Karya Seni Helaran Buta Daor Sukamantri

Karya Seni Helaran Buta Daor Sukamantri

Karya Seni Helaran Buta Daor dari Kec. Sukamantri Kab. Ciamis menambah khasanah seni helaran unggulan tatar galuh Ciamis yang sudah ada yaitu Seni Helaran Bebegig Sukamantri Ciamis, Wayang Landung Panjalu, Ritual Nyacar Jalan Tambaksari, Angklung Buncis Panumbangan….Badud…Cigugur dan Cijulang, Kentongan Pangandaran. Karya-karya seni helaran atau arak-arakan telah beberapa kali tampil pada even tingkat nasional.

[alert style=”white”] foto: Eman Hermansyah Sastrapraja, PANGAUBAN GALUH PAKUAN [/alert]

Wisata Pantai Karapyak

Wisata Pantai Karapyak

ADA sejumlah objek wisata pantai di Kabupaten Ciamis selain Pantai Pangandaran dan Pantai Batu Hiu. Keindahan alam dan pantai yang satu ini melebihi keindahan pantai di Pangandaran maupun Batu Hiu. Pantai yang dimaksud adalah Pantai Karapyak, terletak di Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Kab. Ciamis. Sekitar 20 km dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun-alun Kota Ciamis.

Untuk menuju lokasi ini tidak begitu sulit, karena akses masuk ke sana sudah bagus, bahkan ada penunjuk jalan yang bisa mengarahkan wisatawan ke Pantai Karapyak. Yang patut disayangkan, belum adanya angkutan umum yang bisa membawa pengunjung ke Pantai Karapyak, sekalipun ojek. Hanya pengunjung yang mempunyai kendaraan pribadi atau kendaraan sewaan yang bisa mencapai Pantai Karapyak.

Keindahan Pantai Karapyak memang belum bisa mengalahkan Pantai Pangandaran. Namun bukan berarti tidak layak dikunjungi dan dijadikan objek wisata. Pantai ini mempunyai kelebihan hamparan pasir putih yang memanjang sepanjang kurang lebih 5 km dipadu dengan tonjolan batu karang. Keindahan semakin kentara, ketika ombak laut mulai surut, ikan hias berenang ke sana kemari di sela-sela batu karang. Kepiting kecil dan kumang (kepiting berumah) keluar masuk lubang pasir sambil membawa makanan. Tak hanya itu, cangkang kerang dan hewan moluska lainnya serta karang putih berserakan di sepanjang pantai, menggoda kita untuk mengambil dan mengumpulkannya untuk dijadikan suvenir laut.

Batu karang yang menghampar dan menjorok hampir ke tengah lautan, memang menjadi surga bagi ikan laut. Ada puluhan ribu bahkan puluhan juta ikan hias yang hidup di sana, jelas membuat Pantai Karapyak lebih hidup dan menantang. Selain hamparan pasir putih dan batu karang, pantai ini pun mempunyai tebing-tebing curam nan indah, yang siap mengundang para petualang untuk menjelajahi tiap jengkal tebing karangnya. Di bawah tebing curam, deburan ombak siap mengolah adrenalin hingga ubun-ubun. Buih-buih ombak di bawah tebing curam seolah menanti cucuran keringat petualangan Anda.

Selain menawarkan sejuta keindahan dan petualangan, Pantai Karapyak terbilang masih alami dan perawan. Ini ditandai masih bersihnya pantai dari serbuan sampah plastik maupun sejenisnya. Kondisi alamnya pun masih alami dan terawat. Hanya sayang, pantai ini kurang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara. Ini terlihat dari masih jarangnya warung-warung maupun penginapan yang dikembangkan warga setempat.

Hal ini lebih diakibatkan gelombang ombaknya yang tinggi dan menyeramkan, juga pantainya yang curam karena terhubung langsung dengan batu-batu karang. Juga kurangnya akses masuk ke lokasi tersebut. Padahal di Karapyak sudah didirikan menara pengawas pantai serta sarana lainnya yang siap memanjakan para wisatawan. Terlebih pantai ini lokasinya sangat dekat Pulau Nusakambangan. Cukup dengan menyewa perahu, Anda bisa menginjakkan kaki di pulau yang mengundang sejuta misteri ini. Tak hanya itu, Anda pun bisa berjalan-jalan menyusuri muara Sungai Citanduy atau lebih dikenal dengan sebutan Sagara Anakan. Jauh di tengah laut, berdiri tegak dua batu karang yang membentuk pintu masuk ke Sagara Anakan. Menurut nelayan setempat, Maryono, batu karang tersebut dijadikan benteng pertahanan Dermaga Sagara Anakan dari serbuan ombak yang ganas.

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com [/alert]

Bulaksetra Bakal Jadi Tempat Wisata

Bulaksetra Bakal Jadi Tempat Wisata

Wakil Bupati Iing Syam Arifin menyalami salah satu warga desa babakan dalam acara Sosialisai Pembangunan Bulaksetra menjadi Kawasan Objek Wisata Pendidikan yang berbasis Ekosistem, Esensial, dan Konservasi di PPI Pelabuham Cikidang Dusun Kalapatiga Desa Babakan siang tadi (04/10/12).

Dalam pidatonya Wakil Bupati menyampaikan harapan kepada seluruh masyarakat desa babakan kecamatan pangandaran agar dapat bekerja sama dan berpartisipasi dalam mengembangkan kawasan pantai bulak setra sebagai kawasan lindung hijau dan mengembangkan pariwisata berbasis pendidikan,

Selain dihadiri wakil bupati kegiatan ini juga dihadiri oleh Camat Pangandaran Dedi Mudyana ,Ketua Komite DMO H. Supratman, Kepala Desa Babakan Endang suherdi, dan dihadiri oleh perwakilan komponen masyarakat desa babakan.

Dalam acara ini juga dilakukan dialog interaktif antara warga desa babakan dengan wakil bupati dalam upaya menjadikan kawasan pantai bulak setra Desa Babakan Kecamatan Pangandaran sebagai kawasan lindung hijau dan mengembangkan pariwisata pendidikan berbasis  Ekosistem, Esensial, dan Konservasi

[alert style=”white”]referensi: mypangandaran.com[/alert]

Sepenggal Sejarah Galuh: Para Penguasa Galuh

Sepenggal Sejarah Galuh: Para Penguasa Galuh

Boleh tunjuk tangan bagi orang Ciamis yang mengetahui sejarah Galuh secara menyeluruh, juga buat yang mengetahuinya episode per episode, atau juga bagi yang paham secara teoritis mengenainya. Jago we mun loba, mungkin itu bahasa lomanya untuk tawaran tadi. Termasuk saya yang ibu-bapak-nini-aki-uyut-bao-dan seterusnya berasal dari Ciamis, sayapun remeng-remeng alias tidak tahu banyak. Menurut para ahli (sejarah tentunya), sumber mengenai Galuh (sebagai pusat kekuasaan) relatif sedikit, sedangkan rentang waktunya relatif panjang, belum lagi oral history berkenaan dengannya relatif banyak, lengkaplah sudah sulitnya menuturkan secara kronologis dan komprehensif mengenai sejarah Galuh. Bagi saya, penelusuran jejak nama Galuh lebih sering terbentur kepada mitos. Berbagai mitos tentang asal-usul Galuh dapat dibaca dalam beberapa naskah kuno yang berbentuk babad atau wawacan. Secara umum, naskah-naskah kuno itu merupakan historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur historis, mitos, legenda, dan dongeng. Semakin mendekati waktu penulisan dengan waktu terjadinya peristiwa, maka semakin tinggi nilainya sebagai sumber sejarah. Keterangan mengenai Galuh di antaranya dapat dibaca dalam naskah Carita Parahyangan, Sanghyang Siksa Kandang Karesyan, Wawacan Sajarah Galuh, Ciung Wanara, dan Carios Wiwitan Raja-Raja di Pulo Jawa.

