Galuh Kertabumi merupakan kerajaan wilayah,bagian dari dinasti Kerajaan Galuh Pangauban yang didirikan oleh Prabu Haur Kuning di Putrapinggan Kalipucang (diperkirakan sekitar 1530 M). Raja ini memiliki tiga orang putra yang bernama Maharaja Upama, Maharaja Sanghyang Cipta dan Sareuseupan Agung.  Sebagai anak tertua, Maharaja Upama mewarisi kerajaan Galuh Pangauban dari ayahnya. Maharaja Sanghyang Cipta diberi wilayah Salawe (Cimaragas) dan mendirikan Kerajaan Galuh Salawe. Sedangkan Sareuseupan Agung menjadi raja di wilayah Cijulang.

Menurut H. Djaja Sukardja, MaharajaSanghyang Cipta mempunyai 3 orang putra yang bernama Tanduran Ageung (Tanduran Gagang),Cipta Permana, dan Sanghyang Permana. Tanduran Ageung kemudian menikah dengan Rangga Permana, putra Prabu Geusan Ulun (Angkawijaya) pada tahun 1585 M. Wilayah Muntur pun diberikan oleh Maharaja Sanghyang Cipta sebagai hadiah perkawinan. Di wilayah tersebut kemudian berdiri Kerajaan Galuh Kertabumi  dan Rangga Permana diberi gelar Prabu Dimuntur. Raja ini memerintah dari tahun 1585 sampai 1602 M.

Adiknya Tanduran Ageung, yang bernama Cipta Permana diberi wilayah Kawasen (Banjarsari)  dan mendirikan kerajaan Galuh Kawasen. Sedangkan Sanghyang Permana mewarisi kerajaan ayahnya, memerintah di Galuh Salawe(Cimaragas) dengan gelar Prabu Digaluh. Masa berdirinya KerajaanGaluh Kertabumi merupakan masa pengembangan agama Islam dari Cirebon dan Sumedang ke wilayah-wilayah kerajaan Galuh. Salah satu penyebarannya adalah dengan melangsungkan pernikahan antara keluarga kerajaan yang masih menganut agama pra Islam dengan kerajaan yang sudah diislamkan oleh Cirebon.

Hal tersebut dilakukan oleh Rangga Permana dengan Tanduran Ageung. Dan jejak Tanduran Ageung diikuti oleh Cipta Permana yang menikahi Putri Maharaja Kawali yang sudah Islam. Tokoh yang mengislamkan Kawali saat itu adalah Adipati Singacala dari Cirebon(makamnya di Astana Gede Kawali). Sejak saat itulah pengaruh Islam semakin kuat di Kerajaan-kerajaan Galuh tug sampai jaman kiwari.

Menurut riwayat dari wilayahTalaga, Prabu Haur Kuning  ternyata merupakan generasi ke empat Prabu Siliwangi. Ayah dari Prabu Haur Kuning bernama Rangga Mantri atau Sunan Parung Gangsa (Pucuk UmumTalaga) yang menikah dengan Ratu Parung (RatuSunyalarang / Wulansari).  Sedangkan ayahRangga Mantri adalah salah seorang putra Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Munding Surya Ageung.  Rangga Mantri yang awalnya beragama Budha masuk Islam setelah ditaklukan Cirebon tahun 1530 M.

Dalam Riwayat lain, disebutkan pula tokoh Anggalarang sebagai salah satu putra Prabu Haur Kuning. Anggalarang adalah suami dari Dewi Siti Samboja yang kelak menciptakan Ronggeng Gunung.  Menurut H. Djaja Sukardja,tokoh Anggalarang diduga kuat adalah nama lain dari Maharaja Upama sebelum menjadi raja. Sebagai pembanding, keterangan lainya menyebutkan di wilayah pangandaran juga terdapat  kerajaan Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung dan beribukota Bagolo yang jauh sebelumnya pernah dikunjungi Bujangga Manik.

Menurut Babad Imbanagara yang disusun  Ir. R Gumiwa Partakusumah, Raja Bagolo adalah Sawung Galing yang menikahi Dewi Siti Samboja yang menjadi janda setelah suaminya yaitu Raden Anggalarang meninggal terbunuh bajo. Sawung Galing dalam sejarah Ronggeng Gunung adalah patih yang diutus oleh Prabu Haur Kuning untuk membantu Dewi Samboja dalam membalaskan kematian suaminya yaitu Anggalarang.

