Bagi para pecinta kuliner, tampaknya menu satu ini dapat masuk kedalam daftar hidangan wajib yang harus di coba. Cita rasa tradisional yang diracik dengan resep turun temurun membuat hidangan ini semakin istimewa.

Terlebih lagi, suasana warung tempat hidangan ini disajikan pun begitu sederhana dan alami. Hanya dinaungi saung bambu yang beratapkan daun nyiru menambah kental suasana pedesaan. Tapi, siapa sangka ternyata warung itu telah berdiri sejak 22 tahun yang lalu dan menu yang disajikan pun tetap setia, pepes ikan.

Ada berbagai variasi menu pepes yang ditawarkan di warung yang berlokasi di jalan raya Tasikmalaya-Ciamis ini. Atau tepatnya sebelah kiri jalan setelah Desa Cikoneng. Sehingga, tak aneh jika pengunjung mengenal nama warung ini dengan sebutan Warung Pepes Ikan Cimari.

Setidaknya ada tiga menu pepes yang tersaji, yakni pepes ikan gurame, pepes ikan mas, pepes jeroan, dan pepes ayam. Selain itu, juga tersedia pindang nila dan mas. Aroma rempah yang menyeruak tatkala bungkus daun pisang dibuka berpadu indah dengan empuknya pepes yang tersaji. Maka tak aneh jika warung itu kerap dipadati pengunjung.

Dewi, salah seorang anak dari pemilik warung menuturkan setiap hari warung yang pertama kali didirikan sang ibu, Mak Ikah itu mampu menghabiskan 35 kilogram bahan baku ikan dan ayam. Jumlah itu akan meningkat menjadi 50 kilogram pada hari libur. “Kebanyakan pengunjung memesan pepes ikan gurame. Memang menu itu adalah adalah andalan warung ini,” ujarnya.

Berbicara mengenai resep kesuksesan warung pepes ikan ini, Dewi mengungkapkan semuanya tak terlepas dari kesetiaan sang ibu yang terus mempertahankan racikan tradisional. Bahkan, dalam proses memasakpun, ia tak menggunakan perkakas modern. “Kalau bumbunya sama dengan pepes pada umumnya. Namun, pepes disini dari awal selalu ibu yang masak. Semua bahan dan racikan dikontrol langsung dan dipertahankan selama bertahun-tahun,” katanya.

Lebih lanjut, proses memasak pun masih menggunakan kayu bakar dan tungku tradisional. Bahkan, untuk membuat agar bumbu meresap dan empuk, Mak Ikah tidak menggunakan alat presto. Melainkan, memilih memasak dengan waktu lebih panjang yakni 12 jam. “Kami tidak mengenal presto, semuanya dilakukan secara tradisional. Karena, disinilah letak kekuatan rasa dan aroma pepes ikan,” ujarnya.

Indra, salah seorang pengunjung mengaku jatuh cinta dengan sajian pepes ikan gurame Cimari. Padahal, sebelumnya ia tak pernah menyukai pepes ikan. “Rasanya beda, tidak seperti pepes kebanyakan yang seringkali bau amis dan banyak tulang. Tapi, kalau di warung Cimari ini, empuk, harum, dan kita ga perlu ribet misahin tulang ikan,” katanya.

Nah, penasaran ingin mencoba? Tak ada salahnya menyempatkan diri untuk singgah sebentar jika sedang melintas jalur Tasikmalaya-Ciamis.

[alert style=”white”]referensi: pikiran-rakyat[/alert]