Dan kalau boleh saya menambahkan, penyebab lainnya adalah kurangnya dukungan dari pemerintah kabupaten Ciamis dalam upaya mewariskan “cerita sejarah” dari generasi ke generasi. Jangan lupa, faktor kekuasaan menjadi penting dalam proses ini karena akan menjadi pelindung bagi live of history. Jangan sampai ungkapan “yang lalu biarlah berlalu, jangan diungkit kembali” diberlakukan secara paten terhadap sejarah karena justru dari sejarahlah kita bisa belajar karena sejarah itu adalah jembatan yang menyambungkan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Bagaimana kita bangga menjadi manusia jika kita tidak mau mempelajari sejarah penciptaan manusia? Bagaimana kita bangga terhadap Ciamis jika kita tidak mengetahui sejarah Galuh? Tidak mungkin pemerintah kabupaten Ciamis menggunakan semboyan “CIAMIS MANIS MANJING DINAMIS PAKENA GAWE RAHAYU PAKEUN HEUBEUL JAYA DI BUANA” secara ujug-ujug begitu saja. Dari mana asalnya pakena gawe rahayu pakeun heubeul di buana? Ya dari sejarah Galuh! Moal ujug-ujug aya mun teu aya sajarahna, betul atau betul?

Sasieureun sabeunyeureun, semoga ada manfaatnya. Itulah yang ingin saya sampaikan sebelum bercerita sedikit tentang sejarah Galuh dengan folus para penguasanya. Bukan berarti sim kuring langkung apal tibatan nu apal, ieu mah mung sekedar berbagi pengetahuan saya yang sedikit tentang sejarah Galuh. Sepanjang yang saya ketahui mengenai sejarah Galuh, ada berbagai pemahaman makna atas kata Galuh. Kata Galuh bisa kita temukan tidak hanya berkaitan dengan Ciamis saja, tetapi ada banyak Galuh yang berkaitan dengan segala hal. Berkaitan dengan tempat contohnya, Hujung Galuh di Jawa Timur. Bagelen di Purworejo atau Begaluh di Banyumas. Adakah kaitannya galuh-galuh tersebut dengan Galuh baheula Ciamis kiwari? Kita bicarakan belakangan, sekarang mari kita kembali kepada Galuh dalam perspektif sebuah kekuasaan.

Nama Galuh muncul pada abad VII sebagai nama sebuah kerajaan di ujung timur Priangan, tepatnya di wilayah Bojong Galuh. Wilayah itu berada di tepat di daerah pertemuan dua buah sungai, yaitu sungai Citanduy dan Cimuntur. Bojong Galuh (sekarang Karangkamulyan) adalah pusat kekuasaan kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Ciung Wanara, leluhur penguasa Galuh Rakean Jambri yang bergelar Rahiang Sanjaya.[1] Ia adalah putra Sanna yang dibunuh oleh saudaranya yang bernama Purbasora. Sanjaya berhasil merebut tahta Galuh dari Purbasora. Ia menikah dengan putri kerajaan Sunda yang berpusat di Pakwan Pajajaran, sehingga berhak atas tahta kerajaan Sunda. Ia menyatukan Sunda ke dalam Galuh dengan pusat pemerintahan di Bojong Galuh. Sanjaya memutuskan bertahta di Jawa Tengah, sehingga ia menyerahkan Galuh kepada keponakannya (Seuweu Karma), sedangkan Sunda diberikan kepada putranya (Rahiang Tamperan). Nama Galuh tenggelam hingga akhirnya muncul kembali pada abad XIII sebagai nama sebuah kerajaan yang berpusat di Kawali. Carita Parahyangan menyebutkan bahwa tokoh Raja Wastu sama dengan Niskala Wastu Kancana, yaitu putra raja Galuh yang memerintah di Kawali. Ayah Niskala Wastu Kancana adalah Prabu Maharaja (1350-1357) yang identik dengan Pasundan Bubat. Selain dalam Carita Parahyangan, keterangan mengenai Pasundan Bubat terdapat juga dalam kitab Pararaton dari Majapahit. Pararaton menyebutkan bahwa di sebelah barat Majapahit terdapat sebuah kerajaan yang bernama Galuh dengan rajanya bernama Prabu Maharaja.[2]

Hubungan Galuh dengan Majapahit terjadi karena adanya pinangan raja Majapahit yang bernama Hayam Wuruk kepada putri Prabu Maharaja yang bernama Citra Kirana Diah Pitaloka. Rencana pernikahan itu gagal karena patih Majapahit yang bernama Gajah Mada mensyaratkan bahwa pernikahan itu adalah tanda tunduknya Galuh kepada Majapahit. Prabu Maharaja menolak, ia lebih memilih perang dengan Majapahit dari pada menjadi taklukan kerajaan itu. Perang antara prajurit kedua kerajaan terjadi di daerah yang bernama Bubat, menewaskan Prabu Maharaja dan nyaris seluruh prajurit Galuh.[3] Hanya mangkubumi (patih) Rahyang Bunisora dan putra bungsu raja yang bernama Niskala Wastu Kancana yang selamat dan berhasil kembali ke Kawali.

Periode keemasan kerajaan Galuh dicapai pada masa pemerintahan putra Prabu Maharaja yang bernama Niskala Wastu Kancana (1371-1475). Abad XIV, pusat pemerintahan Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran oleh cucunya yang bergelar Sri Baduga Maharaja Dewata Prana. Ia menikah dengan putri penguasa kerajaan Sunda, sehingga memiliki hak atas tahta kerajaan itu. Ia menggabungkan kerajaan Galuh ke dalam kerajaan Sunda dan memindahkan pusat kekuasaan ke Pakuan Pajajaran. Peristiwa itu sekaligus mengakhiri berita tentang Galuh periode Kawali.

