah arca Ganesha. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum “Sri Baduga” Bandung. Berikut pemerian temuan yang terdapat di situs Pangcalikan dan arca ganesha yang disimpan di Museum Sri Baduga.

Kode : KRKM
Uraian bentuk : Berupa batu dengan datar berdenah bujur sangkar. Bagian samping batu tersebut terdapat pelipit. Salah satu sudut batu ini telah hilang.

Ganesha di Museum Sri Baduga
Arca digambarkan duduk di atas lapik berbentuk bulat. Sikap duduk yaitu dengan posisi satu kaki bersila dan kaki yang lain dilipat ke atas. Pada bagian atas kepala arca terdapat semacam tutup kepala. Belalai menjuntai ke kiri. Perut digambarkan buncit. Di bagian dada terdapat upavita berupa tali polos.Tangan berjumlah empat, dua tangan yang belakang patah, sedangkan dua tangan yang lain masing-masing memegang lutut. Tinggi arca 46 cm. Arca Ganesha yang berasal dari Karangkamulyan ini mempunyai bentuk sederhana.

Penutup
Penelitian tentang ikonografi masa Kerajaan Sunda di Kabupaten Ciamis. Di Kabupaten Ciamis dilaksanakan di 6 kecamatan yaitu Kecamatan Ciamis, Lakbok, Mangunjaya, Pamarican, Pangandaran, dan Cijeungjing. Penelitian kali ini berhasil mendata 25 batu yang menunjukkan ciri-ciri pengerjaan oleh manusia. Dari ke 25 batu tersebut terdapat 21 batu yang merupakan arca. Sedang 4 batu yang lain bukan merupakan arca. Ke 4 batu tersebut adalah JBSR 9 (tidak diketahui), JBSR 10 (lapik), JBSR 11 (lumpang batu), dan LKB 6 (umpak). Sedang 21 batu yang merupakan arca adalah sebagai berikut.

JBSR 1 menggambarkan arca manusia dengan sangat sederhana. Arca ini belum dapat diketahui tokoh yang diarcakan karena tidak terdapat atribut kuat lain yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi. Arca dengan bentuk demikian merupakan arca tipe Polinesia.

JBSR 2 menggambarkan seekor sapi dalam posisi duduk dengan kaki terlipat. Arca demikian disebut dengan Nandi. Dalam mitologi Hindu, dewa digambarkan mempunyai binatang kendaraan (wahana). Kendaraan Dewa Brahma adalah angsa, Dewa Wisnu mempunyai kendaraan berupa garuda, sedang Nandi merupakan kendaraan dewa Siwa. Nandi yang terdapat di situs Jambansari ini digambarkan dengan sangat sederhana sehingga termasuk arca Nandi tipe Pajajaran.

JBSR 3 menggambarkan arca manusia setengah badan dengan posisi sedang duduk dengan sandaran di belakangnya. Kedua tangan dilipat mengarah ke depan dan memegang sebuah benda berbentuk persegi. Tidak terdapat atribut lain pada arca ini sehingga tidak dapat diketahui tokoh yang diarcakan. Arca dengan bentuk demikian dapat digolongkan sebagai arca tipe Polinesia.

JBSR 4 merupakan arca manusia yang digambarkan sedang duduk dengan kaki terlipat (jongkok). Bagian-bagian muka dan badan arca ini hanya merupakan goresan-goresan saja. Tidak ada atribut yang dapat digunakan untuk mengenali tokoh yang diarcakan. Arca dengan bentuk demikian merupakan arca tipe Polinesia.

JBSR 5 Kondisi arca sudah sangat aus Arca digambarkan sebagai manusia berkepala gajah dengan belalai menjuntai menyentuh tangan kiri. Arca demikian ini merupakan penggambaran Ganesha. Ganesha adalah salah satu dewa dalam pantheon Hindu. Ganesha dikenal sebagai anak dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang disembah sebagai dewa kebijaksanaan dan penyingkir halangan. Di Indonesia, Ganesha merupakan salah satu dari tiga dewa pendamping utama dewa Siwa. Pada sebuah candi, biasanya Ganesha ditempatkan pada bilik yang menghadap ke barat atau timur. Meskipun demikian, di Indonesia arca Ganesha seringkali ditemukan berdiri sendiri (Sedyawati, 1994: 5-6). Arca Ganesha ini digambarkan dengan sederhana, dengan demikian termasuk arca dengan tipe Pajajaran.

JBSR 6 Arca digambarkan sebagai manusia berperut buncit. Tangan bersedakap di dada. Arca dengan bentuk yang serupa pernah ditemukan di daerah Cikapundung Kabupaten Bandung. Menurut Eriawati arca demikian ini termasuk sebagai arca tipe Polinesia ( Eriawati 1995/1996: 74 – 78).

JBSR 7, JBSR 8 dan JBSR 12 berupa sebongkah batu yang memanjang. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat. Bentuk demikian ini menggambarkan lingga. Bagian-bagian lingga mempunyai penyebutan tersendiri yaitu bagian dasar berupa segi empat disebut brahmabhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan disebut wisnubhaga, dan bagian puncak berbentuk bulat panjang disebut siwabhaga (Atmodjo, 1999: 23). Lingga merupakan salah satu perwujudan Siwa. Dengan demikian ketiga arca tersebut merupakan arca bercorak Hindu.