Di beberapa daerah (Talaga, Majalengka, Sumedang dan Ciamis) adanya kesamaan nama beberapa tokoh sejarah ternyata saling memperkuat keberadaannya. walau terkadang  sedikit berbeda, baik jujutan tahun keberadaanya, garis silsilah, riwayat hidup, maupun nama kerajaannya.Namun  semuanya rata-rata bersumber atau berasal dari keturunan yang sama, yaitu seuweu-siwi Prabu Siliwangi, penguasa agung Kerajaan Pajajaran.

Perbedaan Silsilah 

Mengenaisilsilah Rangga Permana atau Prabu Dimuntur ternyata ada perbedaan antara BukuPatilasan Kerajaan Galuh Kertabumi (PKGK) karya H. Djaja Sukardja dengan sumbersejarah dari Sumedanglarang.  Keterangandari Sumedanglarang menyebutkan bahwa Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orangistri. Yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru putrinya Sunan Pada, Kedua yaituRatu Harisbaya dari Cirebon,ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut Geusan Ulun dikaruniai15 orang putra. Di antara putrannya itu,ternyata tidak ada nama Rangga Permana,  sedangkan di  PKGK dinyatakan bahwa RanggaPermana adalah putra Geusan Ulun, mana yang betul ?

R. Gun GunGurnadi salah seorang trah keturunan dari Ciancang (eks Kabupaten tahun1658-1811 M, sebelah barat Kertabumi) yang juga mewarisi buku Sejarah Galoeh daribao nya, Dalem Wirabaya (Wiratmaka I) yang menjabat sebagai bupatiterakhir Ciancang, menjelaskan bahwa Raden Permana sebetulnya adalah putra dariKyai Rangga Haji, dan cucu dari Pangeran Santri hasil pernikahan dengan Ratu Pucuk Umun. Rangga Haji merupakanputra kedua dari 6 bersaudara sedangkan kakaknya yang tertua bernamaRaden Angkawijaya yang terkenal dengan nama GeusanUlun

“ Janten mun ditingal tina garis keluarga, Rangga Permana atanapi Prabu Dimuntur nyaeta alona  Geusan Ulun, sanes putrana.” ujarnya. Lebih jauh R Gun Gun menandaskan bahwa perbedaan keterangan tersebut adalah suatu hal yang wajar karena yang namanya sejarah akan terus dianalisa setiap waktu sampai ditemukan data-data atau sumber terbaru sampai pada kesimpulan yang mendekati kebenaran.

Sang Raja Cita,salah seorang putra Prabu Dimuntur, menjadi penguasa Kertabumi berikutnya dengan pangkat Adipati, bergelar Kertabumi I (1602-1608). Sedangkan pada waktu itu kekuasaan Prabu Geusan Ulun di Sumedanglarang (1580-1608 M) meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik,Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis) dengan Kutamaya sebagai ibukota kerajaannya.

Putri Raja Cita bernama Natabumi diperistri oleh Dipati Panaekan,pada saat itu  pengaruh Mataram Islam dibawah pemerintahan Mas Jolang yang bergelar Sultan Hanyokrowati (1601-1613) mulai masuk ke wilayah Galuh. Sedangkan putra kedua Raja Cita yang bernama Wiraperbangsa kelak menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Adipati Singaperbangsa I (1608-1618). Raja Cita dimakamkan di Kampung Buner, Desa Bojongmengger.

Makam Adipati Panaekan Karang KamulyanH. Djaja Sukardja merasa yakin bahwa riwayat Kota Banjar yang dimulai dari Galuh Kertabumi semakin natrat ketika Singaperbangsa I memindahkan pusat Kerajaan Galuh Kertabumi dari Gunung Susuru ke Banjar Patroman(Desa Banjar Kolot). Penyebab perpindahan tersebut, akibat terjadinnya perselisihan faham antara Singaperbangsa I dengan Adipati Panaekan (kakak iparnya) dalam rencana penyerangan terhadap Belanda di Batavia.

Adipati Panaekan condong kepada rencana Dipati Ukur untuk menyerang secepatnya ke Batavia sebelum kekuatan Belanda makin besar. Sedangkan Singaperbangsa I lebih sependapat dengan Rangga Gempol yang merencanakan membangun kekuatan dengan mempersatukan wilayah Priangan. Rangga Gempol adalah penguasa Sumedanglarang(1620 M dan berada dibawah pengaruh Sultan Agung Mataram.

Akibatperselisihan tersebut membuat Adipati Panaekan terbunuh. Jasadnya dihanyutkan ke Sungai Cimuntur kemudian  dimakamkan di Karangkamulyan. Akibat peristiwa tragis itu membuat Singaperbangsa I tidak genah tinggal di Gunung Susuru, sehingga akhirnya pindah ke Banjar Patroman. (Bersambung/HU.Kabar Priangan)

Oleh Pandu Radea

(Catatan lama Tapak Karuhun Galuh)