Penguasa-penguasa Kabupaten Galuh

Nama Galuh muncul kembali pada abad XVI sebagai nama sebuah kerajaan mandiri yang berpusat di Panaekan. Bersama dengan Sumedang Larang, Galuh menjadi penerus kerajaan Sunda yang hancur oleh Banten. Pada tahun 1595 ketika Galuh dipimpin oleh Sanghiang Cipta Permana, Mataram Islam berhasil menanamkan pengaruh politiknya di Galuh. Pengganti Panembahan Senapati yang bernama Sultan Agung mengangkat putra Sanghiang Cipta Permana yang bergelar Adipati Panaekan (1618-1625) sebagai wedana Mataram di Galuh.[4] Langkah awal Adipati Panaekan adalah memindahkan pusat pemerintahan dari Panaekan ke Gara Tengah. Tahun 1625 ia dibunuh oleh saudara iparnya yang bernama Adipati Kertabumi.[5] Pembunuhan itu dipicu oleh perbedaan faham dalam menanggapi rencana penyerangan terhadap Batavia oleh Mataram. Adipati Panekan berpendapat lebih baik menyerang Batavia secepatnya agar kekuasaan VOC tidak semakin berkembang. Singaperbangsa I sependapat dengan Rangga Gempol I, yaitu menginginkan Galuh memperkuat pasukannya dahulu sebelum menyerang Batavia. Adipati Panaekan dituduh membantu Adipati Ukur yang memberontak kepada Mataram karena ingin melepaskan Priangan dari kekuasaan raja Jawa.

Pengganti Adipati Panaekan adalah putranya yang bernama Adipati Imbanagara (1625-1636). Sama seperti ayahnya, ia mati dibunuh oleh prajurit Mataram pada tahun 1636.[6] Kematiannya mengakibatkan terjadinya kekosongan kepala pemerintahan kabupaten Galuh yang kemudian dimanfaatkan oleh patih Wiranangga untuk mengangkat dirinya sebagai bupati Galuh. Ia berbuat curang dengan cara mengganti nama calon bupati yang ditunjuk penguasa Mataram dengan namanya. Piagam pengangkatan itu disembunyikan Wiranangga di kolong rumahnya. Pengasuh putra Adipati Imbanagara berhasil menemukannya lalu melaporkan kepada prajurit Mataram. Sebagai hukuman atas kecurangannya, Wiranangga dihukum mati oleh raja Mataram.

Pengganti Adipati Imbanagara adalah putranya yang bergelar Adipati Panji Aria Jayanagara (1636-1642).[7] Ia resmi menjadi bupati Galuh pada 5 Rabi’ul Awal tahun Je yang bertepatan dengan 6 Agustus 1636. Atas saran raja Mataram, ia mengganti nama kabupaten Galuh menjadi kabupaten Galuh Imbanagara. Jayanagara memindahkan pusat pemerintahan kabupaten Galuh dari Gara Tengah ke Barunay.[8] Pada masa pemerintahannya, Galuh dikenai kebijakan reorganisasi Priangan oleh raja Mataram. Tahun 1641 Mataram membentuk kabupaten-kabupaten baru di sekitar Galuh, yaitu Bojong Lopang, Utama, Kawasen, dan Banyumas.

Reorganisasi Priangan terulang kembali pada tahun 1645, yaitu ketika Amangkurat I berkuasa di Mataram. Tetapi pada reorganisasi wilayah kali itu, luas wilayah kabupaten Galuh tidak berubah, bahkan ketika diserahkan kepada VOC pun relatif tetap. Mataram menyerahkan Priangan Timur yang terdiri dari kabupaten Limbangan, Sukapura, Galuh, dan Cirebon kepada VOC melalui perjanjian 19-20 Oktober 1677. Bupati Galuh yang berkuasa saat itu adalah putra Jayanagara yang bergelar R.A. Angganaya (1678-1693).[9] VOC menetapkan jumlah cacah untuk kabupaten Galuh sebanyak 708 jiwa, Kawasen sebanyak 605 jiwa, sedangkan Bojong Lopang sebanyak 20 jiwa dan 10 desa. Beralihnya kekuasaan dari Mataram kepada VOC telah memberikan keuntungan, yaitu semakin teraturnya sistem pemerintahan kabupaten.[10]

Bupati Galuh berikutnya adalah putra Angganaya yang bergelar R.A. Sutadinata (1693-1706).[11] Bertepatan dengan masa pemerintahannya, VOC memberlakukan Prianganstesel sebagai sistem ekonomi dan indirect rule sebagai sistem pemerintahan di seluruh daerah kekuasaannya. Sutadinata adalah bupati Galuh pertama yang diakui sebagai bupati VOC. Kabupaten Galuh resmi diserahkan kepada VOC oleh Mataram melalui perjanjian tanggal 5 Oktober 1705 sebagai imbalan atas jasa VOC membantu Pangeran Puger merebut tahta Mataram dari Amangkurat III.

Pengganti Sutadinata adalah putranya yang bergelar R.A. Kusumadinata I (1706-1727).[12] Untuk mengawasi para bupati di wilayah Priangan Timur, VOC mengangkat Pangeran Aria dari Cirebon sebagai opziener.[13] Ia mengeluarkan kebijakan yang berkaitan  dengan Galuh, yaitu mengangkat patih Cibatu sebagai bupati Kawasen karena dianggap sebagai menak tertua dan pandai. Ia juga melebur kabupaten Utama ke dalam kabupaten Bojong Lopang.

Pengganti Kusumadinata I adalah putranya yang bergelar R.A. Kusumadinata II (1727-1751).[14] Ia menjabat bupati dalam waktu yang singkat karena meninggal dalam usia muda. Ia belum berkeluarga, sehingga jabatan bupati diwariskan kepada keponakannya yang kelak bergelar R.A. Kusumadinata III. VOC tidak mengangkat salah satu adik Kusumadinata II, yaitu Danumaya dan Danukriya karena mereka berlainan ibu, oleh karena itu VOC memutuskan untuk mencalonkan putra kakak perempuan Kusumadinta II.

Pemerintahan Galuh dijalankan sementara oleh 3 orang wali Kusumadinata III yang dipimpin oleh R.T. Jagabaya. Pada masa pemerintahannya, terjadi kericuhan besar di daerah Ciancang yang menyebabkan daerah itu porak-poranda.[15] Peristiwa itu dipimpin oleh Tumenggung Banyumas dan dibantu oleh Ngabehi Dayeuh Luhur. VOC menggabungkan Ciancang ke dalam wilayah Imbanagara dan menyerahkan pengawasannya kepada Jagabaya. Pemerintahan Galuh diserahkan kepada Kusumadinta III (1751-1801) setelah dewasa.[16] Ia berhasil memulihkan kondisi Ciancang yang telah digabungkan ke dalam wilayah Imbanagara.[17] Selain berhasil memulihkan kondisi wilayah Galuh yang menurun, Kusumadinta III berhasil memperkuat kehidupan agama masyarakat Galuh.[18]

Pengganti Kusumadinata III adalah putranya yang bergelar R.A. Natadikusuma (1801-1806).[19] Natadikusuma menjabat bupati Galuh dalam waktu yang relatif singkat. Ia dianggap menghina pejabat Belanda yang bernama Van Bast, sehingga dipecat dari jabatan bupati.[20] Akibat perbuatannya itu, ia ditahan untuk beberapa waktu di Cirebon tetapi kemudian dibebaskan dan dikembalikan ke Imbanagara. Jabatan bupati Galuh tidak diwariskan kepada putra Natadikusuma, tetapi diserahkan kepada bupati penyelang dari Limbangan, yaitu R.T. Surapraja (1806-1811).[21]