JBSR 13 merupakan arca manusia yang digambarkan setengah badan. Posisi sedang duduk dengan sandaran di belakangnya. Tangan kiri memegang perut, sedangkan tangan kanan di samping badan. Tidak terdapat atribut lain pada arca ini sehingga tidak dapat diketahui tokoh yang diarcakan. Arca dengan bentuk demikian dapat digolongkan sebagai arca tipe Polinesia.

LKB 1 dan LKB 4 sebenarnya merupakan satu kesatuan yang disebut yoni. Ciri-ciri yoni yaitu berdenah bujur sangkar, terdapat tonjolan yang berfungsi sebagai cerat, dan terdapat lubang di permukaan bagian atas yang berfungsi untuk meletakkan lingga. Dalam mitologi Hindu, persatuan antara lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan (Atmojo, 1999: 23).

LKB 2 Berupa sebongkah batu yang memanjang. Penampang lintang batu ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian bawah berbentuk segi empat, tengah berbentuk segi delapan, dan bagian atas bulat. Bentuk demikian ini menggambarkan lingga.

LKB 3 Arca digambarkan sebagai manusia dengan badan ramping. Adanya sandaran atau stela memunculkan dugaan bahwa arca tersebut merupakan arca bercorak Hindu-Buddha. Kondisi arca sudah sangat aus sehingga tidak dapat diketahui tokoh yang diarcakan.

LKB 5 arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk. Dalam mitologi Hindu arca demikian ini disebut dengan Nandi. Nandi di LKB 5 ini digambarkan dengan sangat sederhana sehingga termasuk arca tipe Pajajaran.

MGJ berupa sebongkah batu berbentuk balok dengan cerat pada salah satu sisinya. Pada bagian permukaan atas batu terdapat lubang berbentuk bulat. Bentuk demikian ini menggambarkan yoni. Di Indonesia, yoni seringkali ditemukan bersama dengan lingga. Persatuan antara lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan.

CRG Arca berupa seekor sapi dengan posisi duduk di atas naga, sehingga badan naga seolah menjadi alas badan sapi. Penggambaran sapi disini mungkin dimaksudkan sebagai nandi. Bentuk naga yang berada di bawah nandi terlihat seperti makara yang sering ditemui pada pipi tangga masuk suatu bangunan. Adanya bidang datar pada sisi kanan perut nandi menunjukkan bahwa kemungkinan arca ini dahulu merupakan bagian suatu bangunan candi Hindu. Arca nandi ini digambarkan dengan sederhana, sehingga termasuk dalam arca tipe Pajajaran.

BKL 1 berupa batu berdenah bujur sangkar dengan lubang di permukaan atasnya. Meskipun cerat sudah tidak ada lagi, tetapi masih terlihat adanya saluran untuk mengalirkan air. Dalam mitologi Hindu bentuk demikan ini dikenal sebagai yoni.

BKL 2 arca digambarkan berupa sapi yang sedang duduk. Arca demikian disebut dengan nandi. Meskipun arca nandi ini pada beberapa bagian telah hilang tetapi masih terlihat bahwa arca tersebut digambarkan dengan lengkap sehingga termasuk dalam arca masa klasik.

KRKM Berupa batu dengan datar berdenah bujur sangkar. Bagian samping batu tersebut terdapat pelipit. Batu dengan bentuk demikian kemungkinan merupakan bagian dasar yoni yang diletakkan secara terbalik.

Ganesha dari Karang Kamulyan digambarkan dengan sangat sederhana, sehingga termasuk arca tipe Pajajaran.

Berdasarkan ciri-cirinya ke 21 buah arca tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama yaitu arca tipe Polinesia yang terdiri dari 5 arca. Ke lima arca tersebut yaitu JBSR 1, JBSR 3, JBSR 4, JBSR 6, dan JBSR 13. Arca-arca ini merupakan tinggalan hasil budaya tradisi megalitik dari masa prasejarah. Kelompok kedua yaitu arca yang bercorak Hindu-Buddha. Arca-arca yang termasuk kelompok kedua ini terdiri dari 11 arca. Ke 11 arca bercorak Hindu-Buddha tersebut terdiri dari bentuk Lingga (JBSR 7, JBSR 8, JBSR 12, dan LKB 2), Yoni ( LKB 1, LKB 4, MGJ, BKL 1, dan KRKM), Nandi (BKL 2). Sedangkan arca LKB 3 meskipun tidak jelas tokoh yang diarcakan, tetapi adanya stella menunjukkan ciri-ciri sebagai arca klasik. Dilihat dari konteks temuan lain yang ada di tempat tersebut kemungkinan arca tersebut berlatarbelakang religi Hindu. Arca kelompok ketiga yaitu yang termasuk arca tipe Pajajaran terdiri dari 5 arca. Termasuk dalam kelompok ini yaitu Nandi (JBSR 2, LKB 5, dan CRG) dan Ganesha (JBSR 5 dan Ganesha Karang Kamulyan). Arca-arca tersebut menunjukkan ciri-ciri sebagai arca klasik, tetapi dengan penggambaran yang sederhana.