Akibat perbuatan Natadikusuma, pemerintah kolonial memutuskan untuk mengurangi wilayah kekuasaan Galuh. Banyumas dan Dayeuh Luhur dikeluarkan dari wilayah Galuh. Kawasen, Pamotan, Pangandaran, dan Cijulang digabungkan ke dalam wilayah kabupaten Sukapura, sedangkan Utama dan Cibatu digabungkan ke dalam wilayah Imbanagara.[22] Bupati Cibatu yang bernama R.T. Jayengpati Kartanagara (1811-1812) diangkat menjadi bupati Galuh, ia dibebankan kewajiban membayar utang kabupaten Galuh sebanyak 23.000 Rds.[23]

Jayengpati memindahkan pusat pemerintahan Galuh dari Imbanagara ke Cibatu. Ia tidak lama menjabat karena pemerintah kolonial menggantinya dengan R.T. Natanagara (1812) dari Cirebon. Natanagara mengusulkan kepada pemerintah kolonial untuk memindahkan pusat pemerintahan ke Randengan, tetapi usul itu ditolak. Natanagara dipecat karena dianggap tidak mampu mengatasi pemberontakan yang terjadi di Nusa Kambangan. Penggantinya adalah P. Sutawijaya (1812-1815) dari Cirebon.

Sutawijaya didampingi oleh tiga orang patih, yaitu Wiradikusuma, Wiratmaka, dan Jayadikusuma. Pada masa pemerintahannya, daerah Dayeuh Luhur, Madura, dan Nusa Kambangan dimasukkan ke dalam kabupaten Banyumas. Imbanagara diserahkan kepada patih Wiradikusuma, Cibatu kepada Jayakusuma, sedangkan Utama kepada Wiratmaka. Sutawijaya memindahkan pusat pemerintahan dari Cibatu ke Burung Diuk untuk memudahkan pengawasan pembangunan Dayeuh Anyar yang dipersiapkan sebagai ibu kota kabupaten yang baru.[24]

Patih Galuh yang bernama Wiradikusuma (1815-1819) diangkat sebagai bupati Galuh menggantikan Sutawijaya yang kembali ke Cirebon.[25] Meskipun sudah lanjut usia, pemerintah kolonial mempercayainya untuk memimpin kabupaten Galuh. Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan Galuh dipindahkan dari Cibatu ke Ciamis.[26] Ia mengajukan pensiun kepada pemerintah kolonial yang disetujui pada tahun 1819. Penggantinya adalah putranya yang bergelar R.A. Adikusuma (1819-1939).[27] Pada masa pemerintahannya, kabupaten Kawali dan Panjalu digabungkan ke dalam kabupaten Galuh. Untuk selanjutnya kabupaten Galuh dibagi menjadi 4 distrik, yaitu Ciamis, Kepel, Kawali, dan Panjalu.[28] Pada masa pemerintahan Adikusuma, pemerintah kolonial menggulirkan Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel. Komoditas tanaman perdagangan yang dikenai tanam wajib di Galuh adalah kopi, beras, tebu, dan tarum.

Pengganti Adikusuma adalah putranya yang bergelar R.A.A. Kusumadiningrat (1839-1886).[29] Galuh mengalami perkembangan relatif signifikan di bawah kepemimpinannya, terutama di bidang pendidikan dan pembangunan fisik. Kusumadiningrat memprakarsai pembangunan beberapa saluran irigasi yang sangat berguna bagi pertanian rakyat, yaitu bendungan Nagawangi, Wangundireja, Cikatomas, dan Nagawiru. Ia juga memprakarsai pembangunan 3 buah pabrik minyak kelapa dan sebuah pabrik penggilingan kopi.[30] Ia juga membangun masjid agung Galuh dan gedung-gedung perkantoran di daerah Ciamis. Selain itu, ia juga berhasil meyakinkan pemerintah kolonial untuk mengalihkan jalur kereta api melewati daerah kota Ciamis. Jalur kereta itu terpaksa dibangun di atas jembatan Cirahong agar bisa dialihkan ke kota Ciamis.

Pengganti Kusumadiningrat adalah putranya yang bernama R.A.A. Kusumasubrata (1886-1914). Sejak kecil ia sudah dibimbing dan persiapkan oleh ayahnya untuk menjadi penggantinya. Salah satu bentuknya adalah memasukkan Kusumasubrata (juga  saudara-saudaranya) ke sekolah formal selain pesantren.[31] Awalnya Kusumasubrata disekolahkan di Sakola Kabupaten Sumedang yang memiliki guru bahasa Belanda bernama Warnaar.[32] Ia tidak melanjutkan sekolahnya karena sakit, lalu dibawa pulang ke Galuh dan di sekolahkan di Sakola Kabupaten Galuh. Kusumasubrata melanjutkan sekolahnya, ia didaftarkan ke Kweekschool di Bandung, tetapi tidak diterima.[33] Akhirnya ia sekolah di Hoofdenschool yang baru saja dibuka di Bandung.[34] Setelah menyelesaikan sekolahnya, ia magang di kabupaten Galuh sebagai juru tulis kabupaten.[35]

Keturunan Kusumasubrata tidak ada yang menjadi bupati Galuh. Meskipun dekat dengan para pejabat Belanda, namun tidak membuat mereka memihak kepada Belanda. Tidak hanya kepada pejabat Belanda saja mereka memberontak, kepada para ayah angkatnya yang berkebangsaan Belanda pun mereka cenderung memberontak. Putra Kusumasubrata yang bernama R. Otto Gurnita Kusumasubrata menjadi salah satu pendiri Negara Pasundan yang menentang Belanda.

Bupati Galuh berikutnya adalah R.A.A. Sastrawinata (1914-1936). Ia mengganti nama kabupaten Galuh menjadi kabupaten Ciamis pada tahun 1916. Tahun 1926 bersama-sama dengan kabupaten Tasikmalaya dan Garut, Ciamis dimasukkan ke dalam afdeeling Priangan Timur. Sastrawinata mendapat Bintang Willems Orde karena berhasil menumpas pemberontakan komunis yang dipimpin oleh Egom, Hasan, dan Dirja yang meletus di Ciamis. Ia juga mendapatkan penghargaan Bintang Tanjung dan stempel singa dari pemerintah kolonial atas jasanya membuka rawa-rawa di daerah Cisaga untuk dijadikan area pesawahan.


  • [1] Nama Sanjaya diidentikan dengan nama penguasa yang disebutkan dalam Prasasti Canggal (723). Keterangan prasasti Canggal saling melengkapi dan menunjang dengan Carita Parahyangan.
  • [2]Pararaton menyebutkan bahwa Perang Bubat terjadi pada tahun 1357, sedangkan Carita Parahyangan menyebutkan bahwa Prabu Maharaja memerintah Galuh hanya 7 tahun sejak 1350. Berdasarkan dua keterangan itu, dapat disimpulkan bahwa Prabu Maharaja yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1357 sezaman dengan Hayam Wuruk dari Majapahit.
  • [3] Konon Gajah Mada mendatangi rombongan Galuh yang beristirahat di daerah Bubat sebelum melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Prabu Maharaja menolak syarat yang diajukan oleh Gajah Mada karena pada awal pinangan tidak ada persyaratan apapun. Prabu Maharaja memutuskan kembali ke Kawali tetapi dicegah oleh pasukan Gajah Mada yang akhirnya menjadi peperangan. Raja dan keluarganya, para pengiring, dan pasukan Galuh gugur dalam pertempuran itu. Calon pengantin putri memutuskan bunuh diri dari pada harus menikah dengan Hayam Wuruk yang dianggap sebagai penyebab kematian seluruh rombongan Galuh.
  • [4] Penguasa Galuh sejak Adipati Panaekan tercantum dalam beberapa catatan VOC dan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Adipati Panaekan adalah bupati pertama yang diangkat sebagai wedana Mataram di wilayah Mancanagara Kilen dengan anugerah 960 cacah. Tidak berlebihan jika Adipati Panaekan disebut sebagai De oudste der Wedana’s in de Wester Ommelanden van Mataram. Lihat F. de Haan, ibid, hlm. 68.
  • [5] Adipati Kertabumi adalah penguasa kabupaten Bojong Lopang yang dibentuk oleh Mataram tahun 1641 sebagai kelanjutan dari penanganan pemberontakan Ukur (1630-1632). Wilayahnya meliputi Majenang, Dayeuh Luhur, Nusa Kambangan, dan daerah pantai Selatan. Sultan Agung menugasi Adipati Kertabumi untuk menjaga daerah yang paling dekat dengan Batavia, yaitu Karawang dengan Adipati Kertabumi sebagai bupatinya. Salah satu keturunannya yang bernama Sastrawinta kelak pada tahun 1914 menjadi bupati Galuh menggantikan Kusumasubrata.
  • [6] Berdasarkan keterangan tradisi lisan Galuh, kematian Adipati Imbanagara disebabkan oleh kemarahan Sultan Agung yang mendapat kabar bahwa Adipati Imbanagara telah menodai wanita Galuh yang diminta oleh Sultan Agung.
  • [7] Namanya adalah Yogaswara, sedangkan nama kecilnya adalah Mas Bongsar. Gelar Raden Panji Aria dianugerahkan oleh raja Mataram karena Jayanagara dianggap satu visi dengan raja Mataram.
  • [8] Barunay berada sekitar 10 km di sebelah barat ibu kota kabupaten Ciamis. Nama Barunay diganti menjadi Imbanagara setelah menjadi pusat pemerintahan yang baru. Pemindahan pusat pemerintahan itu dilakukan tanggal 14 Mulud tahun He atau bertepatan dengan tanggal 12 Juni 1642 yang dijadikan sebagai hari jadi kabupaten Ciamis.
  • [9] Angganaya adalah putra kedua Jayanagara, ia diangkat menjadi bupati Galuh karena kakaknya yang bernama R. Anggapraja (nama kecilnya adalah Mas Tumbal) menolak jabatan bupati yang diwariskan ayahnya karena ia tidak mau bekerja sama dengan VOC. Angganaya memiliki empat orang anak dari seorang istri, yaitu R. A. Sutadinata, R. Angganata, R. Ay. Gilang, dan R. Kartadinata.
  • [10] Selain bupati, ada beberapa kepala daerah di bawahnya yaitu wedana, penghulu, dan kepala cutak. Penghasilan para pejabat pemerintahan kabupaten diatur oleh VOC melalui pembagian tanah jabatan (bengkok) dan wajib kerja (pancen).
  • [11] Nama kecilnya adalah Mas Pato, ia adalah bupati Galuh pertama yang menyerahkan hasil penanaman kepada VOC. Tahun 1695, ia menyerahkan 90 pikul lada yang ditanam di daerah Kawasen (50 pikul) dan Imbanagara (40 pikul). Selain lada, ia juga menyerahkan 80 pikul tarum dan 55 pikul kapas.
  • [12] Kusumadinata I memiliki nama kecil Mas Bani. Dari pernikahannya dengan dua orang istri, ia memiliki 5 orang anak, yaitu R. Ay. Candranagara, R.A. Kusumadinata II, R. Danukria, R. Danumaya, R.Ay. Sarati.
  • [13] Kabupaten Karawang dan Cianjur tidak diawasi oleh opziener karena kedua kabupaten itu dianggap sebagai bagian dari Batavia. Bupati kedua kabupaten itu berada dalam pengawasan langsung para pejabat VOC. Lihat Otto van Rees, op.cit, hlm. 87.
  • [14] Kusumadinata II memiliki nama kecil Mas Baswa, ia juga mendapatkan sebutan Dalem Kasep yang artinya bupati tampan.
  • [15] Nama Ciancang diubah menjadi Utama setelah tiga kali berturut-turut dilanda kericuhan (nista maja utama).
  • [16] Nama kecil Kusumadinata III adalah Mas Garuda, ia masih anak-anak ketika ditujuk sebagai calon pengganti Kusumadinata II.
  • [17] Berkat keberhasilan Kusumadinata III memulihkan kondisi Ciancang, VOC menganugerahkan baju kebesaran dan lencana perak yang bertuliskan Vergeet Mij Niet.
  • [18] Ia bersahabat dengan beberapa ulama besar dari Cirebon. Salah satu guru agamanya adalah Kyai Bagus Satariyah yang mengajarkan tarikat satariyah.
  • [19] Natadikusuma memiliki nama kecil Demang Gurinda, ia dikenal sebagai bupati yang sangat dekat dengan rakyatnya dan membenci Belanda. Ia cenderung keras dalam menghadapi para pejabat Belanda. Ayahnya sempat merasa khawatir dengan sikapnya yang sering menentang kebijakan kolonial. Ia sangat melindungi rakyatnya dan tidak segan-segan melawan pejabat Belanda yang dianggap bertindak keterlaluan. Tidak heran jika pemerintah kolonial mengawasinya secara ketat karena tingkah lakunya lebih banyak memberontak dari pada patuh kepada mereka. Ia memiliki 22 orang anak dari 8 orang istri.
  • [20] Edi S. Ekajati, op.cit, hlm. 81.
  • [21] Sebutan bupati penyelang digunakan untuk mengidentifikasi bupati yang bukan keturunan Galuh.
  • [22]  Nama Galuh dipakai kembali sebagai nama kabupaten mengganti Galuh Imbanagara.
  • [23] Natadikusuma dianggap tidak membayar upeti selama 4 tahun, seingga ia berhutang kepada pemerintah kolonial sebesar 200.000 real yang harus ditanggung oleh bupati berikutnya.
  • [24] Dayeuh Anyar berarti kota baru, kelak dinamai Ciamis setelah pusat pemerintahan pindah ke kota itu. Nama Ciamis dianggap sebagai penghinaan Sutawijaya kepada Galuh. Dalam bahasa Cirebon, Ciamis artinya air anyir, sedangkan dalam bahasa Sunda Ciamis artinya adalah air manis. Kota Ciamis hingga sekarang tetap menjadi ibu kota kabupaten Ciamis.
  • [25] Wiradikusuma mendapat gelar Raden Tumenggung dari pemerintah kolonial setelah menjabat bupati Galuh.
  • [26]  Kabupaten Galuh resmi menjadi bagian dari Keresidenan Cirebon berdasarkan Besluit no. 23/ 5 Januari 1819.
  • [27] Pada tahun 1820, Adikusuma secara resmi mendapatkan gaji dari pemeritnah kolonial sebesar f. 500 dan bengkok seluas 100 bau.
  • [28] Kabupaten Galuh dibagi ke dalam empat distrik, yaitu distrik Ciamis, Panjalu, Kawali, dan Kepel (diubah menjadi distrik Rancah). Jumlah desa mencapai 91 desa, yang kelak bertambah menjadi 238 desa pada pemerintahan Kusumadiningrat.
  • [29] Kusumadiningrat yang lebih dikenal dengan sebutan Kangjeng Prebu sangat besar minatnya dalam kesenian. Beberapa kesenian rakyat seperti angklung, reog, ronggeng, calung, terbang, rudat, wayang, penca, dan berbagai macam ibing (tarian) berkembang pesat pada masa pemerintahannya. Ia bahkan menciptakan ibing baksa, yaitu ibingnyoderan atau tarian pembuka pada ibing tayub.
  • [30] Salah satunya adalah pabrik minyak Olvado yang didirikan di Ciamis, sedangkan pabrik penggilingan kopi didirikan di Kawali.
  • [31] Semua putra Kusumadiningrat disekolahkan di berbagai sekolah, ada yang di Sakola Kabupaten Galuh, Bandung, dan Sumedang, bahkan di Hoofdenschool.
  • [32] R.A.A. Koesoemasubrata, Ti Ngongkoak doegi ka Ngoengkoeeoek, (Bandung: Mijvorking, 1926), hlm.102.
  • [33] Tidak ada keterangan mengenai alasan tidak diterimanya Kusumasubrata di sekolah itu.
  • [34] Sikap Kusumadiningrat mencerminkan kesadarannya dalam menghadapi dan menyikapi perkembangan serta perubahan zaman. Ia beranggapan bahwa kualitas para putranya harus ditingkatkan untuk memenuhi tuntutan perubahan zaman.
  • [35] Para magang harus mempelajari etiket dan gaya hidup menak serta menghayati metode. Mereka tinggal dalam lingkungan keluarga menak dan mengerjakan apa saja tanpa bayaran.