Berdasarkan uraian terdahulu terlihat bahwa lingga dan yoni dibuat sesuai dengan aturan ikonografi. Ganesha Jambansari dan Karang Kamulyan keduanya dibuat dengan sangat sederhana. Bagian-bagian tubuh Ganesha Jambansari hanya dibuat dengan pahatan yang dangkal. Sedang Ganesha Karang Kamulyan dibuat dengan sederhana, tetapi penggambarannya telah mendekati aturan ikonografi. Sementara itu, Nandi dari Jambansari, Lakbok dan Candi Ronggeng bagian-bagian tubuhnya hanya digoreskan dengan pahatan yang dangkal, sedangkan Nandi dari Batu Kalde tidak mengalami modifikasi. Laporan Bujangga Manik (abad ke-15 M) dalam perjalanannya sepulang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur menyebutkan tentang adanya runtuhan candi di Pananjung (Ferdinandus 1990: 297). Dengan demikian diperkirakan bahwa situs Batu Kalde tersebut berasal dari masa pra Sunda.

Daftar Pustaka

Agus. 1994. “Stratigrafi dan Paleontologi Daerah Urug Kasang, Ciamis, Jawa Barat”. Dalam Jurnal Balai Arkeologi Bandung Edisi Perdana. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

——-. 1998/1999. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi. Penelitian Arkeometri di Daerah Kaso Kabupaten Ciamis (Aspek Stratigrafi & Paleontologi). Balai Arkeologi Bandung. (tidak diterbitkan)

Atmodjo, Junus Satrio. 1999. Vademekum Benda Cagar Budaya. Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala.

Ayatrohaedi. 1982. “Masyarakat Sunda Sebelum Islam”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi ke II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hlm.333–346.

Danasasmita, Saleh. 1983/1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Jilid Kedua. Bandung: Proyek Penerbitan Buku Sejarah Jawa Barat Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat.

——-, 1987. Sewaka Darma, Sanghyang Siksakanda ng Karêsian, Amanat Galunggung. Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi).

Eriawati, Yusmaini. 1995/1996. “Arca Megalitik Cikapundung”. Dalam Kebudayaan Nomor 10 Th V 1995/1996. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hlm. 74– 79.

Ferdinandus, P.E.J. 1990 “Situs Batu Kalde di Pangandaran, Jawa Barat”. Dalam Monumen: Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Hlm. 285–301.

Iskandar, Yoseph. 1997. Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa). Bandung: Geger Sunten.

Mulia, Rumbi. 1980. “Beberapa Catatan Tentang Arca-arca Yang Disebut Arca Tipe Polinesia”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi, Cibulan 21-25 Februari 1977. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Hlm. 599–646.

Saptono, Nanang. 2002. Karang Kamulyan a Historical Event and an Archaeological Site. Jakarta: Culture Developing Policy Program Ministry of Culture and Tourism.

Sedyawati, Edi. 1994. Pengarcaan Ganeça Masa Kadiri dan Singasari, Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rijksuniversiteit Te Leiden, EFEO.

Sumadio, Bambang. 1990. “Jaman Kuno”, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakar¬ta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, PN Balai Pustaka.

Widyastuti, Endang. 2000. “Tinggalan Arkeologis di Ciamis Bagian Timur”. Dalam Kronik Arkeologi: Perspektif Hasil Penelitian Arkeologi di Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Lampung. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

——-, 2002a. “Tembikar dan Keramik dari Kawasan Kertabumi”. Dalam Tapak-Tapak Budaya. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Barat – Banten.

——-, 2002b. “Arca-Arca Tipe Pajajaran di Pejambon, Cirebon”. Dalam Jelajah Masa Lalu. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Barat – Banten.

——-, 2003. “Penelitian Arca-Arca Di Kuningan Dalam Rangka Pengungkapan Perkembangan Religi”. Dalam Mosaik Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Barat – Banten.

Yondri, Lutfi. 1999. “Mungkinkah Manusia Purba Pernah Hidup di Kawasan Jawa Barat?” Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 5/Maret/1999. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.

Catatan:
Tulisan ini dimuat di buku “Arkeologi dari Lapangan ke Permasalahan”, hlm. 55 – 72. Editor Prof. Dr. Edi Sedyawati. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2006.

[alert style=”white”]referensi: arkeologisunda.blogspot.com [/alert]

Situs Gunung Susuru

Situs Gunung Susuru

Situs Gunung Susuru terletak di Kecamatan Cijeungjing. Luas situs ini 7 Ha yang dikelilingi oleh 2 sungai di bawahnya, yaitu Sungai Cimuntur dan Cileueur.

Situs Gunung Susuru merupakan tingalan punden berundak dari masa Kerajaan Hindu (Masa Klasik). Disana terletak 3 buah goa yang mempesona, 1 buah sumur batu dan peninggalan lainnya seperti manik-manik, keramik, senjata, batu pipisan, batu peluru dan lain-lain.

[alert style=”white”]referensi: ciamiskab[/alert]