[alert style=”white”] referensi: miniskripmi.blogspot.com (Yulia Sofiani)[/alert]

Menunggu Geliat Sepakbola Ciamis

Menunggu Geliat Sepakbola Ciamis

Panasnya hari kamis siang menjelang sore itu tidak menyurutkan langkah orang-orang untuk berkumpul dan membuat kegaduhan di sekitar stadion Galuh. Atribut berwarna biru terlihat mendominasi. Kabar akan datangnya tamu yang cukup diistimewakan ini telah menyebar lewat media dan menjadi objek bahasan penduduk lokal beberapa minggu terakhir. Dengan kemajuan teknologi di era seperti ini, kedatangan Tim Persib Bandung ke stadion kebanggaan masyarakat Ciamis ini seperti wabah yang dengan mudah tersebar, dari ujung utara sampai ujung kidul kabupaten.

 

Ciamis memang daerah yang sebenarnya sangat giat bersepakbola. Jika kita rajin mengikuti dan berinteraksi dengan masyarakat sepakbola di sini, maka kita akan menemukan kultur yang justru berbeda dengan kota lain, termasuk Bandung misalnya.

Ciamis selalu saja menggelar sebuah turnamen antar kecamatan se kabupaten. Ini berarti, semua kecamatan yang terbentang dari panjalu di utara sampai Pangandaran dan Cimerak di selatan berkompetisi menjadi yang terbaik di sini, dan fanatisme fans menjadi bagian yang tak terpisahkan. Turnamen yang di Bandung sendiri belum pernah kembali diwacanakan untuk digelar kembali.

Rentang alam yang luas dan belum banyak memiliki bangunan di dalamnya menciptakan banyak sekali lahan terbuka di Ciamis. Kecuali di kota Bandung, seperti kondisi ini juga dimiliki oleh kabupaten lain. Satu lapangan sepakbola di setiap kelurahan, sebenarnya menjadi potensi Ciamis dan seharusnya menjadi potensi di seluruh kabupaten di Jawa Barat.

PSGC adalah sebuah tim sepakbola perwakilan kabupaten ini tanpa pernah menyentuh level tertinggi sepakbola di negeri ini. Perjuangan PSGC di musim lalu misalnya hanya sampai di Divisi 1 PSSI. Dan ini menambah panjang catatan perjuangan sepakbola mereka. Namun, perjuangan ini patut diapresiasi karena mereka berani terus menjaga asa untuk bersaing, menunjukan eksistensi, dan memperlihatkan bahwa mereka senantiasa concern terhadap perkembangan pemain binaan sendiri.

Kedatangan tim Persib Bandung memang diakui beberapa masyarakat yang ditemui adalah sebagai hiburan bagi kota yang perkembangannya memang terlihat lambat ini. Tiket seharga tiket stadion Siliwangi atau Si Jalak Harupat saat Persib bertanding pun tidak menjadi masalah untuk melepas dahaga mereka untuk mendapatkan hiburan, sekaligus menatap para pemain idolanya berlaga di lapangan.

Jauh hari, setelah tiket dijual resmi, bobotoh dari berbagai kalangan telah mendapat tiket pertandingan. Seorang anak SMP pun terlihat bangga telah memiliki tiket untuk pertandingan ini. Budaya yang harus dilestarikan dan dijaga, yaitu budaya bangga menonton tim kesayangan dengan cara membeli tiket. Budaya yang sebenarnya sudah sedikit meluntur di tempat lain.

Bagi seorang Heri Rafni Kotari, ikon sepakbola Kabupaten Ciamis, pengangkat piala Liga Indonesia kedua bersama Bandung Raya, pemain yang juga sempat berbaju Persib, kedatangan tim Maung Bandung ke Ciamis bukan hanya dipandang sebagai hiburan semata. Heri yang juga menjabat Ketua Pengcab PSSI Ciamis ini mengakui, Persib mempunyai semacam ruh yang bisa dihembuskan kepada anak-anak dan remaja. Kedatangan Persib bagi Heri diharapkan mampu membuat semangat anak-anak kota Ciamis untuk bermain bola lebih terangkat.

Mungkin seperti halnya harapan semua pecinta bola di Ciamis, Hari mengharapkan bahwa suatu saat mereka akan bermain di level tertinggi sepakbola di tanah air. Semoga.

[alert style=”white”] referensi: cimamaung [/alert]

Ke Ciamis, Rombongan PERSIB Tinggalkan Bandung

Ke Ciamis, Rombongan PERSIB Tinggalkan Bandung

Tim PERSIB berangkat menuju Ciamis Kamis (11/10) dengan menggunakan bus. Tim bertolak dari Mes PERSIB Jl. Ahmad Yani Bandung pukul 8.00 WIB menuju Hotel Tyara tempat dimana PERSIB akan menginap.

Bila perjalanan tidak mengalami kendala, setibanya di Ciamis, tim akan menggelar latihan sore sekaligus uji coba lapangan sebelum melakukan pertandingan persahabatan di Stadion Galuh Jumat (12/10).

Berangkat ke Ciamis, pelatih Djadjang Nurdjaman membawa 25 pemain dari rencana hanya 23 orang. Djadjang mengatakan, dirinya sengaja membawa seluruh pemain yang saat ini sedang magang di PERSIB untuk bisa memantau perkembangan dari pemain muda tersebut.

“Ya untuk pemain muda sendiri sengaja saya bawa semua agar bisa kita lihat sejauh mana nanti peningkatannya,” ujar Djadjang yang ditemui di mes PERSIB sebelum berangkat.

[alert style=”white”]referensi: persib.co.id[/alert]

Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran

Taman Wisata dan Cagar Alam Pangandaran

Cagar alam seluar ± 530 hektar, yang diantaranya termasuk wisata seluas 37,70 hektar berada dalam pengelolaan SBKSDA Jawa Barat II. Memiliki berbagai flora dan fauna langka seperti Bunga Raflesia Padma, Banteng, Rusa dan berbagai jenis Kera. Selain itu, terdapat pula gua-gua alam dan gua buatan seperti: Gua Panggung, Gua Parat, Gua Sumur Mudal, Gua Lanang, gua Jepang serta sumber air Rengganis dan Pantai Pasir Putih dengan Taman Lautnya. Untuk Taman Wisata Alam (TWA) dikelola Perum Perhutani Ciamis.

[alert style=”white”]foto: disparbud.jabarprov.go.id[/alert]

2013, Pangandaran Mekar Jadi Kabupaten “Pariwisata”

2013, Pangandaran Mekar Jadi Kabupaten “Pariwisata”

Pangandaran memiliki banyak potensi pariwisata yang belum digali secara maksimal. Dorongan untuk menjadikan Pangandaran sebagai kabupaten “pariwisata” pun muncul.

Secara geografis, Pangandaran terletak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang terkenal dengan keindahan alamnya. Beberapa yang menjadi kebanggaan, seperti Green Canyon, Batu Karas, Goa Jepang, Taman Wisata Alam Panjanjung, dan lainnya.

Pelaku industri pariwisata Pangandaran ternyata memandang bahwa potensi wilayah yang berada di bagian selatan Jawa Barat dan tepi Samudera Hindia ini belum dieksplorasi dengan baik. Lantas muncul keinginan untuk memekarkan Pangandaran sebagai kabupaten “pariwisata”.

“Saking tidak sabarnya karena kami karena selalu mentok dengan kebijakan Ciamis. Kami ingin berdiri sendiri jadi kabupaten sendiri,” kata Supratman, Ketua Destination Management Organization (DMO) Pangandaran pada diskusi bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Pangandaran, Jawa Barat, baru-baru ini.

Supratman menambahkan, masyarakat Pangandaran sudah siap untuk semakin membesarkan potensi daerahnya. Mereka bahkan mendambakan sekali, katanya. Proses pengesahan dengan undang-undang dan keputusan presiden rencananya akan dilakukan pertengahan Juli 2012. Bila tidak terjadi perubahan, Januari 2013 akan menjadi babak baru bagi warga Pangandaran.

Selain potensi alam, nilai jual yang menjadi sumber pendapatan Pangandaran lainnya, adalah sektor pertambangan, pertanian-perkebunan, dan kehutanan. Di sektor perkebunan, seperti dicontohkan Supratman, Pangandaran menjadi pemasok 50 persen kebutuhan gula merah di Jawa Barat. Produksi gula merah bisa mencapai 500 ton atau sepadan dengan sejuta butir sehari.

“Kami unggulkan wisata alam dan budaya. Wisata budaya ada dari budaya nelayan, seperti hajat laut, ronggeng gunung, wayang golek, wayang kulit, kuda lumping, alat musik jidur, kerajinan masyakarat, banyak lagi,” jelasnya.

Supratman mengakui, potensi alam tidak cukup untuk menjadikan Pangandaran sebagai destinasi pariwisata turis mancanegara.  Infrastruktur jalan, pengaturan pedagang kaki lima, kemampuan sumber daya manusia, dan kebersihan lingkungan menjadi tantangan lainnya.

“Pangandaran ibarat gula, semut banyak datang dari mana-mana. Tantangannya adalah kami harus lebih maju, perlu keahlian,” imbuhnya.

“Kami telah melakukan studi banding; kelebihan Kabupaten Ciamis akan kami pakai dan kelemahannya kami buang. Kami juga belajar dari daerah yang mampu mengelola potensi alam dan dananya. Dengan banyak orang datang, kami punya hotel, restoran, pasar tradisional, yang pasti akan memberi hasil,” harapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis Sobar Sugema menandaskan tantangan perlunya semakin menumbuhkan kesadaran masyarakat Pangandaran akan potensi pariwisata yang bisa digalinya. Apalagi, katanya, bencana tsunami pada 2006 lalu masih menyisakan traumatik bagi para investor.

“Seiring pertumbuhan masyarakat, perlu untuk menumbuhkan kepada mereka, ini (aktivitas keseharian-red) bisa dijual. Masalahnya, mereka tidak berpikir panjang, hanya menjawab kebutuhan hari ini,” sahutnya pada kesempatan yang sama.

“Dengan ada tsunami, investor sulit masuk, kita harus promosikan, masyarakat Pangandaran harus bisa meyakinkan dengan pariwisatanya,” tutupnya.

[alert style=”white”]referensi: okezone, ilustrasi: mypangandaran.com[/alert]

Cilok, Aci dicolok

Cilok, Aci dicolok

Cilok atanapi aci dicolok nyaéta kadaharan asli ti Sunda. Dijieunna tina tipung aci wungkul atanapi dicampur sareng tarigu teras dicampur cai tuluy dikulub. Jang nambah kanu rasa, umumna adonanna ditambahan bungbu, bisa ogé uyah hungkul.

Aya deui istilah anyar cilok gaul, nyaeta cilok anu aya eusina. Eusina bisa rupi-rupi, misalna: abon, sosis, gajih, urat, endog puyuh, jeung sajabana.

Cilok biasa didahar jeung sambel kacang sareng kécap.

Malah kiwari sok dibaturan oge ku comring mini (comet garing), comring anu saukuran artos saratus nambihan rasa cilok langkung raos katambih caos kacangna anu lada kumargi sok ngangge cabe bubuk (aida). Comring ieu masih keneh aya di daerah cikoneng sabudeureun desa Margaluyu.

[alert style=”white”]referensi: opaztea.wordpress.com[/alert]

Batik Ciamisan, Bersahaja Tetapi Elegan

Batik Ciamisan, Bersahaja Tetapi Elegan

Kesahajaan merupakan ciri khas batik ciamis. Warna hitam, putih, dipadu coklat kekuningan, begitu menonjol pada motif batik daerah ini. Ragam hias batik ciamisan bernuansa naturalistik, banyak menggambarkan flora dan fauna serta lingkungan alam sekitar.

Kesederhanaan corak batik ciamis tak lepas dari sejarah keberadaannya yang banyak dipengaruhi daerah lain, seperti ragam hias pesisiran dari Indramayu dan Cirebon. Selain itu, pengaruh batik nonpesisiran, seperti dari Solo dan Yogyakarta, tak kalah dominan.

Pengaruh dari wilayah pesisir dan nonpesisir yang berpadu dengan nilai-nilai budaya Sunda dan kehidupan sosial sehari-hari masyarakat Ciamis melahirkan ragam motif batik ciamisan yang sesuai dengan gaya dan selera masyarakat setempat, bersahaja tetapi elegan.

Alhasil, corak batik ciamisan tidak memiliki makna filosofi, perlambang, nilai sakral, atau menunjukkan status sosial tertentu. Penciptaan motif atau ragam hias batiknya lebih ditekankan pada ungkapan kesederhanaan untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat. Kesederhanaan itu tertuang dalam bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam sekitar dan kejadian sehari-hari.

Motif alam sekitar yang banyak dijumpai dalam batik ciamisan adalah rereng atau lereng. Motif yang menggambarkan tebing miring ini dipengaruhi motif parang pada batik Jawa Tengah. Motif lain adalah kumali, berupa empat bentuk yang mengelilingi pusat, dan cupat manggu, motif geometris bergambar buah manggis.

Masa keemasan batik ciamis berlangsung pada era 1960-an hingga awal 1980-an. Dari sekitar 1.200 perajin batik di Ciamis waktu itu, 421 perajin di antaranya menjadi anggota Koperasi Rukun Batik yang berdiri tahun 1939.

Koperasi itu dapat memenuhi segala kebutuhan perajin batik, mulai dari bahan baku sampai pemasaran produk. Rukun Batik berhasil membeli sejumlah aset, bahkan mendirikan pabrik kain bahan baku batik di Jalan Sudirman, Ciamis.

Namun, tahun 1980-an pamor batik ciamisan tenggelam, terlibas kemajuan industri tekstil yang menghasilkan batik cetak (“printing”). Kondisi itu diperparah dengan letusan Gunung Galunggung tahun 1982 yang menyebabkan matahari nyaris tidak tampak selama setahun akibat debu vulkanik yang tak henti menyembur. Para perajin tak bisa menjemur batik karena tidak ada cahaya matahari.

Dari ribuan perajin batik yang pernah jaya pada 1960-an, kini hanya tersisa satu unit usaha yang masih berproduksi. Pabrik sekaligus markas Koperasi Rukun Batik sudah lama berhenti beroperasi. Lahan di depan pabrik kini berubah fungsi menjadi rumah petak yang dikontrakkan.

[alert style=”white”]referensi: kompas[/alert]

Batik Ciamisan, Sarasehan Batik Jawa Barat

Batik Ciamisan, Sarasehan Batik Jawa Barat

20/11/2009: YBJB dan Disperindag Jabar menggelar Saresehan Batik Jawa Barat ke-2 di Paris van Java mall, Bandung. Tema saresehan ini adalah mengangkat dan melestarikan batik Ciamisan yang sudah hampir punah karena tidak ada regenerasi.

[alert style=”white”] foto: foto.detik.com [/alert]

Batik Ciamis, Batik Ciamisan

Batik Ciamis, Batik Ciamisan

Batik Ciamis berbeda dengan batik di daerah lain. Coraknya tidak terlalu ramai. Ada yang bermotif daun, ada pula yang bermotif parang rusak. Ciri yang paling dominan adalah pada penggunaan warna. Batik Ciamis hanya menggunakan dua warna, misalnya warna coklat dan hitam dengan dasar putih.

         

DI era 60-an, kain batik tradisional (motif maupun pengerjaannya) masihmenikmati masa kejayaannya. Di Jawa Barat, misalnya, beragam motif khas hadir dengan segala keunggulannya. Uniknya motif batik ini identik dengan nama asal kain itu dibuat. Sebut misalnya motif asal Kab Garut dikenal dengan nama garutan, cirebonan (Cirebon), tasikan (Tasikmalaya), dan ciamisan (Ciamis).

Akan tetapi motif ciamisan kini nampaknya terasa asing. Nyaris orang tak kenal lagi kain ini. Padahal di tahun 60-an boleh dibilang kain batik itu sempat pula menikmati masa kejayaan. Di daerah paling timur Jabar ini, saat itu tak kurang dari 1.200 perajin menekuni batik tulis motif ciamisan. Bahkan pada era itu, mereka yang akan membeli harus rela menunggu paling cepat seminggu, barulah mendapatkan pesanannya.

                 

Para pemesan batik khas daerah Ciamis ini, tidak datang dari daerah sekitar Jabar atau Jakarta, tapi dari Surabaya, Semarang, Samarinda, Ban­jarmasin, hingga Makassar. Daerah Ciamis ini memiliki khas atau motif tersendiri untuk batik yaitu dinamakan sarian.

Generasi penerus batik khas Ciamis, bahwa ciamisan memiliki dasar putih. Ini lain dengan garutan yang memiliki dasar kuning. Sedangkan warna dominan pada ciamisan perpaduan warna coklat soga dan hitam. Ciamisan juga memiliki dua motif rereng, yakni rereng eneng dan rereng seno. Motif rereng eneng kini diaplikasikan untuk baju, sedangkan rereng seno untuk kain bawahan.

Seperti halnya seniman atau perajin batik, dalam menuangkan objek gambar selalu mengambil dari lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Tanaman daun rente dan daun kelapa, adalah dua jenis tanaman yang dijadikan gambar ciri khas ciamisan. Tanaman rente yang biasa tumbuh di kolam-kolam penduduk Ciamis dan dijadikan pakan ikan, diangkat pada kain mori dan dituangkan jadi gambar untuk batiknya. Demikian pula keakraban perajin batik dengan pohon kelapa yang banyak tumbuh di daerah itu, jadi ilham untuk motif ciamisan. Motif ciamisan tampil sebagai kain yang kalem. Mungkin ini sesuai dengan jiwa masyarakat Ciamis yang tenang dan tidak bergejolak.

Sebagai bukti dari keberhasilan usaha batik di daerah itu sempat muncul Rukun Batik Ciamis (RBC). Oraganisasi ini merupakan koperasi yang menampung para perajin batik. RBC berdiri sebelum kemerdekaan dan mengalami puncak kejayaan di era 60-an.

[alert style=”white”]referensi: diditds.wordpress.com[/alert]